Articles

Found 9 Documents
Search

PROGRAM PELATIHAN PADA IBU UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN KOMUNIKASI EFEKTIF ANAK PRASEKOLAH Pareira, Mariana Ikun RD; Patmonodewo, Soemiarti; Saleh, Airin Y
Jurnal RAP (Riset Aktual Psikologi Universitas Negeri Padang) Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.745 KB) | DOI: 10.24036/rapun.v8i2.9235

Abstract

Komunikasi efektif antara orangtua dan anak perlu dimulai sedini mungkin. Selama ini strategi komunikasi yang digunakan ibu dengan anaknya belum efektif, hal ini disebabkan karena keterbatasan pengetahuan bagaimana berkomunikasi efektif dengan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang komunikasi efektif dengan anak prasekolah. Penelitian ini menggunakan desain before-and-after (one group before and after design). Kegiatan dilakukan terhadap sembilan ibu di wilayah Serpong Utara, Tangerang Selatan selama tiga hari. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner yang terdiri atas pertanyaan terbuka untuk mengukur pengetahuan ibu tentang komunikasi efektif dengan anak prasekolah. Hasil analisis data dengan uji Wilcoxon menunjukkan peningkatan yang signifikan pada pengetahuan ibu tentang komunikasi efektif dengan anak prasekolah (p<0,05).
Penerapan Solution-Focused Brief Therapy dalam Meningkatkan Self-Esteem pada Remaja Perempuan Penderita Leukemia MIRANDA, JESSICA; PATMONODEWO, SOEMIARTI; SOETIKNO, NAOMI; TEHUTERU, EDI SETIAWAN
Indonesian Journal of Cancer Vol 11, No 2 (2017): April - June
Publisher : Indonesian Journal of Cancer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.895 KB)

Abstract

ABSTRACT The diagnosis of cancer have an impact on physical and psychological development of adolescent. Psychological impact is felt with the emergence of some emotional reactions, such as fear, anxiety, sadness, despair, anger, guilt, and shame. Adolescents who experience physical and psychological impact of the treatment of the cancer will experience problems in self-esteem and body image, that have an impact on the development of adolescent self until early adulthood. The establishment of self-esteem need to occur in adolescence. In adolescence, the individual will develop a positive sense of self so that adolescence is an important period for individuals to establish self-esteem, because at this time many changes occur both physically and emotionally. This study was conducted to help improve self-esteem in young woman with leukimia with solution-focused brief therapy. The participant of this study was two participants adolescent female with early-stage leukimia ALL types for two years. This therapy was conducted in three weeks by researcher herself. Researcher used questionnaries measuring selfesteem and graphics tests before and after the intervention to measure the role of therapy programs. Solution-focused brief therapy used in this study shows no role to improve the self-esteem of adolescent female patients with leukimia. This is because the PA subjects only increased by 2 points and subjects SS increased scores by 10 points ABSTRAK Diagnosis kanker memiliki dampak fisik dan psikologis bagi perkembangan remaja. Dampak psikologis yang dirasakan berupa timbulnya beberapa reaksi emosional, seperti takut, cemas, sedih, putus asa, marah, merasa bersalah, dan malu. Remaja yang mengalami dampak fisik dan psikologis dari pengobatan kanker yang dideritanya akan mengalami permasalahan pada self-esteem dan body image yang berdampak pada pengembangan diri remaja tersebut hingga masa dewasa awal. Pembentukan self-esteem terjadi pada masa remaja. Pada masa remaja individu akan mengembangkan sense of self yang positif sehingga masa remaja merupakan masa yang penting bagi individu untuk membentuk self-esteem, karena pada masa ini banyak terjadi perubahan-perubahan, baik secara fisik maupun emosi. Penelitian ini dilakukan untuk membantu meningkatkan self-esteem pada remaja perempuan penderita leukemia dengan solution-focused brief therapy. Penelitian ini dilakukan terhadap dua partisipan remaja perempuan penderita leukemia jenis ALL stadium awal selama dua tahun. Proses pemberian terapi dilakukan selama 3 minggu. Peneliti menggunakan alat ukur “Kuesioner Harga Diri” serta tes grafis sebelum dan sesudah intervensi untuk mengukur peranan program terapi. Solution-focused brief therapy yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terapi tersebut tidak berperan dalam meningkatkan self-esteem remaja perempuan penderita leukemia. Hal ini dikarenakan subjek PA hanya mengalami peningkatan skor sebesar 2 poin dan subjek SS mengalami peningkatan skor sebesar 10 poin
PENGARUH PENYULUHAN GIZI-KESEHATAN DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP PERTUMBUHAN ANAK USIA PRASEKOLAH Yuliana, Yuliana; Khomsan, Ali; Patmonodewo, Soemiarti; Riyadi, Hadi; Muchtadi, Deddy
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 1 No. 2 (2006)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.573 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2006.1.2.8-16

Abstract

The objective of this study was to analyze the effect of extension on nutrition-health and other factors on the growth of pre-school children.  The design of this study was a quasi experiment. The subjects of this study were pre-school children aged 3-6 year old with  some specified criteria, such as having no story of severe malnutrition and low birth weight, having a complete parents, literacy ability of the mother, stated in a health condi­tion/undefect handicapped, and did not follow any programs of early-age children educa­tion. The subjects were divided into two groups, namely group of control and group of in­tervention. The primary data collected consisted of family?s characteristics, child?s charac­teristics, and children?s care and development environment. Generally, there was no signifi­cant difference between pre- and post-test of mother?s knowledge on nutrition-health, both of control and intervention groups; however, there was a slightly difference on child-care on nutrition-health for the two groups. There was a significant difference on mother?s knowl­edge on nutrition-health between pre- and post- extension on the both groups.  About 51.3% of child?s growth was determined by factors of family and children.  The factors which had a possitive significant influence were body lenght, and mother?s knowledge on nutrition-health. 
EFEKTIVITAS PELATIHAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI UNTUK MENINGKATKAN SELF-ESTEEM SISWA FLIGHT OPERATION OFFICER LEMBAGA TRAINING CENTER X Anggraeni, Ucu; Sahrani, Riana; Patmonodewo, Soemiarti
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i1.1691

Abstract

Meningkatnya industri penerbangan saat ini harus diimbangi dengan peningkatan keselamatan. Faktor keselamatan tidak hanya dinilai dari jenis pesawat terbaru yang memiliki teknologi yang canggih, namun faktor penting lainnya ialah sumber daya manusia itu sendiri salah satunya flight operation officer (FOO). Seorang FOO wajib memiliki kompetensi, sertifikasi, dan mampu melakukan tugas sesuai standar dan aturan yang berlaku. Salah satu tugas utama FOO ialah memberikan informasi secara langsung yang disebut dengan briefing kepada pilot sebelum melakukan tugas terbang. Isi briefing tersebut ialah mengenai seluruh informasi penerbangan termasuk kondisi cuaca dan kondisi rute yang akan dilalui oleh pilot, sehingga apabila diperkirakan ada kondisi yang kurang aman dapat diambil tindakan-tindakan pencegahan. Namun pada kenyataanya masih terjadi tidak dilakukan briefing sesuai standar oleh FOO kepada pilot yang mengakibatkan terjadi kecelakaan pesawat dan menelan banyak korban meninggal. Tidak dilakukannya briefing salah satu penyebabnya dalah rendahnya self esteem individu untuk melakukan komunikasi interpersonal secara tatap muka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan keterampilan komunikasi dalam meningkatkan self- esteem pada siswa flight operation officer (FOO) yang menggunakan metode intervensi dengan pelatihan. Tiga domain perilaku yang dikembangkan dalam suatu pelatihan menyasar pada aspek kognitif, afeksi, dan psikomotor. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-Desember 2017. Partisipan penelitian terdiri dari 10 siswa kelompok eskperimen dan 14 siswa kelompok kontrol. Jumlah partispan kelompok eksperimen terdiri dari 1 perempuan dan 9 laki-laki, serta 3 perempuan dan 11 laki-laki pada kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental dengan pretest-posttest control group design. Instrument pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) (Brown,1998) dan Komunikasi Interpersonal (Devito dalam Aw, 2011). Data dianalisis dengan teknik paired simple t-test dengan kriteria statistic non parametric Wilcoxon. Perhitungan dengan membandingkan skor pretest dan posttest RSES pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil perhitungan diperoleh terdapat perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest dalam kelompok eksperimen, dikarenakan hasil yang diperoleh < 0.05, yakni 0.000 < 0.05. Hal ini menjelaskan bahwa terjadi peningkatan self-esteem pada siswa FOO di kelompok eksperimen yang berarti pelatihan Komunikasi Interpersonal efektif dapat meningkatkan Self-Esteem siswa FOO Training Center X. Apabila self esteem siswa tinggi maka siswa dapat melakukan komunikasi interpersonal yang efektif dan melakukan tugas briefing sesuai dengan standar yang berlaku.
EFEKTIVITAS PELATIHAN BUNYI HURUF DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AWAL SISWA SEKOLAH DASAR Sanoe, Beatrix Carnatia; Tiatri, Sri; Patmonodewo, Soemiarti
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.6022

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Apakah pelatihan bunyi huruf efektif dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada Siswa kelas 1 Sekolah Dasar. Pelatihan Bunyi Huruf ini mengacu pada teori Phonological Awareness dari Torgessen dan Wagner (1998) Phonological Awarenes adalah sensitivitas atau kesadaran eksplisit seseorang yang meliputi kemampuan mendengar, melihat, memikirkan atau memanipulasi struktur bunyi dari kata-kata dalam bahasanya. Subyek dalam penelitian ini sebanyak 12 siswa kelas 1 SD yang belum lancar membaca. Siswa tersebut dibagi mejadi 2 kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Alat pengumpulan data yang digunakan sebagai test yang pada pretest dan postest adalah EGRA (Early Grade Reading Assessment). Pelatihan Bunyi Huruf dilakukan sebanyak 8 kali pertemuan, dan hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan skor kemampuan membaca yang sangat signifikan pada kelompok eksperimen setelah diberikan pelatihan bunyi huruf. Disimpulkan bahwa pelatihan bunyi huruf terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa sekolah dasar. This study aims to find out whether effective letter sound training can improve initial reading skills in Grade 1 Elementary School students. This Letter Sound Training refers to the Phonological Awareness theory of Torgessen and Wagner (1998) Phonological Awareness is the sensitivity or explicit awareness of a person which includes the ability to hear, see, think or manipulate the sound structure of words in the language. The subjects in this study were 12 grade 1 elementary school students who had not read fluently. The students were divided into 2 groups, namely the control group and the experimental group. The data collection tool used as a test at the pre-test and post-test was EGRA (Early Grade Reading Assessment). Letter Sounding Training was conducted in 8 meetings, and the results of the study showed a very significant increase in the reading ability score in the experimental group after being given letter sound training. It was concluded that letter sound training proved effective in improving the ability of elementary school students
MOTIVASI BELAJAR BAHASA MANDARIN REMAJA AWAL: PERAN SELF-EFFICACY, PARENTAL INVOLVEMENT, DAN TEACHER STUDENT RELATIONSHIP Suparman, Deasy; Sahrani, Riana; Patmonodewo, Soemiarti
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3560

Abstract

Untuk dapat bersaing dalam era globalisasi diperlukan penguasaan second language, seperti bahasa Mandarin. Bahasa Mandarin merupakan bekal kompetensi untuk berkomunikasi dengan mitra dagang dari Negara Tiongkok di abad ke-21 ini. Pada era globalisasi saat ini, Negara Tiongkok memiliki kekuatan di bidang ekonomi dan telah menguasai pasar, baik dalam skala kecil maupun skala besar (Yudono, 2012). Penelitian menunjukkan adanya peningkatan Bahasa mandarin sebagai kurikulum di beberapa sekolah di Amerika Serikat (Dillon, 2010). Demikian pula di Indonesia, baik sekolah nasional maupun internasional telah mengujicobakan Bahasa mandarin (Yudono, 2012). Beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar Bahasa mandarin adalah self-efficacy, parental involvelment, dan teacher-student relationship. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran self-efficacy, parental involvement, dan teacher-student relationship dalam motivasi belajar Bahasa mandarin pada siswa SMP X. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif non-experimental dengan menggunakan teknik analisis regresi linier ganda. Partisipan penelitian adalah siswa SMP X sebanyak 174 orang. Teknik pengambilan sampel adalah convenience sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner self-efficacy, parental involvement, teacher-student relationship, dan motivation dengan skala likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-efficacy, parental involvement, dan teacher-student relationship berperan dalam motivasi belajar Bahasa mandarin remaja awal (R=0,76; R2=0,577; F=67,33; p < 0,05). Peran seluruh variabel Self Efficacy, Parental Involvement, dan Teacher Student Relationship ke Motivation adalah sebesar 57,7%. Peranan terbesar diberikan oleh variabel Self Efficacy (55,02%), berikutnya Parental Involvement (1,95%), dan terakhir Teacher Student Relationship (0,74%). To be able to compete in the globalization era, mastery of second languages is needed, such as Mandarin. Mandarin is a provision of competence to communicate with trading partners from China in the 21st century. In the current era of globalization, the State of China has power in the economic field and has controlled the market, both on a small scale and large scale (Yudono, 2012). Research shows an increase in Mandarin as a curriculum in several schools in the United States (Dillon, 2010). Likewise in Indonesia, both national and international schools have tried Mandarin Language (Yudono, 2012). Some factors that influence motivation to learn Mandarin are self-efficacy, parental involvelment, and teacher-student relationship. The purpose of this study was to determine the role of self-efficacy, parental involvement, and teacher-student relationship in motivation to learn Mandarin in X students of junior high school. This study uses a non-experimental quantitative design using multiple linear regression analysis techniques. The research participants were 174 students of SMP X. The sampling technique is convenience sampling. Research instruments in the form of self-efficacy questionnaires, parental involvement, teacher-student relationships, and motivation with a Likert scale. The results showed that self-efficacy, parental involvement, and teacher-student relationship play a role in motivation to learn early Mandarin Mandarin language (R = 0.76; R2 = 0.577; F = 67.33; p <0.05). The role of all variables of Self Efficacy, Parental Involvement, and Teacher Student Relationship to Motivation is 57.7%. The biggest role was given by the variable Self Efficacy (55.02%), followed by Parental Involvement (1.95%), and finally Teacher Student Relationship (0.74%).
PERAN MEMBACA AWAL TERHADAP PEMAHAMAN BACAAN PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR Retaminingrum, Amalia Novita; Tiatri, Sri; Patmonodewo, Soemiarti
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.6017

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji peran kelancaran membaca awal terhadap pemahaman bacaan. Partisipan adalah 150 siswa kelas empat. Partisipan diberi satu set asesmen yang mencakup beberapa komponen kelancaran membaca awal dan pengukuran atas pemahaman bacaan  fiksi dan non fiksi. Kelancaran membaca awal diukur dengan Early Grade Reading Assessment yang mengukur letter name identification, segmentation (phoneme or syllables), non word reading, oral reading fluency, reading comprehension, listening comprehension, vocabulary, dan dictation.  Pemahaman bacaan fiksi dan non fiksi diukur melalui tes yang dikembangkan berdasarkan Curriculum Based Assessment dari Kurikulum 2013 Indonesia. Analisis regresi dilakukan pada penelitian ini, dan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua komponen kelancaran membaca awal yang berhubungan dengan pemahaman bacaan. The goal of this study was to examine the role of early reading fluency in reading comprehension. Participants were 150 fourth-grade children. They were given an assessment that included multiple components of early reading fluency, and a fiction and non fiction text to measure their reading comprehension. For early reading fluency, this study used Early Grade Reading Assessment which measures of letter name identification, segmentation (phoneme or syllables), non word reading, oral reading fluency, reading comprehension, listening comprehension, vocabulary, and dictation. For fiction and non-fiction reading comprehension, this study use Curriculum Based Assessment from 2013 Indonesian Curriculum. Regression analyses were undertaken, the results showed that there are two component of early reading fluency which related to reading comprehension. 
INTERVENSI ORIGAMI BERBASIS EXPERIENTIAL LEARNING TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN SPASIAL ANAK USIA DINI Lukman, Agnes Victoria; Sahrani, Riana; Sahrani, Riana; Patmonodewo, Soemiarti; Patmonodewo, Soemiarti
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.2981

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas intervensi origami berbasis experiential learning dalam meningkatkan kemampuan spasial anak usia dini. Kemampuan spasial merupakan salah satu kemampuan yang diperlukan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan spasial merupakan aspek dari kognisi yang berkembang sejalan dengan perkembangan kognitif. Kemampuan spasial pada anak berhubungan dengan relasi topologi atau spasial dua arah, seperti atas-bawah, kanan-kiri, depan-belakang. Banyak media yang terbukti dapat meningkatkan kemampuan spasial pada anak, salah satunya adalah origami. Dalam kegiatan origami, anak diajak untuk berpartisipasi aktif agar dapat membuat figur origami. Hal ini juga dibutuhkan dalam metode experiential learning. Experiential learning merupakan proses belajar melalui pengalaman (learning by doing). Dalam metode ini, siswa berpartisipasi aktif dalam sebuah kegiatan, sehingga menghasilkan pengetahuan atau kemampuan yang baru. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen. Partisipan penelitian berjumlah 3 orang yang merupakan siswa/i kelas K2 TK X dengan karakteristik: (a) usia partiipan antara 5-6 tahun; (b) partisipan sedang menjalani pendidikan di kelas K2 TK X tahun ajaran 2017-2018. Penelitian ini menggunakan desain dalam-kelompok, one-group pretest posttest. Peneliti memberikan intervensi origami berbasis experiential learning kepada partisipan penelitian setelah melakukan pre-test dan melakukan post-test terhadap partisipan setelah 8 sesi intervensi diberikan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan kemampuan spasial partisipan mengalami peningkatan meskipun pada dimensi yang berbeda. Hasil post-test pada partisipan penelitian menunjukkan intervensi origami berbasis experiential learning meningkatkan kemampuan spasial anak anak usia dini. This study aims to determine the effectiveness of experiential learning-based origami intervention in improving young children?s spatial ability. Spatial ability is a fundamental aspect of cognition that develops in line with cognitive development. Spatial ability in children is associated with topological or two-way spatial relations, such as top-bottom, right-left, front-back. Many media are proven to improve spatial abilities in children, one of which is origami. In origami, children are invited to actively participate in order to make origami figures. This is also needed in experiential learning methods. Experiential learning is a process of learning through experience (learning by doing). In this method, students actively participate in an activity, so as to produce new knowledge or abilities. This research is a quasi-experimental research. There were 3 participants who were students of K2 Grade of Kindergarten X with the following characteristics: (a) the age of participants between 5-6 years; (b) participants are undergoing education in K2 grade kindergarten X during 2017-2018 school year. This study uses within-group design, one-group pretest posttest. The researcher gave origami intervention based on experiential learning to the study participants after pre-test, and administered post-test on the participants after 8 sessions of intervention were conducted. The result of this study indicates that the spatial ability of participants had increased, although in different dimensions. The results of post-test on participants showed that origami interventions based on experiential learning improve the spatial abilities of young children.
INTERVENSI ORIGAMI BERBASIS EXPERIENTIAL LEARNING TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN SPASIAL ANAK USIA DINI Lukman, Agnes Victoria; Sahrani, Riana; Sahrani, Riana; Patmonodewo, Soemiarti; Patmonodewo, Soemiarti
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.2981

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas intervensi origami berbasis experiential learning dalam meningkatkan kemampuan spasial anak usia dini. Kemampuan spasial merupakan salah satu kemampuan yang diperlukan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan spasial merupakan aspek dari kognisi yang berkembang sejalan dengan perkembangan kognitif. Kemampuan spasial pada anak berhubungan dengan relasi topologi atau spasial dua arah, seperti atas-bawah, kanan-kiri, depan-belakang. Banyak media yang terbukti dapat meningkatkan kemampuan spasial pada anak, salah satunya adalah origami. Dalam kegiatan origami, anak diajak untuk berpartisipasi aktif agar dapat membuat figur origami. Hal ini juga dibutuhkan dalam metode experiential learning. Experiential learning merupakan proses belajar melalui pengalaman (learning by doing). Dalam metode ini, siswa berpartisipasi aktif dalam sebuah kegiatan, sehingga menghasilkan pengetahuan atau kemampuan yang baru. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen. Partisipan penelitian berjumlah 3 orang yang merupakan siswa/i kelas K2 TK X dengan karakteristik: (a) usia partiipan antara 5-6 tahun; (b) partisipan sedang menjalani pendidikan di kelas K2 TK X tahun ajaran 2017-2018. Penelitian ini menggunakan desain dalam-kelompok, one-group pretest posttest. Peneliti memberikan intervensi origami berbasis experiential learning kepada partisipan penelitian setelah melakukan pre-test dan melakukan post-test terhadap partisipan setelah 8 sesi intervensi diberikan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan kemampuan spasial partisipan mengalami peningkatan meskipun pada dimensi yang berbeda. Hasil post-test pada partisipan penelitian menunjukkan intervensi origami berbasis experiential learning meningkatkan kemampuan spasial anak anak usia dini. This study aims to determine the effectiveness of experiential learning-based origami intervention in improving young children?s spatial ability. Spatial ability is a fundamental aspect of cognition that develops in line with cognitive development. Spatial ability in children is associated with topological or two-way spatial relations, such as top-bottom, right-left, front-back. Many media are proven to improve spatial abilities in children, one of which is origami. In origami, children are invited to actively participate in order to make origami figures. This is also needed in experiential learning methods. Experiential learning is a process of learning through experience (learning by doing). In this method, students actively participate in an activity, so as to produce new knowledge or abilities. This research is a quasi-experimental research. There were 3 participants who were students of K2 Grade of Kindergarten X with the following characteristics: (a) the age of participants between 5-6 years; (b) participants are undergoing education in K2 grade kindergarten X during 2017-2018 school year. This study uses within-group design, one-group pretest posttest. The researcher gave origami intervention based on experiential learning to the study participants after pre-test, and administered post-test on the participants after 8 sessions of intervention were conducted. The result of this study indicates that the spatial ability of participants had increased, although in different dimensions. The results of post-test on participants showed that origami interventions based on experiential learning improve the spatial abilities of young children.