Erny Poedjirahajoe
Bagian Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada Jl. Agro No.1, Bulaksumur, Sleman 55281

Published : 27 Documents
Articles

Found 27 Documents
Search

KLASIFIKASI HABITAT MANGROVE UNTUK PENGEMBANGAN SILVOFISHERY KEPITING SOKA (SCYLLA SERRATA) DI PANTAI UTARA KABUPATEN REMBANG Poedjirahajoe, Erny
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.23 KB) | DOI: 10.22146/jik.10192

Abstract

Pemanfaatan mangrove untuk silvofishery mampu mendatangkan keuntungan bagi masyarakat sekitarnya, maka perlu dikembangkan agar hasilnya optimal dan berkelanjutan. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan klasifikasi karakteristik habitat mangrove yang sesuai untuk pengembangan kepiting soka yang selama ini sudah dikembangkan di Pantai Utara Pemalang. Penelitian dilakukan di Pantai Utara Kabupaten Rembang pada tahun tanam 2000, 2003, dan 2004. Masing-masing tahun tanam dibagi menjadi jalur-jalur tegak lurus garis pantai. Setiap jalur diletakkan 3 petak ukur 5 x 5m sesuai dengan zonasi yang ada pada hutan mangrove, kemudian diukur kerapatan tanaman mangrove, ketebalan lumpur, DO, salinitas, suhu, pH, dan kepadatan plankton. Sebagai pembanding, maka diambil pula data karakteristik habitat di mangrove Pemalang yang sudah digunakan silvofishery kepiting soka. Data pada setiap petak ukur dirata-rata dan dibedakan pada setiap zonasi. Data setiap zonasi dianggap sebagai relevé. Relevé-relevé pada kedua lokasi kemudian dianalisis menggunakan uji pengelompokan atau cluster analysis dengan metode jarak Mean Euclidean Distance (MED). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya cluster yang terbentuk kurang bervariasi. Sepintas terlihat hanya ada 2 kelompok besar yang terpisahkan, yaitu pada jarak cluster 10. Pengelompokan demikian ini cukup bagus karena kemiripan habitat ditunjukkan secara ekstrim oleh dua kelompok besar tersebut. Meskipun pada jarak cluster 5 terdapat kelompok yaitu relevé 3,6,8 dengan relevé 2, namun demikian kurang terlihat jika dibanding dengan jarak di atasnya. Pada umumnya habitat mangrove di Rembang kurang sesuai untuk pemeliharaan kepiting soka, karena hanya relevé 1 yang sesuai. Perlakuan lebih lanjut untuk perbaikan habitat diperlukan agar jenis kepiting ini dapat hidup dengan optimal.Kata kunci: silvofishery, kepiting soka, habitat mangrove, Rembang, relevé. Classification of mangrove habitat for  development of soka crab (Scylla serrata) silvofishery in the north coast of Rembang RegencyAbstractSilvofishery practices as mangrove utilization have been providing various benefit for local societies, thus it needs to be developed for its product optimization and sustainability. Providing suitable area for silvofisheries is crucial for the development of silvofishery. This study was aimed to classify the mangrove habitat characteristics that were suitable for soka crab farming in the north coast of Rembang Regency, following the success of the north coast of Pemalang Regency. This research were conducted in the north coastof Rembang Regency in 2000, 2003, and 2004 planting years. Perpendicular transects to the coastal line were established on each plantation area. On each transect, three plots of 5 x 5 m were established and distributed on each mangrove zone. Mangrove tree density, mud depth, dissolved oxygen, salinity, temperature, pH and plankton density were measured from each plot. The measurements of habitat characteristics were also conducted in the mangrove area of Pemalang, where soka crab farming was developed earlier as a comparison between areas with the same plantation period). Data collected from all plot were averaged and differentiated based on Mangrove zonation. Data of each zone were treated as relevé. The relevé of the two study sites (Rembang and Pemalang) were then analyzed using cluster analysis with Mean Euclidean Distance (MED). The results showed that the cluster was relatively less various. There were two main separated groups with cluster distance at 10. This grouping was relatively good, indicated by distinctive similarity of habitat within each group. At cluster distance of 5, there were two main groups which were relevé 3,6,8 with relevé 2 and the rest as other group. Whereas the cluster distance of 5 in the relevé 3,6,8 was grouped with relevé 2, but it was not clearer than above group. Commonly, mangrove habitat in Rembang was less suitable for soka crab farming because only relevé 1 was suitable for the habitat of this crab. Further intervention is required for habitat improvement.
THE PHYSIOCHEMICAL CONDITION OF MANGROVE ECOSYSTEMS IN THE COASTAL DISTRICT OF SULAMO, KUPANG, EAST NUSA TENGGARA, INDONESIA Poedjirahajoe, Erny; Matatula, Jeriels
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 25 No. 3 (2019)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.277 KB) | DOI: 10.7226/jtfm.25.3.173

Abstract

Various rehabilitation and restoration of mangrove forests have been done, but there have not been any significant results. The main reason for the various failures in this activity is that the effort is not based on scientific data such as the suitability of the physicochemical conditions of mangrove habitats along the beach coast of  Sulamo District. The purpose of this research is to analyze the condition of salinity, the thickness of mud, and the beach slope of the selected mangrove locations Oeteta, Pariti, Beringin, and Pitai beaches.  The salinity conditions show variations, ranging from 19 ppm to 42.33 ppm. The thickness of the mud shows the highest value at 79.11 cm and the slope of mangrove coastal 1?4%. This research shows that the condition of the mangrove ecosystem in the coastal district of Sulamo is still suitable for mangrove growth. This research provides a basic overview of mangrove ecosystem conditions located on the beach coast of the Sulamo district as the basis for planning rehabilitation programs and mangrove restorations in the research area.
SOCIAL CAPITAL IN MANGROVE UTILIZATION FOR SILVOFISHERY: CASE STUDY IN KUTAI NATIONAL PARK, INDONESIA Sulistyorini, Iin Sumbada; Poedjirahajoe, Erny; Faida, Lies Rahayu Wijayanti; Purwanto, Ris Hadi
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 24 No. 2 (2018)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (861.131 KB)

Abstract

Social capital has an important role in mangrove management on conservation areas. Utilization of mangrove forest with silvofishery system can be an alternative developed for the community around the conservation areas. The purpose of this research is to know the strength of social capital in supporting the utilization of mangrove for silvofishery. This research adopted Social Capital Assessment Tool method and data analysis with Partial Least Square-Structural Equation Modeling. The results of the study found that there were several elements of social capital in five study villages that have not supported silvofishery in Kutai National Park (KNP), East Kalimantan, Indonesia. The overall analysis of the respondents showed that there were five elements of social capital have significant effect on silvofishery. The other two elements were insignificant and should be of particular concern to be improved, i.e. social networks and social norms. Indicators to be aware of were the increased knowledge of communities on park-related regulations, increased involvement of individuals in the community, and the strengthening of public figures who can be role models for the community. Mangrove forest of KNP should be kept as conservation area, but it should still pay attention to the socio-economic conditions of the surrounding community. The strength of social capital is expected to realize conservation-based economic development.
PENGGUNAAN PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS DALAM DISTRIBUSI SPASIAL VEGETASI MANGROVE DI PANTAI UTARA PEMALANG Poedjirahajoe, Erny; Marsono, Djoko; Wardhani, Frita Kusuma
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.725 KB) | DOI: 10.22146/jik.24885

Abstract

Habitat sangat memengaruhi komposisi penyusun ekosistem mangrove. Perubahan kualitas habitat secara kompleks dapat mengakibatkan pergeseran jenis tanaman penyusunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola distribusi spasial vegetasi mangrove berdasarkan karakteristik habitat di kawasan rehabilitasi mangrove Pemalang. Metode yang digunakan adalah kombinasi antara metode jalur dan petak contoh. Hasil penelitian menunjukkan sebaran spasial faktor habitat mangrove pada setiap stasiun pengamatan membentuk tiga cluster dengan karakteristik yang berbeda. Cluster 1 dicirikan pH, oksigen terlarut, dan suhu yang rendah, ketebalan lumpur dan salinitas yang tinggi. Cluster 2 oleh kandungan oksigen terlarut, salinitas, dan tebal lumpur yang rendah, serta suhu dan pH yang tinggi. Cluster 3 dengan pH, salinitas, dan tebal lumpur yang rendah serta kandungan oksigen terlarut yang tinggi dan suhu yang sedang. Sebaran spasial jenis mangrove berdasarkan karakteristik faktor habitat dapat membentuk tiga cluster. Cluster 1 terdiri dari Rhizophora mucronata Lam. dan Sonneratia alba Sm. dengan karakteristik habitat berupa suhu yang sedang dan oksigen terlarut yang tinggi. Cluster 2 terdiri dari Acanthus ilicifolius L., Avicennia alba Blume, dan R. apiculata Blume dengan karakteristik habitat berupa tebal lumpur, pH, oksigen terlarut, dan salinitas yang sedang. Cluster 3 dengan jenis Avicennia marina (Forsk.) Vierh. dengan karakteristik habitat berupa pH, salinitas, suhu, dan tebal lumpur yang tinggi.Usage of Principal Component Analysis in the Spatial Distribution of Mangrove Vegetation in North Coast of PemalangAbstractHabitat factors greatly affect the composition of the mangrove ecosystem. Changes in habitat quality may result on a shift of the type of plant mangrove ecosystem composition. This study aimed to determine the spatial distribution patterns of mangrove vegetation based on the characteristics of the habitat in the mangrove area in Pemalang District. The method used for data collection was the combination of transect method and plot sampling. The results showed that the spatial distribution of mangrove habitat factors at each observation station formed three clusters with different characteristics. Cluster 1 was characterized by low levels of pH, dissolved oxygen, and temperatures, as well as high values of mud thickness, and salinity. Cluster 2 was characterized by the low amount of dissolved oxygen, salinity, and mud thickness and high levels of temperature and pH. Cluster 3 was characterized by low values of pH, salinity, and mud thickness but high amount of dissolved oxygen and mild temperatures. The spatial distribution of mangrove species based on the characteristics of the habitat factors formed three clusters. Cluster 1 were Rhizophora mucronata Lam. and Sonneratia alba Sm. species as the habitat characteristics were mild temperatures and high amount of dissolved oxygen. Cluster 2 were Acanthus ilicifolius L., Avicennia alba Blume, and Rhizophora apiculata Blume with habitat characteristics were moderate levels of mud thickness, pH, dissolved oxygen and salinity. Cluster 3 was Avicennia marina (Forsk.) Vierh. as its habitat characteristics were high values of pH, salinity, temperature, and mud thickness.
KARAKTERISTIK TERUMBU KARANG DI ZONA PEMANFAATAN WISATA TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA (CORAL REEF CHARACTERISTIC OF TOURISM ZONE, KARIMUNJAWA NATIONAL PARK) Sulisyati, Rohmani; Poedjirahajoe, Erny; WF, Lies Rahayu; Fandeli, Chafid
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.452 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.19.3.139-148

Abstract

Karakteristik terumbu karang di suatu lokasi wisata perlu diketahui agar terumbu karang tetap dapat melangsungkan fungsinya dengan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik terumbu karang di zona pemanfaatan wisata Taman Nasional Karimunjawa. Dilakukan pada bulan November 2013 pada 14 lokasi. Pengamatan terumbu karang dengan metode line intercept transect untuk melihat substrat dasar berdasar lifeform. Transek dilakukan pada dua kedalaman yaitu 3 meter dan 6?8 m untuk mewakili perairan dangkal dan dalam. Analisis kualitatif dilakukan untuk melihat tutupan karang keras serta pengukuran nilai indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominasi. Hasil pengukuran kondisi fisik perairan termasuk dalam perairan produktif yang dapat menunjang kehidupan organisme di dalamnya. Kondisi terumbu karang pada daerah dangkal ditemukan 15 famili, 41 genus dan 104 species karang. Persentase tutupan karang keras termasuk kategori sedang ? sangat baik. Keanekaragaman jenis yang melimpah sedang hingga tinggi dengan kondisi komunitas antara labil hingga stabil dan hampir tidak ditemukan dominasi jenis tertentu. Pada daerah dalam terdapat 15 famili, 39 genus dan 99 species. Tutupan karang keras sedang ? baik, dengan keanekaragaman jenis melimpah tinggi dan stabil serta tidak ada jenis yang dominan. Genus Acropora dan Porites dapat ditemui pada seluruh lokasi. Karakteristik terumbu karang berkaitan dengan letak keberadaan pulau, terumbu karang pada pulau terlindung cenderung mempunyai komunitas yang stabil. Kata kunci: terumbu karang, tutupan karang keras, lifeform Coral  reef characteristic in the recreational area should be known to establish the function optimally. This study aims to quantify the characteristic of coral reef throughout tourism utilization zone of Karimunjawa National Park. Surveys were conducted  during November 2013 at 14 locations. Substrate cover was collected using line intercept transect methods. Transects were deployed at two depth i.e 3 meters and 6?8 meters to represent the shallow and the deep water. Qualitative analysis were done to measure the hard coral cover and diversity index, evenness index and domination. The result showed that physical condition of aquatic environment was productive water that can support living organisms. For shallow water there were 15 families, 41 generas and 104 species of hard coral. Hard  coral cover ranged from 36,5-82% and it was categorized as fair?excellent. Species abundance is moderate to high which a condition of community between unstable to stable and hardly found dominance of a specific species. While the deep water there were 15 families, 39 generas and 99 species corals. Hard coral cover ranged from 39,5-67,9% it was categorized as fair into good, with high species diversity and abundance of stable and there is no dominant species. Acropora and Porites genus can be found in all locations. Coral reef characteristic associated with the location where the island, the protected island tend to have stable community. Keywords: coral reef, hard coral cover, lifeform
PEREMAJAAN KEMIRI ( Aleurites mollucana Wild.) PADA KAWASAN TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG BULUSARAUNG (SEBUAH TINJAUAN KEBIJAKAN PEMERINTAH) Kadir W., Abd.; Awang, San Afri; Purwanto, Ris Hadi; Poedjirahajoe, Erny
ISSN 0216-0897
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan sumberdaya alam dalam kawasan taman nasional tidak hanya cukup menyandarkan pada pendekatan teknis, tetapi bagaimana merumuskan dan menyusun kebijakan yang lebih terpadu (komprehensif), interdisiplin, dan berbasiskan kemampuan sumberdaya lokal dengan melibatkan semua stakeholder yang berkepentingan atas sumberdaya alam tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data dan penjelasan peluang diakomodasinya kepentingan masyarakat untuk meremajakan tanaman kemiri dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Maros pada Kawasan TN Babul, Provinsi Sulawesi Selatan. Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan wawancara kepada sejumlah informan kunci. Data dianalisis dengan teknik analisis isi (content analysis ) dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keinginan masyarakat untuk meremajakan tanaman kemiri dalam kawasan TN Babul sulit diakomodasi. Hal ini disebabkan oleh ketidak-konsistenan diantara kebijakan pemerintah yang ada (UU No. 5/1990, PP No. 28/2011 dan Permenhut No. P.56/2006). Untuk itu diperlukan revisi-revisi sehingga dapat diimplementasikan pada berbagai kondisi yang berbeda-beda.
DAMPAK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI Acacia crassicarpa DI LAHAN GAMBUT TERHADAP TINGKAT KEMATANGAN DAN LAJU PENURUNAN PERMUKAAN TANAH Lisnawati, Yunita; Suprijo, Haryono; Poedjirahajoe, Erny; Musyafa, Musyafa
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 22, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Pembangunan hutan tanaman di lahan gambut tidak terlepas dari sorotan isu negatif lingkungan terkait dengan penurunan kedalaman muka air tanah, sehingga terjadi perubahan ekosistem asli. Kegiatan reklamasi lahan untuk HTI Acacia crassicarpa dalam jangka panjang disinyalir akan menimbulkan dampak negatif terhadap perubahan karakteristik tanah gambutnya seperti tingkat kematangan dan laju penurunan permukaan tanah gambut (subsiden). Kajian mengenai dampak pembangunan HTI di lahan gambut terhadap tingkat kematangan dan laju subsiden perlu dilakukan untuk memberikan informasi mengenai kondisi exsisting daya dukung lahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kematangan gambut baik secara vertikal (berdasarkan kedalaman gambut) maupun secara horizontal (berdasarkan jarak dari bibir kanal) dan mengetahui laju subsiden sebagai dampak dari reklamasi lahan gambut menjadi HTI A. crassicarpa. Penelitian dilakukan di PT AA, Distrik Rasau Kuning, Kabupaten Siak, Riau. Plot penelitian ditempatkan dalam satu transek sepanjang 100 m yang dibuat tegak lurus dengan kanal tersier, terdapat 12 plot dan dalam satu transek terdapat 3 titik pengamatan sehingga total titik pengamatan adalah 36 titik. Parameter yang diamati adalah dinamika kedalaman muka air tanah, nilai kadar serat tanah gambut dan laju subsiden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak perubahan kedalaman muka air tanah gambut di lokasi penelitian hanya mempengaruhi tingkat kematangan gambut pada kedalaman kurang dari 2 m, sedangkan jarak kanal tersier sebesar 125 m tidak berpengaruh secara nyata terhadap tingkat kematangan gambut. Pada kedalaman kurang dari 2 m tingkat kematangan gambut lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan di bawahnya. Pembangunan HTI A. crassicarpa di lokasi penelitian menyebabkan laju subsiden sebesar rata-rata 5,5 cm/tahun. 
ANALISIS STAKEHOLDER PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG BULUSARAUNG, PROPVINSI SULAWESI SELATAN Kadir, Abd. W; Awang, San Afri; Awang, San Afri; Purwanto, Ris Hadi; Purwanto, Ris Hadi; Poedjirahajoe, Erny; Poedjirahajoe, Erny
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Parapihak (stakeholder) yang terkait dalam pengelolaan TN Babul memiliki kepentingan dan pengaruh yang beragam sehingga harus dapat dikelola dengan baik dalam mencapai tujuan pengelolaan TN Babul. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi stakeholder dalam pengelolaan TN Babul, mendapatkan penjelasan tentang kepentingan dan pengaruh setiap stakeholder dalam pengelolaan TN Babul, serta peran stakeholder dalam mengakomodir kepentingan masyarakat sekitar TN Babul. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Maros pada Kawasan TN Babul, Propinsi Sulawesi Selatan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara kepada sejumlah informan kunci. Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil analisis stakeholder menunjukkan bahwa stakeholder primer dalam pengelolaan TN Babul terdiri dari Balai TN Babul, Masyarakat sekitar TN Babul, PDAM Maros, Disparbud Maros, Lembaga Pengelola Air Desa. Sedangkan stakeholder sekunder terdiri dari Dishutbun Maros, Dinas Pertanian Maros, Pemerintah desa dan kecamatan, BP2KP Maros, BPN Maros, PNPM Mandiri, LSM, dan Perguruan Tinggi dan lembaga penelitian. Keberadaan stakeholder tersebut dapat memberikan pengaruh positif dan negatif terhadap kawasan TN Babul. Peran yang dapat dilakukan oleh stakeholder dalam mengakomodir kepentingan masyarakat dapat berupa fungsi kontrol, bantuan fisik, bantuan teknis, dan dukungan penelitian. Pengelolaan kolaborasi dapat menjadi alternatif model pengelolaan TN Babul dalam mengakomodir kepentingan stakeholder yang beragam. 
ANALISIS STAKEHOLDER PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG BULUSARAUNG, PROPVINSI SULAWESI SELATAN Kadir, Abd. W; Awang, San Afri; Awang, San Afri; Purwanto, Ris Hadi; Purwanto, Ris Hadi; Poedjirahajoe, Erny; Poedjirahajoe, Erny
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Parapihak (stakeholder) yang terkait dalam pengelolaan TN Babul memiliki kepentingan dan pengaruh yang beragam sehingga harus dapat dikelola dengan baik dalam mencapai tujuan pengelolaan TN Babul. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi stakeholder dalam pengelolaan TN Babul, mendapatkan penjelasan tentang kepentingan dan pengaruh setiap stakeholder dalam pengelolaan TN Babul, serta peran stakeholder dalam mengakomodir kepentingan masyarakat sekitar TN Babul. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Maros pada Kawasan TN Babul, Propinsi Sulawesi Selatan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara kepada sejumlah informan kunci. Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil analisis stakeholder menunjukkan bahwa stakeholder primer dalam pengelolaan TN Babul terdiri dari Balai TN Babul, Masyarakat sekitar TN Babul, PDAM Maros, Disparbud Maros, Lembaga Pengelola Air Desa. Sedangkan stakeholder sekunder terdiri dari Dishutbun Maros, Dinas Pertanian Maros, Pemerintah desa dan kecamatan, BP2KP Maros, BPN Maros, PNPM Mandiri, LSM, dan Perguruan Tinggi dan lembaga penelitian. Keberadaan stakeholder tersebut dapat memberikan pengaruh positif dan negatif terhadap kawasan TN Babul. Peran yang dapat dilakukan oleh stakeholder dalam mengakomodir kepentingan masyarakat dapat berupa fungsi kontrol, bantuan fisik, bantuan teknis, dan dukungan penelitian. Pengelolaan kolaborasi dapat menjadi alternatif model pengelolaan TN Babul dalam mengakomodir kepentingan stakeholder yang beragam. 
PRODUKSI BIOMASA DAN AKUMULASI HARA PADA LAHAN HUTAN TANAMAN EUCALYPTUS PELLITA F.Muell UMUR EMPAT TAHUN, DI RIAU Supangat, Agung B.; Supriyo, Haryono; Poedjirahajoe, Erny; Sudira, Putu
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 19, No 2 (2012)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya produksi biomasa dan akumulasi hara di lahan hutan tanaman Eucalyptus pellita umur 4 tahun, di Provinsi Riau. Pengukuran biomasa dan akumulasi hara dilakukan baik pada komponen biomasa hidup seperti pohon dan tumbuhan bawah dan biomasa mati yaitu serasah. Hasil penelitian memperlihatkan tanaman E. pellita umur 4 tahun memiliki rata-rata tinggi total dan diameter batang masing-masing 15,5 m dan 13,6 em. Total biomasa pohon E. pellita umur 4 tahun sebesar 284,4 tonliha, tumbuhan bawah 4,43 tonlha dan serasah 7,08 toniha, sedangkan produktivitas serasah sebesar 7,38 tonlhalth. Total akumulasi hara makro dalam biomasa pohon sebesar 206,6 kg/ha (N); 54,6 kg/ha (P); 295,4 kg/ha (K); 54,7 kg/ha (Ca); 22,1 kg/ha (Mg); dan 38,8 kg/ha (Na). Urutan tingkat kandungan hara (dalam %) dan akumulasi hara (dalam kg/ha) dalam biomasa mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil adalah K>N>Ca>P>Na>Mg.