Tandiyo Pradekso
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Published : 173 Documents
Articles

Peran Koordinator Liputan dan Reporter dalam Pengelolaan Media Online Wehype.id bersama Impala Space Habibie Taufiqqur Rahman, Achmad; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 6, No 2: April 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.299 KB)

Abstract

Di daerah perkembangan industri kreatif begitu terlihat, sepertinya halnya di Semarang dimana semakin banyak para talenta – talenta kreatif muda bermunculan. Namun banyak talenta kreatif khususnya di kota Semarang belum ter-expose sehingga belum banyak dikenal khalayak. Salah satu penggiat industri kreatif di Semarang yaitu Impala Space menyadari bahwa dibutuhkan media yang dapat memberikan apresiasi terhadap industri kreatif di Semarang agar dapat dikenal oleh masyarakat luas. Impala Space adalah ruang kerja kolaboratif atau yang sering disebut sebagai co-working space. Sebuah ruang yang digunakan untuk bekerja bersama – sama dengan komunitas kreatif, Freelancers, Entreupreneurs atau bisnis Startup. Impala space akan menjadi pusat kegiatan dan pengembangan industri kreatif. Oleh karena itu tim karya bidang bekerja sama dengan Impala Space untuk membuat sebuah media online yang membahas segala hal tentang industri kreatif yang ada di Semarang. Wehype.id merupakan sebuah platform yang menjadi wadah untuk berbagi cerita tentang proses kreatif pada suatu karya. Wehype.id percaya dalam setiap penciptaan karya, selalu ada proses panjang yang melibatkan daya kreasi dan daya cipta. Untuk itu Wehype.id berkomitmen untuk menjadi corong komunikasi bagi setiap kreator untuk berbagi cerita sehingga kita dapat memahami proses dan mengapresiasi karya. Dalam Wehype.id koordinator liputan adalah orang yang bertanggung jawab terhadap penyusunan ide liputan dengan memperhatikan nilai berita didalamnya, yang kemudian akan ditugaskan kepada reporter. Selama karya bidang Wehype.id koordinator liputan telah menyelesaikan tugasnya melakukan penyusunan ide liputan sebanyak 90 bahan dan sebagai reporter mampu menghasilkan 45 artikel. Harapannya Wehype.id tidak hanya memberikan informasi tetapi juga menginspirasi dan turut berpartisipasi dalam perkembangan industri kreatif.
Pengaruh Intensitas Menonton Televisi dan Pendampingan Orangtua dalam Menonton Televisi Terhadap Kedisiplinan Belajar Setiyanto, Donik Agus; Ulfa, Nurist Surayya; Herieningsih, Sri Widowati; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.777 KB)

Abstract

Televisi sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat sekarang ini, hal ini terlihat dari jumlah pengguna televisi yang selalu meningkat setiap tahunnya. Kedisiplinan belajar anak dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan pendampingan orangtua yang baik dalam menonton televisi yang berperan besar didalam lingkungan keluarga juga memiliki peran dalam membentuk perilaku dan sikap anak untuk disiplin belajar.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas menonton televisi dan pendampingan orangtua dalam menonton televisi terhadap kedisiplinan belajar. Dasar pemikiran yang digunakan adalah displacement effect theory dan Parental mediation. Penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling. Sampel penelitian adalah anak berusia 12 – 14 tahun, dengan jumlah sebesar 138 siswa di SMP Negeri 5 Purwodadi.Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana dengan bantuan SPSS 22. Uji hipotesis antara intensitas menonton televisi menunjukkan hasil yang sangat signifikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,001 dan berpengaruh negatif terhadap kedisiplinan belajar. Sedangkan variabel pendampingan orang tua dalam menonton televisi menunjukkan hasil yang signifikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,001 dan memiliki pengaruh yang positif terhadap kedisiplinan belajar. Kesimpulan dari uji hipotesis ini adalah semakin rendah intensitas menonton televisi maka semakin tinggi kedisiplinan belajar dan semakin tinggi pendampingan orangtua maka kedisiplinan belajar akan semakin tinggi.Saran yang dapat diberikan adalah orang tua sebagai pendidik di rumah sebaiknya mengarahkan anak untuk melakukan kegiatan atau aktivitas lain yang lebih positif dan bermanfaat seperti berolahraga, berinteraksi dengan teman sebaya dilingkungannya dan belajar sehingga dapat mengurangi intensitas menonton televisi.
WISATA KELUARGA DALAM PROGRAM ACARA JATENG EXOTIC DI CAKRA SEMARANG TV Haryadi, Sigit; Setyabudi, Djoko; Winata, I Nyoman; Widagdo, M Bayu; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (977.109 KB)

Abstract

Dalam dunia jurnalistik, media menjadi kunci utama dalam penyebaran informasi secara cepat dan akurat. Seiring dengan perkembangan teknologi, media televisi memegang kendali dengan kemampuan yang besar dalam mempengaruhi masyarakat melalui informasi satu arah dan bersifat audio-visual. Berbagai jenis penyampaian infomasi pun timbul sesuai dengan segmentasi dan kebutuhannya, dan dalam hal ini informasi di televisi dikemas dalam bentuk feature dengan konsep acara wisata keluarga. Feature dengan konsep acara wisata sudah sering ditampilkan oleh berbagai media televisi di Indonesia, namun kurangnya inovasi menjadi dasar pembuatan karya bidang ini. Konsep wisata keluarga merupakan gagasan baru yang diproduksi untuk memberikan variasi konsep linier yang selama ini ada. Feature wisata yang tayang selama 30 menit di program Jateng Exotic ini memiliki alur cerita tentang seorang presenter yang menjemput serta mengajak sebuah keluarga guna memanfaatkan waktu luang untuk berlibur ke beberapa tempat sekaligus dalam satu hari penuh. Dalam feature wisata keluarga ini, waktu serta keluarga menjadi hal yang paling utama dalam menentukan berbagai objek yang akan dikunjungi. Pendekatan waktu dipilih karena kecenderungan kurangnya waktu untuk berlibur bersama keluarga pada akhir pekan maupun liburan dengan kondisi orang tua yang bekerja, serta anak-anak yang sekolah. Pemilihan lokasi dilakukan melalui riset dengan berdasar waktu tempuh, serta konten yang ditawarkan oleh objek wisata (edukasi, alam, sejarah, budaya, dan kuliner). Tempat wisata yang diangkat di program antara lain adalah Curug Tujuh Bidadari Bandungan, Sate Kelinci Bandungan, Pasar Bandungan, The Sea-Pantai Cahaya, Rumah Makan Ayam Goreng Gringsing Bu Bengat, Water Blaster, Kampoeng Semarang, Kampung Batik Semarang, Toko Oen, Wisata Kota Lama dengan vespa ndog, dan Pasar Semawis Semarang. Di produksi sebanyak 4 episode, dan memiliki tiga segmen dengan konten yang berbeda, Feature wisata ini bertujuan untuk memberikan referensi bagi keluarga yang akan memanfaatkan waktu yang singkat untuk dapat berwisata bersama ke beberapa objek wisata di Kota Semarang dan sekitarnya dalam satu hari penuh. Disuguhkan dengan kemasan atau cara penayangan yang inovatif, unik, dan menarik. Karya Bidang ini telah ditayang pada hari Minggu, tanggal 23 Februari, 2 Maret, 9 Maret, dan 16 Maret 2014 pukul 14.30 wib di Cakra Semarang TV. Kata kunci: wisata, feature, jurnalistik, program televisi, jateng exotic
Kembang Soca Paranggani Paranggani, Kembang Soca; Herieningsih, Sri Widowati; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.636 KB)

Abstract

Nama : Kembang Soca ParangganiNIM : D2C009086Judul : Pengaruh Intensitas Mengkonsumsi Program Televisi bermuatanJurnalisme Warga dan Partisipasi Coaching Citizen Journalism terhadapMinat Mahasiswa menjadi Jurnalis WargaABSTRAKLatar belakang penelitian ini didasarkan pada rendahnya minat masyarakat termasukmahasiswa untuk menjadi jurnalis warga. Hal tersebut diperoleh dari sedikitnya partisipasimasyarakat yang mengirimkan karya jurnalis warga pada program televisi bermuatanjurnalisme warga. Padahal, kemajuan teknologi seperti keberadaan alat komunikasi yangsemakin canggih seharusnya mempermudah masyarakat untuk saling berbagi informasi. Olehkarenanya, media televisi seperti Metro TV dan SCTV membuat program on air seperti WideShot dan Citizen6 maupun program off air bermuatan jurnalisme warga yakni coachingcitizen journalism. Oleh karenanya, ketika seseorang mengkonsumsi program tersebut danberpartisipasi dalam coaching diharapkan dapat mempengaruhi minatnya untuk menjadijurnalis warga.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas mengkonsumsiprogram televisi bermuatan jurnalisme warga dan partisipasi coaching citizen journalismterhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Teori yang digunakan pada penelitian iniadalah teori Powerfull Effect dan Teori Pembelajaran Sosial dari Albert Bandura. Penelitianini merupakan tipe penelitian eksplanatif dengan pendekatan kuantitatif, dan menggunakanparadigma positivistik. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa di kota Semarangyang pernah menjadi peserta dalam SCTV Goes to Campus 2012 yang digelar di kampusFISIP Undip. Sampel yang digunakan adalah random sampling atau probability samplingdengan tekhnik simple random sampling maka diperoleh jumlah sampel sebanyak 67responden. Berdasarkan perhitungan statistik dengan menggunakan analisis regresisederhana, maka diperoleh pengaruh yang sangat signifikan. Variabel intensitasmengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga (X1) memiliki pengaruhsebesar 0,112 terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga (Y) dengan nilai signifikansisebesar 0,003 < 0,01 maka H0 ditolak dengan koefisien regresi sebesar 0,017. Dapatdisimpulkan bahwa variabel intensitas mengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalismewarga berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Selanjutnya,partisipasi coaching citizen journalism (X2) memiliki pengaruh sebesar 0,204 terhadap minatmahasiswa menjadi jurnalis warga (Y) dengan nilai signifikansi 0,000 <0,01 maka H0 ditolakdengan koefisien regresi sebesar 0,086. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel partisipasicoaching citizen journalism berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa menjadi jurnaliswarga.Kata kunci: Intensitas, Partisipasi dan MinatNama : Kembang Soca ParangganiNIM : D2C009086Judul : The Influence Intensity of Consuming Television Program containingCitizen Journalism and The Participation of Coaching CitizenJournalism towards The College Student Interest to be a CitizenJournalist.ABSTRACTThe background of the research was based on the lack of public interest including students tobe a citizen journalist. It is derived from the least participation of citizen journalists whosubmit their video or news on television program countaining citizen journalism. In fact, thetechnology is becoming more sophisticated and easier for people to share information.Therefore, the television media such as Metro TV and SCTV made an on air program (WideShot and Citizen6) and also made an off air pogram that is coaching citizen journalism foreducating people. The media expected to affect people’s interest to be a citizen journalistwhen they consume the program and participate in coaching citizen journalism.The purpose of this research is to find out the influence intensity of consumingtelevision program containing citizen journalism and the participation of coaching citizenjournalism towards the college student interest to be a citizen journalist. The theory used inthis research is the theory Powerful Effect and Social Learning Theory of Albert Bandura.This reaserch is type of explanatory with a quantitative, and uses paradigm of positivisme.The reaserch's subjects were the college students in Semarang who had participated in SCTVGoes to Campus 2012 held at the Faculty of Political and Social Science, Undip. The usedsample is random sampling or probability sampling with simple random sampling techniquewith 67 respondents. Based on the statistic computation with Simple Regression Analysis,then there is known a significant result. Variable the influence intensity of consumingtelevision program containing citizen journalism (X1) has the effect of 0.112 on the collegestudent interest to be a citizen journalist (Y) with a significance value of 0.003 <0.01 then H0is rejected with koefisien regression of 0,017. It can be concluded that the influence intensityof consuming television program containing citizen journalism has a positive effect on on thecollege student interest to be a citizen journalist. Furthermore, the participation of coachingcitizen journalism (X2) has the effect of 0.204 on the college student interest to be a citizenjournalist (Y) with a significance value of 0.000 <0.01 then H0 is rejected with koefisienregression of 0,086. It can be concluded that the participation of coaching citizen journalismhas a positive effect on on the college student interest to be a citizen journalist.Keywords: Intensity, Participation and InterestsPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangFenomena jurnalisme warga semakin berkembang berkat kemajuan teknologi komunikasiyang begitu pesat. Kemajuan teknologi alat rekam, internet, dan streaming turutmembuka akses masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam menghadirkan informasisemakin cepat dan terbuka. Meskipun kemajuan teknologi komunikasi telah memberikanruang gerak yang luas bagi perkembangan jurnalisme warga di Indonesia, akan tetapipada kenyataanya animo masyarakat untuk berpartisipasi menjadi jurnalis warga masihtergolong rendah. Hal tersebut diungkapkan oleh oleh Syaifudin, produser Wide ShotMetro TV, Imam Suwandi, produser Wide Shot Metro TV divisi jurnalisme warga, danTria Maulida Putri selaku ketua panitia seminar dan talkshow dengan tema “EnchanchingNational Economic Journalism.Oleh karenanya, sebagai program televisi bermuatan jurnalis warga, Metro TVmelalui program Wide Shot dan SCTV melalui program online Citizen6 melakukanberagam upaya untuk mendorong minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Metro TVdan SCTV mengadakan pelatihan atau coaching citizen journalism di berbagaiuniversitas di Indonesia. Oleh karenanya, masalah dalam penelitian ini apakah terdapatpengaruh intensitas mengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga danpartisipasi coaching citizen journalism terhadap minat mahasiswa menjadi jurnaliswarga?1.2 TujuanPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas mengkonsumsi programtelevisi bermuatan jurnalisme warga dan partisipasi coaching citizen journalism terhadapminat mahasiswa menjadi jurnalis warga1.3 Kerangka Teori- Powerfull Effects Theory : Teori ini mengasumsikan bahwa media massa dapatmenyuntikkan informasi ide, dan bahkan propaganda ke public.- Teori Pembelajaran Sosial : Teori hasil penelitian Albert Bandura ini memandangbahwa seseorang dapat belajar, baik dengan cara mengamati, diberikan cerita tentangsesuatu, atau melalui pengalaman langsung.Bagan geometri :1.4 HipotesisHipotesis yang diajukan dalam penelitian ini sebagai berikut :1. Intensitas mengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga berpengaruhpositif terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga2. Partisipasi coaching citizen journalism berpengaruh positif terhadap minat mahasiswamenjadi jurnalis warga.1.5 Metode Penelitian- Tipe Penelitian : penelitian eksplanatif (explanatory)- Sampel : peserta coaching SCTV Goes to Campus 2012 sebanyak 67 responden.- Teknik penarikan sampel : teknik Simple Random Sampling- Teknik analisis data : kuantitatif dengan mengganakan uji analisis Simple Regression.Sebelum melakukan penyebaran kuesioner diakukan uji validitas dan reliabilitas.Kemudian sebelum melakukan pengolahan data dilakukan uji Asumsi Klasik.Intensitas mengkonsumsi Program Televisibermuatan Jurnalisme Warga ( X1)Partisipasi Coaching Citizen Journalism (X2)Minat Mahasiwa menjadiJurnalis Warga (Y)PEMBAHASAN2.1 Pengaruh Intensitas Mengkonsumsi Program Televisi Bermuatan JurnalismeWarga terhadap Minat Mahasiswa menjadi Jurnalis WargaBerdasarkan hasil pengujian uji regresi sederhana diperoleh nilai signifikansi sebesar0,003 dengan koefisien regresi sebesar 0,017. Oleh karena sig sebesar 0,003 < 0,01 makaH0 ditolak atau dapat disimpulkan bahwa koefisien regresi variabel intensitasmengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga berpengaruh positifterhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga.Selanjutnya, nilai Adjusted R Square sebesar 0,112. Nilai tersebut menunjukkanbahwa minat mahasiswa menjadi jurnalis warga dipengaruhi oleh intensitasmegkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga sebesar 11,2% sedangkansisanya dipengaruhi oleh faktor –faktor lain.Televise sebagai media massa dapat memberikan pengaruh kepada audiensnyamelalui program-program acara yang ditayangkan. Secara langsung program televisibermuatan jurnalisme warga menjadi referensi bagi para pemirsa yang aware terhadaplingkungan untuk berbagi informasi terhadap sesama.2.2 Pengaruh Partisipasi Coaching Citizen Journalism terhadap Minat Mahasiswamenjadi Jurnalis Warga.Berdasarkan hasil pengujian uji regresi sederhana diperoleh nilai signifikansi sebesar0,000 dengan koefisien regresi sebesar 0,086. Oleh karena sig sebesar 0,000 <0,01 makaH0 ditolak atau dapat disimpulkan bahwa koefisien regresi variabel partisipasi coachingcitizen journalism berpengaruh positif terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis wargaNilai Adjusted R Square sebesar 0,204. Nilai tersebut menunjukkan bahwa minatmahasiswa menjadi jurnalis warga dipengaruhi oleh partisipasi coaching citizenjournalism sebesar 20,4% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor –faktor lain.Dengan demikian, apa yang dialami langsung oleh peserta coaching citizenjournalism sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Albert Bandura mengenai tahapanbelajar sosial yakni dimulai pada tahapan memperhatikan hingga mengarahkan dorongansesuai pengalaman.PENUTUP3.1 Kesimpulan- Intensitas mengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga berpengaruhpositif terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Semakin tinggi intensitasmengkonsumsi program televisi bermuatan jurnalisme warga maka semakin tinggipula pengaruhnya terhadap minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Begitu puladengan keadaan sebaliknya.- Partisipasi coaching citizen journalism berpengaruh positif terhadap minat mahasiswamenjadi jurnalis warga. Tingginya partisipasi coaching citizen journalism akanberpengaruh pada tingginya minat mahasiswa menjadi jurnalis warga. Begitu puladengan keadaan sebaliknya.3.2 Saran- Sebagai upaya untuk meningkatkan minat mahasiswa menjadi jurnalis warga,sebaiknya media televisi juga meningkatkan frekuensi pengadaan coaching citizenjournalism dan memperluas jangkauan wilayah pengadaan coaching.DAFTAR PUSTAKABuku :Ardianto, Elvinaro dan Lukiati K. Edinaya. (2004). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar.Bandung: Simbiosa Rekatama Media.Bungin, Burhan. (2007). Sosiologi Komunikasi: Teori Paradigma, dan Diskursus TeknologiKomunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana.Ghozali, Imam. (2006). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang:Badan Penerbit Universitas Diponegoro.Hazim, Nurkholif.(2005). Teknologi Pembelajaran. Jakarta: UT Pustekom IPTPIKuswandi, Wawan. (1996). Komunikasi Massa: Sebuah Analisis Media Televisi. Jakarta: PTRineka Cipta.Kusumaningati, Imam FR (2012). Jadi Jurnalis Itu Gampang!. Jakarta: PT Elex MediaKomputindo.Kriyantoro, Rahmat. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana PrenadaMedia Group.Liliweri, Alo. (1991). Memahami Peran Komunikasi Massa Dalam Masyarakat. Bandung:PT. Citra Aditya Bakti.Mulyasa, E. (2004). Implementasi Kurikulum 2004 panduan pembelajaran KBK. Bandung:PT. Remaja Rosda KaryaMcQuail, Dennis. (1996). Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar Edisi Kedua. Jakarta:Erlangga.Nurudin. (2007). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Prasetyo, Bambang dan Miftahul Jannah.(2012). Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.Rahmat, Jalaludin. (2006). Psikologi Komunikasi Edisi Revisi. Bandung: P.T RemajaRosdakarya.Romli, Asep S. (2012).Jurnalistik Online. Bandung: Nuansa Cendekia.Santoso, Singgih. (2000). SPSS Mengolah Data Statistik Secara Profesional Versi 7.5.Jakarta: PT Elex Media KomputindoSarwono, Sarlito Wirawan. (1997). Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Simamora, Bilson. (2002). Panduan Riset Perilaku Konsumen. Jakarta: PT Gramedia PustakaUtama.Syarif, Rusli. (1987). Teknik Manajemen Latihan dan Pembinaan. Bandung: Angkasa.Soekanto, Soerjono. (1993). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: CV Rajawali.Soetrisno dan Rita, Hanafi. (2007). Filasafat Imu dan Metodologi Penelitian edisi ketujuh.Jakarta: CV Andi OffsetSuwandi, Imam. (2012). Langkah Otomatis Jadi Citizen Journalist. Jakarta: Dian Rakyat.Vivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa edisi Kedelapan. Jakarta: Kencana PrenadaMedia Group.Skripsi:Pricilia P.(2012). Pengaruh Terpaan Program Acara Stand Up Comedy Show di Metro TVterhadap Minat Menonton (Studi Kasus Terhadap Pengunjung Comedy CafeKemang). Skripsi. Universitas Bina Nusantara.Nurul Inayah S. (2007). Hubungan Intensitas Menonton Program Acara Pencarian Bakat diTelevisi dan Dukungan Orang Tua dan Teman dengan Minat Remaja dalammengembangkan Bakat di Dunia Musik. Skripsi. Universitas Diponegoro.Arsita Pitriawanti. (2010). Pengaruh Intensitas Menonton Televisi dan Komunikasi Orang tua– Anak terhadap Kedisiplinan Anak dalam Menaati Waktu Belajar. Skripsi.Universitas Diponegoro.Internet:Universitas Pamulang Coaching Jurnalistik. (2013). Dalam http:/ /lentera berita.com/index.php/tagsel/339-universitas-pamulang-coaching-jurnalistik. html.Diunduh pada tanggal 15 Juni 2013 pukul 20:18 WIB.Ratusan Mahasiswa Ikuti Pelatihan Jurnalistik Metro TV. (2013). Dalam http://www.metrotvnews.com /metronews/read/2013/05 /13 /3/153081/ Ratusan-Mahasiswa-Ikuti-Pelatihan-Jurnalistik-Metro-TV. Diunduh pada 20 Juni 2013 pukul 12:07 WIB.Wide Shot.(2012). Dalam http://wideshot. metrotvnews.com /news . php?id=14. Diunduhpada 15 Juni 2013, pukul 20:22 WIB.Wide Shot.(2012). Dalam http://wideshot. metrotvnews.com /news . php?id=20. Diunduhpada 15 November 2013, pukul 20:18 WIB.Wide Shot.(2012). Dalam http://wideshot.metrotvnews.com/news. php ?id=18. Diunduh pada28 Oktober 2013, pukul 14:43 WIB.Wide Shot. (2013). Dalam http://wideshotmetrotv.blogspot.com/search?updated-max = 2013-02-26T18:52:00-08:00&max-results=7. Diunduh diakses pada 28 Oktober 2013,pukul 14:27 WIB.Jadwal Tayang Wide Shot. (2012). Dalam http://wideshotmetrotv.blogspot.com/. Diunduhpada 28 Oktober 2013, pukul 14:22 WIB.Konten Wide Shot. (2012). Dalam http://wideshotmetrotv.blogspot.com/. Diunduh pada 28Oktober 2013, pukul 14:26 WIB.Pelatihan Jurnalisme Warga di Semarang. (2012). Dalam http:/ /www. metro tvnews.com/detail /2012/ 10/03/ 19580/695/ Pelatihan-Jurnalisme-Warga-di-Semarang/Wideshot, Diunduh pada 28 Oktober 2013, pukul 10:40Pewarta Warga asal Solo Raih CJC Metro TV.(2012). Dalam http://www .solopos.com/2012/ 11/23/cjc-2012-2 pewarta -warga-asal-solo-raih-cjc-metro-tv-350266,Diunduh pada 28 Oktober 2013, pukul 09:30 WIB.Jadilah Citizen Journalist di Wide Shot. (2012). Dalam http://www.ediginting. com/ 2012/02/jadilah-citizen-journalist-di-wide-shot.html. Diunduh pada 28 Oktober 2013, pukul14:10 WIB.Yuk Jadi Pewarta Warga di Citizen6. (2012). Dalam http ://m.liputan6 .com/ news/ read/52781/yuk-jadi-pewarta-warga-di-citizen6. Diunduh pada 28 Oktober 2013, pukul10:37 WIB.Ajang Cari Bakat SCTV Goes to Campus (2012). Dalam http://blujer. blogspot.com/2012/03/ajang-cari-bakat-sctv-goes-tocampus.html. Diunduh pada 28 Oktober2013, pukul 10:40 WIB.Arvinda Pemenang SGTC Semarang 2012. (2012). Dalam http:// berita. plasa.msn.com/nasional/sctv/arvinda-pemenang-sgtc-semarang-2012. Diunduh pada 28Oktober 2013, pukul 10:47 WIB.
Karya Bidang Program Tayangan “Gitaran Sore-Sore” di PROTV Semarang sebagai Produser Pelaksana Pamungkas, Raynaldo Faulana; Pradekso, Tandiyo; Naryoso, Agus; Widagdo, M Bayu
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.579 KB)

Abstract

Televisi merupakan salah satu saluran yang mampu menyebarkan informasi secara massal. Namun seringkali informasi yang disebarkan saluran televisi nasional kurang dapat diterima oleh khalayak di daerah. Hal tersebut dikarenakan tayangan televisi nasional tidak memperhitungkan unsur proximity. Televisi lokal seharusnya mampu membawa unsur proximity tersebut menjadi sebuah tayangan yang berkualitas. Namun seringkali khalayak tidak sadar akan kekuatan televisi lokal tersebut.Gitaran sore-sore sebagai sebuah tayangan talkshow yang hadir di televisi lokal mampu menghadirkan unsur proximity. Gitaran sore-sore juga menjadi sarana untuk menyebarluaskan ide-ide masyarakat Semarang melalui obrolan ringan tentang hobi dan konten yang mengangkat tentang informasi lokal. Lewat cara interaktif dan inspiratif tayangan gitaran sore-sore mampu membawa kekuatan televisi lokal ke tengah-tengah khalayak.Pada program tayangan Gitaran Sore-sore. produser bertugas untuk memimpin jalannya produksi acara, menyediakan kebutuhan produksi, membuat rencana kerja, menkordinasi tim , hingga membuat anggaran produksi. Setelah melalui tahapan praproduksi, proses produksi, pascaproduksi, karya ditayangkan live di ProTV setiap hari rabu dan kamis mulai tannggal 29 September hingga 13 November 2014 pukul 15.00 WIB. Melalui karya ini diharapkan khalayak Semarang mampu mempunyai tayangan yang informatif dan inspiratif serta menghibur.Kata kunci : Talkshow Gitaran Sore-Sore, Program acara anak muda, Hobi
Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub, Intensitas Komunikasi Politik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensi terhadap Partisipasi Politik Pemilih Pemula pada Pilgub Jateng 2013 Asmoro, Awang; Pradekso, Tandiyo; Yulianto, Muchamad
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.667 KB)

Abstract

Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub,Intensitas Komunikasi Politik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensiterhadap Partisipasi Politik Pemilih Pemula pada Pilgub Jateng 2013ABSTRACTOn May 26th, 2013, people of Central Java implemented the Gubernatorial Election.Various campaigns conducted to gain public sympathy. However, the number of abstentions wasvery high, reaching 44 percent. On the other hand, youth voters have a significant impact to thesuccess of the elections, or the victory of candidate, based on the relatively large amount.Adolescents at 17-18 years old, which when the Central Java Gubernatorial Election 2013, theyvote for the first time, most of them live with a family and at that age are also often involved insome reference groups.This study used quantitative research methods and the type is explanatory research,which examines the relationship between variables through hypothesis testing. The populationused in this study were high school students, Madrasah Aliyah, and vocational high schools inSemarang city, with multistage random sampling technique. This study used logistic regressionas statistical test. This test is used when the dependent variabel have dichotomous scale.The results showed that exposure to the candidates’ campaigns has no effect on youthvoters political participation, while political communication intencity in the family and politicalcommunication intencity in the reference group both has influence on youth voters politicalparticipation. Opened campaign or through the media can’t reach youth voters effectively. Onthe other side, youth voters need some party (but not political party) to mobilize their politicalparticipation. So, this study suggested that the target of the campaign are families or groups whohave access to the youth voters. Family and reference group had a significant influence on thepolitical socialization process to the youth voters, so that will be more effective when the politicor campaign informations delivered through the socialization agents.Keywords : campaign, family, reference group, youth votersABSTRAKSIPada tanggal 26 Mei 2013, masyarakat Jawa Tengah melaksanakan pemilihan Gubernurdan Wakil Gubernur secara langsung. Namun, angka golput ternyata sangat tinggi, yaitumencapai angka 44 persen. Di sisi lain, pemilih pemula memiliki pengaruh yang cukupsignifikan bagi kesuksesan pemilihan umum, ataupun bagi kemenangan salah satu kandidat,mengingat jumlah yang relatif besar. Remaja pada usia 17-18 tahun, di mana pada saat PilgubJateng 2013 menjadi pemilih untuk pertama kalinya, sebagian besar tinggal dengan keluarga danpada usia tersebut juga sering terlibat dalam suatu kelompok referensi.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan tipe penelitianeksplanatori, yaitu mengkaji hubungan antar variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi yangdigunakan dalam penelitian ini adalah siswa SMA, MA, dan SMK di Kota Semarang, denganteknik multistage random sampling. Uji statistik yang digunakan adalah uji regresi logistik. Ujiini digunakan ketika variabel tetap berskala dikotomi.Hasil penelitian menunjukan bahwa terpaan kampanye Cagub-Cawagub tidakmempunyai pengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula, sedangkan intensitaskomunikasi politik di dalam keluarga dan intensitas komunikasi politik di dalam kelompokreferensi memiliki pengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula. Kampanye terbuka ataumelalui media tidak dapat menjangkau pemilih pemula dengan efektif. Di sisi lain, pemilihpemula membutuhkan pihak-pihak untuk memobilisasi partisipasi politik mereka. Untuk itu,disarankan agar kampanye dilakukan untuk menyasar keluarga atau kelompok-kelompok yangmemiliki akses kepada pemilih pemula. Keluarga dan kelompok referensi memiliki pengaruhyang signifikan dalam proses sosialisasi politik kepada pemilih pemula sehingga akan lebihefektif ketika informasi politik atau informasi kampanye disampaikan melalui agen-agensosialisasi tersebut.Kata kunci: kampanye, keluarga, kelompok, pemilih pemulaPENDAHULUANKomunikasi merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Pertukaran pesandilakukan di antara manusia melalui komunikasi. Fungsi komunikasi untuk mempersuasi banyakdijumpai dalam dunia politik. Komunikasi berperan sebagai penghubung antara pemerintahdengan rakyat. Di Indonesia, dengan sistem pemerintahan yang republik, di mana republikdengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilihlangsung oleh rakyat, maka komunikasi digunakan sebagai alat untuk mempersuasi masyarakatagar memberi dukungan kepada suatu pihak atau golongan. Salah satu bentuk nyata dukunganmasyarakat terhadap suatu pihak atau golongan adalah melalui pemilihan umum (pemilu). Dalampemilu, para kandidat berlomba-lomba memperoleh suara rakyat untuk bisa menduduki jabatantertentu dalam pemerintahan. Komunikasi dalam kegiatan ini berperan penting untukmempersuasi masyarakat. Salah satu strategi komunikasi untuk mempersuasi masyarakat adalahkampanye. Upaya perubahan yang dilakukan kampanye selalu berkaitan dengan aspek kognitif,afektif, dan behavior. Namun, di tengah maraknya kampanye politik yang dilakukan partaipolitik dalam pemilu di tahun 1999, 2004, dan 2009, didapat data bahwa partisipasi politikmasyarakat Indonesia dalam pemilu justru mengalami penurunan. Tidak hanya dalam Pemilu,rendahnya partisipasi politik masyarakat dalam Pilgub juga terasa. Data hasil Pilgub di beberapadaerah juga menunjukkan bahwa tingkat Golput masyarakat sangat tinggi, yaitu Jawa Tengahdengan tingkat Golput paling tinggi dari provinsi lain dengan 45,25 persen(http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1432).Keluarga sebagai lingkungan terdekat bagi seseorang memiliki peran yang cukup pentingbagi perkembangan seseorang. Dalam dunia politik, keluarga, terutama orang tua memilikiperanan untuk mengedukasi anaknya tentang politik. Tidak hanya melalui keluarga, pemilihpemula yang masih berusia remaja cenderung terlibat dengan kelompok referensi dalampergaulannya. Kelompok referensi dalam bentuk kelompok teman sebaya, kelompok diskusi, dankomunitas memiliki peran penting juga dalam kesuksesan pemilihan umum. Sosialisasi tentangpolitik juga dapat terjadi dalam kelompok referensi, di mana dengan keberadaan kelompokreferensi, informasi, dalam hal ini informasi politik yang diperoleh masing-masing anggota dapatdibagikan kepada anggota lain, sehingga menambah pengetahuan bagi anggota, sehinggaanggota dapat menentukan sikapnya terhadap politik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terpaan kampanye Cagub-CawagubJateng 2013, intensitas komunikasi politik di dalam keluarga, dan intensitas komunikasi politikdi dalam kelompok referensi terhadap partisipasi politik pemilih pemula dalam Pilgub Jateng2013.Tipe penelitian ini adalah eksplanatori. Tipe penelitian ini digunakan untuk menjelaskanhubungan (korelasi) antar variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi dalam penelitian iniadalah siswa SMA, MA, dan SMK di Kota Semarang. Data diambil dari Profil Pendidikan KotaSemarang Tahun 2012 dengan mengambil data kelompok usia 16-18 tahun. Pada tahun 2013,usia terkecil dalam kelompok usia tersebut akan memenuhi syarat usia sebagai pemilih dalampemilihan umum, maka anggota kelompok usia tersebut pada Pemilihan Gubernur Jawa Tengah2013 dianggap sebagai pemilih pemula. Jumlah anggota populasi ini adalah 50.419 orang.Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah multistage random sampling.Kerangka TeoriBeberapa studi menunjukkan bagaimana agenda kampanye mempengaruhi isu yangmenonjol di kalangan pemilih (Iyengar & Simon; Togeby, dalam Hansen, 2008: 8). Kampanyesebagai sarana komunikasi persuasi kandidat digunakan untuk mengarahkan isu yang menonjoldi kalangan pemilih sesuai dengan keinginannya. Misalnya, De Vreese (dalam Hansen, 2008: 9)menunjukkan bagaimana isu dari kampanye jajak pendapat menyebabkan pemilih mengevaluasikinerja politisi terhadap isu kampanye. Johnston dkk. (dalam Hansen, 2008: 9) menunjukkanbagaimana isu perdagangan bebas meningkatkan isu yang menonjol selama kampanye danbagaimana pemilih mengevaluasi kandidat berdasar pengaruh yang kuat terhadap perdaganganbebas pada pilihan mereka. Freedman dkk (dalam Hansen, 2008: 7) menemukan bahwa terpaankampanye meningkatkan ketertarikan politik, kesadaran, pengetahuan, dan kecenderungan untukmemilih.Para peneliti secara tradisional berkonsentrasi pada keluarga sebagai agen sosialisasi utama,menemukan bahwa diskusi politik di dalam rumah, partisipasi orang tua dalam pemilihan, dansumber daya politik secara signifikan berdampak pada partisipasi politik remaja (Verba dkk;Brady dkk, dalam Pacheco, 2008: 415). . Menurut beberapa ilmuwan, anak muda hanya memilihseperti pilihan orang tua mereka (Rundio; dalam Armstrong, dkk, 2008: 1). Misalnya, jika orangtua mereka Partai Republik, mereka cenderung memilih Partai Republik juga. Studi telahmenunjukkan bahwa arah politik dikalahkan oleh paksaan orang tua yang lebih banyak padatahun-tahun awal seseorang bergabung dalam pemilihan umum dan perlahan-lahan berkurang,selalu tersisa sedikit pengaruh (Jennings; dalam Gross, 2007: 6).Kelompok referensi adalah seseorang atau sekelompok orang yang mempengaruhi perilakuindividu secara signifikan (Bearden dan Etzel, 2001: 184). Dalam studi merek pilihan konsumen,Witt (dalam Bearden dan Etzel, 2001: 183-184) menegaskan studi nonmarketing pada awalnyamengindikasi bahwa kohesivitas kelompok mempengaruhi perilaku. Baron dan Byrne (dalamRakhmat, 2009: 149) berpendapat bahwa pengaruh sosial terjadi ketika perilaku, perasaan, atausikap kita diubah oleh apa yang orang lain katakan atau lakukan.Hipotesis1. Terpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 (X1) secara signifikan berpengaruhterhadap partisipasi politik pemilih pemula (Y).2. Intensitas komunikasi politik di dalam keluarga (X2) secara signifikan berpengaruh terhadappartisipasi politik pemilih pemula (Y).3. Intensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi (X3) secara signifikanberpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula (Y).PEMBAHASANRegresi logistik merupakan pendekatan untuk memprediksi, seperti regresi Ordinary LeastSquare (OLS). Namun, dengan regresi logistik, peneliti memprediksi hasil yang dikotomi, dalampenelitian ini adalah partisipasi politik pemilih pemula, dengan nilai 1 untuk kategoriberpartisipasi dan nilai 0 untuk kategori tidak berpartisipasi. Situasi ini menimbulkan masalahbagi asumsi OLS yang mengharuskan varians eror (nilai residual) terdistribusi normal.Uji parsial dilakukan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara individu mempengaruhivariabel terikat.TabelPartial TestB Sig. Exp(B)x1 -.085 .633 .918x2 1.085 .000 2.959x3 1.239 .000 3.454Constant -6.209 .000 .002Ho : β = 0 (Variabel x tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen)Ha : β ≠ 0 (Variabel x signifikan mempengaruhi variabel dependen)Kriteria pengujian: Jika nilai signifikansi < 0,05, maka Ho ditolak, Ha diterima. Jika nilai signifikansi > 0,05, maka Ho diterima, Ha ditolak.Hasil pengujian :Nilai signifikansi X1 = 0,633, berarti > 0,05Nilai signifikansi X2 = 0,000, berarti < 0,05Nilai signifikansi X3 = 0,000, berarti < 0,05Karena ada satu variabel yang tidak signifikan, maka dilakukan penghitungan ulang denganmembuang variabel yang tidak signifikan. Hasilnya sebagai berikut:TabelPartial TestB Sig. Exp(B)x2 1.078 .000 2.938x3 1.226 .000 3.409Constant -6.526 .000 .001Interpretasi Odds RatioKoefisien regresi pada regresi logistik sulit diinterpretasikan karena regresi logistik berbicaramengenai probabilitas. Maka digunakan angka odds ratio, di mana nilai odds ratio ditunjukkanpada kolom Exp(B).1. Exp(B1) = 2,938Artinya, semakin tinggi intensitas komunikasi politik di dalam keluarga yang dilakukanpemilih pemula, maka kecenderungannya untuk ikut berpartisipasi politik meningkat.Atau,Kecenderungan pemilih pemula yang mengalami intensitas komunikasi politik di dalamkeluarga yang tinggi untuk berpartisipasi politik dalam Pilgub Jateng 2013 meningkat 2,938kali lipat lebih tinggi dibanding pemilih pemula yang memiliki intensitas komunikasi politikdi dalam keluarga yang lebih rendah.2. Exp(B2) = 3,409Artinya, semakin tinggi intensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi yangdilakukan pemilih pemula, maka kecenderungannya untuk ikut berpartisipasi politikmeningkat.Atau,Kecenderungan pemilih pemula yang mengalami intensitas komunikasi politik di dalamkelompok referensi yang tinggi untuk berpartisipasi politik dalam Pilgub Jateng 2013meningkat 3,409 kali lipat lebih tinggi dibanding pemilih pemula yang memiliki intensitaskomunikasi politik di dalam keluarga yang lebih rendah.Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013, Intensitas KomunikasiPolitik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensi terhadap Partisipasi Politik PemilihPemula dalam Pilgub Jateng 2013Berdasarkan hasil analisis statistik, diketahui bahwa dari tiga variabel bebas yaitu terpaankampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013, intensitas komunikasi politik di dalam keluarga, danintensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi, variabel terpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 tidak berpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula. Dari hasilperhitungan, tidak terdapat cukup bukti untuk menerima hipotesis yang menyatakan bahwaterpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 berpengaruh positif terhadap partisipasi politikpemilih pemula.Zaller (dalam Evans, 2004: 201) berpendapat bahwa dari sudut pandang statistika, meskipunkita tahu dari perspektif dunia nyata bahwa terpaan kampanye memiliki efek pada bagaimanaorang-orang memilih (pemilu), belum ada yang formalisasi nyata dari efek kampanye karenasurvey dengan ribuan responden pun tidak cukup besar untuk mendeteksi efeknya. Selarasdengan hasil penelitian ini, bahwa terpaan kampanye yang diterima oleh kelompok pemilihpemula ternyata tidak memiliki pengaruh terhadap partisipasi politik pada pemilihan umum. Efekkampanye pada Pilgub Jateng 2013 tidak terlihat pada kelompok pemilih pemula, karena tidakmendapat cukup bukti yang mendukung hipotesis yang diajukan. Lebih lanjut, Newton (dalamFarrell dan Beck, 2004: 184) berpendapat, pemilih membentuk preferensi mereka atas dasarinformasi selain yang disediakan dalam kampanye, dan terhadap informasi ini, pesan bias yangdipikirkan oleh spesialis pemasaran tidak bisa menang. Artinya adalah bahwa pemilih,memutuskan pilihan mereka pada pemilihan umum bukan berdasar informasi yang diberikandalam kampanye. Sedangkan pesan-pesan yang telah disusun oleh tim sukses kampanye, tidakdapat menang melawan informasi yang diperoleh di luar kampanye. Dalam penelitian ini,sumber informasi lain diperoleh melalui diskusi politik dalam keluarga dan kelompok referensi,di mana keduanya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap partisipasi politik kelompokpemilih pemula. Semakin intensif diskusi yang dilakukan, baik di dalam keluarga maupunkelompok referensi, maka akan semakin tertanam dalam benak pemilih pemula, yang kemudianmempengaruhi pandangan politiknya, sehingga partisipasi politiknya sebagai pengamatterbentuk berdasarkan pandangan keluarga maupun kelompok referensi.Berdasarkan seminar “Voting” (1954), oleh Bernard Berelson, Paul F. Lazarsfeld, danWilliam N. McPhee, dan “The American Voter” (1960), oleh Angus Campbell, Philip E.Converse, Warren E. Miller, dan Donald E. Stokes, pada penelitian terbaru, banyak ahliberpendapat bahwa keputusan pemilihan bergantung pada identifikasi partisan dan sosiologiyang sudah ada sebelum kampanye dimulai dan kampanye hanya mengaktifkan preferensi yangtersembunyi ini (dalam Mayer, 2008: 59). Jadi, dalam sebuah keputusan partisipasi pemilih,kampanye tidak memiliki pengaruh yang berarti, namun keputusan lebih dipengaruhi olehmisalnya faktor lingkungan dan pandangan pribadi terhadap kandidat, di mana hal ini sudahmulai berkembang di dalam benak kalangan pemilih sebelum dilakukannya kampanye. Kegiatankampanye diperlukan untuk hanya mengaktifkan ingatan tentang pandangan pribadi danlingkungan yang mempengaruhinya saat sebelum dilakukannya pemungutan suara. Kampanyedalam hal ini tidak lebih sebagai pengingat saja tentang kegiatan pemilihan umum, hal inimenggambarkan tidak adanya pengaruh yang diberikan kepada keputusan pemilih.Kelompok yang menolak perlunya kampanye politik, berpendapat bahwa hasil pemiluditentukan oleh kinerja pemerintah dan bahwa kampanye hanya berarti sedikit dalammenentukan hasil pemilu. Mengikuti tradisi klasik dari V.O. Key (dalam Maisel dkk, 2007: 3),peneliti tersebut menekankan model reward atau hukuman berdasarkan indikator pemerintahanyang sebenarnya, seperti perekonomian atau perang dan damai. Jika perekonomian berjalandengan baik dan masyarakat puas dengan kinerja keseluruhan pemerintahan saat ini, merekaharus memilih anggota partai tersebut, dan jika mereka tidak puas, mereka harus menghukumpartai tersebut dengan menolak memilih partai tersebut. Model demokrasi ini, menurut Popkin(dalam Maisel dkk, 2007: 3) hanya membutuhkan informasi dan pilihan yang minim sebagaibagian dari pemilihan umum. Pemilih tidak diharuskan mengikuti debat dengan sangat hati-hatiatau mencari detail dari program kerja kandidat. Sebaliknya, mereka hanya harus mampu menilaiyang telah dilakukan pemerintah saat ini. Sesuai dengan konsep tersebut, analisis berbasis kinerjacenderung berpikir bahwa kualitas kampanye, janj-janji kandidat, dan liputan media massa tidakberarti dalam menentukan hasil pemilihan umum. Permasalahan yang menonjol (seperti tingkatpengangguran, inflasi, dan lain-lain) adalah yang menggerakan pemilih (Beck dan Nadeau,dalam Maisel dkk, 2007: 3). Kegiatan kampanye, ditujukan untuk meraih simpati masyarakatagar memilih suatu partai atau kandidat dalam pemilihan umum, namun, berdasarkan uraian diatas, kampanye politik tidak berpengaruh terhadap keputusan pemilih dikarenakan pemilihmengambil keputusan berdasarkan kinerja kandidat. Kegiatan kampanye yang lebih berfokuspada penyampaian program kerja atau hiburan-hiburan tidak memiliki dampak signifikanterhadap keputusan pemilih. Pemilih pemula, yang sebagian besar pelajar, memiliki cenderungmemiliki sedikit waktu untuk mengakses informasi mengenai kinerja kandidat. Namun denganadanya keluarga dan kelompok referensi, di mana di antaranya memiliki pengetahuan danpenilaian terhadap kandidat, maka dalam diskusi yang melibatkan pemilih pemula, pemilihpemula akan dapat menilai kinerja kandidat berdasarkan informasi yang diperoleh dari keluargaataupun kelompok referensi. Semakin banyak pemilih pemula memperoleh informasi, makapemilih pemula akan lebih obyektif dalam menentukan pilihan.Chaffe dkk (dalam Nimmo 2006: 112-113) berpendapat anak dari keluarga yang mendorongpengungkapan diri dan penyingkapan gagasan politik yang bertentangan; sementara mengecilkanhubungan sosial yang berupa penghormatan dan yang konformis, cenderung lebihberpengetahuan tentang politik, lebih besar kemungkinannya terlibat dalam politik, lebih percayakepada politik, lebih realistik dalam mengagumi pemimpin politik, dan lebih menaruh minatterhadap politik dibandingkan dengan anak dari keluarga tipe yang lain. Dalam diskusi keluarga,semakin intensif komunikasi yang dilakukan dalam rangka membahas masalah politik danmelibatkan pemilih pemula, maka pemilih pemula yang cenderung aktif dalam diskusi, misalnyadengan mengutarakan pandangan politiknya, akan cenderung berpartisipasi dalam politik.Hirsch (dalam Nimmo, 2006: 113) menyebutkan bahwa kelompok sebaya memiliki pengaruhyang memperkuat dan mendukung pandangan politik anak sehingga politik benar-benar menjadimasalah pembahasan yang relevan. Nimmo (2006: 113) berpendapat bahwa kelompok sebayajuga mempengaruhi belajar politik sehingga mereka memberikan bimbingan melaluikeanggotaan dalam asosiasi sukarela, perhimpunan kewarganegaraan, atau dengan rekan kerja diperusahaan, serikat, buruh, atau tempat kerja yang lain. Karena orang biasanya masuk dalampandangan sendiri, maka kemungkinan asosiasi seperti itu mengubah opini politik menjadiberkurang. Meskipun tidak selalu demikian, kecenderungan yang umum ialah bahwa orangmenyesuaikan kepercayaan, nilai, dan pengharapan politiknya dengan kawan sebaya untukmemelihara persahabatan yang ditunjukkan dengan menjadi kawan sebaya.Menurut Huntington dan Nelson (dalam Arifin, 2011: 213), sifat partisipasi politik yangterlihat berdasarkan hasil penelitian cenderung kepada partisipasi politik yang dimobilisasi ataudigerakan oleh pihak lain (mobilized participation). Namun, berbeda dengan pendapatHuntington dan Nelson, penggerak partisipasi politik kelompok pemilih pemula bukan olehpartai politik, kandidat, tim sukses, atau pejabat pemerintah, karena terpaan kampanye tidakmempengaruhi partisipasi politik kelompok ini. Penggerak yang berpengaruh terhadap kelompokpemilih pemula adalah keluarga dan kelompok referensi. Keluarga dan kelompok referensitermasuk dalam lingkungan terdekat bagi kelompok pemilih pemula. Ini artinya bahwakeputusan kelompok pemilih pemula dalam pemilihan umum dipengaruhi oleh lingkungan yangada di dekatnya. Dengan intensitas komunikasi yang tinggi di dalam keluarga maupun kelompok,pemilih pemula mendapat pengetahuan politik yang mana pengetahuan tersebut berdasar padaperspektif masing-masing keluarga atau kelompok, artinya pengetahuan yang diberikan bersifatsubjektif. Berdasarkan hal tersebut, menurut Dan Nimmo (dalam Arifin 2011: 223-224)kelompok pemilih pemula ini cenderung masuk dalam tipe pemilih rasional. Kelompok pemilihpemula yang berpartisipasi cenderung melakukan diskusi mendalam tentang politik baik dengankeluarga maupun kelompok referensi. Pemberi suara rasional berminat secara aktif terhadappolitik, rasa ingin tahu yang dimiliki kelompok pemilih pemula menjadikan diskusi denganlingkungan terdekat sebagai sarana mendapatkan informasi, dalam hal ini adalah informasipolitik. Melalui diskusi, pemilih pemula dapat memperoleh cukup informasi untuk menentukanalternatif yang dihadapkan padanya, alternatif pemimpin Jawa Tengah periode 2013-2018. Motifpartisipasi yang terlihat dalam penelitian ini, menurut Dan Nimmo (2006: 129-130) yaitusengaja, diarahkan dari dalam, dan diarahkan dari luar. Motif sengaja, artinya bahwa pemilihpemula secara sengaja terlibat dalam diskusi politik yang kemudian akan meningkatkanpengetahuan politiknya dan dapat mempengaruhi pandangan politiknya. Motif diarahkan daridalam, artinya bahwa orientasi atau kecenderungan partisipasi politiknya diperoleh melaluibimbingan orang tuanya. Pemilih pemula dengan intensitas komunikasi politik yang tinggi didalam keluarga cenderung terpengaruh untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum. Yangketiga, motif diarahkan dari luar, artinya bahwa kecenderungan partisipasi pemilih pemula,selain dipengaruhi oleh keluarga, juga dipengaruhi lingkungan yang lebih luas, dalam hal iniadalah kelompok referensi. Diskusi politik yang terjadi dalam kelompok yang melibatkanpemilih pemula, cenderung mempengaruhi partisipasi pemilih pemula dalam pemilihan umum.Partisipasi pemilih pemula dalam Pilgub Jateng 2013 ini termasuk rendah, di mana sebanyak59% menyatakan tidak berpartisipasi dalam pemilihan umum. Ini menunjukkan bahwa motifyang ada dalam diri pemilih pemula kurang dibangun. Jika intensitas komunikasi politik didalam keluarga dan kelompok referensi berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderunganpartisipasi dalam pemilihan umum, maka ketika intensitas komunikasi politik di dalam keluargadan kelompok referensi rendah, pemilih pemula cenderung tidak berpartisipasi. Ini berarti motifdiarahkan dari dalam dan luar, kurang berkembang dalam diri pemilih pemula. Keluarga dankelompok referensi kurang bisa memaksimalkan perannya sebagai agen sosialisasi politik kepadapemilih pemula. Sedangkan pemilih pemula, juga kurang termotivasi untuk secara aktif mencariinformasi politik sehingga kecenderungan partisipasinya rendah.PENUTUPBerdasarkan hasil analisis data menggunakan regresi logistik, maka dapat disimpulkansebagai berikut:1. Tidak terdapat pengaruh terpaan kampanye Cagub-Cawagub terhadap partisipasi politikpemilih pemula. Beberapa jawaban atas temuan ini yaitu antara lain, kegiatan kampanyeyang ditujukan kepada kelompok pemilih pemula sedikit, hal ini menyebabkan terpaan yangdiperoleh cenderung rendah, sehingga pengetahuan yang dimiliki pemilih pemula tentangkandidat juga minim. Kegiatan kampanye yang umum dilakukan seperti kampanye terbukadan melalui media massa maupun media luar ruang tidak dapat menjangkau kalangan remaja.2. Terdapat pengaruh yang signifikan dari intensitas komunikasi politik di dalam keluargaterhadap partisipasi politik pemilih pemula.3. Terdapat pengaruh yang signifikan dari intensitas komunikasi politik di dalam kelompokreferensi terhadap partisipasi politik pemilih pemula.4. Partisipasi politik pemilih pemula cenderung rendah dan hal itu lebih dipengaruhi padaintensitas komunikasi politik di dalam keluarga dan kelompok referensi yang cenderungrendah juga.Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:1. Para calon yang tampil dalam pemilihan umum, agar melakukan kampanye dengan cara lainuntuk menyasar pemilih pemula, hal ini karena dengan kegiatan kampanye yang telahdilakukan seperti kampanye terbuka, melalui media massa maupun media luar ruang, tidakdapat mempengaruhi partisipasi mereka. Untuk itu, disarankan agar melakukan kampanyemelalui agen sosialisasi bagi pemilih pemula atau remaja, yaitu keluarga dan kelompokreferensi, hal tersebut bisa menjadi alternatif yang efektif untuk menjangkau pemilih pemulaatau remaja.2. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai pihak penyelenggara pemilihan umum bersamapemerintah, agar memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnyapendidikan politik bagi anak muda.3. Keberadaan keluarga dan kelompok referensi, sebagai lingkungan terdekat dan sebagai agensosialisasi bagi pemilih pemula, berpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula.Maka, keluarga dan kelompok referensi sebaiknya lebih aktif mengajak anak berkomunikasidan berdiskusi tentang politik, sehingga terjadi keterbukaan antar anggota keluarga danpemilih pemula dapat meningkatkan pengetahuan politik.4. Keberadaan pemilih pemula sebagai bagian baru dalam dunia politik memiliki peran pentinguntuk ikut membangun bangsa, maka pemilih pemula sebaiknya lebih aktif dan tertarik padadunia politik. Pemilih pemula sebaiknya terbuka terhadap informasi politik yang diterimabaik melalui media massa maupun dari orang lain. Hal ini sangat berguna untukmengembangkan pengetahuan politik para pemilih pemula.DAFTAR PUSTAKAArifin, Anwar. 2011. Komunikasi Politik: Filsafat-Paradigma-Teori-Tujuan-Strategi danKomunikasi Politik Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu.Armstrong, Abbigail dkk. 2008. Examining Trends in Youth Voting: The Effect of Turnout,Competition, and Candidate Attributes on 18-24 Voters from 1974-2004. University ofEvansville.Bearden, William O. dan Michael J. Etzel. 1982. Reference Group Influence on Product andBrand Purchase Decisions. Journal of Consumer Research: Volume 9.Evans, Jocelyn A.J. 2004. Voter & Voting: an Introduction. London: Sage Publications.Farrell, David M. dan Rudiger Schmitt-Beck. 2004. Do Political Campaigns Matter? CampaignEffects in Elections and Referendums. New York: Routledge.Gross, John. 2007. The Influence of Parents in the Voting Behavior of Young People: A Look atthe National Civic and Political Engagement of Young People Survey and the 2008Presidential Election. Public Opinion and Survey Research.Hansen, Kaper M. 2008. The Effect of Politial Campaigns: Overview of the Research OnlinePanel of Electoral Campaigning (OPEC). University of Copenhagen.Maisel, L. Sandy, Darrell M. West, dan Brett M. Clifton. 2007. Evaluating Campaign Quality:Can the Electoral Process be Improved. New York: Cambridge University Press.Mayer, William G. 2008. The Swing Voter in American Politics. Washington: The BrookingInstitution.Nimmo, Dan. 2006. Komunikasi Politik: Khalayak dan Efek. Bandung: Remaja Rosdakarya.Pacheco, Julianna Sandell. 2008. Political Socialization in Context: The Effect of PoliticalCompetition on Youth Voter Turnout. USA: Springer Science+Business Media.Rakhmat, Jalaluddin. 2009. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1432
Tampilan Tubuh Perempuan Dalam Game Online pada Situs www.girlsgogames.co.id Handayani, Febriana; Pradekso, Tandiyo; Ulfa, Nurist Surayya; Setyabudi, Djoko
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.878 KB)

Abstract

Abstraksi - Penelitian ini berangkat dari kepopuleran game online yang sekarang ini digandrungi oleh berbagai kalangan usia termasuk anak-anak. Selain sebagai sarana hiburan, ternyata game yang merupakan bagian dari media baru mengandung pesan-pesan yang ada di dalamnya. 260 game yang menampilkan tubuh perempuan pada situs game online www.girlsgogame.co.id digunakan sebagai sampel dari analisis isi. Analisis isi dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggambaran tubuh perempuan dalam game online yang sering dimainkan oleh anak-anak, khususnya anak perempuan. Dengan menggunakan metode analisis isi deskriptif kuantitatif, penelitian ini mengasilkan temuan, yaitu 99,6% karakter perempuan ditampilkan dengan tubuh langsing, 85% memiliki tubuh bertipe jam pasir. 96,5% ditampilkan dengan pinggul besar, 93,5% pinggang ramping, dan 66,5% berpayudara besar. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar karakter perempuan ditampilkan dalam warna kulit putih(81,5%) dan sisanya adalah karakter perempuan dengan kulit coklat. Bahkan tidak ada satupun karakter perempuan dalam game yang diteliti ditampilkan dengan kulit hitam.Karakter perempuan juga lebih sering ditampilkan dengan rambut yang panjang (77,7%) dan lurus (65,4%). Selain itu, ditemukan pula bahwa seluruh game yang dianalisis ini menampilkan karakter perempuan dengan pakaian yang minim dan nyaris telanjang sehingga tubuh mereka sengaja ditampilkan dengan bentuk yang ideal. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa karakter perempuan dalam game online ditampilkan dengan tubuh ideal yang fantastis. Dari penelitian ini diharapkan ada penelitian lebih lanjut mengenai dampak permainan yang menampilkan tubuh perempuan terhadap pemain khusunya anak perempuan.
Hubungan Motivasi dan Intensitas Orang Tua yang Bermain Game dengan Perilaku Menyimpang dalam Keluarga Arsianti, Rizka; Pradekso, Tandiyo; Ulfa, Nurrist Surayya; Setyabudi, Djoko
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.11 KB)

Abstract

Perkembangan penggunaan game yang kian pesat didukung oleh jumlahgame yang semakin banyak, akses yang mudah dengan berbagai platform,membuat game dikonsumsi oleh segala lapisan umur tidak terkecuali orang tua.Perlu disadari bahwa game tidak hanya membawa dampak positif saja namun jugadampak negatif. Motivasi dan intensitas dari seorang pemain game kemudianmemiliki andil dalam pembentukan perilaku, sehingga ada kekhawatiran berujungpada perilaku menyimpang. Keluarga sebagai lingkungan terdekat dari seorangindividu dimana orang tua menjalankan norma-normanya, tidak luput terkenadampak negatif dari game.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan tipe eksplanatori,yang bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasidanintensitas orang tua yangbermain game denganperilakumenyimpangdalamkeluarga.Teori yang digunakanadalah Self Determination Theory, dan Teori Belajar Sosial. Penelitian inimenggunakan teknik non random sampling dengan metode purposive samplingdan jumlah sampel sebanyak 100 responden orang tua yang bermain game di kotaSemarang.Hasil dari analisis korelasi Pearson dengan bantuan SPSS 22 menunjukanbahwa antara motivasi bermain game dengan perilaku menyimpang memilikihubungan yang signifikan. Hal ini ditunjukan dengan nilai signifikansi sebesar0,025 dimana tingkat signifikansinya lebih kecil dari 0,05 dan nilai koefisienkorelasinya sebesar 0,197. Sedangkan intensitas dengan perilaku menyimpangmemiliki hubungan yang juga signifikan. Hal ini ditunjukan dengan nilaisignifikansi sebesar 0,015 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 dan nilaikoefisien korelasinya sebesar 0,217.Keluarga sebagai lingkungan terdekat dari individu dalam hal ini orang tuasebaiknya melakukan tindakan preventif dengan mengarahkan orang tua yangbermain game ke aktivitas yang lebih positif dan mencari kesibukan lain yangmembuat orang tua yang bermain game dapat bersosialisasi denganlingkungannya, sehingga dapat meminimalisir motivasi dan intesitas bermaingame agar terhindar dari perilaku menyimpang.
Efektivitas Format Iklan Komparatif dan Non Komparatif Merek Market Leader Adryanto, Krisna; Pradekso, Tandiyo; Setiabudi, Djoko
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.107 KB)

Abstract

Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 2Efektivitas Format Iklan Komparatif dan Non KomparatifMerek Market LeaderKrisna Adriyanto, Tandiyo Pradekso1, dan Djoko Setyabudi2ABSTRACTField Experimental Research, 2 (Ad Formats) X 2 (The Difference between Men andWomen in Information-Proccessing Strategies) Randomized-Blocked Factorial Designwas conducted involving 120 participants (60 men and 60 women), who were assignedinto 4 (four) treatment groups. Stimulus used in this research are non-comparative andindirect comparative ads which used by the brand "Adem Sari" in the period mid-2012to mid-2013. The stimulus was combined with the Opera Van Java July 24, 2013Edition and involved several ads from other product categories. Furthermore, the dataanalysis techniques used as hypothesis testing tools are Two-Ways ANOVA, Mann-Whitney U Test, Two-Ways Friedman ANOVA By Rank and Structural EquationModelling with an alternative method of Partial Least Square (PLS).These studies suggest that indirect comparative ad formats result in unfavorableattitudes toward the ad and brand. In addition, the ability of this type of advertising toencourage favorable cognitive responses toward ads and encouraging purchaseintention, also did not differ significantly with non-comparative ad format. Cognitiveresponse toward ads on both types of ad formats (indirect comparative and noncomparative)is significantly affect consumer attitudes toward the ad and brand. In thenon-comparative advertising, attitudes toward ad have a significant effect on attitudestoward the brand, but this does not occur in indirect comparative advertising. In thiscases, consumer attitudes toward the ad and brand proved as a significant predictor ofconsumer purchase intention when indirect comparative advertising is used, but thisdoes not apply when non-comparative advertising is used. The differences between Mendan Women in Information-Proccessing Strategies and their interaction with the adformat, also did not significantly influence the effectiveness of both types of ad formats.Another interesting finding in this research, is the Men have more favorable attitudetowards the brand when exposed to indirect comparative advertising. While Womenwill have more favorable attitude towards the brand than Men when exposed to noncomparativeadvertising.Keywords : Ad Format, The Differences between Men and Woman in Information-Proccessing Strategies, Cognitive Response toward the Ad, Attitude toward the Ad,Attitude toward the Brand, Purchase Intention, Partial Least Square (PLS).1,2Corresponding authorJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 3PENDAHULUANPersaingan bisnis kategori produk minuman pereda panas dalam jenis serbuk yangsemakin ketat menuntut pemasar merek “Adem Sari”, sebagai market leader,menggunakan periklanan komparatif tidak langsung untuk membuat komparasi denganmerek “Segar Dingin Madu”. Adu klaim “Mencegah” versus “Menyembuhkan”mewarnai strategi periklanan yang digunakan merek “Adem Sari” untuk menyerangkompetitornya tersebut.Belch dan Belch (2009:197) mengungkapkan bahwa menampilkan produkpesaing/kompetitor dalam iklan merek market leader akan memberikan manfaat yangsedikit. Disamping itu, rekomendasi yang diberikan untuk memperoleh efektivitasmaksimal dari iklan komparatif adalah sebaiknya format iklan ini digunakan oleh merekbaru/merek berpangsa pasar rendah, dan bila merek berpangsa pasar besar inginmelakukan perbandingan dengan merek berpangsa pangsa pasar besar lainnya, makalebih baik menggunakan iklan komparatif tidak langsung. Dengan demikian, dapatdisimpulkan bahwa praktik penggunaan iklan komparatif tidak langsung oleh merek“Adem Sari”, tidak sesuai dengan rekomendasi yang diberikan untuk memperolehefektivitas maksimal dari penggunaan iklan tersebut.Hasil riset Women Insight Centre (WIC) pada Februari 2011 di 6 (enam) kotabesar di Indonesia, menunjukkan bahwa Wanita sering lebih banyak menghabiskanwaktu dan melakukan proses yang lebih komperhensif dibandingkan dengan Pria, padatahap keputusan awal proses pembelian. Wanita ingin membandingkan dan membelimerek yang lain untuk digunakan dalam situasi yang sama. Dengan demikian, Wanitamembutuhkan jaminan kesesuaian antara janji-janji pemasar, terutama yang muncul dariiklan dan/atau sumber lainnya, yang memunculkan harapan dan realitas yangditerimanya. Tentunya, perbedaan Pria dan Wanita dalam memproses informasi akanmemberikan konsekuensi evaluatif yang berbeda pula pada sebuah iklan, merek danpembeliannya. Di mana, diiindikasikan bahwa, terlepas dari format iklan yangdigunakan, Wanita akan terlibat lebih besar untuk mengevaluasi iklan dan merek, biladibandingkan dengan Pria, bila merujuk pada perbedaan cara memproses informasi,diantara Pria dan Wanita tersebut. Namun, terkait dengan efektivitas periklanankomparatif, Chang (2007:21) menemukan hal yang menarik, yaitu (1) Pria memilikiketerlibatan yang lebih besar dalam mengevaluasi-merek, dibandingkan dengan Wanita,ketika diekspose iklan komparatif. (2) Sebaliknya bagi Wanita, perhatian yang diperolehdari daya tarik komparatif mendorong kesimpulan mengenai maksud manipulatif dariiklan. Dengan demikian, pada Pria, keterlibatan dalam evaluasi-merek yang semakinbesar dibawa oleh daya tarik komparatif menyebabkan evaluasi iklan dan merek lebihmenguntungkan dan minat beli yang lebih besar. Sedangkan untuk Wanita, persepsiyang tinggi atas maksud manipulatif dari iklan yang dibawa oleh daya tarik komparatif,mendorong evaluasi negatif pada iklan dan merek, serta mengurangi niat pembelian.Kesimpulannya, format iklan komparatif tidak langsung yang digunakan olehmerek market leader, diindikasikan akan memberikan manfaat yang tidak berbedasecara signifikan dari penggunaan format iklan non-komparatif. Selanjutnya, perbedaandiantara Pria dan Wanita, dalam memproses informasi yang dibawa oleh daya tarikkomparatif, juga menimbulkan konsekuensi evaluatif yang berbeda pula. Maka,perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi, merupakan konseppenting yang perlu diperhatikan guna meramalkan efektivitas format iklan komparatifdan efektivitas format iklan non komparatif, yang digunakan oleh merek market leader.Pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini, adalah :1. Apakah format iklan komparatif tidak langsung merek market leader lebih efektifbila dibandingkan dengan format iklan non komparatif merek market leader?Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 42. Apakah perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi, secarasignifikan mempengaruhi efektivitas format iklan komparatif tidak langsung merekmarket leader dan efektivitas format iklan non komparatif merek market leader?TINJAUAN PUSTAKAModel Komunikasi (Communication Model) dalam Model Mikro Respon Konsumen(Micromodel of Consumer Response) menunjukkan bahwa konsumen/pembeli/khalayakmelalui beberapa tahapan, yaitu tahapan Kognitif (Eksposur, Penerimaan dan ResponKognitif), tahapan Afektif (Sikap dan Intensi) dan tahapan Behavioral (Perilaku). Modelini menyatakan bahwa tahap Kognitif, tahap Afektif dan tahap Behavioral dilalui secaraberurutan oleh konsumen/pembeli/khalayak (Kotler et al., 2009:532-533).Model Respon Kognitif (Cognitive-Response Approach Model) adalah salahsatu metode paling populer untuk memeriksa respon kognitif konsumen terhadap iklan.Dalam Model Respon Kognitif, pemikiran-pemikiran khalayak diarahkan kepadasetidaknya 3 (tiga) hal, yaitu : (1) Pemikiran terhadap Produk/Pesan, (2) Pemikiranterhadap Sumber Komunikasi, dan (3) Pemikiran terhadap Eksekusi Iklan (Belch danBelch, 2009:165-167).Merujuk pada Model Komunikasi dan Model Respon Kognitif tersebut, setelahrespon kognitif khalayak terhadap iklan terbentuk, maka selanjutnya respon kognitiftersebut mempengaruhi pembentukan sikap konsumen, yang dalam hal objek sikapberupa iklan adalah diarahkan kepada 2 (dua) jenis sikap, yaitu : (1) Sikap terhadapIklan, dan (2) Sikap Terhadap Merek.H1 : Ada pengaruh signifikan Respon Kognitif Khalayak terhadap Iklan (RK) atasSikap terhadap Iklan (SI), ketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan (a)dan format iklan non komparatif digunakan (b).H2 : Ada pengaruh signifikan Respon Kognitif Khalayak terhadap Iklan (RK) atasSikap terhadap Merek (SM), ketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan(a) dan format iklan non komparatif digunakan (b).Fill (2009:148) mengungkapkan bahwa dalam Teori Psikologi Klasik, sikap dianggapterdiri dari 3 (tiga) komponen, yaitu : (1) Komponen Afektif, (2) Komponen Kognitif,dan (3) Komponen Konatif. Azwar (2011:28) menyatakan bahwa ketiga komponentersebut akan saling selaras dan konsisten satu sama lain dikarenakan apabiladihadapkan dengan suatu objek sikap yang sama, maka ketiga komponen tersebut harusmempolakan arah sikap yang seragam. Kemudian, ketika ketiga komponen tersebuttidak konsisten satu sama lain, maka akan terjadi mekanisme perubahan sikapsedemikian rupa sehingga konsistensi itu tercapai kembali.Hubungan diantara Sikap terhadap Iklan dan Sikap terhadap Merek, yangkeduanya merupakan Komponen Afektif Sikap, hingga kini masih menjadi perdebatan.Argumen MacKenzei, Lutz dan Belch, yang dikutip Grewal et al., (Setiyaningrum,2008:22) mendukung pernyataan bahwa perasaan dan sikap terhadap merek yangdiiklankan secara positif dipengaruhi oleh sikap terhadap merek. Beberapa buktiditunjukkan oleh MacInnis dan Jaworski (Hoyer dan MacInnis, 2008:142) bahwakeseluruhan sikap terhadap iklan di mana merek diiklankan akan mempengaruhi sikapkonsumen terhadap merek. Namun, meskipun demikian, temuan Droge, yang dikutipoleh Grewal et al., (Setiyaningrum, 2008:22) menunjukkan bahwa sikap terhadap iklanmempengaruhi sikap terhadap merek untuk iklan non komparatif, tetapi tidak untukiklan komparatif.H3 : Ada pengaruh signifikan Sikap Terhadap Iklan (SI) atas Sikap terhadap Merek(SM) ketika format iklan non komparatif digunakan (a), namun hal ini tidak terjadiketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan (b).Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 5Minat/intensi pembelian, yang merupakan tahapan konatif sikap, seringdigunakan sebagai parameter pengukuran untuk meramalkan efektivitas periklanan. Halini disebabkan karena semua iklan tidak, seharusnya tidak dan tidak bisa di desain untukmenghasilkan pembelian secara langsung (immediate purchase) kepada siapa saja yangdiekspose iklan tersebut. Dengan kata lain, pembelian (purchase) sebagai tahapanbehavioral dari respon konsumen terhadap iklam, adalah efek jangka panjang. Asumsiini dilandasi sebuah pernyataan bahwa konsumen tidak dapat berubah dari individuyang tidak tertarik menjadi individu yang berminat pada sebuah merek atu produk yangdiiklankan secara instan. Dengan demikian, untuk meramalkan pembelian di masamendatang oleh konsumen, maka digunakan konstruk minat/intensi pembelian(purchase intention), yang ada pada komponen konatif sikap, dan merupakan ukuranyang ada pada tahapan hierarkis tertinggi yang dekat dengan pembelian aktual. Makadari itu, dapat disimpulkan bahwa minat/intensi pembelian merupakan ukuran tertinggiuntuk meramalkan efektivitas periklanan, di mana efek ini dapat segera diketahuidengan segera pasca khalayak diekspose oleh iklan.MacInnis dan Jaworski (Hoyer dan MacInnis (2008:142) menunjukkan bahwakeseluruhan sikap terhadap iklan di mana merek diiklankan, selain akan mempengaruhisikap konsumen terhadap merek, juga akan mempengaruhi perilaku terhadap merek.Disamping itu, temuan Droge yang dikutip Grewal et al., (Setiyaningrum, 2008:23) jugamenunjukkan bahwa ada hubungan yang lebih kuat diantara sikap terhadap merekdengan minat beli ketika iklan komparatif digunakan dibandingkan dengan ketikamenggunakan iklan non-komparatif.H4 : Ada pengaruh Ada pengaruh signifikan Sikap terhadap Iklan (RI) atas Minat beli(MB), ketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan (a) dan format iklannon komparatif digunakan (b).H5 : Ada pengaruh signifikan Respon Sikap terhadap Merek (SM) atas Sikap Minat Beli(MB), ketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan (a) dan format iklannon komparatif digunakan (b).Grewal et al., (Manzur et al., 2012:277) dalam meta-analisisnya untukmemeriksa efektivitas iklan komparatif di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa iklankomparatif dibandingkan dengan iklan non-komparatif, lebih efektif dalammeningkatkan perhatian, pemrosesan pesan, kesadaran merek, sikap menguntungkanterhadap merek dan meningkatkan minat beli konsumen. Disisi lain, iklan komparatifmenghasilkan kredibilitas sumber yang rendah dan sikap kurang menguntungkanterhadap iklan.Selanjutnya, di Spanyol oleh Del Barrio-Garcia dan Luque-Martinez dan diKorea oleh Lyi, juga menemukan hasil serupa di mana iklan komparatif memilikikredibilitas sumber yang rendah. Di Chile, tidak ditemukan adanya perbedaan yangsignifikan antara sikap terhadap merek dan minat beli, yang dihasilkan oleh iklankomparatif dan iklan non-komparatif. Disamping itu, sikap terhadap iklan terhadapiklan komparatif yang ditemukan di Chile juga secara parsial mirip dengan yangditemukan di Inggris (UK) dan India oleh Donthu, yaitu direspon secara kurangmenguntungkan, bila dibandingkan dengan sikap terhadap iklan yang dihasilkan olehiklan non komparatif (Manzur et al., 2012:278-288).H6 : Bila dibandingkan dengan format iklan non komparatif, khalayak merespon formatiklan komparatif tidak langsung secara kurang menguntungkan pada variabel ResponKhalayak terhadap Iklan (RK).H7 : Bila dibandingkan dengan format iklan non komparatif, khalayak merespon formatiklan komparatif tidak langsung secara kurang menguntungkan pada variabel Sikapterhadap Iklan (SI).Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 6H8 : Tidak ada perbedaan yang signifikan diantara format iklan komparatif tidaklangsung dan format iklan non komparatif, dalam kaitannya untuk menghasilkan Sikapterhadap Merek (SM).H9 : Tidak ada perbedaan yang signifikan diantara format iklan komparatif tidaklangsung dan format iklan non komparatif, dalam kaitannya untuk menghasilkanMinat/Intensi Pembelian (MB.Selanjutnya, dilihat dari perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi untukmemproses informasi, menurut Meyers-Levy, Maheswaran dan Sternthal, bahwa priacenderung dilihat sebagai pemroses selektif dan sedangkan wanita dilihat sebagaipemroses yang komprehensif. Kemudian, Meyers-Levy dan Sternthal menambahkanbahwa ambang elaborasi wanita lebih rendah dibandingkan dengan pria. SedangkanDuff dan Hampson menyatakan bahwa wanita membuat lebih sedikit kesalahandibandingkan dengan pria saat melakukan tugas yang menuntut kinerja ingatan. Di sisilain, sebagaimana dikemukakan oleh Chang, pria lebih banyak terlibat dalamketerlibatan untuk mengevaluasi merek, dibandingkan dengan wanita. Klinteberg,Levander dan Schalling menemukan bahwa wanita lebih menyukai strategi pemecahanmasalah reflektif-sekuensial, dan sedangkan pria lebih menyukai strategi pemecahanmasalah impulsif-global. Dalam studi lain oleh Chung dan Monroe, pria dibandingkanwanita lebih menyukai untuk mengadopsi strategi konfirmasi-hipotesis. Lebih lanjut,dalam konteks berbelanja, Laroche et al., mendemonstrasikan bahwa wanita akanterlibat dalam pencarian informasi yang komprehensif dan intensif, sedangkan priahanya terlibat dalam pencarian informasi yang selektif. Menurut Cleveland et al., wanitajuga menunjukkan penggunaan informasi makro dan mikro lebih besar dibandingkandengan pria ketika berbelanja di toko (Chang, 2007:21-22).H10 : Ada perbedaan signifikan diantara Pria dan Wanita, yang disebabkan olehperbedaan keduanya dalam strategi pemrosesan informasi, baik pada Respon KognitifKhalayak terhadap Iklan (a), Sikap terhadap Iklan (b), Sikap terhadap Merek (c), danMinat/Intensi Pembelian (d), terlepas dari format iklan yang digunakan.Sebagaimana diungkapkan oleh Thompson dan Hamilton, bahwa kecocokanantara format iklan dengan gaya pemrosesan informasi konsumen akan meningkatkanefektivitas periklanan. Begitupun sebaliknya, ketidakcocokan format iklan dengan gayapemrosesan informasi konsumen akan menurunkan efektivitas periklanan. Relatifterhadap iklan non-komparatif, iklan komparatif lebih efektif ketika konsumenmenggunakan pemrosesan secara analitis. Sedangkan iklan non-komparatif akan lebihefektif dibandingkan iklan komparatif ketika konsumen menggunakan pemrosesansecara imajinatif. MacInnis dan Price, mendeskripsikan gaya pemrosesan informasisebagai cara di mana informasi direpresentasikan dalam jalannya ingatan. MenurutOliver, Robertson dan Mitchell, pemrosesan secara imajinatif dan analitis secarakualitatif berbeda dalam gaya elaborasi, di mana MacInnis dan Price menambahkan halini terjadi dalam kontinum elaborasi rendah menuju elaborasi tinggi (Thompson danHamilton, 2006:530-531). Dalam kaitannya dengan perbedaan Pria dan Wanita dalamstrategi pemrosesan informasi, sebagaimana dikemukakan oleh Meyers-Levy danSternthal, bahwa ambang elaborasi wanita lebih rendah dibandingkan dengan pria(Chang, 2007:21), maka penulis menyimpulkan bahwa iklan komparatif mungkin lebihefektif bagi pria sebagai pemroses selektif dan pemilik ambang elaborasi yang lebihbesar, di mana disisi lain iklan komparatif juga lebih efektif ketika diproses secaraanalitis, yang pada akhirnya menyebabkan elaborasi tinggi pula. Sedangkan iklan nonkomparatifmungkin lebih efektif bagi wanita sebagai pemroses komprehensif, yangmengintegrasikan informasi secara mendetail, di mana disisi lain iklan non-komparatifjuga lebih efektif ketika diproses secara imajinatif, atau secara holistik menurutJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 7MacInnis dan Price, berdasarkan penggunaan konstruksi atas detail produk sebagaiskenario alternatif, dan sumber daya untuk memproses informasi pada merek laindikurangiH11 : Respon Kognitif Khalayak terhadap Iklan (RK) secara signifikan dipengaruhiinteraksi antara perbedaan format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategipemrosesan informasi.Merujuk pada temuan Chang (2007:21), bahwa keterlibatan dalam evaluasimerekoleh Pria, yang semakin besar, dibawa oleh daya tarik komparatif menyebabkanevaluasi iklan dan merek lebih menguntungkan dan minat beli yang lebih besar.Sedangkan untuk Wanita, persepsi yang tinggi atas maksud manipulatif dari iklan yangdibawa oleh daya tarik komparatif, mendorong evaluasi negatif pada iklan dan merek,serta mengurangi niat pembelian. Hal ini senada dengan temuan Campbell, di manataktik periklanan yang bertujuan mendapatakan perhatian, mendorong konsumenmenyimpulkan bahwa pengiklan mencoba memanipulasi pemirsa iklan.H12 : Sikap terhadap Iklan (SI) secara signifikan dipengaruhi interaksi antaraperbedaan format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesaninformasi.H13 : Sikap terhadap Merek (SM) secara signifikan dipengaruhi interaksi antaraperbedaan format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesaninformasi.H14 : Minat/Intensi Pembelian (MB) secara signifikan dipengaruhi interaksi antaraperbedaan format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesaninformasi.METODE PENELITIANDefinisi Konseptual1. Format iklan merek market leader didefinisikan sebagai bentuk penyajian dayatarik pesan iklan yang digunakan sebagai strategi periklanan oleh pemasar, yangdiakui sebagai pemimpin pasar dari kategori produk tertentu, di mana pangsa pasaryang dimiliki merupakan yang terbesar (40%) dalam pangsa pasar relevan(Setiyaningrum, 2008:18; Tjiptono, 2002:303).2. Perbedaan Pria dan Wanita dalam Strategi Pemrosesan Informasididefinisikan sebagai perbedaan cara Pria dan Wanita mengolah informasi, yaituPria secara selektif dan Wanita secara komprehensif (Chang, 2007:21).3. Respon kognitif khalayak terhadap iklan didefinisikan sebagai pemikiranpemikiranyang muncul pada tahap pemahaman dalam pemrosesan informasi dankemudian pemikiran-pemikiran ini akhirnya mempengaruhi penerimaan seseorangterhadap stimulus iklan yang menerpanya (Blackwell, Engel dan Miniard, 1995:30).4. Sikap terhadap iklan didefinisikan sebagai perasaan konsumen dan sikap terhadapformat iklan secara keseluruhan (Setiyaningrum, 2008:22).5. Sikap terhadap merek didefinisikan sebagai perasaan konsumen dan sikapterhadap merek sponsor iklan secara keseluruhan (Setiyaningrum, 2008:22).6. Minat/Intensi pembelian didefinisikan sebagai sesuatu yang berhubungan denganrencana konsumen untuk membeli produk tertentu yang dibutuhkan pada periodetertentu (Durianto dan Liana, 2004:44).Definisi Operasional1. Format iklan merek market leader memiliki variasi nilai iklan non-komparatifmarket leader dan iklan komparatif tidak langsung merek market leader. Sertavariabel ini dioperasionalisasikan dengan cara menempatkan subjek penelitiansebagai unit analisis secara random pada kelompok-kelompok eksperimen untukJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 8diberi perlakuan (treatment) iklan non-komparatif merek market leader atau iklankomparatif tidak langsung merek market leader.2. Perbedaan Pria dan Wanita dalam Strategi Pemrosesan Informasi memilikivariasi nilai pria sebagai pemroses informasi yang selektif dan wanita sebagaipemroses informasi yang komprehensif. Serta variabel ini dioperasionalisasikandengan cara menempatkan subjek penelitian sebagai unit analisis secara randomdan dilakukan konstansi (blocking) berdasarkan jenis kelamin pada kelompokkelompokeksperimen untuk diberi perlakuan (treatment) iklan non-komparatifmerek market leader atau iklan komparatif tidak langsung merek merek marketleader.3. Respon kognitif khalayak terhadap iklan memiliki variasi nilai respon kognitifyang kurang menguntungkan dan respon kognitif yang menguntungkan. Sertavariabel ini dioperasionalisasikan dengan cara mengkalkulasi jumlah pemikiranpemikiranyang muncul berdasarkan dimensi-dimensi, seperti pemikiran terhadapproduk/pesan iklan, pemikiran terhadap sumber, dan pemikiran terhadap eksekusiiklan, yang kemudian sejumlah pemikiran-pemikiran tersebut dikategorikan sebagaipemikiran-pemikiran yang bertentangan dan pemikiran-pemikiran yangmendukung. Apabila pemikiran-pemikiran yang bertentangan lebih banyak munculmaka ini diacu sebagai respon kognitif yang kurang menguntungkan (unfavorable),dan sebaliknya ketika pemikiran-pemikiran yang mendukung lebih banyak munculmaka ini diacu sebagai respon kognitif yang menguntungkan (favorable).4. Sikap terhadap iklan memiliki variasi nilai sikap kurang menguntungkan dansikap menguntungkan yang ditujukan pada iklan. Serta, variabel inidioperasionalisasikan dengan cara menjumlahkan respon afeksi terhadap iklan yangmuncul berdasarkan indikator keinformatifan iklan, perasaan atau emosi yangmuncul sebagai pengalaman diterpa iklan dan kemenarikan iklan, yang kemudiansejumlah respon afeksi yang muncul tersebut dikategorikan sebagai sikap kurangmenguntungkan bila lebih banyak memunculkan respon afektif yang negatif dansikap menguntungkan bila lebih banyak memunculkan respon afektif yang positifterhadap iklan.5. Sikap terhadap merek memiliki variasi nilai sikap kurang menguntungkan dansikap menguntungkan yang ditujukan pada merek sponsor iklan. Serta, variabel inidioperasionalisasikan dengan cara menjumlahkan respon afeksi terhadap merekyang muncul berdasarkan indikator persepsi terhadap kualitas merek dan persepsiterhadap kemampuan merek untuk memenuhi kebutuhan produk yang relevandengan kondisi konsumen saat ini, yang kemudian sejumlah respon afeksi yangmuncul tersebut dikategorikan sebagai sikap kurang menguntungkan bila lebihbanyak memunculkan respon afektif yang negatif dan sikap menguntungkan bilalebih banyak memunculkan respon afektif yang positif terhadap merek yangsponsor iklan.6. Minat/intensi pembelian memiliki variasi nilai minat beli yang rendah dan minatbeli yang tinggi terhadap merek sponsor iklan. Serta, variabel inidioperasionalisasikan dengan cara menjumlahkan respon konatif yang ditujukanpada merek sponsor iklan, dilihat berdasarkan indikator-indikator seperti minattransaksional, minat referensial, minat preferensial dan minat eksploratif, yangkemudian dikategorikan sebagai minat beli yang rendah ketika respon konatif iturendah dan minat beli yang tinggi ketika respon konatif itu tinggi terhadap mereksponsor iklan.Desain Penelitian, Stimulus, Unit Analisis dan Teknik Analisis DataPenelitian Eksperimen Lapangan, 2 (Format Iklan) X 2 (Perbedaan Pria dan Wanitadalam Strategi Pemrosesan Informasi) Randomized-Blocked Factorial Design dilakukanJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 9dengan melibatkan 120 partisipan (60 Pria dan 60 Wanita), yang ditugaskan kedalam 4kelompok perlakuan. Stimulus yang digunakan adalah iklan komparatif dan iklan nonkomparatif yang digunakan oleh merek “Adem Sari” pada periode pertengahan tahun2012 hingga pertengahan tahun 2013. Stimulus tersebut dikembangkan denganmemadunya dalam program acara Opera Van Java Edisi 24 Juli 2013 dan melibatkanbeberapa iklan kategori produk lain. Selanjutnya, teknik analisis data yang digunakansebagai alat pengujian hipotesis antara lain Uji Two-Ways ANOVA, Uji Mann-WhitneyU, Uji Friedman Two-Ways ANOVA By Rank dan Model Persamaan Struktural BerbasisVarian (Komponen) dengan metode alternatif Partial Least Square (PLS).HASIL DAN PEMBAHASANBerdasarkan hasil pengujian hipotesis untuk format iklan komparatif tidak langsungmerek market leader, maka diambil keputusan untuk menerima H1a ( = 0,5836 dan tstatistic= 5,3782 > t-table = 1,96), menerima H2a ( = 0,7723 dan t-statistic = 10,8722> t-table = 1,96), menerima H3b ( = 0,1165 dan t-statistic = 1,2717 < t-table = 1,96),menerima H4a ( = 0,3482 dan t-statistic = 2,2615 > t-table = 1,96) dan menerima H5a( = 0,4214 dan t-statistic = 2,5429 > t-table = 1,96) dengan taraf signifikansi 0,05.Sedangkan hasil pengujian hipotesis untuk format iklan non komparatif merekmarket leader adalah menerima H1b ( = 0,5463 dan t-statistic = 7,0203 > t-table =1,96), menerima H2b ( = 0,2071 dan t-statistic = 2,1117 > t-table = 1,96), menerimaH3a ( = 0,5804 dan t-statistic = 4,9954 > t-table = 1,96), menolak H4b ( = 0,1470dan t-statistic = 0,7073 < t-table = 1,96) dan menolak H5b ( = 0,3919 dan t-statistic =1,8586 < t-table = 1,96) dengan taraf signifikansi 0,05.Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diatas, penulis menyimpulkan bahwasama dengan format iklan komparatif tidak langsung merek market leader, format iklannon komparatif merek market leader pun mampu menghasilkan respon kognitifkhalayak terhadap iklan (RK) yang mampu secara signifikan mempengaruhipembentukan sikap khalayak terhadap iklan (SI) dan sikap khalayak terhadap merek(SM). Berbeda dengan format iklan komparatif tidak langsung merek market leader,sikap khalayak terhadap iklan (SI) yang dibentuk oleh format iklan non komparatifmerek market leader secara signifikan mempengaruhi pembentukan sikap khalayakterhadap merek (SM). Temuan ini juga sama dengan temuan Droge yang dikutipGrewal et al., (Setiyaningrum, 2008:22), bahwa sikap terhadap iklan yang dibentukformat iklan non komparatif dapat ditransfer pada sikap terhadap merek, namun tidakuntuk iklan komparatif. Dengan demikian, penulis dapat mengasumsikan bahwa ketikakhalayak menyukai sebuah iklan yang dibuat dari format iklan non komparatif merekmarket leader, maka khalayak tersebut juga akan menyukai merek sponsor iklan, danhal ini tidak berlaku untuk iklan komparatif tidak langsung merek market leader.Selanjutnya, tidak seperti pada sikap terhadap iklan (SI) dan sikap terhadap merek (SM)yang dibentuk oleh format iklan komparatif tidak langsung merek market leader, dimana keduanya merupakan prediktor yang signifikan untuk meramalkan minat/intensipembelian (MB) khalayak terhadap produk atau merek sponsor iklan, sikap terhadapiklan (SI) dan sikap terhadap merek (SM) yang dihasilkan oleh format iklan nonkomparatif merek market leader bukan merupakan prediktor yang signifikan untukmeramalkan minat/intensi pembelian(MB) khalayak atas produk atau merek sponsoriklan. Penulis menduga ada variabel-variabel lain diluar dari model yang diajukan, yangjuga mempengaruhi minat/intensi pembelian (MB) khalayak terhadap produk ataumerek sponsor format iklan non komparatif merek market leader. Dengan demikian,penulis berasumsi bahwa ketika sikap khalayak yang menguntungkan terhadap iklan(SI) dan merek (SM) terbentuk pada format iklan non komparatif merek market leader,tidak menjamin bahwa khalayak memiliki minat/intensi pembelian (MB) yang besarpula terhadap produk atau merek sponsor iklan.Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page10Pada tahap respon kognitif, secara deskriptif iklan komparatif tidak langsungmerek market leader direspon secara kurang favorable dibandingkan iklan nonkomparatif merek market leader. Hal ini terlihat dari rerata respon kognitif iklankomparatif tidak langsung merek market leader sebesar 4,5500 dan sedangkan reratarespon kognitif iklan non komparatif merek market leader sebesar 4,9833. Namun,secara statistik perbedaan ini tidak signifikan pada taraf signifikansi 0,05 untuk uji onetail(Nilai Sig. 0,304/2 = 0,152 > 0,05). Maka, keputusan yang diambil adalah tidakdapat menolak H0 dan menolak H6. Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwatidak ada perbedaan respon kognitif yang signifikan ketika kedua jenis format iklandigunakan.Diantara pria dan wanita, terlepas dari format iklan yang digunakan secaradeskriptif wanita lebih memiliki respon kognitif yang favorable dibandingkan denganpria. Hal ini dibuktikan dengan rerata respon kognitif wanita sebesar 4,9500 dan lebihdari respon kognitif pria yang hanya sebesar 4,5833. Namun, secara statistik perbedaanini tidak signifikan pada taraf signifikansi 0,05 untuk uji two-tail (Nilai Sig. 0,384 >0,05). Maka, keputusan yang diambil adalah tidak dapat menolak H0 dan menolakH10a. Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa respon kognitif pria denganrespon kognitif wanita, terlepas dari format iklan yang digunakan, adalah tidak berbedasecara signifikan.Kemudian, pengaruh interaksi antara format iklan dengan perbedaan pria danwanita dalam strategi pemrosesan informasi atas respon kognitif khalayak terhadapiklan (RK) adalah tidak ada. Hal ini dibuktikan dengan nilai Sig. 0,428 > 0,05. Dengantaraf signifikansi 0,05 maka penulis memutuskan untuk menolak H11, dan menerimaH0. Hal ini berarti bahwa tidak ada pengaruh signifikan interaksi antara format iklandan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi atas responkognitif khalayak terhadap iklan (RK).Pada tahap sikap terhadap iklan (SI), secara deskriptif sikap terhadap iklan yangdibentuk oleh iklan non komparatif merek market leader tampak lebih favorabledibandingkan dengan sikap terhadap iklan yang dibentuk oleh iklan komparatif tidaklangsung merek market leader. Hal ini tampak pada mean rank sikap terhadap iklan nonkomparatif merek market leader sebesar 67,16 dan lebih besar dibandingkan denganmean rank sikap terhadap iklan komparatif tidak langsung merek market leader yanghanya sebesar 53,84. Maka, dengan Nilai Sig. 0,026/2 = 0,013 < 0,05 (One-Tail) penulismemutuskan untuk menolak H0 dan menerima H7 taraf signifikansi sebesar 0,05.Kesimpulan yang diperoleh adalah sikap terhadap iklan yang dibentuk oleh iklan nonkomparatif merek market leader lebih menguntungkan secara signifikan dibandingkandengan sikap terhadap iklan yang dibentuk iklan komparatif tidak langsung merekmarket leader.Terlepas dari jenis format iklan yang digunakan, sikap terhadap iklan yangdibentuk oleh pria dan wanita secara deskriptif tidak jauh berbeda. Hal ini tampak padamean rank sikap terhadap iklan pria sebesar 60,51 dan mean rank sikap terhadap iklanwanita sebesar 60,49. Senada dengan hal tersebut, secara statistik perbedaan tersebutjuga tidak signifikan pada taraf signifikansi 0,05. Nilai Sig. 0,998 > 0,05 (Two-Tail).Maka, dengan demikian penulis memutuskan untuk tidak dapat menolak H0 danmenolak H10b. Sehingga, penulis menyimpulkan bahwa diantara pria dan wanita tidakada perbedaan yang signifikan dalam sikap terhadap iklan, terlepas dari jenis formatiklan yang digunakan.Merujuk pada hasil perhitungan Uji Friedman Two-Way ANOVA By Rank,bahwa nilai Sig. 0,758 > 0,05 (Two-Tail). Maka penulis memutuskan untuk tidak dapatmenolak H0 dan menolak H12. Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa tidakada pengaruh signifikan interaksi antara format iklan dan perbedaan Pria dan Wanitadalam strategi pemrosesan informasi atas sikap terhadap iklan (SI).Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page11Pada tahap sikap terhadap merek (SM), diketahui secara deskriptif sikapterhadap merek yang dibentuk iklan non komparatif merek market laeder lebihmenguntungkan dibandingkan dengan sikap terhadap merek yang dibentuk oleh iklankomparatif tidak langsung merek market leader. Hal ini dibuktikan dengan mean ranksikap terhadap merek yang dibentuk iklan non komparatif merek market leader adalahsebesar 65,62 dan ini lebih besar dibandingkan dengan mean rank sikap terhadap merekyang dibentuk oleh iklan komparatif tidak langsung merek market leader yang hanyasebesar 55,38. Secara statistik, perbedaan ini signifikan pada taraf signifikansi 0,05dengan Nilai Sig. 0,079/2 = 0,0395 < 0,05 (One-Tail). Dengan demikian, penulismemutuskan untuk menolak H8. Sehingga, penulis menyimpulkan bahwa sikapterhadap merek yang dibentuk iklan non komparatif merek market leader lebihmenguntungkan secara signifikan dibandingkan dengan sikap terhadap merek yangdibentuk oleh iklan komparatif tidak langsung merek market leader.Selanjutnya, diantara pria dan wanita terlepas dari jenis format iklan yangdigunakan, secara deskriptif menunjukkan bahwa wanita membentuk sikap terhadapmerek secara lebih menguntungkan dibandingkan dengan pria. Hal ini dibuktikandengan mean rank sikap terhadap merek wanita sebesar 63,82 dan ini lebih besardibandingkan dengan mean rank sikap terhadap merek pria yang hanya sebesar 57,18.Namun, secara statistik perbedaan ini dianggap tidak signifikan pada taraf signifikansisebesar 0,05. Nilai Sig. 0,225 > 0,05 (Two-Tail). Maka, penulis mengambil keputusanuntuk tidak dapat menolak H0 dan menolak H10c. Dengan demikian, penulismenyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan atas sikap terhadap merekyang dibentuk oleh pria dan wanita terlepas dari jenis iklan yang digunakan.Selanjutnya, untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh interaksi format iklan danperbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi atas sikap terhadapmerek (SM) maka perlu melihat hasil perhitungan Uji Friedman Two-Way ANOVA ByRank. Diketahui nilai Sig. 0,000 < 0,05 (Two-Tail) dan Chi-Square = 37,484 (df =3),maka diputuskan untuk dilakukan pengujian lanjut untuk mengetahui perbedaan antarkelompok-kelompok eksperimen. Hal ini didasari asumsi bahwa jika nilai hitung Fradalah signifikan, hal ini berarti ada paling sedikit ada satu kondisi yang berbeda darikondisi lainnya. Kemudian setelah dilakukan uji lanjutan, penulis mengetahui bahwapria akan membentuk sikap terhadap merek yang lebih menguntungkan ketikadiekspose iklan komparatif tidak langsung merek market leader dibandingkan jikadiekspose iklan non komparatif merek market leader. Selain itu, ketika diekpose iklannon komparatif merek market leader, wanita cenderung membentuk sikap terhadapmerek yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan pria. Terakhir, ketika wanitadiekspose iklan komparatif tidak langsung merek market leader akan membentuk sikapterhadap merek yang lebih menguntungkan dibandingkan pria ketika diekspose iklannon komparatif merek market leader. Perbedaan ketiga pasang kelompok eksperimentersebut secara statistik diterima secara signifikan pada taraf signifikansi 0,05 (One-Tail). Namun, hasil pengujian tersebut hanya sebagian mendukung H13, maka penulismengambil keputusan untuk tidak dapat menolak H0 dan menolak H13 pada tarafsignifikansi 0,05 (Two-Tail). Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa tidak adapengaruh signifikan interaksi format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalamstrategi pemrosesan informasi atas sikap terhadap merek (SM).Pada tahap minat/intensi pembelian (MB), iklan komparatif tidak langsungmerek market leader menghasilkan minat/intensi pembelian yang tidak jauh berbedadengan iklan non komparatif merek market leader. Hal ini dibuktikan dengan meanrank minat/intensi pembelian yang dibentuk iklan komparatif tidak langsung merekmarket leader sebesar 59,92 dan mean rank minat/intensi pembelian yang dibentukiklan non komparatif merek market leader sebesar 61,08. Secara statistik pun demikian,pada taraf signifikansi 0,05 (One-Tail) penulis memutuskan untuk menerima H9 (NilaiJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page12Sig. 0,845/2 = 0,4225 > 0,05). Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa tidakada perbedaan yang signifikan minat/intensi pembelian yang dibentuk oleh iklankomparatif tidak langsung merek market leader dengan minat/intensi pembelian yangdibentuk oleh iklan non komparatif merek market leader.Jika dilihat dari perbedaan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategipemrosesan informasi, secara deskriptif wanita menunjukkan minat/intensi pembelianyang lebih besar dibandingkan pria, terlepas dari jenis format iklan yang digunakan. Halini dibuktikan dengan mean rank minat/intensi pembelian wanita sebesar 66,25 dan inilebih besar dibandingkan dengan mean rank minat/intensi pembelian pria sebesar 54,75.Namun, secara statistik perbedaan ini tidak signifikan pada taraf signifikansi 0,05 (Two-Tail). Maka, penulis mengambil keputusan untuk tidak dapat menolak H0 dan menolakH10d (Nilai Sig. 0,054 > 0,05). Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwadiantara pria dan wanita, terlepas dari jenis iklan yang digunakan, akan membentukminat/intensi pembelian yang tidak berbeda secara signifikan.Terakhir, merujuk pada hasil perhitungan Uji Friedman Two-Way ANOVA ByRank, menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan interaksi format iklan danperbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi pada minat/intensipembelian (MB). Nilai Sig. 0,841 > 0,05 (Two-Tail). Dengan demikian, penulis tidakdapat menolak H0 dan menolak H14 pada taraf signifikansi sebesar 0,05. Maka dari itu,penulis menyimpulkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan interaksi format iklan danperbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi pada minat/intensipembelian (MB).Hasil pengujian hipotesis perbandingan efektivitas format iklan komparatif tidaklangsung merek market leader dengan format iklan non komparatif merek marketleader, menunjukkan bahwa format iklan komparatif tidak langsung merek marketleader direspon secara kurang menguntungkan pada variabel Sikap terhadap Iklan (SI)dan Sikap terhadap Merek (SM), bila dibandingkan dengan format iklan non komparatifmerek market leader. Temuan ini mirip dengan temuan Wright, Levine, Murphy danAmundsen (Rogers dan Williams, 1989:24), di mana iklan komparatif lemahmembentuk formasi sikap terhadap merek yang positif. Disamping itu, Respon KognitifKhalayak terhadap Iklan (RK) dan Minat/Intensi Pembelian (MB) yang dihasilkan olehkedua format iklan juga menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan. Tidakadanya perbedaan yang signifikan atas Respon Khalayak terhadap Iklan (RK) yangdihasilkan kedua format iklan, adalah mendukung pernyataan bahwa perbandingansecara tidak langsung mampu mengurangi hambatan ketidaksetujuan pemakai merekyang diperbandingkan dan mengurangi pengaruh yang merugikan dari penggunaanformat iklan komparatif. Sedangkan temuan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikanatas Minat/Intensi Pembelian (MB) yang dihasilkan kedua format iklan, mirip dengantemuan sebelumnya oleh Belch, Golden dan Swinyard (Rogers dan Williams, 1989:24)dan Manzur et al., (2012:288).Bila dilihat dari perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesaninformasi, baik terlepas dari format iklan yang digunakan, maupun interaksinya denganformat iklan, menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Namun, temuan menarik padapenelitian ini menunjukkan bahwa Pria memberikan respon Sikap terhadap Merek (SM)yang lebih menguntungkan ketika diekspose format iklan komparatif tidak langsungbila dibandingkan ketika diekspose format iklan non komparatif. Sedangkan Wanita,bila dibandingkan dengan Pria, justru memberikan respon Sikap terhadap Merek (SM)yang lebih menguntungkan ketika diekspose format iklan non komparatif.REKOMENDASIBerikut ini adalah sejumlah rekomendasi yang diberikan atas penggunaan format iklankomparatif dan format iklan non komparatif oleh pemasar merek market leader,Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page13sehingga dapat diperoleh efektivitas yang maksimal sesuai dengan tujuan yang telahditetapkan oleh pemasar, yaitu :1. Iklan komparatif tidak langsung bermanfaat ketika merek market leader melakukaninovasi terhadap produknya, dan menggunakan iklan komparatif tidak langsunguntuk merangsang percobaan pembelian.2. Pemasar merek market leader dianjurkan untuk menggunakan iklan nonkomparatif, bila budget untuk beriklan jauh lebih besar dibandingkan alatkomunikasi pemasaran lainnya.3. Pemasar merek market leader dianjurkan untuk menggunakan iklan non komparatifjika bertujuan untuk membuat diferensiasi merek. Format iklan non komparatifakan lebih efektif ketika disertai insentif kepada audiens untuk mempelajari fiturfiturproduk secara rinci, dengan cara meningkatkan relevansi produk denganaudiensnya.4. Iklan komparatif tidak langsung bermanfaat untuk menyasar segmen pasar Pria daniklan non komparatif bermanfaat untuk menyasar segmen pasar Wanita. Dengandemikian, bila pemasar lebih berfokus pada salah satu segmen pasar tertentu, makaiklan komparatif tidak langsung memberikan manfaat lebih menguntungkan padaPria, dan iklan non komparatif memberikan manfaat yang lebih menguntungkanpada Wanita.KETERBATASAN PENELITIAN1. Validitas eksternal dari penelitian eksperimen lapangan yang dijalankan olehpenulis adalah lemah. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak bisa digunakanuntuk generalisasi fenomena-fenomena serupa. Namun, validitas eksternalpenelitian ini akan dipenuhi ketika dilakukan replikasi terhadap penelitianeksperimen ini oleh penelitian-penelitian mendatang, baik dengan mereplikasisecara keseluruhan atau mereplikasi sebagian dari penelitian eksperimen lapanganyang dijalankan oleh penulis ini.2. Konsekuensi atas penggunaan Metode Partial Least Square (PLS) adalah penelitimenurunkan tujuannya dari pengujian teori menjadi memprediksi hubungan linierantar variabel dengan segala keterbatasan yang ada dalam penelitian ini. Namunmeskipun demikian, model persamaan struktural yang diajukan dalam penelitian inidapat digunakan untuk pengembangan teori, karena memiliki nilai relevansiprediktif yang baik, yaitu Q2 = 9184 (Model SEM-PLS Format Iklan KomparatifTidak Langsung Merek Market Leader), dan Q2 = 0,7446 (Model SEM-PLSFormat Iklan Non Komparatif Merek Market Leader).REFERENSIAmerican Psychological Association.(2011). Definitions of Terms: Sex, Gender, GenderIdentity, Sexual Orientation. Dalamhttp://www.apa.org/pi/lgbt/resources/sexuality-definitions.pdf/. Diunduh padatanggal 10 Juli 2013 pukul 16.04 WIBAnonim. (2012). Interview with Mr. Bambang Soendoro of Enesis Group. Dalamhttp://www.gbgindonesia.com/en/manufacturing/directory/enesis_group/interview.php/. Diunduh pada tanggal 8 Juni 2013 pukul 10.53 WIBAnonim. (2013). Products: Adem Sari. Dalamhttp://www.enesis.com/product/detail/en/13/. Diunduh pada tanggal 2 Juli 2013pukul 12.07 WIB.Aruman, Akhmad Edi. (2011). Ini Dia Karakter Perempuan Konsumen Indonesia.Women Insight Centre (WIC). Dalam http://edhyaruman.blogspot.com/2011/10/ini-dia-karakter-perempuan-konsumen.html.Diunduh pada tanggal 27 September 2013 pukul 19.04 WIB.Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page14Azwar, Saiffudin. (2011). Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta :Pustaka PelajarBelch, George E. dan Michael A. Belch. (2009). Advertising and Promotions : AnIntegrated Marketing Communications Perspectives. 8th Editions. New York,USA : McGraw-Hill CompaniesCangara, Hafied. (2006). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : RajaGrafindo PersadaChang, Chingching. (2007). The Relative Effectiveness of Comparative andNoncomparative Advertising: Evidence for Gender Differences in Information-Processing Strategies. Journal of Advertising, Vol. 36 No. 1 (Spring): 21-35Chow, Cheris W. C., dan Chung-Leuk Luk. (2006). Effect of Comparative Advertisingin High and Low-Cognitive Elaboration Conditions. Journal of Advertising, Vol.35 No. 2 (Summer): 55-57Dewan Periklanan Indonesia. (2007). Etika Pariwara Indonesia. Jakarta : DewanPeriklanan IndonesiaDPI-PPPI Pusat. (2013). Kasus / Pelanggaran. Dalam http://www.p3ipusat.com/rambu-rambu/kasus. Diunduh pada tanggal 8 Juni 2013 pukul 12.35WIB.Durianto, Darmadi., dan C. Liana. (2004). Analisis Efetifitas Iklan Televisi SoftenerSoft & Fresh di Jakarta dan Sekitarnya dengan Mengunakan Consumer DecisionModel. Jurnal Ekonomi Perusahaan, Vol. 11 (1): 35-55Engel, James F., Roger D. Blackwell., dan Paul W. Miniard. (1995). PerilakuKonsumen. Jilid 2. Jakarta : Binarupa AksaraFill, Chris. (2009). Marketing Communication: Interactivity, Communities, andContent. 5th Edition. England : Prentice-Hall, Pearson EducationGhozali, Imam. (2006). Statistik Non-Parametrik: Teori & Aplikasi dengan ProgramSPSS. Semarang : Badan Penerbit Universitas DiponegoroGhozali, Imam. (2008). Desain Penelitian Eksperimental: Teori, Konsep dan AnalisisData dengan SPSS 16.0. Semarang : Badan Penerbit Universitas DiponegoroGhozali, Imam. (2011). Structural Equation Modelling: Metode Alternatif denganPartial Least Square (PLS). Semarang : Badan Penerbit Universitas DiponegoroHasan, M. Iqbal. (2002). Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya.Jakarta : Ghalia IndonesiaHoyer, Wayne D., dan Deborah J. MacInnis. (2008). Consumer Behavior. 5th Edition.Mason, OH USA: South-Western Cengage LearningFerdinand, Augusty. (2002). Metode Penelitian Manajemen. Semarang : BadanPenerbit Universitas DiponegoroFirst Postion Monitoring. (2012). B4-Adem Sari-2Pria&Org2-Warung-Tengok(30).mpg. Dalam http://www.youtube.com/watch?v=w_oq4YMOb24/. Diunduhpada tanggal 30 Mei 2013 pukul 11.45 WIB.Isnawijayani. (2011). Metode Eksperimen dalam Penelitian Ilmu Komunikasi. JurnalDinamika, Vol. 4, No. 7 (Juni): 1-8Jogiyanto HM., (2011). Konsep dan Aplikasi Structural Equation Modeling BerbasisVarian Dalam Penelitian Bisnis. Yogyakarta : UPP STIM YKPNKerlinger, Fred N. (1990). Asas-Asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta : Gadjah MadaUniversity PressKotler, Philip., Kevin Lane Keller., Swee Hoon Ang., Siew Meng Leong., dan ChinTiong Tan. (2009). Marketing Management: An Asian Perspectives. 5thEditions. Singapore : Prentice-Hall, Pearson Education South AsiaKotler, Philip., dan Kevin Lane Keller. (2011). Marketing Management. 14th Edition.Upple Saddle River, New Jersey USA: Prentice-Hall, Pearson EducationJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page15Manzur, Enrique., Rodrigo Uribe., Pedro Hidalgo., Sergio Olavarieta dan Pablo Farias.(2012). Comparative Advertising Effectiveness in Latin America: Eveidencefrom Chile. International Marketing Review, Vol. 29 No. 3: 227-298Marliani, Rosleny. (2013). Psikologi Eksperimen. Bandung : Pustaka SetiaMindra Jaya, I Gede Nyoman., dan I Made Sumertajaya. (2008). Pemodelan PersamaanStruktural Dengan Partial Least Square. Proceeding. Seminar NasionalMatematika dan Pendidikan Matematika, Hal. 118-132Mustafa, Zaenal EQ. (2009). Mengurai Variabel Hingga Instrumentasi. Edisi Pertama.Yogyakarta : Graha IlmuNisfiannoor, Muhammad. (2009). Pendekatan Statistik Modern Untuk Ilmu Sosial.Jakarta : Salemba HumanikaPalupi, Dyah Hasto., dan Teguh Sri Pambudi. (2006). Advertising That Sells Dwi Sapta:Strategi Sukses Membawa Merek Anda Menjadi Pemimpin Pasar. Jakarta :Gramedia Pustaka UtamaPierro, Antonio., Mauro Giacomantonio., Gennaro Pica., Lucia Mannetti., Ariw W.Kruglanski., dan Tory Higgins. (2012). When Comparative Ads are MoreEffective: Fit with Audience’s Regulatory Mode. Journal of EconomicPsychology, page 1-14Pillai, Kishore Gopalakrishna., dan Ronald E. Goldsmith. (2008). How Brand AttributeTypicality and Consumer Commitment Moderate the Influence of ComparativeAdvertising. Journal of Business Research, Vol. 61: 933-941Prasetyo, Bambang dan Lina Miftahul Jannah. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif :Teori dan Aplikasi. Jakarta : Rajagrafindo PersadaRakhmat, Jalaluddin. (2007). Metode Peneltian Komunikasi: Dilengkapi ContohAnalisis Statistik. Bandung : Remaja RosdakaryaRogers, John C. dan Terrell G. Williams. (1989) Comparative AdvertisingEffectiveness: Practitioner’s Perceptions Versus Academic Research Findings.Journal of Advertising Research (October-November): 22-36Sarwono, Jonathan. (2012). Metode Riset Skripsi Pendekatan Kuantitatif: MenggunakanProsedur SPSS. Jakarta : Elex Media KomputindoSeniati, Liche., Aries Yulianto., dan Bernadette N. Setiadi. (2008). PsikologiEksperimen. Jakarta : IndeksSetiyaningrum, Ari. (2008). Menilai Efektivitas Iklan Komparatif. Jurnal MajalahUsahawan, No. 05 TH XXXVII: 16-26Severin, Werner J., dan James W. Tankard, Jr. (2009). Teori Komunikasi: Sejarah,Metode dan Terapan di dalam Media Massa. Edisi ke-5. Jakarta : KencanaPrenada MediaSmith, Robert E., Jiemiao Chen., dan Xiaojing Yang. (2008). The Impact of AdvertisingCreativity on The Hierarchy of Effects. Journal of Advertising, Vol. 37, 4(Winter): 47-61Soscia, Isabella., Simona Girolamo., dan Bruno Busacca. (2010). The Effect ofComparative Advertising on Consumer Perceptions: Similarity orDifferentiation?. Journal of Business Psychology, Vol. 25: 109-118Sukamto, Imam. (2013). Acara TV Ini Paling Digemari Penonton Indonesia .(2013).Dalam http://www.tempo.co/read/news/2013/03/06/090465467/Acara-TV-Ini-Paling-Digemari-Penonton-Indonesia. Diunduh pada tanggal 01 Mei 2013 Pkl.13.17 WIB.Sumarwan, Ujang., Ahmad Jauzi., Asep Mulyana., Bagio Nugroho Karno., PontiKurniawan Mawardi., dan Wahyu Nugroho. (2011). Riset Pemasaran danKonsumen, Seri : 1. Bogor: IPB PressJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page16Suprapto, Hadi dan Arie Dwi Budiawati. (2013). 2012, Belanja Iklan Media Rp 87Triliun. Dalam http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/395530-2012--belanjaiklan-media-rp87-triliun. Diunduh pada tanggal 8 Juni 2013 pukul 20.48 WIBThompson, Debora Viana., dan Rebecca W. Hamilton. (2006). The Effect ofInformation Processing Mode on Consumer’s Response to ComparativeAdvertising. Journal of Consumer Research, Vol. 32:530-540Tjiptono, Fandy. (2002). Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Penerbit AndiVeriveli. (2012). Iklan Adem Sari – Laboratorium. Dalamhttp://www.youtube.com/watch?v=6K1mZRxMYlg. Diunduh pada tanggal 2Juli 2013 pukul 11.15 WIBWhite Nye, Carolyn., Martin S. Roth., dan Terence A. Shimp. (2008). ComparativeAdvertising in Markets Where Brands and Comparative Advertising are Novel.Journal of International Business Studies, Vol. 39: 851-863Widyatama, Rendra. (2011). Teknik Menulis Naskah Iklan: Agar Tepat Sasaran.Yogyakarta: Cakrawala
“Pembingkaian Metrotvnews.com dan Sindonews.com Mengenai Mundurnya Hary Tanoesoedibjo Dari Partai Nasional Demokrat” Pratama, Reza Rahardian; Sunarto, Dr; Nugroho, Adi; Pradekso, Tandiyo
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.494 KB)

Abstract

Media Online memiliki banyak kelebihan dalam menyampaikan beritakepada khalayak, salah satunya adalah aktualitas berita yang jauh melampauikecepatan media konvensional seperti surat kabar. Pemberitaan media onlinedipengaruhi oleh ideologi dan ekonomi politik media yang terlihat dari framingberita yang dilakukan oleh media. Hal tersebut tidak lain juga disebabkan olehfaktor kepemilikan media itu sendiri. Terkadang isi berita menjadi timpang danjauh dari netralitas yang seharusnya menjadi dasar sebuah media menyampaikansebuah berita. Bahkan dewasa ini acap kali media seperti di setir kepentinganpemiliknya untuk kepentingan politik dan pencitraan pemilik media tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran sampai sejauh manapengaruh ideologi dan politik ekonomi di media terhadap upaya mendekatiobjektivitas dan posisi netral sebuah pemberitaan. Penelitian ini menggunakanparadigma konstruksionis dengan pendekatan kualitatif. Analisa framingdilakukan dengan model analisis Pan dan Kosicki. Hasil penelitian inimenunjukan bahwa framing yang dilakukan sindonews.com terhadap beritamundurnya Hary Tanoesoedibjo dari Partai Nasional Demokrat sangat berpihakpada kepentingan pemilik media. Sementara framing yang dilakukan olehmetrotvnews.com masih menunjukan usaha media untuk melakukan pendekatanpada objektivitas pemberitaan.Kata kunci: Framing, media online, ideologi media, ekonomi politik media.
Co-Authors Adi Nugroho Adinda Sekar Cinantya Aditia Nurul Huda Aditya Iman Hamidi, Aditya Iman Adityo Cahyo Aji Agraha Dwita Sulistyajati Agus Naryoso Agus Naryoso Naryoso Ahmad Fauzi Ahmad Fikar Harakan Aisah Putri Sajidah, Aisah Putri Aldi Atwinda Jauhar, Aldi Atwinda Aldila Leksana Wati Alif Ibrahim Ananda Erfan Musthafa, Ananda Erfan Anggi Pramesthi Kusumarasri Anggia Anggraini Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annisa Aulia Mahari Annisa Kusumawardhani Annisya Winarni Putri, Annisya Winarni Aprida Mulya, Resti Ardini Koesfarmasiana, Ardini Arfika Pertiwi Putri Arinda Putri Oktaviani, Arinda Putri Aryatama Wibawa, Michael Asri Nugraheningtyas ASTRID DAMAYANTI Asty Setiandini, Asty Atika Nabila Atina Primaningtyas Aulia Nur Aulia Rachmawati, Asri Avilla Barus, Vinny Awang Asmoro Ayu Puspitasari, Ramadhiana Ayu Saraswati Ayu Sri Purnama, Ayu Sri Ayucandra, Rohedy Azizatun Niswah, Hajar Bagoes Widjanarko Banun Diyah Ardani Bareta Hendy Pamungkas Bella Prawilia Bisma Alief, Bisma Budiono, Binarso Budiono Charisma Rahma Dinasih Chintya Dyah Meidyasari, Chintya Dyah Cicilia Sinabariba, Santa Daniel Dwi Listantyo Dara Pramitha Deansa Putri Deni Arifiin Destima Nursylva Anggraningrum Devi Pranasningtias Indriani Dhiyah Puspita Sari Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Muhammad Distian Jobi Ridwan Diyan Hafdinovianti Ayu Kinasih Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Donik Agus Setiyanto, Donik Agus DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dwi Mulya Ningsih Dwi Purbaningrum, Dwi Dwi Widyastuti, Nungki Eggie Nurmahabbi, Eggie Eka Ardianto Farisa Dian Utami Febri Ariyadi Febriana Handayani, Febriana Frida Asih Pratiwi Ghana Pratama, Albert Ghela Rakhma Islamey Ghita Kriska Dwi Ananda Gilang Wicaksono Habibie Taufiqqur Rahman, Achmad Handi Aditia Hanif Fauzi, Ahda Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas S, Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani, Hapsari Dwiningtyas Hazly Hasibuan, Afif Hedi Pudjo Santosa Hendrikus Setya Pradhana, Hendrikus Setya Henny Novita Rumono Hilda Maisyarah, Hilda I Nyoman Winata Ibrahim Muhammad Ramadhan, Ibrahim Muhammad Imam Muttaqin, Imam Indah Puspawardhani Indra Septia BW, Indra Septia Infra Ranisetya Intan Mashitasari Ira Astri Rasika Izzatussayidati, Fatma Jaya Pramono Adi Jimmy Fachrurrozy, Jimmy Jody Suryamar Yudha Joyo NS Gono Kembang Soca Paranggani Khairani, Indah Khairunnisya Sholikhah Kinanati Bunga Wulansari, Kinanati Bunga Krisna Adryanto Lestari, Meriza Lintang Jati Rahina, Lintang Jati Lintang Ratri Rahmiaji LISTIANTO HINDRA PRAMONO Lizzatul Farhatiningsih Lucia Eka Pravitasari Luh Rani Wijayanti, Luh Rani M Bayu Widagdo Maharani Easter Mahendra Zulkifli Manalu, Rouli Manggala Hadi Prawira Marcia Julifar Ardianto Martia Mutiara Tasuki Melinda Wita Satryani Meta Detiana Putri Mohammad Akbar Rizal Hamidi, Mohammad Akbar Rizal Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yulianto Muchammad Bayu widagdo MUHAMMAD ABDUSSHOMAD Muhammad Bayu widagdo Muhammad Rofiuddin Muhamy Akbar Iedani N S Ulfa Nadia Dwi Agustina Nanik Sudaryningtyas, Nanik Nidya Aldila Nikolas Prima Ginting, Nikolas Prima Ninda Nadya Nur Akbar Noni Meisavitri Novi Rosmaningrum NS Ulfa Nur Dyah Kusumawardhani Putri Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurist Surrayya Nuriyatul Lailiyah Nurrist Suraya Ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Hasfi Otto Fauzie Haloho, Otto Fauzie Perwitasari, Galuh Pipin F.P. Lestari, Pipin F.P. Prabowo Nurwidagdyo Pranamya Dewati, Pranamya Prescilla Roesalya Putri Mahardhika, Nikita R. Sigit Pandhu Kusumawardana Rarasati, Randyani Raymond Soelistiono Filemon Raynaldo Faulana Pamungkas Resty Widyanty Reza Rahardian Pratama Rifki Nur Pratiwi Rijalul Vikry Rizka Amalia Rizka Arsianti, Rizka Rizky Amalya Hadiningtyas Rizqi Ganis Ashari, Rizqi Ganis Roli Harni Purba, Juita Rony Kristanto Setiawan, Rony Kristanto Rosita Kemala Sari Septian Aldo Pradita Septiana Wulandari Suparyo, Septiana Wulandari Shafira Inas Nurina Shahnaz Natasha Anya Sigit Haryadi Sofi Kumala Fatma Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Taufik Indra Ramadhan, Taufik Indra Taufik Reza Ardianto, Taufik Reza Taufik Suprihatini Teresia Kinta Wuryandini, Teresia Kinta Theresia Dita Anggraini Titan Armaya Tri Utami Triangga Ardiyanto Trixie Salawati Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Vicho Whisnurangga, Vicho Wahyu Nur R, Efrilia Wahyu Widiyaningrum Widya Andhika Aji Wiwid Noor Rakhmad Yanuar Luqman Yuliantika Hapsari, Yuliantika Yunita Indriyaswari Yunita, Bella Zainul Asngadah Fatmawati Zulfikar Mufti