Djoko Prajitno
Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

PENGARUH BAHAN MEDIA SIMPAN TERHADAP KUALITAS BIBIT TIGA KLON TEBU (SACCHARUM OFFICINARUM L.) MATA TUNAS TUNGGAL Sitepu, Epraim Theopilus; Taryono, Taryono; Prajitno, Djoko
Vegetalika Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (714.722 KB) | DOI: 10.22146/veg.10477

Abstract

Bibit tebu mata tunas tunggal memiliki umur simpan yang relatif pendek. Apabila tanpa perlakuan, daya kecambah mata tunas tunggal sudah menurun pada umur  simpan  2  hari.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  bahan  media simpan dan bahan klon tebu terbaik untuk mempertahankan kualitas bibit tebu mata tunas tunggal. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan perlakuan  faktorial  3  ×  3  dalam  rancangan  lingkungan  acak  lengkap  (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah media simpan yang terdiri dari media simpan arang kayu, serbuk gergaji, dan sekam padi. Faktor kedua adalah klon tebu yang terdiri dari klon Bululawang, klon Kidang Kencana, dan klon VMC. Pengamatan dilakukan pada umur simpan 0, 4, 8, 12, dan 16 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara media simpan dan klon yang digunakan pada jumlah bibit yang berjamur selama penyimpanan, jumlah bibit yang mati selama penyimpanan, gaya berkecambah (GB), dan indeks vigor (IV) bibit mata tunas tebu. Media simpan arang kayu mampu menyimpan mata tunas tunggal terbaik yakni sampai dengan umur simpan 12 hari. Klon Kidang Kencana memiki kualitas bibit yang baik sampai dengan umur simpan 12 hari pada media simpan arang kayu.
PENGARUH JARAK TANAM DAN TAKARAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BENIH KACANG HIJAU (VIGNA RADIATA L. WILCZEK) Marsiwi, Tri; Purwanti, Setyastuti; Prajitno, Djoko
Vegetalika Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.331 KB) | DOI: 10.22146/veg.9282

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui   pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil benih kacang hijau 2) mengetahui pengaruh takaran pupuk NPK  terhadap  pertumbuhan  dan  hasil  benih  kacang  hijau  serta  3)  mengetahui interaksi antara jarak tanam dan takaran pupuk terhadap pertumbuhan dan hasil benih kacang hijau. Penelitian di lahan petani Karangasem, Palbapang, Bantul,  Yogyakarta pada bulan Mei-Agustus 2012. Sedangkan pengujian kualitas benih di lakukan dilaboratorium Teknologi Benih, Fakultas Pertanian UGM. Percobaan menggunakan rancangan petak terbagi dengan menggunakan tiga ulangan. Petak utama adalah jarak tanam terdiri atas  J0= 15 cm x 30 cm (populasi 216.667 tanaman/ha), J1= 30 cm x 30 cm (populasi 108.300 tanaman/ha), J2= 20 cm x 40 cm (populasi 125.000 tanaman/ha), sedangkan anak petak adalah takaran pupuk, terdiri atas   P0= 0 kg Urea, 0 kg SP36, 0 kg KCl, P1= 50 kg Urea, 50 kg SP36, 50 kg KC1, P2= 75 kg Urea, 75 kg SP36, 75 kg KCl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi yang nyata antara parameter jarak tanam dengan parameter takaran pupuk NPK. Jarak tanam mampu memberikan hasil yang sama dengan hasil tertinggi pada jarak 15 cm x 30 cm sebesar 0,85 ton/ha. Takaran pupuk NPK 75 kg/ha mampu memberikan hasil sebesar 0,84 ton/ha.
MITIGASI PELINDIAN NITRAT PADA TANAH INCEPTISOL MELALUI PEMANFAATAN BAHAN NITRAT INHIBITOR ALAMI Pramono, Joko; Prajitno, Djoko
Jurnal Agritech Vol 32, No 02 (2012)
Publisher : Jurnal Agritech

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.468 KB)

Abstract

Mitigation of Nitrate Leaching in Inceptisol Soil Through the Use of Natural Nitrate InhibitorABSTRAKPelindian NO3- merupakan salah satu mekanisme kehilangan N dalam aktivitas pertanian, yang dapat berdampak terhadap pencemaran lingkungan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui penggunaan bahan alami sebagai nitrat inhibitor terhadap pelindian nitrat pada tanah Inceptisol. Pada penelitian ini diuji tiga jenis bahan nitrat inhibitor (NI) alami yang berasal dari; serbuk biji Mimba (SBM), serbuk kulit kayu bakau (SKKB), dan serbuk daun kopi (SDK),yang dikombinasikan dengan tiga taraf dosis NI, yaitu: 20 %, 30 % dan 40 % dari urea yang diberikan, dan ditambah satu perlakuan kontrol tanpa NI. Bahan nitrat inhibitor diberikan bersama urea pada permukaan tanah dalam pot percobaan yang telah dibasahi dengan air suling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan NI yang berbeda memberikan respon terhadap penghambatan nitrifi kasi yang berbeda. Bahan NI yang berasal dari serbuk biji mimba memberikan tingkat penghambatan tertinggi sebesar (25,6 %), serbuk kulit kayu bakau sebesar (19,1 %), dan serbuk daun kopi sebesar 11,8 %. Bahan NI alami mampu menghambat nitrifi kasi melalui penghambatan pertumbuhan bakteri nitrifi kasi (pengoksida ammonium) yang bersifat sementara pada kisaran 7-14 hari setelah aplikasi. Perlakuan berbagai bahan dan dosis NI mampu menekan pelindian nitrat rata-rata pada kisaran antara 56,6 sampai 62,8 % dan berbeda sangat nyata terhadap perlakuan kontrol tanpa NI. Bahan NI yang mampu menurunkan rata-rata pelindian nitrat pada pengamatan 14 hari setelah aplikasi tertinggi adalah SBM sebesar 74,15 %. Dosis optimal dua bahan NI terpilih yang menunjukkan kinerja penghambatan nitrifi kasi terbaik (SBM dan SKKB) pada 7 hsa, masing-masing 18,30 % (R2 = 0,694) dan 21,67 % (R2=0.691) dari dosis urea yang diberikan.Kata kunci: Nitrifi kasi, nitrat inhibitor, pelindian nitratABSTRACTNO3 - leaching is one mechanism of N reduction in agricultural activity, which may contribute to environmental pollution. The purpose of this research is to investigate the use of natural products as nitrate inhibitors toward nitrate leaching in Inceptisol soil. In this study, three types of natural nitrate inhibitors (NI) derived from neem seed powder (NSP), mangrove bark powder (MBP), and coffee leaf powder (CLP) were tested combined with the three doses of NI, i.e. 20 %, 30 %, and 40 % of urea used were given. Moreover, a treatment without NI was used as a control. Material was supplied with urea nitrate inhibitor on the surface of the soil in the pot experiment that had been moistened with distilled water. Results showed that the nitrate inhibitors materials had different response to different nitrifi cation inhibition. Nitrate inhibitors material derived from neem seed powder (NSP) had the highest inhibition rate of 25.6 %, while mangrove bark powder (MBP) and coffee leaf powder (CLP) had the rate of 9.1 % and 11.8 %, respectively. NI ingredients naturally capable of inhibiting nitrifi cation through the inhibition of nitrifi er growth (ammonium oxidizing) which was temporary in the range of 7-14 days after NI materials application. Treatment of different materials and NI doses suppressed the leaching of nitrate from 56.6 % to 62.8 % during 14 day after application. Treatment using different materials had signifi cant effect compare to the control treatment without NI. Optimal dose of two selected NI materials showed the best performance of nitrifi cation inhibition (NSP and MBP), i.e. 18.3% (R2 = 0.69) and 21.67% (R2 = 0.69) from a given dose of urea, respectively, 7 day after application,.Keywords: Nitrifi cation, nitrate inhibitors, nitrate leaching
CIE L*A*B* COLOR SPACE BASED VEGETATION INDICES DERIVED FROM UNMANNED AERIAL VEHICLE CAPTURED IMAGES FOR CHLOROPHYLL AND NITROGEN CONTENT ESTIMATION OF TEA (CAMELLIA SINENSIS L. KUNTZE) LEAVES Wahono, Wahono; Indradewa, Didik; Sunarminto, Bambang Hendro; Haryono, Eko; Prajitno, Djoko
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 4, No 1 (2019): April
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4479.639 KB) | DOI: 10.22146/ipas.40693

Abstract

A lot of digital image techniques to assess crop agronomic character have been developed.  Most of those techniques are based on non-visible light equiped cameras, such as infared wavelengths. This research was aimed to examine the use of commercial digital camera with sensor range in visible light spectrum using CIE L*a*b* color space to estimate chlorophyll and nitrogen content of tea leaf.  Data was collected from an experiment of nitrogen dossage levels on 3 years after prunning tea crops.  The result shows that Lb* Difference Simple Index (LI), a*b* Difference Simple Index (AI), and  a* Vegetation Index (VIA) can be used to estimate tea leaf chlorophyll and nitrogen content.  The relationship between VIA and tea leaf nitrogen content was defined on linear equation y = 1.8382x2 - 0.3099x + 3.0658 with determinant coefficient R² = 0.71.
Distribusi Ruang Insektisida Heptaklor di Lahan Pertanian Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Jatmiko, Sigit Yuli; Martono, Edhi; Prajitno, Djoko; Worosuprojo, Suratman
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.11751

Abstract

Heptachlor (C10H5Cl7) was an organochlorine insecticide compound, which was considered POPs (Persistent Organic Pollutants) that is highly toxic to human. Since 2007 heptachlor insecticide was banned in Indonesia because of its chronic toxicity, persistency, bioaccumulative, and carcinogenic natures. But its illegal use is still rampant because its dark market availability, cheap price, and is effective in eradicating the pest. Furthermore, there is also lack of assertiveness of regulations and applicable laws. The objectives of the research were to identify pollution, pollution level, spatial distribution, and its correlation with soil chemicals properties, as well as the risks to health caused by heptachlor use. Research was conducted in 2010 by a survey on agricultural land in the regency of Bantul, Province of Yogyakarta Special Region on a 144 point grids. The tool used to determine heptachlor residue was GC-MS chromatography using Shimadzu GC-2014. The analysis showed that heptachlor was detected in soil, water and in agricultural products. Heptachlor residues were detected in 137 locations (95%) of 144 agricultural land sites, and the water residues on 11 sites exceeded the levels set according to levels of Government Regulation No. 82 of 2001. Heptachlor residue levels in agricultural products (rice, corn, soybeans, green beans, peanuts, and shallot) exceeded the maximum residue limit (MRL) established by the ISO (7313:2008). Soil acidity (pH) has very significant effect on the process of dissipation (loss) of heptachlor (p <0.01) in the soil. Based on the rules of Cambardella distribution, it was discovered that heptachlor had spatial autocorrelation with nugget-sill ratio of 35.7%. Heptachlor polluted rice in 37 locations with hazard index values >1.Heptaklor (C10H5Cl7) adalah jenis insektisida organoklorin anggota senyawa POPs (Persistent Organic Pollutant) yang sejak tahun 2007 sudah dilarang penggunaannya di Indonesia karena sifatnya yang toksik kronis, persisten, bioakumulatif, dan pemicu kanker (karsinogenik). Namun karena harganya yang murah dan efektif membasmi hama, maka masih banyak digunakan selain karena kurang tegasnya peraturan dan hukum yang berlaku. Tujuan penelitian adalah identifikasi, tingkat cemaran, bentuk sebaran ruang, korelasinya dengan sifat kimia tanah, serta risikonya terhadap kesehatan. Penelitian dilakukan pada tahun 2010 secara survei di lahan pertanian di Kabupaten Bantul, Provinsi DIY pada 144 titik grid. Alat yang digunakan analisis residu adalah GC-2014 Shimadzu. Hasil analisis menunjukkan heptaklor terdeteksi dalam tanah, air dan dalam produk pertanian. Residu heptaklor terdeteksi di 137 lokasi (95%) dari 144 lokasi lahan sawah yang di survei, dan 11 lokasi kadarnya dalam air melampui kadar yang ditetapkan menurut PP Nomor 82 Tahun 2001. Kadar residu heptaklor pada produk pertanian (beras, jagung, kedelai, kacang hijau, kacang tanah, dan bawang merah telah melebihi batas maksimum (BMR) yang ditetapkan oleh oleh SNI (7313:2008). Reaksi tanah (pH) berpengaruh sangat nyata terhadap proses disipasi (hilangnya) heptaklor (p<0,01) di dalam tanah. Berdasarkan kaidah Cambardella sebaran heptaklor mempunyai autokorelasi keruangan dengan nisbah nugget-sill 35,7%). Heptaklor telah mencemari di 37 lokasi produsen beras dengan nilai Indeks Bahaya (IB)>1.
Penilaian Kompetisi dan Keuntungan Hasil Tumpangsari Jagung Kedelai di Bawah Tegakan Kayu Putih Ceunfin, Syprianus; Prajitno, Djoko; Suryanto, Priyono; Putra, Eka Tarwaca Susila
Savana Cendana Vol 2 No 01 (2017): Savana Cendana (SC) - January 2017
Publisher : Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kompetisi dan keuntungan hasil dalam tumpangsari jagung varietas pioner 21 dan kedelai varietas grobogan dibawah tegakan hutan kayu putih. Penelitian ini menggunakan metode percobaan lapangan yang terdiri atas dua faktor dan dirancang dengan menggunakan Rancangan Petak ber-alur. Faktor pertama sebagai petak utama berupa Posisi bidang olah dari kedudukan tegakan kayu putih (Zona) dan faktor kedua sebagai anak petak adalah jarak tanam jagung. Petak utama berupa zona bidang olah terdiri dari 2 aras yaitu zona 1 terletak pada posisi bidang olah yang berjarak 0-1 m dari kedudukan tegakan (Z1); zona 2 terletak pada posisi bidang olah yang berjarak 1-2 m dari kedudukan tegakan (Z2), Anak petak adalah jarak tanam jagung yang terdiri atas 3 aras yaitu: 50 cm x 20 cm (J1), 70 cm x 20 cm (J2) dan 90 cm x 20 cm (J3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tumpangsari tanaman jagung dan kedelai dibawah tegakan kayu putih sangat menguntungkan.Tanaman jagung lebih agresif dan competitif daripada tanaman kedelai sehingga menyumbangkan keuntungan pada land equivalent ratio total dan area time equivalent ratio dan Actual Yeild loss total pada perlakuan zona pengolahan lahan maupun jarak tanaman. Zona pengolahan lahan 0-1 m dari kedudukan pohon kayu putih&nbsp; memberikan hasil land equivalent ratio total, area time equivalent ratio, dan actual yield loss total paling tinggi yaitu sebesar 1,71, 1,66 dan 0,82 sedangkan&nbsp;&nbsp; Jarak tanam 50 cm x 20 cm memberikan hasil land equivalent ratio total, area time equivalent ratio, dan actual yield loss total paling tinggi yaitu sebesar 2,27, 2,25 dan 1,58. &nbsp;©2017 dipublikasikan oleh Savana Cendana.
The Study on The Seed Storability of Black Soybean (Glycine max L. Merrill) Intercropped with Sweet Sorghum (Sorghum bicolor L. Moench) Purwanti, Setyastuti; Immawati, Dhika Rizky; Prajitno, Djoko
PLANTA TROPIKA: Jurnal Agrosains (Journal of Agro Science) Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/pt.2018.088.116-121

Abstract

The experiment was aimed to know how to maintain seed quality during storage by planting black soybean and sweet sorghum in row using an intercropping system. This experiment was conducted in the Laboratory of Seed Technology, Faculty of Agriculture, Gadjah Mada University, Yogyakarta, Indonesia, from November 2013 until April 2014. This experiment was single factor experiment arranged in CRD (Completely Randomized Design) with four treatments and four replications. The treatments consisted of monoculture of black soybean, intercropping between black soybean and sweet sorghum with various row ratios, i.e. 3:1, 4:1, and 6:1. The seeds were stored as many as 250 g for each treatment in hermetic plastic at normal temperature (27-28 ºC) for five months. Seed quality testing was performed every month. Data collected included moisture content, germination, vigor index and vigor hypotetical of the seeds. The result of this experiment showed that the quality of black soybean seeds yielded from intercropping with sweet sorghum gave the same effect compared to the black soy bean seeds yielded from monoculture. Seed quality of black soybean planted in intercropping and monoculture system could be well maintained until the fourth months of storage. 
CIE L*a*b* Color Space Based Vegetation Indices Derived from Unmanned Aerial Vehicle Captured Images for Chlorophyll and Nitrogen Content Estimation of Tea (Camellia sinensis L. Kuntze) Leaves Wahono, Wahono; Indradewa, Didik; Sunarminto, Bambang Hendro; Haryono, Eko; Prajitno, Djoko
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 4, No 1 (2019): April
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4479.639 KB) | DOI: 10.22146/ipas.40693

Abstract

A lot of digital image techniques to assess crop agronomic character have been developed.  Most of those techniques are based on non-visible light equiped cameras, such as infared wavelengths. This research was aimed to examine the use of commercial digital camera with sensor range in visible light spectrum using CIE L*a*b* color space to estimate chlorophyll and nitrogen content of tea leaf.  Data was collected from an experiment of nitrogen dossage levels on 3 years after prunning tea crops.  The result shows that Lb* Difference Simple Index (LI), a*b* Difference Simple Index (AI), and  a* Vegetation Index (VIA) can be used to estimate tea leaf chlorophyll and nitrogen content.  The relationship between VIA and tea leaf nitrogen content was defined on linear equation y = 1.8382x2 - 0.3099x + 3.0658 with determinant coefficient R² = 0.71.
DISTRIBUSI SPASIAL TIMBAL DI LAHAN PERTANIAN DAN BIOAKUMULASI DALAM TANAMAN KABUPATEN BANTUL Jatmiko, S.Y.; Martono, Edhi; Prajitno, Djoko; Worosuprojo, Suratman
Agros Journal of Agriculture Science Vol 14, No 1 (2012): edisi Januari
Publisher : Faculty of Agriculture, Janabadra University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.186 KB)

Abstract

Logam berat dalam tanah, air, dan tanaman patut diperhatikan karena sifat racun dan potensi karsinogeniknya, mobilitasnya cepat berubah, cenderung kumulatif dalam tubuh manusia. Tujuan penelitian: mengidentifikasi tingkat cemaran, bentuk sebaran ruang, korelasinya dengan sifat kimia tanah, dan risikonya terhadap kesehatan. Penelitian dilakukan tahun 2010 secara survei di lahan pertanian Bantul (144 titik grid). Alat untuk menentukan kadar timbal adalah AAS. Hasil: frekuensi timbal di sawah 97,9 persen dan frekuensi terdeteksi di air sawah 62,9 persen, kadar maksimum 21,34 mg per kg dan 0,128 mg per l, melebihi baku mutu. Sebaran timbal berautokorelasi keruangan lemah (nugget/sill &gt;75 persen). Sifat kimia tanah yang berkorelasi nyata (p&lt;0,05) adalah kadar C-organik dan potensial redoks (Eh) dengan keberadaan timbal dalam tanah. Nilai indeks bahaya (IB) &gt; 1 cemaran timbal ditemukan di sembilan lokasi produsen beras, satu lokasi produsen jagung, dan tiga lokasi produsen kacang tanah. Lokasi produsen kedelai, kacang hijau, dan bawang merah IB&lt;1. Lokasi produsen pertanian dengan IB&gt;1 mengindikasikan produk pertanian berisiko mengganggu kesehatan jika dikonsumsi jangka panjang, sebaliknya lokasi dengan indeks bahaya (IB) &lt;1, tidak berisiko terhadap kesehatan sehingga aman dikonsumsi
PEMANFAATAN BAHAN ALAMI SEBAGAI PENGHAMBAT NITRIFIKASI UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PEMUPUKAN NITROGEN PADI SAWAH Pramono, Joko; Prajitno, Djoko; Tohari, Tohari; Shiddieq, Dja?far
Agrin Vol 15, No 2 (2011): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.102 KB) | DOI: 10.20884/1.agrin.2011.15.2.185

Abstract

Pemupukan merupakan upaya untuk meningkatkan ketersediaan hara dalam tanah guna menunjangpertumbuhan tanaman yang optimal. Sistem usahatani padi sawah intensif di Indonesia, sejak era revolusi hijauhingga sekarang tidak terlepas dari peran pupuk kimia yang bernama urea. Penelitian bertujuan untukmengetahui pengaruh pemberian bahan penghambat nitrifikasi alami terhadap pertumbuhan, hasil dan efisiensipemupukan N pada tanaman padi. Penelitian rumah kaca untuk mengetahui efektivitas pengunaan pupuk N +nitrat inhibitor (NI) alami dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Rancanganyang digunakan adalah Acak Lengkap dengan perlakuan sebagai berikut; N0 = tanpa urea tanpa NI (kontrol);N1 = urea tanpa NI; N2 = urea + NI dari bubuk kulit bakau pada dosis 20 % dari urea; N3 = urea + NI daribubuk kulit bakau pada dosis 30 % dari urea; N4 = urea + NI dari bubuk biji mimba pada dosis 20 % dari urea,dan N5 = urea + NI dari bubuk biji mimba pada dosis 30 % dari urea, diulang sebanyak 4 kali. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa (1) Perlakuan NI rata-rata mampu mempertahankan nilai kandungan klorofil pada daunpadi pada umur 60 hst berada diatas batas kritis, (2) Perlakuan terbaik adalah bahan NI yang berasal dari serbukbiji Nimba dengan takaran 20 % dari dosis urea yang diberikan, yang memberikan kenaikan hasil sebesar 9,6 %,dan (3) Penggunaan pupuk urea + serbuk biji Nimba 20 % lebih efektif dengan nilai efektivitas (RAE) sebesar34 % dan efisiensi agronomi (AE) sebesar 50 g g-1 dan lebih tinggi dibandingkan perlakuan yang lain.Kata kunci : Nitrat inhibitor, efisiensi pemupukan N, bahan alam ABSTRACTFertilization is an effort to improve nutrient availability in the soil to support optimal plant growth.Intensive rice farming systems in Indonesia, since the green revolution era to the present is inseparable from therole of chemical fertilizer called urea. The study aims to determine the effect of giving the material a naturalnitrification inhibitor on growth, yield and N fertilizer efficiency in rice plants. Greenhouse studies to determinethe effectiveness of the use of N fertilizer + nitrate inhibitors (NI) carried out in greenhouse Faculty ofAgriculture, Gadjah Mada University. The design used was Randomized Complete with treatments as follows:N0 = no urea without NI (control); N1 = urea without NI: N2 = urea + NI of mangrove skin powder at doses of20% of urea; N3 = urea + NI from mangrove skin powder at doses of 30% of urea; N4 = urea + NI of neemseed powder at doses of 20% of urea, and N5 = urea + NI of neem seed powder at doses of 30% of urea,repeated 4 times. Results showed that (1) NI treatment on average is able to maintain the value of the content ofchlorophyll in the leaves of rice at the age of 60 DAT is above the critical limit, (2) The best treatment is a NIfrom Neem seed powderwith a dose of 20% of the dose of urea, which gives rise to a yield of 9.6%, and (3)Theuse of urea + 20% Neem seed powder is more effective with the effectiveness (RAE) by 34% and agronomicefficiency (AE) of 50 g g-1 and higher than the other treatments.Key words: Nitric inhibitor, N fertilization efficiency, natural materials