Articles

Found 40 Documents
Search

LOGAM PB PADA AVICENNIA MARINA FORSSK, 1844 (ANGIOSPERMS : ACANTHACEAE) DI LINGKUNGAN AIR, SEDIMEN, DI PESISIR TIMUR SEMARANG Testi, Ega Hagita; Soenardjo, Nirwani; Pramesti, Rini
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v8i2.25212

Abstract

Akar Avicennia marina merupakan bagian yang pertama terpapar logam berat timbal. Akar ini menyerap dan menyebarkan keseluruh bagian tanaman. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji kandungan logam berat Pb dalam akar dan daun A. marina disekitar Kawasan Perairan Industri Terboyo, Semarang. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dan penentuan lokasi dengan metode purposive sampling. Pengambilan sampel meliputi air, sedimen, akar, dan daun mangrove di sepanjang aliran Sungai Sringin, Sungai Babon, dan Sungai Tenggang. Analisis kandungan logam berat di air dilakukan di Laboratorium Balai Lingkungan Hidup (BLH). Analisis kandungan logam berat di sedimen, akar, daun muda dan daun tua dilakukan di Laboratorium Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) dengan menggunakan Atomic Absorbtion Spectrophotometry (AAS). Kandungan logam berat dalam air <0,00-0,01 mg/L, sedimen <0,03 - 6,23 mg/kg, akar 0,20-0,31 mg/kg, daun muda 0,10-0,13 mg/kg, dan daun tua 0,10-0,15 mg/kg. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kandungan logam berat di air diatas baku mutu (KepMen LH No. 51, 2004) sebesar 0,008 mg/L sedangkan sedimen dibawah baku mutu (National Oceanic and Atmospheric Administration, 1999) sebesar 30,24 ppm. ABSTRACT : The roots of Avicennia marina was a plant that can be accumulated by heavy metals. This  plant roots were first exposed to heavy metals, especially heavy metals Pb, was the root. The roots would absorb and spread in all parts of the plant This study was aimed to examine the heavy metal content of Pb in the roots and leaves of A. marina around Area of Terboyo Industrial Water, Semarang. The method used in this research was descriptive method and the location decision with  purposive sampling method. The sampling included were water, sediments, roots, mangrove leaves along Sringin River, Babon River, and Tenggang River. The analysis of heavy metal content in the water was performed in the Laboratory of Environment (BLH). The analysis of heavy metal content in the sediment, the roots, young leaves and old leaves were conducted in Laboratory Technology Center Industrial Pollution Prevention (BBTPPI) using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Heavy Metal contained in water < 0,00 to  0,01 mg/L, sediment < 0,030 to 6,23 mg/kg, the roots of A. marina were 0,20 to 0,31 mg/kg, the young leaves were 0,10 to 0,13 mg/kg, and the old leaves 0,10 to 0,15 mg/kg. the result of this research can be concluded that the heavy metal content  in water were high quality standard (KepMen LH No. 51, 2004) of 0,008 mg/L and in sediments below was
STRUKTUR DAN KOMPOSISI GASTROPODA PADA EKOSISTEM MANGROVE DI KECAMATANG GENUK KOTA SEMARANG Tarida, Tarida; Pribadi, Rudhi; Pramesti, Rini
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v7i2.25899

Abstract

ABSTRAK : Kawasan mangrove di pesisir Kecamatan Genuk Kota Semarang merupakan daerah dengan tingkat kegiatan manusia yang tinggi. Lahan ini banyak dikonversi menjadi lahan pemukiman, perindustrian dan tambak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan komposisi gastropoda pada kawasan mangrove. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli hingga September 2015. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dan pengumpulan sampel menggunakan Sample Survey Method. Pengambilan sampel dilakukan pada 3 lokasi, masing-masing lokasi terdiri dari 3 transek yang berukuran 5m x 5m. Sampel yang diperoleh diawetkan dan diidentifikasi (FAO Volume 1, 1998). Hasil penelitian diperoleh 9 spesies gasropoda dari 5 famili yaitu Sphaerassiminea miniata (Assiminidae), Cassidula nucleus, C.aurisfelis (Ellobidae), Littorina melanostoma (Littorinidae), Neritina violacea (Neritidae), Telescopium telescopium, Cerithidea obtusa, Terebralia palustris dan Pleuroploca trapezium (Potamididae). Spesies yang dominan adalah C.nucleus dan C.aurisfelis. Rata-rata kelimpahan gastropoda di seluruh lokasi adalah 98 ind/25m² hingga 155 ind/25m². Indeks keanekaragaman (H?) sebesar 0,96 ? 1,17 termasuk kedalam kategori rendah-sedang. Indeks keseragaman (e) sebesar 0,72-0,80 termasuk dalam kategori sedang-tinggi. Indeks dominasi (c) menunjukkan tidak adanya spesies yang mendominasi pada lokasi penelitian. Secara keseluruhan pola sebaran gastropoda menunjukkan sebaran yang mengelompok (Clummped). Dan nilai indeks kesamaan komunitas antar lokasi yaitu 54,5% hingga 75%, berkategori sedang-tinggi. ABSTRACT : The area of mangroves in the coastal Kecamatan Genuk are high levels of human activity. Mangrove area were converted to settlements, industry and aquaculture. The purpose of this research would to determine the implementation about the structure and composition of  gastropod community at mangrove area. This research was conducted during July to September 2015. The method of this reseach is descriptive method and the collection of samples using the Sample Survey Method. This reseach divided at 3 locations, sampling performed measuring 5 m x 5 m. The samples obtained were preserved and identified (FAO book Volume 1, 1998). Results of this reseach was found 9 gasropods from 5 families namely, Sphaerassiminea miniata (Assiminidae), Cassidula nucleus, C.aurisfelis (Ellobidae), Littorina melanostoma (Littorinidae), Neritina violacea (Neritidae), Telescopium telescopium, Cerithidea obtusa, Terebralia palustris and Pleuroploca trapezium(Potamididae). The most dominant species is C.nucleus and C.aurisfelis. The average gastropod abundance of all locations ranged between 98 ind/25 m² up to 155 ind/25 m². The index of diversity (H') ranging between 0.96 ?1.17 including low-medium category. The uniformity index (E) ranges from 0.72-0.80 is included in the category of medium-high. Dominance index (c) indicates the absence of a dominant species this research. The pattern of distribution gastropods indicating a clumped distribution. While the index value similarity between Community research location ranged from 54.5% to 75%, medium-high categories.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK METANOL RUMPUT LAUT GRACILARIA VERRUCOSA, GREVILLE, 1830 (FLORIDEOPHYCEAE : GRACILARIACEAE) DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU JEPARA Widodo, Radhian Wikanarto; Subagiyo, Subagiyo; Pramesti, Rini
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v8i3.25271

Abstract

Infeksi bakteri patogen menjadi masalah kesehatan dunia. Antibiotik untuk penanggulangan infeksi menjadikan bakteri resisten karena pemakaiannya tidak sesuai dosis. Permasalahan ini dapat diatasi salah satunya dengan pencarian sumber antibiotik baru termasuk diantaranya pada rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antibakteri ekstrak metanol G. verrucosa terhadap Escherichia coli, Bacillus cereus, Staphylococcus epidermidis, Pseudomonas aeruginosa, Vibrio anguillarum, dan Vibrio alginolyticus. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental laboratoris. Sampel rumput laut hasil budidaya Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara dikeringkan kemudian dimaserasi dengan metanol selama 2x24 jam. Aktivitas antibakteri ekstrak diuji pada konsentrasi 100 µg/disk, 50 µg/disk, 25 µg/disk, dan 10 µg/disk kemudian dilakukan uji fitokimia. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak metanol G. verrucosa tidak memiliki aktivitas antibakteri. Uji fitokimia menunjukkan ekstrak mengandung flavonoid, saponin, steroid, dan triterpenoid. Pathogenic bacterial infection become a world health problem. Antibiotics for prevention of infection make bacteria resistant due to the incorrect dosage. One of these problems can be overcome by finding a new source of antibiotics including seaweed. This study aims to determine the antibacterial activity of methanol extract of G. verrucosa against Escherichia coli, Bacillus cereus, Staphylococcus epidermidis, Pseudomonas aeruginosa, Vibrio anguillarum, and Vibrio alginolyticus. Laboratory experimental method was used in this study. Seaweed samples from the cultivation at Brackish Water Aquaculture Center (BBPBAP) Jepara were dried and then macerated with methanol for 2x24 hours. The antibacterial activity of the extract was tested at concentration of 100 µg / disk, 50 µg / disk, 25 µg / disk, and 10 µg / disk then phytochemical tests were carried out. The results of antibacterial activity test showed that G. verrucosa methanol extract did not have antibacterial activity. The phytochemical test showed that seaweed extract contained flavonoids, saponins, steroids, and triterpenoids
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN RUMPUT LAUT ACANTHOPHORA MUSCOIDES (LINNAEUS) BORY DARI PANTAI KRAKAL GUNUNG KIDUL YOGYAKARTA Akbar, Muhamad Rahadian; Pramesti, Rini; Ridlo, Ali
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v7i1.25882

Abstract

ABSTRAK : Acanthophora muscoides merupakan salah satu rumput laut merah yang berpotensi sebagai senyawa bioaktif yang dapat digunakan sebagai antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak metanol dan n-heksan, kadar total fenolat serta kadar pigmen (klorofil a & karotenoid) dari sampel segar A. muscoides. Penentuan aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode transfer elektron dengan DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl) sebagai radikal bebas. Penentuan kadar total fenolat menggunakan reagen Folin-Ciocalteu dengan asam galat sebagai standar dan penentuan kandungan pigmen menggunakan prinsip spektofotometri pada ? 663 nm, 646 nm dan 470 nm. Hasil penelitian menunjukkan A. muscoides memiliki aktivitas antioksidan sangat lemah dengan nilai IC50 ekstrak metanol 325,47 ppm dan ekstrak n-heksan 351,27 ppm, sedangkan kadar total fenolat pada masing-masing ekstrak 22,68 dan 46,19 (mg GAE/g ekstrak), kadar klorofil a 7,72 dan 24,93 (mg/g sampel), dan kadar karotenoid 28,52 dan 68,55 (µ mol/g sampel).   ABSTRACT : Acanthophora muscoides is one of the red seaweed that is potentially used as a natural antioxidant. This study aims to determine the antioxidant activity of methanol and n-hexane extract, and determine the total phenolic content and levels of pigments (chlorophyll and carotenoid) of fresh samples A. muscoides. Antioxidant activity measured using electron transfer method with DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl) as free radicals, while the determination of total phenolic content using the Folin-Ciocalteu reagent with gallic acid as standard and determination of pigment content measured by spectrophotometer at  a wavelength of 663 nm, 646 nm and 470 nm. The result showed IC50 value of methanol extract was 325.47 ppm and n-hexane extract was 351.27 ppm which means that A. muscoides have very weak antioxidant activity. Total phenolic content in each extract were 22.68 and 46.19 (mg GAE/g extract), chlorophyll a 7.72 and 24.93 (mg/g sample) and carotenoid 28.52 and 68.55 (? mol/g sample).
PRODUKTIVITAS DAN DEKOMPOSISI SERASAH DAUN MANGROVE DI KAWASAN VEGETASI MANGROVE PASAR BANGGI, REMBANG - JAWA TENGAH Leksono, Satria Sakti Budi; Soenardjo, Nirwani; Pramesti, Rini
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v3i4.11414

Abstract

Produksi serasah mangrove merupakan bagian yang penting dalam transfer bahan organik, karena unsur hara yang dihasilkan dari proses dekomposisi serasah sangat penting dalam pertumbuhan mangrove dan sebagai sumber detritus bagi ekosistem laut dan estuari. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat produktivitas serasah dan kecepatan dekomposisi serasah daun mangrove di kawasan vegetasi mangrove Pasar Banggi. Hasil penelitian menunjukan bahwa rerata total produksi serasah sebesar 617,34 gr/100 m/2 minggu. Daun merupakan penyumbang terbanyak rerata total produksi serasah dan Rhizopora mucronata. lebih banyak menyumbangkan serasah dibandingkan dengan Soneratia alba. Sedangkan pada pengamatan proses R. mucronata terdekomposisi lebih cepat dibandingkan S. alba
PENGARUH PERENDAMAN LARUTAN KOH DAN NAOH TERHADAP KUALITAS ALGINAT RUMPUT LAUT SARGASSUM POLYCYCSTUM C.A. AGARDH Mirza, Mohamad; Ridlo, Ali; Pramesti, Rini
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v2i1.2053

Abstract

Sargassum polycystum seaweed is a type of brown algae that contains alginate. Alginate from S. polycystum did not optimally and alginate has an importnat role from a variety of industries. Alginate ekstraction obtained by submersion wes using NaOH and KOH solvent, then continued using Na2CO3 solvent. The purpose of this research was to determine the effect of immersion with KOH and NaOH with concentration 0,3%, 0,5% and 0,7% solution to the quality alginate from brown seaweed S. polycystum. Experimental design used was Rancangan Acak Lengkap (RAL). The results showed that aging of the KOH solution has a lower water content and higher viscosity than NaOH solution. The concentration of the solution used also affects the yield, moisture content, ash content and viscosity alginate S. polycystum. The higher concentration of the solution then the yield, moisture content and lower ash content, while viscosity alginate increased. The best results obtained in the treatment with a solution of KOH concentration of 0.7%.
HASIL KANDUNGAN AGAR EKSTRAKSI NON-ALKALI GRACILARIA SP. YANG TUMBUH DI LINGKUNGAN BERBEDA Andiska, Prismabella Wilis; Susanto, AB; Pramesti, Rini
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v8i4.24860

Abstract

ABSTRAK: Gracilaria sp. merupakan rumput laut merah penghasil agar yang banyak digunakan untuk industri pangan maupun non pangan lainnya. Ekstraksi ini umumnya menggunakan alkali yang berdampak pada lingkungan dan keamanan bahan pangan. Informasi tentang ekstraksi perlakuan non alkali di Indonesia untuk industri pangan diduga belum ada sehingga penelitian ini perlu dilakukan. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji apakah ekstraksi non alkali dari Gracilaria sp. dapat menghasilkan agar, rendemen, kandungan proksimat serta dianalisis FTIR dari kedua lokasi yang berbeda (laut dan tambak). Metode ekstraksi dilakukan dengan merebus sampel kering hingga didapatkan agar, yang selanjutnya dikeringkan dan dijadikan tepung. Hasil penelitian menunjukkan ekstraksi perlakuan non alkali dari kedua lokasi dapat menghasilkan rendemen dengan nilai rendah (14-15,31%). Kadar air tertinggi (15,40±0,59%) terdapat pada agar sampel dari laut, kadar abu tertinggi (41,45±0,59%) pada sampel kering dari laut, kadar protein tertinggi (8,59±0,26%) pada sampel kering dari tambak, kadar lemak tertinggi (0,63±0,13%) pada agar sampel dari laut, dan karbohidrat tertinggi (67,19±0,86%) pada sampel kering dari tambak. Hasil FTIR menunjukkan agar mengandung komposisi gugus galaktosa 3,6-anhydro-L-galaktosa. ABSTRACT: Gracilaria sp. is a red seaweed which is known as an agarophyte and widely used for food and other non-food industries. Generally agar extraction uses alkali which has an environmentally impact and food safety. Non-alkaline extraction treatment for food grade is still under observed in Indonesia. The purpose of this research is to access whether agar extraction of Gracilaria sp. can be carried out, as well as the amount of agar yield, proximate contents and FTIR analysis from two different locations. The extraction method is done by boiling a dry sample to obtain agar, which is then dried and turned into flour. The results showed that the extraction of non-alkaline treatment could be carried out on Gracilaria sp. with low yield (14-15.31%). The highest water content (15.40±0.59%) found in agar from dried seaweed form the sea, highest ash (41.45±0.91%) in dried seaweed from the sea, highest protein (8.59±0.26%) in dried cultured seaweed, highest fat (0.63±0.13%) in agar from the sea, and highest carbohydrate (67.19±0.86%) in dried cultured seaweed. FTIR analysis showed that the agars contained a composition of galactose groups of 3,6-anhydro-L-galaktose. 
PENGARUH PERBEDAAN JENIS DAN KONSENTRASI LARUTAN ALKALI TERHADAP KEKUATAN GEL DAN VISKOSITAS KARAGINAN KAPPAPHYCUS ALVAREZII, DOTY Romenda, Ardiawan Pandu; Pramesti, Rini; Susanto, Antonius Budi
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v2i1.2065

Abstract

Carrageenan is a seaweed sap extracted by water or alkali solution from certain species Rhodophyceae class (red algae). The raw materials are used in various food and non-food industrial. The process of making SRC performed by using alkali type strong base KOH and NaOH with 4%, 6% and 8% concentration. Analysis is measured gel strength and viscosity of each type and concentration. KOH alkali treatment values are 4, 6 and 8% of the gel strength is 192.00 ± 1.12 g/m²; 630.71 ± 10.32 g/m²; 385.85 ± 3.70 g/m². NaOH 4, 6 and 8% of the gel strength is 184,63 ± 4,48 g/m²; 321,26 ± 46,12 g/m²; 452,24 ± 125,45 g/m². KOH alkali treatment values are 4, 6 and 8% of the viscosity was 22.24 ± 0.20 cPs; 24.61 ± 0.3 cPs; 20.00 ± 0.15 cPs; NaOH 4, 6 and 8% of the viscosity is cPs 22.58 ± 0.26; 25.07 ± 0.17 cPs; 25.07 ± 0.17 cPs. Based on the results of the study the highest gel strength is at 6% KOH and highest viscosity at 6% NaOH.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK RUMPUT LAUT TURBINARIA DECURRENS BORY DE SAINT-VINCENT DARI PANTAI KRAKAL, GUNUNG KIDUL, YOGYAKARTA Islami, Faishal; Ridlo, Ali; Pramesti, Rini
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v3i4.11422

Abstract

Turbinaria decurrens merupakan salah satu rumput laut cokelat yang belum banyak dimanfaatkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui potensi antioksidan T. decurrens dari ekstrak n-heksan (non-polar) dan metanol (polar), menentukan kadar total fenol dan biopigmen (klorofil a, klorofil b, dan karotenoid).Materi yang digunakan adalah T. decurrens yang diambil dari Pantai Krakal, Gunung Kidul, Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif eksploratif. T. decurrensdimaserasi dengan pelarut metanol, diuapkan dengan rotary evaporator dan dipartisi dengan pelarut n-heksan menggunakan corong pemisah. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan nilai IC50.Penentuan nilai IC50 ekstrak kasar metanol dan n-heksan T. decurrens dilakukan dengan metode penangkapan radikal DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl) pada ?=517 nm. Kadar total fenol diuji dengan menggunakan metode Folin-Ciocalteu dengan asam galat sebagai standar pada ?=725 nm, kadar klorofil diukur pada ?=663 nm dan ?=646 nm dan karotenoid pada ?=470 nm.Data dianalisis menggunakan analisa ragam Independent Samples Test.Hasil penelitian menunjukkan aktivitas antioksidan ekstrak metanol dengan nilai IC50 sebesar 670,603 ppm lebih tinggi dibandingkan ekstrak n-heksan (1201,853 ppm). Kadar total fenolik (61,127 mgGAE/g ekstrak), klorofil a (1,518 mg/g), dan klorofil b (1,558 mg/g) ekstrak n-heksan lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak metanol. Kadar total karotenoid ekstrak T. decurrens hanya ditemukan dalam ekstrak metanol (0,459µmol/g). Hasil ini menunjukkan total karotenoid pada ekstrak metanolT. decurrens berkaitan erat dengan aktivitas antioksidan yang tergolong ke dalam antioksidan lemah
PENGARUH RENDAHNYA INTENSITAS CAHAYA TERHADAP CAULERPA RACEMOSA (FORSSKÃ¥L) 1873 (ULVOPHYCEAE:CAULERPACEAE) Sitorus, Elfonso Robby; Santosa, Gunawan Widi; Pramesti, Rini
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v9i1.25376

Abstract

ABSTRAK: Caulerpa racemosa merupakan spesies rumput laut hijau (Chlorophyta) yang hidup di daerah pasang surut maupun daerah yang bebas dari pasang surut. Permintaan pasar yang setiap tahun meningkat, sehingga dilakukan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas cahaya yang berbeda pada pertumbuhan C. racemosa. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratoris dan rancangan percobaan yang dipakai adalah Rancanagan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 2 ulangan. Perlakuan pada penelitian ini dengan intensitas cahaya pada A= ± 1000 lux; B= ± 500 lux; C= ± 300 lux. Pencapaian berat basah rata-rata sebagai berikut: A= ± 0,84 gram ; B= ± 1,06 gram ; C= ± 1,13 gram. Laju Pertumbuhan Spesifik (SGR) C. racemosa adalah: A= 1,29 ± 0,04% per hari ; B= 1,12 ± 0,06% per hari ; C= 0,4 ± 0,09% per hari. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan intensitas cahaya yang berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap berat dan laju pertumbuhan spesifik C. racemosa (p<0,01). ABSTRACT: Caulerpa racemosa is a species of green seaweed (Chlorophyta) that live in tidal areas and areas free from tides. The market demand of C. racemosa continues to increase, it is necessary to conduct cultivation for its production. The purpose of this research was to determine the effect of different light intensities on the growth of C. racemosa. This research used an experimental laboratory method and the experimental design used was a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 3 treatments and 2 replications. The treatment in the research was by measuring the light intensity at A = ± 1000 lux; B = ± 500 lux; C = ± 300 lux. The results showed that the average wet weight gained was : A = ± 0.84 gram ; B = ± 1.06 gram ; C = ± 1.13 grams. Specific growth rates of C. racemosa were: A = 1.29 ± 0.04% per day ; B = 1.12 ± 0.06% per day ; C = 0.4 ± 0.09% per day. The results of this study indicated that the treatment of different light intensities significantly affected the specific weight and grow rate of C. racemosa (p < 0.01).