Articles

Found 24 Documents
Search

ALOKASI AIR DAN PENGEMBANGAN PRASARANA PENYEDIAAN AIR BAKU DI DAS CILIMAN Taufik, Isvan; Purwanto, Muhammad Yanuar J.; Pramudya, Bambang; Saptomo, Satyanto K.
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Program Studi Ilmu Lingkungan,Program Pascasarjana, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.638 KB) | DOI: 10.14710/jil.18.1.171-184

Abstract

Ciliman Watershed is one of the second largest watersheds in Banten Province and is part of the Ciliman-Cibungur River Region, besides being a rice barn in Banten Province, its development has accelerated since the development of Panimbang Airport, Tanjung Lesung Special Economic Zone, and Serang Toll Road Development ?Considering. Therefore, it is necessary to regulate the water allocation for various needs and the possibility of developing water supply infrastructure. WEAP is one of the hydrological software in evaluating and planning the water balance of a region. The WEAP approach method operates with the basic principle of water balance and allows the creation of scenarios based on existing conditions to investigate the impact of policies or alternative assumptions in the use and availability of water in the future.The purpose of this study includes; (1) Analyzing the potential availability of raw water in each Ciliman Sub-watershed, (2) Analyzing the raw water needs of the Ciliman watershed, (3). Analyzing water allocation for each raw water requirement in the Ciliman watershed to be fulfilled and (4). Analyzing the potential for developing raw water infrastructure in the Ciliman watershed. The types of data used in this study are secondary data including: (1) monthly rainfall data from the Ciliman reservoir rainfall observation station, Gunung Kencana, Bojong Manik and KP3 at year 1998 - 2015, (2) population data of Ciliman watershed region, (3) the amount of raw water needs data, (4) Irrigation networks around the Ciliman watershed data (5) maps of the Ciliman watershed, (6) Tools used in this study include computer units and WEAP software. The method used in this study basically is the water allocation based on the water balance and determining the order of priority needs. The results analysis obtained that based on 5 scenarios with 3 alternative dam construction the most optimal use of water is fifth scenario with the development of  an agricultural area of 3,200 ha and an average electricity generation potential of 0.96 MW in a year.
IDENTIFICATION IDENTIFICATION OF FACTORS THAT INFLUENCE CARBON EMISSIONS IN TROPICAL PEATLAND Yahya, Vanda Julita; Sabiham, Supiandi; Pramudya, Bambang; Las, Irsal
Biospecies Vol 12 No 2 (2019): Biospecies Vol. 12 No. 2, July 2019
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.871 KB) | DOI: 10.22437/biospecies.v12i2.5319

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan curah hujan terhadap tinggi muka air tanah. Serta pengaruh faktor kimia (kadar air gambut, pH) dan fisika (kapasitas tukar kation) terhadap emisi CO2. Penelitian menggunakan analisis matematika sederhana dengan menggunakan data sekunder. Dilakukan di perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Koto Gasib,  Kabupaten Siak, Riau. Obyek yang diteliti tinggi muka air tanah, curah hujan dan faktor kimia-fisika lahan gambut di perkebunan kelapa sawit. Hasil penelitian menunjukan bahwa curah hujan dan hari hujan mempunyai hubungan linier dengan tinggi muka air tanah. Tinggi muka air tanah berkontribusi 71.48%  terhadap emisi GRK dan 28.52%  dipengaruhi faktor lain.  pH tanah gambut berkontribusi 91.41 %, terhadap emisi, 8.59% dipengaruhi faktor lain. Pengaruh  KTK terhadap emisi sebesar 88.66 %, dan 11.34% dipengaruhi faktor lain. Kandungan  air gambut  berpengaruh 96.19% terhadap emisi GRK, dan 3.81 % dipengaruhi faktor lain. Kesimpulan tinggi muka air tanah, kadar air, pH dan KTK berpengaruh sangat nyata terhadap emisi CO2.
PENGEMBANGAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN BERKELANJUTAN DAS CILIWUNG HULU KABUPATEN BOGOR Suwarno, Joko; Kartodiharjo, Hariadi; Pramudya, Bambang; Rachman, Saeful
ISSN 0216-0897
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diperkirakan 13% atau 62 DAS dari 470 DAS di Indonesia berada dalam kondisi kritis, meskipun upaya konservasi tanah dan air dalam pegelolaan DAS telah diimplementasikan. DAS Ciliwung merupakan salah satu DAS kririts tersebut. Penelitian ini dilakukan di DAS Ciliwung Hulu, Kabupaten Bogor, ditujukan untuk (1) menentukan indeks keberlanjutan pengelolaan DAS Ciliwung Hulu, (2) mengetahui faktor-faktor penting yang menentukan tingkat keberlanjutan DAS Ciliwung Hulu, dan (3) memformulasikan pengembangan kebijakan pengelolaan berkelanjutan DAS Ciliwung Hulu. Analisis yang digunakan dalam penelitian adalah (MDS) untuk memperoleh nilai indeks keberlanjutan pengelolaan DAS. Analisis digunakan untuk menentukan faktor-faktor pengungkit dalam pengelolaan DAS Ciliwung Hulu. Formulasi pengembangan kebijakan pengelolaan berkelanjutan digunakan analisis prospektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan DAS Ciliwung Hulu kurang berkelanjutan. Faktor kunci dalam pengelolaan berkelanjutan DAS Ciliwung Hulu adalah (1) kapasitas koordinasi instansi pemerintah, (2) pemanfaatan kegiatan jasa wisata, (3) alternatif pendapatan petani dari kegiatan non-pertanian, (4) kegiatan penyuluhan pertanian dan kehutanan, dan (5) perubahan penggunaan lahan menjadi lahan terbangun. Strategi pengembangan kebijakan pengelolaan berkelanjutan perlu dilakukan melalui intervensi peningkatan kinerja kelima faktor kunci tersebut secara terpadu dalam pengelolaan DAS Ciliwung Hulu. Multidimensional Scaling leverage.
Potret Kebijakan Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Indramayu Peranginangin, Henri; Hasim, Hasim; Pramudya, Bambang; Budiarti, Sri
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 4 No. 3 Desember 2009
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.484 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v4i3.185

Abstract

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah di Kabupaten Indramayu. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi elemen-elemen priori-tas kebijakan pengendalian penyakit DBD di Kabupaten Indramayu menurut pakar berdasarkan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil peneliti-an menunjukkan “strategi utama” pengendalian penyakit DBD di Kabupaten Indramayu adalah peningkatan kesehatan lingkungan permukiman; “aktor utama pengendalian” ialah Pemerintah Kabupaten Indramayu; “faktor utama pengendalian” adalah lingkungan; “tujuan utama pengendalian” ialah Kabupaten Indramayu bebas penyakit DBD; dan “kriteria utama pengendalian” adalah jumlah dan mutu sumber daya manusia. Agar implementasi strategi pengendali-an itu efektif maka Pemerintah Kabupaten Indramayu perlu meningkatkan kerja sama lintas program dan sektoral; dukungan teknologi, dana dan sarana pendidikan kesehatan lingkungan; mutu layanan Puskesmas; dan pengembangan tim pengendalian penyakit DBD dari tingkat Kabupaten sampai Desa/Kelurahan.Kata kunci : Pengendalian, DBD, AHP, kesehatan, lingkungan.AbstractDengue haemorrhagic fever (DHF) still becomes health problem in Indramayu district. The objective of this research is to identify the priority elements of DHF controlling policy in Indramayu district according to 35 experts using analytical hierarchy process (AHP). The result of the research provides information that the “main strategy” of DHF controlling is the improvement of healthy living environment; the “main actor” is the Government of Indramayu district; the “main factor” is the environment; the “main objective” is zero DHF in Indramayu district; and the “main criteria” is the quantity and quality of human resources. Based on this data, in order to implement the main strategy effectively, the Government of Indramayu district should increase the interprogram and inter-institu-tional cooperation; provide technological, funding, and facilities of environment health education supports; increase the quality of Puskesmas services and develop the DHF controlling team in all administrative level. Key words : Controlling, DHF, AHP, health, environment.
IDENTIFIKASI KEKRITISAN KOMPONEN PADA LINI PRODUKSI PABRIK GULA TEBU MENGGUNAKAN METODE EQUIPMENT CRITICALITY RATING Cahyati, Sally; Pramudya, Bambang; Pertiwi, Setyo; Herodian, Sam
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 25 No. 1 (2011): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.752 KB)

Abstract

Abstract ECR is one of Maintenance Performance Index (MPI)?s  criteria in The System of Eco Maintenance (SEM) proposed for sugarcane fabrication. The SEM is a maintenance system that concerns to energy conservation issue in sugarcane  fabrication. Reduction of energy consumption can affect the reduction of pollutant produced by sugarcane fabrication process. MPI and EPI (Environment Performance Index) are  Operational Performance Index (OPI)?s components that calculated by SEM. The OPI will be used for selecting a proper strategy for  revitalization of sugarcane factory. ECR uses  a pairwise comparison assesment  based on experts interview and judgement. Then, it will be calculated by Expert Choice software. The weight of  ECR?s criteria will be multiplied by criteria value from data processing  result in SEM software. The results show that the highest value of ECR is of 41.52 for Mill and Boiler station and the lowest result is of 8.83 for Drying and Packaging station. Finally the value of ECR will be classified into very critical (ECR1), critical (ECR2), less critical (ECR3) and non critical (ECR4), to determine the level of station?s criticality. keywords: ECR, eco maintenance, sugarcaneAbstrak ECR  adalah salah satu dari kriteria Indeks Kinerja Perawatan (MPI) dalam Sistem Eco Maintenance (SEM) yang diusulkan untuk pengolahan gula tebu. SEM adalah suatu sistem perawatan yang peduli terhadap isu konservasi energi dalam pengolahan gula tebu. Pengurangan konsumsi energi dapat berpengaruh terhadap pengurangan polutan yang dihasilkan oleh proses pengolahan gula tebu.  MPI dan EPI (Indeks Kinerja Lingkungan) adalah komponen-komponen dari Indeks Kinerja Operasional (OPI) yang dihitung oleh SEM. OPI akan digunakan untuk menyeleksi strategi yang tepat bagi revitalisasi pabrik pengolah gula tebu. ECR menggunakan penilaian pembandingan berpasangan berbasis pada wawancara dan penilaian pakar. Kemudian, penilaian tersebut  akan dihitung oleh piranti lunak  Expert Choice. Bobot dari kriteria ECR akan dikalikan dengan nilai kriteria dari hasil pemrosesan data dalam piranti lunak SEM. Hasilnya memperlihatkan bahwa nilai tertinggi dari ECR adalah  41.52 untuk stasiun Gilingan dan Ketel Uap dan hasil  terendah adalah 8.83 untuk stasiun Pengeringan dan Pengepakan. Pada akhirnya nilai ECR akan diklasifikasikan menjadi sangat kritis (ECR1), kritis (ECR2), kurang kritis (ECR3) dan tidak kritis (ECR4), untuk menggambarkan tingkat dari kekritisan stasiun. Kata Kunci: ECR, Eco Pemeliharaan, TebuDiterima:26 November 2010 ; Disetujui:30 Maret 2011   
MODEL PENGENDALIAN LINGKUNGAN DALAM PEMBANGUNAN KOTA BARU BERKELANJUTAN Hadi, Syamsul; Pramudya, Bambang; Sutjahjo, Surjono Hadi; Hadi, Setia
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.663 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v13i1.1400

Abstract

AbstrakPembangunan kota baru diharapkan dapat memecahkan masalah seperti pengurangan migrasi ke kota-kota besar, pembangunan ekonomi regional, dll, tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan tujuan. Perubahan lingkungan adalah salah satudampak yang tidak dipertimbangkan dengan hati-hati ketika kota baru direncanakan dan dikembangkan. Tujuan penelitian ini untuk merumuskan model pengendalian lingkungan selama pembangunan kota baru, untuk mencapai tujuan keberlanjutan.Studi kasus penelitian dilakukan di kota baru Bumi Serpong Damai (BSD) di Propinsi Banten, Indonesia. Penelitian ini menganalisis kualitas udara dan air dan kemudian membandingkan keduanya dengan kualitas lingkungan standar, analisis keberlanjutan BSD menggunakan skala multidimensional (MDS), dan merumuskan parameter kuncimenggunakan ?prospective tools?, model mengembangkan pengendalian lingkungan menggunakan sistem dynamic, dan merumuskan prioritas kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air dan tanah di sekitar daerah BSD terkontaminasi limbah organik seperti BOD dan COD, sedangkan atmosfer mengandung gas toksik seperti: CO, SOx, NOx, ozon (O3) dan TSP. Di dalam analisis keberlanjutan mengungkapkan bahwa kota BSD mempunyai kategori kurang berkelanjutan (46,75), kurang dari 50 poin. Hanya dalam aspek seperti infrastruktur dan teknologi (52,20), ekonomi (53,17) dan hukum dan lembaga (59,95) mendekati kategori berkelanjutan. Sementara dalam aspek ekologi (42,22) dan sosial budaya (26,49) kota BSD dikategorikan tidak berkelanjutan.Terdapat 22 faktor pengaruh dan 5 parameter kunci untuk dapat dipertimbangkan kota BSD di dalam mencapai kota yang keberlanjutan. Disarankan kebijakan untuk pengembangan kota berkelanjutan baru harus ada penyediaan teknologi produksibersih, penyediaan fasilitas sistem pembuangan kotoran, pengembangan jaringan jalan, transportasi umum yang efektif dan efisien, mempertimbangkan budaya lokal, peningkatan lembaga yang sesuai. kata kunci: kota baru, kualitas air dan udara, system pembuangan kotoran, model, strategi, dan kebijakan.kata kunci: kota baru, kualitas air dan udara, system pembuangan kotoran, model, strategi, dan kebijakan.
EFFECTS OF FOREST COVER CHANGE ON FLOOD CHARACTERISTICS IN THE UPPER CITARUM WATERSHED Dasanto, Bambang Dwi; Pramudya, Bambang; Boer, Rizaldi; Suharnoto, Yuli
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 20 No. 3 (2014)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2083.397 KB) | DOI: 10.7226/jtfm.20.3.141

Abstract

Information on the effect of forest cover changes on streamflow (river discharge) in large-scale catchment is important to be studied. The rate of forest cover change in the Upper Citarum Watershed as a large-scale catchment is high enough to drive streamflow change, such as increase of discharge level, or flood volume. Within the research area, flood would occur when the volume of streamflow exceeded the canal capacity and inundated areas that were normally dry. Therefore, this research focused on identifying the effects of forest cover change on flood events and its distribution. The research consisted of 2 main stages; firstly, building geometric data of river and performing frequency analysis of historical and scenario discharges using an approach of probability distribution; and, secondly, flood inundation mapping using HEC-RAS model. The results showed that forest reduction have affected water yield in the downstream of Upper Citarum Watershed. In each return period, this reduction have increased river discharge level and affected the spread of flooded areas. In 2-year return period, the extent of flood as an impact of forest reduction was estimated to decrease slowly. However, in the return period of more than 2 years, the spread of flooded areas increased sharply. These proved that forest cover reduction would always increase the discharge value, but it did not always expand the inundated area. 
Desain Sistem Penunjang Keputusan untuk Produksi Buah-Buahan Unggulan Nasional Santosa, Santosa; Pramudya, Bambang; Djojomartono, Moeljarno; Sutrisno, Sutrisno; Seminar, Kudang B; Susanto, Slamet
Agritech Vol 26, No 4 (2006)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5871.187 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9483

Abstract

The objectives of the study are : (1) to design  land  suitability database for cultivation of the national valuable fruits, (2) to design the activation information of  fruits production, including land preparation until primary postharvest handling, and (3) to design the decision support system for valuable fruits on people’s orchads to produce fresh fruits. The study was conducted in Yogyakarta Special Region, from November 1999 until March 2000.  Two kinds of data used in this study were: (a) primary data, from the direct discussion with the experts, and direct observation in the fruits production center, and (b) secondary data were collected from library studies and Agriculture Agency Offices in each regency or municipality of the Yogyakarta Special Region.  The data in the salaccias production center was established from farmers which owned orchad more than one hectare. The results of  the study were : (1) land suitability database for national valuable fruits cultivation based on relational data, (2) computerize information system, namely Salaccia (Pondoh cultivar) and Mango (Arumanis, Manalagi, Golek, and Gedong cultivar) included : land preparation, planting, fertilizing, cultivating, pest and disease control, pruning, irrigating, harvesting, cleaning of fruits, sorting of fruits, grading of fruits, ripening (specially for mango), and storage of fruits, and (3) the system has been done to determine land suitability for fruits in Yogyakarta Special Region, and the result showed that 62.39 % was suitable between output system designed and the fruits produced by the farmer, namely manggistas, pineapples, mangoes, rambutans, durians, salaccias, and lawzons.
Kebijakan Pengembangan Pertanian Kota Berkelanjutan: Studi Kasus di DKI Jakarta Sampeliling, Sostenis; Sitorus, Santun R.P.; Nurisyah, Siti; Pramudya, Bambang
Analisis Kebijakan Pertanian Vol 10, No 3 (2012): Analisis Kebijakan Pertanian
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Revitalisasi sektor pertanian pada dasarnya adalah menempatkan kembali arti pentingnya pertanian secara proporsional dan kontekstual, baik di perdesaan maupun perkotaan. Melihat kondisi pertanian di daerah perkotaan, khususnya DKI Jakarta, dan hubungannya dengan berbagai masalah lingkungan, perlu dirancang dan dirumuskan kebijakan yang komprehensif untuk pengembangan pertanian perkotaan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor kunci yang mempengaruhi keberlanjutan dan kebijakan pengembangan pertanian perkotaan. Metode analisis yang digunakan adalah MDS (multi-dimensional scaling) dan teknik Rap-Ur-Agri (Rapid Appraisal for Urban Agriculture). Analisis faktor kunci menggunakan leverage factor yang diikuti dengan penentuan indeks keberkelanjutan dan skenario kebijakan pengembangan pertanian dengan menggunakan metode analisis prospektif. Hasil analisis menunjukkan bahwa status keberlanjutan pengembangan pertanian perkotaan pada kondisi existing menunjukkan nilai indeks 48,70 persen atau kurang berkelanjutan. Faktor kunci keberlanjutan pertanian perkotaan mencakup empat aspek dan kebutuhan stakeholder mencakup empat aspek pengembangan sistem pertanian perkotaan. Kebijakan pengembangan pertanian perkotaan berkelanjutan di wilayah DKI Jakarta perlu dilakukan dengan pendekatan integratif dengan mempertimbangkan enam faktor kunci penentu keberlanjutan: (1) Luas pekarangan, (2) Pengembangan komoditas dan teknologi ramah lingkungan, (3) Penyuluhan dan kelembagaan pertanian, (4) Perluasan lahan/ruang usaha tani, (5) Kerjasama antar stakeholder, dan (6) Pemberian insentif pertanian. Opsi kebijakan adalah perluasan lahan/ruang usaha tani, pengembangan komoditas dan teknologi ramah lingkungan dan pengembangan kelembagaan pertanian.
PRIORITAS PENGEMBANGAN KAWASAN PERKEBUNAN TEBU DI KABUPATEN SERAM BAGIAN TIMUR Osly, Prima Jiwa; Widiatmaka, Widiatmaka; Pramudya, Bambang; Murtilaksono, Kukuh
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.311 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.216

Abstract

Lahan merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting dalam pengusahaan perkebunan, karena lahan merupakan media tumbuh bagi tanaman. Pemanfaatan sumber daya lahan perlu disesuaikan dengan kondisi agroekologinya, agar usaha pertanian dapat berkelanjutan. Usahatani tebu merupakan praktek penggunaan lahan komersial monokultural yang sering menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati pertanian (agrobiodiversity). Penelitian ini difokuskan pada pemilihan lahan yang tepat dan diprioritaskan untuk penanaman tebu. Integrasi pendekatan Multi Criteria Decision Making (MCDM) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) menyediakan sistem pendukung keputusan spasial yang kuat dan efisien untuk menghasilkan peta kesesuaian lahan dan prioritas pengembangan kawasan serta untuk menganalisis data spasial dan membangun proses untuk pendukung keputusan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis prioritas pengembangan kawasan perkebunan tebu dan melakukan analisis ketersediaan lahan untuk kawasan perkebunan Tebu. Penelitian ini menggunakan metode Multi Criteria Decision Making (MCDM) berbasis Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan bantuan Sistem Informasi Geografis (SIG). Berdasarkan hasil analisa total areal yang berpotensi dimanfaatkan untuk kawasan perkebunan tebu tersebut adalah sebesar 121.484,83 ha atau 21,48% dari total daratan Kabupaten Seram Bagian Timur. Total areal tersebut terbagi pada kelas Prioritas I sebesar 76.751,79 ha (63,18%), kelas Prioritas II sebesar 41.807,84 ha (34,41%) dan kelas Prioritas III sebesar 2.925,21 ha (2,41%).Kata kunci: Tebu, MCDM, AHP, SIG, PrioritasABSTRACTLand is one of the most important production factors in plantation industry, because the land is a growing medium for plants. Utilization of land resources needs to be adapted to its agro-ecology conditions, in order to be sustainable. Sugarcane farming is a monoculture commercial land use practices that often lead to a decrease in agricultural biodiversity. This study focused on the selection of appropriate land and prioritized for planting sugarcane. Integration of Multi Criteria Decision Making (MCDM) and Geographic Information System (GIS) provides a powerful and efficient spatial decision support system to produce land suitability maps and regional development priorities as well as to analyze spatial data and build process for decision support system. The purpose of this study is to analyze the regional development priorities of sugarcane plantations and analyze the availability of land for sugarcane plantation area. This study uses the Multi Criteria Decision Making (MCDM) based Analytical Hierarchy Process (AHP) with the help of Geographic Information System (GIS). Based on analysis of the total area that could potentially be used for sugarcane plantation area amounted to 121,484.83 ha (21.48%) of the total land area in Seram Bagian Timur Regency. The total area was divided to the class Priority I of 76,751.79 ha (63.18%), class Priority II at 41,807.84 ha (34.41%) and class Priority III of 2,925.21 ha (2.41%).Keywords: Sugarcane, MCDM, AHP, GIS, Priority