Articles

Found 39 Documents
Search

AN ANALYSIS OF SENTENCE STYLE IN “THE RIDDLE” BY WALTER DE LA MARE Prasetyo, Dwi
JURNAL LITERARY CRITICISM Vol 5 No 1 (2019): Literary Criticism
Publisher : JURNAL LITERARY CRITICISM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This analysis aims to describe sentence style in the short story "The Riddle" by Walter de la Mare. The data in this analysis is the word, phrases, clauses, sentences and paragraphs contained in the short story "The Riddle" by Walter de la Mare. Technique data collection in this analysis is reading techniques and note-taking techniques. This analysis is done by identifying, describing, and analyze sentence styles in the short story The Riddle by Walter de la Mare based on stylistic and parallelism reviews and the context of grammatical use of sentences. The results of this analysis are about the description of the points in the review. On the effect aspects of using the sentence style in The Riddle short stories by Walter de la Mare. The description is how sentence by sentence in a paragraph produces or creates an effect or indicates a happy effect, feeling sorry or pity, feeling angry or irritated, feeling sad or touched. From that all we can find out how the writer of The Riddle short story, Walter de la Mare, raises an effect on the sentence he uses in the story.   Keywords: short story, stylistics, parallelism, sentence style, analysis
Perbedaan Manifestasi Klinis dan Laboratorium Kolestasis Intrahepatal dengan Ekstrahepatal pada Bayi Prasetyo, Dwi; Ermaya, Yudith Setiati; Martiza, Iesje
Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.082 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v48n1.733

Abstract

Ikterus fisiologis sering didapatkan pada bayi dan kebanyakan gejalanya ringan. Gejala ikterik biasanya akan menghilang dalam 2 minggu setelah lahir. Pada ikterus yang terkonjugasi terjadi defek produksi intrahepatal, transpor transmembran dari empedu, yaitu kolestasis intrahepatal (IH) atau obstruksi kolestasis ekstrahepatal (EH) yang mengakibatkan hambatan empedu. Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbedaan manifestasi klinis dan laboratorium kolestasis IH dengan EH pada bayi. Studi potong lintang dilakukan pada 72 bayi dengan kolestasis yang datang ke Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, periode Januari 2014–Desember 2015. Analisis data dilakukan dengan uji Pearson Chi-kuadrat dan Mann-Whitney. Subjek terdiri atas 43 (60%) laki-laki dan 29 (40%) perempuan, kolestasis IH sebanyak 61 orang (85%), dan EH sebanyak 11 (15%). Pada penelitian ini didapatkan perbedaan bermakna manifestasi klinis asites antara kolestasis IH dan EH (p=0,047), sedangkan venektasi, hepatomegali, dan splenomegali tidak didapatkan perbedaan bermakna. Pada pemeriksaan warna feses tidak didapatkan perbedaan bermakna (p=0,936), demikian juga hasil laboratorium bilirubin total, bilirubin direk, glutamat oksaloasetat transaminase, glutamat piruvat transaminase, alkali fosfatase, dan gama glutamil transferase serum tidak berbeda bermakna. Simpulan, didapatkan perbedaan manifestasi klinis asites, sedangkan manifestasi klinis yang lain dan hasil laboratorium tidak didapatkan perbedaan antara kolestasis IH dan EH. [MKB. 2016;48(1)45–50]Kata kunci: Kolestasis ekstrahepatal, kolestasis intrahepatal, laboratorium, manifestasi klinisDifferences of Clinical Manifestation and Laboratory Findings in Intra-Hepatic and Extra-Hepatic Cholestasis in InfantsAbstractPhysiological jaundice found in infants and most symptoms are often mild. Jaundice symptoms usually disappear within 2 weeks after birth. In conjugated jaundice defects in intra-hepatic production, transmembran transport from bile, i.e. cholestasis intra hepatic (IH), or extra-hepatic (EH) obstruction/cholestasis occur, resulting in bile barriers. This study was conducted to look at the differences in the clinical and laboratory manifestations of IH and EH cholestasis in infants. A cross-sectional study was performed on 72 infants with cholestasis who came to Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, during the period of January 2014–December 2015. Data analysis was performed with Pearson Chi-square test and Mann-Whitney. Subjects consisted of 43 (60%) infant boys and 29 (40%) infant girls, IH cholestasis were 61 (85%) and EH cholestasis were 11 (15.3%). Significant differences in the clinical manifestations of acites with IH and EH cholestasis were found (p=0.047), whereas insignificant differences in venectation, hepatomegaly and splenomegaly were observed. On examination of stool color, no significant difference was found (p=0.936). The same was true for laboratory results of total bilirubin, direct bilirubin, serum glutamic oxaloacetic transaminase, glutamic pyruvic transaminase, alkaline phosphatase and gamma glutamyl transferase. In conclusion, we found differences in clinical manifestation of acites, while for other clinical manifestations and laboratory results no differences were found between IH and EH cholestasis. [MKB. 2016;48(1)45–50]Key words: Clinical manifestation, extra-hepatic cholestasis, intra-hepatic colestasis, laboratory
Pengaruh Pemberian Antibiotik Terhadap Populasi dan Produksi Toksin Clostridium difficile pada Pasien Demam Tifoid dan Pneumonia serta Hubungannya dengan Gejala Diare Prasetyo, Dwi
Sari Pediatri Vol 6, No 2 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.819 KB) | DOI: 10.14238/sp6.2.2004.58-63

Abstract

Clostridium difficile merupakan flora normal dalam saluran pencernaan manusia, tetapidalam keadaan tertentu dapat menimbulkan penyakit, yaitu menjadi patogen bila adakesempatan untuk bermultiplikasi dan membentuk toksin. Misalnya pemberian obatanti jasad renik dapat menekan sementara unsur-unsur flora usus yang peka terhadapobat tersebut. Sebaliknya kuman yang resisten tetap hidup, bahkan akan berkembangterus sehingga terjadi pertumbuhan yang berlebih. Di Indonesia Clostridium difficilebelum begitu dikenal sebagai penyebab kolitis akibat pemakaian antibiotik. Kemungkinankarena kurangnya kewaspadaan dalam klinik, tidak tersedianya fasilitas laboratoriumyang khusus untuk biakan anaerob atau kegagalan dalam melakukan biakan anaerob.Tujuan penelitian untuk mengetahui jumlah kultur Clostridium difficile yang positifpada pemeriksaan hari pertama (maksimum mendapat 3 hari pengobatan antibiotik),peningkatan populasi Clostridium difficile dalam tinja pasien demam tifoid danpneumonia yang mendapatkan pengobatan antibiotik 8 hari, adanya toksinClostridium difficile dalam tinja anak penderita demam tifoid dan pneumonia yangmendapat pengobatan antibiotik 8 hari dan mengevaluasi hubungannya dengan gejaladiare. Penelitian ini dilakukan terhadap 38 pasien demam tifoid dan 12 pasien pneumoniayang mendapat antibiotik minimal 8 hari dan dirawat di Sub Bagian Infeksi danPulmonologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK-Unpad/Rumah Sakit Umum Pusat Dr.Hasan Sadikin, Bandung. Sebagai kontrol dilakukan pemeriksaan tinja pada 20 anaksehat. Pemeriksaan bakteriologik dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, FakultasKedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung.Dari 50 pasien yang diteliti didapatkan 24 (48,0%) laki-laki dan 26 (52,0%)perempuan. Kelompok umur 1-4, 5-9, dan > 10 tahun berturut-turut didapatkan 26(52,0%), 13 (26,0%) dan 11 (22,0%). Antibiotik kloramfenikol diberikan pada 38(76,0%) anak, sedangkan ampisilin pada 12 (24,0%) anak. Hasil kultur Clostridiumdifficile pertama positif sebanyak 30 (60,0%) dan negatif 20 (40,0%) pasien. Ternyatapada kelompok anak sehat ditemukan 8 anak dengan kultur Clostridium difficile positif(40,0%) dan 12 anak dengan kultur negatif (60,0%). Dari hasil perhitungan statistiktidak didapatkan perbedaan yang bermakna jumlah rata-rata koloni Clostridium difficileper gram tinja pada kelompok anak sehat dan pasien infeksi yang diambil pada haripertama perawatan yang sebelumnya telah mendapat maksimum 3 hari antibiotik.Didapatkan peningkatan jumlah koloni Clostridium difficile secara bermakna pada anakpasien demam tifoid dan pneumonia setelah diberi antibiotik 8 hari. Walaupun toksinClostridium difficile terdeteksi pada 24,0% pasien, tetapi yang disertai gejala diare hanyapada 2 penderita. Juga didapatkan perbedaan bermakna rata-rata jumlah koloniClostridium difficile per gram tinja antara pasien dengan toksin positif dan negatif.Pada semua anak yang didapatkan toksin Clostridium difficile ternyata mempunyaijumlah koloni Clostridium difficile melebihi 103 koloni per gram tinja.
Korelasi Kadar Ion Kalsium Serum dengan Dimensi, Fungsi Sistol dan Diastol Ventrikel Kiri pada Thalassemia Mayor dengan Hemosiderosis Furnia, Ira; Prasetyo, Dwi; Reniarti, Lelani
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.195-9

Abstract

Latar belakang. Kalsium berperan penting dalam kontraksi miokardium. Besi bebas/non-transferrin bound iron (NTBI) padathalassemia mayor (TM) dengan kelebihan besi (hemosiderosis) masuk ke dalam sel jantung menggunakan L-typ e calcium channel(LTCC) sehingga mengganggu transportasi kalsium.Tujuan. Menganalisis korelasi kadar ion kalsium serum dengan dimensi, fungsi sistol, dan diastol ventrikel kiri pada TM yangsudah mengalami hemosiderosis.Metode. Penelitian potong lintang dilaksanakan dari Desember 2014–Januari 2015 melibatkan 67 kasus TMusia 7–14 tahun yangdisertai hemosiderosis. Pemeriksaan kadar ion kalsium serum menggunakan metode ion selective electrode (ISE) dan pemeriksaandimensi serta fungsi jantung menggunakan ekokardiografi 2 dimensi, M-mode, dan Doppler oleh dokter spesialis kardiologi anak.Analisis korelasi dengan uji Spearman dan Pearson.Hasil. Uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara kadar ion kalsium serum dan left ventricularposterior wall thickness/LVPWd (r=-0,25; p=0,04). Uji korelasi Pearson menunjukkan korelasi negatif yang signifikan antara kadarion kalsium serum dan ejection fraction/EF (r=-0,294; p=0,016) serta fractional shortening/FS (r=-0,252; p=0,039), tetapi tidakdengan fungsi diastol (p>0,05).Kesimpulan. Semakin rendah kadar ion kalsium serum maka semakin tinggi nilai LVWP, EF, dan FS. Kadar ion kalsium serumtidak berkorelasi dengan fungsi diastol.
Efektivitas Terapi Infeksi Helicobacter Pylori pada Anak dengan Keluhan Sakit Perut Berulang Setelah Satu Tahun Terapi Eradikasi Ramayanthi, Tina; Prasetyo, Dwi; Garna, Herry
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.111-5

Abstract

Latar belakang. Infeksi Helicobacter pyloripada anak dapat menyebabkan beberapa penyakit, seperti gastritis, ulkus peptikum, dan kanker gaster. Sakit perut berulang (SPB) merupakan keluhan tersering terinfeksi H. pylori,terutama pada usia sekolah. Pada anak yang telah diberikan terapi eradikasi, respons pengobatan harus dipantau, salah satunya dengan pemeriksaan serologis antibodi IgG. Tujuan.Mengetahui apakah telah terjadi perubahan status serologis IgG H. pylori satu tahun setelah terapi eradikasi pada anak dengan keluhan sakit perut berulang (SPB) pada yang terinfeksi H. pylori. Metode. Penelitian dengan rancangan cross sectionalperiode Juli–September 2011 yang dilakukan pada siswa anak usia 6–18 tahun di beberapa SD, SMP, atau SMA di kota Bandung. Subjek dengan keluhan sakit perut berulang dengan status serologis IgG H. pyloripositif sebelum diberikan terapi dan telah diberikan terapi eradikasi satu tahun yang lalu. Uji ExactFisher digunakan untuk analisis data. Hasil.Tigapuluh empat anak memenuhi kriteria inklusi. Semua anak memperlihatkan perubahan serologis IgG H. pylorimenjadi negatif. Terdapat 4 anak yang masih mengalami gejala SPB, dan 30 anak tidak terdapat gejala SPB setelah terapi eradikasi (Prevalensi 11,8%, IK: 4,7–26,6). Kesimpulan.Status serologis IgG H. pylorisemuanya negatif, setelah satu tahun selesai terapi eradikasi pada anak dengan keluhan sakit perut berulang.
Hubungan Kadar Matriks Metaloproteinase-2 Serum dan Skor Aspartate To Platelet Ratio Index untuk Menilai Fibrosis Hati antara Penyandang Thalassemia yang Mendapat Terapi Kelasi Besi Deferoksamin dan Deferipron Asopari, Asep Aziz; Prasetyo, Dwi; Setiabudiawan, Budi
Sari Pediatri Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.1.2014.57-63

Abstract

Latar belakang. Penyandang thalassemia secara progresif akan mengalami keadaan kelebihan besi yang dapat menyebabkan terbentuknya peroksidase lipid dan merusak sel hati sehingga terbentuk fibrosis hati. Terapi kelasi besi bertujuan untuk mengurangi kelebihan besi.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar MMP-2 serum dan peningkatan skor APRI untuk menilai fibrosis hati antara penyandang thalassemia yang mendapat terapi kelasi besi deferoksamin dengan deferipron.Metode. Penelitian potong lintang dilaksanakan dari Juli–Agustus 2013, dilibatkan 42 penyandang thalassemia usia 2,5–14 tahun yang mendapat terapi kelasi besi deferoksamin dan deferipron. Kadar MMP-2 serum diperiksa dengan metode ELISA dan perhitungan skor APRI dengan Rumus Wai. Perbedaan dan korelasi ditentukan antara varibel dengan uji Mann-Whitney dan Rank Spearmann. Analisis kovariat digunakan untuk menghilangkan faktor perancu.Hasil. Terdapat 44 subjek, 22 mendapat terapi kelasi besi deferoksamin dan 22 deferipron. Kadar MMP-2 serum kelompok deferipron lebih rendah (130ng/mL) dibandingkan deferoksamin (314ng/mL). Skor APRI kelompok deferipron rata-rata lebih tinggi (1,584) dibanding deferoksamin (0,575). Perbedaan skor APRI dan kadar MMP-2 serum kedua kelompok sangat bermakna (p<0,001). Terdapat korelasi negatif antara kadar MMP-2 serum dan skor APRI, yaitu semakin tinggi skor APRI maka semakin rendah kadar MMP-2 serum penyandang thalassemia yang mendapat terapi kelasi besi deferipron dan deferoksamin (r=-0,726, p=<0,001).Kesimpulan. Penurunan kadar MMP-2 serum dan peningkatan skor APRI untuk menilai fibrosis hati pada kelompok terapi kelasi besi deferipron lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok deferoksamin serta terdapat korelasi negatif antara kadar MMP-2 serum dan skor APRI
Hubungan Kadar Vitamin D dengan Anak Atopi dan Obesitas Noviani, Elza; Prasetyo, Dwi; Setiabudiawan, Budi
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.342-6

Abstract

Latar belakang. Angka kejadian penyakit atopik dan obesitas meningkat bersamaan. Hubungan kadarvitamin D dengan atopi masih kontroversial.Tujuan. Menilai hubungan kadar vitamin D dengan anak atopi dan obesitas.Metode. Penelitian desain potong silang, sejak bulan Agustus sampai Desember 2013, terhadap 62 anakobesitas dan gizi normal murid sekolah dasar Kota Bandung. Kadar vitamin D-25 OH serum diukur denganmetode chemiluminescent immunoassay, dilakukan uji tusuk kulit dan kuosioner The International StudyOf Asthma And Allergies In Childhood. Analisis data dengan uji chi Kuadrat dan two-way Anova.Hasil. Tidak terdapat perbedaan rerata kadar vitamin D antara kelompok anak obesitas dan status gizi normal(p=0,994). Tidak terdapat perbedaan rerata kadar vitamin D antara kelompok atopi dan non-atopi (p= 0,58).Tidak terdapat interaksi antara kelompok atopi dan status gizi terhadap kadar vitamin D (p= 0,24).Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan antara kadar vitamin D dengan anak atopi dan obesitas.
Perbedaan Myocardial Performance Index Ventrikel Kiri pada Remaja Obes dengan dan tanpa Sindrom Metabolik Adriana, Riri; Prasetyo, Dwi; Rahayuningsih, Sri Endah
Sari Pediatri Vol 17, No 4 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.065 KB) | DOI: 10.14238/sp17.4.2015.307-11

Abstract

Latar belakang. Myocardial performance index (MPI) merupakan pemeriksaan ekokardiografi yang lebih sensitif dalam mendeteksi disfungsi diastolik ventrikel kiri.Tujuan. Menentukan perbedaan MPI ventrikel kiri pada remaja obes dengan SM, obes tanpa SM, dan non-obes.Metode. Penelitian analitik potong silang pada 30 remaja obes (dengan dan tanpa sindrom metabolik) dan 30 non-obes usia 10-19 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian dilakukan di Instalasi Pelayanan Jantung RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung selama November 2014–Januari 2015. Pemeriksaan MPI dilakukan dengan alat ekokardiografi GE tipe Vivid 7. Dilakukan pemeriksaan kolesterol total, trigliserida, LDL, HDL, dan gula darah menggunakan alat Architect. Kriteria SM ditegakkan apabila terpenuhi dua dari parameter trigliserida >150 mg/dL, HDL <40 mg/dL, GDP >100 mg/dL, hipertensi, dan kegemukan sentral. Perbedaan nilai MPI antara remaja obes dengan SM, obes tanpa SM, dan remaja non-obes ditentukan dengan uji ANOVA satu arah.Hasil. Nilai MPI pada remaja obes dengan SM, obes tanpa SM, dan remaja non-obes adalah 0,35, 0,36, dan 0,36 (p=0,778).Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan nilai MPI pada remaja obes dengan SM, obes tanpa SM, dan remaja non-obes.
Pengaruh Hasil Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Lecturing terhadap Hasil Belajar kognitif Asuhan Pelayanan Keluarga Berencana pada Mahasiswa DIII Kebidanan Sari, Dewi Nurlaela; Prasetyo, Dwi; Siregar, Ike MP
Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIK) Vol 9, No 1 (2016): Jurnal ILMIAH KESEHATAN (JIK)
Publisher : Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIK)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Model pembelajaran merupakan salah satu aspek yang dapat mempengaruhi hasil belajar kognitif. Evaluasi akademik Prodi D III Kebidanan STIKes Bhakti Kencana Bandung menunjukkan bahwa terdapat penurunan hasil belajar kognitif pada beberapa mata kuliah asuhan kebidanan, salah satunya pada asuhan pelayanan keluarga berencana. Salah satu cara untuk memperbaiki hasil belajar kognitif tersebut yaitu dengan perbaikan kurikulum melalui model pembelajaran yang sesuai dan relevan. Jenis Penelitian Quasi Eksperimen. Subjek pada penelitian berjumlah 100 mahasiswa yang berasal dari dua kelas yang berbeda, terdiri dari 50 orang mengikuti pembelajaran dengan model problem based learning dan 50 orang dengan model lecturing. Analisis pada penelitian ini menggunakan uji t dan uji chi squere. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna pada hasil belajar kognitif dengan model belajar yang berbeda, model pembelajaran problem based learning memiliki kontribusi lebih besar dalam pencapaian hasil belajar kognitif. Hasil belajar kognitif dengan model pembelajaran problem based learning pada asuhan keluarga berencana lebih baik dibandingkan dengan lecturing. Kata Kunci : Hasil Belajar Kognitif, Lecturing, Model Pembelajaran, Tutorial Problem Based Learning
Pengembangan Model Blended Learning Mata Kuliah Interaksi Manusia & Komputer Menggunakan Metode System Development Life Cycle (SDLC) di Universitas Nusa Cendana Prasetyo, Dwi
978-602-7561-566
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.459 KB)

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kondisi geografis yang dibatasi oleh lautan/samudera luas dan gunung.  Keadaan tersebut menyebabkan kondisi pulau yang satu dengan yang lain berjauhan.  Hal ini tentunya mempengaruhi kondisi dan interaksi sosial, ekonomi, teknologi, dan yang terkait dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya yaitu tingkat kemajuan pendidikan di satu daerah/pulau dengan daerah/pulau lainnya berbeda-beda. Tingkat kemajuan pendidikan ini tentunya dipengaruhi oleh bagaimana sistem pembelajaran yang diterapkan di tempat itu.Untuk mengatasi hambatan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pemerataan kesempatan belajar dalam  kondisi geografis,budaya, sosial ekonomi, yang berbeda maka dibuatkan salah satu solusi yaitu Blended Learning dengan memanfaatkan perangkat yang terkoneksi dengan internet. Universitas Nusa Cendana adalah satu-satunya universitas negeri yang ada di Nusa Tenggara Timur (NTT).  Propinsi NTT dengan kondisi geografis yang terdiri dari banyak pulau kecil dan besar, cukup baik untuk diterapkan sistem pembelajaran Blended Learning, karena selain hal tersebut di atas keterbatas transportasi bagi peserta didik dan pendidik juga menjadi kendala dalam pembelajaran konvensional.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah SDLC (System Development Life Cycle).  Optimisme suksesnya pelaksanaan sistem Blended Learning ini sangat tinggi karena fasilitas dan atmosfir dari berbagai pihak sangat mendukung ditambah dengan kebutuhan akan menjadi kebutuhan prioritas bagi semua orang dalam hal ini peserta didik. Kata Kunci : Blended Learning, e-learning, metode SDLC (System Development Life Cycle)   
Co-Authors Abdul Halim Agus Firmansyah Ahmad Muhtadi Ali Sungkar Anita D. Anwar Asep Aziz Asopari, Asep Aziz Ati Retna Sari Budi Setiabudiawan Dany Hilmanto Davies, Sharyn Graham Dewanto, Naomi E.F. Dewi Nurlaela Sari, Dewi Nurlaela Diah Ariani Arimbi, Diah Ariani Diah Asri Wulandari Dzulfikar DLH, Dzulfikar Elfira, Vanda Eli Halimah, Eli Elza Noviani, Elza Endang Sutedja FM Suhartati FM Suhartati Gatera, Vesara A. Gerritsen H. J Henni Djuhaeni Herry Garna Husin, Farid Ida Suryani, Ida Iesje Martiza Ike Dwi Wahyuni, Ike Dwi Ike MP Siregar, Ike MP Ira Furnia, Ira K., Lia Marlia Kuijper E. J Kusnandi Rusmil Kusuma, Reni M. Labrune V. Leclipteux T Lelani Reniarti Lilis Sumiati, Lilis Masri, Heni Meita Dhamayanti Mertens P. Mose, Johanes Cornellius Mulyati, Iceu Myrtati Dyah Artaria, Myrtati Dyah Nana Usnawati, Nana Nani Dharmasetiawani Nelly Amalia Risan, Nelly Amalia Noegroho, Bambang Nugroho, Bambang S Nurhalim Shahib Nurul Hidayat Ponpon Idjradinata Pratama, Rizqi Aditya Purwara, Benny Riri Adriana, Riri Rulina Suradi, Rulina Rustamaji, R.M. Saptawati Bardosono Saputri, Dwi Anggraeni Setiawati, Elsa Siti B. Kresno Sri Endah Rahayuningsih Sudigdo Sastroasmoro Suen, Mein Woei Sulistiyasni Sulistiyasni, Sulistiyasni Sunaryono Sunaryono, Sunaryono Sunjaya, Deny Kurniadi Suryani, Yani Dewi Tina Ramayanthi, Tina Tjuk Oerbandono Tri Afirianto, Tri Vita Murniati Tarawan Vivi Bachtiar Wahyono Suprapto Wardhana Suryapratama Widodo, Teguh Dwi Yasmar Alfa, Yasmar Yati Soenarto Yoni F Syukriani Yudith Setiati Ermaya Yudy Surya Irawan