Yudo Prasetyo
Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Published : 103 Documents
Articles

KLASIFIKASI BERBASIS OBJEK UNTUK PEMETAAN PENGGUNAAN LAHAN MENGGUNAKAN CITRA SPOT 5 DI KECAMATAN NGAGLIK Bashit, Nurhadi; Prasetyo, Yudo; Suprayogi, Andri
TEKNIK Vol 40, No. 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.905 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v39i3.23050

Abstract

Pesatnya pertumbuhan penduduk berdampak pada peningkatan pembangunan di setiap wilayah. Hal ini menyebabkan semakin terbatasnya keberaadaan lahan pada suatu wilayah sehingga mendasari perubahan penggunaan lahan. Pembangunan harus mengikuti pada peraturan yang telah dibuat agar tidak menimbulkan masalah seperti terbentuknya lahan kritis. Oleh karena itu, pemantauan penggunaan lahan pada suatu wilayah perlu dilakukan agar pembangunan tidak menimbulkan permasalahan. Artikel ini memuat pemanfaatan metode pengindraan jauh untuk pemantauan penggunaan lahan di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Metode pengindraan jauh memanfaatkan data citra satelit yang akan dilakukan proses klasifikasi penggunaan lahan. Penelitian ini menggunakan data citra resolusi tinggi SPOT 5 dengan memanfaatkan metode klasifikasi berbasis objek. Klasifikasi dilakukan beberapa tahapan seperti segmentasi, merge, rule-based classification. Penelitian ini menggunakan parameter skala 70 pada proses segmentasi. Berdasarkan resolusi citra, penelitian ini menghasilkan 16 kelas klasifikasi penggunaan lahan. Pengujian akurasi dilakukan untuk melihat akurasi hasil klasifikasi yang telah dilakukan sehingga penelitian ini menghasilkan ketelitian 80%. Oleh karena itu, klasifikasi berbasis objek pada citra SPOT 5 menghasilkan akurasi yang baik. Hasil klasifikasi memperlihatkan di Kecamatan Ngaglik masih didominasi oleh pertanian lahan basah sebesar 21.892.324,90 m2 dan perumahan tidak teratur sebesar 11.596.465,01 m2. Perumahan penduduk memiliki luas setengah dari luas pertanian disebabkan karena Kecamatan Ngaglik terletak berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta
ANALISIS AKURASI MODEL TIGA DIMENSI GEDUNG PROF. H. SOEDARTO, SH. MENGGUNAKAN TEKNOLOGI TERRESTRIAL LASER SCANNER (TLS) BERBASIS METODE TRAVERSE Prasetyo, Yudo
TEKNIK Vol 39, No. 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.907 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v39i2.17883

Abstract

Teknologi dokumentasi gedung secara spasial untuk konservasi dan perencanaan tata ruang semakin berkembang pesat. Urgensi tingkat ketelitian dalam suatu pengukuran juga dituntut semakin tinggi. Salah satu teknologi pembentukan objek tiga dimensi yang berkembang saat ini adalah Terrestrial Laser Scanner (TLS). Metode pengukuran TLS terdiri atas 4 metode yaitu: Cloud to Cloud, Target to Target, Traverse, dan metode kombinasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tingkat ketelitian metode Traverse dalam pengukuran suatu objek model tiga dimensi untuk keperluan dokumentasi gedung menggunakan TLS.Ketelitian metode Traverse akan diujikan pada Gedung Prof. H. Soedarto, S. H. Tingkat ketelitiannya diujikan pada dua parameter yakni hasil metode registrasi dan hasil visualisasi model tiga dimensi. Hasil analisis pengolahan data point cloud menunjukkan bahwa alat TLS dengan metode Traverse dapat digunakan untuk menghasilkan model tiga dimensi Gedung Prof. Sudarto, S. H. Nilai rata-rata validasi yang diperoleh adalah sebesar 0,004 meter dengan besaran ketelitian model RMSE sebesar ±0,00611 meter. 
ANALISIS KUALITAS PENGAMATAN DATA PASUT BERDASARKAN PERBANDINGAN KOMPONEN PASUT DAN SIMPANGAN BAKU Prasetyo, Yudo
TEKNIK Volume 29, Nomor 1, Tahun 2008
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.249 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v29i1.1921

Abstract

Tide harmonic constanta is 2 kind of constant parameters (amplitude and phase) with periodic phase fromthe truly tide in equilibrium tide. The quality of tide data processing can be look in the standard deviationvalue of tide harmonic constanta. The standard deviation value decreasing is indicate that tide dataprocessing have a good data quality processing, contrary the standard deviation value increasing isindicate that tide data processing have a bad data quality processing. Depend on range of data observationtime (1 month,3 month, 6 month and 1 year), it will compute in 7 tide harmonic constanta to compare tidedata processing quality. It will compare using amplitude and phase standard deviation which is show thetide data processing quality. This analysis have function to prove that the range of data observation timehave a significant influence in a tide data processing.
APLIKASI FOTOGRAMMETRI JARAK DEKAT UNTUK PEMODELAN 3D WAJAH MANUSIA Ananingtyas, Fadlila; Prasetyo, Yudo; Suprayogi, Andri
Jurnal Geodesi Undip Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKWajah adalah bagian frontal kepala manusia, membentang dari dahi ke dagu dan termasuk mulut, hidung, pipi, dan mata. Identitas seseorang dapat dibangun berdasarkan  wajah. Oleh karena itu, wajah banyak digunakan diberbagai token otentikasi seperti KTP, paspor dan SIM. Fotogrametri jarak dekat merupakan salah satu bidang penerapan fotogrametri yang dapat digunakan untuk perekaman objek dengan jarak kurang dari 100 meter. Fotogrametri jarak dekat dapat dimanfaatkan dalam pemodelan 3D bangunan, kendaraan, jembatan maupun forensik.Pada penelitian ini, metode fotogrametri jarak dekat digunakan untuk pemodelan 3D wajah manusia dengan kamera digital non metrik. Kamera yang digunakan harus melalui proses kalibrasi untuk mengetahui parameter internal kamera. Proses kalibrasi dan pengolahan data dalam tugas akhir ini menggunakan perangkat lunak PhotoModeler Scanner v.7 2013. Tahap pemodelan bangunan terdiri dari marking dan referencing, proses hitungan dan pembuatan model 3D, dan visualisasi model 3D. Data yang digunakan adalah data foto yang diambil secara keseluruhan mengelilingi wajah objek manusia.Hasil akhir dalam penelitian ini adalah model 3 dimensi wajah manusia. Pengujian hasil pengolahan model 3D dilakukan dengan analisis perbandingan selisih jarak dan analisis visual oleh dokter ahli forensik. Dari hasil pengolahan data, didapat nilai RMS foto terbesar adalah 1,275 piksel. Hasil statistik menunjukkan bahwa hubungan variabel hasil Photomodeler memiliki korelasi/keterkaitan secara positif dengan variabel hasil ukuran forensik dengan hasil nilai sig 0,000000513922 memenuhi tingkat signifikansi 5%. Potensial akurasi pemrosesan model 3D masih rendah yaitu nilai 2 (Low). Berdasarkan hasil perbandingan jarak 3D, menunjukkan bahwa pemodelan memiliki nilai rata-rata selisih sebesar 1,066 mm, dengan nilai deviasi sebesar ±1,323 mm. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pengukuran hasil model dan hasil pengukuran meteran.Kata Kunci : Fotogrametri Jarak Dekat, Kamera Digital Non Metrik, Wajah Manusia, Antropologi, PhotoModeler Scanner  ABSTRACTThe face is the frontal part of the human head, stretching from the forehead to the chin including the mouth, nose, cheeks and eyes. A person's identity can be recognized based on the face. Therefore, the face is widely used in various authentication tokens such as ID cards, passports and driver's license. Fotogrametri close range is one of the areas of application of photogrammetry. Close range photogrammetry can be used for recording the object within less than 100 meters. Close range photogrammetry is typically used in 3D modeling of buildings, vehicles, bridges and forensics. In this study, close-range photogrammetry method used for 3D modeling of human faces with non-metric digital camera. The camera is used to go through the calibration process to determine the internal parameters of the camera. The Process calibration and data processing in this study use software PhotoModeler Scanner v.7 2013. The building modeling stage consists of marking and referencing, the count process and 3D model creation and visualization of 3D models. The data used is the data of photos taken as a whole around the face of a human object .The final result in this study is three-dimensional model of a human face. The test results of the processing of 3D models performed by a comparative analysis of distances and visual analysis by forensic specialists. From the data processing, obtained the RMS value of the largest photo was 1.275 pixels. The statistical results showed that the relationship Photomodeler outcome variables have a correlation / relationship positively with variable results with the results of forensic size sig .000000513922 meet the 5% significance level. Potential accuracy of processing the 3D model still lower that the value of 2 (Low). Based on the comparison results within the 3D modeling has showed that the average value of a difference is 1.066 mm, with a deviation of ± 1.323 mm. This shows that there is no significant difference between the measurement results of the model and meter measurement results.Keywords: Close Range Photogrammetry, Digital Camera Non Metrics, Human Face, Anthropology, PhotoModeler Scanner  *) Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS AKURASI DEM DAN FOTO TEGAK HASIL PEMOTRETAN DENGAN PESAWAT NIR AWAK DJI PHANTOM 4 (STUDI KASUS : BUKIT PERUMAHAN PERMATA HIJAU TEMBALANG SEMARANG) Aji, Dito Seno; L.M. Sabri, L.M. Sabri; Prasetyo, yudo
Jurnal Geodesi Undip Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pemetaan dan pengukuran tinggi diperlukan dalam perencanaan sebuah proyek pembangunan untuk menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan dalam pelaksanaan proyek pembangunan. Perencanaan sebuah proyek pembangunan tentunya sangat memperhatikan efisiensi waktu, tenaga dan biaya agar seluruh pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan lancar,  berhasil dan sesuai rencana. Perkembangan dalam dunia teknologi juga sangat berpengaruh pada dunia survei dan pemetaan. Teknologi harus dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan manusia agar mendapatkan hasil yang maksimal. Salah satu contoh perkembangan teknologi pemetaan adalah digunakannya Unmanned Aerial Vehicle (UAV) untuk kegiatan survei dan pemetaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstraksi DEM dan foto tegak hasil pemotretan udara dengan UAV DJI PHANTOM 4. Proses ekstraksi DEM dan orthofoto dibagi menjadi 3 metode pengolahan yaitu pengolahan dengan densitas point cloud low, medium dan high. Hasil pengolahan foto udara dari ketiga metode ini dibandingkan dengan hasil pengukuran lapangan, kemudian dihitung signifikansi perbandingan dari ketiga metode tersebut menggunakan uji F.Berdasarkan perhitungan CE90 dan LE90 menurut Peraturan Kepala BIG Nomor 15 Tahun 2014 produk peta yang dihasilkan masuk dalam skala 1:1.000 kelas 3. Hasil perhitungan selisih jarak antara ukuran objek pada foto tegak hasil ekstraksi dengan pengukuran lapangan standar deviasi densitas low 0,0546, densitas medium 0,0183 dan densitas high 0,008. Hasil perhitungan selisih tinggi antara titik uji pada DEM hasil ekstraksi dengan pengukuran lapangan standar deviasi densitas low 0,563, densitas medium 0,380 dan densitas high 0,367.
ANALISIS POTENSI EROSI MENGGUNAKAN MODEL AGNPS (AGRICULTURAL NON-POINT SOURCE POLLUTION MODEL) (STUDI KASUS: HUTAN YONA, YANBARU) Simarmata, Delima Canny Valentine; Subiyanto, Sawitri; Prasetyo, yudo
Jurnal Geodesi Undip Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKNegara Jepang terbagi menjadi 41 prefektur (provinsi) dengan luas sekitar 377,815 km2 dengan 70% area ditutupi bukit dan pegunungan. Sekitar 250.905 km2 atau samadengan 67% luas negara Jepang ditutupi oleh wilayah hutan. Menurut data lembaga kehutanan Jepang, salah satu pulau dengan luas hutan yang cukup mempengaruhi bentang alam negara Jepang adalah hutan Yanbaru, Okinawa. 72% dari bagian utara pulau Okinawa ditutupi oleh hutan Subtropis yang dalam dialek Okinawa disebut ?Yanbaru?. Kawasan hutan Yanbaru terbagi atas 3 bagian yaitu Kunigami, Higashi dan Ogimi. Kawasan Hutan Yona merupakan bagian dari area Kunigami dan Ogimi dan menjadi salah satu daerah konservasi oleh Negara Jepang. Saat ini, kawasan Hutan Yona sedang diseleksi untuk menjadi kawasan yang dilindungi oleh UNESCO, PBB.Hutan Yona merupakan kawasan yang memiliki intensitas hujan dan badai taifun yang tinggi. Disisi lain, kawasan Hutan Yona juga memiliki kelerengan dan panjang lereng yang cukup curam. Faktor-faktor ini sangat berpotensi untuk menyebabkan adanya erosi. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji potensi dan tingkat kerawanan erosi di kawasan Hutan Yona. Data yang digunakan adalah data curah hujan, DEM, peta jenis tanah, peta tutupan lahan dan peta jaringan sungai. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pemodelan AGNPS (Agricultural Non Point Source). Metode ini menggunakan pemodelan grid seluas 10 x 10 m pada wilayah daerah tangkapan air (DTA). Kawasan Hutan Yona dengan luas DTA seluas 937,55 ha memiliki nilai energi intensitas curah hujan 30 menit (EI30) sebesar 41,59 m.ton.mm/m2. Berdasarkan hasil pemodelan AGNPS (Agricultural Non Point Source), laju erosi rata-rata dan jumlah tanah terkikis pada DTA Hutan Yona masing-masing sebesar 13,53 m/s dan 0,1367 mm/th. Besar erosi yang terjadi adalah 113,91 ton/ha/th. Nilai erosi ini termasuk tingkat kerawanan pada kelas III yaitu kelas sedang, yaitu berada dengan interval erosi 61 ? 180 ton/ha/thn. Kata Kunci : AGNPS, Erosi, Okinawa, Penginderaan Jauh, Yona ABSTRACTJapan is divided into 41 prefectures (provinces) with an approximately area about 377.815 km2. About 70% of Japan or equal with 264.47 km2 is covered by hills and mountains. However, 250 905 km2 or equal with 67% of Japan is covered by forests. According to data from the Forest Ministry of Japan, one of the islands which affects Japan landscape is Yanbaru Forest, Okinawa. 72% of the northern part of Okinawa Island is covered by subtropical forest that in the Okinawan dialect called "Yanbaru". Yanbaru forest area is divided into three areas, Kunigami, Higashi and Ogimi. Yona, one of the Yanbaru Forest area, is a part of the Kunigami and Ogimi. It has become one of the conservation area held by the Japan Government. Yona area is now nominated as a protected area by UNESCO, PBB.Yona Forest Area (YFA) is an area with a high rainfall intensity and frequent storms typhoon. Besides, it has length-long slope and high steepness. These factors highly cause an erosion. Therefore, this study aimed to assess the potential and the level of vulnerability of erosion in Yona Forest Area (YFA). This study used Rainfall intensity data, DEM, soil map, land cover map and river stream map. The method in this study used AGNPS Model (Agricultural Non-Point Source Model) which had 10 x 10 m grid to represent a catchment area (DTA).Yona Forest Area (YFA) with 937.55 ha of catchment area had 30 minutes rainfall intensity energy (EI30) about 41.59 m.tons.mm/m2. According to AGNPS Model (Agricultural Non-Point Source Model) result, velocity and amount of eroded soil were 13,53 m/s and 0,1367 mm/year, respectively. Erosion that occured in catchment area of Yona Forest Area was about 113,91 ton/ha/yr. It was included into the middle erosion class with and interval class 61-180 tons / ha / yr. Keywords: AGNPS, Erosion, Okinawa, Remote Sensing, Yona,*) Penulis, Penanggung Jawab
KLASIFIKASI TUTUPAN VEGETASI MENGGUNAKAN METODE DEKOMPOSISI POLARIMETRIK Putra, Panji Pratama; Prasetyo, Yudo; Haniah, Haniah
Jurnal Geodesi Undip Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Indonesia adalah negara yang memiliki wilayah yang sangat luas dan kekayaan alam yang berlimpah. Pembangunan di segala bidang dilaksanakan untuk memajukan negara, melindungi kekayaan alam, serta untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada proses pembangunan tersebut ada aspek penting yang tidak boleh diabaikan yaitu mengenai memahami banyaknya kawasan hutan dan perkiraan biomasa hutan yang ada di Indonesia. Disamping itu manfaat dari kawasan hutan sangat penting untuk keberlangsungan makhluk hidup yang ada di bumi.Penelitian penelitian ini memanfaatkan data ALOS PALSAR L-band level 1.5 dengan quad polarization. Pada penelitian ini proses yang dilakukan adalah dengan mengektrasi data tersebut kedalam matriks Sinclair yang kemudian akan dilakukan proses multilook dan speckle filtering untuk menghilangkan noise. Setelah proses tersebut dilakukan data tersebut di konversi kedalam matrik koherensi untuk mendapatkan informasi dari hasil klasifikasi yang menggunakan metode dekomposisi polarimetrik yang telah dijaelaskan oleh Cloude dan Pottier. Hasil klasifikasi kawasan hutan yang telah didapatkan proses berikutnya adalah memberikan informasi koordinat pada hasil klasifikasi tersebut agar data yang dihasilkan memiliki informasi koordinat yang sesuai dengan kondisi sebenarnya. Validasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan menyesuaikan tutupan lahan hasil klasifikasi dekomposisi polarimetrik dengan citra Landsat 8 untuk mendapatkan kesesuaian tutupan lahan agar didapatkan informasi sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.Penelitian tugas akhir ini menghasilkan sebuah citra hasil klasifikasi dekomposisi polarimetrik dengan metode Cloude & Pottier. Hasil klasifikasi tersebut mengklasifikasikan kawasan perairan dan non-perairan (kawasan hutan dan pemukiman). Hasil dari klasifikasi dekomposisi polarimetrik ini juga menghasilkan luas kawasan tutupan vegetasi sebesar 52.793 ha, kawasan pemukiman sebesar 31.209 ha dan kawasan perairan sebesar 12.312 ha.. Selain itu klasifikasi tersebut diharapkan dapat dijadikan acuan sebagai bahan pertimbangan untuk mengembangkan pelestarian kawasan hutan guna keberlangsungan makhluk hidup di masa yang akan datang.Kata Kunci : Kawasan hutan, Cloude dan Pottier, Klasifikasi dekomposisi polarimetrik ABSTRACTIndonesia is an exceedingly wide country which having much a natural resources. Development in every field occurs to increase the country, protect the natural resource, and increase a society welfare. There are two crucial aspects in every process of the development, namely to recognize the forest area and estimate the forest biomass in Indonesia. Moreover, the benefit of the forest area is extremely crucial  for the survival of living things on Earth. This research utilized ALOS PALSAR L-band level 1.5 data with quad polarization. In this research, the process was performed by exctract the data into the matrix Sinclair and then do the multilook process and speckle filtering to remove noise. Once the process was performed, some data will process into coherency matrix to obtain the information from the result of classification using polarimetric decomposition that have been describe by Cloude and Pottier. The result of classification of vegetation cover that have been obtained the next process is to provide coordinate information on the result of classification that the data generated has coordinate information appropriate withcatual condition. Validation in this research is performed to adjust classification result polarimetric decomposition with landsat 8 to get the suitability of land cover in order to obtain information appropriate with actual conditionThis final research showed in an image of the polarimetric decomposition classification result used Cloude & Pottier method. The classification result produces a classification that separated water and non-water (forest and residence area). The total vegetation cover area according from classification polarimetric decomposition amounted to 52.793 ha, residence area amounted to 31.209 ha and waters area amounted to 12.312 ha. The result is expected to be reference to develop conservation of forest area for the survival of living things in the future.Keywords: Forest area, Cloude and Pottier, Polarimetic decomposition classification.*) Penulis Penanggungjawab
PEMODELAN GEOID INDONESIA DENGAN DATA SATELIT GOCE Daraputri, Maylani; Prasetyo, Yudo; Yuwono, Bambang Darmo
Jurnal Geodesi Undip Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada koordinat geografis 6o LU ? 11o LS dan 95 o BT ? 141o BT. Dengan banyaknya laut yang dimiliki Indonesia, penentuan MSL (Mean Sea Level) sebagai bidang yang berimpit dengan geoid menjadi pekerjaan yang sulit.Penentuan model geoid dapat diturunkan dari data satelit, data gravimetri dan data DEM.  Perkembangan teknologi satelit gaya berat berperan sangat besar dalam menentukan medan gaya berat bumi. Salah satu satelit gaya berat bumi adalah satelit GOCE (Gravity field and steady-state Ocean Circulation Explorer) yang diluncurkan oleh ESA (European Space Agency) pada Maret 2009.  Pemodelan geoid pada penelitian ini hanya menggunakan data satelit GOCE yang digunakan sebagai gelombang panjang geoid. Data yang digunakan adalah data level-2 satelit GOCE. Model geoid GOCE yang digunakan ada empat jenis yaitu model DIR R2, DIR R3, TIM R2, dan TIM R3 yang dirilis pada tahun 2010 dan 2011. Sebagai model pembanding digunakan model EGM 96 dan EIGEN 5C. Validasi model geoid dilakukan terhadap model geoid lokal pulau Jawa.Hasil penelitian menunjukan bahwa model DIR R2 memiliki selisih standar deviasi terkecil terhadap model pembanding EGM 96 yaitu sebesar 0.583 meter maupun dengan model EIGEN 5C yaitu sebesar 0.186 meter. Geoid dengan grid kecil dan derajat orde rendah memiliki standar deviasi rendah.Hasil dari perbandingan antar model geoid GOCE menunjukan bahwa model TIM R2 dan TIM R3 memiliki standar deviasi terkecil yaitu sebesar 0.014 meter, hasil validasi dengan model geoid lokal pulau Jawa memiliki nilai standar deviasi sebesar 0.328 meter. Dengan model geoid regional Indonesia dari data satelit GOCE, penentuan geoid lokal untuk masing-masing daerah dapat lebih mudah.Kata kunci           : EIGEN 5C,  EGM 96, Geoid, GOCE.  ABSTRACT Indonesia is an archipelago country which is geographically located in 6o N ? 11o S and  95 o ? 141o E. Indonesia have a much of sea, determination of mean sea level as a surface closed to geoid was difficult.Determination of geoid model could be derived from satellite data, surface gravity, and digital elevation model. Development of satellite gravity has a significant impact in determining gravity field of the earth. One of  the most commonly satellite gravity is GOCE (Gravity field and steady-state Ocean Circulation Explorer) satellite, was launched in march 2009 by ESA (European Space Agency).Geoid modelling in this research used GOCE satellite data as long wavelength geoid. The data which was used is GOCE level 2 data. GOCE geoid models which were used are  DIR R2 , R3 DIR , TIM R2 and TIM R3 with the acquisition data in 2010 and 1011. The results of GOCE geoid models are subtracted with EGM 96 and EIGEN 5C models. Validation of geoid model was refer to Java local geoid model.The results showed that the model DIR R2 has the lowest differences of standard deviation due to EGM96 model is about 0.583 meter as well as EIGEN 5C is about 0.186 meter. Geoid model which has small grid and low degree and order had low standard deviation. The Results of the comparison between the GOCE geoid model showed that the model TIM R2 and TIM R3 has the lowest standard deviation is about 0.014 meter. The result of validation due to Java local geoid model is about 0.328 meter. With the regional geoid of Indonesia using GOCE satellite data, determination of geoid height in each local area is easier.Keywords : EIGEN 5C,  EGM 96, Geoid, GOCE.  *) Penulis Penanggung Jawab  
ANALISIS AKURASI KETELITIAN VERTIKAL MENGGUNAKAN FOTO UDARA HASIL PEMOTRETAN PESAWAT TANPA AWAK UNTUK PEMBENTUKAN DIGITAL TERRAIN MODEL (DTM) RACHMA, YULIA SAVIRA; Prasetyo, Yudo; Yuwono, Bambang Darmo
Jurnal Geodesi Undip Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi yang semakin modern, membuat kebutuhan akan data geospasial dituntut untuk dapat memberikan suatu informasi mengenai posisi dan ruang dari keadaan real world, untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkanlah suatu cara atau teknik pemetaan yang cepat dan efisien namun tidak mengabaikan aspek ketelitiannya. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi fotogrametri kamera non metrik yang biasanya merupakan hasil pemotretan UAV. Salah satu data primer yang dihasilkan dari foto udara tersebut berupa data kontur yang dapat dibentuk dari Digital Terrain Model (DTM). Diperlukan metode pembentukan DTM yang cepat dan efisien untuk mempercepat memenuhi kebutuhan peta dasar. Metode yang digunakan untuk filterisasi DSM menjadi DTM dapat dilakukan dengan cara klasifikasi point clouds. Klasifikasi dilakukan secara semi otomatis dengan menggunakan algortima macro dan untuk klasifikasi manual menggunakan bantuan ortofoto dan identifikasi tampak samping (cross section), selanjutnya DTM yang diperoleh dari foto udara hasil pemotretan UAV dibandingkan terhadap DTM yang diperoleh dari pengukuran Total Station. Data foto udara diperoleh dari pemotretan UAV pada tanggal 3 Juni 2017 di wilayah pertambangan kapur Desa Sidokelar, Lamongan. Hasil georeferencing didapatkan pergeseran nilai error terbesar adalah 1,05 cm yaitu pada GCP 2 dan nilai error terkecil adalah 5 mm yaitu pada GCP 6. Perbandingan ICP model dengan lapangan menunjukkan nilai selisih terbesar yaitu pada ICP 8 sebesar 0,9 cm dan pada ICP 2 sebesar 0,2 mm. Hasil DTM ekstraksi foto udara memiliki RMSE sebesar 0,778 meter serta dihasilkan nilai LE90 sebesar 1,284, sehingga berdasarkan Perka BIG No 15 tahun 2014 ketelitian DTM yang diperoleh masuk kedalam ketelitian skala 1:5000 pada kelas 2. Hal ini menunjukkan bahwa DTM hasil ekstraksi pengolahan foto udara dapat digunakan untuk keperluan pemetaan di wilayah pertambangan kapur Desa Sidokelar, Lamongan dengan skala 1:5000 atau yang lebih kecil.
APLIKASI FOTOGRAMETRI JARAK DEKAT UNTUK PEMODELAN 3D TUGU MUDA SEMARANG Wahyuananto, Noviar Afrizal; Prasetyo, Yudo; Sasmito, Bandi
Jurnal Geodesi Undip Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKObjek pemetaan dipermukaan bumi sebagian besar merupakan objek tiga dimensi, oleh karena itu saat ini mulai dibutuhkan peta tiga dimensi. Data dasar yang digunakan untuk melakukan pemodelan objek tiga dimensi harus memiliki tingkat ketelitian yang baik dan geometri yang baik juga.Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode fotogrametri jarak dekat untuk pemodelan 3D Tugu Muda Semarang menggunakan kamera digital non metrik. Untuk tahapan pelaksanaan penelitian terbagi atas tahapan kalibrasi kamera, pemotretan objek, pengolahan model 3 dimensi. Untuk proses kalibrasi didapatkan angka 80% memenuhi syarat kalibrasi.Untuk pengambilan data foto dilapangan sebanyak 96 foto dan pengolahan data pada penelitian ini menggunakan perangkat lunak PhotoModeler Scanner 2013 dan Summit Evolution sebagai perbandingan uji statistik titik geometrik dengan Electronic Total Station. Tahap pemodelan bangunan terdiri dari Automated Project, proses hitungan dan pembuatan model 3D, transformasi koordinat 3D, visualisasi model 3D dan analisis statistik 24 titik geometrik.Hasil akhir dalam penelitian ini adalah model tiga dimensi Tugu Muda Semarang. Pengujian hasil pengolahan model 3D dilakukan dengan pengujian perbandingan jarak yang diikatkan dari  pengukuran Electronic Total Station, nilai standar deviasi dari perbandingan jarak dengan Electronic Total Station sebesar 0,101 meter. Kata Kunci : Fotogrametri Jarak Dekat, Pemodelan Tiga Dimensi, Tugu Muda, Kamera Digital Non Metrik, PhotoModeler Scanner. ABSTRACTThe earth?s surface object mapping is largely a three dimensional (3D) object, therefore at this time has began to take a three dimensional map. The basic data used to perform modeling three dimensional objects must have a good level of precision and  good geometry precision .In this research, the methods used are the close range photogrametry method for modeling 3D of Tugu Muda using digital cameras non metric. For this phase of the research is divided into stages cameras calibration, object photo shoot, 3D model processing. For the calibration process obtained 80% qualified calibration.For the real photo data capture as many as 96 images and data processing on this research using PhotoModeler Scanner and Summit Evolution a comparative statistical test geometric with Electronic Total Station. The Modeling stage consists of Automated Project, process counts and the creation of models, 3D coordinate transformations, 3D model visualization and 24 geometric points statistical analysis.The final results in this research are 3D model Monument of Tugu Muda Semarang. Testing of the results in 3D modelling processing was done by comparing the 3D model distance referenced to Electronic Total Station measurement. The comparison of the standard deviation value with the Electronic Total Station measurement is 0,101 meters. Keyword: Close range photogrammetry, 3D model, Tugu Muda Monument, Non-Metric Digital Camera, PhotoModeler Scanner.   *) Penulis PenanggungJawab
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Aji, Bernardinus Joko Prakosta Santu Aji, Dito Seno Aji, Rifki Purnama Aldin, Faisal Alfian Adi Atmaja, Alfian Adi Alvian Danu Wicaksono Andini, Siska Wahyu Andri Suprayogi Anggoro Pratomo Adi, Anggoro Pratomo Apriliani, Annisa Ari Setiani, Ari Ariani, Dita Arief Laila Nugraha Ariefa, Emeralda Amirul Ariescha Eko Yuniarto, Ariescha Eko Arwan Putra Wijaya Ashar, Riza Azeriansyah, Reyhan Aziz, Kurnia Wisnu Bahtiar Ibnu Lonita, Bahtiar Ibnu Baihaqi, Hanum Fadhil Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Barus, Bernard Ray Bashit, Nurhadi Bashit, Nurhadi Bram Ferdinand Saragih, Bram Ferdinand Dafid Januar, Dafid Dani Nur Martiana, Dani Nur David Jefferson Baris, David Jefferson Delima Canny Valentine Simarmata, Delima Canny Valentine Deviana Putri Sunarernanda, Deviana Putri Dita Rizki Amliana, Dita Rizki DIYANAH, DIYANAH Emelyana, Rina Fadhlurrohman, Bilal Fadlila Ananingtyas, Fadlila Fakhri Islam, Lukman Jundi Fatimah Putri Utami, Fatimah Putri Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Handoko, Dede Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hanif Arafah Mustofa, Hanif Arafah Hestiningsih Hestiningsih, Hestiningsih Hutagalung, Alvatara Partogi Hutahaean, Gantra S.D Ikhwandito, Anang Imanuel Sitepu, Imanuel Indah Purwanti Isnasatrianto, Agree J.B, Franstein Kevin Jamilah, Mutiara Khafidlin, Muhammad Nur Krisnha, Dicky Nur L.M. Sabri, L.M. Sabri Lanjar Cahyo Pambudi, Lanjar Cahyo Manullang, Sintauli MARWATI, ATIKA Maulana Lubis, Ahmad Iqbal Maulana, Adito Maylani Daraputri, Maylani Mazazatu Rosyada Moehammad Awaluddin Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Arizar Hidayat, Muhammad Arizar Muhammad Helmi Muna, Nailatul Nabilah, Farras Narendra Sava Hanung, Narendra Sava Naryoko, Naryoko Nizma Humaidah, Nizma Noviar Afrizal Wahyuananto, Noviar Afrizal Nuardi Dwi Pradipta Octaviana, Annisa Pamungkasari, Fajriah Lita Panji Pratama Putra, Panji Pratama Permana, Daud Panji Pran Shiska, Pran Prasetyo, Nanang Noviantoro PRATOMO, ARDI SETYO Purba, Supriadi Sanjaya PURWANTI, WIWIT RACHMA, YULIA SAVIRA Rahmawati, An Nisa Tri Ramadhanis, Zainab Rendi Aulia Retno Kusumaningrum Riska Pratiwi Sa'diyah, Ulifatus Sabri, LM Sabri, LM Samudra, Alfonsus Bima Saraswati, Galuh Puteri Sawitri Subiyanto Setyo Ardy Gunawan, Setyo Ardy Shafitri, Luluk Dita Silaen, Billy Simarsoit, Yonanda Sukmawati Nur Endah Syachril Warasambi Mispaki, Syachril Warasambi Tegar Dio Arsadya Rahadian, Tegar Dio Arsadya Tengku Oki Al Akbar, Tengku Oki Theresia Niken Kurnianingsih, Theresia Niken Thoriq Fajar Setiawan, Thoriq Fajar TINAMBUNAN, ADYVICTURA Ulinnuha, Ilham Wicaksono, Widi Zia Ul Maksum, Zia Ul Zuraidha, Riza Nur