Triwilaswandio Wuruk Pribadi
Jurusan Teknik Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

PERMODELAN RISIKO KENAIKAN TARIF DASAR LISTRIK TERHADAP BIAYA PRODUKSI KAPAL BARU Nugroho, Very Purwo; Pribadi, Triwilaswandio Wuruk
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.302

Abstract

Pada Tugas Akhir dikembangkan model risiko pengaruh kenaikan Tarif Dasar Listrik terhadap biaya produksi kapal baru. Variabel yang terpengaruh kenaikan TDL pada produksi kapal didapatkan dengan identifikasi dan evaluasi pemakaian energi listrik pada fasilitas produksi, pengaruh terhadap tenaga kerja serta pengaruh terhadap biaya material dan komponen  kapal. Material dan komponen tersebut dikelompokan menjadi material lokal manufaktur (Local Manufacture), lokal CKD (Completely Knock-Down), import CBU (Completely Built-Up) dan import trading. Model yang dikembangkan mempunyai variabel yang terpengaruh kenaikan TDL terdiri dari (i) kenaikan biaya listrik dan (ii) kenaikan harga material yang sensitif terhadap kenaikan TDL. Material dan komponen yang sensitif terhadap kenaikan TDL  yaitu material kelompok lokal manufaktur seperti pelat baja dan konsumabel gas serta kelompok lokal CKD (Completely Knock-Down) seperti pendingin ruangan (Air Conditioner Equipment), Main Switch Board (MSB) dan Alarm Monitoring System (AMS).
STUDI IMPLEMENTASI REPARASI KAPAL BERBASIS KEANDALAN UNTUK GALANGAN KAPAL Muhtadi, Ahmad; Pribadi, Triwilaswandio Wuruk; Baihaqi, Imam
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v5i1.15789

Abstract

Tujuan dari tugas akhir ini adalah untuk memperbaiki kondisi keandalan pada perbaikan kapal di galangan kapal saat ini dengan melakukan pendekatan implementasi keandalan. Dengan pendekatan ini peneliti melakukan penyelesaian masalah ketidakandalan dan implementasi keandalan pada reparasi/perbaikan kapal di galangan kapal. Pertama, dilakukan kunjungan ke galangan untuk mencari kondisi keandalan pada proses dan hasil perbaikan kapal. Kegiatan yang dilakukan berupa pengambilan data docking repair list kapal dan diskusi tentang aktifitas perbaikan kapal yang dilakukan di galangan kapal. Kedua, data yang didapat kemudian diolah berdasarkan teori Reliability Analysis dan teknik Root Cause Analysis. Ketiga, hasil dari pengolahan data dianalisa untuk mendapatkan model identifikasi ketidakandalan pada perbaikan kapal. Model ini digunakan sebagai landasan untuk melakukan mitigasi dan implementasi keandalan pada perbaikan kapal. Setelah mitigasi dan implementasi dilakukan, diciptakanlah sebuah bagan alur pengimplementasian beserta target dan strategi implementasi pada perbaikan kapal. Hasil yang didapatkan dari  tugas akhir ini berupa kerangka kerja peningkatan keandalan pada galangan kapal yang berisi identifikasi faktor SDM, Material, Sarana & Prasarana, SOP, Kondisi Lapangan, dan desain
PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI PADA SISTEM PEMELIHARAAN KAPAL TERENCANA Ardhi, Eka Wahyu; Nugroho, Setyo; Pribadi, Triwilaswandio Wuruk
Jurnal Kelautan Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v11i1.3145

Abstract

Biaya operasi kapal yang tinggi merupakan tantangan bagi setiap industri maritim, dalam beberapa studi ditemukan bahwa komponen biaya untuk perawatan kapal mencapai 40% dari keseluruhan biaya operasi kapal, untuk itu diperlukan suatu perbaikan sistem perawatan kapal untuk menekan biaya ini namun tidak mengakibatkan kualitas pelayanan menurun.Sistem Pemeliharaan Kapal Terencana/Planned Maintenance System (SPKT/PMS) adalah suatu sistem yang menyangkut/mengenai rencana-rencana, prosedur-prosedur, dan langkah-langkah untuk mengurangi pemeliharaan tak terduga/darurat (emergency) menjadi sekecil mungkin, sehingga dapat menekan biaya pemeliharaan menjadi sekecil mungkin. SPKT juga merupakan suatu sistem yang akan menolong untuk dapat mengetahui lebih awal kebutuhan-kebutuhan pemeliharaan yang akan datang, mengurangi pemakaian suku cadang (spare parts) dan inventaris (inventory), menghindari pemborosan pemakaian tenaga kerja/jam orang untuk pemeliharaan, menekan waktu dan biaya docking, dan secara umum dapat menghemat biaya pemeliharaan kapal, serta menjamin kondisi teknis kapal sehingga meningkatkan waktu  pengoperasian kapal karena kondisi layak laut kapal yang lebih lama. Pemeliharaan terencana rneliputi pekerjaan pemeliharaan perbaikan (corrective maintenance) dan pekerjaan pemeliharaan pencegahan (preventive maintenance).Standard Operation Procedure Planned Maintenance System yang telah dibuat di desain untuk kegiatan PMS yang bersifat manual, dalam artian menggunakan media form-form berbasis kertas yang harus di-isi secara manual oleh semua entitas sistem PMS. Proses PMS secara manual membuat user harus lebih aktif dalam melakukan isian form yang sudah ada, diantaranya adalah memilah-milah perawatan harian, mingguan, bulanan dan lain sebagainya. Tantangan terbesar implementasi teknologi informasi pada Sistem Pemeliharaan Kapal Terencana adalah bagaimana mentransformasikan SOP yang bersifat manual menjadi berbasis elektronik sehingga meningkatkan kualitas sistem menjadi lebih baik. Jurnal ini menguraikan langkah-langkah implementasi teknologi informasi pada Sistem Pemeliharaan Kapal Terencana mulai dari transformasi SOP, arsitektur jaringan dan metode pelaporanAPPLICATION OF INFORMATION TECHNOLOGY ON PLANNING MAINTENANCE SYSTEMABSTRACTHigh ship operating costs are a challenge for every maritime industry, in some studies it was found that the cost component for ship maintenance reached 40% of the overall operating costs of the ship, for this reason an improvement in ship maintenance systems was needed to reduce these costs but did not result in decreased service quality. Planned Maintenance System / Planned Maintenance System (SPKT / PMS) is a system that involves / plans, procedures, and steps to reduce unexpected maintenance / emergency (emergency) to be as small as possible, so as to reduce costs maintenance becomes as small as possible. SPKT is also a system that will help to be able to know in advance the future maintenance needs, reduce the use of spare parts (inventory) and inventory (inventory), avoid waste of labor / person hours for maintenance, reduce time and costs docking, and in general can save ship maintenance costs, as well as guarantee the technical conditions of the ship so as to increase ship operating time due to longer ship seaworthy conditions. Planned maintenance includes corrective maintenance work and preventive maintenance work. The Standard Operation Procedure Planned Maintenance System has been designed for manual PMS activities, in the sense of using paper-based media forms that must be filled manually by all PMS system entities. The PMS process manually requires the user to be more active in filling in existing forms, including sorting out daily, weekly, monthly treatments and so on. The biggest challenge in the implementation of information technology in the Planned Ship Maintenance System is how to transform SOPs that are manual into electronic-based so as to improve the quality of the system for the better. This journal describes the steps of implementing information technology in the Planned Ship Maintenance System starting from SOP transformation, network architecture and reporting methodsKeywords: Planned Maintenance Maintenance System, Planned Maintenance System, Standard Operation Procedure, vessel operation
ANALISIS TEKNIS DAN EKONOMIS PERANCANGAN DAN PRODUKSI PONTOON LIFT UNTUK KAPAL IKAN 60 GT Hadiansyah, Dimas Dwi; Pribadi, Triwilaswandio Wuruk
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v6i1.22766

Abstract

Pada Studiini dilakukan penelitian terhadap Pontoon yang digunakan sebagai fasilitas utama (docking facility) untuk proses pengedokan maupun peluncuran (ship launching) kapal ikan berukuran 60 GT. Fungsi dari Pontoon sebagai sarana angkat kapal (lift) yang memanfaatkan gaya angkat dari volume zat cair yang dipindahkan dalam ruang Pontoon sehingga dapat disebut Pontoon Lift. Pertama, penelitian diawali dengan melakukan survei ukuran kapal ikan 60 GT daerah Rembang, Tuban, Probolinggo, dan Benoa. Kedua, mendapatkan panjang (L), lebar (B), tinggi ponton (h), dan TLC Pontoon Lift. Ketiga, perhitungan beban kerja untuk penentuan fasilitas produksi. Terakhir, perhitungan estimasi harga produk dan analisis kelayakan investasi industri. Berdasarkan hasil analisis teknis, didapatkan ukuran utama Pontoon Lift adalah L = 30 m, B = 13,2 m, D = 5,219 m, T = 0,6 m, Tmax = 4,219 m, Ttransfer = 1,7 m, dan H = 3,219 m dengan estimasi biaya produksi sebesar Rp 6,346 miliar. Untuk fasilitas produksi Pontoon Lift dibutuhkan lahan industri seluas 7875 m2 dengan harga investasi industri total sebesar Rp 25,633 yang berlokasi di Jl. Ikan Tuna IV, Kec. Denpasar Selatan, Kel. Pedungan, Pelabuhan Benoa, Bali. Dengan menggunakan metode analisis kelayakan Net Present Value, dan Internal Rate of Return didapatkan hasil Payback Period terjadi pada tahun ke-6 bulan ke-5 setelah terjual sebanyak 15 unit, NPV = Rp 9,908 miliar dan IRR = 15,23% untuk interest rate (faktor bunga) = 10,25%.
ANALISIS PENGARUH SALINITAS DAN TEMPERATUR AIR LAUT PADA WET UNDERWATER WELDING TERHADAP LAJU KOROSI Dwilaksono, Adrian; Supomo, Heri; Pribadi, Triwilaswandio Wuruk
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v2i1.2486

Abstract

Struktur konstruksi badan kapal lambat laut mengalami kerusakan . Apabila kapal mengalami kerusakan pada konisi darurat, pekerjaan las bawah air menjadi hal yang diutamakan. Sedangkan faktor korosi pada pengelasan basah bawah air merupakan masalah yang pasti terjadi. Melalu penelitian ini dikaji perbandingan laju korosi sambungan las material baja karbon rendah yang diberi perlakuan pengelasan basah bawah air dengan salinitas 33? , 35? dan suhu 200C, 250C. Dari keempat variasi pengelasan tersebut diberikan variasi ketebalan pelat sebagai pembanding. Penelitian laju korosi dilakukan dengan pengujian terhadap material baja A36 yang dilas menggunakan metode SMAW pada pengelasan basah bawah air pada posisi 1G (datar) dengan elektroda AWS E-6013 yang dilapisi isolasi yang bersifat kedap air. Dari data pengujian laju korosi  diketahui bahwa pengelasan basah bawah air dengan salinitas 35? lebih tinggi di bandingkan dengan pengelasan basah bawah air dengan salinitas 33?, sedangkan untuk pengujian laju korosi dengan variasi suhu diketahui bahwa dengan suhu 250C cenderung lebih besar, meskipun hasil nya tidak signifikan dibandingkan dengan suhu 200C, dan semakin tebal pelat, laju korosinya juga cenderung lebih tinggi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ketebalan yang berkurang pada Salinitas 33? dan Suhu 200C yaitu sebesar 0.2124 (mm/year ), untuk Suhu 250C yaitu sebesar 0.2139(mm/year) pada plat 10mm, Sedangkan untuk plat 12 mm , suhu 200C yaitu sebesar 0.3203 (mm/year ), untuk Suhu 250C yaitu sebesar 0.3205 (mm/year). Untuk Salinitas 35? dan Suhu 200C yaitu sebesar 0.4521 (mm/year ), untuk Suhu 250C yaitu sebesar 0.4538(mm/year) pada plat 10mm, Sedangkan untuk plat 12 mm , suhu 200C yaitu sebesar 0.5547 (mm/year ), untuk Suhu 250C yaitu sebesar 0.5550 (mm/year).