Dwi Pudjonarko
Department of Neurology, Faculty of Medicine, Diponegoro University

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

CHARACTERISTICS OF STROKE PATIENTS: AN ANALYTICAL DESCRIPTION OF OUTPATIENT AT THE HOSPITAL IN SEMARANG INDONESIA Lestari, Lis Mukti; Pudjonarko, Dwi; Handayani, Fitria Handayani
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Article in Press
Publisher : STIKes Aisyah Pringsewu Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30604/jika.v0i0.287

Abstract

Karakteristik penduduk suatu negara dipengaruhi oleh perbedaan gaya hidup akibat adanya perubahan demografi, epidemiologi dan juga budaya masing-masing daerah sehingga berisiko terjadinya perilaku yang merugikan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pasien stroke di Kabupaten Semarang. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitik dan sample diambil dengan menggunakan tehnik total sampling terhadap 92 orang pasien yang di diagnosa stroke. Data diperoleh dari rekam medis pasien dan wawancara kepada pasien atau keluarganya. Pasien yang diwawancara memiliki nilai MMSE 24-30. Hasil penelitian ini menunjukkan karakteristik pasien stroke di Kabupaten Semarang 57,6% berusia 40-59 tahun, pasien jenis kelamin laki-laki sebesar 50%, penduduk yang tidak pernah sekolah 30,4%, stroke non hemorhagik 83,7%, pasien dengan hemipharesis kiri 51,1%, pasien dengan faktor resiko hipertensi 85,9%, dan 79,6% pasien belum pernah terpapar informasi tentang stroke. Riwayat diabetes melitus dan kebiasaan merokok berpengaruh secara signifikan untuk terjadinya stroke non hemorhagik. Pasien dengan diabetes melitus memiliki risiko 9,6 kali dan pasien dengan kebiasaan merokok memiliki risiko 3,9 kali untuk mengalami stroke non hemorhagik.
NYERI YANG DIPROVOKASI ELECTRIC FOOT SHOCK, DAYA BUNUH MAKROFAG DAN PENGGUNAAN IMUNOMODULATOR BCG PADA MENCIT BALB/C Pudjonarko, Dwi; Jenie, M. Naharuddin; Dharmana, Edi
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2008:MMI Volume 43 Issue 3 Year 2008
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.672 KB)

Abstract

Provocated pain by electric foot shock, macrophage killing ability and the use of BCG as immunomodulator in Balb/C miceBackground: Pain affects immune system through Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) and Symphatetic-adrenal-medullary (SAM) axis. Immunostimulator BCG increase immune system via type I response. The aim of this study is to prove that the decrease of immune response due to pain can be improved by introducing BCG vaccine assessed by macrophage activity.Methods: The study adapts Laboratory Experimental and Post-Test Only Control Group Design. Samples were 24 female Balb/C mice average weight 21.88(SD=1.75) grams and divided into four groups. The control group (C) received no other additional treatment. The BCG group (B) received intra-peritoneal injection of 0.1 ml BCG at day 1st and 11th. The EFS (E) received Electric foot shock 1-3 mA at day 12th to 21st and the BCG+ EFS group (BE) received BCG and EFS as mentioned before. All groups wereintravenously injected with 104 live L. monocytogenes at day 21st and sacrificed at day 26th by chloroform anaesthesia. Then, Macrophages Nitrit Oxyde (NO) concentration and liver bacterial count were measured. Data were analyzed by One Way ANOVA, Post Hoc Test Bonferroni and Pearson?s product moment supported by computer software SPSS 13.0 (significant if p<0.05).Results: There were significant differences in the macrophages NO production and the liver bacterial count (p<0.05) among the groups. The highest number of bacterial count and the lowest number of NO production was found in the E group. In contrast, there were significant differences on the number of bacterial count and NO production between BE group and E group (p>0.05).Conclusions: Pain provocation causes low NO concentration in macrophages and the introduction of BCG could improve the condition.Keywords: Pain, macrophages, NO, bacterial count ABSTRAKLatar belakang: Nyeri dapat mempengaruhi imunitas tubuh melalui aksis Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) dan Symphateticadrenal- medullary (SAM) dengan menurunkan produksi sitokin tipe 1. Penggunaan imunostimulator BCG terbukti dapat meningkatkan respon imunitas seluler melalui respon tipe I. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan penurunan imunitas seluler yang diakibatkan nyeri dapat diperbaiki dengan pemberian vaksin BCG dengan melihat aktivitas makrofag.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik, dengan pendekatan The Post Test ? Only Control Group Design yang menggunakan 24 ekor mencit betina strain Balb/C, umur 6-8 minggu. Sampel dibagi menjadi 4 kelompok dan mendapatkan makanan standar. Pada Kelompok Kontrol (K), mencit tidak mendapatkan perlakuan, sedangkan kelompok BCG (B) divaksinasi secara intra peritoneal dengan 0,1cc BCG pada hari ke-1 dan ke-11. Kelompok Nyeri (N), mendapat sensasi nyerimenggunakan Electric Foot Shock mulai hari ke-12 sampai 21 dan kelompok Nyeri + BCG (NB) mendapat kombinasi perlakuan N+B. Pada hari ke-21, semua mencit disuntik 104 Listeria monocytogenes hidup secara intravena. Dilakukan terminasi mencit pada hari ke-26 untuk dilakukan pemeriksaan konsentrasi produksi NO makrofag serta hitung kuman organ hepar. Dilakukan uji beda dengan Oneway ANOVA dan korelasi Pearson?s product moment dengan menggunakan software SPSS 13.0.Hasil: Didapatkan adanya perbedaan yang bermakna pada produksi NO makrofag dan hasil hitung kuman organ hepar antar kelompok perlakuan (p<0,05). Pada kelompok Nyeri (N) didapatkan produksi NO makrofag terendah dan jumlah hitung kuman tertinggi. Pada kelompok Nyeri yang mendapat BCG (NB) didapatkan hasil yang berlawanan dan perbedaannya bermakna dalam variabel yang diteliti dibandingkan dengan kelompok Nyeri yang tidak mendapat BCG (N) (p<0,05).Simpulan: Provokasi nyeri menyebabkan rendahnya konsentrasi NO makrofag dan penggunaan BCG dapat memperbaiki keadaan tersebut.
PENGARUH RANITIDIN TERHADAP DEGENERASI AKSON AKIBAT NEUROPATI NERVUS OPTIK (STUDI PADA TIKUS WISTAR DENGAN INTOKSIKASI METANOL AKUT) Armatussolikha, Herna Rizkia; Pudjonarko, Dwi
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 7, No 1 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kejadian keracunan minuman keras (Miras) oplosan di Indonesia menunjukkan angka yang cukup tinggi. Salah satu zat yang sering digunakan dalam minuman oplosan tersebut adalah metanol. Metanol sebenarnya tidak bersifat toksik, namun hasil metabolisme metanol bersifat toksik bagi tubuh. Salah satu dampak dari toksisitas metanol adalah masalah pada nervus optik yang dapat berakhir dengan kebutaan. Salah satu cara untuk menangani efek toksisitas metanol tersebut adalah dengan menggunakan ranitidin sebagai antidotum. Namun, pengaruh pemberian ranitidin terhadap derajat degenerasi akson nervus optik pada tikus wistar yang diintoksikasi metanol akut masih belum dilakukan penelitian lebih lanjut. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian ranitidin terhadap degenerasi akson akibat neuropati nervus optik pada tikus Wistar dengan intoksikasi metanol akut.Metode: Penelitian eksperimental dengan rancangan penelitian post test only group design. Penelitian ini menggunakan 3 (tiga) kelompok yang terdiri atas: kelompok perlakuan, kelompok kontrol positif, dan kelompok kontrol negatif. Untuk analisis data digunakan uji Saphiro-wilk, Levene?s test,One Way Anova dan Post Hoc Benforroni.Hasil: Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok yang diintoksikasi dengan metanol saja (kelompok kontrol positif) dengan kelompok yang diintoksikasi dengan metanol yang kemudian diberikan ranitidine (kelompok perlakuan) setelah 30 menit (p = 0.298) dan terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol negatif yang tidak diberi metanol maupun ranitidin dengan kelompok kontrol positif (p= 0.001).Kesimpulan: Ranitidin dosis 30 mg/kgbb yang diberikan 30 menit setelah intoksikasi metanol akut tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penurunan kejadian degenerasi akson akibat neuropati nervus optik pada tikus wistar yang diintoksikasi metanol akut.
PENGARUH RANITIDIN TERHADAP DEGENERASI AKSON AKIBAT NEUROPATI NERVUS OPTIK (STUDI PADA TIKUS WISTAR DENGAN INTOKSIKASI METANOL AKUT) Putri, Ersananda Arlisa; Pudjonarko, Dwi
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Insidensi keracunan alkohol di Indonesia terbilang cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh karena penggunaan metanol sebagai bahan campuran pembuatan alkohol oplosan. Diketahui bahwa metabolisme metanol bersifat toksik bagi tubuh manusia. Salah satu implikasinya adalah kerusakan saraf optik yang dapat menyebabkan kebutaan. Penggunaan ranitidin sebagai Antidotum untuk mengurangi efek toksisitas metanol telah dipelajari sebelumnya. Namun, belum ada penelitian lebih lanjut tentang efek pemberian ranitidin dosis bertingkat terhadap degenerasi akson akibat neuropati optik toksik pada tikus wistar yang diintoksikasi metanol akut. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian ranitidin dosis bertingkat terhadap degenerasi akson akibat neuropati optik toksik pada tikus Wistar dengan intoksikasi metanol akut. Metode: Penelitian eksperimental dengan rancangan posttest only control group design. Penelitian ini dibagi menjadi empat kelompok, yaitu terdiri dari: 2 kelompok perlakuan, 1 kelompok kontrol positif, dan 1 kelompok kontrol negatif dengan 6 tikus di masing-masing kelompok. Kelompok perlakuan pertama diberi metanol 14 g / kgbb, dan setelah 30 menit diberikan ranitidin 30mg / kgBB. Kelompok perlakuan kedua diberi metanol 14 g / kgbb, dan setelah 30 menit diberikan ranitidin 60 mg/kgbb . Kelompok kontrol negatif diberi aquades oral saja, sedangkan kontrol positif diberikan metanol per oral 14g / kgBB tanpa pemberian ranitidin. Hasil: Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok yang diberikan intoksikasi metanol saja (kelompok kontrol positif) dengan kelompok yang diberikan ranitidin 60 mg/kgBB setalah 30 menit intoksikasi metanol (kelompok perlakuan 2) (p = 0,02), dan tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok yang diberikan intoksikasi metanol saja (kelompok kontrol positif) dengan kelompok yang diberikan diberikan ranitidin 30 mg/kgBB setelah 30 menit intoksikasi metanol (kelompok perlakuan 1) (p = 0,452). Kesimpulan: Ranitidin dosis 60 mg/kgbb yang diberikan 30 menit setelah intoksikasi metanol akut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penurunan kejadian degenerasi akson akibat neuropati optik toksik pada tikus wistar yang diintoksikasi metanol akut.Kata Kunci: Metanol, Ranitidin, Tikus Wistar, Nervus Optik, Degenerasi Akson
KORELASI LOKASI PERDARAHAN INTRASEREBRAL DENGAN OUTCOME PASIEN STROKE HEMORAGIK Pradesta, Rizki Rudwi; Sukmaningtyas, Hermina; Pudjonarko, Dwi
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang Angka kejadian stroke meningkat tajam beberapa tahun kebelakang dan Indonesia menjadi negara dengan jumlah penderita stroke terbanyak di Asia. Stroke hemoragik intraserebral merupakan jenis kedua terbanyak dari pasien stroke setelah stroke iskemik. Outcome stroke dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain GCS, volume perdarahan, lokasi perdarahan, perluasan intraventrikuler, dan adanya peningkatan waktu pembekuan darah. Lokasi perdarahan merupakan faktor yang berpengaruh kuat untuk memprediksi kefatalan kasus, letak lokasi perdarahan yang bervariasi menyebabkan lokasi perdarahan bisa dijadikan pembeda untuk menentukan tingkat keparahan prognosis pasien stroke hemoragik. Penilaian outcome  stroke dapat dinilai dengan menggunakan Barthel Index karena realibilitasnya yang cukup tinggi yaitu 0,95 dan dapat dilakukan dalam waktu singkatTujuan Mengetahui korelasi lokasi perdarahan intraserebral dengan outcome pasien stroke hemoragik.Metode penelitian ini merupakan penelitian Observasional Analitik dengan metode Belah Lintang. Subjek merupakan pasien yang terdaftar sebagai pasien Stroke Hemoragik di RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 2015-2016. Data yang dikumpulkan adalah data sekunder berupa skala nominal yang ditentukan dari hasil CT Scan lokasi perdarahan pasien dan data ordinal yang didapatkan dari hasil penilaian kuesioner Barthel Index. Uji statistik menggunakan uji korelasi Chi Square.Hasil Tidak terdapat korelasi antara lokasi perdarahan dengan outcome  pasien stroke hemoragik yang dihitung menggunakan Barthel Index dengan nilai p= 0.665 (bermakna bila p < 0,05).Kesimpulan Tidak terdapat korelasi antara lokasi perdarahan dengan outcome  pasien stroke hemoragik yang dihitung menggunakan Barthel Index pada penelitian kali ini.
HUBUNGAN LOKASI LESI STROKE NON-HEMORAGIK DENGAN TINGKAT DEPRESI PASCA STROKE (STUDI KASUS DI POLI SARAF RSUP DR. KARIADI SEMARANG) Bagaskoro, Yoseph Cahyo; Pudjonarko, Dwi
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang:Dari seluruh penderita stroke di dunia yang terdata, sekitar 80% merupakan jenis stroke non-hemoragik. Terdapat beberapa faktor yang menentukan prognosis dari stroke non-hemoragik, salah satunya ialah lokasi lesi (lokasi infark).Depresi seringkali dikaitkan dengan penyakit kronik seperti stroke. Depresi yang berkaitan dengan stroke disebut sebagai depresi pasca stroke. Depresi pasca stroke dapat memperparah kondisi pasien stroke sehingga memperlambat proses pemulihan. Prevalensi yang paling tinggi terdapat sekitar 3-6 bulan pasca stroke dan tetap tinggi sampai 1-3 tahun kemudian. Lokasi lesi diduga mempengaruhi tingkat depresi pasca stroke.Salah satu pemeriksaan depresi adalah dengan HDRS dimana pemeriksaan ini merupakan skrining penilaian depresi yang paling sering dipakai. HDRS ini sangat mudah dan relatif cepat.Tujuan:Untuk membuktikan adanya hubungan antaralokasi lesi stroke non-hemoragik dengan tingkat depresi pasca stroke.Metode:Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan belah lintang. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Saraf RSUP Dr Kariadi Semarang. Subyek penelitian sebanyak 22 pasien dengan teknik consecutive sampling. Data yang digunakan merupakan data primer yaitu hasil pemeriksaan HDRS dan data sekunder yaitu rekam medis dari April 2016 sampai Agustus 2016. Uji statistik menggunakan uji Chi-square.Hasil:  Terdapat 22 pasien yang terdiri dari 11 orang yang memiliki lesi di hemisfer kiri dan 11 orang memiliki lesi di hemisfer kanan. Tidak didapatkan hubungan antara lokasi lesi stroke non-hemoragik dengan tingkat depresi pasca stroke (p 0,387).Kesimpulan:Tidak terdapat hubungan antara lokasi lesi stroke non-hemoragik dengan tingkat depresi pasca stroke.
PAIN STIMULATED BY ELECTRIC FOOT SHOCK TO LIVER AND SPLEEN MICROSCOPIC IMMUNOLOGICAL RESPONSE FEATURES (BALB/C MICE EXPERIMENTAL STUDY) Pudjonarko, Dwi; Jenie, M Naharuddin; Sadhana, Udadi
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2010:MMI VOLUME 44 ISSUE 1 YEAR 2010
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.17 KB)

Abstract

Background: Pain affects immune system by decreasing type I-immune response that might be seen on microscopic features of liver and spleen. The objective of the study is to prove the effect of pain to immune response that confirmed by liver microabscess formation, hepatocytes destruction and spleen multinucleated giant cells of Balb/c mice suffered from pain.Method: This study adapts Laboratory Experimental and Post-Test Only Control Group Design. The samples were 12 female BALB/c mice (average weight 21.88 (SD=1.75) grams and divided into two groups. The control group (C) received no other additional treatment. The Pain (P) group received pain stimulated by Electric Foot Shock (EFS) 1-3 mA at day 12th to 21st. All groups were intravenously injected with 104 live L. monocytogenes at day 21st and sacrificed at day 26th by chloroform anaesthesia. Then, liver microabscess formation, hepatocytes destruction and spleen multinucleated giant cells were counted. Data were analyzed by independent t-test (significant if p<0.05).Result: There were significant differences in the liver microabscess formation, hepatocytes destruction and spleen multinucleated giant cells (p<0.05) between the groups. The number of liver microabscess formation and hepatocytes destruction in the P group were higher than C group. The number of spleen multinucleated giant cells in the P group were lower than C group. Conclusion: Pain has an immunosuppressive effect not only on high liver microabscess formation and hepatocytes destruction, but also low spleen multinucleated giant cells.ABSTRAKPengaruh nyeri yang distimulasi electric foot shock terhadap gambaran mikroskopis respon imunologis di hepar dan lien. (Studi eksperimental pada mencit Balb/c).Latar belakang: Nyeri dapat mempengaruhi imunitas tubuh dengan menurunkan produksi sitokin tipe 1 yang kemungkinan akan mempengaruhi gambaran mikroskopis respon imunologis baik di hepar maupun lien. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan penurunan imunitas seluler yang dilihat dari mikroabses dan kerusakan hepatosit pada hepar serta sel datia lien mencit BALB/c yang mendapatkan stimulasi nyeri dengan electric foot shock (EFS).Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik, dengan pendekatan the post test?only control group design yang menggunakan 12 ekor mencit betina strain BALB/c, umur 6-8 minggu dan rerata barat badan 21,88 (SD=1,75) gram. Sampel dibagi dalam 2 kelompok dan mendapatkan makanan standar. Pada kelompok Kontrol (K), mencit tidak mendapatkan perlakuan, sedangkan kelompok Nyeri (N), mencit mendapat sensasi nyeri menggunakan EFS mulai hari ke-12 sampai 21. Pada hari ke-21, semua mencit disuntik 104 listeria monocytogenes hidup iv. Dilakukan terminasi mencit pada hari ke-26 untuk dilakukan penghitungan mikroabses dan kerusakan hepatosit pada hepar serta sel datia lien. Dilakukan uji beda antar kelompok perlakuan dengan independent t-test. Perbedaan dinyatakan bermakna bila didapatkan nilai p<0,05.Hasil: Terdapat perbedaan yang bermakna pada jumlah mikroabses dan kerusakan hepatosit pada hepar serta sel datia lien pada mencit yang distimulasi nyeri dengan EFS dibandingkan kontrol (p<0,05). Stimulasi nyeri dengan EFS menyebabkan mikroabses dan kerusakan hepatosit pada hepar lebih tinggi terhadap kontrol, sedangkan sel datia pada lien jumlahnya lebih rendah bila dibandingkan kontrol
THE ROLE OF FLUOXETINE ON MACROPHAGE FUNCTION IN CHRONIC PAIN (EXPERIMENTAL STUDY IN BALB/C MICE) Pudjonarko, Dwi; Dharmana, Edi; Hartanto, OS
International Journal of Science and Engineering Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Chemical Engineering Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.319 KB) | DOI: 10.12777/ijse.9.1.27-33

Abstract

Chronic pain raises stress conditions such as depression that can lower the cellular immunity. Fluoxetine is an antidepressant  used as an adjuvant in pain management but no one has been linked it with the body immune system. The objectives of this research were to proof the benefits of fluoxetine in  preventing degradation of macrophage function in chronic pain by measuring the macrophage phagocytic index , macrophage NO levels and the liver bacterial count in BALB/c mice infected with Listeria Monocytogenes.A Post Test - Only Control Group Design was conducted using 28 male mice strain BALB /c, age 8-10 weeks. The control group (C), mice got the same standard feed as the other groups. Chronic pain group (P), mice were injected with 20?L intraplantar CFA on day-1. Pain + fluoxetine early group (PFE) were treated with P + fluoxetine 5 mg / kg ip day-1, the 4th, the 7th and the 10th, while the Pain + fluoxetine late group (PFL) were treated with P + fluoxetine 5 mg / kg ip on day 7th and 10th. All mice were injected with 104 live Listeria monocytogenes iv on day 8th. Termination was performed on day 13th. Differences within groups  were analyzed using  One-way ANOVA and Kruskall Wallis, whereas the correlation of variables were analyzed using  Pearson's product moment. The experimental results showed that The macrophage phagocytic index and NO macrophage level (pg/mL) in PFE group(2,24±1,013; 0,24±0,239) was higher than than P group (1,68±0,920; 0,21±0,263) and there was no different in the macrophage phagocytic index of PFE group compared to C group (p=0,583; p=0,805). In PFL group (4,32±1,459; 0,54±0,294) the macrophage phagocytic index as well as NO macrophage level (pg/mL) was higher than P group (1,68±0,920; 0,21±0,263) with p=0,002; p=0,017. P group Bacterial count (log cfu/gram) (2,30±0,849) was significantly higher than C group(1,15±0,223) (p=0,007), while PFE group bacterial count (1,96±0,653) and PFL group bacterial count (1,84±0,403) compared to C (1,15± 0,223) was not significantly different (p=0,093; p=0,220). Correlation found between macrophage phagocytic index and macrophage NO (r=0,515, p=0,005).Macrophage phagocytic index and macrophage NO showed no correlation with bacterial count (r=-0,051, p=0,798; r=-0,071, p=0,719).It can be concluded that fluoxetine significantly incerases macrophage phagocytosis index and macrophages NO level in mice with chronic pain,  on the other hand fluoxetine decreases liver bacterial count . There is a positive correlation between macrophage phagocytosis index and macrophages NO level, while no correlation observed  among two variables with mice liver bacterial count in chronic pain.
CORRELATION OF FOLIC INTAKE AND INTERNAL CAROTID ARTERY INTIMA-MEDIA THICKNESS CHANGES IN POST ISCHEMIC STROKE PATIENTS Tugasworo, Dodik; Pudjonarko, Dwi; Latifah, Latifah
International Journal of Science and Engineering Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Chemical Engineering Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.464 KB) | DOI: 10.12777/ijse.8.2.159-166

Abstract

The thickness of the carotid artery intima media / intima-media thickness (IMT) is one of atherosclerosis markers. Atherosclerosis is one of the causes of ischemic stroke. Some studies suggest that low folate intake is predicted to affect the atherosclerotic process, but this remains controversial. Our objective is to analyze the relationship between folate intake with changes in the internal carotid artery IMT after ischemic stroke patients.The study is one group pretest posttest design with 72 post ischemic stroke subjects from neurology polyclinic of Kariadi Hospital, from June to December 2013. Folate intake was measured by Food Frequency Questionnaire and the internal carotid artery IMT by duplex ultrasonography. Measurements were taken at two periods with 6 months interval. Other factors that affect atherosclerosis consisting of age, obesity, hypertension, dyslipidemia, diabetes mellitus. The analysis in this study using Spearman correlation, chi-square and logistic regression. Resultwas significant if the p value were <0.05.There were 44 male subjects (61.1%) and 28 female subjects (38.9%). The mean age was 61.6 (SD = 7.99) years. The mean intake of folate was 178.10 (SD = 38.875) mg / day. Median serum folic acid level 8.43 (4.96 to 55.01) NML / L. The mean change in ICA IMT was 0.10 (SD = 0.156) mm. Folate intake was not correlated with serum levels of folic acid. Serum folic acid levels are not correlated with changes in the internal carotid artery IMT. There was correlation between the risk factors of age, BMI, hypertension, diabetes and dyslipidemia with changes in the internal carotid artery IMT.
Gaya Hidup yang Berpengaruh terhadap Kejadian Stroke Iskemik pada Usia Kurang dari 45 Tahun (Studi Pada BLUD RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat Provinsi Aceh) Iskandar, Arif; Hadisaputro, Suharyo; Pudjonarko, Dwi; Suhartono, Suhartono; Pramukarso, Dodik Tugasworo
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Komunitas Vol 3, No 2: Agustus 2018
Publisher : Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jekk.v3i2.4023

Abstract

Background: Ischemic stroke that occurs at the age of less than 45 years accounts for about 5 until 10 percent of the total stroke. This is influenced by changes in the life-style of modern society, such as changes in the pattern of food consumption, lazy to move, and smoking habits. This study aims to examine the effect of life-style on ischemic stroke at less than 45 years old people.Method: This study uses observational method with design of cases and controls. The samples are 86 observations consisting of 43 cases and 43 controls. Cases are patients with ischemic stroke less than 45 years of age and controls are non-stroke patients of neurology who are less than 45 years old.Results: The results show that the habit of consuming food containing high fat (p=0,032, OR=3,744, 95% CI=1,124-12,468) and smoking habit (p=0,019, OR=3.859, 95% CI=1,250-11,911) affect the occurrence of ischemic stroke at age less than 45 years. However, the habit of consuming red meat, consuming foods containing high salt, consuming drugs, and lack of physical activity do not affect the occurrence of ischemic stroke at age less than 45 years.Conclusion: The habits of consuming food containing high fat and smoking affect theoccurrence of ischemic stroke at age less than 45 years after hypertension, heart disease, and diabetes mellitus are controlled.