Articles

Found 23 Documents
Search

RESPON KOMUNITAS BURUNG TERHADAP PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (PLTP) KAMOJANG, BANDUNG, JAWA BARAT Kartikasari, Diyah; Pudyatmoko, Satyawan; Wawandono, Novianto Bambang; Utami, Pri
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5397.964 KB) | DOI: 10.22146/jik.40145

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon komunitas burung terhadap keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Kamojang. Kami membandingkan keanekaragaman dan kekayaan jenis burung pada lokasi yang terdampak (DL) dan tidak terdampak (TL) di Wilayah Kerja Panas Bumi Kamojang, Cagar Alam Kamojang dan Taman Wisata Alam Kamojang di Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Lokasi yang terdampak berada di sekitar sumur produksi atau pembangkit listrik tenaga panas bumi (30 sampel) sedangkan lokasi yang tidak terdampak adalah dengan jarak 3.000 m sampai 9.000 m dari fasilitas tersebut (42 sampel). Pengumpulan data dilakukan selama dua musim; musim kemarau dan penghujan (2015-2016). Kami mengumpulkan data komunitas burung dan data habitat dengan metode point count yang ditempatkan secara sistematis di setiap lokasi. Kami menemukan 124 spesies burung yang terdiri dari 35 famili dan 16 spesies di antaranya adalah burung endemik di Pulau Jawa. Dua puluh tiga spesies dilindungi oleh undang-undang di Indonesia, sembilan spesies termasuk dalam daftar lampiran CITES dan lima spesies masuk dalam Daftar Merah Spesies Terancam IUCN tahun 2017. Terdapat perbedaan respon antara komunitas burung di lokasi terdampak dan tidak terdampak yang ditunjukkan dengan perbedaan rata-rata jumlah spesies, jumlah individu masing-masing spesies, indeks keanekaragaman ShannonWiener. Lokasi tidak terdampak memiliki nilai lebih tinggi pada parameter ini dibanding lokasi yang terkena dampak. Demikian juga, jumlah spesies, jumlah individu vegetasi dan indeks keanekaragaman hayati ShannonWiener pada lokasi TL memiliki nilai rata-rata lebih tinggi daripada lokasi DL. Hal ini membuktikan bahwa meskipun panas bumi dianggap sebagai energi ramah lingkungan namun dalam penggunaannya masih berdampak pada keanekaragaman hayati di sekitarnya terutama untuk jenis burung. Response of Bird Community to Kamojang Geothermal Power Plant, Bandung, West JavaAbstractThis study aimed to investigate the response of bird communities on the presence of geothermal power plant of Kamojang. We compared the bird diversity and richness of affected (DL) and not affected (TL) in Kamojang Geothermal Working Area, Kamojang Nature Reserve and Kamojang Nature Park in Bandung regency of West Java Province. The affected sites were surrounding production wells or geothermal power plants (30 samples) whereas not affected sites were with distance of 3,000 m to 9,000 m from those facilities (42 samples). The data collection was carried out during two seasons; dry and rainy season in (2015-2016). In each site, we collected bird community data and habitat data with the point count method which was placed systematically on each sites. We found 124 birds species belongs to 35 families with 16 endemic species in Java Island. Twenty three species are protected by Indonesian law, with nine species are in the CITES appendix list and five species are listed in the IUCN Red List of Threatened Species of 2017. There was a difference of responses between bird communities in the affected and not affected sites which is indicated by differences in the mean number of species, number of individuals in each species, and Shannon-Wiener's diversity index. The not affected sites had higher value on these parameters than the affected sites. Similarly, number of species, number of individual vegetation, and Shannon-Wiener biodiversity index in TL sites had higher mean values than DL sites. This proves that although geothermal is considered as environmentally friendly energy but in its utilization it still has an impact on the surrounding biodiversity especially for bird species.
MODELING THE FATE OF SUMATRAN ELEPHANTS IN BUKIT TIGAPULUH INDONESIA: RESEARCH NEEDS & IMPLICATIONS FOR POPULATION MANAGEMENT Moßbrucker, Alexander Markus; Imron, Muhammad Ali; Pudyatmoko, Satyawan; Pratje, Peter-Hinrich; Sumardi, Sumardi
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.278 KB) | DOI: 10.22146/jik.12622

Abstract

The critically endangered Sumatran elephant persists in mainly small and isolated populations that may require intensive management to be viable in the long term. Population Viability Analysis (PVA) provides the opportunity to evaluate conservation strategies and objectives prior to implementation, which can be very valuable for site managers by supporting their decision making process. This study applies PVA to a local population of Sumatran elephants roaming the Bukit Tigapuluh landscape, Sumatra, with the main goal to explore the impact of pre-selected conservation measures and population scenarios on both population growth rate and extinction probability. Sensitivity testing revealed considerable parameter uncertainties that should be addressed by targeted research projects in order to improve the predictive power of the baseline population model. Given that further habitat destruction can be prevented, containing illegal killings appears to be of highest priority among the tested conservation measures and represents a mandatory pre-condition for activities addressing inbreeding depression such as elephant translocation or the establishment of a conservation corridor.Keywords: Elephas maximus sumatranus; population viability analysis (PVA); Asian elephant; elephant conservation; Vortex Pemodelan Kelestarian dari Gajah Sumatera di Bukit Tigapuluh Indonesia: Kebutuhan Penelitian dan Implikasi untuk Manajemen PopulasiAbstractGajah Sumatera yang berstatus kritis sebagian besar bertahan dalam populasi kecil dan terisolasi membutuhkan pengelolaan intensif agar dapat tetap lestari dalam jangka panjang. Analisis Viabilitas Populasi (Population Viability Analysis, PVA) berpeluang untuk digunakan sebagai sarana evaluasi atas tujuan dan strategi konservasi yang disusun sebelum implementasi, yang akan sangat bermanfaat bagi pengelola kawasan guna mendukung pengambilan keputusan. Studi ini menggunakan PVA pada populasi lokal gajah Sumatera yang menjelajahi lanskap Bukit Tigapuluh, Sumatera, dengan tujuan utama mengeksplorasi dampak atas skenario upaya konservasi dan populasi terpilih terhadap laju pertumbuhan populasi dan probabilitas kepunahan. Uji sensitivitas menunjukkan adanya ketidakpastian atas sejumlah parameter pokok yang seharusnya diteliti untuk meningkatkan kekuatan prediksi atas baseline model populasi. Mengingat kerusakan habitat yang lebih parah dapat dicegah, untuk itu upaya penangkalan pembunuhan ilegal merupakan prioritas tertinggi di antara upaya-upaya konservasi yang sudah diuji dan menjadi prasyarat wajib untuk menjawab masalah kemungkinan dampak perkawinan sedarah (inbreeding depression) seperti translokasi gajah atau membangun koridor konservasi. 
OKUPANSI KUKANG JAWA (NYCTICEBUS JAVANICUS E. GEOFFROY 1812) DI HUTAN TROPIS DATARAN RENDAH DI KEMUNING, BEJEN, TEMANGGUNG, JAWA TENGAH Sodik, Mahfut; Pudyatmoko, Satyawan; Yuwono, Pujo Semedi Hargo
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1164.801 KB) | DOI: 10.22146/jik.46141

Abstract

Faktor kehilangan/berkurangnya habitat, dan fragmentasi habitat dapat memberikan dampak buruk terhadap kukang Jawa (Nycticebus javanicus), satwa primata nokturnal yang tergolong dalam kategori Critically Endangered. Kukang Jawa yang hidup di hutan yang terfragmentasi merasakan dampak negatif dari faktor- faktor tersebut dan hal tersebut juga dapat memengaruhi okupansi dalam sebuah kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi okupansi habitat oleh kukang Jawa di hutan dataran rendah yang terfragmentasi di Kemuning, Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia. Untuk mem­perkirakan proporsi penggunaan wilayah, probabilitas detek­si (detection probability) dan faktor ? faktor yang berpengaruh terhadap okupansi habitat oleh kukang Jawa, kami menggunakan occupancy model of a single-season. Sebanyak 5 kali ulangan survei malam pada tahun 2017 digunakan sebagai data pokok di dalam model okupansi. Metode pengambilan data lingkungan dan data anthropogenic menggunakan observasi lapangan dan interview dengan masyarakat lokal. Kami membagi lokasi penelitian menjadi 141 grid dengan ukuran 200 m x 200 m (4 ha) sebagai acuan dalam survei malam dengan jalur. Data kovariat lingkungan yang diukur adalah jarak dari jalan, jarak dari tepi hutan, jarak dari pemukiman, jarak dari sumber air, ketinggian tempat, dan kemiringan lahan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kukang Jawa menghuni habitat sekitar 23,2% dari keseluruhan areal di hutan Kemuning. Jarak dari jalan dan jarak dari sumber air (sungai) berkorelasi positif terhadap tingkat hunian, sedang jarak dari pemukiman berkorelasi negatif terhadap tingkat hunian dari kukang Jawa. Data dan informasi kuantitatif yang dihasilkan dari penelitian ini penting untuk mengetahui kebutuhan sumber daya jangka panjang populasi kukang Jawa khususnya di hutan Kemuning. Selanjutnya diharapkan pemerintah Indonesia atau stakeholder terkait dapat melakukan upaya konservasi dan rencana strategi pengelolaan spesies kukang Jawa dengan baik khususnya di hutan dataran rendah yang terfragmentasi.Occupancy of Javan Slow Loris (Nyticebus javanicus E. Geoffroy 1812) in Kemuning Tropical Low Land Forest, Bejen, Temanggung, Central Java Abstract Habitat loss and landscape fragmentation have a negative impact on the Javan slow loris (Nycticebus javanicus), a Critically Endangered nocturnal primate species. Slow lorises in remaining forest fragments might be suffered and affect their occupancy behavior. We aim to investigate the determinant factors for the probability of habitat occupancy by the javan slow loris in Kemuning forest fragment of Temanggung District, Central Java. To estimate the site occupancy rate, detection probability, and the determinant factor of site use by Nycticebus javanicus, we employed the occupancy model of a single-season using night surveys. Five repeated night surveys in 2017 were used as the main basis data for the occupancy model. We used direct observation and interview with locals to collect data on environmental and anthropogenic features. We divided the study area into 141 grids with 200 m x 200 m (4 ha) each which were the basis for the night survey following existing walking paths. The influence of six covariates was assessed to determine of site use by Nycticebus javanicus: distance to road, distance to forest edge, distance to the settlement, distance to water source, altitude, and elevation. The result shows that the probability of site use occupied by Nycticebus javanicus was 23.2% of the total area. Distance to roads and distance to water source have a positive correlation with the probability of site use, whereas the influence of distance to settlements has a negative correlation with the site use of the species. Such quantitative data and information gained in this research are important to know for the long term resource needs of the Nycticebus javanicus, especially in the Kemuning forest. Therefore, the Indonesian Government or related stakeholders can formulate the detail conservation plans of the species, especially in the lowland fragmented tropical forest.
HABITAT DAN INTERAKSI SPATIO-TEMPORAL MERAK HIJAU DENGAN SAPI DAN HERBIVORA BESAR DI TAMAN NASIONAL BALURAN Pudyatmoko, Satyawan
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.877 KB) | DOI: 10.22146/jik.46142

Abstract

Merak hijau (Pavo muticus muticus) adalah species yang terancam punah dengan populasi yang terus menurun. Burung ini adalah jenis yang dilindungi di Indonesia, dan hidup di beberapa sisa-sisa habitat yang kebanyakan sempit dan dengan tingkat perburuan tinggi. Hal ini menyebabkan risiko kepunahan yang tinggi. Penelitian ini dilakukan di Taman Nasional Baluran untuk menyelidiki pengaruh variabel habitat terhadap kemungkinan okupansi merak hijau serta interaksi spasial dan temporal antara merak hijau dengan sapi dan herbivora besar. Kehadiran merak hijau direkam dengan kamera trap dan variabel-variabel habitat diukur di tempat kamera trap dipasang. Penelitian ini menemukan bahwa kemungkinan okupansi merak hijau paling baik dijelaskan oleh model yang tidak melibatkan peran variabel habitat. Selain itu, ditemukan pula bahwa pola interaksi merak hijau dengan sapi mirip dengan pola interaksi merak hijau dengan sebagian besar herbivora besar. Tidak ada dampak negatif sapi terhadap kehadiran dan aktivitas harian merak hijau. Burung ini memiliki daya adaptasi yang cukup tinggi terhadap kondisi lingkungan yang berbeda. Penurunan populasi di Jawa mungkin lebih disebabkan karena tekanan perburuan yang tinggi daripada perubahan habitat. Habitat and Spatio-Temporal Interaction Between Green Peafowl with Cattle and Megaherbivores in Baluran National Park  Abstract Green peafowl (Pavo muticus muticus) is an endangered species, whose population is continuously declining. It is protected animal in Indonesia that occurs in remnant, and sometime small habitat with high hunting pressure, that made the animal prone to extinction. This study was conducted to investigate the influence of habitat on the occupancy probability of green fowl as well as the interaction between green peafowl and free-range cattle and wild mammal in Baluran National Park. The presence of animals in the study was recorded by camera traps, and the habitat variables were measured in the locations, where the camera traps were installed. The research found that the occupancy of green peafowl best explained by the model that not include any habitat variables. The pattern of interaction between green peafowl and domesticated cattle was similar to those of between green peafowl and the majority of wild mammal. There was no evidence of negative impact of domesticated cattle on the spatial occurrence as well as temporal activity of green peafowl. Green peafowl is a bird species with high adaptability to various environmental conditions. The population decrease of this animal in Java might be mainly due to high hunting pressure than habitat change.
UNDERSTANDING THE IMPACTS OF RECURRENT PEAT FIRES IN PADANG ISLAND – RIAU PROVINCE, INDONESIA Susanti, Ari; Karyanto, Oka; Affianto, Agus; Ismail, Ismail; Pudyatmoko, Satyawan; Aditya, Trias; Haerudin, Haerudin; Nainggolan, Hendra Arditya
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.408 KB) | DOI: 10.22146/jik.34126

Abstract

Padang Island in Riau Province of Indonesia has been severely impacted by recurrent fires in 2014 and 2015, leading to severe peat ecosystem degradation and people´s livelihood. Therefore, analyzing the peat fires should not be isolated from socio-economic and local political context. Much has been written about peat fires  especially the magnitude of the fires, however the linkages between ecological and livelihood system of peatland ecosystem gained only scant attention. This paper analyzes how the drivers of peat fires are causing a steady decline in Padang Island and aims to provide more holistic understanding on how the drivers interplay and continue to feed the process of peatland degradation with its associated impacts on local economic development and people?s livelihood. Multidisciplinary approach was applied in this study. This includes remote sensing data analysis, analysis on related documents such as historical documents and regulations. Intensive fieldwork was conducted in the island in which series of FGDs and interviews were executed. We found that the global demands for agricultural commodities have led to massive peat drainage for monoculture farming on peat lands. The high dependency on global commodity market and monoculture farming has created livelihood vulnerability, especially because of the price fluctuation of agricultural products at global market. Moreover, the monoculture farming on peat lands tends to be unsustainable since it demands peat drainage, provides less options for sources of income and tends to marginalize indigenous knowledge about farming on peatland (paludiculture) which have been practiced for centuries in the island. Memahami Dampak Kebakaran Lahan Gambut yang Berulang di Pulau Padang-Provinsi Riau, IndonesiaIntisariPulau Padang yang terletak di Provinsi Riau, Indonesia mengalami kebakaran lahan gambut cukup parah dan berulang pada tahun 2014 dan 2015 yang mengakibatkan degradasi ekosistem gambut dan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, seharusnya analisis kebakaran lahan gambut tidak dapat dapat dipisahkan dari konteks sosial ekonomi dan politik lokal. Sudah banyak tulisan yang menganalisis tentang kebakaran lahan gambut terutama terkait dengan besarnya kebakaran, tetapi sangat sedikit yang menganalisis hubungan antara sistem ekologi dan sistem kehidupan masyarakat. Artikel ini menganalisis bagaimana faktor-faktor penyebab kebakaran lahan gambut juga mengakibatkan degradasi yang terusmenerus di Pulau Padang dan bertujuan untuk berkontribusi pada pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai bagaimana faktor-faktor tersebut bekerja, saling terkait, dan secara terus-menerus mempengaruhi proses degradasi lahan gambut serta dampaknya terhadap pembangunan ekonomi lokal dan kehidupan masyarakat. Penelitian ini menerapkan pendekatan multi-disiplin yang meliputi analisis data penginderaan jauh, dokumen sejarah dan peraturan terkait. Penelitian lapangan dilakukan secara intensif di Pulau Padang, meliputi serial diskusi kelompok terfokus dan wawancara. Kami menemukan bahwa permintaan pasar global akan komoditas pertanian berkontribusi terhadap drainase lahan gambut skala besar untuk pertanian monokultur pada lahan gambut. Tingginya ketergantungan terhadap pasar global komoditas dan pertanian monokultur telah menciptakan kehidupan masyarakat yang rentan. Hal ini terutama karena besarnya fluktuasi harga komoditas pertanian di pasar global. Di samping itu, pertanian monokultur pada lahan gambut cenderung tidak berkelanjutan karena mensyaratkan pengeringan lahan gambut dengan drainase, menawarkan pilihan sumber penghasilan masyarakat yang lebih sedikit dan meminggirkan pengetahuan lokal tentang paludikultur yang sudah dipraktekkan selama berabad-abad di Pulau Padang.
POTENSI KONFLIK PENGGEMBALAAN KUDA PADA HABITAT RUSA TIMOR (RUSA TIMORENSIS BLAINVILLE 1822) DI KAWASAN TANJUNG TORONG PADANG, NUSA TENGGARA TIMUR Kayat, Kayat; Pudyatmoko, Satyawan; Maksum, Muchammad; Imron, Muhammad Ali
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.696 KB) | DOI: 10.22146/jik.24866

Abstract

Penggembalaan ternak telah diyakini memengaruhi keberadaan satwa liar, termasuk rusa timor (Rusa timorensis Blainville 1822) melalui kompetisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penggembalaan lepas ternak kuda yang dimiliki oleh masyarakat lokal di kawasan Tanjung Torong Padang, Nusa Tenggara Timur menjadi pesaing bagi rusa timor. Observasi lapangan dan wawancara dengan pemilik kuda dilakukan untuk menentukan distribusi kuda di habitat rusa timor. Preferensi pakan dari ternak kuda dan rusa timor dikumpulkan menggunakan identifikasi spesies dari kotoran dan dibandingkan dengan plot berukuran 1 x 1 m2 di daerah makan dari kedua hewan tersebut selama musim kering dan hujan pada 2014 dan 2015. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada indikasi yang jelas dari persaingan antara rusa timor dan penggembalaan liar kuda di kawasan Tanjung Torong Padang. Rusa timor dan kuda tidak terjadi tumpang tindih spasial dalam distribusi mereka di lokasi tersebut. Ternak kuda menempati savana perbukitan, sedangkan rusa lebih suka menempati savana dengan pohon rengit (Albizia lebbeck (L.) Benth) dan lembah dengan vegetasi hutan tropis kering. Selain itu, rusa timor lebih menyukai makan semak dan dedaunan (browser), sementara kuda lebih menyukai rumput (grazer). Kehadiran ternak lepas kuda di kawasan Tanjung Torong Padang tidak berpengaruh negatif untuk rusa timor dan habitatnyaConflict Potential of Free-Roaming Horse Grazing on Timor Deer (Rusa timorensis Blainville 1822) Habitat in Torong Padang Cape Area, East Nusa TenggaraAbstractLivestock grazing had been believed to affect on the existence of wildlife, including the timor deer (Rusa timorensis Blainville 1822) through competition. This study aimed to determine whether the free-roaming horse grazing owned by local communities in Torong Padang Cape, East Nusa Tenggara become a competitor for timor deer. Field observations and interviews with horse owners were carried out to determine the distribution of horse in timor deer habitat. Food preference of both horse and timor deer were collected using species identification from feces and compared with 1 x 1 m2 plots at feeding areas of both animals during the dry and rainy seasons in 2014 and 2015. There is no clear indication of competition between timor deer and free-roaming horses in the Torong Padang Cape area.The deer and horse avoided overlapping spatially in their distribution in the Cape. The free-roaming horse mainly occupied hilly savanna, whereas timor deer preferred to occupy savanna with lebbek tree (Albizia lebbeck (L.) Benth) and valleys with tropical dry forest vegetation. In addition, the timor deer prefer to feed shrubs and foliage (browser), while horses prefer grass (grazer). The presence of free-roaming horse in the Torong Padang Capearea does not affect negatively for the timor deer and its habitat.
DISTRIBUTION OF BALI STARLING (LEUCOPSAR ROTHSCHILDI) IN NUSA PENIDA ISLAND Sudaryanto, FX.; Subagja, Jusup; Pudyatmoko, Satyawan; Djohan, Cut Sugandawaty
SIMBIOSIS Vol 6 No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Biologi Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JSIMBIOSIS.2018.v06.i02.p02

Abstract

Bali Starling (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) is endemic bird to the Bali Island. Since 1966, Bali Starling has been categoried as Critically Endangered by the IUCN Red List of Threatened Species, and the Indonesian Government Regulation No. 7 of 1999 on Preservation of Fauna and Flora. Conservation of Bali Starling has been done in the Bali Barat National Park, but has not succeeded yet. Therefore, starting in 2006 the conservation of the Bali Starling is also done in the Nusa Penida Islands, Klungkung Regency. To examine the successful of conservation of Bali Starling in Nusa Penida Islands, need the studies as follows: How is the distribution of Bali Starling? This research aims to study the success of conservation of Bali Starling in Nusa Penida Island. Specifically, the purpose of this research were to study distribution of Bali Starling. Materials and methods used in this research was known from questioned to the people in the area, and also conducted exploration. Distribution of Bali Starling in 2006 was only in three locations, and being expanded in 2015 there were at least in 12 locations. Keywords:     Bali Starling, Leucopsar rothschildi, Nusa Penida Island, Bali,distribution  
PEMODELAN SISTEM PENGUSAHAAN WISATA ALAM DI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI, JAWA BARAT Yuniarsih, Ai; Marsono, Djoko; Pudyatmoko, Satyawan; Sadono, Ronggo
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Pemanfaatan sumber daya alam taman nasional yang terbatas untuk wisata alam dan jasa lingkungan memerlukan perencanaan yang cermat sehingga tujuan konservasi dan tujuan sosial ekonomi dapat tercapai. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk membangun model pemanfaatan sumber daya alam TNGC yang dapat memenuhi tujuan ekologi dan tujuan sosial-ekonomi. Metode penelitian yang digunakan adalah Analisis Sistem Dinamik dengan perangkat lunak STELLA 9.02.  Berdasarkan kajian sebelumnya pengusahaan wisata alam merupakan program pemanfaatan pilihan masyarakat dengan prioritas tertinggi.  Hasil simulasi sesuai kondisi saat ini menunjukkan bahwa apabila tidak ada perubahan pada variabel kunci pada sepuluh tahun yang akan datang maka terjadi peningkatan dalam hal jumlah wisatawan, pendapatan masyarakat dan pendapatan pemerintah, dengan luas tutupan hutan hanya sampai sebesar 46,63 % dari luas TNGC. Pada simulasi dengan skenario pengembangan terjadi peningkatan secara signifikan dalam hal jumlah wisatawan, pendapatan masyarakat dan pendapatan pemerintah, dengan  tutupan hutan mencapai 68,64 % dari luas TNGC. Model pengusahaan wisata alam ini sangat dipengaruhi oleh peran stakeholders dalam pengelolaan promosi wisata alam, kegiatan restorasi,  pengamanan TNGC untuk menekan gangguan hutan, peningkatan kualitas objek-objek wisata alam, dan sarana jalan akses menuju objek wisata alam, peningkatan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia taman nasional, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pengusahaan wisata alam.  
ZONASI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI BERDASARKAN SENSITIVITAS KAWASAN DAN AKTIVITAS MASYARAKAT Yuniarsih, Ai; Marsono, Djoko; Pudyatmoko, Satyawan; Sadono, Ronggo
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2014.11.3.239-259

Abstract

Kawasan Gunung Ciremai ditetapkan sebagai taman nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No 424/Kpts-II/Menhut/2004 tanggal 19 Oktober 2004. Penetapannya menimbulkan konflik di antara tujuankonservasi hutan dan biodiversitas dan tujuan kesejahteraan masyarakat, karena dinilai tidak disertai olehpenataan batas dan rencana pengelolaan yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang zonasi TNGC secara spasial berdasarkan sensitivitas kawasan dan aktivitas masyarakatMetode penelitian yang digunakan adalah analisis spasial menggunakan tumpangsusun peta berdasarkanperingkat.Sensitivitas kawasan didasarkan pada analisis kondisi biologi dan fisik kawasan, meliputi analisisdaerah bahaya erosi, daerah tangkapan air, dan daerah perlindungan satwa. Aktivitas masyarakat didasarkanpada jenis dan penyebaran aktivitas masyarakat dalam kawasan TNGC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 36,13% kawasan TNGC diperuntukkan untuk zona inti, 9,36% untuk  zona rimba, 47,89% untuk zonarehabilitasi, 2,09% untuk zona pemanfaatan wisata alam, 4,32% untuk zona pemanfaatan air, 0,11% untuk zona religi, budaya dan sejarah, dan 0,097% kawasan TNGC dimana terdapat fasilitas jalan, saranatelekomunikasi dan listrik yang sudah lama ada sebelum kawasan menjadi taman nasional diperuntukkan sebagai zona khusus 
SELEKSI HABITAT LUTUNG JAWA (Trachypithecus auratus E. Geoffroy SaintHilaire, 1812) DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI ) Ayunin, Qurrotu; Pudyatmoko, Satyawan; Imron, Muhammad Ali
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan populasi lutung jawa (Trachypithecus auratus  E. Geoffroy Saint-Hilaire, 1812) yang disebabkan oleh perburuan dan degradasi habitat membutuhkan penangangan konservasi sesegera mungkin. Upayakonservasi dapat dilakukan secara efektif dan efisien, jika kebutuhan satwa tersebut diketahui. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik habitat yang disukai lutung jawa di level area jelajah dan tapak mikro. Penelitian dilakukan di Taman Nasional Gunung Merapi. Metode penelitian adalah dengan analisis vegetasi pada tingkat pohon dan tiang di plot yang tersedia, yang disusunsecara sistematis (metode systematic sampling, jarak antar plot 300 m) dengan intensitas sampling 0,45% serta pada plot yang digunakan, yang diidentifikasi dengan metode pencarian dengan sampling.Uji Chi-kuadrat dilakukan untuk mengidentifikasi terjadinya seleksi habitat. Regresi logistik dilakukan untuk memprediksi variabel yang memengaruhi probabilitas kehadiran lutung jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik habitat yang diseleksi lutung jawa di level area jelajah adalah: berada pada ketinggian 1.500-2.000 m dpl, kelerengan lebih dari 45%, LBDS pohon tinggi, pohon pakan melimpah dan jauh dari gangguan manusia. Berdasarkan analisis regresi logistik, probabilitas kehadiran lutung jawa  meningkat dengan semakin meningkatnya LBDS pohon, jumlah pohon pakan, ketinggian dan jarak dari gangguan. Probabilitas kehadiran lutung jawa  semakin menurun jika jumlah pohon semakin banyak dan jauh dari sungai