Resmayeti Purba
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten, Jalan Ciptayasa km 01, Ciruas, Serang, Banten 42182

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

Respon Pertumbuhan dan Hasil Kedelai terhadap Pupuk Hayati di Lahan Sawah Di Kabupaten Pandeglang, Banten Astuti, Yati; Purba, Resmayeti
Agrovigor Vol 10, No 1 (2017): Maret
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i1.2759

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah desa Mekarsari Kec. Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten dari bulan Agutus 2016 hinggaOktober 2016. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok factor tunggaldengan lima perlakuan dan enam ulangan. Perlakuannya adalah  (A). Tanpa pemupukan (kontrol); (B). Pupuk rekomendasi: 25 kgha-1Urea+ 100 kgha-1 SP-36 + 100 kgha-1NPK Phonska, (C) pupuk hayati Agrimeth 200 gramha-1 + pupuk rekomendasi (D). pupuk hayati Agrimeth 200 gramha-1 + Gliocompost 20 kgha-1 + pupuk rekomendasi (E) pupuk hayati Gliocompost 20 kgha-1 + pupuk rekomendasi. Parameter yang diamatia dalah tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, jumlah bintil akar, jumlahbunga, jumlah polong isi, hasil biji kedelai.Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan Analysis of  Varians (ANOVA). Data yang berbeda nyata diuji lanjut menggunakan  uji Duncan Multiple Range Test  (DMRT) pada taraf nyata (α) 0.5%. Hasil penelitian  menunjukkan  bahwa  pupuk hayati Agrimeth 200 gha-1 + pupuk hayati Gliocompost 20 kgha-1 + pupuk rekomendasi berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman, yaitu tinggi tanaman,jumlah daun, jumlah bintil akar, jumlah bunga, jumlah polong isi dan hasil kedelai. Pupuk hayati Agrimeth 200 gha-1 + pupuk Gliocompost 20 kg ha-1 + pupuk rekomendasi meningkatkan hasil kedelai dari  0,89 tha-1 menjadi 2,01 tha-1. Kata Kunci:  Agrimeth, Gliocompost, kedelai.
Pertumbuhan dan Hasil Kedelai, Respon terhadap Pupuk Hayati di Lahan Sawah Kabupaten Pandeglang, Banten Astuti, Yati; Purba, Resmayeti
Agrovigor Vol 10, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i2.3054

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mempelajari efektifitas pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah desa Mekarsari Kec. Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten dari bulan Agutus hingga Oktober 2016.  Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok faktor tunggal dengan lima perlakuan dan enam ulangan.  Perlakuan adalah  (A). Tanpa pemupukan (kontrol); (B). Pupuk rekomendasi: 25 kg ha-1 Urea + 100 kg ha-1 SP-36 + 100 kg ha-1 NPK Phonska, (C) pupuk hayati Agrimeth 200 gram ha-1 + pupuk rekomendasi (D). pupuk hayati Agrimeth 200 gram ha-1 + Gliocompost 20 kg ha-1 + pupuk rekomendasi (E) pupuk hayati Gliocompost 20 kg ha-1 + pupuk rekomendasi. Parameter pengamatan adalah tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, jumlah bintil akar, jumlah bunga, jumlah polong isi, dan hasil biji kedelai. Data pengamatan dianalisis menggunakan Analysis of Varians (ANOVA) 0,05.  Uji lanjut menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) 0,05 jika antar perlakuan berbeda nyata.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk hayati Agrimeth 200 g ha-1 + pupuk hayati Gliocompost 20 kg ha-1 + pupuk rekomendasi berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman, yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bintil akar, jumlah bunga, jumlah polong isi, dan hasil kedelai.  Pupuk tersebut sebagai rekomendasi karena meningkatkan hasil kedelai dari  0,89 t ha-1 (kontrol) menjadi 2,01 t ha-1.Kata Kunci:  Agrimeth, Gliocompost, kedelai, lahan sawah, pupuk hayati
PENGARUH PENGKAYAAN ARTEMIA OLEH BEBERAPA SUMBER MINYAK TERHADAP PERTUMBUHAN LARVA KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis) Purba, Resmayeti
Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol 2, No 1 (2004): Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan
Publisher : University of PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/jipbp.v2i1.1669

Abstract

A research on Artemia naupli enrichment of Grace Kelly grouper, Cromileptes altivelis was conducted in order to investigasi its effects on the growth, which was reflected by the relative growth of total length amd of weight, respectively. Three different enrichments treatments i.e fish oil, corn oil and coconut oil were fed on larva for 40 days. Initial total length of the larva was about 2.010 ± 0.2559 cm. The larva feed on Artemia naupli at density of 2-5 ind/ml. The result indicated that Artemia naupli enriched fish oil 0.1 g/100 ml water en able to of brain volume, relative growth of total length and relative growth of weight better (p<0.05). The brain volume, relative growth of total length and relative growth of weight larva fed Artemia naupli enriched with fish oil was x 103 µm3, 60,97% and 372,40% larva fed Artemia naupli enriched with corn oil was 1.21x 103 µm3, 52,09% and 225.80% and fed Artemia naupli enriched with coconut oil was 1.29 x 103 µm3, 50.97% and 200.10%Keywords: Artemia, enrichment, fish oil, growth larva
PRODUKSI DAN KEUNTUNGAN USAHATANI EMPAT VARIETAS BAWANG MERAH DI LUAR MUSIM (OFF-SEASON) DIKABUPATEN SERANG, BANTEN Purba, Resmayeti
9-772301-994005
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bawang merah di lahan sawah umumnya ditanam pada musim kemarau, karena pada musim hujan biasanya lahan sawah dipergunakan untuk pertanaman padi. Penanaman bawang merah di musim penghujan (off season) sering mengalami kerugian karena hasil dan keuntungan yang diperolehpetani  rendah. Untuk itu, perlu pemilihan  varietas yang dapat tumbuh pada musim penghujan. Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui produksi dan keuntungan usahatani bawang merah di luar musim (offseason) menggunakanempat varietas, yaitu Katumi, Bima, Manjoung dan Bima Curut (lokal).Budidaya bawang merah dilaksanakan di lahan petani, di  Kabupaten, Serang, Banten pada musim hujan (Februari-April 2013). Empat varietas diuji  dalam suatu percobaan yang ditata sesuai dengan rancangan acak lengkap dengan 5 ulangan.Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman jumlah daun, jumlah  umbi, produksi umbi dan keuntungan  usahatani bawang merah. Untuk mengetahui keuntungan usahatani bawang merah di luar musim digunakan rasio B/C. Hasil pengkajian menunjukkan bahwatinggi tanaman dan jumlah daun bawang merah di luar musim pada umur 42 HST secara berturut-turut  ialah varietas Katumi 36,82 cm dan 26,22 helai; varietas Bima  34,53 cm dan 20,04 helai; varietas Manjoung 32,61 cm dan 19,66helai, varietas Bima Curut (lokal) 29,51 cm dan 17,74 helai.Produksi  bawang merah secara berturut-turut ialah varietas Katumi, 7,27 ton/ha, varietas Bima 6,15 t/ha varietas  Manjoung5,85t/ha, dan Bima Curut (lokal) 5,40ton/ha. Keuntungan usahatani  bawang merah di luar musim secara berturut-turut diperoleh  varietas Katumi Rp. 64.480.000/ha dengan nilai B/C 1,24; varietas Bima sebesar Rp 47.480.000/ha   dengan nilai B/C 0,93,  varietas Manjoung Rp.42.680.000,-/ha dengan nilai B/C 0,78 dan varietas Bima Curut  (lokal) Rp. 36,480.000/hadengan rasio B/C 0,73.Data tinggi  tanaman, jumlah daun, produksi  dan keuntungan  usahatani bawang merah menunjukkan bahwa  varietas Katumi dapat digunakan sebagai alternatif  pada usahatani bawang merah di luar musim (off season),  Kabupaten Serang, BantenKata Kunci : Bawang merah, varietas, produksi, keuntungan, di luar musim ABSTRACTShallot cultivation in paddy fields is generally planted the dry season, because the rainy season is usually used for wetland cultivation. Shallot cultivation in the rainy season often suffered looses as result of farmers and low profits. As the results, it needs the selection of varieties that can be grown in the rainy season. This study aims to determine the  product and benefits of shallot farming in the off-season using four varieties. Shallot cultivation carried out infarmers’fields, in Serang District Banten Province in the rainy season (February-April 2013). Four varieties were tested in a trial that lay out according to a completely randomized design with 5 replications. The parameters  measured were plant height and number of  leaves, number of tubers as well as the production and benefits of shallot farming. To know the benefits of shallot farming in the off-season use ratio B/C. The study showed that the plant height and number of leaves of shallot in the off-season at the age 42 in a row HST varieties was 36.82 cm and 26.22 strands Katumi, varieties Bima  34.53 cm and 20.04 strands, varieties Manjoung was 32.61 cm and 19.66 strands, varieties Bima Curut 29.51 cm and 17.74 strands. Production of  shallots in a row is Katumi varieties 7.27 t/ha,  Bima  varieties 6.15 t/ha, varieties Manjoung 5.85 t/ha and Bima Curut 5,40 ton/ha. Advantages of shallots farming in the the off-season in a varieties obtained Katumi Rp.  64.480.000/ha with the B/C ratio of 1.24; varieties Bima of  47.480.000 /ha with the ratio B/C of 0.93, varieties Manjoung Rp. 42.680.000/ha and the value of B/C 0.78 and varieties Bima Curut  of Rp.36.480.000/ha with a ratio B/C of 0.73.  Data of plant height, number of leaves, the production  and benefits of shallot farming Katumi showed that varieties can be used as an alternative to shallot farming in the off-season, Serang, BantenKeywords: Shallot, varieties, production,   benefits, off season 
PRODUKSI DAN KEUNTUNGAN USAHATANI EMPAT VARIETAS BAWANG MERAH DI LUAR MUSIM (OFF-SEASON) DIKABUPATEN SERANG, BANTEN Purba, Resmayeti
9-772301-994005
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bawang merah di lahan sawah umumnya ditanam pada musim kemarau, karena pada musim hujan biasanya lahan sawah dipergunakan untuk pertanaman padi. Penanaman bawang merah di musim penghujan (off season) sering mengalami kerugian karena hasil dan keuntungan yang diperolehpetani  rendah. Untuk itu, perlu pemilihan  varietas yang dapat tumbuh pada musim penghujan. Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui produksi dan keuntungan usahatani bawang merah di luar musim (offseason) menggunakanempat varietas, yaitu Katumi, Bima, Manjoung dan Bima Curut (lokal).Budidaya bawang merah dilaksanakan di lahan petani, di  Kabupaten, Serang, Banten pada musim hujan (Februari-April 2013). Empat varietas diuji  dalam suatu percobaan yang ditata sesuai dengan rancangan acak lengkap dengan 5 ulangan.Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman jumlah daun, jumlah  umbi, produksi umbi dan keuntungan  usahatani bawang merah. Untuk mengetahui keuntungan usahatani bawang merah di luar musim digunakan rasio B/C. Hasil pengkajian menunjukkan bahwatinggi tanaman dan jumlah daun bawang merah di luar musim pada umur 42 HST secara berturut-turut  ialah varietas Katumi 36,82 cm dan 26,22 helai; varietas Bima  34,53 cm dan 20,04 helai; varietas Manjoung 32,61 cm dan 19,66helai, varietas Bima Curut (lokal) 29,51 cm dan 17,74 helai.Produksi  bawang merah secara berturut-turut ialah varietas Katumi, 7,27 ton/ha, varietas Bima 6,15 t/ha varietas  Manjoung5,85t/ha, dan Bima Curut (lokal) 5,40ton/ha. Keuntungan usahatani  bawang merah di luar musim secara berturut-turut diperoleh  varietas Katumi Rp. 64.480.000/ha dengan nilai B/C 1,24; varietas Bima sebesar Rp 47.480.000/ha   dengan nilai B/C 0,93,  varietas Manjoung Rp.42.680.000,-/ha dengan nilai B/C 0,78 dan varietas Bima Curut  (lokal) Rp. 36,480.000/hadengan rasio B/C 0,73.Data tinggi  tanaman, jumlah daun, produksi  dan keuntungan  usahatani bawang merah menunjukkan bahwa  varietas Katumi dapat digunakan sebagai alternatif  pada usahatani bawang merah di luar musim (off season),  Kabupaten Serang, BantenKata Kunci : Bawang merah, varietas, produksi, keuntungan, di luar musimABSTRACTShallot cultivation in paddy fields is generally planted the dry season, because the rainy season is usually used for wetland cultivation. Shallot cultivation in the rainy season often suffered looses as result of farmers and low profits. As the results, it needs the selection of varieties that can be grown in the rainy season. This study aims to determine the  product and benefits of shallot farming in the off-season using four varieties. Shallot cultivation carried out infarmers’fields, in Serang District Banten Province in the rainy season (February-April 2013). Four varieties were tested in a trial that lay out according to a completely randomized design with 5 replications. The parameters  measured were plant height and number of  leaves, number of tubers as well as the production and benefits of shallot farming. To know the benefits of shallot farming in the off-season use ratio B/C. The study showed that the plant height and number of leaves of shallot in the off-season at the age 42 in a row HST varieties was 36.82 cm and 26.22 strands Katumi, varieties Bima  34.53 cm and 20.04 strands, varieties Manjoung was 32.61 cm and 19.66 strands, varieties Bima Curut 29.51 cm and 17.74 strands. Production of  shallots in a row is Katumi varieties 7.27 t/ha,  Bima  varieties 6.15 t/ha, varieties Manjoung 5.85 t/ha and Bima Curut 5,40 ton/ha. Advantages of shallots farming in the the off-season in a varieties obtained Katumi Rp.  64.480.000/ha with the B/C ratio of 1.24; varieties Bima of  47.480.000 /ha with the ratio B/C of 0.93, varieties Manjoung Rp. 42.680.000/ha and the value of B/C 0.78 and varieties Bima Curut  of Rp.36.480.000/ha with a ratio B/C of 0.73.  Data of plant height, number of leaves, the production  and benefits of shallot farming Katumi showed that varieties can be used as an alternative to shallot farming in the off-season, Serang, BantenKeywords: Shallot, varieties, production,   benefits, off season 
PRODUKSI DAN KEUNTUNGAN USAHATANI EMPAT VARIETAS BAWANG MERAH DI LUAR MUSIM (OFF-SEASON) DIKABUPATEN SERANG, BANTEN Purba, Resmayeti
Agriekonomika Vol 3, No 1: April 2014
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKBawang merah di lahan sawah umumnya ditanam pada musim kemarau, karena pada musim hujan biasanya lahan sawah dipergunakan untuk pertanaman padi. Penanaman bawang merah di musim penghujan (off season) sering mengalami kerugian karena hasil dan keuntungan yang diperolehpetani  rendah. Untuk itu, perlu pemilihan  varietas yang dapat tumbuh pada musim penghujan. Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui produksi dan keuntungan usahatani bawang merah di luar musim (offseason) menggunakanempat varietas, yaitu Katumi, Bima, Manjoung dan Bima Curut (lokal).Budidaya bawang merah dilaksanakan di lahan petani, di  Kabupaten, Serang, Banten pada musim hujan (Februari-April 2013). Empat varietas diuji  dalam suatu percobaan yang ditata sesuai dengan rancangan acak lengkap dengan 5 ulangan.Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman jumlah daun, jumlah  umbi, produksi umbi dan keuntungan  usahatani bawang merah. Untuk mengetahui keuntungan usahatani bawang merah di luar musim digunakan rasio B/C. Hasil pengkajian menunjukkan bahwatinggi tanaman dan jumlah daun bawang merah di luar musim pada umur 42 HST secara berturut-turut  ialah varietas Katumi 36,82 cm dan 26,22 helai; varietas Bima  34,53 cm dan 20,04 helai; varietas Manjoung 32,61 cm dan 19,66helai, varietas Bima Curut (lokal) 29,51 cm dan 17,74 helai.Produksi  bawang merah secara berturut-turut ialah varietas Katumi, 7,27 ton/ha, varietas Bima 6,15 t/ha varietas  Manjoung5,85t/ha, dan Bima Curut (lokal) 5,40ton/ha. Keuntungan usahatani  bawang merah di luar musim secara berturut-turut diperoleh  varietas Katumi Rp. 64.480.000/ha dengan nilai B/C 1,24; varietas Bima sebesar Rp 47.480.000/ha   dengan nilai B/C 0,93,  varietas Manjoung Rp.42.680.000,-/ha dengan nilai B/C 0,78 dan varietas Bima Curut  (lokal) Rp. 36,480.000/hadengan rasio B/C 0,73.Data tinggi  tanaman, jumlah daun, produksi  dan keuntungan  usahatani bawang merah menunjukkan bahwa  varietas Katumi dapat digunakan sebagai alternatif  pada usahatani bawang merah di luar musim (off season),  Kabupaten Serang, BantenKata Kunci : Bawang merah, varietas, produksi, keuntungan, di luar musim ABSTRACTShallot cultivation in paddy fields is generally planted the dry season, because the rainy season is usually used for wetland cultivation. Shallot cultivation in the rainy season often suffered looses as result of farmers and low profits. As the results, it needs the selection of varieties that can be grown in the rainy season. This study aims to determine the  product and benefits of shallot farming in the off-season using four varieties. Shallot cultivation carried out infarmers’fields, in Serang District Banten Province in the rainy season (February-April 2013). Four varieties were tested in a trial that lay out according to a completely randomized design with 5 replications. The parameters  measured were plant height and number of  leaves, number of tubers as well as the production and benefits of shallot farming. To know the benefits of shallot farming in the off-season use ratio B/C. The study showed that the plant height and number of leaves of shallot in the off-season at the age 42 in a row HST varieties was 36.82 cm and 26.22 strands Katumi, varieties Bima  34.53 cm and 20.04 strands, varieties Manjoung was 32.61 cm and 19.66 strands, varieties Bima Curut 29.51 cm and 17.74 strands. Production of  shallots in a row is Katumi varieties 7.27 t/ha,  Bima  varieties 6.15 t/ha, varieties Manjoung 5.85 t/ha and Bima Curut 5,40 ton/ha. Advantages of shallots farming in the the off-season in a varieties obtained Katumi Rp.  64.480.000/ha with the B/C ratio of 1.24; varieties Bima of  47.480.000 /ha with the ratio B/C of 0.93, varieties Manjoung Rp. 42.680.000/ha and the value of B/C 0.78 and varieties Bima Curut  of Rp.36.480.000/ha with a ratio B/C of 0.73.  Data of plant height, number of leaves, the production  and benefits of shallot farming Katumi showed that varieties can be used as an alternative to shallot farming in the off-season, Serang, BantenKeywords: Shallot, varieties, production,   benefits, off season 
PERKEMBANGAN A W AL DAN PEMELIHARAAN LARVAKERAPU BEBEK, Cromileptes altivelis Purba, Resmayeti; ., Waspada
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 3 No. 2 (1995): Desember 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Suatu penelitian tentang perkembangan awal dan perneliharaan larva ikan kerapu bebek telah dilaksanakan dilaboratorium. Larva ikan kerapu bebek yang baru menetas (0hari) sampai 65 hari telah digunakan sebagai hewan uji untuk mengamati perkembangan awal larva, perkembangan duri panjang pada sirip punggung dan sirip perut. Perkembangan awal larva, perkembangan duri panjang pada sirip punggung dan perut dibandingkan dengan jenis kerapu lainnya.Kata-kata kunci: larva, pemeliharaan, duri panjang sirip punggung dan perut, kerapu bebek
PRODUKSI DAN KEUNTUNGAN USAHATANI EMPAT VARIETAS BAWANG MERAH DI LUAR MUSIM (OFF-SEASON) DIKABUPATEN SERANG, BANTEN Purba, Resmayeti
Agriekonomika Vol 3, No 1: April 2014
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v3i1.440

Abstract

ABSTRAKBawang merah di lahan sawah umumnya ditanam pada musim kemarau, karena pada musim hujan biasanya lahan sawah dipergunakan untuk pertanaman padi. Penanaman bawang merah di musim penghujan (off season) sering mengalami kerugian karena hasil dan keuntungan yang diperolehpetani  rendah. Untuk itu, perlu pemilihan  varietas yang dapat tumbuh pada musim penghujan. Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui produksi dan keuntungan usahatani bawang merah di luar musim (offseason) menggunakanempat varietas, yaitu Katumi, Bima, Manjoung dan Bima Curut (lokal).Budidaya bawang merah dilaksanakan di lahan petani, di  Kabupaten, Serang, Banten pada musim hujan (Februari-April 2013). Empat varietas diuji  dalam suatu percobaan yang ditata sesuai dengan rancangan acak lengkap dengan 5 ulangan.Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman jumlah daun, jumlah  umbi, produksi umbi dan keuntungan  usahatani bawang merah. Untuk mengetahui keuntungan usahatani bawang merah di luar musim digunakan rasio B/C. Hasil pengkajian menunjukkan bahwatinggi tanaman dan jumlah daun bawang merah di luar musim pada umur 42 HST secara berturut-turut  ialah varietas Katumi 36,82 cm dan 26,22 helai; varietas Bima  34,53 cm dan 20,04 helai; varietas Manjoung 32,61 cm dan 19,66helai, varietas Bima Curut (lokal) 29,51 cm dan 17,74 helai.Produksi  bawang merah secara berturut-turut ialah varietas Katumi, 7,27 ton/ha, varietas Bima 6,15 t/ha varietas  Manjoung5,85t/ha, dan Bima Curut (lokal) 5,40ton/ha. Keuntungan usahatani  bawang merah di luar musim secara berturut-turut diperoleh  varietas Katumi Rp. 64.480.000/ha dengan nilai B/C 1,24; varietas Bima sebesar Rp 47.480.000/ha   dengan nilai B/C 0,93,  varietas Manjoung Rp.42.680.000,-/ha dengan nilai B/C 0,78 dan varietas Bima Curut  (lokal) Rp. 36,480.000/hadengan rasio B/C 0,73.Data tinggi  tanaman, jumlah daun, produksi  dan keuntungan  usahatani bawang merah menunjukkan bahwa  varietas Katumi dapat digunakan sebagai alternatif  pada usahatani bawang merah di luar musim (off season),  Kabupaten Serang, Banten ABSTRACTShallot cultivation in paddy fields is generally planted the dry season, because the rainy season is usually used for wetland cultivation. Shallot cultivation in the rainy season often suffered looses as result of farmers and low profits. As the results, it needs the selection of varieties that can be grown in the rainy season. This study aims to determine the  product and benefits of shallot farming in the off-season using four varieties. Shallot cultivation carried out infarmers’fields, in Serang District Banten Province in the rainy season (February-April 2013). Four varieties were tested in a trial that lay out according to a completely randomized design with 5 replications. The parameters  measured were plant height and number of  leaves, number of tubers as well as the production and benefits of shallot farming. To know the benefits of shallot farming in the off-season use ratio B/C. The study showed that the plant height and number of leaves of shallot in the off-season at the age 42 in a row HST varieties was 36.82 cm and 26.22 strands Katumi, varieties Bima  34.53 cm and 20.04 strands, varieties Manjoung was 32.61 cm and 19.66 strands, varieties Bima Curut 29.51 cm and 17.74 strands. Production of  shallots in a row is Katumi varieties 7.27 t/ha,  Bima  varieties 6.15 t/ha, varieties Manjoung 5.85 t/ha and Bima Curut 5,40 ton/ha. Advantages of shallots farming in the the off-season in a varieties obtained Katumi Rp.  64.480.000/ha with the B/C ratio of 1.24; varieties Bima of  47.480.000 /ha with the ratio B/C of 0.93, varieties Manjoung Rp. 42.680.000/ha and the value of B/C 0.78 and varieties Bima Curut  of Rp.36.480.000/ha with a ratio B/C of 0.73.  Data of plant height, number of leaves, the production  and benefits of shallot farming Katumi showed that varieties can be used as an alternative to shallot farming in the off-season, Serang, Banten
PAKET TEKNOLOGI BAWANG MERAH DI LUAR MUSIM TANAM DI PANDEGLANG BANTEN Purba, Resmayeti; Astuti, Yati
Agritech: Jurnal Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto Vol 15, No 2 (2013): AGRITECH
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/agritech.v15i2.1013

Abstract

This study aimed to identy profits technology package for off season period in Pandeglang, Banten Province on March to May 2013. In this study four technology package, suitable for off season condition were tested, that was package technology A (Katumi varieties), technology B (Bima Brebes varieties), techonology C (Manjung varieties) and technology D (local varieties). Based on the t test analyses known that applications of package technology on data ofshallot production was analyzed and compared amongthe technology packages and farmers. To determine the financial feasibility of shallot cultivationin off-season period use ratioB/C was analyzed, while for measuring the level of package technological excellence applied to farmers to use marginal benefit cost analysis (MBCR). The study showed that the application of package technology C that was varieties Manjung, higher than package techonology A with varieties Katumi, technology B with varieties Bima Brebes, and local variety of ways farmers were 12.65 t/ha, 7.84 t/ha, 4.50 t/ha and 3.37 t/ha respectively. Introduction of package technology C with Manjung varieties can benefit shallot cultivation in the off season period is bigger than the technology D way farmers with local varieties. The profit shallot farming was of package technology A of Rp. 49.592.000/ha with value of ratio B/C 1.00, technology B of Rp. 123.072.00/ha with value of ratio B/C 2.49, package technology C of Rp. 232.717.000/ha with value ratio B/C at 4:48 and technology D, the way farmers are of Rp. 30.150.000/ha with value ratio B/Cat 0.68, respectively. Results of this study can be used as an alternative to shallot cultivation off season period using package techology C because of value of MBCR. 39.63. Keywords: shallot, package technology, off season
KAJIAN PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK PADA USAHATANI PADI SAWAH DI SERANG BANTEN (STUDY OF ORGANIC FERTILIZER UTILIZATION ON PADDY FARMING AT SERANG DISTRICT, BANTEN) Purba, Resmayeti
Agriekonomika Vol 4, No 1: April 2015
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v4i1.674

Abstract

ABSTRAKUntuk meningkatkan hasil padi sawah yang ramah lingkungan diperlukan upaya pengelolaan hara sumbedaya lahan secara efektif dari segi ekologi dan efisien dari segi ekonomi. Tujuan kajian adalah mengetahui hasil dan keuntungan usahatani padi sawah  dengan penggunaan pupuk organik  yang berbeda. Pengkajian dilakukan  di desa Pamengkang, Kec. Kramatwatu. Kab. Serang pada  bulan April-Juli 2013. Kajian  dilakukan  di lahan sawah irigasi milik petani dengan susunan perlakuan (1). Pupuk kandang, (2). Kompos jerami, (3). Pola petani, mengunakan varietas  Ciherang. Hasil kajian  menunjukkan bahwa perlakuan  kompos jerami    dapat meningkatkan hasil  GKP padi  700 kg/ha (10,2%) dibanding dengan  pupuk kandang  .dan 1.100 kg/ha  (17,1%).  dibanding dengan perlakuan  petani. Tingkat keuntungan yang diperoleh dengan  perlakuan  kompos jerami lebih tinggi Rp. 2.440.000 (17,1%)  dibanding pupuk kandang  dan Rp. 3.320.000 ((25,0%) dibanding dengan perlakuan pola petani. Untuk memenuhi kebutuhan  hara tanaman padi dapat dimanfaatkan sumber hara yang berasal jerami padi insitu  karena murah dan tersedia di tingkat petani. ABSTRACTIn order to increase agricultural production, it needs efforts to manage natural resources efectively and efficiently in terms of ecology and economies. The aims of this study were to know yield and profit on paddy rice farming by the use of different organic fertilizer. The study carried out in Pamengkang Kramatwatu village, Serang district Banten.  The study was started in April to July 2013 at irrigation rice field farm belongs to farmer with following treatment formation: (1). Manure, (2). Straw compost, (3). Farmer pattern, using Ciherang variety.  The study result showed that straw compost could increase GKP of paddy by 700 kg/ha (10,2%) compared to manure and 1.100 kg/ha (17.1%) compared to the pattern of farmers.  Benefits rate gained by straw compost was higher Rp.2.440.000/ (25.0%) compared to treatment of manure treatment and Rp. 3.320.000 (17.10.2%) compared to farmers pattern. In order to meet nutrient needs of rice plant, straw compost of in situ can be used because of cheap and available at the farm level