Aprilina Purbasari
Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedharto, SH, Tembalang, Semarang, Telp: (024)7460058

Published : 28 Documents
Articles

Found 28 Documents
Search

PENGARUH SUHU UDARA DAN BERAT SAMPEL PADA PENGERINGAN TAPIOKA MENGGUNAKAN PENGERING UNGGUN TERFLUIDAKAN Suherman, .; Purbasari, Aprilina; Praba Aulia, Margaretha
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri tapioka di Kabupaten Pati merupakan kategori industri kecil/rumah tangga, yang cukup memeliki potensi ekonomi yang sangat besar. Kendala utama yang dihadapi adalah teknologi proses pengeringan produk. Selama ini proses pengeringan dilakukan dengan menghamparkan tepung di lantai bak penjemuran. Proses pengeringan memerlukan waktu minimal 6 jam, dan apabila mendung atau akan turun hujan, maka produk akan dikumpulkan kembali walaupun masih basah. Hal inilah yang menyebabkan kualitas produk jauh dari standar SNI dan seringkali proses produksi dihentikan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini tepung tapioka dengan kadar air 40% telah dikeringkan menggunakan pengering unggun terfluidakan menjadi tapioka kering dengan kadar air dibawah 14%. Paramater operasi yang diteliti adalah suhu pengeringan (30, 40, dan 60 °C) dan berat tapioka basah (100, 200, dan 250 g). Hasil eksperimen menunjukkkan bahwa tepung tapioka bisa dikeringkan hanya dalam waktu 30 menit dengan suhu 50°C. Kurva pengeringan memperlihatkan adanya periode laju pengeringan konstan di awal pengeringan sampai kadar uap air di padatan 0,3. Semakin tinggi suhu pengeringan, maka laju pengeringan semakin besar dan kandungan air sisa di padatan semakin rendah. Sedangkan, semakin banyak material padatan yang diumpankan, maka laju pengeringan semakin rendah, akan tetapi kandungan air sisa di padatan relatif sama.Kata kunci: pengeringan, tapioka, unggun terfluidakan
PEMBUATAN SLOW RELEASE FERTILIZER DENGAN MENGGUNAKAN POLIMER AMILUM DAN ASAM AKRILAT SERTA POLIVINIL ALKOHOL SEBAGAI PELAPIS DENGAN MENGGUNAKAN METODA FLUIDIZEDBED Yenni, Afri; ,, Suherman; Purbasari, Aprilina
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan Slow release fertilizer bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk terhadap laju  pelepasan unsur-unsur nutrisi pupuk pada tanaman. Dalam studi ini dilakukan pembuatan slow release fertilizer dengan menggunakan asam akrilik dan polivinil alkohol (PVA) yang masing-masing dicampur dengan amilum dan Polietilen glikol  (PEG) sebagai bahan tambahan pelapis dengan menggunakan metoda fluidized bed spraying coating (FBSC). Variable yang dipelajari konsentrasi polimer  akrilik/amilum (18 %/0-2 %) dan PVA/amilum (3 %/0-2 %) sedangkan berat PEG yang ditambahkan pada masing-masing campuran adalah 1 gram dan suhu udara bed (pengeringan) (35-55 oC) terhadap kualitas produk urea yang terlapisi yakni efisiensi pelapisan, dissolution rate, persen dustiness, dan Scanning Electron Microscopy (SEM). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa efisiensi pelapisan urea dengan akrilik/amilum (18/2 %) pada suhu 40oC adalah 14,4 % sedangkan PVA/amilum (3/2 %) adalah 5,2 %.  Efisiensi pelapisan meningkat dengan meningkatnya konsentrasi pelapis dan berkurang jika terjadi peningkatan suhu bed. Hal yang sama terjadi pada dissolution rate, dimana jika konsentrasi pelapis meningkat maka  dissolution rate  akan meningkat kebalikan terhadap suhu bed, suhu bed meningkat maka  dissolution rate  menurun. Dustiness produk meningkat dengan meningkatnya suhu  bed serta konsentrasi pelapis. Pada analisa SEM pelapis urea dengan menggunakan akrilik morfologi lebih bagus dibandingkan dengan PVA. Kata Kunci: Slow Release Fertilizer, akrilik, PVA, amilum, urea, Fluidized Bed Spray
SIFAT MEKANIK DAN MORFOLOGI PLASTIK BIODEGRADABLE DARI LIMBAH TEPUNG NASI AKING DAN TEPUNG TAPIOKA MENGGUNAKAN PEMLASTIK GLISEROL Kumoro, Andri Cahyo; Purbasari, Aprilina
TEKNIK Vol 35, No 1 (2014): (July 2014)
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.079 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v35i1.6238

Abstract

[Title: Mechanical Properties and Morfology of Biodegradable Plastic from Steamed Rice Waste and Cassava Flour with Glycerol as Plasticizer] The annual consumption of plastic packaging has increased significantly as a response to the increase of people?s need and buying power. As a packaging material, plastic is light, flexible, practical and inexpensive. Unfortunately, if the plastic is not biodegradable and dumped irresponsibly to the ecosystem may cause serious environmental problems. The objective of this research was to study the effect of glycerol on the characteristic of biodegradable plastic from steamed rice waste and cassava flours composites. The biodegradable plastic was manufactured by casting the warm solution of flours composite with addition of glycerol as plasticizer. The results showed that biodegradable plastic obtained from steamed rice waste and cassava flours composites has limited mechanical stress, but remains flexible in nature. Good quality biodegradable plastic was obtained when 15% weight of glycerol in addition to 30:70 ratio of steamed rice waste flour to cassava flour with tensile strength 20.65 MPa, elongation at break 4.7% and Young Modulus 1138 MPa. The biodegradable plastic exhibits discontinue microstructure, rough and porous. Fourier transform infrared analysis proved the existence of OH, CH2, amide III and amida I groups in the biodegradable plastic. 
PENGARUH PERBANDINGAN JUMLAH STARTER TERHADAP PROSES FERMENTASI WINE APEL MENGGUNAKAN NOPKOR MZ-11 Kusumawati, Rini; Irawan, Muhammad Adi; Purbasari, Aprilina
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Based on Department of Agriculture and Forestry Batu, Malang, in the 2010, the number of apple productions are 2,574,852 trees with productivity reaching 17 kg / tree. From all of trees only 60-70% of apples that can be harvested and sold in the market. The apple that doesn?t sell in the market, named reject apple. Until now, this apple could not be fully utilized. NOPKOR MZ 11 is multicultural is the main constituent microbes with S. Cerevicea Bolognesis that can convert sugar to alcohol, such as others S. Cerevicea. The advantages of this NOPKOR is its durability very high so it does not die easily. The main objective from this research is to determine the effect of the starter substrate ratio the growth of biomass and the resulting alcohol. The method which used are starter that added and the time of fermentation. And then from the data of refractive index result the phenomena of fermentation process. From the refractive index and using a standard curve, the data is converted. So that the refractive index is known and the amount of biomass levels of alcohol contained in the wine. Based on the research results, alcohol and optimal growth obtained in the ratio of 10% starter volume, it can able because a balanced amount of nutrients obtained by microbes thus more optimal growth and the amount of alcohol that produced is also higher. The longer of fermentation time, the amount of alcohol obtained and the number of microbes continued to increase, until the end of fermentation the increase was not too rapidly and tends to approach a constant, this is because the microbes have entered the stationary phase so that growth is not as fast as the previous phase.
PEMBUATAN PUPUK KALIUM-FOSFAT DARI ABU KULIT KAPOK DAN TEPUNG FOSFAT SECARA GRANULASI Purbasari, Aprilina; Setia Budi, Faleh
TEKNIK Volume 29, Nomor 2, Tahun 2008
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.064 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v29i2.1929

Abstract

Kapok-husk ash containing + 28% potassium can be used as raw material of potassium-phosphatefertilizer. In this research, kapok-husk ash is mixed with phosphate powder by granulation process toproduce potassium-phosphate fertilizer. Operation variables are granulation time (4, 7, 10 minutes),kapok-husk content (3, 5, 7, 9 %-w/w), and adhesive liquid type (phosphoric acid solution andaquadest). The result shows that the increasing granulation time is proportional to fertilizer yield;the increasing kapok-husk ash content is proportional to potassium content, but inverselyproportional to phosphate content in fertilizer; and phosphoric acid solution is better than aquadestas adhesive liquid referred to fertilizer yield.
BIOPLASTIK DARI TEPUNG DAN PATI BIJI NANGKA Purbasari, Aprilina; Ariani, Ekky Febri; Mediani, Raizka Kharisma
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2014): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 5 2014
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan kemasan plastik dari polimer sintetis dapat menimbulkan masalah lingkungan karena sulit terurai secara alamiah. Oleh karenanya plastik kini banyak dibuat dari bahan alami yang ramah lingkungan seperti polisakarida, protein, dan lemak. Biji nangka mengandung karbohidrat yang cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat plastik. Pada penelitian ini bioplastik dibuat dari tepung dan pati biji nangka dengan gliserol sebagai plastisizer. Variabel yang dikaji meliputi jenis bahan (tepung dan pati biji nangka), kadar bahan terhadap air (4, 6, 8%), dan kadar  gliserol terhadap bahan (30, 40, 50%). Bioplastik dari pati biji nangka mempunyai warna lebih jernih daripada bioplastik dari tepung biji nangka. Hasil uji mekanik, yaitu tensile strength dan elongation at break, menunjukkan bahwa bioplastik dari pati biji nangka memiliki tensile strength dan elongation at break relatif lebih tinggi dibandingkan bioplastik dari tepung biji nangka. Semakin tinggi kadar bahan terhadap air menyebabkan semakin tinggi tensile strength dan semakin rendah elongation at break pada bioplastik, sedangkan kenaikan kadar gliserol terhadap bahan mengakibatkan penurunan tensile strength dan kenaikan elongation at break. Bioplastik yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pengemas makanan, yaitu buah stroberi, dan menghambat proses pembusukan. Kata kunci:, bioplastik, kekuatan mekanik, tepung dan  pati biji nangka
PENINGKATAN KADAR EUGENOL PADA MINYAK ATSIRI CENGKEH DENGAN METODE SAPONIFIKASI-DISTILASI VAKUM H, Machmud Lutfi; N, Wisnu Jati; Purbasari, Aprilina
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research is to study the saponification and vacuum distillation process to isolate eugenol from clove essential oils and get the optimum condition from this process.Eugenol is a compound that is used in many industries, such as perfume, flavouring, pesticides and anesthetic. In this era, the clove essential oils are available in market including 70% of eugenol. But the industry needs more than 90% eugenol included. So, we need the efficience process to increase its purity. And the process we use in this research is saponification-vacuum disltilation. The experimental design used in this research is the variation of NaOH normality and the temperature operation of distilllation.The NaOH normalities are from 0,3 to 1,2 N, and the temperature operation of distilllation are 170 o, 195 o, 220o C. The procedure of this research is mixing 70% clove essential oils with NaOH . After the solution has became homogeneous, let it stand into two layers, water and Na-eugenol. Separate the organic layer, and add HCl to the Na-eugenol till the pH down into 3-4. And then separate them. The higher layer that is 80 % eugenol is entered to the distilation tube. Run the distilation process with fixed temperature and vacuum pressure (6x10-2 kPa). After distillation process we got the weightest mass of eugenol at the temperature 220o C that the mass is 33,13 grams and the percentages of the mass is 89,65%.
PEMANFAATAN LIMBAH FURNITURE ENCENG GONDOK (EICHORNIA CRASSIPES) DI KOEN GALLERY SEBAGAI BAHAN DASAR PEMBUATAN BRIKET BIOARANG Utomo, Arif Fajar; Primastuti, Nungki; Purbasari, Aprilina
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilakukan dengan membuat briket dengan campuran enceng gondok (Euchornia crassipes), yang sebelumnya sudah dipirolisa menjadi arang, dengan dua jenis perekat, yaitu tepung terigu dan tepung tapioka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan briket arang dari enceng gondok, jenis perekat, ukuran ayakan, serta konsentrasi perekat yang menghasilkan brikest dengan kualitas terbaik. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa briket dengan bahan perekat tepung tapioka lebih baik daripada briket dengan bahan perekat tepung terigu. Briket dengan perekat tapioka memiliki shatter index dengan loss yang paling sedikit serta stability yang lebih baik, meskipun nilai kalornya sedikit dibawah nilai kalor briket dengan perekat terigu. Nilai kalor tertinggi yang didapatkan dari penelitian ini adalah 3748.69 kal/gr, nilai dihasilkan dari briket dengan variabel perekat 20% dan ukuran partikel 20 mesh. Briket paling kuat diperoleh dari variabel 20% perekat dengan ukuran partikel 40 mesh karena hanya kehilangan partikel sebesar 0,11%. Pengujian stability menunjukkan bahwa briket memiliki ukuran yang relatif konstan dari hari ke hari. Dari penelitian ini diharapkan dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pemanfaatan limbah biomassa seperti Enceng gondok (Euchornia crassipes) sehingga menjadi kontribusi bagi upaya pengadaan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.
PEMBUATAN NATA BERBAHAN DASAR ALANG-ALANG SECARA FERMENTASI SEBAGAI KAJIAN AWAL PEMBUATAN EDIBLE FILM Permatasari, Agnesia; Aprilianti, Hafsah Fajrin; Purbasari, Aprilina
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nata is a kind of food fermented by Acetobacter xylinum bacteria, which is forming a gel which floats on the surface of the media or places that contain sugar. Reed plants contain glucose ± 6.8% so it can be used nata. Nata can be harnessed into goods that have a higher economic value, among which are the edible film. Purpose of this study was to determine the effect of concentration of the added starter (Acetobacter xylinum) and influence the level of acidity (pH) in the process of making nata, furthermore nata can be used for manufacture of  edible film. Major in this prosedur there are two steps, first fermentation nata and the second is the manufacture of edible main film. Variable in this study are the variation of pH of 3, 4 and 5 and starter concentration of 10%, 20% and 30%. Optimal result from this study at pH 4 and concentration 30%. This means the addition of 30% of the activity of bacteria Acetobacter xylinum are on optimal conditions in which the starter to the maximum 30% sufficient for the formation of nata. From the results of experiments conducted, the resulting edible film with a thickness of 0.05 mm, tensile strength of 6.635 N/mm2, edible films can be used as food packaging materials with tensile strength values ??ranged from 2.89 to 27.26 N/mm2 making edible films nata produced from reeds can be used for food packaging materials.
PROSES PEMBUATAN BIODIESEL DARI DEDAK DAN METANOL DENGAN ESTERIFIKASI IN SITU Dharsono, Wulandari; Oktari, Y. Saptiana; Purbasari, Aprilina
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandungan asam lemak bebas (Free Fatty Acid (FFA)) yang tinggi menyebabkan minyak dedak padi dapat dikonversi menjadi Fatty Acid Methyl Ester (biodiesel) dengan esterifikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah memanfaatkan dedak sebagai bahan baku pembuatan biodiesel dengan proses esterifikasi in situ serta mempelajari pengaruh jumlah solvent (metanol) dan waktu operasi dalam pembuatannya. Kandungan asam lemak bebas dalam dedak padi dapat meningkat cepat karena adanya enzim lipase aktif dalam dedak padi setelah proses penggilingan. Metode yang digunakan untuk pembuatan biodiesel pada penelitian ini adalah proses esterifikasi in situ. Di dalam proses ini, dedak dicampur dengan metanol dan katalis asam (H2SO4) di mana metanol berfungsi sebagai solvent sekaligus reaktan. Pada proses ini asam lemak bebas dapat terekstrak dari dedak dan selanjutnya bereaksi dengan metanol membentuk metyl ester (biodiesel). Variabel tetap yang digunakan adalah berat dedak 50 gram, kecepatan pengadukan dengan skala 4, jumlah katalis H2SO4 1% volume. Variabel berubahnya pada proses esterifikasi in situ adalah jumlah methanol  150, 200, 250 ml dan waktu reaksi 1;2;3;4 jam. Proses esterifikasi in situ dedak padi mampu menghasilkan biodiesel,dengan waktu operasi optimum adalah 60 menit dan penambahan jumlah methanol sebesar 200 ml menghasilkan konversi paling tinggi