Articles

Found 24 Documents
Search

ANALISIS PRA-INVESTASI UNTUK KOMERSIALISASI ALAT PEMERAH SUSU SAPI SEMI OTOMATIS TIPE ENGKOL DI PROVINSI JAWA BARAT Pertiwi, Setyo; Purnama, Dewi
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 25 No. 2 (2011): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract An effort to improve the productivity of dairy cattle industry, especially small holders, has been made by designing semi automatic dairy cattle milking machine. Prototype of the machine has also been tested and the result was satisfying.  However there is still no effort that has been made to produce the machine commercially. This research is aimed to carry out a pre-investment analysis for commercializing semi automatic dairy cattle milking machine in West Java Province which covers need analysis, functional and operational design of workshop, and financial feasibility analysis of the business. The results indicate that under the given conditions and assumptions the business of producing semi automatic dairy cattle milking machine is technically as well as financially feasible.  It requires initial investment of Rp. 37,226,400, annual fixed cost of Rp. 88,323, 915 and variable cost of Rp. 289,221,112 yearly. For 15 years project? period, interest rate of 15% and selling price of Rp. 7,416,065 per unit the business results to an NPV of Rp. 144,242,044 and IRR of 101%. Without selling price increase, the financial feasibility can be maintained on the raw material price increase up to 10% and the wage increase up to 14%. Keywords: Pre-investmemnt analysis, business feasbility, milking machine, commercialization of design Abstrak Usaha untuk meningkatkan produktivitas industri susu sapi perah, khususnya pada skala kecil, telah dilakukan melalui rancang bangun alat pemerah susu sapi semi otomatis tipe engkol. Kinerja prototipe dari alat tersebut juga telah diuji dengan hasil yang memuaskan. Namun demikian sampai saat ini belum ada upaya untuk memproduksi alat tersebut secara komersial.  Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis pra-investasi untuk komersialisasi alat pemerah susu sapi semi otomatis tipe engkol, meliputi analisis kebutuhan, analisis rancangan usaha produksi serta analisis tingkat kelayakan finansial usaha produksi alat pemerah susu sapi tersebut di wilayah Jawa Barat. Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan kondisi dan sumsi yang diberikan usaha produksi alat pemerah susu sapi semi otomatis layak secara teknis maupun finansial. Usaha tersebut membutuhkan investasi awal sebesar Rp. 37,226,400, biaya tetap per tahun Rp. 88,323, 915 dan biaya variabel sebesar Rp. 289,221,112 per tahun.  Pada jangka waktu proyek 15 tahun, tingkat bunga bank 15% dan  harga jual alat sebesar Rp. 7,416,065 usaha produksi alat pemerah susu sapi semi otomatis memberikan nilai manfaat (NPV) sebesar Rp. 144,242,044 serta IRR sebesar 101%. Tanpa kenaikan harga jual, kelayakan finansial masih dapat dipertahankan sampai dengan kenaikan biaya bahan baku sebesar 10% dan kenaikan biaya pengerjaan sebesar 14%. Kata Kunci: analisis pra-investasi, kelayakan usaha, alat pemerah susu, komersialisasi rancangan Diterima: 22 Maret 2011 ; Disetujui: 27 Juli 2011
STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI DESA KAHYAPU PULAU ENGGANO Agustini, Nella Tri; Ta’alidin, Zamdial; Purnama, Dewi
JURNAL ENGGANO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.715 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.1.1.19-31

Abstract

Metode Penelitian yang dilakukan adalah dengan metode survei melalui observasi langsung di lapangan dan wawancara masyarakat. Data vegetasi mangrove diambil dari tiap transek menggunakan metode transek kuadrat berukuran 10 m x 10 m (kategori pohon), 5 m x 5 m (kategori anakan) dan 2 m x 2 m (kategori semai). Hasil penelitian ditemukan sebanyak 8 (delapan) spesies mangrove sejati dan 8 (delapan) spesies mangrove asosiasi. Kerapatan tingkat pohon keseluruhan tergolong jarang, sedangkan tingkat anakan dan semai tergolong rapat. Persen penutupan mangrove tergolong tinggi sehingga termasuk dalam kategori baik. Frekuensi jenis tertinggi untuk tingkat pohon, anakan dan semai yaitu Bruguiera gymnorrhiza, Rhizopora apiculata dan Xylocarpus granatum. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan ketiga jenis ini hampir dapat ditemukan di setiap petak/plot pengamatan pada setiap stasiun penelitian. Indeks Nilai Penting (INP) Mangrove yang didapatkan tergolong sedang, hal ini menunjukkan bahwa mangrove di Desa Kahyapu memiliki peranan yang cukup penting bagi lingkungan pesisir. Nilai indeks dominansi tergolong rendah dan nilai indeks keanekaragaman yang didapatkan tergolong sedang. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat jenis yang mendominasi jenis lainnya pada ekosistem mangrove di Desa Kahyapu atau komunitas berada dalam kondisi stabil. 
PENGEMBANGAN EKONOMI PRODUKTIF BAGI KELOMPOK TANI PEMBUDIDAYA IKAN DI KABUPATEN LEBONG MELALUI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS IKAN SEPAT SIAM Irnad, Irnad; Reswita, Reswita; Purnama, Dewi
DHARMA RAFLESIA Vol 13, No 2 (2015): DESEMBER
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1112.278 KB) | DOI: 10.33369/dr.v13i2.4251

Abstract

Sumber Rezeki Farmers Group and Maju Bersama Farmers Group are the farmers group existing at Tabeak Kauk village within 150 km from Bengkulu City. Sumber Rezeki Farmers Group and Maju Bersama Farmers Group were formed in 1999 with 20 members of each. One of the activities of farmer groups is fish farming. The most dominant fish cultivated by the farmers is the Goldfish, but a byproduct of farming Goldfish is Siamese Snakeskin fish. Siamese Snakeskin fish during this time include wild fish due to grow and multiply without cultivated by farmers. Snakeskin fish when cultivated intensively will provide enormous benefits for the economic development of members of farmer groups and villagers at Tabeak Kauk village, besides the easiness in the maintenance, the value of Siamese Snakeskin fish can be increased into dried fish. However, there are some problems faced by farmers' groups. The first problem is the limited availability of water to irrigate the pond. Contributing factor is the limited availability of water to irrigate their pool as a result having a lot of dead fish, there is even a farmer who can not do the fish farming until the rainy season comes because irrigation water was insufficient to irrigate their pool. The second problem is the high price of fish feed, the result are unoptimal fish growth and low production. The third problem is the problem of handling / processing after harvest. During this time, the fish is sold in fresh and is not accompanied processing activities, consequently the price of fish sold cheap, because if the fish was not immediately sold, those fish will rot. The fourth problem is the organization / group entrepreneurial for post-harvest processing of fish has not been there. Based on the problems faced, the purpose of this IbM activities are: 1) provide knowledge  transfer partners in  developing the cultivation of Siamese Snakeskin fish conjoined with a tarp, ranging from the spread of seeds, production management / maintenance, and harvesting, 2) provide knowledge transfer to farmers about how to manufacture Siamese Snakeskin fish feed, 3) increase the added value of fish production and farmers' income through diversification of products of Siamese Snakeskin fish into dried fresh and dried salted fish, 4) form an entrepreneurial group that has creativity and independent spirit. Methodology of Science and technology for the Community approach (IbM) will be delivered with extension and cultivation practices, feed manufacturing training, manufacture of dried fish training, and the formation of entrepreneurial  groups.  Results  of  IbM  activity  were  members  of  farmers  have  the knowledge and skills of fish farming intensively in pool tarp, feed manufacturing, increase the added value of the cultivation of fish, trigger creative spirit of farmers in creating refined products based food fish healthy and practical, as well as publications local and national scientific. Keywords: Siamese Snakeskin fish Farming, Post-Harvest Processing, IbM
JENIS DAN BOBOT SAMPAH LAUT (MARINE DEBRIS) PANTAI PANJANG KOTA BENGKULU Johan, Yar; Renta, Person Pesona; Purnama, Dewi; Muqsit, Ali; Hariman, Pinsi
JURNAL ENGGANO Vol 4, No 2
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/jenggano.4.2.243-256

Abstract

Pantai panjang telah ditetapkan menjadi salah satu destinasi ekowisata yang ada di Kota Bengkulu. Terdapat 2 jenis marine debris (sampah organik dan sampah anorganik) yang meyebabkan permasalahan di Pantai Panjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 13 macam marine debris yang digolongkan ke dalam sampah organik di Pantai Panjang yaitu kayu, kertas, kelapa, daun, akar, kardus, bambu, kulit durian, pinang, ketapang, serabut, pohon jagung dan mangrove. Sedangkan jenis sampah anorganik ditemukan 21 macam marine debris yaitu plastik, botol kaca, busa, kain, sepatu, pipet, sendal, tutup botol, tali, pecahan kaca, mainan plastik, karpet, pena, boneka, steorofom, karet, gabus, rem dan sikat gigi. Jenis sampah organik yang mendominasi adalah sampah kayu, sedangkan untuk sampah anorganik yang mendominasi adalah sampah plastik. Jumlah potongan sampah laut dan berat sampah laut tertinggi didominasi oleh sampah organik.TYPES AND WEIGHT OF MARINE DEBRIS IN PANJANG BEACH BENGKULU CITY. Panjang beach has been established as one of the ecotourism destinations in Bengkulu city. There were 2 types of marine debris (organic waste and inorganic waste) which cause problems at Pantai Panjang. The results showed that there were 13 types of waste classified as organic waste in Pantai Beach, namely wood, paper, coconut, leaves, roots, cardboard, bamboo, durian, areca nut, ketapang, fibers, corn and mangrove. While inorganic waste types were found 21 kinds of marine debris, namely plastic, glass bottles, foam, cloth, shoes, pipettes, sandals, bottle caps, ropes, broken glass, plastic toys, carpets, pens, dolls, steorofomes, rubber, cork, brakes and tooth brush. The dominant type of organic waste was wood waste, while for inorganic waste that dominates was plastic waste. The highest number of pieces of marine debris and the weight of marine debris was dominated by organic waste.
MICROSATELLITE DNA ANALYSIS ON THE POLYANDRY OF GREEN SEA TURTLE CHELONIAMYDAS PURNAMA, DEWI; ZAMANI, NEVIATY PUTRI; FARAJALLAH, ACHMAD
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 20 No. 4 (2013): December 2013
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.098 KB) | DOI: 10.4308/hjb.20.4.182-186

Abstract

Green turtle (Cheloniamydas; Testudines) is included in the group of polyandryanimals, which is single female mated with many male. DNA polymorphism method generally considered to have a high degree of accuracy as compared to other methods to elucidate polyandry phenomena on many animals. In this research, three microsatellite loci were used to identify the number and frequency of genotypes per locus, the number and frequency alleles per locus, and genotypes and number of alleles in the nest. The purpose of this research was to study the reproductive pattern of Cheloniamydas and compensation eggs of males from hatchling?s population in turtle conservation area of Pangumbahan Coastal Park, West Java. The result showed that from 10 nests, we could find 37 genotypes with 11 alleles for D108 locus, 21 genotypes with 9 alleles for B103 locus, and 27 genotypes with 9 alleles for C102 locus. The alleles number of each nest was more than 5 alleles for 5 nests, and more than 4 alleles for the remaining nests. Based on the probabilities of alleles contribution of each parent, the green turtle was polyandry animals.
KONDISI TERUMBU KARANG DI TANJUNG GOSONGSENG DESA KAHYAPU PULAU ENGGANO PROVINSI BENGKULU Nugraha, Muhammad Andre; Purnama, Dewi; Wilopo, Mukti Dono; Johan, Yar
JURNAL ENGGANO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.245 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.1.1.43-56

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi terumbu karang dan mengevaluasi kondisi terumbu karang berdasarkan nilai indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, indeks dominansi dan indeks mortalitas. Metode yang digunakan adalah metode suvei dengan menggunakan transek garis menyinggung (LIT), terdiri atas 3 stasiun dimana masing-masing stasiun dibagi atas 2 sub kedalaman yakni pada kedalaman 3m dan 10m. Tipe terumbu karang yang ada di Perairan Tanjung Gosongseng Pulau Enggano memiliki tipe terumbu karang tepi. Hasil penelitian ditemukan 11 jenis bentuk pertumbuhan, yaitu Acropora Branching (ACB), Acropora Digitate (ACD), Acropora Encrusting (ACE), Acropora Submassive (ACS), Acropora Tabulate (ACT), Coral Branching (CB), Coral Massive (CM), Coral Encrusting (CE), Coral Submassive (CS), Coral Foliose (CF), dan Coral Mushroom (CMR). Tutupan karang di Tanjung Gosongseng menurut Kep Men LH no 4 Tahun 2001 tergolong buruk, sedang, baik dan, baik sekali keanekaragaman di kategorikan sedang, dominansi dikategorikan rendah, keseragaman di kategorikan tinggi, serta mortalitas sedang. Untuk parameter kualitas air baik untuk pertumbuhan terumbu karang
ASOSIASI KELIMPAHAN KEPITING BAKAU DENGAN KEBERADAAN JENIS VEGETASI MANGROVE KELURAHAN SUMBER JAYA KECAMATAN KAMPUNG MELAYU KOTA BENGKULU Syahrera, Bayu; Purnama, Dewi; Zamdial, Zamdial
JURNAL ENGGANO Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.472 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.1.2.47-55

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Sumber Jaya, Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu, yang bertujuan untuk mengetahui kelimpahan kepiting bakau, menganalisis hubungan asosiasi kelimpahan kepiting bakau dengan jenis vegetasi mangrove tingkat pohon, menghitung dan menganalisis indeks keanekaragaman, keseragaman, dominasi kepiting bakau, dan parameter fisika kimia perairan. Metode yang digunakan adalah metode survei. Pengambilan sampel dan pengukuran fisika kimia perairan dilakukan secara in-situ di ekosistem hutan mangrove Kelurahan Sumber Jaya. Hasil pengamatan ditemukan 2 spesies kepiting bakau dengan kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun 1 (satu) sebanyak 157 ind/ha diikuti stasiun 3 (tiga) sebanyak 100 ind/ha dan stasiun 2 (dua) sebanyak 61,67 ind/ha. Kelimpahan tertinggi pada stasiun 1 (satu) dan 3 (tiga) yaitu jenis Scylla paramamosain, sedangkan pada stasiun 2 (dua) adalah jenis Scylla olivacea. Indeks keanekaragaman berkisar antara 0,562-0,976, indeks keseragaman berkisar antara 0,562-0,976, dan indeks dominasi berkisar antara 0,516-0,771, secara keseluruhan dalam keadaan tidak stabil, jumlah spesies tidak merata dan terdapat kecenderungan spesies. Kepiting bakau jenis Scylla paramamosain berasosiasi dengan vegetasi mangrove jenis Sonneratia alba dengan nilai korelasi 0,52, sedangkan jenis Scylla olivacea berasosiasi dengan vegetasi mangrove jenis Rhizophora apiculata dengan nilai korelasi 0,23. Hasil pengukuran Parameter fisika kimia perairan didapatkan suhu rata-rata 27,35 ºC, salinitas rata-rata 25,29 ‰, derajat keasaman (pH) rata-rata 7,26 ‰. Kondisi ini menujukan bahwa perairan hutan mangrove tersebut masih mendukung kepiting bakau dan hutan mangrove itu sendiri.
STRUKTUR KOMUNITAS TERUMBU KARANG DI PULAU DUA KECAMATAN ENGGANO KABUPATEN BENGKULU UTARA Muqsit, Ali; Purnama, Dewi; Ta’alidin, Zamdial
JURNAL ENGGANO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.354 KB)

Abstract

Pulau Dua merupakan gugusan kepulauan Enggano yang terletak sekitar 0,5 mil dari Pelabuhan Kahyapu.  Secara geografis pulau ini terletak pada 5o44’ – 5o 45’ LS  dan 102o39 -102o 40’ BT. Luas Pulau dua adalah sekitar 44,32 hektar. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan, yaitu bulan September-November 2013, Alat dan bahan yang digunakan selama penelitian adalah Perahu motor, Hand Global Positioning System (GPS), Thermometer, Hand-refractometer, Flow meter, stop watch, alat selam Self Contained Underwater Buoyancy Apparatus (SCUBA), Secchi disc, Sabak/pensil, Camera Underwater, Rol 50 Meter,  peta dasar (basemap) yang sudah digitasi dan Buku identifikasi karang. Metode penentuan lokasi penelitian berdasarkan survey sebelumnya dan dilihat ada komunitas karang kemudian jumlah stasiun pengamatan dibagi menjadi 3 titik stasiun. Masing pada kedalaman 3 meter dan 7 meter. Dalam penelitian ini yang dilihat antara lain data terumbu karang dan parameter kualitas air dan menggunakan beberapa analisis seperti identifikasi jenis, persentase tutupan karang, indeks keanekaragaman hayati, indeks keseragaman dan indeks dominansi.Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa Persentase tutupan karang rata-rata pada kedalaman 3 meter adalah sebesar 32,22% dengan  kategori  tutupan  karang sedang. Persentase tutupan karang rata-rata pada kedalaman 7 meter adalah sebesar 18,31% dengan kategori tutupan karang buruk. Nilai indeks keanekaragaman (H’) di daerah penelitian termasuk dalam kategori sedang, sedangkan nilai indeks keseragaman (E) termasuk pada kategori rendah dan nilai indeks dominansi (C) tergolong pada kategori rendah yang berarti tidak ada spesies yang mendominasi pada daerah pengamatan. Dari keseluruhan data yang ada, dapat disimpulkan berdasarkan KepMen LH No 04 Tahun 2001 bahwa kondisi terumbu karang yang ada di Perairan Dua termasuk dalam kategori rusak.
STUDI JENIS DAN KELIMPAHAN TERIPANG (HOLOTHUROIDEA) DI EKOSISTEM PADANG LAMUN PERAIRAN DESA KAHYAPU PULAU ENGGANO Oktamalia, Oktamalia; Purnama, Dewi; Hartono, Dede
JURNAL ENGGANO Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.525 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.1.2.56-63

Abstract

Penelitian ini dilakukan di perairan pantai Kahyapu Pulau Enggano Provinsi Bengkulu pada bulan September sampai November 2013. Hasil pengamatan ditemukan 7 jenis yang termasuk kedalam kelas Holothuroidea, dengan dua ordo yaitu Apodida dan Aspidochirotida dan dua famili yaitu Holothuridea dan Synaptidae, serta 4 Genus yaitu Opheodesoma, Synapta, Eupta, dan Holothuria. Dengan kelimpahan tertinggi pada bulan September dan November stasiun 1 sebanyak 153,33 dan 520 ind/ha, terendah stasiun 1 dan 2 sebanyak 13,33 ind/ha. Pada stasiun 3 masing-masing 13,33 ind/ha. Pada bulan September maupun November kepadatan tertinggi masing-masing berjumlah 0,1- 1,333 ind/25m², dan 1,071 – 2,933 ind/25m². Indeks dominasi bulan September dan November berkisar antara 0,343 – 1 dan 0,120-0,524. Indeks keanekaragaman bulan September dan November berkisar antara 0-0,918 dan 1,52-1,979. Indeks keseragaman bulan September dan November berkisar antara 0-0,918 dan 0,576-0,765. Hasil pengukuran faktor abiotik didapatkan suhu rata-rata 27,63 oC, kecepatan arus rata-rata 0,2 m/s, kedalaman rata-rata 25-33 cm, kecerahan mencapai 100 %, salinitas rata-rata 30,53 ppm, derajat keasaman (pH) rata-rata 6,78. kandungan padatan tersuspensi berkisar antara 1,720-1,950 mg/l dan kandungan bahan organik dalam sedimen berisar antara 1,63-3,86 %.
IDENTIFIKASI SPESIES UDANG MANTIS (STOMATOPODA) DI PERAIRAN KOTA BENGKULU Situmeang, Nopia Santri; Purnama, Dewi; Hartono, Dede
JURNAL ENGGANO Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Enggano
Publisher : University of Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.579 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.2.2.239-248

Abstract

Udang Mantis merupakan salah satu jenis crustacea yang memiliki kandungan nutrien yang cukup tinggi yaitu protein 43,91%;  lemak 12,35%; serat kasar 16,01%. Udang ini hidup diantara susunan terumbu karang yang sangat kompleks. Udang Mantis dapat hidup di air laut maupun air payau. Habitat sebagian besar Udang Mantis adalah pantai dan senang hidup di dasar air terutama pasir berlumpur. Populasi Udang Mantis tersebar di kota Bengkulu tetapi tidak banyak dikonsumsi oleh masyarakat Kota Bengkulu maupun di luar kota Bengkulu karena dagingnya sedikit. Selain itu pengetahuan tentang kandungan dan juga manfaat udang ini belum banyak diketahui oleh masyarakat kota Bengkulu dan juga pemasarannya masih sangat jarang sekali bahkan hampir terbilang tidak ada yang memasarkannya. Dilihat dari segi ekologinya Udang Mantis (Stomatopoda) merupakan makhluk yang memiliki peran penting dalam ekosistem terumbu karang dengan menjaga populasi dan memelihara semua spesies yang ada baik secara langsung maupun tidak langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies Udang Mantis (Stomatopoda) di Kota Bengkulu.adapun lokasi penelitian yaitu di Pantai Zakat, PPI Pondok Besi dan PPI Pulau Baai. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di 3 Stasiun peneliti menemukan Udang Mantis di Perairan Kota Bengkulu yang kemudian diidentifikasi sampai ke tingkat spesies. Dari 36 sampel yang diidentifikasi hanya ditemukan satu spesies yaitu Harpiosquilla raphidea. Daerah penangkapan Udang Mantis berlokasi di sekitar perairan yang tidak jauh dari pantai.