Dyah Purnamasari
Department of Internal Medicine, Faculty of Medicine, Universitas Indonesia, Jakarta

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

PERAN RIWAYAT AYAH DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA STATUS PREDIABETES ANAK KANDUNG PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 Ekaputri, Maulidia; Citrawijaya, Henrico; Adhimulia, Kevin Jonathan; Sudirman, Adrian Reynaldo; Murti, Radityo Ali; Sarena, Ayu Putri Balqis; Purnamasari, Dyah
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 6, No 4 (2019)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jpdi.v6i4.339

Abstract

Pendahuluan. Pasien diabetes melitus tipe 2 (DMT2) pada umumnya memiliki satu atau lebih komplikasi kronik pada saat terdiagnosis. Deteksi dini dan pencegahan sangat penting untuk mengurangi angka mortalitas dan morbiditas terkait DMT2, terutama pada kelompok dengan risiko tinggi seperti anak penderita DMT2. Studi ini bertujuan untuk mencari faktor-faktor yang berkaitan dengan status prediabetes pada anak dari penderita diabetes melitus tipe 2.Metode. Studi ini merupakan studi potong lintang yang melibatkan 54 anak dari penderita DMT2. Subjek dikumpulkan secara konsekutif. Status prediabetes ditentukan melalui HbA1C berstandar national glycohemoglobin standardization program (NGSP). Aktivitas fisik ditentukan melalui kuisioner global physical activity questionnaire (GPAQ)-versi Bahasa Indonesia. Tekanan darah dan data antropometrik diukur secara langsung. Analisis bivariat dan multivariat dilakukan dengan IBM SPSS 23.Hasil. Dilakukan analisis terhadap 54 subjek. Mayoritas subjek adalah perempuan (79,6%) dan rerata umur adalah 38,8 tahun. Proporsi prediabetes mencapai 31,5%. Analisis multiavariat menunjukkan hubungan bermakna antara riwayat paternal DMT2 (adjusted OR 7,520; IK 95%=1,071-52,784), lingkar pinggang berisiko (adjusted OR 5,482; IK 95%=1,019-29,504) terhadap status prediabetes.Simpulan. Riwayat paternal DMT2 dan lingkar pinggang berkaitan dengan status prediabetes pada anak dari penderita DMT2.Kata Kunci: Anak penderita DM tipe 2, HbA1C, intoleransi glukosa, prediabetes The Role of Paternal History of Type 2 Diabetes Mellitus on Prediabetes Status among The Offspring of Type 2 Diabetes Mellitus Patients Introduction. Since patients with type 2 diabetes mellitus (T2DM) often present with one or more chronic complications, at the time of diagnosis, early detection and prevention is essential to reduce T2DM-associated mortality and morbidity, espescially among high risk population such as the offspring of T2DM. This study aimed to investigate several factors associated with prediabetes status among the offsprings of T2DM patients.Methods. A cross-sectional study was conducted involving 54 offsprings of T2DM patients. Subjects were recruited consecutively. We collected demographic data, anthropometric measurement, blood pressure, and HbA1c level. Physical activity were assessed by using Indonesian version of global physical activity questionnaire (GPAQ). Prediabetes status was investigated by standardized national glycohemoglobin standardization program (NGSP) HbA1c. Bivariate statistical and multivariate analysis was performed by using IBM SPSS 23.Results: The majority of subjects were female (79.6%) and the mean age was 38.8 years old. The proportion of prediabetes was 31.5%. Multivariate analysis showed significant association among paternal history of T2DM (adjusted OR 7.520; 95%CI=1.071-52.784), waist circumference at risk (adjusted OR 5.482; 95%CI=1.019-29.504), and prediabetes status.Conclusion: Paternal history of T2DM and waist circumference were associated with prediabetes status among the offspring of T2DM patients.
Sunlight–derived vitamin D affects interleukin-4 level, T helper 2 serum cytokines, in patients with Graves’ disease: a prospective cohort study Purnamasari, Dyah; Soewondo, Pradana; Djauzi, Samsuridjal
Medical Journal of Indonesia Vol 24, No 4 (2015): December
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.046 KB) | DOI: 10.13181/mji.v24i4.1270

Abstract

Background: Graves’ disease (GD) is the most common autoimmune disease leading to hyperthyroidism. The role of Th1/Th2 pathways balance in GD is still controversial. Vitamin D is reported to have an effect on those pathways. This study aims to examine the effect of sunlight exposure on vitamin D 25(OH) level and Th1 and Th2 pathway-derived cytokines in GD patients. Methods: A prospective cohort study was conducted on 32 GD patients to compare the effect of sunlight exposure on vitamin D level and cytokines of Th1 and Th2 pathways between exposed and unexposed groups. Exposed group received sunlight exposure three times a week for 30 minutes each between 9–11 a.m for 1 month. Thyroid stimulating hormone (TSH), free thyroxin (fT4), vitamin D 25(OH), interferon-γ (IFN-γ) and interleukin-4 (IL-4) serum levels, were investigated before and after one month of sunlight exposure. Paired t-test or Mann Whitney test were used to analyze the difference between exposed and unexposed GD groups before and after sun exposure.Results: One month of sunlight exposure increased vitamin D 25(OH) level by 27.90% among exposed GD group (15.34 ng/mL to 19.62 ng/mL, p<0.001). Meanwhile, unexposed GD group’s vitamin D 25(OH) level decreased from 20.48 ng/mL to 18.86 ng/mL (p<0.001). Increased vitamin D 25(OH) level in exposed group was not accompanied by the increase of IL-4 level after sunlight exposure.Conclusion: Sunlight exposure increases vitamin D 25(OH) serum level and may affect the level of IL-4, Th2 pathway-derived cytokine, in patients with GD. However, the role of sunlight-derived vitamin D on IFN-γ in GD patients can not be concluded in this study.
Asosiasi antara Status Vitamin D 25(Oh)D dengan Albuminuria pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Indra, Tities Anggraeni; Lydia, Aida; Purnamasari, Dyah; Setiati, Siti
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Angka kejadian nefropati diabetik di Indonesia dilaporkan meningkat. Defisiensi vitamin D juga cukup tinggi. Berbagai faktor telah diidentifikasi turut memperberat kejadian nefropati diabetik salah satunya status vitamin D 25(OH)D. Namun demikian, bekum ada studi yang mengidentifikasi hubungan keduanya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asosiasi antara status vitamin D 25(OH)D dengan albuminuria pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Indonesia.Metode. Dilakukan studi potong lintang pada 96 pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 yang berobat ke poliklinik MetabolikEndokrin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM), Jakarta pada November-Desember 2012. Pemeriksaan kadar vitamin D 25(OH)D diilakukan dengan menggunakan kit Diasorin dengan metode CLIA, sedangkan albuminuria dinilai berdasarkan kadar albumin pada sampel urin sewaktu. Uji statistik yang digunakan meliputi uji chi square pada analisis bivariat dan regresi logistik pada analisis multivariat.Hasil. Prevalensi defisiensi vitamin D 25(OH)D pada pasien diabetes melitus tipe 2 sebesar 49% dengan nilai median kadar vitamin D 25(OH)D adalah 16,35 (4,2-41,4) ng/mL. Tidak didapatkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara defisiensi vitamin D dengan albuminuria, baik pada analisis bivariat maupun multivariat (OR 0,887; IK95% 0,3352,296). Faktor perancu yang memengaruhi hubungan antara defisiensi vitamin D dengan kejadian albuminuria pada pasien DM tipe 2 adalah kontrol gula darah yang buruk dan berat badan lebih.Simpulan. Studi ini belum dapat menyimpulkan adanya hubungan antara defisiensi vitamin D 25(OH)D dengan albuminuria pada pasien DM tipe 2 di Indonesia.Kata Kunci: albuminuria, defisiensi vitamin D 25(OH)D, DM tipe 2  The Association between Vitamin D 25(OH)D Level and Albuminuria in Type 2 Diabetes MellitusIntroduction. Vitamin D 25(OH)D deficiency was reported as a possible risk factor for the development of diabetic nephropathy in several epidemiologic studies. Whether vitamin D 25(OH)D deficiency plays a role in the development of diabetic nephropathy in Indonesia is unknown. This study aims to determinate the association between vitamin D 25(OH)D level with albuminuria in patients with type 2 diabetes mellitus in Indonesia. Methods. A cross-sectional study was conducted in 96 patients with type 2 diabetes mellitus at outpatient clinic of MetabolicEndocrine Cipto Mangunkusumo Hospital. Serum vitamin D level was assessed using Diasorin kit with CLIA method, while albuminuria was assessed using random urine sample. Statistical analysis was conducted using chi square for bivariate analysis and regression logistic method for multivariate analysis. Results.The prevalence of vitamin D 25(OH)D deficiency in patients with type 2 diabetes mellitus was 49% with a median value 16,35 (4,2-41,4) ng/mL. There was no significant correlation between vitamin D deficiency with the severity of albuminuria (OR 0,887; 95% CI 0,335 to 2,296). Confounding factors such as poor blood glucose control and overweight strongly influenced the association between vitamin D deficiency with the incidence of albuminuria in patients with type 2 diabetes mellitus. Conclusion. The results of this study showed that there was no association between vitamin D deficiency with the severity of albuminuria in patients with type 2 diabetes mellitus in Indonesia. 
Hubungan Variabilitas Glukosa 72 Jam Pertama Perawatan ICU dengan Mortalitas ICU pada Pasien Kritis Yasmine, Elizabeth; Mansjoer, Arif; Purnamasari, Dyah; Shatri, Hamzah
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Hiperglikemia saat perawatan merupakan faktor risiko yang dapat ditatalaksana dengan optimal untuk menurunkan mortalitas. Penelitian hubungan variabilitas glukosa terhadap mortalitas telah diteliti, namun menggunakan indikator yang bervariasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji hubungan variabilitas glukosa yaitu rerata perubahan glukosa absolut (mean absolute glucose change, MAG) dan simpang baku glukosa terhadap mortalitas pasien kritis.Metode. Studi kohort retrospektif dilakukan pada 280 pasien yang dirawat di intensive care unit (ICU) dan high care unit (HCU) Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta periode Januari 2012-Agustus 2013. Variabel MAG dan simpang baku glukosa dibagi menjadi 4 kuartil. Analisis hubungan antara MAG dan simpang baku glukosa dengan mortalitas dilakukan dengan uji chi Square. Untuk mengeluarkan faktor perancu (skor MSOFA, indeks komorbiditas Charlson,hipoglikemia, dan hiperglikemia) dilakukan uji regresi logistik.Hasil. Nilai median MAG dan simpang baku gukosa masing-masing adalah 3,3 mg/dL/jam dan 38,3 mg/dL. Proporsi mortalitas yang lebih tinggi didapatkan pada kuartil atas MAG dan simpang baku glukosa dibandingkan kuartil bawah. Berdasarkan uji chi square, didapatkan hasil OR MAG kuartil atas terhadap mortalitas OR 4,26 (IK 95% 1,98-9,15) dan OR simpang baku glukosa kuartil atas terhadap mortalitas OR 2,78 (IK 95% 1,35-5,71). Setelah dilakukan uji regresi logistik didapatkan fully adjusted OR 3,34 (IK 95% 1,08-10,31) untuk MAG dan 0,90 (IK 95% 0,28-2,88) untuk simpang baku glukosa.Simpulan. Proporsi mortalitas MAG kuartil atas (>8,1 mg/dL/jam) lebih tinggi daripada kuartil bawah (<1,3 mg/dL/jam). Proporsi mortalitas simpang baku glukosa kuartil atas (>59 mg/dL) lebih tinggi daripada kuartil bawah (<22,7 mg/dL). Namun demikian, hasil tersebut tidak bermakna secara statistik.Kata kunci: mortalitas, rerata perubahan glukosa absolut, simpang baku glukosa, variabilitas glukosa Association of Glucose Variability in the First 72 Hours of ICU Care with ICU Mortality in Critically-III PatientsIntroduction. Hyperglycemia during hospitalization is a risk factor that can be managed in order to reduce mortality. Inspite of hyperglycemia, glucose variability also brings negative outcome to cells. Studies about glucose variability effect to mortality had been studied using many variables of glucose variability. Methods. Retrospective cohort study is done to 280 critical ill patient in ICU and HCU in Cipto Mangunkusumo Hospital who admitted to critical care between January 2012-August 2013. MAG change and glucose standard deviation are divided into 4 quartiles. Relationship between MAG change and glucose standard deviation are analyzed using Chi Square test. To control the confounders (MSOFA score, Charlson comorbidities index, hypoglycemia, and hyperglycemia), logistic regression is done.Results. Median of MAG change is 3.3 mg/dL/hour and median of glucose standard deviation is 37.63 mg/dL. Mortality proportion is higher in upper quartile of MAG change and glucose standard deviation compared to lower quartile. OR of upper quartile MAG change to ICU mortality is OR 4.26 (95% CI 1.98-9.15) and OR of upper quartile glucose standard deviation to ICU mortality is OR 2.78 (95% CI 1.35-5.71). These results are adjusted to MSOFA score, hypoglycemia, and hyperglycemia. In logistic regression test, fully adjusted OR are 3.34 (95% CI 1.08-10.31) and 0.90 (95% CI 0.28-2.88) for MAG change and glucose standard deviation, respectively. Conclusions. Mortality proportion of upper quartile of MAG change (>8.1 mg/dL/hour) is higher than lower quartile (<1.3 mg/dL). Mortality proportion of upper quartile glucose standard deviation (>59 mg/dL) is higher than lower quartile(<22.7 mg/dL), but the difference is not statistically significant. Keywords: glucose standard deviation, glucose variability, mean absolute glucose change, mortality
Faktor-Faktor yang Berperan terhadap Terjadinya Lipodistrofi pada Pasien HIV yang Mendapatkan Terapi Antiretroviral Lini Pertama Kusumayanti, Ratu Ratih; Yunihastuti, Evy; Purnamasari, Dyah; Witjaksono, F; Dewiasty, Esthika
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Seiring dengan perkembangan antiretroviral, harapan hidup pasien HIV terus meningkat namun menjadi rentan terhadap efek samping pengobatan. Salah satu efek samping pengobatan adalah sindrom lipodistrofi, meliputi lipoatrofi, lipohipertrofi, atau gabungan keduanya. Faktor risiko yang dikaitkan dengan lipodistrofi pada HIV adalah usia, jenis kelamin, lama terapi antiretroviral, CD4 awal, Stadium HIV, dan pemakaian Stavudin. Belum ada publikasi di Indonesia yang meneliti kejadian lipodistrofi pada populasi pasien HIV yang mendapat terapi ARV lini pertama serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kejadian lipodistrofi pada pasien HIV dalam terapi ARV lini pertama berbasis Stavudin dan Zidovudin minimal 6 bulan serta faktor-faktor yang memengaruhinya yang berobat di Pokdisus RSCM.Metode. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang dan kasus kontrol untuk mengetahui prevalensi lipodistrofi pada pasien HIV dengan ARV lini pertama serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Analisis statistik menggunakan uji chi square atau uji Kolmogrof Smirnoff untuk mendapatkan hubungan antara masing-masing faktor risiko dengan terjadinya lipodistrofi. Analisis multivariat dilakukan dengan regresi logistik.Hasil. Sebanyak 346 pasien terlibat dalam penelitian ini. Didapatkan prevalensi lipodistrofi sebesar 27,5%, dengan rincian 70,5% lipoatrofi, 8,4% lipohipertrofi, dan 21,1% gabungan keduanya. Lokasi lipoatrofi terbanyak di daerah wajah. Prevalensi lipodistrofi pada subjek yang menggunakan Stavudin sebesar 43.3%, dan Zidovudin sebesar 10,7%. Faktor yang berhubungan dengan kejadian lipodistrofi adalah penggunaan Stavudin [p= <0,001; adjusted OR 5,34 IK95% (2,59 – 10.98)].Simpulan. Didapatkan prevalensi Lipodistrofi pada pasien HIV yang mendapatkan terapi ARV lini pertama adalah 27.5%, dan didapatkan hubungan antara kejadian lipodistrofi pada pasien HIV dengan penggunaan Stavudin.
Asosiasi antara Status Vitamin D 25(Oh)D dengan Albuminuria pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Indra, Tities Anggraeni; Lydia, Aida; Purnamasari, Dyah; Setiati, Siti
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1437.48 KB) | DOI: 10.7454/jpdi.v4i1.108

Abstract

Pendahuluan. Angka kejadian nefropati diabetik di Indonesia dilaporkan meningkat. Defisiensi vitamin D juga cukup tinggi. Berbagai faktor telah diidentifikasi turut memperberat kejadian nefropati diabetik salah satunya status vitamin D 25(OH)D. Namun demikian, bekum ada studi yang mengidentifikasi hubungan keduanya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asosiasi antara status vitamin D 25(OH)D dengan albuminuria pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Indonesia.Metode. Dilakukan studi potong lintang pada 96 pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 yang berobat ke poliklinik MetabolikEndokrin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM), Jakarta pada November-Desember 2012. Pemeriksaan kadar vitamin D 25(OH)D diilakukan dengan menggunakan kit Diasorin dengan metode CLIA, sedangkan albuminuria dinilai berdasarkan kadar albumin pada sampel urin sewaktu. Uji statistik yang digunakan meliputi uji chi square pada analisis bivariat dan regresi logistik pada analisis multivariat.Hasil. Prevalensi defisiensi vitamin D 25(OH)D pada pasien diabetes melitus tipe 2 sebesar 49% dengan nilai median kadar vitamin D 25(OH)D adalah 16,35 (4,2-41,4) ng/mL. Tidak didapatkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara defisiensi vitamin D dengan albuminuria, baik pada analisis bivariat maupun multivariat (OR 0,887; IK95% 0,3352,296). Faktor perancu yang memengaruhi hubungan antara defisiensi vitamin D dengan kejadian albuminuria pada pasien DM tipe 2 adalah kontrol gula darah yang buruk dan berat badan lebih.Simpulan. Studi ini belum dapat menyimpulkan adanya hubungan antara defisiensi vitamin D 25(OH)D dengan albuminuria pada pasien DM tipe 2 di Indonesia.Kata Kunci: albuminuria, defisiensi vitamin D 25(OH)D, DM tipe 2  The Association between Vitamin D 25(OH)D Level and Albuminuria in Type 2 Diabetes MellitusIntroduction. Vitamin D 25(OH)D deficiency was reported as a possible risk factor for the development of diabetic nephropathy in several epidemiologic studies. Whether vitamin D 25(OH)D deficiency plays a role in the development of diabetic nephropathy in Indonesia is unknown. This study aims to determinate the association between vitamin D 25(OH)D level with albuminuria in patients with type 2 diabetes mellitus in Indonesia. Methods. A cross-sectional study was conducted in 96 patients with type 2 diabetes mellitus at outpatient clinic of MetabolicEndocrine Cipto Mangunkusumo Hospital. Serum vitamin D level was assessed using Diasorin kit with CLIA method, while albuminuria was assessed using random urine sample. Statistical analysis was conducted using chi square for bivariate analysis and regression logistic method for multivariate analysis. Results.The prevalence of vitamin D 25(OH)D deficiency in patients with type 2 diabetes mellitus was 49% with a median value 16,35 (4,2-41,4) ng/mL. There was no significant correlation between vitamin D deficiency with the severity of albuminuria (OR 0,887; 95% CI 0,335 to 2,296). Confounding factors such as poor blood glucose control and overweight strongly influenced the association between vitamin D deficiency with the incidence of albuminuria in patients with type 2 diabetes mellitus. Conclusion. The results of this study showed that there was no association between vitamin D deficiency with the severity of albuminuria in patients with type 2 diabetes mellitus in Indonesia. 
Hubungan Variabilitas Glukosa 72 Jam Pertama Perawatan ICU dengan Mortalitas ICU pada Pasien Kritis Yasmine, Elizabeth; Mansjoer, Arif; Purnamasari, Dyah; Shatri, Hamzah
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530 KB) | DOI: 10.7454/jpdi.v3i1.4

Abstract

Pendahuluan. Hiperglikemia saat perawatan merupakan faktor risiko yang dapat ditatalaksana dengan optimal untuk menurunkan mortalitas. Penelitian hubungan variabilitas glukosa terhadap mortalitas telah diteliti, namun menggunakan indikator yang bervariasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji hubungan variabilitas glukosa yaitu rerata perubahan glukosa absolut (mean absolute glucose change, MAG) dan simpang baku glukosa terhadap mortalitas pasien kritis. Metode. Studi kohort retrospektif dilakukan pada 280 pasien yang dirawat di intensive care unit (ICU) dan high care unit (HCU) Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta periode Januari 2012-Agustus 2013. Variabel MAG dan simpang baku glukosa dibagi menjadi 4 kuartil. Analisis hubungan antara MAG dan simpang baku glukosa dengan mortalitas dilakukan dengan uji chi Square. Untuk mengeluarkan faktor perancu (skor MSOFA, indeks komorbiditas Charlson, hipoglikemia, dan hiperglikemia) dilakukan uji regresi logistik. Hasil. Nilai median MAG dan simpang baku gukosa masing-masing adalah 3,3 mg/dL/jam dan 38,3 mg/dL. Proporsi mortalitas yang lebih tinggi didapatkan pada kuartil atas MAG dan simpang baku glukosa dibandingkan kuartil bawah. Berdasarkan uji chi square, didapatkan hasil OR MAG kuartil atas terhadap mortalitas OR 4,26 (IK 95% 1,98-9,15) dan OR simpang baku glukosa kuartil atas terhadap mortalitas OR 2,78 (IK 95% 1,35-5,71). Setelah dilakukan uji regresi logistik didapatkan fully adjusted OR 3,34 (IK 95% 1,08-10,31) untuk MAG dan 0,90 (IK 95% 0,28-2,88) untuk simpang baku glukosa. Simpulan. Proporsi mortalitas MAG kuartil atas (>8,1 mg/dL/jam) lebih tinggi daripada kuartil bawah (<1,3 mg/dL/jam). Proporsi mortalitas simpang baku glukosa kuartil atas (>59 mg/dL) lebih tinggi daripada kuartil bawah (<22,7 mg/dL). Namun demikian, hasil tersebut tidak bermakna secara statistik. Kata kunci: mortalitas, rerata perubahan glukosa absolut, simpang baku glukosa, variabilitas glukosa Association of Glucose Variability in the First 72 Hours of ICU Care with ICU Mortality in Critically-III PatientsIntroduction. Hyperglycemia during hospitalization is a risk factor that can be managed in order to reduce mortality. Inspite of hyperglycemia, glucose variability also brings negative outcome to cells. Studies about glucose variability effect to mortality had been studied using many variables of glucose variability. Methods. Retrospective cohort study is done to 280 critical ill patient in ICU and HCU in Cipto Mangunkusumo Hospital who admitted to critical care between January 2012-August 2013. MAG change and glucose standard deviation are divided into 4 quartiles. Relationship between MAG change and glucose standard deviation are analyzed using Chi Square test. To control the confounders (MSOFA score, Charlson comorbidities index, hypoglycemia, and hyperglycemia), logistic regression is done.Results. Median of MAG change is 3.3 mg/dL/hour and median of glucose standard deviation is 37.63 mg/dL. Mortality proportion is higher in upper quartile of MAG change and glucose standard deviation compared to lower quartile. OR of upper quartile MAG change to ICU mortality is OR 4.26 (95% CI 1.98-9.15) and OR of upper quartile glucose standard deviation to ICU mortality is OR 2.78 (95% CI 1.35-5.71). These results are adjusted to MSOFA score, hypoglycemia, and hyperglycemia. In logistic regression test, fully adjusted OR are 3.34 (95% CI 1.08-10.31) and 0.90 (95% CI 0.28-2.88) for MAG change and glucose standard deviation, respectively.Conclusions. Mortality proportion of upper quartile of MAG change (>8.1 mg/dL/hour) is higher than lower quartile (<1.3 mg/dL). Mortality proportion of upper quartile glucose standard deviation (>59 mg/dL) is higher than lower quartile(<22.7 mg/dL), but the difference is not statistically significant.
Faktor-Faktor yang Berperan terhadap Terjadinya Lipodistrofi pada Pasien HIV yang Mendapatkan Terapi Antiretroviral Lini Pertama Kusumayanti, Ratu Ratih; Yunihastuti, Evy; Purnamasari, Dyah; Witjaksono, F; Dewiasty, Esthika
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 4 (2015)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1178.6 KB) | DOI: 10.7454/jpdi.v2i4.90

Abstract

Pendahuluan. Seiring dengan perkembangan antiretroviral, harapan hidup pasien HIV terus meningkat namun menjadi rentan terhadap efek samping pengobatan. Salah satu efek samping pengobatan adalah sindrom lipodistrofi, meliputi lipoatrofi, lipohipertrofi, atau gabungan keduanya. Faktor risiko yang dikaitkan dengan lipodistrofi pada HIV adalah usia, jenis kelamin, lama terapi antiretroviral, CD4 awal, Stadium HIV, dan pemakaian Stavudin. Belum ada publikasi di Indonesia yang meneliti kejadian lipodistrofi pada populasi pasien HIV yang mendapat terapi ARV lini pertama serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kejadian lipodistrofi pada pasien HIV dalam terapi ARV lini pertama berbasis Stavudin dan Zidovudin minimal 6 bulan serta faktor-faktor yang memengaruhinya yang berobat di Pokdisus RSCM.Metode. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang dan kasus kontrol untuk mengetahui prevalensi lipodistrofi pada pasien HIV dengan ARV lini pertama serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Analisis statistik menggunakan uji chi square atau uji Kolmogrof Smirnoff untuk mendapatkan hubungan antara masing-masing faktor risiko dengan terjadinya lipodistrofi. Analisis multivariat dilakukan dengan regresi logistik.Hasil. Sebanyak 346 pasien terlibat dalam penelitian ini. Didapatkan prevalensi lipodistrofi sebesar 27,5%, dengan rincian 70,5% lipoatrofi, 8,4% lipohipertrofi, dan 21,1% gabungan keduanya. Lokasi lipoatrofi terbanyak di daerah wajah. Prevalensi lipodistrofi pada subjek yang menggunakan Stavudin sebesar 43.3%, dan Zidovudin sebesar 10,7%. Faktor yang berhubungan dengan kejadian lipodistrofi adalah penggunaan Stavudin [p= <0,001; adjusted OR 5,34 IK95% (2,59 – 10.98)].Simpulan. Didapatkan prevalensi Lipodistrofi pada pasien HIV yang mendapatkan terapi ARV lini pertama adalah 27.5%, dan didapatkan hubungan antara kejadian lipodistrofi pada pasien HIV dengan penggunaan Stavudin.
A Combine Effect of Firm Characteristics and Corporate Social Responsibility on Supply Chain Performance Mohd Saudi, Mohd Haizam; Wijaya, Aida; Arwaty, Dini; Zaman, Dr. Fazluz; Purnamasari, Dyah
International Journal of Supply Chain Management Vol 8, No 2 (2019): International Journal of Supply Chain Management (IJSCM)
Publisher : International Journal of Supply Chain Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Objective of this study is to examine the role of firm characteristics in supply chain performance (SCP) with mediating role of corporate social responsibility (CSR). Various lower income countries are facing different issues in supply chain which has effect on SCP. These issues are related to the firm characteristics. Firm characteristics include; size and ownership. Additionally, this study examined the mediation effect of CSR between firm characteristics and SCP. 500 questionnaires were distributed to get the response of supply chain employees in Indonesian supply chain companies. The companies only dealing with supply chain were selected to get response. The companies which were involved in other activities are not included in the survey. After data collection, data were examined through structural equation modeling. It is found that firm characteristics have direct relationship with CSR and CSR has direct relationship with SCP. Moreover, CSR playing a mediating role between firm characteristics and SCP.