Articles

Found 32 Documents
Search

KANDUNGAN MAGNETIT DAN DISTRIBUSI SEDIMEN PADA PANTAI ANOI ITAM, PULAU WEH Purnawan, Syahrul; Kamal, Irfan; Ilhamsyah, Yopi; Agustin, Sri; Octavina, Chitra; Muhammad, Adam
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v10i2.20982

Abstract

Keberadaan pasir besi dalam suatu wilayah memiliki peran ekonomis penting, umumnya dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk industri. Di sisi lain, kandungan mineral dan magnetit dalam sedimen dapat digunakan sebagai bahan penjejak untuk menelusuri proses transport sedimen dalam suatu lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran pola distribusi magnetit di lingkungan Pantai Anoi Itam (PAI) yang berada di bagian timur Pulau weh, Kota Sabang. Analisis komposisi magnetit bersama dengan parameter ukuran butiran rata-rata, digunakan untuk mendeskripsikan pola sebaran pasir besi yang terbentuk pada kawasan PAI. Sampel sedimen diambil pada bulan Februari 2017 menggunakan coring pada 20 stasiun di sepanjang pantai (alongshore). Parameter ukuran butiran rata-rata diperoleh menggunakan metode ayak basah, sedangkan kandungan magnetit dihasilkan dari separasi menggunakan magnet kuat Neodynium tipe n-35. Sedimen PAI dicirikan memiliki tekstur yang agak kasar, dimana tipe pasiran dengan sedikit kerikil (Slightly Gravelly Sand) umum ditemukan. Diperoleh nilai ukuran butiran rata-rata sedimen antara 0,30 mm hingga 1,72 mm, dengan rerata (average) 0,74 mm. Magnetit memiliki nilai ukuran butiran rata-rata antara 0,31 mm hingga 1,82 mm, dan diperoleh rerata sebesar 0,76 mm. Keterdapatan magnetit ditemukan dalam persentase yang tinggi pada bagian utara PAI dan menjadi lebih rendah menuju bagian selatan, sehingga disimpulkan bahwa pola sebaran magnetit berasal dari bagian utara PAI.
CHARACTERISTICS AND MINERAL CONTENT OF SEDIMENT AT MUARA PULAU KAYU (MPK) OF SOUTHWEST ACEH DISTRICT Purnawan, Syahrul; Jalil, Zulkarnain; Akmal, Chairul; Ilhamsyah, Yopi
Aceh International Journal of Science and Technology Vol 7, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Graduate School of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/aijst.7.1.8524

Abstract

Study on sediment characteristics and mineral content at Muara Pulau Kayu (MPK) of Southwest Aceh District was conducted to find a general description of grain size and mineral content regarding to hydro-oceanographic process. Sampling was collected at MPK, Southwest Aceh District during March 2016. Purposive sampling method was used to determine 4 sampling sites covering estuary and beach area. Grain size and mineral content were analyzed with a set of sieves and X-Ray Fluorescence (XRF with standard reference mineral). Observation on the grain roundness and sphericity showed that sediment grains are generally more rounded at beach area. Mineral content at MPK are dominated by Si, Fe, K, Ca and Ti that are categorized into volcanic mineral which conclude that sediment at MPK originated from Mount Leuser which was an active volcano in the past.
ANALISIS KESESUAIAN PARAMETER PERAIRAN TERHADAP KOMODITAS TAMBAK MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI KABUPATEN PIDIE JAYA Ramadhani, Farhan; Purnawan, Syahrul; Khairuman, Teuku
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan Perikanan Unsyiah Vol 1, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1001.606 KB)

Abstract

The study aimed to determine the suitability of fishponds in Pidie Jaya, the research was done using GIS spatial analysis method, where the water parameter samples were collected from 20 sampling points, the samples were taken within the river or flow water beside the fishpond. There were 5 parameters measured included salinity, pH, dissolved oxygen, water visibility, and nitrate contents. The analysis was done using kriging interpolation, reclassification, and overlay analysis using weighted overlay. Analysis based on 4 suitability criteria, very suitable, suitable, less suitable, and not suitable. The results of this analysis are that the fishponds fall into very suitable and suitable criteria. Of the total of ±1842 Ha fishponds, 2.37% covering ±43.76 Ha is classified as very suitable, and 97.63% covering ±1798.23 Ha classified as suitable. Results show that Pidie Jaya is good choice for low cost aquaculture ponds with a little treatment for nitrates. Key words: Pidie Jaya; fishpond; GIS; suitability analysis; weighted overlay.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian lahan tambak berdasarkan kualitas perairan di pesisir Kabupaten Pidie Jaya. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode analisis spasial Sistem Informasi Geografis (SIG), sampel parameter perairan dikumpulkan dari 20 titik sampling pada saluran tambak. Parameter perairan yang diukur meliputi 5 parameter kunci yang sangat berpengaruh terhadap komoditas tambak, meliputi salinitas, pH, oksigen terlarut, kecerahan air dan kandungan nitrat. Langkah analisis dilakukan menggunakan ordinary kriging, reclassify, dan weighted overlay. Tingkat kesesuaian lahan dibagi kedalam 4 kelas, yaitu sangat sesuai, sesuai, kurang sesuai, dan tidak sesuai. Didapatkan 2 tingkat kesesuaian yaitu kelas sangat sesuai sebesar 2.37% (±43.76 Ha) dan kelas sesuai sebesar 97.63% (±1798.23 Ha) dari total keseluruhan luas tambak seluas ±1842 ha. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tambak di Kabupaten Pidie Jaya sesuai untuk usaha pertambakan dengan sedikit perlakuan terhadap nitrat. Kata kunci: Pidie Jaya; kesesuaian lahan; perairan tambak; SIG; weighted Overlay.
KAJIAN AWAL GRANULOMETRI PADA KAWASAN LAMUN DAN TERUMBU KARANG: STUDI KASUS DI GUGUSAN PULAU PARI, KEPULAUAN SERIBU Purnawan, Syahrul
DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Vol 4, No 2 (2015): AUGUST 2015
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.4.2.2640

Abstract

Abstract. Granulometric study is considered as a tool to predict sediment formation process in an aquatic environment. This paper discusses brief assessment of granulometri studies on seagrass and coral reef areas in Indonesia by collecting samples at Pari Island waters. Sediment samples were taken in May 2008 near the coral reefs and seagrass area in the cluster of Pari Island waters, Seribu Islands, Jakarta. The wet sieving method was done to separate the sediment samples based on grain size. Statistical analysis i.e., mean, sorting, skewness, and kurtosis at both locations showed a considerably complex energy works on the sediment distribution in these locations.Keywords: granulometry; sediment; coral reef; seagrass Abstrak. Studi granulometri dapat menjadi alat penduga proses terbentuknya sedimen di suatu lingkungan perairan. Tulisan ini membahas kajian ringkas studi granulometri pada kawasan lamun dan terumbu karang di Indonesia dengan mengambil contoh di perairan Pulau Pari. Sampel sedimen diambil pada Mei 2008 di kawasan terumbu karang dan lamun pada perairan gugusan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jakarta. Metode ayak basah dilakukan untuk memisahkan sampel sedimen berdasarkan ukuran butir. Hasil analisis statistik ukuran butiran berupa mean, sorting, skewness, dan kurtosis pada kedua lokasi mengindikasikan fungsi energi yang cukup kompleks bekerja terhadap sebaran sedimen di lokasi tersebut.Kata kunci: granulometri; sedimen; terumbu karang; padang lamun
IDENTIFIKASI AWAL SAMPAH APUNG ANORGANIK DI MUARA SUNGAI KRUENG ACEH, KOTA BANDA ACEH Agustina, Sri; Nuraini, Syarifah Putri; Purnawan, Syahrul; Siregar, Edwin Efendy Wijaya
DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Vol 9, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.1.15237

Abstract

Abstract. Mismanaged anthropogenic debris land-based has generated the waste entering the river runoff. It was documented that the ocean has been affected ecologically by the waste. Therefore, the data availability of riverine inorganic debris is crucial in implementing mitigation strategies. This study was a preliminary study to identify the inorganic debris floating on the Krueng Aceh River. This study aimed to obtain data of floating inorganic debris types and percentages found at the estuary of Krueng Aceh River that can be used as a reference in managing the riverine waste. It was conducted at the estuary of Krueng Aceh River, Banda Aceh, during March to April 2019. The samples were collected twice a week by installing 4 m x 2 m nets on both sides of the river for six hours. It was identified seven categories of inorganic debris were plastic, foamed plastic, metal, glass, rubber, paper and cardboard, and others. Plastic category as the most floated on Krueng Aceh River with the percentage of 77.8% consists of drinking water bottles and cups, bottle caps, cigarettes, cigarettes lighter, bubble wrap, plastic bags, plastic ropes, monofilament line, straws, and drink package rings. The amount of drinking water cups was dominantly trapped (32%) and identified as many as 28 brands. The plastic debris was assumed originating from anthropogenic activities, and mismanaged land-based garbages.It is concluded that the plastic category, especially drinking water cups, was the most floating on the Krueng Aceh River.Keywords: Mineral water bottles, floating plastic debris, Krueng Aceh River Abstrak. Sampah anorganik akibat aktivitas manusia yang tidak dikelola dengan baik telah menghasilkan limbah yang berada di aliran sungai. Sebagian dari sampah?sampah tersebut akan berakhir di lautan sehingga menimbulkan dampak negatif secara ekologi. Oleh karena itu, ketersediaan data sampah anorganik di aliran sungai diperlukan bagi pengelolaan sampah yang lebih baik. Penelitian tentang sampah anorganik di muara Sungai Krueng Aceh merupakan penelitian awal untuk menyediakan data jenis dan persentase sampah anorganik yang ditemukan di muara Sungai Krueng Aceh. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis-jenis dan persentase sampah anorganik yang terapung di muara Sungai Krueng Aceh sehingga dapat menjadi acuan bagi pengelolaan sampah di aliran sungai. Penelitian ini dilakukan di muara Sungai Krueng Aceh, Kota Banda Aceh pada bulan Maret-April 2019. Pengumpulan sampel dilakukan dua kali dalam seminggu dengan memasang jaring 4 m x 2 m di kedua sisi sungai selama enam jam. Hasil identifikasi dikelompokkan ke dalam tujuh kategori sampah anorganik, yaitu kategori plastik, busa, kaca dan keramik, logam, kertas dan kardus, karet, serta kategori lainnya. Kategori plastik memiliki persentase terbesar dengan nilai 77,8% yang terdiri dari jenis bentuk botol dan gelas Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), puntung rokok, pemantik, bubble wrap, kantong plastik, tutup botol, tali plastik, monofilament line, sedotan, dan cincin paket minuman. Persentase AMDK berbentuk gelas lebih tinggi daripada bentuk botol dengan 28 merek yang teridentifikasi. Sampah plastik tersebut diduga berasal dari aktivitas masyarakat di sepanjang Sungai Krueng Aceh dan akibat pengelolaan sampah yang belum baik sehingga sampah memasuki aliran sungai. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sampah plastik terutama sampah AMDK bentuk gelas ditemukan paling banyak mengapung di Sungai Krueng Aceh.Kata kunci: Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), sampah plastik apung, Sungai Krueng Aceh
KEANEKARAGAMAN GASTROPODA DAN BIVALVIA BEDASARKAN KARATERISTIK SEDIMEN DAERAH INTERTIDAL KAWASAN PANTAI UJONG PANCU KECAMATAN PEUKAN BADA KABUPATEN ACEH BESAR Maula, Ziaul; Purnawan, Syahrul; Sarong, Muhammad Ali
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan Perikanan Unsyiah Vol 1, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (865.647 KB)

Abstract

Penelitian Keanekaragman Gastropoda dan Bivalvia Berdasarkan Karakteristik Sedimen  Daerah  Intertidal  di  Pantai  Ujung  Pancu  Kecamatan  Peukan  Bada Kabupaten Aceh Besar ini dilakukan pada bulan Januari 2016. Tujuan penelitian ini adalah   untuk   mengetahui   keanekaragaman   berdasarkan   karakteristik   sedimen. Metode yang digunakan adalah metode Purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan pada saat surut terendah. Stasiun terdiri dari 5  stasiun, dimana setiap stasiun diletakkan plot berukuran 5 x 5 m dan diletakkan transek kuadrat berukuran 1 x 1 m didalamnya  dengan jarak sampling 30 m. Analisis data menggunakan rumus keanekaragaman dan Mean grain size. Hasil penelitian ditemukan 19 total spesies yang terdiri dari 12 spesies kelas Gastropoda dan 7 spesies kelas Bivalvia. Keanekaragaman berkisar antara 3,652-3,984. Dan ukuran butiran berkisar antara 0,294-0,403. Kesimpulannya adalah (1) Keanekaragamannya tinggi (2) Ukuran butirannya pasir halus.  Kata Kunci : Ujong Pancu, Keanekaragaman, Sedimen,  Gastropoda, Bivalvia Study  about  diversity  of  Gastropods  and  Bivalves  based  on  characteristics  of sediment in intertidal area in Ujung Pancu Beach Peukan Bada subdistrict Aceh Besar  district  was  conducted  on  January  2016.  The  aim  of  this  study  was  to determine the diversity based on characteristics of sediment. The methode used was purposive sampling method. Sampling were conducted while the water had low recede. Station consisted of 5 stations where each station placed plot 5 x 5 m and placed 1 x 1 m2 of square transects in it with 30 m sampling space. Data analyzed by diversity formula and mean grain size. The result showed that 19 species were found which consisted of 12 species of Gastropods and 7 species of Bivalves. Diversity ranged between 3,652 to 3,984. And grain size ranged between 0,294 to 0,403. The conclusions were (1) Diversity was high (2) Grain size was fine sand  Keyword : Ujong Pancu, Diversity, Sediment, Gastropods, Bivalves
Bioekologi Fitoplankton di Laguna Gampong Pulot (LGP) Kabupaten Aceh Besar Purnawan, Syahrul; Dewiyanti, Irma; M. Marman, Teuku
Journal Omni-Akuatika Vol 12, No 2 (2016): Omni-Akuatika November
Publisher : Fisheries and Marine Science Faculty - Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.847 KB) | DOI: 10.20884/1.oa.2016.12.2.106

Abstract

The objective of the present study was to determine the diversity of phytoplankton and itsrelationship with physical-chemical water parameters of Gampong Pulot Lagoon, Leupungsubdistrict, Aceh Besar. The collecting of phytoplankton and water quality were conducted inDecember 2014. According to field assessment, there were six stations to represent the study site.We recorded 25 species of phytoplankton from class Bacillariophyceae, Dinophyceae andCyanophyceae. The abundance of Bacillariophyceae was 1202.02 ind / L classified as moderate,while Dinophyceae and Cyanophyceae were 621.13 ind / L and 208.49 ind / L, respectively,classified as low abundance. Bacillariophyceae was dominated by Rhizosolenia sp. with 26% ofcomposition. The diversity index has varied from 1,88 to 2,63 indicated as moderate value.  Basedon Principal Component Analysis (PCA) showed that the physical-chemical water parameters relatedto the abundance of phytoplankton in Gampong Pulot Lagoon.Keywords: phytoplankton, lagoon, diversity, leupung
Kelimpahan Biota Penempel yang Terdapat Pada Mangrove di Muara Alue Naga Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh Maulud, Abdul; Purnawan, Syahrul; Nurfadillah, Nurfadillah
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan Perikanan Unsyiah Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.3 KB)

Abstract

Alue Naga estuary area is a mangrove rehabilitation site which provides many attaching biota. This research aims to discover the abundance of attaching biota attached on mangroves in the area of Alue Naga obtain estuary, Syiah Kuala District, Banda Aceh City. This research was conducted in July 2016, and the method used was purposive sampling. The result of the research show that 17 biota species were found attaching to mangroves. The abundance of attaching biota ranges 0.9-1.56 ind/m², which the highest abundant species was Alectryonella picatul. The mangrove density found ranges 0,25 - 0,5 ind/m², which is a kind from Rhizophora apiculata. The dominant index on studied area on root of stem and leaves are in low category. The conclusion shows that dominant index is low, and there are no dominant species.       Kawasan Muara Alue Naga merupakan kawasan rehabilitasi mangrove dan banyak terdapat biota penempel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan biota penempel yang terdapat pada mangrove di kawasan muara Alue Naga Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh. Penelian ini di lakukan pada bulan Juli 2016. Metode yang digunakan purpossive sampling. Hasil penelitian ditemukan 17 spesies biota yang menempel dengan mangrove. Kelimpahan biota penempel berkisar 0,9 – 1,56 ind/m², dengan kelimpahan jenis tertinggi yaitu Alectryonella picatul. Kerapatan mangrove yang di temukan berkisar 0,25 - 0,5 ind/m², dari jenis Rhizophora apiculata. Indeks dominansi pada area penelitian yaitu pada akar batang dan daun berada pada katagori rendah. Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan bahwa indeks dominansi rendah dan tidak ada spesies yang mendominansi.
HUBUNGAN PANJANG BERAT IKAN YANG TERTANGKAP DI KRUENG SIMPOE, KABUPATEN BIREUN, ACEH Fuadi, Zahrul; Dewiyanti, Irma; Purnawan, Syahrul
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan Perikanan Unsyiah Vol 1, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.175 KB)

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang hubungan panjang berat dan factor kondisi ikan yang ditemukan di Krueng Simpoe, Kabupaten Bireun, Aceh. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui distribusi ukuran ikan dan menganalisis hubungan panjang berat ikan yang didapat di Krueng Simpoe. Ikan yang didapat yaitu ikan Rasbora sp dan Puntius brevis. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan November 2015, dengan menggunakan jarring dan jala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan Rasbora sp dan Puntius brevis memiliki pola pertumbuhan allometrik negatif. Selain itu, factor kondisi berat relative menunjukkan angka diatas 100. Faktor kondisi fulton perairan Krueng Simpoe mengindikasikan secara relatif dalam keadaan baik.  Kata kunci : hubungan panjang berat, factor kondisi, allometrik  The research is about the length weight relationships and condition factor of the freshwater fishes which were found in Simpoe River, Bireun, Aceh. The research purpose is to know the distribution of sizes fishes and to analyze length weight relationships fishes found in Simpoe River. The fishes are Rasbora sp and Puntius brevis. The sampling was conducted on November, 2015 by using net and castnet. The results revealed that Rasbora sp and Puntius brevis have allometric negative growth pattern. In addition, the relative weight condition factor’s was over 100. And the Fulton’s condition factor were not different significantly among fishes. It means that the Fulton’s condition at Krueng Simpoe indicating good condition and well growth.Keywords : length weight relationships, condition factor, allometric
Pengaruh Umur Zigot Pada Saat Kejutan Panas Terhadap Keberhasilan Ginogenesis Ikan Seurukan (Osteochilus Vittatus) Zulhardi, Zulhardi; Muchlisin, Zainal A.; Purnawan, Syahrul
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan Perikanan Unsyiah Vol 1, No 3 (2016): November 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.921 KB)

Abstract

The objectives of the present study was to determine the best age of the zygote for gynogenesis of seurukan fish (Osteochilus vittatus) using heat shock treatment. The completely randomized design was utilized in this study. Five levels of zygote age were tested, namely: 3 minutes, 5 minutes, 7 minutes, 9 minutes and 11 minutes after fertilization and one control treatment (without heat shock). The zygotes were shocked at the temperature of 38oC for 60 seconds and every treatment was done at three replications. The ANOVA test showed that the zygote age gave the significant effect on the triploidy level and growth performance of the seurukan fish (P<0.05). The highest percentage of the triploid  fish were found at zygote age of 3 minutes, but this value was not different significantly with 5 min, 7 min and 9 min. The highest weight gain  was found at zygote age of 3 minutes, but this value was not different significantly with 5 min, 7 min and 9 min. In addition, the highest of length gain was also recorded at zygote at zygote age of 3 minutes, but this value was not different significantly with 5 minutes of the zygote (P>0.05). It is concluded that the best zygote age of the seurukan fish for gynogenesis using heat shock treatment was 3 minutes after fertilization.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan umur zigot terbaik untuk proses ginogenesis ikan seurukan (Osteochilus vittatus) dengan menggunakan kejutan suhu panas. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan model Rancangan Acak Lengkap faktor tunggal dengan enam taraf perlakuan, masing-masing perlakuan dengan tiga kali ulangan. Kejutan suhu yang diberikan yaitu 38oC dengan lama kejutan 60 detik, dengan perlakuan yaitu: kontrol (tanpa perlakuan kejutan panas), umur zigot 3 menit setelah pembuahan, umur zigot 7 menit setelah pembuahan, umur zigot 9 menit setelah pembuahan dan 11 menit setelah pembuahan. Uji ANOVA menunjukkan bahwa pemberian kejutan suhu panas pada umur zigot yang berbeda berpengaruh nyata terhadap triploidy dan pertumbuhan ikan seurukan (P<0,05). Persentase ikan triploid tertinggi dijumpai pada perlakuan 3 menit setelah pembuahan, nilai tidak berbeda nyata dengan perlakuan 5 menit, 7 menit dan 9 menit. Pertambahan bobot tertinggi dijumpai pada umur zigot 3 menit setelah pembuahan, nilai ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan 5 menit, 7 menit dan 9 menit. Pertambahan panjang tertinggi dijumpai pada perlakuan 3 menit setelah pembuahan, nilai ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan 5 menit (P<0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa umur zigot yang berbeda berpengaruh terhadap triploidy, dan umur zigot terbaik adalah 3 menit setelah pembuahan