Niken Puruhita
Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Published : 28 Documents
Articles

Found 28 Documents
Search

EFEK PEMBERIAN EKSTRAK KLOROFIL DAUN PEPAYA (CARICA PAPAYA, LINN.) TERHADAP KADAR AST DAN ALT SERUM Damayanti, Kusmadewi Eka; Wijayahadi, Noor; Puruhita, Niken
Jurnal Gizi Indonesia (The Indonesian Journal of Nutrition) Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.446 KB) | DOI: 10.14710/jgi.4.1.63-66

Abstract

Background: Pharmacological therapy is one of the therapy modalities which carries the hepatic injury as one of its side effects. Nowadays, curcuma tablets has become choice of hepatoprotector. Other substance which has the possibilities of hepatoprotection activities is chlorophyll. The study is aimed to investigate the effect of papaya leaves chlorophyll extracts towards the serum AST and serum ALT levels on high-dose-paracetamol-induced Wistar rats. Materials and methods: This was an experimental study applying pretest-posttest controlled group design. Twenty eight Wistar rats 8-12 weeks age and weighted 185-220 grams assigned into four groups, namely group I (control), group II (paracetamol 750 mg/kg bw + no hepatoprotector agent), group III (paracetamol 750 mg/kg bw + curcuma 100 mg/kg bw), and group IV (paracetamol 750 mg/kg bw + papaya leaves chlorophyll extracts 300 mg/kg bw). The hepatoprotector agents were administered for a week, while the high dose paracetamol was administered for three consecutive days (day 5, 6, and 7). The pretest samples were drawn on the fifth day before the administration of high dose paracetamol, and the posttest samples were drawn on eightth day. Results: There were no difference among four groups on serum AST and serum ALT levels before the administration of high dose paracetamol, p=0.522 dan p=0.682, respectively. After the administration of high dose paracetamol, there were differences among four groups on both variables, both p=0.000. The post-hoc test showed that differences happened on all four groups (p<0.05).Conclusion: Chlorophyll extract of papaya leaves can inhibit liver injury on high-dose-paracetamol-induced-Wistar rats. 
STUDI KUALITATIF PROSES ASUHAN GIZI TERSTANDAR DI RUANG RAWAT INAP RS ST. ELISABETH SEMARANG Wijayanti, Tania; Puruhita, Niken
Journal of Nutrition College Vol 2, No 1 (2013): Januari 2013
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.32 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v2i1.2114

Abstract

Latar Belakang: Banyaknya kejadian malnutrisi pada pasien di rumah sakit sering tidak teratasi dengan baik. Menurut penelitian tahun 2002, terjadi penurunan status gizi pada pasien sebesar 28,2% selama dirawat di rumah sakit. Proses Asuhan Gizi Terstandar sebagai bentuk pelayanan gizi merupakan hal yang berperan dalam penyembuhan pasien sehingga diperlukan penelitian terhadap subjek penelitian. Metode: Penelitian deskriptif dengan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan indepth interview, observasi partisipasi dan data sekunder. Keabsahan data dilakukan dengan triangulasi data, penguraian detail hasil penelitian, auditing dengan pembimbing, dan konfirmasi hasil penelitian pada subjek penelitian. Hasil: Proses asuhan gizi terstandar (PAGT) belum dilakukan secara optimal. Dietisien mengharapkan PAGT dapat disederhanakan. Saat assessmen gizi, dietisien belum secara detail mengumpulkan data fisik pasien, penentuan diagnosis gizi belum tepat, di beberapa ruangan diagnosis gizi tidak dilakukan oleh dietisien, intervensi gizi dan monitoring-evaluasi sudah dilakukan dengan baik. Faktor internal yaitu pengetahuan PAGT dietisien baik tapi motivasi yang mereka miliki belum cukup mampu untuk menjadikan dietisien menerapkan matriks pada diagnosis gizi. Faktor eksternal yaitu kebijakan rumah sakit tentang penegakkan diagnosis gizi belum dicantumkan dan kolaborasi antar tenaga kesehatan sudah berjalan. Kesimpulan: Pelaksanaan PAGT harus didukung dari kebijakan rumah sakit atau lembaga berwenang lainnya, profesi kesehatan lain dan pemahaman dietisien tentang metode PAGT.
PENGARUH PEMBERIAN IKAN TERI (ENGRAULIS ENCRASICOLUS) PADA MEMORI SPASIAL TIKUS SPRAGUE DAWLEY USIA SATU BULAN Septiana, Siska Indah; Puruhita, Niken
Journal of Nutrition College Vol 4, No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.331 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i1.8614

Abstract

Latar Belakang: Memori spasial merupakan bagian dari kognitif yang berperan penting dalam kehidupan. Ikan teri (Engraulis encrasicolus) merupakan salah satu jenis oily fish yang memiliki kandungan omega-3 dalam bentuk EPA dan DHA yang tinggi. Asam lemak omega-3 berperan pada tingkat aktivitas plastistas sinaptik yang mengatur fungsi hipokampus yang merupakan bagian otak pusat pengaturan memori dan proses belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ikan teri terhadap kemampuan spasial tikus usia satu bulan.Metoda: Penelitian eksperimental murni dengan post test only with control group design yang diterapkan pada 21 tikus Sprague dawley usia satu bulan dengan random allocation sampling dalam 3 kelompok yaitu kontrol, kelompok pemberian ikan teri dan kelompok pemberian minyak ikan. Subjek diberikan diet dengan ikan teri sebanyak 1,5 gram per 200 gram berat badan dan minyak ikan sebanyak 167 mg per 200 gram berat badan yang dicampurkan ke pakan selama 14 hari. Pengujian kemampuan spasial menggunakan uji Morris Water Maze yang akan mengukur tingkat kemampuan observasi spasial dan spasial bias subjek. Data dianalisis dengan nonparametik Wilcoxon dan Multivariate ANOVA yang dilanjutkan dengan uji LSD pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Terdapat perbedaan persen penurunan waktu pencarian landasan yang nyata pada kelompok pemberian ikan teri yaitu penurunan sebesar  67.89% dibandingkan dengan kelompok kontrol (21.53%) namun tidak berbeda nyata dengan kelompok minyak ikan. Terdapat perbedaan pada tingkat spasial bias antar kelompok namun tidak terbukti signifikan secara statistika.Kesimpulan: Pemberian diet dengan ikan teri (Engraulis encrasicolus) meningkatkan kemampuan observasi spasial namun tidak menurunkan tingkat spasial bias pada anak tikus sehat.
HUBUNGAN FRAKSI RADIOTERAPI DAN INDEKS KOMPOSISI TUBUH PASIEN KANKER SERVIKS DI RSUP DR. KARIADI SEMARANG Novitasari, Anggi; Puruhita, Niken; Noer, Etika Ratna; Syauqy, Ahmad
Journal of Nutrition College Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.369 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i1.16356

Abstract

Latar belakang: Pasien kanker serviks yang menjalani radioterapi berisiko mengalami efek samping radioterapi. Efek samping radioterapi berhubungan dengan jumlah fraksi radioterapi, dan dapat berpengaruh pada status gizi. Status gizi pasien dapat diukur dengan nilai indeks komposisi tubuh, yakni fat mass index (FMI) dan fat-free mass index (FFMI). Tujuan: Menganalisis hubungan jumlah fraksi radioterapi dengan FMI dan FFMI pasien kanker serviks di RSUP dr. Kariadi (RSDK) Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik cross sectional yang dilakukan di unit radioterapi dan ginekologi RSDK Semarang pada bulan Oktober-November 2015. Sampel penelitian berjumlah 38 yang diambil secara consecutive random sampling. Hasil: Sejumlah 19 subjek dikategorikan normal, 4 fat defisit, 12 excess fat, dan 3 obese I berdasarkan FMI. Nilai FMI dan FFMI mengindikasikan 2 subjek mengalami kekurangan energi kronis (KEK), dan 1 pasien mengalami penurunan massa otot (muscle wasting). Subjek dengan fraksi radioterapi I (n=13) memiliki nilai rerata FMI dan FFMI tertinggi (9,53 kg/m; 16,37 kg/m2), sedangkan subjek dengan fraksi radioterapi IV (n=9) memiliki nilai rerata FMI dan FFMI terendah (7,47 kg/m; 14,8 kg/m2). Tidak ada hubungan signifikan antara fraksi radioterapi dengan FMI dan FFMI berdasarkan uji Rank Spearman dan ANCOVA (p=>0,05)Simpulan: Tidak ada hubungan fraksi radioterapi dengan FMI maupun FFMI pasien kanker serviks,  namun terdapat perbedaan nilai FMI dan FFMI pada setiap kategori fraksi.
PENGARUH PEMBERIAN IKAN TERI (ENGRAULIS ENCRASICOLUS) TERHADAP KADAR C-REACTIVE PROTEIN (CRP) TIKUS SPRAGUE DAWLEY USIA SATU BULAN Savitri, Nadia; Puruhita, Niken
Journal of Nutrition College Vol 3, No 4 (2014): Oktober 2014
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.473 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v3i4.6918

Abstract

Latar Belakang: C-reactive protein (CRP), adalah marker inflamasi yang merupakan prediktor kuat kejadian penyakit kardiovaskuler (PKV). Peningkatan kadar CRP berkaitan dengan peningkatan risiko PKV. Asam lemak omega-3 diketahui memiliki sifat-sifat anti inflamasi sehingga asam lemak omega-3 dipercaya memiliki efek protektif terhadap PKV. CRP juga berkaitan dengan indeks omega-3 sebagai prediktor asupan omega-3. Kadar indeks omega-3 yang rendah diketahui meningkatkan risiko PKV. Ikan teri (Engraulis encrasicolus) mengandung asam lemak omega-3 yang tinggi yang dimungkinkan dapat menurunkan kadar CRP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ikan teri kadar CRP tikus.Metode: Penelitian eksperimental murni dengan post test only with control group design yang diterapkan pada 14 tikus Sprague dawley usia 1 bulan yang dikelompokkan menggunakan sistem acak sederhana menjadi 1 kelompok kontrol dan 1 kelompok intervensi. Subjek diberikan pakan modifikasi dengan penambahan ikan teri sebanyak 1.5 gr per 10 gr pakan selama 19 hari. Sampel darah diambil dari plexus retro orbitalis dan pengukuran kadar CRP dari serum ditentukan menggunakan metode CRP kuantitatif. Data dianalisis dengan analisa data deskriptif. Hasil: Kadar CRP pada kedua kelompok, kontrol dan perlakuan adalah sama yaitu dalam batas < 5 mg/L yang termasuk dalam kategori normal. Kesimpulan: Data yang diperoleh pada penelitian ini tidak dapat digunakan untuk menjelaskan mekanisme protektif PKV dari diet tinggi asam lemak omega-3 yang berasal dari ikan teri terhadap kadar CRP tikus sehat
HUBUNGAN JUMLAH FRAKSI RADIOTERAPI DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PASIEN KANKER SERVIKS DI RSUP DR KARIADI Nurjanah, Ayu; Noer, Etika Ratna; Puruhita, Niken; Syauqy, Ahmad
Journal of Nutrition College Vol 5, No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.752 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v5i1.16347

Abstract

Latar belakang: Radioterapi pada pasien kanker serviks dapat meningkatkan risiko malnutrisi. Malnutrisi pada pasien kanker dapat menurunkan respon dan toleransi terhadap pengobatan. Anemia berhubungan dengan parameter malnutrisi. Hipoksia tumor dan resisten terhadap radiasi pada pasien kanker disebabkan oleh anemia.Tujuan: Menganalisis hubungan antara jumlah fraksi radioterapi dengan kadar Hb pada pasien kanker serviks.Metode: Penelitian crossectional yang dilakukan pada 42 pasien kanker serviks yang menerima radioterapi di RSUP dr Kariadi. Data kadar Hb, jumlah fraksi, dan variabel perancu meliputi stadium kanker, kejadian perdarahan dan kejadian penyakit kronis lainnya didapatkan melaluui rekam medis. Asupan makanan subjek yang juga merupakan variabel perancu (protein, zat besi, seng, tembaga, vitamin B6, asam folat, vitamin B1, vitamin C dan Vitamin A) didapatkan dengan semi quantitative food frequency questioner.Hasil: Berdasarkan hasil uji Rank Spearman, tidak terdapat hubungan antara jumlah fraksi radioterapi, stadium kanker, kejadian penyakit kronis lainnya, asupan makanan (protein, besi, seng, tembaga, vitamin B6, asam folat, vitamin B12, vitamin C, dan vitamin A) dengan kadar Hb (p>0.05). Namun, terdapat korelasi negatif dan signifikan antara kejadian perdarahan dengan kadar Hb (p<0.05).Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara jumlah fraksi radioterapi dengan kadar Hb pada pasien kanker serviks dengan radioterapi.
SOSIALISASI PRINSIP DAN PESAN GIZI SEIMBANG SEBAGAI PENGGANTI PROGRAM EMPAT SEHAT LIMA SEMPURNA Ardiaria, Martha; Subagio, Hertanto Wahyu; Puruhita, Niken
JNH (Journal of Nutrition and Health) Vol 8, No 1 (2020): JNH (JOURNAL OF NUTRITION AND HEALTH)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.328 KB) | DOI: 10.14710/jnh.8.1.2020.51-56

Abstract

       Program Prinsip Gizi Seimbang dan Pesan Gizi Seimbang yang disingkat PGS merupakan program pemerintah untuk menjaga status gizi masyarakat Indonesia agar tetap seimbang. Program ini menggantikan Program Empat Sehat Lima Sempurna karena Empat Sehat Lima Sempurna dianggap kurang sesuai karena hanya kurang lengkap informasinya.       Program PGS sebenarnya sudah ada sejak 1992, namun hingga sekarang masih banyak masyarakat yang belum mengenal program ini. Hal ini disebabkan sosialisasi PGS yang kurang. Oleh karena itu pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk membantu mensosialisikan PGS supaya lebih dikenal dan diterapkan sehingga status gizi masyarakat Indonesia menjadi lebih baik.       Kegiatan pengabdian ini dilakukan di wilayah kelurahan Jomblang kota Semarang pada tahun 2019. Wilayah ini memiliki kepadatan penduduk tinggi. Di wilayah ini terdapat kelompok PKK di setiap RT dan RW yang aktif melakukan berbagai kegiatan. Kelompok PKK beranggotakan ibu-ibu yang dapat menjadi menjadi media untuk memperkenalkan dan mempraktekkan PGS di keluarga.       Hasil kegiatan ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan masyarakat tentang gizi dan Pesan Gizi Seimbang di wilayah Kelurahan Jomblang. Dengan adanya peningkatan pengetahuan diharapkan kesadaran dan perilaku masyarakat tentang kesehatan juga mengalami peningkatan.
PENGARUH PEMBERIAN JUS TOMAT ( LYCOPERSICUM COMMUNE ) TERHADAP TEKANAN DARAH SISTOLE DAN DIASTOLE LAKI – LAKI HIPERTENSIF USIA 40 – 45 TAHUN Paramita R, Sukma; Puruhita, Niken
Journal of Nutrition College Vol 4, No 2 (2015): April 2015
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.624 KB) | DOI: 10.14710/jnc.v4i2.10053

Abstract

Latar Belakang : Hipertensi adalah suatu keadaan sesorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas). Buah tomat (Lycopersicum commune) mengandung kalium yang mempunyai efek menurunkan tekanan darah.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pemberian jus buah tomat (Lycopersium commune ) terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik pria hipertensif usia 40-45 tahunMetode: Jenis penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimen dengan rancangan pre-post control design. Jumlah subyek  34 orang dengan tekanan darah sistolik mempunyai tekanan darah sistolik  > 120-139 mmHg dan tekanan darah diastolik > 90-119 mmHg dan meminum obat antihipertensi. Jus tomat sebanyak 200 ml diberikan 1 kali sehari selama 14 hari terbuat dari 150 gram buah tomat, 2,5g gula diet dan 100 ml air.Hasil:Pemberian jus tomat 200ml  1x sehari selama 14 hari secara klinis tidak menunjukkan penurunan yang signifikan terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik, tetapi menurut hasil penelitian  pemberian 200ml  jus tomat dapat menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 4,4mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar 3,1 mmHg pada kelompok perlakuan dan pada kelompok kontrol dapat menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 1,4 mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar 1,4mmHg  dan tekanan darah diastolik setelah dikontrol dengan IMT dan asupan kalium.Simpulan:Pemberian jus tomat dapat membantu menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada laki-laki usia 40-45 tahun
RISIKO KONSUMSI WESTERN FAST FOOD DAN KEBIASAAN TIDAK MAKAN PAGI TERHADAP OBESITAS REMAJA STUDI DI SMAN 1 CIREBON Banowati, Lilis; Nugraheni, Nugraheni; Puruhita, Niken
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 2 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.107 KB)

Abstract

ABSTRACTRisks of western fast food consumption and skipping breakfast to adolescents?obesity: Study at SMAN 1 CirebonBackground: Obesity prevalence in adolescents remains high. Western fast food consumption and skipping breakfast were identified as sub-culture among adolescents.The objective of this study was aimed to determine the risk of western fast food consumption in term of frequency of consumption, energy intake and energy contribution to adolescents? obesity. It was also aimed to determine therisk of skipping breakfast for adolescents? obesity.Method: It was an observational study using a case-control approach. Stratified random sampling was used to select participants from population. Seventy six secondary students from SMA Negeri 1 Cirebon were involved, divided into two groups; 38 students as case (BMI>95 persentile) and the rest 38 as controls (BMI 5-85 persentile). Chi-square and multiple logistic regression were employed in data analysis.Results: This study found obese students consumed western fast food more than their counterparts (263 kkal versus 140 kkal) (p=0.001). They were less frequent breakfast having (4.5 times per week) than those who were not obese (5,8 times per week) (p=0.019). Energy intake gained from western fast food consumption ?244 kkal per day was found as the risk factor for obesity among adolescents (p=0,004) whilst frequency of consumption >9.2 times per month, energy contribution to total calorie intake >7.3% and skipping breakfast were failed to predict adolescents? obesity (p>0.05). The result of multiple logistic regression test showed that the variable which is the most influential to the incident of obesity is energy intake gained from western fast food consumption (OR=6.26).Conclusion: Western fast food consumption ?244 kkal per day is a risk factor for obesity.Keywords: Western fast food consumption, skipping breakfast, obesity, adolescentABSTRAKLatar belakang: Prevalensi obesitas remaja cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh konsumsi western fast food dan kebiasaan tidak makan pagi yang sudah merupakan kecenderungan di kalangan remaja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui besar risiko frekuensi konsumsi western fast food, asupan energi konsumsi western fast food, kontribusi energi western fast food dan kebiasaantidak makan pagi terhadap kejadian obesitas remaja SMAN 1 Cirebon.Metode: Jenis penelitian observasional dengan rancangan kasus kontrol. Pengambilan sampel dengan teknik stratified random sampling. Besar sampel 76 orang, terdiri dari 38 orang kasus (IMT >95 persentil) dan 38 orang kontrol (IMT persentil ke-5 -85). Penelitian menggunakan analisis bivariat dengan uji chi square dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda.Hasil: Pada remaja obesitas asupan energi konsumsi western fast food (263 kkal) lebih tinggi daripada yang tidak obes (140 kkal) (p=0,001). Sedangkan frekuensi makan pagi lebih rendah (4,5 kali/minggu) daripada yang tidak obes (5,8 kali/minggu) (p=0,019). Hasil analisis menunjukkan asupan energi konsumsi western fast food ?244 kkal per hari merupakan faktor risiko terjadinyaobesitas (p=0,004). Sedangkan frekuensi konsumsi western fast food >9,2 kali per bulan, kontribusi energi western fast food terhadap total kalori >7,3% dan kebiasaan tidak makan pagi bukan faktor risiko obesitas (p>0,05). Hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap obesitas remaja adalah asupan energi konsumsi western fast food(OR=6,26).Simpulan: Konsumsi western fast food ?244 kkal per hari berisiko untuk terjadinya obesitas.
PEMBERIAN TEH ROSELA (HIBISCUS SABDARIFFA LINN), SIMVASTATIN DAN PROFIL LIPID SERTA SERUM APOB PADA TIKUS HIPERKOLESTEROLEMI Probosari, Enny; WS, Hertanto; Puruhita, Niken
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 1 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.145 KB)

Abstract

ABSTRACTConsumption of roselle tea and simvastatin, lipid profile and apoB serum in hypercholesterolemic ratsBackground: Roselle is commonly used as herbal beverages in Indonesian that is known have a hypocholesterolemic effect. The study was conducted to determine the efficacy of roselle tea compared to simvastatin on lipid profile and apo B of hypercholesterolemic rats.Methods: This study was an animal experimental with randomized pre test post test control design. Sixteen hypercholesterolemic male wistar rats of 15 week-aged were devided into 3 groups: control groups (K) received normal feeding and water adlibitum, group P1 received normal feeding, water adlibitum and roselle tea 4.5 ml twice a day, group P2 received normal feeding, water adlibitum and simvastatin 0.4 mg daily. Blood samples were collected at baseline and 30 days after administration of roselle tea or simvastatin for the measurement of serum lipids and apoB using ELISA.Results: Administration of roselle tea 1.37gram twice a day decreased trigliserid concentrations from 81.7mg/dl±43.13 to 26.5mg/dl±13.92 (p=0.038), but increased total cholesterol concentrations from 62.1mg/dl±4.25 to 91.9mg/dl±11.74 (p=0.001). Administration of 0.4mg simvastatin didn?t decreased triglicerid concentrations (50.9mg/dl±55.95 to 67.9mg/dl±3.07, p=0.207), total cholesterol concentrations (67.9mg/dl±3.07 to 74.2mg/dl±10.65, p=0.146), LDL cholesterol concentrations (156.8mg/dl±291.9 to 34.0mg/dl±30.06, p=0.686) nor increased HDL cholesterol concentration (58.1mg/dl±12.73 to 60.5mg/dl±8.61, p=0.674).Conclusion: Intake of 1.37 gram rosella tea twice a day decreases trigliserid more effective than simvastatin. Administration of roselle tea and simvastatin are not effective to reduce LDL cholesterol concentrations and apoB concentrations, nor increased HDL cholesterol concentrations.Keywords: Lipid profile, apoB, roselle, simvastatinABSTRAKLatar belakang: Teh rosela merupakan salah satu bahan minuman yang diketahui mempunyai efek menurunkan kadar kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pemberian teh rosela dibandingkan simvastatin terhadap profil lipid dan apolipoprotein B pada tikus hiperkolesterolemi.Metode: Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan desain pre-post-test dengan kelompok kontrol. Enam belas tikus putih jantan galur wistar hiperkolesterolemi, usia 15 minggu, dibagi menjadi kelompok kontrol (K) hanya diberi pakan standar dan minum adlibitum, kelompok perlakuan 1 (P1) diberi pakan standar minum adlibitum, seduhan rosela 2x4,5ml per haridan kelompok perlakuan 2 (P2) diberi pakan standar minum adlibitum dan simvastatin 0,4mg per hari, selama 30 hari. Pada awal dan akhir perlakuan diambil serum darah untuk mengetahui kadar trigliserid, kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, sedangkan kadar apo B diukur pada akhir penelitian menggunakan metode ELISA.Hasil: Pemberian teh rosela (kelompok P1) menurunkan kadar trigliserid dari 81,7mg/dl±43,13 menjadi 26,5mg/dl±13,92 (p=0,038) setelah perlakuan, namun kadar kolesterol totalnya meningkat dari 62,1mg/dl±4,25 menjadi 91,9mg/dl±11,74 (p=0,001) setelah perlakuan. Pemberian 0,4mg simvastatin tidak menurunkan kadar trigliserid (50,9mg/dl±55,95 menjadi 67,9mg/dl±3,07, p=0,207), tidak menurunkan kadar kolesterol total (67,9mg/dl±3,07 menjadi 74,2mg/dl±10,65, p=0,146), tidak menurunkan kadar kolesterol LDL (156,8mg/dl±291,9 menjadi 34,0mg/dl±30,06, p=0,686) dan tidak meningkatkan kadar kolesterol HDL (58,1mg/dl±12,73 menjadi 60,5mg/dl±8,61, p=0,674).Simpulan: Pemberian teh rosela dengan berat rata-rata 1,37 gram yang dikonsumsi dua kali per hari lebih efektif dalam menurunkan kadar trigliserid serum tikus hiperkolesterolemi dibandingkan pemberian 0,4mg simvastatin. Pemberian teh rosela dosis lazim dan pemberian simvastatin dosis 0,4mg sama tidak efektifnya dalam menurunkan kadar kolesterol LDL, kadar apolipoprotein B dan meningkatkan kadar kolesterol HDL.