Uni Purwaningsih
Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar Bogor

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

HISTOPATOLOGIS DUGAAN EDWARDSIELLA TARDA SEBAGAI PENYEBAB KEMATIAN IKAN MASKOKI (CRASSIUS AURATUS) : POSTULAT KOCH Ratnawati, Atik; Purwaningsih, Uni; ., Kurniasih
Jurnal Sain Veteriner Vol 31, No 1 (2013): JULI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4537.304 KB) | DOI: 10.22146/jsv.3259

Abstract

ABSTRACT              The aim of the study was to know the influence experimental infection of Edwardsiella tarda  was isolated from sick koi fish (Cryprinus caprio) to the histologic features of liver, kidney, gill, brain, intestine and muscle in Goldfish (Carassius auratus) based on Koch Postulate. Three goldfishes (KK) were used in this reseach. KK was infected by Edwardsiella tarda as much as 0.1ml i.m.. KK1 died on the 4th day and KK2 and KK3 died on the 25th day. All the fishes were then necropsied. The livers, kidneys, gills, brains, intestines and muscles were taken for making the histopathologic preparation. Bacteriologic observation of KK1 was conducted by cultivating the bacteria into Brillliant Green Agar (BGA), Triple Sugar Iron Agar (TSI Agar), Urea Agar, Motility Agar, Peptone Broth, sugars and oksidation test.      Result of histopathologic observation showed that there was necrosis, congestion and macrofag limpocytes and neutrophisl infiltrations in the livers,colloid mass and melanomacrofages in the kidney, congestion and proliferation of secondary lamellae, limfosit and macrofag infiltration of the brain, a melanomacrofag of the muscle and the intestine showed there was limphocytes, and macrofages infiltration in the brain, and melanomacrofages in the muscles as well. It was suspected that those bacteria was  Edwardsiella tarda.   
TUMOUR CASE IN KOI CARP (Cyprinus carpio) Sholichah, Lili; Lusiastuti, Angela Mariana; Caruso, Domenico; Subamia, I Wayan; Purwaningsih, Uni
Indonesian Aquaculture Journal Vol 5, No 2 (2010): (December 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.51 KB) | DOI: 10.15578/iaj.5.2.2010.139-145

Abstract

A case study of tumour in koi carp (Cyprinus carpio) was observed in rearing periode. This tumour occurs solitary, large, pale red, fleshy masses under the lips and dental plates on the outside, and by reason of its size, may prevent closure the mouth. Moreover, this tumour goes through into the inside of the mouth. At necropsy, there were two soft, firm, small mass at inside of the mouth and the bigger mass at outside the mouth. Samples of this tumour were fixed in 10% formalin were used for histology analysis. The clinical course of the tumour is one of relatively slow but progressive growth. The proliferative stage of the neoplastic process is preceded and accompanied by a striking vascular reaction. Intensed hyperemia invariably occurs in that region of the mucosal surface which later becomes the site of neoplastic proliferation. Neoplastic cells lied around lamina propria and submucosal. These cells were joined together to make vacuolization and the other cells become pleiomorphism with hyperchromatic nucleus and N/C ratio cells are 1:1. In some area, there were many empty holes, around the holes there were debris cells, inflammation cells, and erythrocytes.
EFIKASI VAKSIN IN-AKTIF BAKTERI Aeromonas hydrophila-AHL0905-2 (HYDROVAC) dan Streptococcus agalactiae-N14G (STREPTOVAC) UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT BAKTERIAL PADA IKAN BUDIDAYA AIR TAWAR Taukhid, Taukhid; Purwaningsih, Uni; Sugiani, Desy; Sumiati, Tuti; Lusiastuti, Angela Mariana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.754 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.4.2015.541-551

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan vaksin hydrovac dan streptovac untuk pencegahan penyakit bakterial, motile aeromonad septicaemia (MAS) dan streptococcosis pada beberapa jenis ikan budidaya air tawar. Pengujian dilakukan pada skala laboratorium dan lapang. Jenis ikan uji yang digunakan adalah ikan lele, nila, dan gurami. Vaksinasi ikan dilakukan melalui teknik perendaman dengan dosis dan periode sesuai instruksi penggunaan yang tertera pada label produk kedua jenis vaksin tersebut. Efektivitas vaksin dievaluasi berdasarkan pendekatan nilai persen sintasan dan selanjutnya dihitung nilai relative percentage survival (RPS). Hasil penelitian diketahui bahwa nilai RPS vaksin hydrovac pada skala laboratorium pada ikan lele, nila, dan gurami masing-masing sebesar 85,45%; 65,78%; dan 52,28%. Nilai RPS yang dicapai oleh vaksin streptovac terhadap ikan nila sebesar 54,53%. Sementara, nilai RPS vaksin hydrovac pada skala lapang untuk jenis ikan lele, nila, dan gurami masing-masing 70,15%; 52,43%; dan 42,43%; sedangkan nilai RPS yang dicapai oleh vaksin streptovac adalah 40,41%.
PATOGENESIS KO-INFEKSI PENYAKIT FISH TUBERCULOSIS DAN MOTILE AEROMONAS SEPTICEMIA PADA IKAN GURAME (Osphronemus gouramy) Purwaningsih, Uni; Indrawati, Agustin; Lusiastuti, Angela Mariana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.496 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.99-107

Abstract

Penyakit fish tuberculosis dan Motile Aeromonas Septicemia (MAS) merupakan penyakit potensial pada budidaya ikan gurame. Infeksi kedua penyakit tersebut dimungkinkan terjadi dalam waktu yang bersamaan walaupun etiologi kedua jenis penyakit tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perjalanan kedua penyakit tersebut dalam waktu yang bersamaan ketika menginfeksi gurame uji dengan melihat perubahan parameter hematologi, pola kematian, dan histopatologi. Gurame uji yangdigunakan berukuran 25-30 g dengan dosis infeksi berdasarkan dosis LD50 bakteri A. hydrophila 108 cfu dan LD50 M. fortuitum 107 cfu. Gejala klinis akibat infeksi M. fortuitum mulai terlihat pada hari ke-14 ditandai dengan penurunan nafsu makan dan hari ke-18 mulai terlihat nodul dalam ukuran 0,1-0,2 mm pada permukaan tubuh. Sedangkan infeksi A. hydrophila menunjukkan gejala klinis luka pada bekas injeksi dan terlihat pembengkakan pada rongga perut mulai 24-48 jam pascainfeksi. Respons fisiologis tubuh ikan gurame terhadap adanya ko-infeksi ditunjukkan dengan nilai hemoglobin, hematokrit, persentase komponen sel darah putih yang berbeda (P<0,05) dengan kontrol. Perubahan histopatologi pada perlakuan koinfeksi menunjukkan adanya kongesti, peradangan, nekrosis, melano macrofag center, dan gramuloma yangbersifat multifocal pada organ hati, ginjal, dan limpa.
EFEKTIVITAS HIDROGEN PEROKSIDA DALAM PENGENDALIAN INFEKSI EKTOPARASIT PADA IKAN LELE Clarias gariepinus Andriyanto, Septyan; Purwaningsih, Uni; Sinansari, Shofihar; Widyastuti, Yohanna R
Media Akuakultur Vol 13, No 1 (2018): (Juni, 2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.076 KB) | DOI: 10.15578/ma.13.1.2018.49-57

Abstract

Penggunaan bahan kimiawi yang aman dan ramah lingkungan merupakan salah satu metode yang banyak digunakan untuk pengobatan penyakit parasitik pada budidaya ikan, meskipun masih sedikit informasi mengenai efektivitas penggunaan hidrogen peroksida untuk pengobatan penyakit parasitik pada ikan air tawar di Indonesia. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dosis efektif hidrogen peroksida (H2O2) dan pengaruhnya terhadap infeksi ektoparasit pada ikan lele Clarias gariepinus. Perlakuan yang digunakan adalah penambahan H2O2 dalam media pemeliharaan dengan dosis berbeda yaitu: (A) aplikasi H2O2 dosis 100 mg/L, (B) aplikasi H2O2 dosis 200 mg/L, (C) aplikasi H2O2 dosis 300 mg/L, dan (D) tanpa aplikasi H2O2 atau kontrol. Pemberian hidrogen peroksida dilakukan satu kali pada awal pengujian dan tiap perlakuan menggunakan tiga ulangan. Pemeriksaan sampel dilakukan setiap hari terhadap tingkat infestasi dan prevalensi ektoparasit selama enam hari pemeliharaan. Pengamatan hanya dilakukan pada parasit dewasa yang memiliki organ tubuh lengkap dan telah melewati fase telur. Fokus penelitian untuk memperoleh informasi dosis H2O2 yang paling efektif menekan infeksi ektoparasit selama enam hari pengujian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi hidrogen peroksida dosis 300 mg/L efektif menekan tingkat infestasi dan prevalensi parasit Trichodina sp., Dactylogyrus sp., dan Gyrodactylus sp., diikuti dosis 200 mg/L, 100 mg/L, dan terendah pada kontrol. Berdasarkan analisis statistik diperoleh nilai infestasi parasit yang berbeda nyata (P<0,05) antara perlakuan aplikasi H2O2 dibandingkan dengan kontrol atau tanpa aplikasi H2O2.Chemical compounds that are safe and environmentally friendly has been widely used to treat parasitic diseases in fish farming. However, there is limited information on the effectiveness of the application of hydrogen peroxide to treat parasitic diseases in freshwater fish in Indonesia. The study was aimed to determine the effective dose of hydrogen peroxide (H2O2) and its influence on the presence of ectoparasites on Clarias gariepinus catfish. The treatment used was the addition of H2O2 in the media preservation at different doses, namely: the application of H2O2 dose of (A) 100 mg/L, (B) 200 mg/L, (C) 300 mg/L, and (D) without H2O2 or control. Treatment media were exposed to hydrogen peroxide once at the beginning of the test and each treatment used three replications. Infestation and ectoparasite prevalence were observed daily for six days. The observations were only performed on adult parasites that have complete organs and passed the egg stage. The study focuses on obtaining the most effective dose of H2O2 to suppress ectoparasite infection within six days. The results showed that the application of hydrogen peroxide of 300 mg/L was the most effective dose to suppress the infestation level and prevalence of Trichodina sp., Dactylogyrus sp., and Gyrodactylus sp., followed by 200 mg/L, 100 mg/L, and the lowest was in control. The statistical analysis of the parasite infestation had shown a significant difference (P<0.05) between the treatment of H2O2 as compared with the control.
ISOLASI BAKTERIOFAGA ANTI Streptococcus agalactiae DARI IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Lusiastuti, Angela Mariana; Purwaningsih, Uni; Sumiati, Tuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.907 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.2.2010.237-243

Abstract

Infeksi Streptococcus merupakan salah satu penyakit serius pada ikan yang disebabkan oleh bakteri gram positif. Infeksi oleh streptococcus beta-hemolitik paling sering dilaporkan menginfeksi ikan. Di antara streptococci beta-hemolitik, Streptococcus iniae penyebab septicemia, meningoencefalitis, dan kematian pada ikan budidaya. Selain itu, Streptococcus agalactiae juga menyebabkan streptococcosis parah pada ikan nila. Alternatif yang bisa digunakan untuk terapi infeksi streptococcosis adalah dengan penggunaan bakteriofaga yang merupakan virus yang hidup pada bakteri. Tujuan penelitian ini adalah isolasi bakteriofaga S. agalactiae sebagai kandidat agen terapi yang memberikan efek protektif melawan infeksi streptococcosis. Faga diisolasi dari Brain Heart Infusion Agar (BHIA) yang sudah ditanami dengan 15 isolat S. iniae dan S. agalactiae. Isolat S. iniae dan S. agalactiae diisolasi dari ikan sakit dengan gejala klinis Streptococcosis. Setelah itu diidentifikasi dengan pewarnaan Gram, tes katalase, pertumbuhan pada agar darah dan API 20 Strep System. Pertumbuhan faga ditunjukkan dengan adanya zona lisis pada tempat yang ditetesi dengan sampel cairan usus dari ikan nila sehat. Faga yang tumbuh lalu dikoleksi secara steril, disentrifus dan supernatannya difiltrasi dengan membran filter 0,45 µm dan disimpan pada suhu 4oC. Dari 15 isolat S. iniae dan S. agalactiae hanya satu isolat yaitu PSaT-18 yang menunjukkan zona lisis seperti yang ditunjukkan pada cawan petri isolat kontrol S. iniae. Zona lisis tersebut timbul akibat adanya faga yang memberikan proteksi terhadap S. iniae dan S. agalactiae. Zona lisis yang tidak jernih disebabkan konsentrasi faga yang terlalu rendah akibat dilakukan pengenceran pada proses filtrasi. Faga yang diperoleh selanjutnya akan dilakukan uji in vitro dan in vivo untuk mengetahui efektivitasnya.Streptococcal infection is a serious disease in fish caused by gram positive bacteria. The causative agent is Streptococcus b-hemolytic. Streptococcus iniae, a b-hemolytic bacterium is the main causative agent of septicemia, meningoencephalitis, and fish mortality. Moreover, the other causative agent is S. agalactiae. Bacteriophages which are viruses that live on bacteria can be selected and used as therapy for Streptococcosis. The aim of this research is to isolate bacteriophage of S. agalactiae as therapeutic agent candidate giving protecting effect for Streptococcosis. Phages was isolated from Brain Heart Infusion Agar (BHIA) were obtained from cultures of S. iniae and S. agalactiae. Strains S. iniae and S. agalactiae were isolated from Streptococcosis fish. The predominant types of colonies were subcultured and subjected to biochemical and physiological tests such as Gram staining, catalase test, hemolytic activity in blood agar and API 20 Strep System. Phages were isolated by using a double agar layer method. A zona lysis with plaques was removed from the plate, centrifuged and the supernatant was filtered through a 0.45 µm membrane filter and stored at 4oC. From 15 isolates of S. iniae and S. agalactiae, only one isolate PSaT-18 showed lysis zone. The lysis zone developed because the phages give protection to S. agalactiae. The lysis zone is not clear because the phage concentration is too low and the dilution in filtration process is too high. Later, these phages were used for invitro and invivo test.
UJI PERBANDINGAN SKALA LAPANG APLIKASI VAKSIN MONOVALEN DAN BIVALEN UNTUK MENCEGAH PENYAKIT MOTILE AEROMONADS SEPTICEMIA DAN MYCOBACTERIOSIS PADA IKAN GURAMI Sugiani, Desy; Arifin, Otong Zaenal; Purwaningsih, Uni; Asependi, Asependi; Wadjdy, Edy Farid
Media Akuakultur Vol 11, No 2 (2016): (Desember, 2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.853 KB) | DOI: 10.15578/ma.11.2.2016.111-119

Abstract

Pencegahan penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) dan Mycobacteriosis pada ikan gurami (Osphronemus goramy) melalui pencegahan menggunakan vaksin monovalen maupun vaksin bivalen telah berhasil dilakukan. Setiap jenis vaksin memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi yang terbaik dari kedua jenis vaksin tersebut (bivalen dan monovalen) pada ikan gurami di kolam budidaya. Penelitian dilakukan menggunakan tiga jenis vaksin yaitu bivalen HydrofortiVac, monovalen HydroVac, dan monovalen MycofortyVac, serta kontrol (tanpa vaksin). Uji lapang dilakukan di kolam budidaya di Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat. Ikan gurami yang digunakan adalah benih gurami hibrid dengan bobot 4,33 ± 1,76 g; padat tebar benih adalah 40 ekor/m2; dan masa pemeliharaan sekitar enam bulan. Hasil uji lapang menunjukkan rata-rata sintasan ikan gurami yang divaksin dengan vaksin bivalen HydrofortiVac adalah 52,3%; vaksin monovalen HydroVac sebesar 32,5%; dan monovalen MycofortyVac sebesar 28,5%; sedangkan kontrol tanpa vaksinasi adalah 25,8%. Vaksin bivalen dapat meningkatkan sintasan ikan 19,8%-26,5% lebih tinggi dibanding dengan kelompok ikan yang divaksin menggunakan vaksin monovalen maupun tanpa divaksinasi.Disease prevention of Motile Aeromonas Septicemia (MAS) and Mycobacteriosis in giant gouramy (Osphronemus goramy) use monovalent or bivalent vaccine has been successfully developed. Each type of vaccine has the advantages and disadvantages. This study aims to determine the best potential from both types of vaccines (bivalent and monovalent) for giant gouramy in the field. The study was conducted using three types of vaccines namely bivalent HydrofortiVac, monovalent HydroVac, and monovalent MycofortyVac as wel as control (without vaccine). Field test was conducted in aquaculture ponds in the district of Tasikmalaya and Ciamis Regencies West Java Province. The hybrid giant gouramy fingerlings used had weight of 4.33 ± 1.76 g, and stock density of 40 fish/m2 for about six month culture period. The result showed that the averages of survival rate from vaccinated fish on aquaculture ponds using vaccine bivalent HydrofortiVac, monovalent HydroVac, and monovalent MycofortyVac were 52.3%, 32.5%, and 28.5%, respectively. While, that of the controls was only 25.8%. Bivalent vaccine could increase survival rate of fishesabout 19,8%-26,5% higher than the group of vaccinated fish with monovalent vaccine or without vaccination.
PENAPISAN ISOLAT BAKTERI Streptococcus spp. SEBAGAI KANDIDAT ANTIGEN DALAM PEMBUATAN VAKSIN, SERTA EFIKASINYA UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT STREPTOCOCCOSIS PADA IKAN NILA, Oreochromis niloticus Taukhid, Taukhid; Purwaningsih, Uni
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.763 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.1.2011.103-118

Abstract

Riset dengan tujuan untuk memperoleh isolat kandidat yang imunogenik bagi pembuatan vaksin untuk pengendalian penyakit streptococcosis pada ikan nila telah dilakukan. Karakterisasi dilakukan secara biokimia dan API 20 STREP terhadap 15 isolat bakteri Streptococcus spp. Uji Koch’s Postulate kemudian dilakukan untuk mengetahui peran bakteri pada infeksi streptococcosis pada ikan nila. Konfirmasi taksonomis hingga level spesies isolat bakteri S. agalactiae dilakukan dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan menggunakan primer spesifik. Uji patogenisitas dilakukan terhadap 6 isolat yang terdiri atas 5 isolat S. agalactiae (N3M, N4M, N14G, N17O, NK1) dan 1 isolat S. iniae (N2O). Hasil penapisan menunjukkan bahwa bakteri S. agalactiae (N4M) memiliki nilai LD50 terkecil, dan nilai terbesar dimiliki oleh bakteri S. iniae (N2O). Isolat bakteri N4M digunakan sebagai sumber antigen dalam pembuatan vaksin anti streptococcosis. Vaksin disiapkan dalam bentuk sel utuh dan diinaktivasi dengan formalin, pemanasan, dan sonikasi. Nilai titer antibodi dan sintasan tertinggi diperoleh pada kelompok ikan yang divaksin dengan formalin killed vaccine dibandingkan dengan teknik inaktivasi lainnya (heat killed vaccine dan sonicated vaccine).
PENINGKATAN KEKEBALAN SPESIFIK ANTI STREPTOCOCCUS PADA BUDI DAYA IKAN NILA Supriyadi, Hambali; Sugiani, Desy; Purwaningsih, Uni
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (April 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.923 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.1.2007.87-92

Abstract

Uji lapang vaksin Streptococcus telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas vaksin dan respon kebal pada ikan nila (Oreochromis niloticus) terhadap rangsangan yang diberikan. Penelitian dilakukan pada keramba jaring apung (KJA). Vaksin yang digunakan adalah vaksin S1N8 dan GM2.4 berupa vaksin yang diinaktivasi dengan formalin 0,3%. Aplikasi vaksin dilakukan secara bertahap yaitu vaksin awal (priming) diberikan melalui rendaman, sedangkan vaksin ulang diberikan melalui suntikan. Dosis vaksin awal yaitu 10 mL vaksin/100 L air untuk 1.000 ekor ikan direndam selama 15 menit, sedangkan booster diberikan melalui suntikan 0,2 mL/ ekor ikan. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi pemberian vaksin priming melalui rendaman dan booster dengan suntikan untuk vaksin S1N8 menghasilkan sintasan paling tinggi (70,3%—72,5%), apabila dibandingkan dengan vaksin GM2.4 (59,3%— 62,5%) dan kontrol (35,5%—42,0%).Field study of vaccines S1N8 and GM2.4 with the aims to evaluate the effectiveness of vaccine and the immune response of nile tilapia ( Oreochromis niloticus ) against the vaccines. The research have been conducted in floating net cage. Vaccine tested were produced from Streptococcus iniae isolates S1N8 and GM2.4 which was prepared by formalin killed of 0.3%(v/v). Vaccine delivery were given in two steps i.e. priming with immersion, and booster through injection. The dose of vaccine for priming was 10 mL of vaccine/100 L water immersed for 1,000 fish for 15 minutes. Booster were delivered by injection as much as 0.2 mL/fish. The results indicated that combination of vaccine delivering of immersion (priming) and injection (booster) especially for S1N8 vaccine were the highest percent of survival rate (70.3%—72.5%) as compared with GM2.4 vaccine (59.3%—62.5%) and control (35.5%—42.0%).
SEDIAAN VAKSIN Mycobacterium fortuitum ISOLAT LOKAL YANG EFEKTIF UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT Mycobacteriosis PADA IKAN GURAMI, Osphronemus gouramy Purwaningsih, Uni; Taukhid, Taukhid; Lusiastuti, Angela Mariana; Sugiani, Desy; Sumiati, Tuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 3 (2015): (September 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.914 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.3.2015.423-433

Abstract

Mycobacteriosis merupakan penyakit yang bersifat kronis progresif yang rentan menyerang ikan gurami, dengan tingkat prevalensi mencapai 30%-80%. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah dan mengendalikan penyakit tersebut dengan menggunakan antibiotik, bahan kimia maupun terapi herbal namun belum memberikan hasil yang optimal. Vaksinasi diharapkan mampu menjadi solusi alternatif dan aplikatif untuk pencegahan penyakit Mycobacteriosis pada ikan gurami. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh jenis sediaan vaksin M. fortuitum yang tepat untuk mencegah penyakit Mycobacteriosis pada ikan gurami. Isolat M. fortuitum kode 31 digunakan sebagai isolat kandidat vaksin. Inaktifasi vaksin dilakukan dengan sonikasi dan neutral buffer formalin 3%. SDS PAGE terhadap sediaan sel utuh dan broth menunjukkan jumlah pita protein yang lebih variatif. Berdasarkan uji innocuity dan uji sterility terhadap berbagai sediaan vaksin menunjukkan bahwa vaksin terbukti aman dan tidak menyebabkan efek samping pada ikan gurami. Peningkatan titer antibodi terjadi 14 hari pasca vaksinasi. Titer antibodi pada perlakuan vaksin menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) dibanding kontrol pasca uji tantang. Kematian ikan pasca uji tantang dengan menggunakan bakteri M. fortuitum 106 cfu/mL menunjukkan pola kematian yang bersifat kronis. Kematian mulai terjadi setelah hari ke-19 pasca uji tantang. Ikan gurami yang divaksinasi dengan vaksin sel utuh M. fortuitum menunjukkan hasil terbaik dengan tingkat sintasan sebesar 83,33% dan relative percent survival (RPS) sebesar 66,67%.