Articles

Found 21 Documents
Search

PEMANFAATAN TEKNIK HEM UNTUK PENUMBUHAN CNT DARI GRAFIT MENGGUNAKAN Ni SEBAGAI KATALIS = UTILIZATION OF HEM TECHNIQUE FOR GROWTH OF CNT FROM GRAPHITE POWDERS BY USING Ni AS CATALYST ., Yunasfi; Purwanto, P.; ., Mashadi
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 1 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.729 KB) | DOI: 10.29122/mipi.v10i1.101

Abstract

Utilization of HEM (high energy milling) technique for growth of CNT (carbon nanotube) from graphite powders by using Ni as catalyst was carried out. Milling process performed on a mixture of graphite powder and nickel powder (Ni-C powders) with the ratio of weight percent of 98%: 2%, with a variation of milling time between 25 up to 75 hours. Characterization using PSA (Powder Size Analyzer), SAA (Surface Area Analyzer), TEM (Transmission Electron Microscope) and Raman Spectroscopy performed to obtain information about particle size, surface area, morphology and the structure bonding of the milled powder respectively. The analysis results of Ni-C powders using PSA and SAA showed the smallest particle size and biggest surface area obtained after milling process for 50 hours, i.e. 80 nm and 705 m2/g, respectively. TEM observations revealed formation of flat fibers which quantity increased with increasing milling time. This flattened fiber behave as an initiator for the growth of CNTs. Ni-C powder milling for 50 hours results more clearly show the growth of CNTs. Analysis by Raman Spectroscopy showed two bands at 1582 cm−1 as a peak of G band and at 1350 cm-1 as a peak of D band. These spectra are typical for sp2 structure. The position of G band peak is close to 1600 cm-1 as the evidence of a change to nano-crystalline graphite. The highest intensity of D band shown in the milling process for 50 hours, which indicates that this milling time produces more graphite-like structure compared to other conditions, and is predicted good for growing CNTs. AbstrakPemanfaatan teknik HEM (High Energy Milling) untuk penumbuhan CNT (carbon nanotube) dari serbuk grafit dengan menggunakan Ni sebagai katalis. Proses milling dilakukan terhadap campuran serbuk grafit dan serbuk nikel (serbuk Ni-C) dengan perbandingan berat 98% : 2%, dengan variasi waktu milling antara 25-75 jam. Karakterisasi menggunakan fasilitas PSA (Particle Size Analyzer), SAA (Surface Area Analyzer), dan TEM (Transmission Electron Microscope) serta Raman Spektroscopy yang masing-masingnya untuk mendapatkan informasi tentang ukuran partikel, luas permukaan dan morfologi serta struktur ikatan serbuk hasil milling. Hasil analisis serbuk Ni-C dengan PSA dan SAA menunjukkan ukuran partikel paling kecil dan luas permukaan paling besar diperoleh setelah proses milling selama 50 jam, masing-masing 80 nm dan 705 m2/g. Pengamatan TEM menunjukkan serbuk-serbuk berbentuk serat pipih dengan kuantitas yang meningkat dengan bertambahnya waktu milling. Serat pipih ini perupakan cikal bakal penumbuhan CNT. Serbuk Ni-C hasil milling menunjukkan penumbuhan CNT terlihat lebih jelas setelah milling selama 50 jam. Hasil analisis dengan Raman Spectroscopy memperlihatkan puncak G band pada bilangan gelombang 1582 cm−1 yang merupakan spektrum untuk struktur sp2 dari grafit dan puncak D band pada bilangan gelombang 1350 cm-1 yang mungkin merupakan deformasi struktur grafit. Posisi puncak G band mendekati 1600 cm-1 menjadi bukti perubahan ke grafit nano kristal. Intensitas D band tertinggi ditunjukkan oleh sistem komposit Ni-C hasil proses milling selama 50 jam dan hal ini sebagai indikasi bahwa proses milling selama 50 jam terhadap sistem komposit Ni-C lebih berstruktur mirip grafit (graphitic-like material) dibanding kondisi lainnya dan diprediksi bagus untuk menumbuhkan CNT. Dengan demikian, waktu milling yang optimal untuk penumbuhan CNT dari serbuk grafit dengan menggunakan Ni sebagai katalis adalah adalah 50 jam.  
Innovative Green Technology for Sustainable Industrial Estate Development Hadiwijoyo, R.; Purwanto, P.; Hadi, Sudharto P.
International Journal of Renewable Energy Development Vol 2, No 1 (2013): February 2013
Publisher : Center of Biomass & Renewable Energy, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.763 KB) | DOI: 10.14710/ijred.2.1.53-58

Abstract

Sustainable industrial development requires a balance between economic growth,equity and environment. Two major components of industrial development are energy and rawmaterials. To minimize the environmental impacts of energy and raw materials, important stepsare required to deal with the green economy and global warming issues. The use of innovationtechnology to industrial gas emission is a preventive solution facing global warming. A research hasbeen done in Industrial Estate in Cilegon (IEC) Banten province, Indonesia, to see how to reduceenergy demand and encourage uses of more environmentally-friendly energy in the estate. Fossilenergy needs in the industrial estate were analyzed to see the opportunities of energy saving andrenewable energy development. The target to be achieved is to reduce the greenhouse gasemissions and improve the energy efficiency in the industrial park.
PENGARUH KONSENTRASI Ag2S PADA KONDUKTIVITAS BAHAN KOMPOSIT (Ag2S)x (α-Al2SO4)1-x (x = 0,1 HINGGA 0,5) Purwanto, P.
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 13, No 3: JUNI 2012
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.037 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2012.13.3.4673

Abstract

PENGARUH KONSENTRASI Ag2S PADA KONDUKTIVITAS BAHAN KOMPOSIT (Ag2S)x (α-Al2SO4)1-x (x = 0,1 HINGGA 0,5). Komposit (Ag2S)x (α-Al2SO4)1-x (x = 0,1 hingga 0,5) telah dibuat dengan mencampurkan Ag2S dan α-Al2SO4 dengan perbandingan fraksi mol. Campuran dibuat pelet pada tekanan 48,26106 N/m2 dengan diameter 1,5 cmdilanjutkan dengan perlakuan panas pada suhu 30 oC hingga 300 oC selama 5 jam. Hasil karakterisasi fasa dengan difraksi sinar-X menunjukkan fasa Ag2S dan α-Al2SO4. Seiring dengan kenaikan fraksi mol Ag2S dalam komposit (Ag2S)x (α-Al2SO4)1-x pada ukuran kristal dan konduktivitas mengalami kenaikan, sebaliknya energi aktivasi turun.
EFEK PENAMBAHAN CuI TERHADAPREGANGANKISI DAN KONDUKTIVITAS BAHAN KONDUKTOR PADAT (CuI)x(AgI )1-x (x = 0,1 - 0,4) Purwanto, P.; Purnama, S.; Sukirman, E.; Alfian, Alfian
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 10, No 1: OKTOBER 2008
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.825 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2008.10.1.4578

Abstract

EFEK PENAMBAHAN CuI TERHADAPREGANGANKISI DAN KONDUKTIVITAS BAHAN KONDUKTOR PADAT (CuI)x(AgI )1-x (x = 0,1 - 0,4). Bahan konduktor padat (CuI)x(AgI)1-x dibuat dengan cara mencampurkan serbuk CuI dan AgI dengan perbandingan fraksi berat. Pengukuran konduktivitas (CuI)x(AgI)1-x dilakukan dengan alat LCR-meter pada frekuensi 0,1 Hz sampai 100 kHz. Regangan kisi konduktor padat (CuI)x(AgI )1-x naik seiring dengan penambahan CuI. Konduktivitas konduktor padat(CuI)x(AgI )1-x dengan fraksi berat x = 0,1 hingga 0,4menurun dengan naiknya fraksi berat CuI.Analisis struktur(CuI)x(AgI )1-x menunjukkan puncak-puncak difraksi yang muncul adalah puncak-puncak CuI. Lama waktu charge dan discharge berbeda, namun tegangan masih relatif stabil.
PENGARUH SUHU TERHADAP KONDUKTIVITAS ELEKTROLIT PADAT (Cul)0,5(β-Al2O3)0,5 Purwanto, P.; Kartini, E.; Pumama, Safei
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 6, No 1: OKTOBER 2004
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.632 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2004.6.1.4919

Abstract

PENGARUH SUHU TERHADAP KONDUKTIVITAS ELEKTROLIT PADAT (Cul)0,5(β-Al2O3)0,5. Bahan elektrolit padat (Cul)0,5(β-Al2O3)0,5 telah dibuat dengan reaksi padatan yaitu dengan campuran antara Cul dan β-Al2O3, kemudian dikompaksi dan dilakukan pemanasan pada suhu 300 °C selama 3 jam. Nilai konduktivitas (Cul)0,5(β-Al2O3)0,5 adalah meningkat terhadap suhu dan frekuensi tenentu. Pola difraksi sinar bahan elektrolit padat (Cul)0,5(β-Al2O3)0,5 didominasi oleh puncak-puncak CuI dari pada puncak B-A12O3. Energi aktivasi bahan elektrolit padat tersebut relatif stabil, dengan nilai berkisar 0,09 eV sampai 0,13 eV. Konduktivias elektrolit padat (Cul)0,5(β-Al2O3)0,5 pada suhu ruang dan pada suhu 300 °C adalah 1,48 x 10-5 S/cm dan 8,33 x 10-4 S/cm.
KARAKTERISASI SIFAT LISTRIK DAN MAGNET LAPISAN TIPIS FE-C/SI SETELAH IRADIASI IONAR+ Yunasfi, Yunasfi; Purwanto, P.
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 16, No 4: JULI 2015
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.811 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2015.16.4.4218

Abstract

KARAKTERISASI SIFAT LISTRIK DAN MAGNET LAPISAN TIPIS Fe-C/Si SETELAH IRADIASI IONAr+. Telah dilakukan karakterisasi sifat listrik dan magnet lapisan tipis Fe-C/Si setelah iradiasi ion Ar+. Lapisan tipis Fe-C/Si diiradiasi dengan ion Ar+ pada dosis antara 1 × 1016 sampai 5 × 1017 ion/cm2. Hasil pengamatan morfologi permukaan lapisan tipis dengan Scanning ElectronMicroscope (SEM) memperlihatkan permukaan yang halus dan rata dengan terdeposisikan secara homogen di atas substrat Si (100). Pengamatan penampang lintang dengan SEM menunjukkan terbentuknya lapisan tipis Fe-C di atas permukaan substrat Si(100). Hasil pengukuran sifat listrik dan sifat magnet lapisan tipis Fe-C/Si menunjukkan bahwa nilai konduktansi (G), kapasitansi (C) dan nisbah magnetoresistance (MR) meningkat akibat pengaruh iradiasi ion Ar+ dan nilai nilai ini semakinmeningkat seiring dengan penambahan dosis radiasi.Dengan demikian, radiasi ionAr+berpotensi diaplikasikan di bidang elektromagnetik karena dapat meningkatkan sifat listrik dan magnet bahan.
Analisis Penambahan Fe Terhadap Sifat Listrik Dan Magnet Komposit Mwcnt-Fe Purwanto, P.; Mustofa, Salim
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 36 No. 2 Oktober 2014
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.923 KB)

Abstract

Bahan komposit MWCNT-Fe dibuat dengan mencampurkan serbuk MWCNT dan Fe dengan variasi kandungan Fe mulai dari 1% sampai 5%. Selanjutnya bahan komposit diproses milling selama 3 jam memakai teknik High Energy Milling (HEM). Hasil pola difraksi sinar- x komposit MWCNT-Fe menunjukkan adanya puncak MWCNT dan Fe dengan pola yang sama. Spektroskopi Raman menunjukkan puncak D band muncul pada 1310- 1320 cm-1, puncak harmonik kedua G band (G’ band) muncul pada Raman shift 1605 cm-1 sampai dengan 1615 cm-1, dan puncak tangensial G band muncul pada 1580 cm-1 sampai dengan 1595 cm-1. Hasil pengukuran konduktivitas MWCNT-Fe dengan alat ukur LCR, menunjukkan bahwa nilai konduktivitas mengalami kenaikan sebanding dengan kenaikan berat Fe. Hasil parameter magnetik dengan metode VSM (Vibrating Sample Magnetometer) menunjukkan Magnetik Rimanen (Mr), Magnetik Jenuh (Ms) mengalami kenaikan, sedangkan Medan Koersif (Hc) mengalami penurunan sebanding dengan kenaikan berat Fe. 
PENGARUH IRADIASI-γ TERHADAP REGANGAN KISI DAN KONDUKTIVITAS IONIK PADA KOMPOSIT PADAT (LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 Purwanto, P.; Purnama, S.; Winataputra, D.S.; ., Alfian
Urania Jurnal Ilmiah Daur Bahan Bakar Nuklir Vol 16, No 3 (2010): Juli 2010
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.028 KB) | DOI: 10.17146/urania.2010.16.3.2428

Abstract

ABSTRAK PENGARUH IRADIASI-γ TERHADAP REGANGAN KISI DAN KONDUKTIVITAS IONIK PADA KOMPOSIT PADAT (LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5. Komposit padat (LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 telah dapat dibuat dengan pencampuran antara  LiI dengan Al2O3.4SiO2. Komposit padat di pelet dengan ukuran diameter 1,5 cm dan tekanan 5000 psi. Kemudian komposit padat tersebut dilakukan iradiasi dengan dosis 100 kGy, 200 kGy, 300 kGy dan 400 kGy. Pengukuran struktur kristal dilakukan dengan teknik difraksi sinar-x. Dari pola difraksi sinar-x pada komposit (LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 menunjukkan bahwa struktur yang terbentuk adalah campuran struktur LiI dan Al2O3.4SiO2.  Regangan kisi komposit (LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 menurun seiring dengan naiknya dosis radiasi.  Pengukuran konduktivitas dilakukan dengan alat LCR pada kisaran frekuensi 0,1 Hz-100 kHz. Konduktivitas komposit (LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 menurun seiring dengan naiknya dosis radiasi. Kata kunci: Elektrolit padat, iradiasi,  difraksi sinar-x , konduktivitas.   ABSTRACT EFFECT γ-RAY IRRADIATION  IN THE LATTICE STRAIN AND IONIC CONDUCTIVITY AT SOLID COMPOSITE OF (LiI)0.5(Al2O3.4SiO2)0.5. The solid composite (LiI)0.5(Al2O3.4SiO2)0.5 has been prepared by solid  reaction, by mixing  of LiI with  Al2O3.4SiO2 powders. The mixture was  compacted with diameter 1.5 cm and pressure 5000 psi.  The solid composite was irradiated with irradiation dosis  100 kGy, 200 kGy,  300 kGy and 400 kGy.  The measurement of crystal structure was done by x-ray diffraction. Result  from x-ray diffraction shows that the structure of (LiI)0.5(Al2O3.4SiO2)0.5 was a mixture structure of   LiI and  Al2O3.4SiO2. The lattice strain of composite (LiI)0.5(Al2O3.4SiO2)0.5 was decrease with increasing radiation doses. The conductivity of composite of (LiI)0.5(Al2O3.4SiO2)0.5 was measured by LCR at  frequency between 0.1 Hz to 100 kHz. The result show that the conductivities of composite decrease with increasing radiation doses. Key word: Solid electrolyte, irradiation,   x-ray diffraction, conductivity.
PENGARUH SUHU TERHADAP KONDUKTIVITAS BAHAN KOMPOSIT (AgI)0,3(p-Al203)0,7 DAN (AgI)0,5(B-Al203)0,5 Purwanto, P.; Purnama, Safei
MESIN Vol 9, No 1 (2007): Bahan Bakar Alternatif
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The composite materials of (Agl)„rffi-AliOj),,? and (Agl)„5(p-Al20})ll5 have been madebysolid state reaction mixing between Agl with /3-AI20j. The results show that the conductivity valuesof (AgOoJp-AliOj),,- were 5.98xW5 to 9.47xIO3 S/m, and the conductivity values of (Agl),l5(p-Al?Os),)j were 0.33x/04 to 4.47x/03 S/m asfunction of temperature. The conductivity of materialscompositedecreased at transition temperature, but the conductivity ofAgl increased with temperature.The activation energy of (Agl)o.}(/3-A/20})„- and (Agl)„5(P-Al203),,5 relative stable with value ofactivation energy between 0.74xl02" J to 2.80x102" J. The diffraction peaks of (Agl),, /fi-Al:Oj)„. -and(AgQojffi-dljOjJoj have thepeak ofAgl.
AKUMULASI CADMIUM (CD) PADA IKAN WADER MERAH (PUNTIUS BRAMOIDES C.V), DI SUNGAI KALIGARANG Prabowo, R.; Purwanto, P.; Sunoko, H. R.
Jurnal MIPA Vol 39, No 1 (2016): April 2016
Publisher : Jurnal MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kadmium merupakan bahan beracun yang menyebabkan keracunan kronik pada manusia, maka tingkat maksimun yang diperbolehkan di perairan adalah 0,01 mg/L (PP No 82 Th 2001 Tentang Kualitas Air). Penelitian ini bertujuan (1) mengidentifikasi gambaran umum kualitas air Sungai Kaligarang, (2) Mengidentifikasi konsentrasi logam berat Kadmium (Cd) di Sungai Kaligarang, serta (3) mengidentifikasi akumulasi logam berat Cd pada ikan wader merah (Puntius bramoides C.V) yang hidup di Sungai Kaligarang. Penelitian ini merupakan penelitian observasi eksploratif dengan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk menggambarkan kandungan logam berat Cd pada air dan ikan wader merah di Sungai Kaligarang. Penentuan lokasi pengambilan sampel secara purposif sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter lingkungan berupa Suhu, pH, BOD, DO di Sungai Kaligarang tidak melebihi baku mutu berdasarkan mutu air penggolongan kelas I. Parameter logam berat Cd dalam air tidak melebihi aturan yang ditetapkan PP Nomor 82 Th 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Kadar logam berat yang terkandung pada ikan wader merah masih berada di bawah baku mutu yang ditetapkan baik dari FDR New Zealand, FAO, Serta SNI. 7387.2009, Tentang Batas Maksimum Cemaran logam Berat Dalam Pangan.Cadmium is a toxic substance that causes chronic poisoning in humans and the maximum permissible level in the water is 0.01 mg / L. (Th Government Regulation No. 82 of 2001 on water quality). This study aimes to (1) identify general description of Kaligarang water quality, (2) heavy metalconcentrations of Cadmium (Cd ) in Kaligarang river and (3) identifying Cd accumulation of heavy metal in red Wader fish. This research is an observational exploration with a quantitative approach that aims to describe the level of heavy metal Cd in water and wader in Kaligarang. The location is determined by sampling study with purposive sampling. The result shows that the environmental parameters such as temperature, pH, BOD, DO of Kaligarang does not exceed the quality standard as applied by the classification of water quality class I. Parameter of heavy metals Cd in the water does not exceed the rules as set by the PP . No. 82 Th 2001 on management of water quality and red water pollution control. Heavy metal levelcontained in red wader is still below the quality standard as set by both FDR New Zealand, FAO, and SNI.7387.2009 about maximum level of heavy metal pollution in food.