Articles

Found 40 Documents
Search

PENGARUH GIBERELIN TERHADAP KARAKTER MORFOLOGI DAN HASIL BUAH PARTENOKARPI PADA TUJUH GENOTIPE TOMAT (SOLANUM LYCOPERSICUM L.) Setiawan, Agus Budi; Murti, Rudi Hari; Purwantoro, Aziz
Jurnal Ilmu Pertanian Vol 18, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada jointly with PISPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.456 KB) | DOI: 10.22146/ipas.6521

Abstract

Giberelin merupakan zat pengatur tumbuh yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan buah tomat. Buah partenokarpi dapat diinduksi dengan menggunakan giberelin. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan respon tujuh genotipe tomat terhadap GA3 terkait karakter fruit set, ukuran, dan hasil buah tomat. Penelitian ini dilakukan di Green House UPTD Balai Pengembangan Perbenihan Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta serta Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, UGM mulai bulan Oktober 2014 hingga Februari 2015. Penelitian menggunakan rancangan faktorial 7 genotipe x 2 konsentrasi GA3 yang disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan 3 blok. Kluster bunga dengan bunga pertama fase 12 yang tidak dikastrasi disemprot GA3 dengan interval 3 hari sekali sebanyak 6 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa B78 merupakan genotipe yang responsif terhadap GA3dengan ditandai dengan peningkatan jumlah lokul menjadi 6 (lokul/buah) danmengalami penurunan fruit set sebesar 81,96% serta ukuran buah yang menurun secara nyata dibandingkan dengan buah berbiji. Genotipe yang tanggap terhadap aplikasi GA3 untuk menginduksi buah partenokarpi dengan hasil dan ukuran buah yang bagus adalah Gamato 1 ditandai dengan penurunan bobot buah per tandan yang relatif kecil yaitu 28,38% serta buah partenokarpi yang dihasilkan memiliki ukuran panjang dan diameter buah yang masih jauh lebih besar (41,68 mm dan 46,11 mm) dibandingkan genotipe lainnya. Buah partenokarpi A65, Gamato 3, A175, Gamato 5 dan Kaliurang 206 mengalami penurunan ukuran (panjang, diameter, dan ketebalan daging buah) serta penurunan hasil buah tomat dibandingkan dengan buah berbiji.
KARAKTERISTIK DAN PREFERENSI MASYARAKAT TERHADAP EMPAT POPULASI KEMBANG KERTAS (ZINNIA ELEGANS JACQ.) Hayuatmaja, Fajar; Purwantoro, Aziz; Supriyanta, Supriyanta
Vegetalika Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.994 KB) | DOI: 10.22146/veg.25347

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui karakteristik dan preferensi masyarakat terhadap kembang kertas varietas asal Jepang dan populasi generasi M7 hasil iradiasi sinar X kultivar lokal. Penelitian dilaksanakan di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Bulaksumur, Yogyakarta pada bulan Juni-Desember 2015. Percobaan dilaksanakan mengikuti kaidah rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan kode tanam T6B2.5; T5B2.20; T5B2.17 untuk kembang kertas populasi generasi M7 hasil iradiasi sinar X dan komdocit untuk kembang kertas varietas asal Jepang, dengan dua blok sebagai ulangan. Hasil penelitian terkait tipe bunga menunjukkan Populasi T6B2.5 terdiri dari 6% tanaman berbunga single, 51% tanaman berbunga double, dan 43% tanaman berbunga pompom. Populasi T5B2.20 terdiri dari 26% tanaman berbunga single, 55% tanaman berbunga double, dan 19% tanaman berbunga pompom. Populasi T5B2.17 terdiri dari 15% tanaman berbunga single, 52% tanaman berbunga double, dan 33% tanaman berbunga pompom. Populasi komdocit terdiri dari 26% tanaman berbunga single, 39% tanaman berbunga double, dan 35% tanaman berbunga pompom. Hasil penelitian terkait warna bunga, populasi T6B2.5 terdiri dari 46% bunga berwarna merah dan 54% bunga berwarna ungu. Populasi T5B2.20 terdiri dari 77% bunga berwarna ungu dan 23% bunga berwarna putih. Populasi T5B2.17 terdiri dari 79% bunga berwarna ungu dan 21% bunga berwarna putih. Populasi komdocit terdiri dari 29% bunga berwarna merah, 45% bunga berwarna ungu, 16% bunga berwarna kuning, dan 10% bunga berwarna putih. Preferensi masyarakat terhadap kembang kertas menunjukkan bahwa masyarakat lebih menyukai bunga berbentuk pompom, warna bunga putih, diameter bunga sedang (4,1-6 cm) dengan jumlah bunga sedikit (1-13 kuntum) dan tanaman berhabitus pendek (15-50 cm) baik untuk bunga potong maupun tanaman hias dalam pot.
ANALISIS GENETIK F2 PERSILANGAN CABAI (CAPSICUM ANNUM L.) ‘JALAPENO’ DENGAN ‘TRICOLOR VARIEGATA’ Widiatmiko, Gretaryan Wahyu; Purwantoro, Aziz; Basunanda, Panjisakti
Vegetalika Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.836 KB) | DOI: 10.22146/veg.25017

Abstract

Kualitas cabai yang diharapkan berupa tinggi tanaman yang proporsional, mempunyai banyak cabang, mempunyai banyak buah, dan warna buah dan tanaman yang menarik sehingga cocok untuk pertanian kota. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai dan pola pewarisan karakter kualitatif yang meliputi percabangan tanaman, warna batang, warna buku pada batang, bentuk daun, warna mahkota bunga, dan warna buah mentah, serta pada karakter kuantitatif yang meliputi tinggi tanaman, diameter batang, tinggi dikotomus, panjang daun, lebar daun, panjang buah, diameter buah, tebal daging buah, berat buah sampel, dan jumlah buah per tanaman pada populasi hasil persilangan Jalapeño dengan TCV. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bagor, Kecamatan Nganjuk, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, dimulai pada bulan September 2014 sampai bulan Februari 2015. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL). Genotipe yang digunakan meliputi benih cabai hias(Capsicumm annuum L.) ?Tricolor Variegata?(TCV), cabai (C annuum L.) ?Jalapeno?, F1 hasil persilangan TCV dengan Jalapeno, dan F2 hasil penyerbukan bebas F1 persilangan TCV dengan Jalapeno. Hasil dari penelitian ini menunjukkan karakter yang diduga dikendalikan oleh dua lokus gen pengendali adalah percabangan tanaman dan bentuk daun. Karakter yang diduga dipengaruhi oleh satu lokus gen pengendali adalah warna mahkota bunga. Segregasi transgresif ditunjukkan pada karakter tinggi dikotomus, lebar daun, dan tebal daging buah. Kriteria heritabilitas arti luas yang tinggi ditunjukkan oleh karakter panjang daun dan tebal daging buah. Nilai korelasi positif nyata yang sama dari pendekatan rerata geometrik dan terboboti ditunjukkan pada karakter tinggi tanaman terhadap panjang dan lebar daun.
VARIABILITAS KARAKTER FENOTIPE DUA POPULASI JAGUNG MANIS (ZEA MAYS L. KELOMPOK SACCHARATA) Dewanti, Dinda; Basunanda, Panjisakti; Purwantoro, Aziz
Vegetalika Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.4 KB) | DOI: 10.22146/veg.23944

Abstract

Jagung manis merupakan salah satu jenis jagung yang saat ini mulai berkembang dan mempunyai prospek penting di Indonesia. Pemuliaan jagung manis secara umum bertujuan untuk mendapatkan varietas-varietas yang mempunyai kuantitas dan kualitas hasil tinggi serta resisten terhadap hama dan penyakit penting (penyakit bulai). Sifat unggul dari suatu tanaman dapat diamati berdasarkan karakter fenotipenya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan variabilitas karakter fenotipe tanaman jagung manis kuning dan jagung manis ungu, mendapatkan korelasi atau hubungan antarkarakter kuantitatif jagung manis kuning dan jagung manis ungu, mencirikan jagung manis kuning dan jagung manis ungu yang berpengaruh langsung terhadap hasil, dan membandingkan kandungan gula jagung manis kuning dan jagung manis ungu. Penelitian menggunakan dua populasi jagung manis yaitu jagung manis kuning dan jagung manis ungu koleksi Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, UGM. Karakter yang diamati meliputi karakter kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan variabilitas karakter kuantitatif yang tinggi pada jagung manis kuning dan jagung manis ungu ditunjukkan oleh karakter jumlah biji per tongkol dan bobot biji per tongkol. Nilai korelasi tertinggi yang nyata positif pada jagung manis kuning dan jagung ungu ditunjukkan pada karakter bobot biji per tongkol dengan jumlah biji per tongkol. Karakter kuantitatif jagung manis kuning dan jagung manis ungu yang berpengaruh langsung terhadap hasil yaitu karakter jumlah biji per tongkol dan bobot 100 butir. Nilai kandungan gula tanaman jagung manis kuning tergolong sedang (10,63 ºBrix) dan kandungan gula tanaman jagung manis ungu tergolong sangat tinggi (25,16 ºBrix).
EVALUASI KARAKTER TANAMAN CABAI HIAS (CAPSICUM ANNUUM L.) GENERASI F1 HASIL PERSILANGAN ‘PETER PEPPER’ DENGAN ‘ROYAL BLACK’ Setiyoko, Wili; Purwantoro, Aziz; Supriyanta, Supriyanta
Vegetalika Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.941 KB) | DOI: 10.22146/veg.10482

Abstract

Cabai hias mempunyai beragam warna dan bentuk buah yang mampu memberikan keindahan pada taman, sehingga perlu evaluasi karakter dalam strategi pemuliaan tanaman. Tujuan penelitian ini yaitu mengevaluasi karakter kualitatif dan kuantitatif tanaman cabai hias F1 hasil persilangan ?Peter Pepper? dengan ?Royal Black? dan mengetahui tindak gen karakter kuantitatif. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga genotipe yaitu ?Peter Pepper?, ?Royal Black?, dan F1 (PP×RB) dengan 3 ulangan. Karakter yang diamati dibedakan menjadi dua yaitu karakter kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter kualitatif tanaman cabai hias F1 yang mengekspresikan sifat dominan tetua betina ?Peter Pepper? yaitu karakter warna kotiledon, hipokotil, habitus pertumbuhan tanaman, habitus percabangan, warna daun, bentuk daun, orientasi bunga, orientasi buah, dan bentuk ujung buah. Karakter kualitatif cabai hias F1 yang mengekspresikan sifat dominan tetua jantan ?Royal Black? yaitu warna batang, warna kotak sari, warna tangkai sari, warna buah sebelum masak, dan bentuk buah. Karakter kualitatif cabai hias F1 yang mengekspresikan sifat kodominan yaitu karakter antosianin pada buku dan warna mahkota bunga. Karakter kuantitatif tanaman cabai hias F1 yang sama dengan tetua betina ?Peter Pepper? yaitu karakter diameter batang dan berat buah. Karakter kuantitatif cabai hias F1 yang sama dengan tetua jantan ?Royal Black? yaitu karakter panjang daun, lebar daun, jumlah buah, dan warna buah fase muda. Karakter kuantitatif cabai hias F1 yang berbeda dengan kedua tetuanya yaitu karakter tebal daging buah. Cabai hias F1 yang memiliki tindak gen incomplate dominance yaitu karakter diameter batang, lebar daun, diameter buah, bobot buah, tebal daging buah, jumlah buah per tanaman, dan berat biji per buah, sedangkan F1 yang memiliki tindak gen over dominance yaitu karakter tinggi tanaman, tinggi dikotomus, panjang daun, umur mulai berbunga, umur mulai berbuah, panjang buah, panjang tangkai buah, dan warna buah fase muda, fase antara, dan fase tua.
EVALUASI KARAKTER KUALITATIF DAN KUANTITATIF GENERASI F1 HASIL PERSILANGAN CABAI HIAS FISH PEPPER (CAPSICUM ANNUUM L.) DENGAN CABAI RAWIT (C. FRUTESCENS L.) Sirojuddin, Achmad Syarif; Purwantoro, Aziz; Basunanda, Panjisakti
Vegetalika Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.056 KB) | DOI: 10.22146/veg.10473

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi beberapa karakter kualitatif dan kuantitatif generasi F1 hasil persilangan cabai hias fish pepper (C. annuum L.) dengan cabai rawit (C. frutescens L.). Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Tridarma Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada dan greenhouse di desa Sambilegi Lor, Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta dari bulan September 2014 sampai Maret 2015. Bahan tanam yang digunakan dalam penelitian ini meliputi benih cabai rawit (C. frutescens L.) dan cabai hias fish pepper (C. annuum L.) sebagai tetua, serta F1 dan F1R sebagai hasil persilangan keduanya. Pada karakter kualitatif, F1 menampilkan beberapa sifat dominan tetua FP, yaitu bentuk segitiga pada buah dan adanya antosianin pada buku batang, daun, bunga, dan buah. Adapun sifat dominan pada tetua A yang terekspresi pada F1 adalah warna hijau pada daun. Selain itu, beberapa karakter pada F1 merupakan sifat kodominan, di antaranya bentuk oval pada daun serta orientasi mendatar pada bunga dan buah. Tidak ditemukan maternal inheritance pada karakter-karakter kualitatif antara F1 dan F1R. Pada karakter kuantitatif, F1 memiliki nilai yang lebih tinggi atas rerata kedua tetuanya, yaitu terlihat dalam nilai heterosis pada karakter umur mulai berbunga, umur mulai berbuah, panjang dan lebar daun, panjang buah, diameter buah, bobot buah, serta jumlah buah per tanamann. Beberapa karakter harapan yang terekspresi pada cabai hias F1 yaitu warna  putih-ungu  pada  mahkota  bunga,  bentuk segitiga  pada  buah,  umur berbunga yang cepat, dan jumlah buah per tanaman yang banyak.
KERAGAMAN MOLEKULER PURING (CODIAEUM VARIEGATUM (L.) RUMPH. EX A. JUSS) DENGAN PENANDA RAPD Kusumaningrum, Monika Andreastuti; Purwantoro, Aziz; Murti, Rudi Hari
Vegetalika Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.545 KB) | DOI: 10.22146/veg.9279

Abstract

Tanaman puring (Codiaeum variegatum (L.) Rumph. ex A. Juss) adalah tanaman hias yang memiliki nilai jual tinggi. Tanaman puring juga memiliki manfaat sebagai tanaman berkhasiat obat dan dapat menyerap unsur timah hitam yang berasal dari sisa pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor (2,05 mg/lt). Bentuk, warna, dan corak daun tanaman puring sangat beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya keragaman genetik, menghitung jarak genetik, dan menduga adanya alel spesifik pada tanaman puring. Sampel DNA diektraksi dari daun 20 kultivar tanaman puring. Metode PCR menggunakan 10 primer yaitu OPA-02, OPA-03, OPA-14, OPA-16, OPA-18, OPA-20, OPB-08, OPB-19, OPD-05, dan OPH-18. Hasil amplifikasi menunjukkan tingkat polimorfisme yang cukup tinggi. Persentase lokus polimorfik dan nilai heterosigositas harapan (He) paling tinggi ditunjukkan oleh kultivar tanaman puring dengan daun yang berwarna kombinasi hijau-merah yaitu 56,60% dan 0,190. Kultivar yang berlabel H1 dengan HK1 memiliki hubungan kekerabatan paling dekat diantara kultivar lain, sedangkan kultivar  yang  berlabel HK3 dengan HKM5 dan kultivar berlabel HK5 dengan HKM4 memiliki hubungan kekerabatan paling jauh diantara kultivar lain. Hasil dari dendogram UPGMA dan PCoA (Principal Coordinates Analysis) menempatkan 20 kultivar kedalam 2 klaster dan salah satu klaster ditempati oleh kultivar dengan daun yang berwarna kombinasi hijau-kuning-merah. Dari seluruh kelompok warna pada sampel, alel spesifik yang dapat terdeteksi pada satu kelompok/populasi warna hanya terdapat pada kelompok HKM yaitu pada OPD 05-1400 dan OPH 18-300.
KERAGAMAN MORFOLOGI DAN MOLEKULER EMPAT KELOMPOK KULTIVAR JAGUNG (ZEA MAYS L.) Fatmawati, Yeni; Purwantoro, Aziz; Basunanda, Panjisakti
Vegetalika Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3060.292 KB) | DOI: 10.22146/veg.28017

Abstract

Plasma nutfah jagung memiliki berbagai jenis. Jenis jagung yang sering dibudidayakandan dikonsumsi adalah jagung hibrida, jagung manis, dan jagung berondong. Setiap jeniskelompok jagung memiliki sifat yang beragam. Keragaman pada beberapa kelompokjagung dapat diketahui berdasarkan karakterisasi morfologi dan molekuler. Penelitian inibertujuan untuk menentukan jarak kemiripan empat kelompok jagung berdasarkankarakter morfologi, menghitung nilai keragaman antar dan dalam populasi jagung, danmenghitung koefisien kemiripan pada empat kelompok jagung berdasarkan penandaRAPD, serta menentukan adanya perbedaan gen-gen pembentuk senyawa antosianin dansukrosa-pati. Empat kelompok jagung yang yaitu jagung hibrida (kelompok Indurata),jagung manis (kelompokSaccharata), jagung berondong stroberi dan berondong kuning(kelompok Everta) dikarakterisasi pada 15 sifat kuantitatif morfologi dan genotipenyamenggunakan delapan primer RAPD (OPA3, OPA5, OPA9, OPC8, OPC10, OPC3, OPC5,OPC8), serta menggunakan gen antosianin (Chs, Chi dan Pr1) dan gen sukrosa-pati(Sh1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan karakter morfologi, populasijagung berondong stroberi dan jagung berondong kuning memiliki kemiripan yang dekat.Hasil pengujian RAPD menghasilkan nilai keragaman dalam populasi sebesar 47 % danantar populasi sebesar 53 %. Nilai koefisien kemiripan berdasarkan RAPD sebesar 0,34?0,98. Keberadaan gen Chs, Chi dan Pr1 tidak dapat mengindikasikan adanya perbedaanpada keempat kelompok jagung, begitu juga dengan gen Sh1 tidak mengindikasikanadanya perbedaan diantara keempat kelompok jagung.
THE INFLUENCE OF THIDIAZURON ON DIRECT SOMATIC EMBRYO FORMATION FROM VARIOUS TYPES OF EXPLANT IN PHALAENOPSIS AMABILIS (L.) BLUME ORCHID Mose, Windi; Indrianto, Ari; Purwantoro, Aziz; Semiarti, Endang
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 24 No. 4 (2017): October 2017
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1348.365 KB) | DOI: 10.4308/hjb.24.4.201

Abstract

Phalaenopsis amabilis is an important national flower of Indonesia as a parent for orchidbreeding, so that needs a good strategy to produce high number of plants. The objective of this research is to analyze the use of thidiazuron (TDZ) for producing high number of plantlets, through directly induction of somatic embryos (SEs) from various explants. The method was used 20 each of protocorms, leaves, stems and roots as explants. The explants were dissected transversely, then put on various culture media: New Phalaenopsis (NP) and NP + (1, 2, 3) mgL?1 TDZ. Cultures were maintained at 25°C with continous white light. The formation of SEs was observed every week for 8 weeks. The results showed that SEs formation increased inline with the addition of TDZ concentration to the NP medium, for both velocity and amount of SEs formation. In NP0, SEs were formed at (26.07 ± 0.73) days after inoculation of protocorm, whereas on NP + (1, 2, and 3 mgL?1) TDZ, SEs were formed at (17.85 ± 0.67) days, (15 ± 0.64) days, and (11 ± 0.64) days, respectively. All types of explants formed SEs on NP + TDZ (1?3 mgL?1), whereas only 14 of 20 protocorms produced SEs (70%), and 8 of 20 stems formed SEs (40%) in NP0. In roots, SEs was formed on NP + 2 mgL?1 TDZ and NP + 3 mgL?1 TDZ. For stems, the highest amount of SEs (28.25 ± 1.07) was reached on NP + 3 mgL?1 TDZ, followed by protocorm (23.30 ± 1.13) SEs and roots (8.25 ± 0.68) SEs. In contrast, in NP0, the amount of SEs was very low (1.25 ± 0.46) from stem and (1.50 ± 0.65) from protocorms, there was no evidence of SEs formation in the leaves and roots.
ARTEMISININ PRODUCTION BY SHOOT CULTURE OF ARTEMISIA CINA BERG. EX POLJAKOV Marina, Maria; Purwantoro, Aziz; Soegihardjo, C. J.
INDONESIAN JOURNAL OF PHARMACY Vol 14 No 2, 2003
Publisher : Faculty of Pharmacy Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Skip Utara, 55281, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.881 KB) | DOI: 10.14499/indonesianjpharm0iss0pp322-325

Abstract

Artemisinin is a secondary metabolite has a potential effect as an antimalaria. Research in artemisinin content in A. cina from shoot culture have not been reported. The aim of this research were:(i) to know the ability of A. cina shoot culture to produce artemisinin, (ii) to asses the effect of concentration of yeast extract, sucrose and their combination in promoting the production of artemisinin, (iii) to determine the highest artemisinin concentration produced by shoot culture in the medium containing different concentration of yeast extract, sucrose and their combination. The factorial of randomised complex block design (RCBD) was used in this experimental design. The first factor was concentration of sucrose ( 1%, 3%, 5%, 7%) and the second factor was concentration of yeast extract (0 mg/l, 100 mg/l, 200 mg/l, 300 mg/l). HPLC was used. To analyse quantitatively the artemisinin production, analysis of variance (ANOVA) and DMRT were used to analyse the data. The results showed that the addition of yeast extract and sucrose increased the concentration of artemisinin from the A. cina shoot culture. The highest artemisinin content produced was 14.035 mg/g dry weights which was produced by combination of 3 % sucrose concentration and 200 mg/l yeast extract. This result suggest that A. cina shoot culture could be used as a method to producing artemisinin.Key words : Artemisinin, shoot culture, Artemia cina Berg. Ex Poljakov