Benny Hasan Purwara
Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung

Published : 19 Documents
Articles

Found 19 Documents
Search

FAKTOR RISIKO PENDERITA PROLAPSUS ORGAN PANGGUL TERHADAP HIATUS GENITALIS, PANJANG TOTAL VAGINA, DAN PERINEAL BODY Purwara, Benny Hasan; Armawan, Edwin; Sasotya, R. M. Sonny; Achmad, Eppy Darmadi
Majalah Kedokteran Bandung Vol 46, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1255.46 KB)

Abstract

Prolapsus organ panggul (POP) merupakan kondisi yang umum pada perempuan usia lanjut. Keluhannya bersifat prolapsus organ panggul (POP) merupakan kondisi umum bersifat progresif pada perempuan usia lanjut. Saat ini belum ada laporan mengenai hubungan antara komponen faktor risiko dan anatomi. Penelitian ini untuk mengetahui faktor risiko klinis POP serta pengaruhnya pada komponen anatomi penentu tahapan klinis kelainan tersebut. Penelitian dilakukan di Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Unpad/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Desember 2009?Mei 2010. Limapuluh dua pasien POP dibagi menjadi dua kelompok yaitu 30 subjek POP tingkat III dan 22 POP tingkat I-II. POP berasosiasi signifikan dengan usia, paritas, menopause, serta TSH. Usia ?50 tahun (OR=0,08; 95% IK=0,018-0,333 versus <50 tahun), paritas ?3 (OR=5,56; 95% IK=0,02-0,55 versus paritas <3), dan status menopause (OR=5,14; 95% IK=1,18-22,49 versus tidak menopause). Korelasi positif signifikan panjang hiatus genitalis (HG) dengan usia (r=0,656) dan paritas (r=0,539). Ukuran perineal body (PB) korelasi negatif signifikan dengan usia (r= -0,298) dan paritas (r=-0,335). Kelompok menopause menunjukkan peningkatan panjang HG dan penurunan ukuran PB yang signifikan. Panjang PB meningkat signifikan pada kelompok yang menerima TSH. Hubungan yang signifikan antara panjang total vagina (PTV) dan faktor-faktor risiko hanya menemukan pemendekan PTV signifikan pada usia >50 tahun. Simpulan, usia, paritas, dan menopause merupakan faktor risiko kemungkinan POP serta mempunyai korelasi dengan panjang GH dan PB dan progresivitas POP. [MKB. 2014;46(1):57?60]Kata kunci: Hiatus genitalis, panjang total vagina, perineal body, prolapsus organ panggulRisk Factors for Patients with Pelvic Organ Prolapse on Hiatus Genitalis, Total Vaginal Length, and Perineal BodyPelvic organ prolapse (POP) is a common and progressive condition in elderly women. Currently, there are no report regarding the relationship between risk factor and anatomical components. This research was to identify risk factors and its influence on the POP clinical anatomy component determining clinical stages of this disorder. The study was conducted at the Department of Obstetrics and Gynaecology, Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during the period of December 2009?May 2010. Fifty-two POP patients were participated, 30 subjects were in grade III and 22 subjects were in grade I?II. Found a significant association between age, parity, menopause, and hormone replacement therapy (HRT) and the incidence POP. Age >50 years (OR=0.08, 95% CI=0.018 to 0.333 versus <50 years), parity >3 (OR=5.56, 95% C1=0.02 to 0.55 versus parity <3), and menopausal status (OR=5.14, 95% CI=1.18 to 22.59 versus not menopausal). Long hiatus genetalis (HG) had a significant positive correlation to age (r=0.656), while HG had a significant positive correlation to parity (r=0.539). Size of the perineal body (PB) showed a significant negative correlation with age (r=-0.298) and parity (r=-0.335). Menopausal group showed significant increase in HG length and decrease in size of the PB compared to the premenopausal group. The PB length increased significantly in those receiving HRT (p=0.018). Significant relationship between total length of the vagina (PTV) and the risk factors was only found in the form of significant shortening of PTV at aged >50 years. In conclusion, age, parity, and menopause are risk factors for POP probability and has a correlation with HG length, PB and progression of POP. [MKB. 2014;46(1):57?60]Key words: Genital hiatus, pelvic organ prolapse, perinael body, total vaginal length DOI: 10.15395/mkb.v46n1.229
Perbedaan Pendidikan Kelompok Sebaya tentang Pendewasaan Usia Perkawinan di Perkotaan dan Perdesaan Follona, Willa; Raksanagara, Ardini S.; Purwara, Benny Hasan
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol 9 No. 2 November 2014
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.11 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v9i2.518

Abstract

Remaja berisiko terhadap pernikahan usia dini namun informasi tentang pendewasaan usia perkawinan masih kurang. Pendidikan kelompok sebaya merupakan metode pendidikan kesehatan yang sesuai untuk remaja, namun belum terlaksana di lingkungan masyarakat baik perkotaan maupun perdesaan. Selain itu, belum terfokus pada pendewasaan usia perkawinan, sehingga perlu diketahui perbedaan pengetahuan dan sikap tentang pendewasaan usia perkawinan setelah pendidikan kelompok sebaya pada remaja di perkotaan dan perdesaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan pendidikan kelompok sebaya tentang pengetahuan dan sikap mengenai pendewasaan usia perkawinan antara remaja di wilayah perkotaan dan perdesaan. Penelitian ini merupakan eksperimen semu dengan desain pretest-posttest pada 60 remaja yang dipilih secara acak sederhana di Desa Cileungsi (perkotaan) dan Desa Mampir (perdesaan) Kecamatan Cileungsi pada bulan Maret 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan kelompok sebaya dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja perkotaan serta perdesaan dengan p &lt; 0,001. Namun tidak terdapat perbedaan bermakna pada peningkatan pengetahuan maupun sikap dengan p &gt; 0,05. Pendidikan kelompok sebaya dapat dilaksanakan di berbagai wilayah sehingga diperlukan dukungan berbagai pihak untuk pelatihan pendidik sebaya bagi remaja dan pengembangan di lingkungan masyarakat. The Difference of Peer Education about Maturation Age of Marriage in Urban and Rural Areas Adolescents are at risk of having early marriage, but they still lack of information about maturation age of marriage. Peer education is a suitable method to provide adolescents with health education. However, health education given to adolescents both in urban society and rural society has never used this method, and has not been focused on maturation age of marriage. Therefore, it is necessary to find out the difference between knowledge and attitude of urban adolescents and those of rural adolescents about maturation age of marriage after peer education method is used. This study was aimed to analyze the difference impacts of peer education on maturation age of marriage among urban and rural adolescents. This is a quasi experimental study using pre-test and post-test design on 60 adolescents who are selected using a simple random sampling, from Cileungsi Village (urban area) and Mampir Village (rural area) in Cileungsi Sub-district in March 2014. The results show that peer education is able to improve the knowledge and attitude about maturation age of marriage of adolescents with p &lt; 0.001. However, it does not show any significant difference with p &gt; 0.05 in both knowledge and attitude. Peer education can be implemented in all regions. Therefore, supports from all stakeholders is necessary to make some training for trainers in peer education for teenagers and its development in society.
KNOWLEDGE OF MIDWIVES ON IUD COUNSELING Ferina, Ferina; Purwara, Benny Hasan; Setiawati, Elsa Pudji; Susiarno, Hadi; Abdurrahman, Muniroh; Sukandar, Hadyana
The Southeast Asian Journal of Midwifery Vol 5 No 1 (2019): The Southeast Asian Journal of Midwifery
Publisher : Asosiasi Pendidikan Kebidanan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The evaluation of IUD contraceptive services is still lack of quality until now. Many IUD&nbsp; acceptors choose to stop use contraception because they don't accept side effects such as bleeding, and fear of interfering with sexual intercourse. Adequate information from professional health personnel, in the form of counseling, is a very important step in helping women choose the best contraceptive method and according to their needs. The purpose of this study was to determine the relationship between education level and work period of midwives to the knowledge of midwives about IUD counseling. The research method uses a quantitative approach with a crossectional design. The number of respondents was 124 midwives Public Health Center in Bandung. The sampling technique uses consecutive sampling. Measurement of IUD counseling knowledge using a questionnaire that has been tested for validity and reliability using the Rasch Model with alpha chron-bach 0.87 (Good). Data were analyzed using SPSS 20 chi-square. The results of the study found that almost all of the 96% of respondents were lack of knowledge about counseling IUDs. The chi-square analysis results did not have a significant relationship between the level of education and knowledge of IUD counseling p = 0.548 (&gt; 0.05). There is no significant relationship between the period of work with knowledge of IUD counseling p = 0.081 (&gt; 0.05). Communication and counseling have been included in the Midwifery Diploma III education curriculum, but the level of education does not have a significant relationship to the knowledge of midwives about IUD counseling. This shows that the learning process in educational institutions has not been able to produce midwives who have knowledge of IUD counseling as expected.
Perbandingan Kejadian Infeksi Saluran Kemih setelah Pemasangan Kateter antara 24-36 Jam dan 36-48 Jam pada Pasien Pascaoperasi Ginekologi Kusumah, Windy Puspa; Purwara, Benny Hasan; Achmad, Eppy Darmadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 1 Maret 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.604 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Penggunaan kateter pada saat dilakukan operasi merupakan prosedur rutin termasuk  operasi ginekologi sehingga kandung kemih tetap kosong pada saat operasi serta mencegah jejas. Metode: Penelitian analitik komparatif dibagi menjadi 2 kelompok, pelepasan  24-36 jam dan  36-48 jam. Hasil dipstik leukosit diambil pre-operasi dan 24-36 jam dan 36-48 jam pasca-operasi. Hasil: Total terdapat 48 pasien dengan umur  antara 31-40 tahun  29.2% serta  umur 41-50 tahun 29.2%. Lama operasi  antara 1 sampai 2 jam sebanyak 54.2%. Kelompok 36-48 jam, hasil leukosit urine terbanyak (+) ada 62.5%. Pemasangan Kateter 24-36 jam yang awalnya (-) kelompok 36-48 jam menjadi (+) sebanyak 60.0%. Diskusi:Penelitian ini mengikutsertakan 63 subjek yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 48 orang yang dibagi menjadi dua kelompok. Pasien pascaoperasi dengan peningkatan leukosit urine ditemukan pada 57% subjek di kelompok pelepasan kateter 36-48 jam pasca operasi, sedangkan hanya 15% pada kelompok pelepasan kateter 24-36 jam pasca operasi. Kesimpulan: Pelepasan kateter pascaoperasi 36-48 jam, lebih banyak terjadi insidensi peningkatan leukosit urine dibandingkan kelompok 24-36 jam.Kata kunci: Infeksi saluran kemih, kateter pra-operasi, kateter pasca-operasiComparison of Urinary Tract Infections after the Insertion of Catheter between 24–36 Hours and 36–48 Hours on Post GynecologicSurgery PatientsAbstractObjective: Use of catheter during surgery is a routine procedure in every surgery, also gynecological surgery so the bladder remains empty during surgery. Catheter may prevent iatrogenic injury of the bladder caused by over-distention and atony due to anesthesia. Method: Unpaired categorical comparative analytic study with subjects were categorized into 2 groups, groups of patients in 24-36 hours catheters and patients in 36-48 hours post-surgery catheters. Urine leukocyte dipstick taken pre-surgery, 24-36 hours and 36-48 hours post-surgery. Result: A total of 48 patients were selected for data use for this study. For the longest operation time between 1 to 2 hours as much as 54.2%. For 24-36 hours urine leukocyte with negative results as much as 75%. While in the 36-48 hours catheter insertion there were 62.5%. Increasing of urine leukocyte result at 24-36 hours catheter insertion in 36-48 hours catheter insertion group. Discussion: The study included 63 subjects divided into two groups. Post-surgery patients with elevated urinary leukocytes were found in 57% of subjects in the 36-48 hours post-surgery catheter release group, while only 15% in the 24-36 hours catheter release group.Conclusion: Post-surgery catheters 36-48 hours, there was a greater incidence of urinary leukocyte increment than the group of patients with 24-36 hours post-surgery catheters.Keywords: Urinary tract infection, pre-surgery catheter, post-surgery catheter.
Pengaruh Program Pendidikan Kesehatan Reproduksi RemajaTerintegrasi terhadap Peningkatan Kontrol Diri di Kabupaten Indramayu Novianty, Atiek; Purwara, Benny Hasan; Dewi, Sari Puspa; Husin, Farid; Wahmurti, Tuti; Afriandi, Irvan
Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 2, No 2 (2015): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.814 KB) | DOI: 10.24198/ijemc.v2i2.54

Abstract

Permasalahan-permasalahan kesehatan reproduksi remaja terus meningkat di Kabupaten Indramayu, seperti masih tingginya perilaku seksual sebelum menikah, kehamilan remaja, perkawinan remaja, dan perceraian remaja. Berbagai permasalahan tersebut terjadi karena kontrol diri perilaku yang tidak berpegangan pada prinsip hidup sesuai dengan nilai. Pendidikan kesehatan reproduksi terintegrasi dengan mengajarkan nilai-nilai mulia diharapkan dapat dijadikan pedoman dalam bersikap dan berperilaku pada remaja. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi terintegrasi terhadap peningkatan kemampuan kontrol diri perilaku seksual pada remaja. Metode penilitian ini adalah Quasi eksperiment pre post design. Subjek penelitian ini adalah siswa SMUN di Kabupaten Indramayu yang berjumlah 144 orang  (kelompok perlakuan 72 dan kelompok kontrol 72). Teknik pengambilan sampel secara cluster. Pendidikan kesehatan reproduksi terintegrasi dilakukan pada kelompok perlakuan. Peningkatan kontrol diri diukur menggunakan kuesioner kontrol diri. Analisis data menggunakan uji kai kuadrat, mann whitney, Wilcoxon, dan uji kovarian. Hasil penelitian diketahui terdapat pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi terintegrasi terhadap peningkatan kontrol diri perilaku seksual pada remaja (p=0,041). Peningkatan kontrol diri perilaku seksual remaja pada kelompok kontrol sebesar 54,6% dan kelompok kontrol sebesar 48,7%. Ego diri (63,6%) dan temperamental (65,9%) merupakan dimensi kontrol diri yang signifikan terhadap perubahan kemampuan kontrol diri pada kelompok perlakuan.Simpulan  penelitian ini adalah terdapat pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi terintegrasi terhadap peningkatan kemampuan kontrol diri perilaku seksual pada remaja. Peningkatan kontrol diri perilaku seksual melalui pendidikan kesehatan reproduksi terintegrasi perlu dilakukan dan dilanjutkan dengan evaluasi dan supervisi secara berkala
Pengaruh Penerapan Booklet Kunjungan pada Akseptor KB Suntik 3 Bulan terhadap Pengetahuan, Sikap, dan Ketepatan Waktu Kunjungan Ulang Nurrasyidah, Nurrasyidah; Purwara, Benny Hasan; Herman, Herry; Husin, Farid; Djuwantono, Tono; Afriandi, Irvan; Sukandar, Hadyana
Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 3, No 1 (2016): Maret
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.786 KB) | DOI: 10.24198/ijemc.v3i1.50

Abstract

Tingkat keberlangsungan penggunaan alat kontrasepsi/ KB suntik 3 bulan semakin rendah dibandingkan kontrasepsi lain. Booklet kunjungan merupakan media yang digunakan untuk menyampaikan informasi tentang KB suntik 3 bulan yang bertujuan untuk meningkatkan keberlangsungan penggunaan secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan peningkatan pengetahuan, sikap, dan pengaruhnya terhadap ketepatan waktu kunjungan ulang.Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain quasi eksperiment dengan non equivalent pre-test post-test control group design, dengan jumlah sampel 31 orang/kelompok dengan teknik consecutive samplingdi Puskesmas Kejuruan Muda Aceh Tamiang pada periode 3 Juli‒28 Oktober 2015. Data dianalisis dengan UjiT tidak berpasangan atau ujiMann-Whitney(jika data tidak berdistribusi normal) untuk menguji perbedaan peningkatan pengetahuandan sikap,sedangkan uji Chi Square untuk menguji pengaruh penerapan booklet kunjungan terhadap ketepatan waktu kunjungan ulang. Instrument yang digunakan untuk mengukur pengetahuan dan sikap adalah kuesioner. Sedangkan ketepatan waktu kunjungan ulang dilakukan pengamatan melalui catatan kunjungan ulang yang dimiliki akseptor.Hasil analisis diperoleh persentase peningkatan pengetahuan pada kelompok perlakuan sebesar 33,3% sedangkan kelompok kontrol sebesar 25%. Pada sikap diperoleh persentase peningkatan kelompok perlakuan dan kelompok kontrol sebesar 0%.Perbedaan peningkatan pengetahuan dan sikap secara statistik tidak bermakna (p>0,05). Penerapan bookletkunjungan berpengaruh terhadap ketepatan waktu kunjungan ulang (p<0,05).Bookletkunjunganmerupakan media pendidikan kesehatan yang tidak berbeda dengan informasi yang disampaikan secara lisan dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap, namun berpengaruh terhadap ketepatan waktu kunjungan ulang akseptor KB suntik 3 bulan. Dengan penerapan yang maksimal akan lebih meningkatkan pengetahuan, dan sikap serta lebih menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya penggunaan KB suntik 3 bulan yang berkesinambungan.
Korelasi antara Kadar 25 Hidroksi Vitamin D3 dengan Kekuatan Levator Ani pada Primipara 42 Hari Pascapersalinan Spontan Sukarsa, Rizkar Arev; Yudha, Bharata; Madjid, Tita Husnitawati; Effendi, Jusuf Sulaeman; Purwara, Benny Hasan; Aziz, Muhammad Alamsyah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 2 September 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.113 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Menganalisis korelasi antara kadar 25 hidroksi vitamin D3 dengan kekuatan kontraksi levator ani pada primipara 42 hari pasca persalinan spontan. Metode : Penelitian observasional analitik dilakukan pada primipara pasca persalinan spontan yang memenuhi kriteria inklusi penelitian (n=48). Penelitian dilakukan di Poliklinik Obstetri dan Laboratorium Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin bulan Agustus-September 2017. Dilakukan pengukuran kadar vitamin D serum, serta pemeriksaan perineometer tonus basal dan kontraksi maksimal levator ani subjek. Data yang didapat diolah menggunakan SPSS 23 untuk windows.   Hasil: Terdapat korelasi positif antara kadar vitamin D dengan tonus basal levator ani (r=0,76, r2 = 0,58) dan antara kadar vitamin D dengan kontraksi maksimal levator ani (r=0,803, r2 = 0,645) yang bermakna secara statistik (p <0,05). Penelitian ini menunjukkan terdapat korelasi kuat dengan arah korelasi positif  antara kadar 25 hidroksi vitamin D3 dengan kekuatan kontraksi levator ani pada primipara 42 hari pasca persalinan spontan. Kesimpulan : Kadar vitamin D yang tinggi diduga akan meningkatkan kontraksi levator ani pada primipara pasca persalinan spontan. Kata kunci: 25 Hidroksi vitamin D3, kontraksi levator ani, perineometerAbstract Objective: To analyze the correlation between 25 hydroxy vitamin D3 levels with the strength of levator ani contraction at primipara 42 days post-spontaneous delivery. Method: Observational analytic study  was conducted on spontaneous postpartum primiparas meeting the inclusion criteria (n=48). The research was conducted in Obstetric Polyclinic and Clinical Serology Clinical Pathology Laboratory of Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/ Dr. Hasan Sadikin General Hospital  in August-September 2017. A serum vitamin D assay was performed, vaginal resting tone and maximum contraction of the levator ani was measured with the perineometer on the subject. Data was analyzed by SPSS 23 for windows. Results: There were positive correlation between vitamin D level and vaginal resting tone (r=0,76, r2=0,58) and between vitamin D level with maximum contraction of levator ani (r=0,803, r2=0,645) which was statistically significant (p<0.05). The study showed that there was a strong positive correlation  between the levels of 25 hydroxy vitamin D3 with the strength of levator ani contraction in primipara 42 days post-spontaneous delivery. Consclusion: High levels of vitamin D can supposedly improve levator ani contraction in primipara post spontaneous delivery. Key  words: 25 Hydroxy vitamin D3, levator ani contraction, perineometer
Perbandingan Fungsi Berkemih pada 3 Hari dan 5 Hari Katerisasi Urin Pascaoperasi Histerektomi Radikal pada Wanita Penderita Keganasan Serviks Stadium Awal Novianti, Astri; Purwara, Benny Hasan; Hidayat, Yudi Mulyana; Krisnadi, Sofie Rifayani; Tobing, Maringan Diapari Lumban; Armawan, Edwin
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 2 September 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.064 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Menganalisis perbandingan fungsi berkemih pada pemakaian kateter urin selama 3 hari dan 5 hari pasca operasi histerektomi radikal.Metode: Non-inferiority randomized controlled trial. Subjek penelitian adalah penderita kanker serviks di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung yang dilakukan operasi histerektomi radikal. Dilakukan penilaian fungsi berkemih dan kejadian infeksi saluran kemih sebelum dan setelah operasi hari ke−3 (kelompok intervensi) dan hari ke−5 (kelompok kontrol). Hasil: Pascaoperasi terjadi penurunan fungsi sensorik 8,5% pada kelompok intervensi dan 13,5% pada kelompok kontrol dan penurunan fungsi motorik 87,5% pada kelompok intervensi dan 150% pada kelompok kontrol. Kejadian infeksi saluran kemih meningkat 6,7% pada kelompok kontrol. Kesimpulan: Penggunaan kateter urin selama 3 hari pasca histerektomi radikal tidak lebih buruk dari 5 hari dan dapat digunakan sebagai manajemen pada penderita kanker serviks pasca histerektomi radikal. Kata kunci: Disfungsi berkemih pasca histerektomi radikal, kateter 3 dan 5 hari pasca histerektomi radikal, infeksi saluran kemih.AbstractObjective: To compare the urinary function after radical hysterectomy  with catheter usage for 3 days and 5 days. Method: A non-inferiority randomized controlled trial. Subjects were women diagnosed with cervical cancer that underwent radical hysterectomy in Hasan Sadikin Hospital Bandung. The study conducted by comparing urinary function and urinary tract infection in 3 days catheterization and 5 days catheterization after radical hysterectomy. Result: Post operation, there was decreased 8,5% sensory function in intervention group and 13,5% in control group and decreased 87,5% motoric function in intervention group and 150% in control group. The urinary tract infection increased about 6,7% in control group. Conclusion:3-days urethral catheterization following radical hysterectomy is non inferior to 5 days urethral catheterization and could be used for management of women with early stage cervical cancer after radical hysterectomy. Key  words: Urinary dysfunction after radical hysterectomy, 3 and 5 days catheterization after radical hysterectomy, urinary tract infection
Pengaruh Kinesio Taping terhadap Intensitas Low Back Pain pada Kehamilan Trimester Tiga Dewi, Mira Dyani; Anwar, Anita Deborah; Sasotya, R. M. Sonny; Zulkarnain, Rachmat; Krisnadi, Sofie Rifayani; Purwara, Benny Hasan; Susiarno, Hadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 1 Maret 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.947 KB)

Abstract

AbstrakTujuan: Penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik pasien Low Back Pain (LBP), menganalisis perbedaan penurunan intensitas LBP dan keterbatasan aktivitas pada kelompok yang diberikan kinesio taping dan parasetamol dengan kelompok yang diberikan parasetamol Metode : Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain eksperimental dengan melakukan uji klinis  metode Pretest-Posttest Control Group Design yang dilakukan dengan menilai sebelum dan setelah perlakukan pada kelompok kontrol dan intervensi. Hasil : Penelitian didapatkan perbedaan penurunan intensitas nyeri  Numeric Rating Scale (NRS) yang bermakna pada kelompok kontrol dan intervensi sebesar 33,3% dan 60% dengan nilai p<0,001  dan perbedaan penurunan keterbatasan aktivitas Rolland Morris Disability Questionaire (RMDQ) yang bermakna pada kelompok kontrol dan intervensi sebesar 25,0% dan 55,6% dengan nilai p<0,001. Kesimpulan : Terdapat perbedaan penurunan intensitas LBP dan  keterbatasan aktivitas yang bermakna pada kelompok yang mendapatkan intervensi kinesio taping dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan kinesio taping Kata kunci : kinesio taping, low back pain dalam kehamilan, keterbatasan aktivitas, numerical rating scale (NRS), Rolland Morris Disability Questionnaire (RMDQ)AbstractObjective : This research aims to analyze the characteristics patient who suffer LBP and to analyze the differences in LBP intensity and activity limitations in the groups that given kinesio taping and paracetamol with groups that given paracetamol only.Method: This research is quantitative research by conducting clinical test of Pretest-Posttest Control Group Design method which is done by assessing before and after treatment in control and intervention group. Result : The results showed significant difference in pain intensity Numeric Rating Scale (NRS) in control and intervention group by 33.3% and 60% with p <0.001 and significant difference in activity limitation Rolland Morris Disability Questionaire (RMDQ) in control and intervention group by 25.0% and 55.6% with p value <0.001. Conclusion : This research conclusion there was a significant differences in decreasing LBP intensity activity limitations in the group receiving the kinesio taping intervention compared with the control group who did not receive kinesio taping Key words : kinesio taping, low back pain in pregnancy, activity limitation, numerical rating scale (NRS), Rolland Morris Disability Questionnaire (RMDQ)
Ginekologi Kosmetik dari Paradigma Uroginekologi-Rekonstruksi Purwara, Benny Hasan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 2 Nomor 1 Maret 2019
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.604 KB)

Abstract

Sebagai spesialis uroginekologi, kami adalah spesialis yang menangani perubahan fungsional dan anatomi dasar panggul perempan sebagai akibat proses persalinan, penuaan, dan faktor lainnya. Banyak dari pasien kami yang ditemui setiap hari, juga mengeluhkan perubahan fungsi seksual dan penampilan estetika genital. Oleh karena itu kami  sebagai spesialis dasar panggul berkewajiban untuk memahami masalah ini dan mengatasinya atau merujuknya ke spesialis bedah yang berkualifikasi terbaik.Ginekologi Kosmetik telah menjadi salah satu subspesialisasi bedah uroginekologi elektif dengan pertumbuhan tercepat untuk perempuan dan termasuk spesialis kedalam bidang ginekologi, urologi, dan bedah plastik. Bidang minat khusus ini mencakup prosedur kosmetik untuk meningkatkan penampilan estetika daerah vulvo/vagina, serta perbaikan fungsional vagina dalam upaya  untuk meningkatkan atau membantu memulihkan fungsi seksual setelah perubahan yang mungkin terjadi setelah melahirkan dan/atau penuaan.