Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer

Pemodelan dan Evaluasi Proses Bisnis Menggunakan Quality Evaluation Framework (QEF) (Studi Kasus : Radjawali Sport) Puspitasari, Putri; Rachmadi, Aditya; Setiawan, Nanang Yudi
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 2 No 11 (2018)
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.889 KB)

Abstract

Radjawali Sport adalah perusahaan manufaktur yang bergerak dibidang produksi pakaian. Radjawali Sport memiliki konsumen yang tersebar diseluruh Indonesia. Banyaknya konsumen yang ada pada perusahaan menuntut Radjawali Sport untuk dapat memberikan layanan terbaik pada pelanggan. Namun pada kenyataannya layanan yang diberikan mengalami berbagai kendala sehingga tidak maksimal. Terlambatnya proses produksi dan komplain yang diterima menjadi masalah serius bagi perusahaan. Berdasarkan masalah tersebut dilakukan evaluasi untuk memperbaiki layanan. Evaluasi yang dilakukan menggunakan metode Quality Evaluation Framework (QEF). Tahap identifikasi aktivitas di perusahaan menggunakan metode value chain. Setelah melalui tahap value chain maka dilakukan dekomposisi untuk selanjutnya dilakukan pemodelan menggunakan Business Process Model and Nation (BPMN). Penentuan quality factor dilakukan untuk mengidentifikasi ketidaksesuaian hasil kalkulasi dengan target. Hasil perhitungan quality factor yang tidak sesuai akan dianalisis menggunakan Root Cause Analysis (RCA). Pada RCA terdapat metode fishbone diagram yang digunakan untuk mencari tahu akar permasalah. Hasil identifikasi menggunakan QEF didapatkan 7 quality factor yang tidak sesuai yaitu pada waktu pengiriman bahan baku, waktu pengecekan produk pada bagian penjahitan, proses penjahitan, waktu pengecekan produk pada bagian bordir, pengemasan, perbaikan produk, dan produksi ulang. Pada analisis akar permasalahan ditemukan 7 akar masalah yang terdapat pada keterbatasan pegawai, tidak terdapat pengecekan rutin oleh pemilik perusahaan, tidak terdapat aturan yang baku, metode yang digunakan pada penerimaan pesanan masih manual, tidak terdapat tenaga ahli, metode pendukung proses produksi masih manual, dan tidak terdapat pengecekan berkala.