Rachma Puspitasari
Research Center for Oceanography, Indonesian Institute of Sciences, Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur Jakarta Utara 14430

Published : 15 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Segara

Sensitivitas Nitzschia Sp Terhadap Tembaga dan Kadmium Puspitasari, Rachma; Purbonegoro, Triyoni
Jurnal Segara Vol 15, No 1 (2019): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.682 KB) | DOI: 10.15578/segara.v15i1.6491

Abstract

Penggunaan organisme uji yang sesuai dengan bahan yang diuji adalah faktor yang sangat penting dalam bioassay. Berbagai organisme uji tropis telah banyak digunakan di Indonesia seperti ikan, bulu babi, dan fitoplankton. Fitoplankton seperti Chaetoceros gracilis, Tetraselmis sp., Isochrysis sp., Pavlova sp., yang hidup di kolom air telah dimanfaatkan dengan baik untuk bioassay. Namun, fitoplankton bentik seperti Nitszchia sp. belum dikenal secara luas. Tulisan ini bertujuan untuk menguji potensi Nitzschia sp. sebagai biota uji sedimen. Parameter yang diteliti adalah kurva pertumbuhan dan sensitifitas terhadap kadmium dan tembaga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan Nitszchia sp. meningkat pesat pada hari keempat hingga hari keenam. Setelah hari keenam, pertumbuhannya cenderung menurun. Kepekaan terhadap toksikan diindikasikan dengan nilai IC50 (Inhibition Concentration) sebesar 0,078 mg/Luntuk tembaga dan 0,26 mg/L untuk kadmium. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Nitszchia sp. dapat digunakan sebagai organisme uji untuk bioassay sedimen karena memenuhi persyaratan kepadatan minimum uji serta sensitif terhadap kadmium dan tembaga. Nilai LOEC dan NOEC untuk tembaga berturut-turut sebesar 0,056 dan 0,032 mg/L sedangkan untuk kadmium sebesar 0,18 dan <0,18 mg/L. Nitzschia sp. tiga kali lebih sensitif terhadap tembaga dibandingkan dengan kadmium.
HEAVY METAL CONDITION IN KRAMAT KEBO ESTUARY, WEST JAVA, INDONESIA as HABITAT of Oryzias Javanicus Puspitasari, Rachma; Lestari, Lestari
Jurnal Segara Vol 14, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.103 KB) | DOI: 10.15578/segara.v14i2.6643

Abstract

Nowadays, contamination monitoring in Indonesia still focused on traditional method like only depend on measurement of chemical and physical parameter.  In addition, the use of organism, known as bioindicator brings some advantages such as knowing about habitat alteration and relationship between organism and environment. Fish from genus Oryzias had been known in Malaysia and Japan as a sensitive bioindicator. One of species, O. javanicus, was found in Kramat Kebo estuary, West Java, Indonesia. This preliminary study aims to determine metal distribution in water and sediment in Kramat kebo estuary, as a habitat of O. javanicus. It is also a preliminary study to assess possibility of O. javanicus as a bioindicator of heavy metal contamination in coastal area.  Sampling was conducted on March and September, 2014 and analysis of total metal was done by Atomic Absorbance Spectrophotometry. Result showed that metal in water still below the threshold value by Ministry of Environment. Metal in sediment analyzed by Sediment Quality Guidelines Quetiont (SQG-Q) index, showed that all stations has SQG-Q value < 0.1, which is means that Kramat Kebo estuary is unimpacted area. We conclude for this preliminary study that existence of O. javanicus were related to less polluted of heavy metal in estuary and it suitable for bioindicator of uncontaminated heavy metal area.
Evaluasi Penggunaan Ekstrak Lamun Sebagai Bahan Aktif Antifouling Terhadap Produsen Perairan Puspitasari, Rachma
Jurnal Segara Vol 12, No 1 (2016): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.02 KB) | DOI: 10.15578/segara.v12i1.7654

Abstract

Penggunaan TBT sebagai cat antifouling telah dilarang di dunia, oleh karena itu diperlukan bahan alternatif yang dapat menggantikannya. Fase awal dari fouling adalah pembentukan biofilm yang melibatkan bakteri. Cymodocea serrulata dan Syringodium isoetifolium diketahui berpotensi antibakteri terhadap Vibrio harveyii dan Bacillus subtilis. Sebelum dikembangkan lebih jauh sebagai bahan aktif cat antifouling, perlu diteliti keamanan dari lamun tersebut terhadap produsen primer perairan, salah satunya Chaetoceros graclis. Ekstrak kedua jenis lamun tersebut dipaparkan terhadap diatom selama 96 jam pada kondisi laboratorium dan dianalisis pengaruhnya terhadap pertumbuhan fitoplankton. Ternyata, S.isoetofolium menunjukkan penghambatan pertumbuhan diatom. Hasil dari uji anti bakteri dan bioassay menunjukkan bahwa lamun C. serrulata lebih potensial untuk dikembangkan sebagai bahan aktif cat antifouling daripada S. isoetifolium.