Articles

Found 31 Documents
Search

PARAMETER GENETIK DAN KORELASI GENOTIPIK KARAKTER BATANG DENGAN TOLERANSI KEREBAHAN 26 GENOTIP SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) Anas, Anas; Rachmadi, Meddy; Setiawan, Setiawan; Mansyur, Mansyur
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 5, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4811.705 KB) | DOI: 10.24198/ijas.v5i1.16655

Abstract

AbstractInformation of genetic variability and heritability of sorghum stem are very important for lodging-tolerant breeding program. Genotypic correlation of stem morphological character to lodging tolerance is very useful in selection program. The objectives of this experiment were to observe variability and heritability of stem character and to determine stem character that correlate with lodging tolerance. Field experiment was carried out in experimental station of Agriculture Faculty Universitas Padjadjaran. The results showed that all stem characters showed wide genetic variability except stem density and stem diameter. Low and medium heritability were showed also by stem density and stem diameter. Other stem characters showed high estimation of heritability value. Stem elasticity and number of inter-node showed negative correlation to oblique angles of stem. Other stem characters had no correlation with lodging tolerance.Keywords: genotypic correlation, heritability, lodging, sorghum, variability
KEKERABATAN 22 KLON BAWANG MERAH BERDASARKAN MARKA MIKROSATELIT (Genetic Relationship off 22 Shallot Clones Base on Microsatelit Marker) Pinilih, Joko; Rachmadi, Meddy; HK, Murdaningsih; Qosim, Warid Ali
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 5, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7656.071 KB) | DOI: 10.24198/ijas.v5i3.15057

Abstract

AbstrakBawang merah merupakan komoditas sayuran penting di Indonesia. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari hubungan kekerabatan 22 klon bawang merah. Penelitian dilaksanakan di Balai Besar Penelitian Biteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian di Bogor. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober sampai dengan bulan Desember 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tingkat  kemiripan genetik (genetic  similarity)  dari 22 genotipe yang  diuji  berkisar  antara  0,75  –  0,99,  hal ini  berarti   diantara  ke-22  genotipe   mempunyai  kekerabatan yang  dekat.AbstractShallot is important vegetable crops in Indonesia. The aim of research to study genetic relationship of 22 clones shallot with microsatellite molecular markers. Research was conducted at the Research Institute Biotechnology and Agricultural Genetic Resources in Bogor. The study was conducted in October to December, 2013. The results of research showed the genetic similarity of 22 genotypes were closely relationship obout  0.75 to 0.99.
Penampilan 15 Genotipe Kedelai Hitam (Glycine soja (L.) Merr) pada Pertanaman Tumpangsari 2:1 dengan Jagung Prayoga, M. Khais; Rachmadi, Meddy; Wicaksana, Noladhi
Agrikultura Vol 27, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.403 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i2.9988

Abstract

ABSTRAKPeningkatan minat petani untuk menanam kedelai dapat dilakukan melalui sistem tanam tumpangsari kedelai dengan jagung untuk mengurangi kemungkinan kerugian akibat gagal panen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagimana penampilan karakter daya hasil 15 genotipe kedelai hitam pada pertanaman tumpangsari pola 2:1 dengan jagung. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen berdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 15 genotip kedelai hitam sebagai perlakuan yang diulang sebanyak dua kali. Percobaan disusun dalam pertanaman 2:1 (dua baris kedelai dan satu baris jagung). Pengamatan dilakukan terhadap karakter daya hasil yaitu jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, bobot 100 biji, bobot biji per tanaman, dan bobot biji per baris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe-genotipe yang lebih unggul dibandingkan dengan kultivar Cikuray dan Malika adalah BTN 1, BTN 2, BTN 5, dan CK 5 pada karakter jumlah biji per tanaman, genotipe CK 15 pada karakter jumlah polong per tanaman, genotipe SM 2 pada karakter jumlah polong per tanaman dan jumlah biji per tanaman, serta genotipe CK 0, KA 6, dan KA 7 pada karakter jumlah polong per tanaman, jumlah biji per tanaman dan bobot biji per baris.Kata Kunci: Kedelai hitam, Tumpangsari, Daya hasil
Penampilan Fenotipik, Variabilitas, dan Heritabilitas 32 Genotipe Cabai Merah Berdaya Hasil Tinggi Qosim, Warid Ali; Rachmadi, Meddy; Hamdan, Jajang Sauman i; Nuri, Ihsanudin
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 41 No. 2 (2013): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.336 KB) | DOI: 10.24831/jai.v41i2.7519

Abstract

Information of phenotypic performance, genetic variability and heritability estimation are very important to improve the yield of red pepper. The aims of this research was to obtain the information on the phenotypic performance, variability and heritability of 32 high yielding genotypes of red pepper. The experiment was arranged in randomized complete block design in which 32 genotypes of red pepper were used as a treatment. The results showed that the genotypes of BPH 0604, KRT 2, RMCK I, RMCK II, and UPKRT I 99 performed better than others in the fruit characters such as number of fruits per plant, number of fruit per plot, weight per fruit, fruit weight per plant, fruit weight per plot. The genetic and phenotypic variability were considerably wide for characters such as plant height, flowering time, stem diameter, leaf width, length of peduncle, petiole length, fruit diameter, number of fruits per plant, number of fruit per plot, and weight per fruit. Heritability estimation of plant height, flowering time, stem diameter, fruit diameter, number of fruits per plant, number of fruit per plot, weight per fruit, fruit weight per plant and fruit weight per plot were high.Keyword: Capsicum annuum, genetic material, high yielding variety, plant breeding
Penampilan Karakter Agronomi 16 Genotip Kedelai (Glycine max L. Merrill) pada Pertanaman Tumpangsari dengan Jagung (Zea mays L.) Pola 3:1 Wijaya, Acep Atma; Rahayu, Hana D; Oksifa, Adi R. H.; Rachmadi, Meddy; Karuniawan, Agung
Jurnal Agro Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/436

Abstract

Kedelai merupakan komoditas pertanian yang sangat penting di Indonesia. Namun, produksi kedelai nasional belum dapat memenuhi kebutuhan kedelai nasional. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan pola tanam tumpangsari kedelai dengan jagung. Penelitian ini bertujuan untuk mencari genotip kedelai yang mampu beradaptasi pada pertanaman tumpangsari dengan jagung pola 3:1 serta menghitung produktivitas penggunaan lahan setiap genotip pada pertanaman tumpangsari dengan jagung pola 3:1. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Kelompok (RAK). 16 genotip kedelai digunakan sebagai perlakuan, dan diulang sebanyak dua kali. Untuk melihat respons genotip pada pertanaman tumpangsari dilakukan dengan uji Least Significant Increase (LSI) pada taraf signifikansi 5%. Pendugaan produktivitas lahan pada setiap genotip dihitung berdasarkan nilai Nisbah Kesetaraan Lahan. Hasil penelitian ini menunjukkan genotip kedelai yang memperlihatkan respons paling baik pada pertanaman tumpangsari kedelai jagung dibandingkan kultivar cek untuk tinggi tanaman yaitu genotip BTN 5 dan JT 3, karakter jumlah cabang produktif yaitu genotip BTN 5, karakter luas daun dan indeks luas daun yaitu genotip JT 3, karakter sudut daun yaitu genotip CK 6, karakter bobot per plot yaitu genotip KBI 2, dan Nisbah Kesetaraan Lahan yaitu genotip CK 6 dan KBI 2.Genotip   BTN 1, BTN 2, BTN 5, CK 15, CK 6, JT 3, KA 6, KA 7, KBI 2, KH 8, Cikuray dan Malikka memiliki nilai NKL lebih besar dari 1,0. Soybean is one of important agricultural commodity in Indonesia. However, the national soybean production is not sufficient to meet the needs of national soybean. Effort to do is by applying an intercropping soybean with corn. The objectives of the research was to find soybean genotypes that can adapt to intercropped plantation with corn in pattern of 3 : 1 as well as the productivity of the land use of each genotype in intercropping with maize in 3 : 1 pattern. The research used an experimental method randomized block design (RBD), 16 soybean genotypes as treatments, and repeated twice. To see the response of genotype in intercropping planting was done by using Least Significant Increase (LSI) at the level of significant 5%. Estimation of land productivity on each genotype was calculated with Land Equation Ratio value. The results showed that the best response of soybean genotype compared checks cultivar for plant height were genotype BTN 5 and JT 3, character number of productive branches was genotype BTN 5, the character of leaf area and leaf area index was genotype JT 3 , leaf angle character was genotype CK 6, characters of weights per plot was KBI 2 genotype and Land Equation Ratio value were  CK 6 and KBI 2. Genotypes of BTN 1, BTN 2, BTN 5, CK 15, CK 6, JT 3, KA 6, KA 7, KBI 2, KH 8, Cikuray and Malikka had Land Equivalent Ratio values greater than 1.0.
Pengaruh dosis silika terhadap karakter fisiologı dan hasil tanaman padi (Oryza sativa L.) kultivar lokal poso (kultıvar 36-Super dan Tagolu) Tampoma, Wan Priando; Nurmala, Tati; Rachmadi, Meddy
Kultivasi Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Pertanian UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.944 KB)

Abstract

Padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu jenis tanaman yang memegang peran penting di Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pangan. Tanaman padi kultivar lokal merupakan salah satu jenis padi yang memiliki poduktivitas rendah. Pemberian silika pada pertanaman padi dapat membantu mengoptimalkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh silika terhadap karakter agronomi kultivar lokal Poso. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT). Faktor pertama sebagai petak utama terdiri dua taraf perlakuan yaitu K1 (Kultivar 36-Super) dan K2 (Kultivar Tagolu). Sedangkan faktor ke dua sebagai anak petak terdiri atas 4 taraf perlakuan yaitu S0 (tanpa silika), S1 (konsentrasi silika 0,5 ltr/ha), S2 (konsentrasi silika 1 ltr/ha) dan S3 (konsentrasi silika 1,5 ltr/ha).Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi silika terhadap kultivar pada karakter fisiologi dan hasil tanaman padi kultivar lokal Poso. Kutivar 36-Super menghasilkan respon terbaik pada bobot kering tanaman bersar (45,08) dan umur panen (139,50) dan jumlah malai per rumpun (26,67). Kultivar Tagolu menghasilkan respon terbaik pada jumlah gabah per malai (164,09) lebih besar dibandingkan kultivar 36-Super. Konsentrasi silika 1 L/ha menghasilkan respon terbaik terhadap sudut daun ke-2 dan ke-3 (31,38), sudut daun bendera (18,75) bobot kering tanaman (40,67), bobot gabah per rumpun (57,77) dan bobot 1000 butir (22,48). Sedangkan perlakuan tanpa silika menghasilkan respon terbaik terhadap umur panen (131,08). Kata kunci : Kutivar 36-Super, Kultivar Tagolu, Genangan, Pupuk Silika
Hasil benih empat kultivar kedelai yang ditanam di dataran medium dan dataran tinggi Sumadi, Sumadi; Kadapi, Muhammad; Nuraeni, Anne; Wicaksana, Noladhi; Rachmadi, Meddy; Rodiah, S
Kultivasi Vol 16, No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Pertanian UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (928.69 KB) | DOI: 10.24198/kltv.v16i3.13224

Abstract

ABSTRAK                    Pertumbuhan  dan  hasil suatu tanaman merupakan hasil interaksi antara karakter genetik setiap kultivar dengan lingkungan tumbuhnya. Tujuan penelitian ini adalah  menetapkan kultivar kedelai yang paling cocok ditanam pada musim hujan di dataran medium ( ± 753 m dpl)  dan dataran tinggi ( ± 1200 m dpl) . Penelitian merupakan percobaan lapangan dilaksanakan pada April sampai dengan Juli 2016. Percobaan dirancang dalam Rancangan Acak Kelompok sederhana  yang menguji kultivar meliputi Anjasmoro,  Argomulyo , Arjasari dan Grobogan yang diulang 5 (lima) kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa secara umum potensi hasil kedelai di dataran medium hasilnya lebih tingggi dibandingkan  yang ditanam di dataran tinggi. Kultivar Anjasmoro dan Arjasari hasinya secara nyata lebih tinggi dibandingkan kultivar Grobogan dan Argomulyo, baik yang ditanam di dataran tinggi maupun dataran medium. Masing-masing 16.96 g, 14.41 g, 8. 21g dan 7.40 g yang ditanam di datarn medium atau setara dengan 2.71 , 2.31 , 1.31  dan 1.20 ha-1, sedangkan yang ditanam di dataran tinggi sebesar 1.09, 0.99, 0.67 dan 0.85 ton ha-1. Kultivar Anjasmoro dan Arjasari merupakan kultivar kedele yang lebih adaptif dibandingkan kultivar Grobogan dan Argomulyo. Ukuran biji kultivar Grobogan  paling besar dibandingkan ketiga kultivar lainnya, tetapi hasilnya paling rendah. Walaupun demikian  tidak berpengaruh secara nyata terhadap kualitas benih yang dihasilkan. Kata kunci : kedele, kultivar , dataran medium, dataran tinggi, hasil benih 
POLA SEGREGASI PEWARISAN KARAKTER BUTIR KAPUR DAN KANDUNGAN AMILOSA BERAS PADA GENERASI F2 BEBERAPA HASIL PERSILANGAN PADI (Oryza sativa L.) Carsono, Nono; Eldikara, Ranggi; Sari, Santika; Damayanti, Farida; Rachmadi, Meddy
Chimica et Natura Acta Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Departemen Kimia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.889 KB) | DOI: 10.24198/cna.v2.n2.9156

Abstract

Mutu beras merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat penerimaan konsumen terhadap suatu varietas. Persilangan dan seleksi merupakan salah satu kegiatan pemuliaan tanaman untuk merakit tanaman guna memperolah genotip padi yang memiliki kualitas beras tinggi. Untuk menentukan metode seleksi mana yang paling efektif untuk suatu karakter, terutama mutu beras perlu adanya informasi bagaimana karakter tersebut dikendalikan dan diwariskan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi pola pewarisan beberapa karakter mutu beras, antara lain butir kapur, dan kandungan amilosa. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai September 2012 di Laboratorium Analisis Tanaman dan Bioteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu 300 butir beras F2 hasil persilangan Ciherang x Pandanwangi, Pandanwangi x Ciherang, Ciherang x Basmati, dan Basmati x Ciherang. Sedangkan untuk masing-masing tetua digunakan Ciherang, Pandanwangi, dan Basmati. Sebanyak 20 butir beras digunakan untuk pengujian karakterbutir kapur dan 5 butir beras untuk pengujian kandungan amilosa. Berdasarkan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov sebaran data untuk karakter bentuk beras kedua seri persilangan, sedangkan uji segregasi menggunakan metode Chi-kuadrat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakter butir kapur dan kandungan amilosa diwariskan secara simplegenic, sehingga proses seleksi dapat dilakukan pada generasi awal, khususnya pada hasil persilangan Ciherang x Pandanwangi dan Pandanwangi x Ciherang, sedangkan untuk persilangan Ciherang x Basmati dan Basmati x Ciherang, kedua karakter diwariskan secara kuantitatif. Latar belakang genetik tetua menentukan pola pewarisan karakter kandungan amilosa.
Principal Component Analysis (PCA) Karakter-karakter Umbi Wortel (Daucus carota L.) Varietas Lokal Asal Sibayak Fitriah, Al Findy Yuhibba; Rachmadi, Meddy; Carsono, Nono
Zuriat Vol 29, No 2 (2018): Zuriat Vol. 29 No. 2 (Desember 2018)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v29i2.19803

Abstract

Wortel merupakan salah satu tanaman sayuran yang populer dengan berbagai manfaat. Permintaan wortel dengan kualitas yang baik semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Varietas lokal Sibayak memiliki banyak keunggulan dengan beberapa karakter yang tidak diterima pasar modern.Upaya peningkatan kualitas wortel telah dilakukan dengan metode seleksi. Pada proses seleksi, banyak karakter yang harus diamati untuk efektifitas seleksi. Principal Component Analysis (PCA) dapat mengurangi sejumlah karakter. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi karakter penting yang dapat dijadikan sebagai karakter penciri wortel asal Sibayak berdasarka Principal Component Analysis (PCA). PCA memperoleh empat variabel baru berupa PC yang menggambarkan variasi populasi wortel lokal Sibayak. Keempat PC tersebut terdiri dari karakter panjang umbi, bobot umbi, tipe umbi, diameter umbi bawah dan warna umbi. Variabel baru yang terbentuk mampu menjelaskan 72,376% variasi total pada populasi wortel lokal Sibayak. Hasil tersebut menunjukkan bahwa efektifitas seleksi dapat dicapai dengan menseleksi karakter panjang umbi, bobot umbi, tipe umbi, diameter umbi bawah dan warna umbi.
Pewarisan Karakter Ketahanan Terhadap Antraknos (Colletotrichum gloeosporoides) Pada Hasil Persilangan Tanaman Cabai Ungu x Cabai Merah Genotip RS07 Yustisiani, Dewi; W., Winny Dewi; Rachmadi, Meddy; Ruswandi, Dedi; Rostini, Neni; Setiamihardja, R.
Zuriat Vol 17, No 2 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i2.6746

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pewarisan ketahanan terhadap penyakit antraknos pada cabai merah. Percobaan lapangan dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti, Tanjungsari, Sumedang dan percobaan laboratorium dilakukan di Laboratorium Ilmu Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor sejak bulan Januari sampai bulan April 2004. Bahan penelitian di lapangan terdiri atas populasi P1 (cabai ungu), P2 (cabai merah RS07), F1 (cabai ungu × cabai merah RS07), BC11, BC12, dan F2. Hasil percobaan lapangan, menunjukkan bahwa pewarisan karakter ketahanan cabai hasil persilangan cabai ungu × cabai merah RS07 terhadap antraknos dikendalikan oleh gen sederhana dengan rasio 13:3 (epistasis, dominan, dan resesif). Nilai duga heritabilitas dalam arti sempit tergolong sedang dan dalam arti luas tergolong tinggi, dengan nilai harapan kemajuan genetik yang tergolong cukup tinggi. Hasil percobaan laboratorium, menunjukkan bahwa pewarisan karakter ketahanan tanaman cabai hasil persilangan cabai ungu × cabai merah RS07 terhadap antraknos dikendalikan oleh gen sederhana dengan rasio 13:3 (epistasis, dominan, dan resesif). Nilai duga heritabilitas dalam arti sempit maupun arti luas, dengan nilai harapan kemajuan genetik yang tergolong tinggi.