Articles

Found 93 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

KEBERADAAN PROGRAM SIARAN LOKAL DI TELEVISI BERJARINGAN (STUDI IMPLEMENTASI KEBIJAKAN MEDIA TERHADAP PROTV) Hari Putri, Eva Ratna; Rahardjo, Turnomo; Lukmantoro, Triyono; Yulianto, Much.
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta, Peraturan Menteri Kominfo Nomor 43 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Melalui Sistem Stasiun Jaringan oleh Lembaga Penyiaran Swasta Jasa Penyiaran Televisi dan juga Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) merupakan kebijakan media yang memuat mengenai Sistem Siaran Jaringan (SSJ). Undang-undang penyiaran tersebut mengamanatkan bahwa televisi swasta yang mengudara secara nasional wajib mendirikan badan hukum baru, melepas stasiun relai, melepas saham secara bertahap serta pancaran siaran tidak boleh dilakukan dengan pancaran siaran relai. Sistem Stasiun Jaringan adalah tata kerja yang mengatur relai siaran secara tetap antarlembaga penyiaran. Salah satu televisi lokal di Semarang yang bergabung dengan Sistem Stasiun Jaringan yaitu PROTV yang berjaringan dengan SINDO TV. Kebijakan ini lahir dengan semangat diversity of content (keberagaman isi) dan diversity of ownership (keberagaman pemilik), yang menjelaskan bahwa semakin beragam isi siaran dan semakin beragam distribusi kepemilikan media maka ranah penyiaran akan semakin demokratis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui praktik kebijakan sistem stasiun jaringan dan keberadaan program siaran lokal di PROTV.Hasil penelitian yang didapatkan adalah implementasi sistem stasiun jaringan di PROTV sebagai anggota jaringan SINDOTV belum berjalan dengan ideal. Faktor kepemilikan menyebabkan adanya dominasi kekuasaan dari pemilik modal melalui berbagai keputusan yang memengaruhi keberadaan program siaran lokal. Terjadi pengurangan slot time bagi program siaran lokal dan pergeseran prime time program siaran lokal di PROTV. Kata kunci: sistem stasiun jaringan, program siaran lokal, keberagaman
INTIMATE RELATIONSHIP IN TA’ARUF COUPLE Diani, Marlia Rahma; Herieningsih, Sri Widowati; Rahardjo, Turnomo; Naryoso, Agus
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Marriage is something coveted in every relation. There are some ways of introducing to acouple before the wedding. Ta?aruf couples through their introducing and also developing oftheir relationship in a very short. So they didn?t know each other in a specific things.Communication between ta?aruf couples also must go by a mediator. It causes for thedistortions messages in their communication. Besides information about the couple obtainedfrom the process of ta?aruf is also limited because of the intercommunication limits that mustbe obeyed restrictions in accordance with islamic syariah.The purpose of this research is to find the experience of the ta?aruf couples in undergothe process at the communication time and knowing that occur in pairs of closeness inrelationships or intimate relationship. The used theories are Penetration Social Theory byIrwin Altman Damask and Taylor and the Dialectics Relational Theory by Baxter andMontgomery. To describe in detail to the development of intimate relationship in the ta?arufcouples. This research is using qualitative methodology with the approach phenomenology.Subject in this research is the newly married ta?aruf couples, with two or three months ofmarried using ta?aruf process.Based on the results, ta?aruf became a means to know each other and get informationfrom each other to minimize uncertainty information between one another. The ta?arufcouples began to minimize the uncertainly general information of themselves by exchangetheir curriculum vitae who mediated by a mediator.Trust, self disclosure, and responsibilities are becoming a key in relations developingfor a familiar intercourse between ta?aruf couples. In facing a conflict, a ta?aruf couple like todiscussing with a mediator to the conflict that appears. So it would not be a failed factor inta?aruf process.
SIKAP MEDIA, CITRA PERSONAL DAN PENGHAPUSAN APBD UNTUK WARTAWAN (ANALISIS ISI BERITA GUBERNUR JAWA TENGAH DI SUARA MERDEKA, TRIBUN JATENG, DAN RADAR SEMARANG) Monicaningsih, Aisyah; Dwiningtyas, Hapsari; Setyabudi, Djoko; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adanya pemberitaan di berbagai media cetak mengenai penghapusan APBD untuk wartawan di Provinsi Jawa Tengah menjadi dasar kajian penelitian yang mempersoalkan bagaimana perbedaan sikap Surat Kabar Suara Merdeka, Tribun Jateng, dan Jawa Pos Radar Semarang terhadap citra (personal image) dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebelum dan sesudah adanya kebijakan penghapusan APBD untuk wartawan ?Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan sikap ketiga surat kabar dan citra (personal image) dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebelum dan sesudah adanya kebijakan penghapusan APBD untuk wartawan. Penelitian ini menggunakan teori Agenda Setting dan konsep Citra Personal (Personal Image). Tipe penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan mengacu pada metoda analisis isi media. Subjek penelitian yang diambil dalam penelitian ini adalah Suara Merdeka, Tribun Jateng, dan Radar Semarang dengan unit observasinya adalah 82 berita terkait Gubernur. Sementara itu teknik analisis statistik Independent T-test dan Anova One Way digunakan untuk mencapai tujuan penelitian. Hasil uji T yang digunakan untuk mengetahui perbedaan sebelum dan sesudah penghapusan APBD untuk wartawan menunjukan rata-rata signifikansi sikap media 0,466 > 0,05. Kemudian rata-rata signifikansi citra personal adalah 0,137 > 0,05. Ini memperlihatkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kondisi sebelum dengan sesudah adanya kebijakan penghapusan pembiayaan untuk wartawan dari APBD Jawa Tengah. Sedangkan hasil uji F untuk mengetahui perbedaan dari ketiga media sebelum dan sesudah penghapusan APBD untuk wartawan menunjukan rata-rata signifikansi 0,000 < 0,05 yang menunjukan ada perbedaan signifikan antara ketiga surat kabar tersebut.Penelitian ini disimpulkan tidak terdapat perbedaan sikap media dan citra personal Gubernur Jawa Tengah, antara kondisi sebelum dengan sesudah adanya kebijakan penghapusan pembiayaan untuk wartawan dari APBD Jawa Tengah. Lalu terdapat perbedaan sikap media dan citra personal Gubernur Jawa Tengah sebelum dan sesudah penghapusan APBD untuk wartawan di ketiga surat kabar harian (Suara Merdeka, Radar Semarang, dan Tribun Jateng). Kata Kunci: sikap media, citra personal
MEMAHAMI PENERIMAAN PEMBACA FASHION BLOG HIJABERS (PENGGUNA HIJAB MODERN) TERHADAP PERGESERAN MAKNA PENGGUNAAN HIJAB (ANALISIS RESEPSI TERHADAP BLOG DIAN PELANGI) Aini, Qury; Rahardjo, Turnomo; Lestari, Sri Budi
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nama : Qury AiniNIM : D2C009124Judul : Memahami Penerimaan Pembaca Fashion Blog Hijabers (Pengguna Hijab Modern) Terhadap Pergeseran Makna Penggunaan Hijab(Analisis Resepsi Terhadap Blog Dian Pelangi)ABSTRAKPerkembangan tren fashion busana muslim yang semakin melesat di Indonesia menjadi pusat perhatian masyarakat hingga ke mancanegara. Hal itulah yang akhirnya membuat banyak wanita muslimah berani menggunakan hijab dan banyak bermunculan komunitas hijabers (pengguna hijab modern), dengan menampilkan konstruksi wanita berhijab yang dulunya tradisional menjadi modern. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan melalui fashion blog Dian Pelangi, dan memahami penerimaan pembaca fashion blog Dian Pelangi terhadap pergeseran makna penggunaan hijab. Teori yang digunakan Fashion as Communication (Malcolm Barnard, 2002) serta Masyarakat Pascamodern dan Budaya Konsumsi (Jean Baudrillard dalam Yasraf Amir, 1998). Tipe penelitian ini analisis resepsi Stuart Hall. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan indepth interview kepada enam informan yang telah dipilih oleh peneliti, yakni pembaca blog wanita yang aktif atau pernah aktif membaca blog Dian Pelangi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembaca fashion blog Dian Pelangi dapat melihat pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan Dian Pelangi melalui blognya tersebut. Pergeseran makna penggunaan hijab yang diuraikan yakni, busana muslim yang dikenakan menjadi sangat fashionable, atribut fashion berupa barang-barang branded yang dikenakan Dian Pelangi, serta model hijab dengan selera fashion yang high classdalam blognya menunjukkan bahwa kini wanita berhijab mencerminkan sebagai sekelompok orang dengan status sosial menengah ke atas. Banyaknya variasi model busana muslim yang membuat penampilan wanita muslimah tidak lagi membosankan juga membuat hijab diterima di semua ranah lingkungan. Pergeseran ini terjadi karena adanya perkembangan tren fashion yang selalu berputar sepanjang waktu. Kemudian penerimaan pembaca terhadap pergeseran makna penggunaan hijab sendiri dapat dilihat dari penampilan hijab yang mereka gunakan, dimana mereka harus mengikuti perkembangan zaman demi menunjang kepercayaan diri dalam pergaulan. Sehingga membuat mereka harus menggunakan hijab yang fashionable. Mereka sesekali juga mengakui jika pernah berpenampilan seperti Dian Pelangi. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembaca menerima kegunaan hijab sebagai sebuah gaya hidup yang mencerminkan identitas dan status sosial kelas sebagai sekelompok orang sosialita sesuai dengan tren fashion yang sedang berkembang.Kata kunci : Penerimaan pembaca, hijabers, fashionableName : Qury AiniNIM : D2C009124Title : Understanding The Readers Acceptance of Hijabers (Modern Veil Users) Fashion Blogto Shift The Meaning of The Veil Use(Reception Analysis to Dian PelangiBlog)ABSTRACTThe growth of Moslem fashion trend are increasingly darted in Indonesia to be the center of attention tillforeign country. That is what ultimately makes a lot of Moslem women use the veil bravely and many communities called hijabers (modern veil users) are springing up, with construction the women features which used traditional veil became modern. The purpose of this research is to find out the shifting meanings of the veil use and understand the readers acceptance on it that are constructed on Dian Pelangi fashion blog. Theories used are Fashion as Communication (Malcolm Barnard, 2002) also Pascamodern Community and Consumption Cultural (Jean Baudrillard in Yasraf Amir, 1998). This type of research is Stuart Hall reception analysis. Data collection technique is done by using indepth interview with six informants who were selected by the researcher, they are active women readers or have actively read Dian Pelangi blog.The results of this study showed that Dian Pelangi fashion blog readers saw a shift meaning of the veil use which constructed in Dian Pelangi blog. Those are veil worn to be very fashionable, fashion attributes such as branded goods imposed DianPelangi, and the veil models with high class fashion sense in her blog shows that veil user now reflect the veil as a group of people with status middle to upper social. The great variation in Moslem fashion model who made her appearance is no longer boring, veil is also made welcome in all aspects of the environment. This shift is due to the development of the fashion trends are always spinning all the time. Then acceptance of the shifting meanings readers use their own veil can be seen from the appearance of veil that they use, where they must keep abreast of the times in order to support confidence in the association. Thus making them have to use a fashionable veil. Occasionally they also recognize if it ever look like Dian Pelangi. This study shows that the readers accept use of the veil as a lifestyle of the socialite class social status and identity in accordance with emerging fashion trends.Keywords : Readers acceptance, hijabers, fashionable.Memahami Penerimaan Pembaca Fashion Blog Hijabers (Pengguna Hijab Modern) Terhadap Pergeseran Makna Penggunaan Hijab(Analisis Resepsi Terhadap Blog Dian Pelangi)SkripsiPENDAHULUANBerbusana merupakan hal yang tidak akan pernah lepas dari perhatian setiap individu, karena hal ini bisa menjadi penilaian tersendiri dari orang lain terhadap karakter masing-masing individu tersebut. Biasanya orang akan memilih busana yang sedang populer pada jangka waktu tertentu, hal tersebut biasanya kita kenal dengan istilah fashion. Fashion membuat setiap individu dapat mengekspresikan apa yang sedang dirasakan melalui pilihan warna yang digunakan, corak ataupun model yang digunakan, karena fashion dipandang memiliki suatu fungsi komunikatif. Busana, pakaian, kostum, dan dandanan adalah bentuk komunikasi artifaktual (artifactual communication) yaitu komunikasi yang berlangsung melalui pakaian dan penataan berbagai artefak, misalnya pakaian, dandanan, barang perhiasan, kancing baju, atau furnitur di rumah anda serta penataannya, ataupun dekorasi ruang. Karena fashion, pakaian atau busana menyampaikan pesan-pesan non verbal, ia termasuk komunikasi non verbal (Idi Subandy, 2007 : vii).Berbicara tentang fashion, akhir-akhir ini sedang maraknya fashion di kalangan muslimah. Busana muslim yang dulunya dianggap sebagai busana yang islami, menggambarkan kesan tradisional, monoton, ketinggalan zaman, kuno, dan sebagainya, berbeda cerita dengan sekarang yang sudah menjadi tren di masyarakat. Hal tersebut nampaknya semakin dikonstruksikan melalui munculnya hijabers community yaitu komunitas yang terdiri dari sekelompok remaja maupun dewasa yang memakai hijab dengan gaya terkini. Komunitas tersebut awalnyatercetus dari seorang designer muda cantik yaitu Dian Pelangi yang merancang busana-busana trendy khususnya busana muslim dengan tujuan menginspirasi wanita muslimah untuk mengenakan busana muslim. Sejak kemunculan dirinya lah, eksistensi muslimah semakin meningkat. Sesuai dengan nama belakangnya ?Pelangi? pilihan warna yang digunakan pada rancangan busananya memang menunjukkan image yang unik, colourful, ceria, energik, muda, dan stylish (baca:pandai memadupadankan gaya). Konsep yang dipakainya adalah tie dye, dan mix and match berbagai warna yang kontras layaknya warna pelangi.Melalui blognya yang diberi nama The Merchant Daughter dalam www.dianrainbow.blogspot.com, Dian Pelangi mengekspresikan segala sesuatu tentang gaya fashion-nya dengan konsistensi konsep dirinya yaitu rainbow. Gaya fashion yang ia terapkan tersebut mampu menarik perhatian masyarakat Indonesia serta mampu menginspirasi banyak orang dalam hal fashion, terutama bagi wanita muslimah. Hal itu terbukti dari beberapa wanita muslimah yang awalnya tidak menggunakan hijab menjadi menggunakan hijab setelah diterpa komunikasi Dian Pelangi melalui blognya. Selain foto-foto dirinya, Dian Pelangi juga meng-upload tutorial penggunaan hijab khas dirinya melalui Youtube yang di-link-an ke blognya itu dan beberapa media sosial lain miliknya seperti Twitter, Facebook, Instagram, dan lain-lain sehingga masyarakat dapat dengan mudah mempelajari bagaimana jika menjadi seperti seorang Dian Pelangi.Hadirnya Dian Pelangi di tengah dunia fashion seolah-olah melawan persepsi masyarakat tentang muslimah berjilbab yang selama ini dilihat sebagai sosok yang kuno, tidak energik, tertutup, dan sebagainya. Namun, kehadirannyatersebut juga mengubah gaya hidup wanita muslimah Indonesia yang dulu hanya beberapa orang saja menggunakan jilbab atau busana muslim, kini semakin banyak wanita yang berani memutuskan untuk menutupi auratnya entah itu hanya sebagai popularisme budaya atau memang sudah sesuai dengan syariat Islam.Fashion juga dapat mencerminkan status sosial dari si pemakai. Dian Pelangi dengan gaya fashion-nya hadir dengan menampilkan gaya terkini yang termasuk high fashioned (baca:fashion dengan selera yang tinggi) sehingga terlihat sebagai seseorang yang eksklusif dan dinilai memiliki status sosial yang bonafit atau ?mahal? serta dinilai sebagai individu yang tidak ketinggalan zaman dalam lingkungan pergaulannya. Seperti yang dikatakan oleh Thomas Carlyle, pakaian menjadi ?pelambang jiwa? (emblems of the soul). Pakaian dapat menunjukkan siapa pemakainya. Dalam kata-kata dari Eco, ?I speak through my cloth? (Aku berbicara lewat pakaianku) (Barnard, 2002 : vi).Melalui blognya, Dian Pelangi mencoba menarik perhatian wanita muslimah untuk menutup aurat atau menggunakan hijab akan tetapi nampaknya juga tidak sedikit khalayak yang memiliki penilaian negatif terhadap cara komunikasi Dian Pelangi yang dicerminkan melalui gaya fashion-nya tersebut. Oleh karena itu, melalui penelitian ini peneliti akan melihat apa yang ditampilkan dalam fashion blog Dian Pelangi dan konstruksi wanita berhijab yang ditampilkan serta mengamati atribut fashion yang dipakai. Kemudian melihat penerimaan masyarakat terhadap adanya pergeseran makna dalam penggunaan hijab oleh muslimah saat ini.ISIMunculnya banyak hijabers di Indonesia saat ini menjadikan Indonesia sebagai trendsetter busana muslimah di dunia. Ditambah lagi hadirnya designer muda Indonesia dengan koleksi-koleksi rancangan mereka yang juga sudah mulai mendunia. Melalui koleksi fashion mereka yang semakin beragam itulah membuat banyak orang tertarik untuk menggunakan hijab. salah satu ikon hijabers yang paling banyak menyita perhatian adalah Dian Pelangi. Dirinya terus mempromosikan fashion busana muslim sehingga hijab bisa go international. Melalui blognya, Dian Pelangi terus mengembangkan kreativitasnya untuk menjadikan hijab sebagai sesuatu yang modern sehingga tidak ada lagi yang memandang wanita berhijab sebelah mata.Blog dan jejaring sosial merupakan media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia dan memiliki power yang luar biasa untuk meneruskan informasi dari pengguna satu ke pengguna lainnya. Untuk perihal kegiatan seputar fashion nampaknya blog menjadi media yang tepat untuk menumpahkan segala sesuatu entah dalam bentuk tertulis atau sekedar gambar-gambar yang menampilkan hal-hal yang disukai. Melalui blog itulah audiens dapat mengetahui semua item fashion yang biasa dikenakan para fashion blogger karena di setiap mereka mengunduh gambar, akan disertai dengan deskripsi dari masing-masing item fashion-nya dan semua item tersebut merupakan item yang bermerek sehingga mereka menjadi sorotan masyarakat terutama Dian Pelangi yang juga merupakan designer dari busana-busana muslimah yang ia kenakan sendiri.Dengan adanya konstruksi wanita muslimah yang digambarkan melalui blog Dian Pelangi memunculkan adanya pergeseran makna penggunaan hijab. Pergeseran makna tersebut bisa dilihat dari banyaknya masyarakat yang tertarik menggunakan hijab karena gaya fashion hijab yang beragam dan fashionable. Selain itu, hijab saat ini merupakan pakaian yang fleksibel karena model hijab yang beragam dan diterimanya hijab sebagai sebuah gaya hidup yang mengikuti tren perkembangan fashion. Gaya hidup merupaka refleksi identitas seseorang, dimana identitas tersebut untuk melihat separti apa orang tersebut serta bagaimana orang tersebut. Oleh karena itu, gaya hidup sering dihubungkan dengan kelas sosial ekonomi dan menunjukkan citra seseorang. Gaya hidup orang ditunjukkan dalam variasi keputusan cita rasanya: mobil yang dikendarainya, majalah yang dibacanya, tempat mereka tinggal, bentuk rumahnya, makanan yang disantapnya dan restoran yang sering dikunjunginya, tempat hiburannya, merek-merek baju, jam tangan, sepatu, dan lain-lain yang sering dipilihnya, dan sebagainya.Dian Pelangi melalui blognya, menggambarkan sebagai sosok individu dengan gaya hidup yang konsumtif terhadap fashion. Apa yang ia kenakan untuk mendukung penampilannya menciptakan makna tersendiri bagi pembacanya. Terdapat dua pokok penting yang ditekankan dalam gaya yang ditampilkan individu yaitu sebagai simbol perlawanan terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai cara agar diterima di kelompoknya. Individu berusaha mengidentifikasi diri mereka dan berkumpul bersama orang-orang yang memiliki kesamaan, sehingga identitasnya menjadi bagian dari identitas kelompok (Steele, 2005: 39). Dalam hal ini, Dian Pelangi menciptakan komunitas penggunahijab modern (hijabers) di Indonesia yang sampai saat ini terus berkembang hampir di seluruh wilayah Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan hijab modern sudah diterima di masyarakat. Itulah yang membuat beberapa informan memilih untuk juga bergabung dengan komunitas hijabers, dimana komunitas tersebut berisi sekelompok muslimah pengguna hijab modern yang memiliki identitas sebagai kelompok pengguna hijab sosialita karena atribut fashion yang digunakan branded dan eksklusif. Bukan hanya pakaian atau hijab yang menunjukkan identitas mereka sebagai muslimah sosialita, melainkan juga aksesoris yang digunakan, gadget, ataupun kebiasaan mereka seperti mengadakan perkumpulan di mall, dan sebagainya.Dalam penelitian analisis resepsi penerimaan pembaca fashion blog hijabers terhadap pergeseran makna penggunaan hijab dalam blog Dian Pelangi ini, teori yang tepat digunakan adalah analisis resepsi Stuart Hall. Dimana analisis resepsi menyampaikan bahwa teks dan penerimanya adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan, khalayak memaknai dan menginterpretasi sebuah teks berdasarkan latar belakang sosial dan budaya serta pengalaman mereka masing-masing. Analisis resepsi memfokuskan pada perhatian individu dalam proses komunikasi massa (decoding), yaitu pada proses pemaknaan dan pemahaman yang mendalam atas teks media, dan bagaimana individu menginterpretasikan isi media. Hal tersebut bisa diartikan bahwa individu secara aktif menginterpretasikan teks media dengan cara memberikan makna atas pemahaman pengalamannya sesuai apa yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari.Hall menjelaskan model encoding/decoding sebagai pendekatan yang melihat pembaca sebagai korban, dan pembaca sebagai pemilik hak. Ia mengungkapkan bahwa teks media memiliki arti yang spesifik yang dikodekan ulang namun penerimaan pembaca ditentukan dari bagaimana mereka membaca teks media tersebut. Pesan yang telah dikirimkan akan menimbulkan berbagai macam efek kepada audiens. Sebuah pesan dapat membuat pembaca merasa terpengaruh, terhibur, terbujuk, dengan konsekuensi persepsi, kognitif, emosi, ideologi, dan perilaku yang sangat kompleks. Hall mengidentifikasi tiga kategorisasi audiens yang telah mengalami proses encode/decode sebuah pesan, yaitu dominant reading, negotiated reading, dan oppositional reading (Hall dalam Baran, 2003: 15-16).Khalayak yang menjadi informan dalam penelitian ini merupakan khalayak yang aktif atau pernah aktif membaca fashion blog Dian Pelangi. Keenam informan memiliki tingkat pendidikan, lingkungan sosial, serta pengalaman yang berbeda. Dalam wawancara, informan menyampaikan interpretasi mereka masing-masing terkait dengan pemaknaan terhadap blog Dian Pelangi serta penerimaan terhadap adanya pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan melalui blog Dian Pelangi. Khlayak yang dalam hal ini penghasil makna, memaknai blog Dian Pelangi secara beragam karena teks yang berbeda dapat menghasilkan pemaknaan yang berbeda pula.Dari hasil penelitian dan wawancara dapat disimpulkan sebagai berikut :1. Berdasarkan pemaknaan keenam informan, pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan dalam fashion blog Dian Pelangi dapat dilihatpada setiap penampilan Dian Pelangi yang menjadikan hijab sebagai sebuah gaya hidup. Selain itu, atribut fashion berupa barang-barang branded yang dikenakan Dian Pelangi, serta model hijab dengan selera fashion yang high class dalam blognya menunjukkan bahwa kini wanita berhijab mencerminkan identitas dan status sosial sebagai sekelompok orang sosialita. Banyaknya variasi model hijab yang fashionable membuat penampilan wanita muslimah tidak lagi membosankan juga membuat hijab diterima di semua ranah lingkungan. Pergeseran ini terjadi karena adanya perkembangan tren fashion yang selalu berputar sepanjang waktu. Hal itulah yang membuat hijab tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang tradisional dan konvensional. Sehingga membuat semakin banyak orang menggunakan hijab.2. Hasil penelitian ini menunjukkan lima informan berada pada posisi dominan. Mereka menerima adanya pergeseran makna penggunaan hijab, yang dapat dilihat dari penampilan hijab yang mereka gunakan, dimana mereka harus mengikuti perkembangan zaman untuk menunjang kepercayaan diri dalam pergaulan. Sehingga membuat mereka harus menggunakan hijab yang sesuai tren fashion. Mereka sesekali juga mengakui jika pernah berpenampilan seperti Dian Pelangi, dan mendukung jika ada yang berpenampilan seperti yang dikonstruksikan Dian Pelangi.3. Sementara satu informan berada pada posisi oposisi. Dirinya tidak melihat adanya pergeseran makna penggunaan hijab, karena benar atau tidaknya penggunaan hijab tergantung pada tujuan awal masing-masing individu untuk menggunakan hijab tersebut, bukan berdasarkan pengaruh dari luar dirimereka seperti perkembangan fashion busana muslim atau munculnya Dian Pelangi yang mengkonstruksikan perubahan penggunaan hijab.PENUTUPBerbagai penelitian tentang makna penggunaan hijab, mayoritas menunjukkan bahwa hijab mengalami pergeseran. Dimana seseorang yang menggunakan hijab bukan lagi berpegang kepada nilai guna (use value) dari hijab tersebut, melainkan lebih kepada simbol/nilai tanda (sign value). Simbol tersebut yakni simbol gaya hidup yang menggambarkan identitas orang yang menggunakan hijab sebagai sekelompok orang yang mengikuti perkembangan tren fashion. Tren fashion hijab sendiri, saat ini tidak perlu diragukan. Beragam model hijab yang unik, kreatif, dan modern membuat banyak orang tidak takut lagi menggunakan hijab serta membuat orang yang sudah menggunakan hijab tidak takut lagi dikucilkan dalam pergaulan ataupun lingkungan sosialnya.Pergeseran makna penggunaan hijab sendiri tidak hanya dikarenakan pengaruh kemunculan media sosial khususnya blog hijabers yang mengkonstruksikan perubahan image wanita muslimah menjadi sekelompok orang dengan gaya hidup sosialita. Namun, makna penggunaan hijab juga bisa bergeser karena tuntutan mengikuti perkembangan tren fashion yang terus berputar setiap waktu.DAFTAR PUSTAKAA.Bell, M.Joyce and Rivers. (1999). Advanced Media Studies. Hodder & Stoughton.Allen, Pamela. (2004). Membaca, dan Membaca Lagi : [Re]interpretasi Fiksi Indonesia 1980-1995. Magelang : Indonesia Tera.Baran, Stanley J. (2003). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Salemba Humanika. Barnard, Malcolm. (2002). Fashion as Communication (Second Edition). New York : Routledge Taylor & Francis Group. Barnard, Malcolm. (2006). Fashion Sebagai Komunikasi : Cara Mengkomunikasikan Identitas Sosial, Seksual, Kelas, Dan Gender. Yogyakarta : Jalasutra. Berger, Arthur Asa. (2010). The Objects of Affection: Semiotics and Consumer Culture. USA: Palgrave MacMillan. Blood, Rebecca. (2002). The Weblog Handbook, Basic Books, A Member Of The Perseus Books Group. Croteau, David and William, Hoynes. (2003). Media Society : Industry, Images, and Audience (3rd Ed.). California : Pine Forge Press. Danesi, Marcel. (2009). Pesan, Tanda, dan Makna. Yogyakarta : Jalasutera. Downing, John, Ali Mohammadi, and Annable Sreberny-Mohammadi. (1990). Questioning The Media : A Critical Introduction. California : SAGE Publication. Vina, Hamidah. (2008). Jilbab Gaul (Berjilbab Tapi Telanjang). Jakarta: Al-Ihsan Media Utama. Hoed, Benny H. (2011). Semiotik & Dinamika Sosial Budaya. Jakarta: Komunitas Bambu. Idi Subandy, Ibrahim. (2007). Budaya Populer Sebagai Komunikasi (Dinamika Popscape Dan Mediascape Di Indonesia Kontemporer). Yogyakarta : Jalasutra. Kawamura, Yuniya. (2005). Fashion-ology. An Introduction to Fashion Studies. New York: Berg Oxford. Littlejohn, Stephen W [ed]. (1999). Theories Of Human Communication. London : Wadsworth Publishing Company.Littlejohn, Stephen W., and Karen, A. Foss. (2009). Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, Ninth Edition. Jakarta: Salemba Humanika. Littlejohn, Stephen W., and Karen, A. Foss [eds]. (2009). Ensyclopedia Of Communication Theory. California : SAGE Publications, Inc. Lurie, Alison. (1992). The Language Of Clothes. London : Cornell. Leah A. Lievrouw. (2006). The Handbook of New Media Updated Student Edition. London : SAGE Publications, Inc. Manovich, Lev. (2002). ?What Is New Media?? In The language Of New Media. Dalam Hassan, Robert Dan Julian Thomas [eds]. 2006. The New Media Theory Reader. England : Open University Press. McQuail, Denis. (2000). Media Performance; Mass Communication and The Public Interest. London: SAGE Publications. McQuail, Denis. (2011). Teori Komunikasi Massa (Ed.6). Jakarta: Salemba Humanika.Moleong, Lexi J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Morreale, Sherwyn, Barge, Wood, Spitzberg & Tracy. (2004). Introduction To Human Communication The Hugh Downs Of Human Communication. USA: Wardsworth. Yasraf Amir, Piliang. (1998). Sebuah Dunia Yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Millenium Ketiga Dan Matinya Posmodernisme. Bandung : Penerbit Mizan. Jalaludin, Rakhmat. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Rosdakarya. Ritzer, George. (2009). Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana. Sassatelli, Roberta. (2007). Consumer Culture: History, Theory, and Politics. London : SAGE Publications. M.Quraish, Shihab. (2004). Jilbab Pakaian Wanita Muslimah. Jakarta: Lentera Hati. Steele, Valeriee. (2005). Encyclopedia of Clothing and Fashion Vol.1&2. USA: Thompson Gale. Strinati, Dominic. (2007). Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta : Penerbit Jejak.JurnalRatna Dewi, Ayuningtyas. (2011). Menginterpretasikan Fashion Pria Metroseksual Dalam Fashion Blog. Skripsi. Universitas Diponegoro.Dwita, Fajardianie. (2012). Komodifikasi Penggunaan Jilbab Sebagai Gaya Hidup Dalam Majalah Muslimah (Analisis Semiotika Pada Rubrik Mode Majalah Noor). Skripsi. Universitas Indonesia.Hapsari, Sulistyani. (2006). Modul Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.Hari, Sapto. (2009). Memahami Makna Jilbab Dalam Mengkomunikasikan Identitas Muslimah. Skripsi. Universitas Diponegoro.InternetStefanone, M.A., and Jang, C.Y. (2007). Writing For Friends And Family : The Interpersonal Nature Of Blogs. Journal Of Computer-Mediated Communication, 13 (1), article 7. Dalam http://jcmc.indiana.edu/vol13/issue1/stefanone.html. Diunduh pada tanggal 18 Maret 2013 pukul 10.00 WIBPengertian Fashion Menurut Poppy Dharsono. Dalam www.fashionupdatemodeon.blogspot.com/fashion/03.html. Diakses pada tanggal 3 Maret 2012 pukul 18.30 WIBIslam Akan Menjadi Agama Terbesar. (2012). Dalam http://www.dokumenpemudatqn.com/2012/11/islam-akan-menjadi-agama-terbesar-di.html#ixzz2Nxf08BSQ. Diunduh pada tanggal 19 Maret 2013 pukul 14.00 WIBProfil Dian Pelangihttp://tabloidnova.com/DianPelangiAnakBawangYangMenembusDunia.html. Diakses pada 25 Juni 2013 pukul 09.20 WIBMencari Sebuah Identitas Dalam Budaya Pop. Dalam http://parekita.wordpress.com/2013/12/04/55.html. Diakses pada tanggal 19 Agustus 2013 pukul 11.40 WIBKami Bukan Sosialita Berjilbab. Dalam www.hijaberscommunity.blogspot.com/gayahidup/hobi.html. Diakses padatanggal 3 Juli 2013 pukul 18.54 WIBwww.theoppositeofpink.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBwww.ayuchairunisa.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBwww.dallamudrikah.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBhttp://twitter.com/FatinSL. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 06.30 WIBwww.amischaheera.blogspot.com. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 08.00 WIBwww.fashionesedaily.blogspot.com. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 08.51 WIB) Data pengunjung blog Dian Pelangi. Dalam www.dianrainbow.blogspot.com. Diakses pada tanggal 8 Juli 2012 pukul 08.30 WIBFoto-foto Dian Pelangi. Dalam www.dianrainbow.blogspot.com.
PENGARUH DAYA TARIK IKLAN SENSODYNE TERHADAP MINAT PEMBELIAN PRODUK PASTA GIGI SENSODYNE Wicaksono, Avianto Aryo; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSINama : Avianto Aryo W.NIM : D2C006014Judul : PENGARUH DAYA TARIK IKLAN SENSODYNE TERHADAP MINATPEMBELIAN PRODUK PASTA GIGI SENSODYNEPenelitian ini dilatarbelakangi dari rasa ingin tahu penulis terhadap sejauhmana dayatarik iklan iklan pasta gigi sensodyne yang ditayangkan di televisi mampu mempengaruhiminat pembelian konsumen terhadap produk pasta gigi sensodyne. Mengingat, masihrendahnya kesadaran masyarakat terhadap persoalan gigi sensitif dan munculnya kompetitoryang juga bersaing dalam pasar gigi sensitif.Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di Kota Semarang,berusia 20 tahun keatas, dan pernah melihat tayangan iklan Sensodyne. Tipe yang dipakaidalam penelitian ini adalah eksplanatori, yaitu tipe penelitian yang menjelaskan hubungankausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis.Tekhnik pengambilan sampleyang digunakan adalah teknik accidental sampling, dengan jumlah sample sebesar 40responden. Penelitian menggunakan metode wawancara dengan instrument penelitian berupakuesioner untuk pengambilan data.Berdasarkan hasil penelitian dari jumlah sample yang telah ditentukan, didapatkanbahwa daya tarik iklan Sensodyne di televisi tidak memiliki dampak atau pengaruh terhadapminat pembelian produk pasta gigi Sensodyne. Hal tersebut terlihat ketika daya tarik iklansangat menarik, tidak ada responden yang berminat membeli pasta gigi Sensodyne. Ketikadaya tarik iklan menarik, pengelompokan responden terbanyak pada minat pembeliankonsumen yang rendah (52,63%). Ketika daya tarik iklan cukup menarik, pengelompokanresponden terbanyak ada pada minat pembelian konsumen sangat rendah (68,75%). Ketikadaya tarik iklan tidak menarik, pengelompokan responden terbanyak ada pada minatpembelian yang juga sangat rendah (100%).Berdasarkan hasil penelitian, Sensodyne sebaiknya lebih melakukan pengembanganstrategi kreatif dalam periklanan, kemudian perlu juga ada pengembangan dari sisi strategimedia untuk meningkatkan awareness khalayak untuk memperkuat positioning Sensodyne,dan mengadakan event yang mengedukasi masyarakat tentang segala hal terkait penanganangigi sensitif.ABSTRACTNama : Avianto Aryo W.NIM : D2C006014Judul : INFLUENCE ATTRACTIONS SENSODYNE TOOTHPASTE AD AGAINSTINTERESTS PURCHASE PRODUCT SENSODYNE TOOTHPASTEThe research is motivated out of curiosity how far the author of the ad appealSensodyne toothpaste ad that aired on television can influence consumer buying interest onSensodyne toothpaste products. Whereas, the low public awareness of the problem ofsensitive teeth and the emergence of competitors who also compete in sensitive teeth.The population in this study is that people who live in the city of Semarang, aged 20years and over, and never saw Sensodyne advertising impressions. The type used in this studyis explanatory, that is the type of research that explains the causal relationship between thevariables through testing hipotesis.Teknik sampling used was accidental sampling technique,with a sample size of 40 respondents. Study using interviews with a research instrument inthe form of a questionnaire for data collection.Based on the findings of a predetermined number of samples, it was found that theappeal of Sensodyne ad on television have no impact or effect on the interest in the purchaseSensodyne toothpaste products. It is seen as very attractive advertising appeal, no respondentswere interested in buying Sensodyne toothpaste. When the appeal of attractiveadvertisements, grouping respondents on most consumer purchases of low interest (52.63%).When the advertising appeal is quite interesting, most respondents groupings exist in verylow interest consumer purchases (68.75%). When the appeal of advertising is not interesting,most existing clustering respondents on purchases interest is also very low (100%).Based on research results, we recommend Sensodyne more to develop a creativestrategy in advertising, then there should also be the development of the media strategy toraise public awareness to strengthen the positioning of Sensodyne, and hold events to educatethe public on all matters related to the handling of sensitive teeth.Nam : Avianto Aryo W.Nim : D2C006014Dosen Pembimbing : Dr. Turnomo RahardjoBAB IPENDAHULUANLatar Belakangperiklanan dirancang untuk mempromosikan atau mengkomunikasikan suatu pesan,baik pesan mengenai suatu produk, kegunaan, maupun informasi penting lainnya, dariperusahaan atau produsen kepada khalayak. Melalui pesan iklan ini diharapkan akan adarespon dari khalayak. Untuk mengoptimalkan penyampaian respon yang diharapkankhalayak, Pesan iklan harus dibuat sekreatif mungkin dalam mengkomunikasikan produkyang ditawarkan agar khalayak dapat mengerti, berminat, dan membeli produk yangditawarkan produsen. Oleh karena itulah diperlukan daya tarik iklan untuk calon konsumen.Daya tarik iklan sangat penting karena akan meningkatkan keberhasilan komunikasi dengankhalayak.Sensodyne dalam beriklan selalu konsisten menggunakan daya tarik pesan iklan yangmelibatkan kesaksian endorser. Dalam iklannya saat ini Sensodyne melibatkan endorserseorang yang dianggap ahli dalam persoalan gigi, yaitu drg.Ariandes Veddytarro yangmemberi kesaksian atau testimoni mengenai penyebab gigi sensitif dan bagaimana caramengatasinya dibarengi dengan visual untuk mendukung penjelasannya. Dengan daya tarikini diharapkan attention khalayak akan tergugah dengan keseluruhan iklan tersebut dan dapatmenimbulkan minat yang akhirnya dapat menggunakan produk pasta gigi sensodyne.Iklan merupakan salah satu bentuk promosi dalam komunikasi pemasaran, dimanamembutuhkan media untuk mengkomunikasikan produk yang akan diiklankann. Saat inibanyak perusahaan yang mengiklankan produknya melalui berbagai media, baik cetakmaupun elektronik. Salah satunya adalah melalui media televisi. Media ini dipilih karenaselain media ini sering digunakan di Indonesia, juga dalam waktu relatif singkat pesan dapatsampai khalayaknya dalam jumlah besarRumusan MasalahSensodyne bukanlah brand satu-satunya dalam pasar gigi sensitif. Terdapatkompetitor lain yang ikut dalam persaingan psata gigi sensitif, yaitu Pepsodent SensitiveExpert. Pasta gigi ini juga cukup gencar melakukan periklanan di televisi dengan berbagaidaya tarik pesannya sendiri. Dalam hal ini Sensodyne mencoba untuk tetap konsisten sejaktahun 2006 menggunakan daya tarik pesan dengan strategi gaya pesan bukti kesaksian(Testimonial Evidence) dimana sensodyne mengandalkan seorang ahli dalam menjelaskanpersoalan gigi dan menawarkan solusinya dengan menggunakan pasta gigi Sensodyne.Ditambah juga dari hasil studi GlaxoSmithKline yang menunjukkan bahwa tingkatkesadaran masyarakat terhadap masalah gigi sensitif masih tergolong rendah dimana 52%pasien dengan gigi sensitif tidak berkonsultasi ke dokter gigi dan 75% pasien gigi sensitiftersebut belum pernah menggunakan pasta gigi khusus untuk gigi sensitif atau hanyamenggunakannya secara tidak teratur.Seperti diketahui televisi merupakan salah satu bentuk dari media massa, dimanamedia ini memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh media lainnya, yaitu bersifataudiovisual. Oleh karena itulah peneliti tertarik untuk mengetahui apakah apakah daya tarikpesan iklan pasta gigi sensodyne di televisi mempengaruhi minat konsumen dalam membeliproduk pasta gigi sensodyne.Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana daya tarik pesan iklan pasta gigiSensodyne mempengaruhi minat pembelian Produk Pasta Gigi Sensodyne.Kerangka TeoriTeori penghubung dalam penelitian ini menggunakan teori Model AIDA (Attention,Interest, Desire, Action)(Kotler, 2002: 633).Komunikasi persuasif didahului dengan upaya menarik perhatian khalayak(Attention). Apabila perhatian khalayak berhasil didapatkan, maka upaya selanjutnya adalahmenumbuhkan ketertarikan (Interest) terhadap produk yang dikenalkan melalui periklanan,sehingga timbul rasa ingin tahu secara lebih rinci dalam diri konsumen untuk mengikutipesan-pesan yang disampaikan. Tahap selanjutnya akan menimbulkan hasrat (Desire) untukmenggerakan keinginan atau minat beli khalayak untuk memiliki atau menikmati produk.Dan pada akhirnya konsumen segera dapat melakukan suatu tindakan pembelian terhadapusaha pemasaran yang dilakukan (Action).HipotesisBerdasarkan uraian daiatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin menarik dayatarik iklan pasta gigi sensodyne di televisi maka semakin tinggi pula minat beli konsumenterhadap pasta gigi sensodyneMetodologi Penelitian- Tipe Penelitian : Explanatory research, penelitian yang berusaha menjelaskanhubungan sebab akibat (kausal) antara variabel penelitian melalui pengujian hipotesisyang telah dirumuskan sebelumnya. Dalam penelitian ini variabel yang diteliti adalahantara Daya tarik iklan pasta gigi sesodyne di televisi (X) dengan minat pembelianproduk pasta gigi sensodyne (Y).- Populasi sasaran : Masyarakat yang ada di Kota Semarang, berusia 20 tahun keatas,pernah melihat tayangan iklan Sensodyne.- Teknik sample: accidental sampling.- Sample: 40 sample.- Analisis Data: Tabulasi silangHasil PenelitianPENGARUH DAYA TARIK IKLAN PRODUK PASTA GIGI SENSODYNETERHADAP MINAT PEMBELIAN PRODUK PASTA GIGI SENSODYNE-Tabulasi Silang-Hubungan Daya Tarik Iklan Produk Pasta Gigi Sensodyne dengan Minat PembelianProduk Pasta Gigi SensodyneDaya TarikIklan (X)Minat Pembelian (Y)TOTALSangatTinggiTinggi RendahSangatRendahSangatMenarik0 0 0 0 0Menarik 01(5,26%)10(52,63%)8(42,10%)19(100%)CukupMenarik0 05(31,25)11(68,75%)16(100%)TidakMenarik0 0 05(100%)5(100%)TOTA L 40Analisa Tabulasi SilangDari hasil tabel tabulasi silang di atas diketahui bahwa tidak terdapat penagruh antara dayatarik iklan pasta gigi sensodyne terhadap minat pembelian produk pasta gigi sensodyne. Halini menunjukan bahwwa penelitian yang dilakukan ini tidak terbukti atau negatif.Hal tersebut terlihat pada tabulasi silang dimana pada baris kedua, ketika daya tarikiklan menarik, pengelompokan responden terbanyak pada minat pembelian konsumen yangrendah, dengan perincian persentase sebesar 52,63%. Kemudian pada baris ketiga, ketikadaua tarik iklan cukup menarik, pengelompokan responden terbanyak ada pada minatpembelian konsumen sangat rendah, yaitu sebesar 68,75%. Pada baris keempat, ketika dayatarik iklan tidak menarik, pengelompokan responden terbanyak ada pada minat pembelianyang juga sangat rendah, yaitu sebesar 100%. Secara keseluruhan tabulasi silang tersebutmenggambarkan bahwa seberapapun daya tarik iklan pasta gigi sensodyne, minat pembelianproduk pasta gigi sensodyne tetap berada pada tingkat yang sangat rendah. Sehingga dapatdisimpulkan daya tarik iklan tidak mempengaruhi minat pembelian produk pasta ggisensodyne.Dalam penelitian ini terlihat bahwa daya tarik iklan tidak berbanding lurus denganminta pembembelian yang masih sangat rendah bagi konsumen. Hal ini bisa disebabkan jugamateri iklan yang kurang variatif dan kreatif. Dari awal peluncurannya sampai saat ini,produsen tetap mempertahankan gaya iklan kesaksian, tanpa adanya perubahan ataupenambahan materi iklan dan juga intensitas penayangan iklan yang masih minim, terbuktidari sebagian besar responden masih jarang melihat tayangan iklan sensodyne di mediatelevisi.PenutupBerdasarkan dari hasil temuan penelitian diatas maka dapat diambil kesimpulan sebagaiberikut:1. Hasil penelitian menunjukan bahwa daya tarik iklan pasta gigi sensodyne tidakmemberikan dampak atau pengaruh pada minat pembelian konsumen terhadap produkpasta gigi sensodyne.2. Strategi komunikasi atau strategi kreatif dalam bentuk periklanan yang dilakukanprodusen sensodyne belum mencapai hasil yang maksimal. Hal ini terlihat dari hasilpenelitian, yaitu walaupun iklan sensodyne masuk dalam kategori menarik namun minatpembelian konsumen terhadap produk sensodyne masih sangat rendah.SaranSetelah melakukan analisis dan kesimpulan, peneliti mengajukan beberapa saran kepadapihak-pihak yang terkait, antara lain:1. Berdasarkan dari tabulasi silang, daya tarik iklan belum mampu menggugah minatPembelian konsumen. Oleh karena itu sebaiknya sensodyne lebih melakukanpengembangan strategi kreatif dalam periklanan, seperti mungkin menambahkanendorser lainnya berupa kesaksian dari masyarakat yang telah menggunkan sensodyneatau mencoba menambahkan unsur musik dalam iklannya.2. Selain melakukan pengembangan strategi kreatif, sebaiknya juga ada pengembangandalam strategi media. Jadi sensodyne tidak hanya difokuskan melakukan kegiatanberiklan pada media televisi, melainkan juga pada media massa lainnya, seperti mediacetak atau media online. Hal ini dilakukan untuk terus menigkatkan awareness khalayakuntuk memperkuat positioning sensodyne dibanding kompetitornya agar ketikamasyarakat bersinggungan dengan persoalan gigi sensitif, akan ada peluang lebih besarkhalayak akan segera memilih sensodyne sebagai pemecah masalah persoalan mereka.3. Selain melakukan kegiatan promosi melalui periklanan, ada baiknya sensodyne jugamelakukan kegiatan-kegiatan yang langsung bersinggungan dengan khalayak, sepertimengadakan event atau acara-acara yang isinya mengedukasi masyarakat tentang segalahal terkait persoalan gigi sensitif dan juga cara menanganinya.DAFTAR PUSTAKADAFTAR BUKU? Suyanto, M. (2007). Markting Strategi Top Brand Indonesia. Yogyakarta:CV. Andi Offset? Suhandang, Kustadi. (2010). Periklanan Manajemen, Kiat dan Strategi.Bandung: Nuansa? Morissan. (2010). Periklanan Komunikasi Pemasaran Terpadu Jakarta:Prenada Media Group? Rakhmat, Jalaludin. (2009). Psikologi Komunikasi. Bandung:PT Remaja Rosdakarya? Shimp, A Terence. (2003). Periklanan Promosi Aspek Tambahan KomunikasiPemasaran terpadu. Jakarta: Erlangga? Widyatama, Rendra. (2009). Pengantar Periklanan. Yogyakarta:Pustaka Book Publisher? Kasali, Rhenald. (1995). Manajemen Periklanan Konsep dan Aplikasinya diIndonesia. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti? Peter, J. Paul and Jerry C. Olson. (1999). Consumer Behavior: PerilakuKonsumen dan Strategi Pemasaran. Jakarta: Erlangga.? Engel, James F., Roger D. Blackwell, Paul W. Miniard. (2000). PerilakuKonsumen. Jakarta: Binarupa Aksara? Kottler, Philip. (2002). Marketing Manajemen. Jilid-1, Edisi Milenium. Jakarta:PT. Prenhallindo? Kottler, Philip. (2002). Marketing Manajemen. Jilid-2, Edisi Milenium. Jakarta:PT. Prenhallindo? Bungin, Burhan. (2005). Metodologi penelitian kuantitatif kopmunikasi, ekonomi,dan kebijakan publik, serta ilmu-ilmu lainnya. Jakarta: Prenada MediaINTERNET:? http://www.antaranews.com/view/?i=1236663288&c=PRW&s= (Diunduh padatanggal 4 Oktober 2012 pukul 14.00)? http://www.108csr.com/home/news.php?id=12574 (Diunduh pada tanggal 5oktober 2012 pukul 16.00)? .http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/397493/44/ (Diunduhpada tanggal 5 oktober pukul 19.00)? http://sensodyne.co.id/gigi_sensitive.html (Diunduh pada tanggal 14 Desember2012 pukul 15.00 WIB)? -http://www.conectique.com/get_updated/article.php?article_id=4437 (Diunduhpada tanggal 14 Desember pukul 17.00)? http://www.beritasurabaya.net/index_sub.php?category=9&id=7672&tags=Kesadaran--Merawat-Gigi-Sensitif-Masih-Rendah (Diunduh pada tanggal 15 Desemberpukul 09.00)? file:///D:/LowKer%20Lowongan%20GlaxoSmithKline%20Indonesia%20Januari%202012.htm (Diunduh pada tanggal 15 Desember pukul 13.00)
MEMAHAMI DIALEKTIKA KONFLIK DAN PENGALAMAN KOMUNIKASI PASANGAN PERKAWINAN JARAK JAUH DALAM PROSES PENYELESAIAN KONFLIK RUMAH TANGGA IRAWATI, DEWI; Sunarto, Sunarto; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Memahami Dialektika Konflik dan Pengalaman KomunikasiPasangan Perkawinan Jarak Jauh dalam Proses Penyelesaian KonflikRumah TanggaSummary PenelitianDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1PenyusunNAMA: DEWI IRAWATINIM: D2C309007JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013Nama :Dewi IrawatiNIM :D2C309007Judul :Memahami Dialektika Konflik dan Pengalaman Komunikasi Pasangan PerkawinanJarak Jauh dalam Proses Penyelesaian Konflik Rumah TanggaAbstraksiPenelitian ini dilatarbelakangi dengan maraknya pasangan yang menjalani perkawinanjarak jauh. Pada dasarnya setiap individu dalam hubungan perkawinan pasti pernah terlibat konflik.Terlebih lagi perkawinan yang masih dalam tahap-tahap rawan, seperti 5 tahun awal perkawinanyang masih dalam tahap awal penyesuaian dengan pasangan. Penyesuaian terhadap pasangan bagipasangan perkawinan jarak jauh mungkin akan dirasa sebagai suatu hal yang sulit karena masapenyesuaian tersebut harus dilakukan dengan saling berjauhan, sehingga tidak heran konflik seringmuncul diantara pasangan ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana dialektikakonflik yang terjadi pada pasangan perkawinan jauh di fase awal perkawinan. Selain itu pula untukmemahami pengalaman komunikasi pasangan perkawinan jarak jauh dalam proses penyelesaiankonflik rumah tangga pada fase awal perkawinan.Upaya menjawab permasalahan dan tujuan penelitian dilakukan dengan menggunakanteori dasar yaitu Teori Dialektika Relasional oleh Leslie A. Baxter. Data diperoleh dari indepthinterview terhadap 3 pasangan suami istri pelaku perkawinan jarak jauh. Metode analisis data yangdigunakan adalah pendekatan fenomenologi dari Van Kaam.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialektika konflik diantara pasangan perkawinanjarak jauh terjadi cukup bervariasi. Terjadi kontradiksi antara keinginan untuk mendekatkan diriatau menjauhkan diri dengan pasangan ataupun keluarga dan lingkungan karena kegiatan personal,aktivitas dengan lingkungan sosial, kesibukan kerja, waktu yang kurang pas untuk bertemukeluarga, konflik pribadi dengan anggota keluarga lain ataupun kesadaran untuk membatasi dirikarena peran dalam rumah tangga. Ditemukan pula salah satu informan yang tidak melakukan aksikeduanya melainkan hanya mendiamkan pasangan. Kemudian adanya kontradiksi antarakeinginan untuk melakukan rutinitas atau spontanitas dengan pasangan dikarenakan kondisikeuangan yang semakin menipis, keinginan dalam hal seksualitas yang berbeda antara suami istri,rutinitas hobi yang melalaikan peran dalam rumah tangga, atau kehadiran anak-anak. Dalam halkontradiksi mengikuti tradisi orang tua dan menciptakan hal yang unik terjadi dalam halpengambilan putusan karena sampai saat ini informan masih tinggal bersama orang tua mereka.Pengambilan putusan tetap dilakukan suami sebagai kepala rumah tangga meski terkadang orangtua masih ikut campur urusan rumah tangga. Sedangkan mengenai kontradiksi antara keinginanuntuk terbuka atau tertutup dengan pasangan ataupun keluarga dan lingkungan informan mencobasaling terbuka namun tetap memiliki informasi yang dirahasiakan.Mengenai pengalaman komunikasi dalam proses penyelesaian konflik, strategi yangdigunakan oleh pasangan perkawinan jarak jauh adalah manajemen konflik efektif maupun tidakefektif. Dalam hal kendala, pasangan perkawinan jarak jauh cukup memiliki kendala yangmenghambat dalam proses penyelesaian konflik, baik itu kendala internal maupun eksternal.Disarankan bagi peneliti yang ingin mengambil tema penelitian mengenai perkawinan jarak jauhlebih dapat mempertimbangkan profesi suami atau istri, tingkat pendidikan dan frekuensipertemuan dengan pasangan dalam memilih informan untuk melihat variasi konflik dan dialektikayang terjadi.Kata kunci: dialektika, konflik, perkawinan jarak jauhNama : Dewi IrawatiNIM : D2C309007Judul : Understanding Dialectic of Conflict and Long Distance Marriage?s CommunicationExperience in Marriage Conflict Solving ProcessAbstractThis research is motivated by the rise of long-distance marriage couple. Basically everyindividual in the marriage relationship must have been involved in the conflict. Moreovermarriage that is still in the stages of cartilage, such as 5 years earlier marriage that is still in theearly stages of adjustment. Adjustments to the couple for marital couples might remotely beperceived as a difficult thing because the adjustment period should be done far from each other, sodo not be surprised conflicts often arise between this couple. The purpose of this research is tounderstand how the dialectic of conflict in a marriage partner away in the early phase of marriage.Besides that, this research to understand the experience of long-distance communication inmarriage couples conflict resolution process in the early phase.The basic theory of this research is Relational Dialectics Theory by Leslie A. Baxter. Datawas obtained from indepth interviews with three couples long distance marriage. Data analysismethods used are phenomenological approach of Van Kaam.The results showed that the dialectical conflict between long distance marriage partnerhappens quite varied. Contradiction between the desire to get closer to or distanced themselveswith couples or families and the environment due to personal activities, activities with the socialenvironment, busy work, time is less fit to meet the family, personal conflicts with other familymembers or awareness to limit ourselves because of the role in households. Also found one of theinformants who did not take action but only silence both couples. Then the contradiction betweenthe desire to perform routine or spontaneity with a partner because of dwindling financialcondition, the desire in terms of a different sexuality between husband and wife, routine of hobbiesrole in the household, or the presence of children. In terms of following the tradition of the oldcontradictions and creating unique things happen in terms of decision-making because until nowall of the informant was still living with their parents. Decision making remained was the husbandas head of household even though sometimes parents are still meddling household. Then for thecontradiction between the desire to be open or closed with a partner or family and neighborhood,informants tried to be open while still have a secret information.About the communication experience in the process of conflict solving process used bylong-distance marriage partner is an effective conflict management and ineffective. In terms ofconstraints, long-distance marriage partner has enough obstacles that hinder the conflict resolutionprocess, both internal and external constraints. It is recommended for researchers who want to takethe theme of research on long-distance marriage could consider a spouse profession, educationlevel and frequency of meetings with the couples when selecting informants to see conflict anddialectical variations that occur.Keywords: dialectic, conflict, long-distance marriage1. PENDAHULUANPasangan yang telah menikah sudah hakikatnya untuk hidup bersama dalam satuatap, dan berkomunikasi tanpa perlu perantara. Terbuka satu sama lain dan beranimenyampaikan perasaan hati, ide, gagasan atau pun segala hal yang menjadi ganjalansehingga meminimalisir terjadinya konflik. Bila sampai terjadi konflik, pasutri bisamengelola konflik tersebut dengan baik sehingga tidak perlu terjadi hal-hal buruk yangmengarah ke arah perusakan hubungan. Pasangan dapat dikatakan harmonis bila salahsatunya dapat mengelola konflik yang sudah terjadi dan melihatnya sebagai bagian normaldari proses perkembangan hubungan mereka.Umumnya pasangan suami istri menginginkan penyelesaian konflik denganberkomunikasi secara tatap muka, namun tidak demikian halnya dengan pasanganperkawinan jarak jauh yang memiliki keterbatasan waktu untuk bertemu. Jauhnya jarakantara pasangan yang terpisah pulau bahkan negara, serta keterbatasan waktu ketikabertemu, mengharuskan mereka untuk menyelesaikan konflik dengan bijak supaya tidakberkepanjangan. Dan ini tentunya bukan hal mudah, mengingat banyak kendala yang bisamenjadi noise untuk keberhasilan penyelesaian konflik itu sendiri. Apalagi bila yangmenjalani LDM ini adalah pasangan yang baru menjalani pernikahan kurang dari 5 tahun,bukan hal mudah bila harus berpisah dengan pasangan seiring dengan keharusan untukmenyesuaikan diri dengan sifat-sifat pasangan.Miskomunikasi yang dialami oleh Nia Angga menjadi salah satu pemicu konflikyang dialami pasangan perkawinan jarak jauh di masa awal perkawinan. Menurutpengakuannya, selama menjalani perkawinan jarak jauh hubungannya dengan suami tidakbaik-baik saja karena komunikasi yang tidak intens. Belum lagi, bila berkomunikasi viahp, intonasi melalui telepon atau tulisan sms yang kurang jelas tanda bacanya kadangmembuat salah penafsiran sehingga tidak jarang membuat mereka bertengkar.(http://anggania.blogspot.com/2011/11/long-distance-relationship-ldr.html, diakses 15Juli 2012, pukul 22.05).Konflik lain dalam perkawinan jarak jauh juga disebabkan karena kurangnyakepercayaan kepada pasangan, seperti yang dialami seorang suami berinisial A yang barumenjalani perkawinan jarak jauh karena istri bekerja di Hongkong dan dia di Korea.Sebelum menjalani perkawinan jarak jauh, mereka telah bertunangan selama 5 tahun danjuga menjalani hubungan jarak jauh. Istri selalu mencurigai suaminya mempunyaihubungan dengan wanita lain meskipun hal itu tidak benar. Menurut suami mereka seringbertengkar karena hal tersebut. Suami bahkan sampai merasa tidak kuat dengan kondisiini namun tidak ingin mengakhiri perkawinan. (http://log.viva.co.id/news/read/144808-pengantin_baru_kok_sering_bertengkar, diakses tanggal 31 Oktober 2012, pukul 21.00).Pemicu konflik bagi pasangan perkawinan jarak jauh lainnya berkaitan denganmasalah ekonomi dan kurangnya empati kepada pasangan. Seperti yang dialami oleh istri(tidak disebutkan namanya) yang telah menikah selama 5 tahun dan memiliki 1 anak. Siistri bekerja sebagai PNS dan tinggal di Jakarta bersama anaknya, sedangkan suamibekerja sebagai karyawan swasta dan tinggal di kota kecil bersama orang tuanya. Hal yangmenjadi masalah karena suami jarang sekali memberikan nafkah pada anak istrinya. Suamijuga pernah mendapat tawaran pekerjaan di Jakarta namun ditolah dengan alasan ingintetap hidup di daerahnya. Sudah setengah tahun belakangan mereka juga seringbertengkar. Si istri bahkan sempat terpikir untuk berpisah karena pada dasarnya diamemang sudah hidup sendiri atas biayanya sendiri, namun dia tidak tega dengan anaknya.(Kewajiban Suami terhadap Istri, dalam http://kawansejati.org/208-kewajiban-suamiterhadap-istri, diunduh 15 Februari, 2013, 10.50)Berbagai konflik pasangan perkawinan jarak jauh tersebut bukan tidak mungkinmengarah ke perceraian bila tidak dikelola dengan baik. Seperti yang terjadi di KabupatenPacitan sepanjang tahun 2012, jumlah perceraian yang disebabkan karena salah satu pihakpergi adalah 387 perkara dari jumlah 1028 perkara cerai yang diajukan. Itu artinya sekitar38% dari jumlah pengajuan cerai yang diajukan ke Pengadilan Agama Pacitan. Faktorpenyebabnya pun mayoritas karena putusnya komunikasi antar pasutri saat mereka tidakhidup bersama di satu kota. Tanpa komunikasi yang intens, pihak yang ditinggalkan diPacitan akhirnya memutuskan untuk mengajukan cerai.(http://www.lensaindonesia.com/2012/12/17/long-distance-relationship-jadi-penyebabtingginya-perceraian.html, diakses 15 Februari 2013, 10.53)Berdasarkan fenomena ini peneliti ingin mengetahui lebih detail mengenaidialektika konflik pasangan perkawinan jarak jauh dan cara komunikasi pasangan tersebutdalam proses penyelesaian konflik rumah tangga mereka sehingga dapat memahamidialektika konflik pasangan perkawinan jarak jauh pada fase awal perkawinan danpengalaman komunikasi dalam proses penyelesaian konflik pasangan tersebut.2. BATANG TUBUH2.1. TEORITeori utama yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Teori DialektikaRelasional oleh Leslie A. Baxter untuk menjawab permasalahan mengenai DialektikaKonflik pasangan perkawinan jarak jauh dan manajemen konflik oleh Devito untukmenjawab permasalahan mengenai pengalaman konflik pasangan perkawinan jarak jauhdalam proses penyelesaian konflik rumah tangga2.2. Subyek PenelitianSubjek dalam penelitian ini disesuaikan dengan judul penelitian, yakni pasangansuami istri perkawinan jarak jauh yang masih dalam fase awal perkawinan yang berjumlahtiga pasang dengan kriteria sebagai berikut: Pasangan suami istri perkawinan jarak jauhdimana jauhnya jarak tempat tinggal yang ditentukan sejauh minimal 300km, atau tempatyang harus ditempuh dengan memakan waktu perjalanan lebih dari 7 jam, atau frekuensiuntuk bertemu pasangan minimal satu bulan sekali; Umur perkawinan masuk dalamkategori fase awal perkawinan yaitu 1-5 tahun; dan Merupakan pasutri jarak jauh yangkeduanya bekerja atau hanya salah satu pasangan yang bekerja atau pasutri tersebut sudahmemiliki anak2.3. MetodologiPenelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif, dan metodologi kualitatifdengan pendekatan fenomenologi. Dalam Kuswarno (2009:1-2) Fenomenologimerefleksikan pengalaman langsung manusia, sejauh pengalaman itu secara intensifberhubungan dengan suatu objek. Fenomenologi mencoba mencari pemahaman bagaimanamanusia mengkonstruksi makna dan konsep-konsep penting, dalam kerangkaintersubjektivitas. Intersubjektif karena pemahaman kita mengenai dunia dibentuk olehhubungan kita dengan orang lain. Dengan melakukan studi terhadap pengalaman parapasangan suami istri perkawinan jarak jauh diharapkan dapat membuka pemahamanmengenai konflik pasangan-pasangan tersebut. Dalam penelitian ini, informan berbagipengalaman konflik mereka, seperti konflik apa saja yang sering mereka hadapi, danbagaimana cara mereka menyelesaikan konflik tersebut.2.4. Analisis DataBerdasarkan jenis data, yaitu data kualitatif, maka teknik analisis data dilakukandengan pendekatan fenomenologi dari Van Kaam (oleh Moustakas dalam Basrowi danSuwandi, 2008:227)2.5. Temuan Penelitian dan Sintesis Makna Tekstural dan Struktural DialektikaKonflik dan Pengalaman Komunikasi Pasangan Perkawinan Jarak Jauhdalam Proses Penyelesaian Konflik Rumah Tangga2.5.1. Dialektika Konflik2.5.1.1.Integration ? Separation (Connection ? Autonomy) dan (Inclusion-Seclusion)Dalam hubungan perkawinan, menurut Mary Anne Fitzpatrick (Budyatna, 2011:166) meskipun ada kesamaan mengenai kebutuhan-kebutuhan yang nyata dalam mitraperkawinan, tidak ada cara perkawinan ideal yang tunggal. Pasangan-pasangan perkawinandapat dibedakan atas dasar mengenai ?ketidaktergantungan? mereka pada tingkat dimanamereka berbagi perasaan satu sama lain. Pada pasangan perkawinan jarak jauh, kondisihidup yang terpisah dengan pasangan maupun keluarga dan menjadi mandiri adalahsemacam tuntutan yang harus dijalani. Untuk itu tidak heran, saat berjauhan, pasangan iniharus mengesampingkan keinginan untuk selalu berada dekat dan tergantung denganpasangan maupun keluarga namun tetap menjaga komunikasi supaya keintiman hubungantetap terjalin harmonis.?Ketidaktergantungan? pada pasangan ini dapat dikaitkan dengan kontradiksiintegration-separation yang merupakan kontradiksi antara otonomi dan keterikatan yangmerujuk pada keinginan-keinginan kita yang selalu muncul untuk menjadi tidak tergantungpada orang-orang yang penting bagi kita dan juga untuk menemukan keintiman denganmereka. (West & Turner, 2008: 237). Kontradiksi ini terjadi didalam hubungan denganpasangan atau diantara pasangan dengan komunitas. Dalam hal autonomy ataupuninclusion, masih berkaitan dengan teori dialog oleh Martin Buber (Littlejohn, 2009:302)dimana sesuai dengan salah satu karakteristik relasi I-It, yaitu mementingkan diri sendiri.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialektika konflik diantara pasanganperkawinan jarak jauh terjadi cukup bervariasi. Terjadi kontradiksi antara keinginan untukmendekatkan diri atau menjauhkan diri dengan pasangan (connection-autonomy) ataupunkeluarga dan lingkungan (inclusion-seclusion) karena kegiatan personal, aktivitas denganlingkungan sosial, kesibukan kerja, waktu yang kurang pas untuk bertemu keluarga,konflik pribadi dengan anggota keluarga lain ataupun kesadaran untuk membatasi dirikarena peran dalam rumah tangga. Ditemukan pula salah satu informan yang tidakmelakukan aksi keduanya melainkan hanya mendiamkan pasangan.2.5.1.2.Stability ? Change (Certainty-uncertainty) dan (Conventionality-Uniqueness)Fitzpattrick mengungkapkan salah satu dimensi dimana pasangan perkawinandapat dibedakan berdasarkan ideologi mereka. Ideologi merupakan keadaan dimana paramitra menganut sistem keyakinan tradisional dan nilai-nilai terutama mengenaiperkawinan dan peran seks, atau menganut keyakinan-keyakinan nontradisional dan nilainilaiyang toleran terhadap perubahan dan ketidakpastian dalam hubungan. (Budyatna,2011:166). Ideologi ini dapat menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya dialektikaantara Stability ? Change yang merupakan kontradiksi antara hal yang baru dan hal yangdapat diprediksi merujuk pada konflik-konflik antara kenyamanan stabilitas dan keasyikanperubahan. Dialektik melihat interaksi antara kepastian dan ketidakpastian dalamhubungan. (West & Turner, 2008: 237).Dari hasil penelitian diketahui adanya kontradiksi antara keinginan untukmelakukan rutinitas atau spontanitas dengan pasangan (certainty-uncertainty) dikarenakankondisi keuangan yang semakin menipis, keinginan dalam hal seksualitas yang berbedaantara suami istri, rutinitas hobi yang melalaikan peran dalam rumah tangga, ataukehadiran anak-anak. Dalam hal kontradiksi mengikuti tradisi orang tua dan menciptakanhal yang unik (conventionality-uniqueness) terjadi dalam hal pengambilan putusan karenasampai saat ini informan masih tinggal bersama orang tua mereka. Pengambilan putusantetap dilakukan suami sebagai kepala rumah tangga meski terkadang orang tua masih ikutcampur urusan rumah tangga.2.5.1.3. Expression ? Non expression (Openess-Closedness) dan (Revelation-Concealment)Dialektika ini merupakan kontradiksi antara keterbukaan dan perlindunganberfokus yang pertama pada kebutuhan-kebutuhan kita untuk terbuka dan menjadi rentan,membuka semua informasi personal pada pasangan atau mitra hubungan kita, dan yangkedua untuk bertindak strategis dan melindungi diri sendiri dalam komunikasi kita. Posisidialektika mempunyai sifat baik/maupun (both/and) berkaitan dengan keterbukaan danketertutupan (West & Turner, 2008: 237). Openess ? Closedness merupakan kontradiksiantara keinginan untuk terbuka dengan pasangan dan tertutup. Sedangkan revelationconcealmentmerupakan kontradiksi antara keinginan untuk mengungkapkan informasidengan keluarga ataupun komunitas dan menyembunyikan informasi.Seperti yang diungkapkan pula oleh DeVito (1997:57) bahwa pengungkapan dirisebagai bentuk komunikasi dimana kita mengungkapkan sesuatu tentang siapa kita, yangdapat dijelaskan dalam Jendela Johari (Johari Window) yang dibagi menjadi empat daerahatau kuadran pokok yang masing-masing berisi diri (self) yang berbeda. Daerah terbuka(open self), daerah buta (blind self), daerah gelap (unknown self), dan daerah tertutup(hidden self).Kontradiksi antara keinginan untuk terbuka atau tertutup dengan pasangan(openess-closedness) memiliki jawaban yang hampir mirip, dimana pasangan informanterbuka namun selektif karena memiliki daerah tertutup (hidden self) yang dirahasiakanuntuk menjaga perasaan pasangannya. Dan pasangan lain terbuka sepenuhnya. Selain ituketiga pasangan juga memiliki semacam keluhan kepada pasangannya namun tidak beraniatau belum sempat diutarakan kepada pasangannya. Seperti ketakutan pasangan selingkuh,keegoisan pasangan, kejujuran pasangan, dan cemburu yang tidak beralasan. Mengenaikontradiksi keinginan untuk terbuka pada keluarga dan lingkungan (revelationconcealment)memiliki jawaban yang serupa diantara informan. Ketiga pasangan memilikikeinginan yang sama untuk tidak terlalu terbuka kepada orang tua ataupun keluarga.Berkaitan dengan lingkungan sosial, hanya 1 pasangan informan yang mengungkapkanbahwa terkadang sharing dengan teman seprofesi atau teman lain.2.5.1.4.Kesediaan menjalani perkawinan jarak jauhKuntaraf (1999: 78) mengungkapkan, keinginan untuk dapat dimengerti olehorang lain merupakan keinginan yang umum bagi kita. Mungkin saja kita memiliki alasanyang tepat dengan penuh pengertian, serta tindakan atau kebiasaan kita yang benar, namuntidak ada gunanya untuk mengharapkan agar kita dapat dimengerti oleh orang lain, kecualikita sendiri dapat mengerti orang lain. Selain itu adalah sangat penting bagi masing-masinguntuk mengerti, bukan dimengerti karena latar belakang dan lingkungan setiap orangberbeda, dan latar belakang yang berbeda itu dibawa ke pernikahannya masing-masing.Dari hasil penelitian diketahui bahwa informan ada yang menerima dengan ikhlas dan adapula yang terpaksa menerima kondisi perkawinan jarak jauh untuk memenuhi kebutuhanekonomi.2.5.2. Pengalaman Komunikasi Pasangan Perkawinan Jarak Jauh dalam ProsesPenyelesaian Konflik Rumah Tangga2.5.2.1. Persepsi tentang KonflikPersepsi mengenai konflik itu menjadi hal yang penting karena akanmempengaruhi solusi dari penyelesaian konflik. Konflik dapat memiliki efek negatif bilatidak dikelola dengan baik. Konflik juga bisa memiliki manfaat positif bagi hubungan kitadengan orang lain bila dikelola secara konstruktif. Ada beberapa manfaat konflik,diantaranya konflik dapat: menjadikan kita sadar bahwa ada persoalan yang perludipecahkan dalam hubungan kita dengan orang lain,dll (Supratiknya, 1995: 95-96)Dalam penelitian ini, konflik dianggap memiliki manfaat positif. Konflik dianggapsebagai proses pembelajaran karena dapat memperjelas keinginan dari kedua pasanganagar dicapai jalan penyelesaian yang cepat dan tidak berlarut lama. Selain itu konflik dapatmembuat informan mengerti dan mengenal sifat pasangan, mengetahui kelebihan sertakekuarangan masing-masing serta menguji kesabaran. Konflik juga dianggap sebagaiproses adaptasi dengan pasangan karena masing-masing individu berasal dari 2 keluargayang cara pemikirannya berbeda, dan juga sebagai anugerah, ekspresi kasih sayang kepadapasangan2.5.2.2. Peran dalam Konflik. Ada empat peranan yang terungkap dalam konflik: a mover, merupakanpasangan yang mendefinisikan atau memulai aksi; a follower merupakan pasangan yangmenyetujui, mendukung dan melanjutkan aksi; an opposer adalah pasangan yangmenentang dan selalu melawan aksi; dan a bystander merupakan pasangan yangmengamati apa yang terjadi tetapi tetap tidak bergeming, Sadarjoen (2005:51).Terkait peran dalam konflik, ada 3 peran dalam konflik yang terungkap dari hasilwawancara ketiga pasang informan. A mover, follower dan opposer. Ketiga pasanginforman memiliki peran yang sama yaitu sebagai a mover dan a follower.2.5.2.3. Situasi Tahap Awal Konflik (ekspresi pertentangan dan respon yangditunjukkan)Daya ekspresi atau ekspresi pertentangan menurut DeVito (1997:266) mengacupada keterampilan mengkomunikasikan keterlibatan tulus dalam interaksi antarpribadi.Daya ekspresi sama dengan keterbukaan dalam hal penekanannya pada keterlibatan, danini mencakup, misalnya, ekspresi tanggung jawab atas pikiran dan perasaan, mendorongdaya ekspresi atau keterbukaan orang lain, dan memberikan umpan balik yang relevan danpatut. Kualitas ini juga mencakup pemikulan tanggung jawab untuk berbicara danmendengarkan, dan dalam hal ini sama dengan kesetaraan.Respon merupakan tanggapan terhadap pesan mengenai apa yang telahdiputuskan oleh penerima. Respon dapat bersifat positif, netral, maupun negatif. Responpositif apabila sesuai dengan yang dikehendaki komunikator. Netral berarti respon itutidak menerima ataupun menolak keinginan komunikator. Dikatakan respon negatifapabila tanggapan yang diberikan bertentangan dengan yang diinginkan oleh komunikator.Pada dasarnya respon merupakan informasi bagi sumber sehingga ia dapat menilaiefektivitas komunikasi untuk selanjutnya menyesuaikan diri dengan situasi yang ada.(Suranto: 2011:8).Dari penelitian ini terungkap bahwa ekspresi pertentangan berupa marah,menangis, terus terang, bertindak tanpa pemikiran yang matang, dan memberikan nasehat.Sedangkan respon yang ditunjukkan adalah mengimbangi, tidak peduli, protes, menangis,dan menerima masukan.2.5.2.4. Strategi KonflikMenurut Devito (1997: 270) ada beberapa strategi konflik yang sering digunakantetapi tidak produktif. Dan ada beberapa prinsip manajemen konflik yang efektif danproduktif. Dari hasil penelitian diketahui bahwa strategi yang digunakan oleh pasanganperkawinan jarak jauh adalah manajemen konflik efektif maupun tidak efektif atau tidakproduktif. Manajemen konflik efektif adalah I messages dan bertengkar aktif sedangkanmanajemen konflik tidak produktif diantaranya menyalahkan, peredam, dan karung goni.Alan Sillar dalam teorinya an Attribution Theory of Conflict menyaring kembaliskemanya yang terdahulu mengenai atribusi teori dan menghubungkan pada ketigakategori resolusi konflik ini: avoidance behaviors, competitive behaviors, dan cooperativebehaviors. Avoidance behaviors merupakan perilaku menghindari menggunakankomunikasi, atau komunikasi tidak langsung. Competitive behaviors melibatkan pesannegatif. Dan cooperative behaviors yang memerlukan komunikasi yang lebih terbuka danpositif. (lLittlejohn, 1999: 277)Pada penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa pasangan informan 1merupakan pasangan yang memiliki cooperative behaviors, sedangkan pasangan informan2 merupakan pasangan yang memiliki competitive behaviors, dan pasangan 3 memilikicompetitive behaviors dan istri pasangan 3 memiliki avoidance behaviors, individu yangmenghindari komunikasi untuk menyelesaikan konflik.2.5.2.5.Proses mencari solusi (kebebasan menyampaikan pendapat, kesediaanmendengar pasangan,mempertimbangkan situasi kondisi pasangan )Dalam penelitian ini terungkap bahwa pada dasarnya setiap informan ingin selaluberinteraksi dengan pasangan dengan cara mengungkapkan pendapat kepada pasangan.Mengungkapkan pendapat sangat diperlukan supaya pokok permasalahan menjadi jelassehingga mudah dicari solusi dan juga mengungkapkan bahwa informan ingin dimengertioleh pasangannya. Mengungkapkan pendapat dapat menjadi indikator keterbukaan kepadapasangan karena tidak ada yang ditutup-tutupi. Namun meskipun sudah menyatakanpendapat, ada informan yang menyadari bahwa pendapatnya pada akhirnya tidak terlaludianggap oleh pasangannya. Seperti yang diungkapkan oleh Johannesen (1971) dalamLiliweri (2011: 408) bahwa salah satu karakteristrik hubungan Aku-Engkau adalah mutualopenness, yaitu adanya pola-pola perilaku dan sikap `yang memiliki sifat-sifat sepertihubungan timbal balik, membuka hati, gamblang dan terus terang, kejujuran danspontanitas, keterbukaan, berkurangnya sikap kepura-puraan, tidak bersikap manipulatif,persekutuan, intensitas, dan cinta dalam arti tanggungjawab satu sama lain.Mendengarkan pasangan juga menjadi salah satu syarat terjadinya komunikasiyang dialogis. Tanpa adanya kesediaan kedua pasangan saling mendengar secara aktif satusama lain, maka tidak akan terjadi dialog diantara pasangan tersebut. Menurut Kuntaraf(1999: 79) setiap pasangan suami istri yang mengambil waktu berhenti sejenak untukmendengar akan meningkatkan harga diri pasangannya. Hal ini perlu dihayati sebab padahakikatnya adalah lebih mudah untuk berbicara daripada mendengar. Kemampuanmendengar pasangan informan dalam penelitian ini cukup bervariasi. Ketiga pasanganinforman memang sama-sama mencoba untuk mendengarkan pasangan saat terjadikonflik. Bagi pasangan perkawinan jarak jauh, kemampuan mendengarkan mutlak harusdiasah lebih baik karena mereka lebih sering berkomunikasi melalui perantara yangcenderung rentan terhadap gangguan.Mempertimbangkan situasi dan kondisi pasangan dapat menjadi bentuk empatiyang merupakan kunci terjadinya komunikasi yang dialogis. Menurut Fisher dalamSadarjoen (2005:85) empati adalah kemampuan mengidentifikasi status emosional dariorang lain manakala orang tersebut tidak mampu mengaktualisasikannya dengan perasaanyang sama dan merupakan prasyarat bagi kekuatan pasangan dalam menjalin komunikasisatu sama lain. Dari hasil penelitian diketahui pada dasarnya adalah keharusan bagiinforman suami untuk memahami kondisi istri sebagai perempuan yang memiliki masamasalabil setiap bulannya yang mempengaruhi dalam proses penyelesaian konflik.Sedangkan istri pun mencoba memahami situasi dan kondisi suami dengan memahamikesibukan mereka bekerja, terutama pelaut yang kadang terhambat oleh cuaca burukseperti badai ekstrem. Bagi istri, meskipun sudah memahami suami terkadang merasasuaminya yang tidak memahaminya karena selalu menuntut untuk diutamakan.2.5.2.6. Persepsi mengenai solusiKuntaraf (1999: 102) mengungkapkan bahwa dalam berbagai konflik yangdihadapi, ada beberapa pemecahan konflik yang biasa terjadi. Beberapa contoh pemecahankonflik terdiri atas: akomodasi (kalah-menang), menghindar (kalah-kalah), kompetisi(menang-kalah), kompromi, dan kolaborator (menang-menang).Dari hasil penelitian terungkap bahwa terdapat tiga persepsi mengenai solusi yangdiambil. Solusi yang memuaskan, kadang memuaskan dan tidak memuaskan. Solusi tidakmemuaskan, merupakan kondisi dimana salah satu informan istri mencoba untuk mengalahdengan hasil keputusan suami. Mengalah demi perdamaian menandakan bahwa informanistri menggunakan cara akomodosi sebagai bentuk pemecahan konflik.2.5.2.7. Kendala atau HambatanKomunikasi interpersonal dalam prosesnya terdapat komponen-komponenkomunikasi yang secara integratif saling berperan sesuai dengan karakteristik komponenitu sendiri (Suranto, 2011:7). Diantara beberapa komponen tersebut ada 2 komponen yangberkaitan dengan kendala atau hambatan dalam penyelesaian konflik, yaitu gangguan(noise) dan konteks komunikasi.Gangguan atau noise merupakan apa saja yang mengganggu atau membuatkacau penyampaian dan penerimaan pesan, termasuk yang bersifat fisik dan phsikis.Sementara komunikasi selalu terjadi dalam konteks tertentu, paling tidak ada tiga dimensiyaitu ruang, waktu, dan nilai. Konteks ruang menunjuk pada lingkungan konkrit dan nyatatempat terjadinya komunikasi. Konteks waktu menunjuk pada waktu kapan komunikasitersebut dilaksanakan. Konteks nilai meliputi nilai sosial dan budaya yang mempengaruhisuasana komunikasi seperti adat istiadat, situasi rumah, norma sosial, norma pergaulan,etika, tata krama dan sebagainya.Dari hasil penelitian terungkap kendala internal dialami oleh sebagianinforman. Kendala internal atau dapat dikatakan noise yang bersifat phsikis yangterungkap dari penelitian ini adalah sifat egois yang dimiliki informan saat membahassuatu konflik dengan pasangannya. Ada pula informan yang kesulitan berkomunikasidengan pasangannya dikarenakan dirinya merasa kurang ekspresif.Kendala eksternal meliputi saluran, maupun konteks ruang, waktu, dan nilai. Noisepada saluran terjadi saat seringnya errorr pada teknologi komunikasi yang mereka gunakanataupun terlambat penyampaiannya. Sedangkan kondisi yang berjauhan dari pasangan jugamembuat penyelesaian konflik terhambat bagi ketiga pasangan informan ini. Kondisi disinitermasuk kondisi di lingkungan kerja dan kondisi jarak yang berjauhan diantara pasangan,bahkan kondisi tempat tinggal yang serumah dengan orang tua. Ada pula informan yangterpengaruh oleh kesibukan kerja dan kesibukan mengurus rumah tangga sehingga tanpasadar menghambat penyelesaian konflik. Orang tua dan lingkungan sosial (teman-teman)juga terkadang menjadi penghambat dalam proses penyelesaian konflik karena ada yangsuka memanas-manasi, sedangkan orang tua terkadang ikut campur masalah denganpasangan.3. PENUTUP3.1. SimpulanDialektika konflik diantara pasangan perkawinan jarak jauh terjadi cukupbervariasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dialektika konflik diantarapasangan perkawinan jarak jauh terjadi cukup bervariasi. Terjadi kontradiksi antarakeinginan untuk mendekatkan diri atau menjauhkan diri dengan pasangan ataupunkeluarga dan lingkungan karena kegiatan personal, aktivitas dengan lingkungansosial, kesibukan kerja, waktu yang kurang pas untuk bertemu keluarga, konflikpribadi dengan anggota keluarga lain ataupun kesadaran untuk membatasi dirikarena peran dalam rumah tangga. Ditemukan pula salah satu informan yang tidakmelakukan aksi keduanya melainkan hanya mendiamkan pasangan. Kemudianadanya kontradiksi antara keinginan untuk melakukan rutinitas atau spontanitasdengan pasangan dikarenakan kondisi keuangan yang semakin menipis, keinginandalam hal seksualitas yang berbeda antara suami istri, rutinitas hobi yangmelalaikan peran dalam rumah tangga, atau kehadiran anak-anak.Dalam hal kontradiksi mengikuti tradisi orang tua dan menciptakan halyang unik terjadi dalam hal pengambilan putusan karena sampai saat ini informanmasih tinggal bersama orang tua mereka. Pengambilan putusan tetap dilakukansuami sebagai kepala rumah tangga meski terkadang orang tua masih ikut campururusan rumah tangga. Sedangkan mengenai kontradiksi antara keinginan untukterbuka atau tertutup dengan pasangan ataupun keluarga dan lingkungan informanmencoba saling terbuka namun tetap memiliki informasi yang dirahasiakan.Mengenai pengalaman komunikasi dalam proses penyelesaian konflik,strategi yang digunakan oleh pasangan perkawinan jarak jauh adalah manajemenkonflik efektif maupun tidak efektif. Dalam hal kendala, pasangan perkawinanjarak jauh cukup memiliki kendala yang menghambat dalam proses penyelesaiankonflik, baik itu kendala internal maupun eksternal. Disarankan bagi peneliti yangingin mengambil tema penelitian mengenai perkawinan jarak jauh lebih dapatmempertimbangkan profesi suami atau istri, tingkat pendidikan dan frekuensipertemuan dengan pasangan dalam memilih informan untuk melihat variasi konflikdan dialektika yang terjadi.3.2. SaranSecara teoritis, penelitian ini berusaha memberikan gagasan ilmiah, terutama padaTeori Dialektika Relasional, dimana ketegangan-ketegangan yang terjadi tidak selaludiantara 2 hal yang bertentangan. Salah satu contoh seperti temuan penelitian dimanaterdapat aksi diam yang dilakukan oleh pasangan diantara dialektika untuk mendekatkandiri atau menjauhkan diri dari pasangan. Peneliti juga menyarankan bagi peneliti lain yangingin mengambil tema penelitian mengenai perkawinan jarak jauh lebih dapatmempertimbangkan profesi suami atau istri, tingkat pendidikan dan frekuensi pertemuandengan pasangan dalam memilih informan untuk melihat variasi konflik dan dialektikayang terjadiSecara praktis, bagi pasangan perkawinan jarak jauh ada beberapa hal yang harusdiperhatikan untuk menjaga keharmonisan dengan pasangan, seperti lebih seringmelakukan aktivitas spontanitas bersama pasangan supaya hubungan tidak membosankan.Selain itu lebih terbuka dan ekspresif dalam segala hal, termasuk menyampaikan keluhankeluhanyang selalu dipendam, dan tetap ber empati kepada pasangan. Perlu ditekankanjuga bahwa konflik tidak selalu berkaitan dengan hal negatif asalkan dikelola dengan carayang efektif.Secara sosial, ada baiknya pasangan yang akan menjalani pasangan perkawinanjarak jauh, mempertimbangkan kesiapan diri, karena cukup banyak kendala yang dialamipasangan ini saat berkomunikasi dengan pasangan.4. DAFTAR PUSTAKABasrowi dan Suwandi. (2008). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka CiptaDenzin, Norman K dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research.Yogyakarta: Pustaka PelajarDeVito, Joseph A. (1997). Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: Professional BooksGriffin, Emory A. (2011). A first look at Communication Theory-8ed. NY: McGraw HillJamil, M. Mukhsin. (2007). Mengelola Konflik Membangun Damai: Teori, Strategi danImplementasi Resolusi Konflik. Semarang: Walisongo Mediation CenterKuntaraf, Kathleen H Liwijaya dan Jonathan Kuntaraf. (1999). Komunikasi Keluarga:Kunci Kebahagiaan Anda. Bandung: Indonesia Publishing HouseKuswarno, Engkus. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi: Konsepsi,Pedoman, dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya PadjadjaranLepoire, Beth A. (2006). Family Communication, Nurturing and Control in a ChangingWorld. California: Sage Publications, IncLiliweri, Alo. (2011). Komunikasi: Serba Ada Serba Makna. Jakarta: KencanaLittlejohn, Stephen W. (1999). Theories of Human Communication sixth edition.USA:Wadsworth Publishing CompanyLittlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi: Theories Of HumanCommunication. Jakarta: Salemba HumanikaMoleong, Lexy J. (2008). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja RosdakaryaMoustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. California: SagePublications, IncSadarjoen, Sawitri Supardi. (2005). Konflik Marital: Pemahaman Konseptual, Aktual danAlternatif Solusinya. Bandung: Refika AditamaSoyomukti, Nurani. (2010). Pengantar Ilmu Komunikasi. Yogyakarta: Ar-RuzzSupratiknya, A. (1995). Komunikasi Antar Pribadi, Tinjauan Psikologis. Yogyakarta:KanisiusSuranto, AW. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha IlmuWalgito, Bimo. (2004). Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Yogyakarta: Andi OffsetWest, Richard dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis danAplikasi,edisi 3. Jakarta: Salemba HumanikaSumber dari InternetA. Pengantin Baru Kok, Sering Bertengkar. (2012) dalamhttp://log.viva.co.id/news/read/144808-pengantin_baru_kok_sering_bertengkar,diakses tanggal 31 Oktober 2012, pukul 21.00Kewajiban Suami terhadap Istri. (2007). dalam http://kawansejati.org/208-kewajibansuami-terhadap-istri, diakses 15 Februari 2013, 10.50)Nia Angga. (2011). Long Distance Relationship (LDR). dalamhttp://anggania.blogspot.com/2011/11/long-distance-relationship-ldr.html , diaksestanggal 15 Juli 2012, pukul 22.05Oom Komarudin. (2009). Bila Suami Jauh dari Istri, dalamhttp://www.wikimu.com/news/displaynews.aspx?id=14636, diakses 15 Februari2013, 10.45).Mohammad Ridwan. (2012). Long Distance Relationship Jadi Penyebab TingginyaPerceraian. http://www.lensaindonesia.com/2012/12/17/long-distance-relationshipjadi-penyebab-tingginya-perceraian.html, diakses 15 Februari 2013, 10.53Supriyono Sarjono. (2009). The Dissolution Of Marriage-Tahun-tahun Rawan Perceraiandalamhttp://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&view=article&id=590:the-dissolution-of-marriage-tahun-tahun-rawan-perceraian&catid=43:rumahtangga&Itemid=63, diakses tanggal 16 juli 2012, pukul 20.10
PRODUKSI PESAN MELALUI SITUS JEJARING SOSIAL FACEBOOK SEBAGAI MEDIA PENYAJIAN DIRI PUSPITANINGRUM, NOVI ADI; Rahardjo, Turnomo; Hasfi, Nurul
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PRODUKSI PESAN MELALUI SITUS JEJARING SOSIAL FACEBOOK SEBAGAI MEDIA PENYAJIAN DIRIABSTRAKJudul : Produksi Pesan Melalui Situs Jejaring Sosial Facebook sebagai media penyajian diriNama : Novi Adi PuspitaningrumNim : D2C006065Media jejaring Facebook saat ini telah menjadi media yang popular dalam mengkomunikasikan berbagai hal tentang diri pribadi dan keadaan sosial kepada orang lain. Facebook telah menjadi media penyajian diri bagi para pengguna akunnya melalui pesan-pesan yang mereka sampaikan pada kepada orang lain sesama pengguna Facebook. Para user seakan-akan berlomba-lomba untuk memproduksi pesan yang menarik agar status tersebut dilihat dan mendapat komentar dari individu (user) lain.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggunaan situs jejaring sosial facebook sebagai media dalam proses produksi pesan untuk penyajian diri serta untuk memahami alasan dan motif yang melatarbelakakangi individu dalam memproduksi pesan yang disampaikan dalam update status pada situs jejaring sosial Facebook. Penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan tipe penelitian fenomenologi dan pendekatan yang dipakai adalah deskriptif yang dikembangkan dari filsafat fenomenologi.Peneliti menggunakan Teori Perencanaan Charles Berger, dan didukung oleh Pendekatan Dramatugis oleh Erving Goffman. Responden pada penelitian ini adalah pria dan wanita berjumlah 5 orang yang berumur antara 18-25 tahun. Peneliti menggunakan narasumber dengan kriteria: aktif menggunakan media jejaring sosial Facebook dalam kehidupannya sehari-hari, dimana Facebook digunakan sebagai sarana untuk memproduksi pesan dalam rangka penyajian diriBerdasarkan hasil yang didapat dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa saat ini Facebook memang telah menjadi media ajang penyajian diri bagi para penggunannya. Pesan yang disampaikan oleh para pengguna Facebook pada umumnya berisi mengenai perasaan yang sedang mereka rasakan atau sedang mereka alami. Sebelum memproduksi pesan, para pengguna Facebook melalui tahapan seperti proses berpikir dan pemilihan diksi atau kata-kata. Hal ini bertujuan agar pesan yang mereka tidak menyinggung orang lain atau membuat citra mereka didepan para teman Facebooknya menjadi negatif.Kata Kunci : Facebook, Produksi Pesan, Perilaku Menyajikan DiRIABSTRACTTitle : Production Message Through Social Networking Sites Facebook as a Self Actualization MediaName : Novi Adi PuspitaningrumNim : D2C006065Facebook is social networking media that nowadays has become popular media to communicate various things about personal and social life to others. Facebook is self actualization media for its users through message sharing to another Facebook users. They seems to compete with another to produce a compelling message in order to receive comments from other users.This study aims to examine how Facebook users accomodate it as message production process for self actualization and gain deeply understanding in some reasons behind message production through status updates on Facebook website. This research is qualitative research using phenomenology methods that developed all approach based on phenomenology philosophy.Researcher used Charles Berger theory that is supported by Dramaturgy approach by Erving Goffman. Respondents in this reasearch are men and women consist of 5 people ages between 18-25 years old. The criteria are Facebook users that actively online on Facebook in their daily life where Facebook is used as means of message production for self actualization.Based on the result of this research, it may conclude that nowadays Facebook is indeed used as self actualization media for its users. The message generally contains their true feeling or they currently get through. Before producing a message, Facebook users get through some processes such as reflective process and diction selection process. Thus in regards to convey a message that won?t offend others or represent negative image towards their Facebook friends.Keywords: Facebook, Message Production, Self Actualization behaviorBAB IProduksi Pesan Melalui Situs Jejaring Sosial Facebook Sebagai Media Penyajian Diri1.1. LATAR BELAKANGFenomena penggunaan situs jejaring sosial Facebook, yang dapat diperoleh secara cuma-cuma telah menjadi media yang populer dalam mengkomunikasikan berbagai hal tentang diri pribadi dan keadaan sosial kepada orang lain. Membicarakan situs jejaring sosial, berarti membicarakan setiap pemilik akun (user) yang saling terhubung dan berkomunikasi satu sama lain, baik itu sebagai pengirim maupun penerima pesan dalam kehidupan sehari-hari. Facebook telah menjadi salah satu media yang memberi ruang seluas-luasnya bagi setiap individu untuk berkreasi dan berbagi seperti halnya memproduksi sebuah pesan. memproduksi sebuah pesan.Beberapa bentuk produksi pesan yang sering dilakukan, seperti; menuliskan kata-kata bijak di update status, menyampaikan kritik-kritik sosial, mengkomunikasi-kan kondisi pribadi (perasaan), menunjukkan lokasi saat ini dan aktivitas yang sedang dilakukan dan masih banyak lagi. Update status Facebook yang disampaikan dan dibaca oleh sesama pengguna merupakan sebuah kegiatan produksi pesan. Pengguna Facebook sebagai komunikator, ketika akan memproduksi sebuah pesan, sebenarnya sedang mengkomunikasikan sesuatu kepada pengguna (user) lain. Pesan tersebut pada dasarnya merupakan refleksi dari persepsi atau perilaku individu yang menyampaikannya. (Ritonga. 2005:20)Saat ini, akun Facebook seseorang telah menjadi semacam cerminan diri setiap pemiliknya. Facebook seolah-olah selalu menunjukkan ?inilah wajahku?, silahkan lihat diriku yang menjadikan Fesbuker menjadi semakin terbuka. Bahkan lebih dari itu, ini juga memunculkan semakin terbukanya ruang privat. Pengguna Facebook dengan sukarela dan berkesadaran tinggi akan membuka dirinya untuk bersedia dikomentari, dilihat, dan dipelototi orang lain. Update status Facebook yangmerupakan sebuah pesan yang diproduksi dalam rangka penyajian diri, sama saja dengan memperlihatkan perasaan yang dirasakan kepada individu lain. Karena dengan update status sebagai tempat pesan itu ditampilkan, setiap individu dapat leluasa mengungkapkan apa saja. Hal itulah yang membuat Facebook melalui update statusnya menjadi tempat ?ajang curhat? maupun media untuk menampilkan diri.1.2. PERUMUSAN MASALAHMemproduksi pesan melalui situs jejaring sosial facebook merupakan hal yang lazim dilihat oleh setiap orang. Banyaknya para user yang menggunakan facebook untuk memproduksi pesan mengenai perasaan mereka, membuat facebook menjadi suatu media yang terbuka bagi khalayak. Ketika proses produksi pesan melalui situs jejaring sosial Facebook, apa yang sedang terjadi dalam diri pengguna sangatlah berperan dalam sebuah pengambilan keputusan mengenai hal apa yang akan ia sampaikan sebelum ia membuat sebuah status Facebooknya. Baik itu perasaaan yang sifatnya emosional seperti senang, sedih, marah, kecewa, bahagia, dll, atau hal yang hal lain yang sifatnya dan orientasi nya mengarah ke sebuah usaha untuk dapat mencapai hasil sebuah pencitraaan diri kepada sesama user lain di facebook.Begitu banyaknya pengguna facebook yang menggunakan produksi pesan untuk penyajian diri, maka penulis ingin mengetahui: bagaimana individu memproduksi pesan melalui jejaring sosial facebook sebagai media penyajian diri?1.3. KERANGKA TEORI? Teori Perencanaan Charles Berger.Teori Perencanaan Charles Berger dimana di jelaskan bahwa rencana-rencana dari perilaku komunikasi adalah representative kognitif hierarki dari rangkaian tindakan mencapai tujuan. Dengan kata lain, rencana-rencana merupakan gambaran mental dari langkah-langkah yang akan diambil seseorang untuk memenuhi sebuah tujuan. Pada dasarnya Teori ini juga menjelaskan tentang proses-proses yang berlangsung dalam diri manusiadalam proses komunikasi yakni ketika proses membuat pesan dan proses memahami pesan. Manusia ketika dalam proses menghasilkan suatu pesan maka akan melibatkan proses yang berlangsung secara internal dalam diri manusia seperti proses berfikir, pembuatan keputusan, sampai dengan proses pembuatan symbol sebelum memproduksi pesan. (Littlejohn,2009: 184-185).Perkembangan peradaban manusia berpengaruh terhadap kompleksitas permasalahan yang dihadapi di dalam perencanaan, Sementara perkembangan teknologi berperan besar di dalam menetukan pola pendekatan perencanaan yang hendak diterapkan. Sejalan dengan perkembangan peradaban dan teknologi tersebut maka berkembang pula perencanaan dan praktek-praktek perencanaan yang terjadi pada kurun jaman tertentu. Seperti halnya dalam memproduksi pesan melalui facebook, dimana apa yang sedang terjadi dalam diri user sangatlah berperan didalam sebuah pengambilan keputusan individu sebelum memproduksi pesan di facebook nya. Baik itu perasaaan yang sifatnya emosional seperti senang, sedih, marah, kecewa, bahagia, dll, atau hal yang hal lain yang sifatnya dan orientasi nya mengarah ke sebuah usaha untuk dapat mencapai hasil sebuah pencitraaan diri kepada sesama user lainnya di facebook.? Pendekatan Dramaturgi Erving Goffman.Berawal dari pemikiran bahwa manusia adalah aktor dalam panggung kehidupan ini, maka tentu apa yang ditampilkan di panggung akan berdasarkan penataan. Seriring dengan perkembangannya, setiap orang (menjadi pengguna) akan memasuki presentasi diri yang termediasi. Apalagi, jika kesempatan mempresentasikan diri ini dilakukan di Facebook. Dapat terlihat dengan adanya Facebook, dapat memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi setiap pengguna untuk berekspresi, khususnya dalam menampilkan perasaan dan diri mereka masing-masing.Dalam bukunya yang berjudul, The Presentation Of Self In Everyday Life, Erving Goffman (1959) menggunakan konsep dari gagasan-gagasan Burke, dimana pendekatan dramaturgis sebagai salah satu varian interaksionisme simbolis yang sering menggunakan konsep ?peran sosial? dalam menganalisis interaksi sosial, yang dipinjam dari khasanah teater. Peran adalah ekspektasi yang didefinisikan secara sosial yang dimainkan seseorang dalam situasi untuk memberikan citra tertentu kepada khalayak yang hadir. Bagaimana sang aktor berperilaku bergantung kepada peran sosialnya dalam situasi tertentu.Goffman mengasumsikan bahwa ketika individu berinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akan diterima individu lain. Ia menyebut upaya itu sebagai ?pengelolaan kesan? (impression management) yaitu teknik-teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. (Mulyana, 2010:110-112) Oleh karena itu, ada sebuah proses produksi pesan yang melibatkan kondisi personal maupun sosial individu dalam menyajikan dirinya.KESIMPULAN1. Semakin berkembangnya era jejaring sosial saat ini, Facebook menjadi salah satu situs jejaring sosial yang memiliki banyak pengguna dari seluruh dunia. Bahkan fenomena yang berkembang saat ini adalah banyaknya pengguna Facebook yang menjadikan Facebook sebagai media bagi mereka untuk menyajikan diri mereka melalui pesan-pesan yang disampaikan melalui situs jejaring sosial tersebut kepada khalayak luas.2. Pengguna Facebook memproduksi pesan kepada khalayak luas melalui fitur update status. Melalui update status, para pengguna Facebook memproduksi pesan yang menyuarakan apa yang sedang mereka rasakan atau alami dengan bertujuan untuk memberitahukan hal tersebut kepadaorang lain. Faktor emosional dan perasaan pun turut mempengaruhi pesan-pesan yang mereka produksi melalui update status tersebut.3. Sebelum memproduksi sebuah pesan, para pengguna Facebook melalui sebuah tahapan-tahapan sebelum akhirnya pesan tersebut tersampaikan kepada khalayak luas. Tahapan-tahapan yang dilalui oleh para pengguna Facebook tersebut adalah proses berfikir, pemilihan diksi atau kata-kata serta upaya untuk mengantisipasi dampak yang mungkin akan ditimbulkan dari pesan-pesan yang mereka sampaikan tersebut terhadap khalayak luas yang menerima pesan tersebut.4. Pengguna Facebook melakukan penataan dalam account Facebook mereka dengan tujuan untuk membentuk sebuah citra diri yang baik. Mereka berharap, dengan melakukan penataan melalui Facebook khalayak luas dapat menilai citra diri mereka sebagai individu yang baik.Hasil (Outcome)Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa para informan sebagai seorang pengguna Facebook melalui beberapa proses dalam memproduksi sebuah pesan di akun facebooknya. Sebagai sebuah situs jejaring sosial yang diakses oleh banyak orang membuat para pengguna Facebook sadar bahwa pesan apapun yang mereka produksi di akun Facebook mereka akan membentuk sebuah penilaian terhadap pribadi mereka sendiri. Akun Facebook dinilai mampu merepsentasikan bagaimana karakter si empunya akun secara langsung. Oleh sebab itulah, para pengguna Facebook saat ini mulai berhati-hati dalam memproduksi pesan apapun dalam akun Facebooknya. Para pengguna Facebook melalui sebuah proses berpikir terlebih dahulu serta melakukan pemilihan diksi atau kata-kata sebagai tahapan dalam proses memproduksi pesan di akun Facebooknya. Hal ini bertujuan agar pesan apapun yang disampaikan melalui akun Facebook mereka tersebut akan membentuk sebuah citra yang baik dan positif. Dengan memproduksi pesan-pesan yang bersifat positif, para pengguna Facebook berharap dapat menyajikan diri mereka dengan baik dihadapan para teman Facebooknya.DAFTAR PUSTAKAArisandy, Desy.2009. Top Bak Artis Beken Dengan Facebook. Yogyakarta: Garailmu.Supratiknya .(1995). Komunikasi Antar Pribadi. Yogyakarta: Kanisius.Farid Hamid, Dr. M.Si. & Heri Budianto, S.Sos., M.Si. (2011). Ilmu Komunikasi: Sekarang Dan Tantangan Masa Depan. Jakarta: Kencana.Fahmi, Abu Bakar. (2011). Mencerna Situs Jejaring Sosial. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.Fidler, Roger. (2003). Mediamorfosis (Memahami Media Baru) Terjemahan. Yogyakarta: Bentang Budaya.Griffin, Em. (2000). A First Look At Communication Theory:Fourth Edition. USA: Megraw Hill Companies.Hartley, John. (2010). Communication, Cultural & Media Studies: Konsep Kunci. Yogyakarta: Jalasutra.Jalaludin, Rakhmat. (2005). Psikologi komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya.Littlejohn, Stephen W. (1999). Theories Of Human Communication sixth edition. Belmont California. Wadsworth Publishing Company.Littlejohn, Stephen W.(2009). Teori Komunikasi Edisi 9. Jakarta: Salemba Humanika.McQuail, Denis. (2010). Teori Komunikasi Massa (Edisi 6). Jakarta: Salemba Humanika.Moustakas, Clark. E. (1994). Phenomenological Research Methods. London : Sage.Mulyana, Deddy. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Pilialang, Yasraf Amir. (1999). Sebuah Dunia Yang Dilipat. Bandung: Mizan.Reed H Black dan Edwin O Haroldson. (2009). Toksonomi Konsep Komuniasi. Surabaya: Papyrus.Ritonga, M J. (2005). Tipologi pesan persuasif. Jakarta: Indeks.Rogers, Everett M. (1986). Communication Technologi and The New Media In Societies. New York: The Free Press.Syamsudin, Abin M. (2005). Psikologi Kependidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.Turkle, Sherry. (1995). Life On The Screen: Identity in the age of the internet. New York: Simon & Schuster.Tinarbuko, Sumbo. (2009). Mendengarkan Dinding Fesbuker. Yogyakarta. Multikom.Vardiansyah. (2004). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.West, Richard & Turner, H. Lynn.( 2008). Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika.Ebook:Griffin, Em. (2011). A First Look At Communication Theory: Eight Edition. USA: Megraw Hill Companies.InternetAgustus 2012, Pengguna Facebook Capai 1 Milyar orang. (2012). Dalam http://www.lihatcara.com/2012/01/agustus-2012-pengguna-facebook-capai-1.html. Diunduh pada 4 Juli 2012 pukul 18:30 WIBDalam http://id.wikipedia.org/wiki/Emosi. Diunduh tanggal 5 juli 2012 pukul 10:00 WIBFazriyati, Wardah. (2012). Tak Cukup ?Sharing? di dunia maya. Dalam http://female.kompas.com/read/2012/02/16/17215958/Tak.Cukup.Sharing.di.Dunia.Maya. Diunduh tanggal 4 Juli 2012 pukul 19:00 WIBDalam http://id.wikipedia.org/wiki/Facebook. Diunduh tanggal 5 Juli 2012 pukul 10:15 WIBDalam http://inkvibe.com/2013/01/pertumbuhan-jumlah-pengguna-internet-dan-pengaruhnya-ke-marketing/. Diunduh tanggal 4 Maret 2013 pukul 20:00
BAHASA GAUL DAN EKSISTENSI DIRI Sadewo, Jonathan Dio; Santosa, Hedi Pudjo; Suprihartini, Taufik; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemakaian bahasa gaul saat ini sudah menjadi pemakaian sehari-hari, adanyakebutuhan akan penggakuan ini menjadikan anak muda berperan pada lingkungannyauntuk membuat suatu kesan yang ditampilkan didepan orang-orang. Hal inilah yangdidapat pada teori Dramaturgi Sosial oleh Erving Goffman yaitu bagaimana orangberperan di depan penonton untuk menampilkan suatu kesan yang merupakan tujuandari pertunjukan tersebut. Didalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui danmenjelaskan pengalaman dari individu-individu dalam penggunaan bahasa gaul untukberinteraksi. Hasil dari wawancara yang mendalam didapatkan dari informan yaituanak muda yang memakai bahasa gaul secara intens. Penelitian ini merupakanpenelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode fenomenologi.Pada penelitian ini mendapatkan suatu hasil yaitu bahasa gaul yang digunakanoleh anak muda saat berinteraki satu dengan yang lainnya merupakan sarana atau alatpenunjukan eksistensi didepan penonton yang menjadi bagian pertunjukan.Penggunaan bahasa gaul ini merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan darikeseharian anak muda. Kemudahan untuk berkomunikasi yaitu menjadikanpemakaian bahasa gaul lebih mengakrabkan. Penampilan didepan lingkungannya saatmenggunakan bahasa gaul (frontstage) akan berupa sebuah penampilan yang sudahdiatur tujuannya yaitu menampilkan sebuah kesan yang sama dengan yangdiinginkan. Berbeda dengan kondisi sebenarnya yaitu ketika informan berada padakondisi tidak ada penonton (backstage) dengan menampilkan diri yang sebenarnya.Penampilan yang dibuat akan menciptakan kesan bahwa para anak muda yangmenggunakan bahasa gaul adalah anak muda yang eksis dan mengikutiperkembangan zaman.
STRATEGI PENGGUNAAN IDENTITAS LOKAL OLEH PAMITYANG2AN QWERTY RADIO DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI Zuldi, Irfan; Gono, Joyo NS; Rahardjo, Turnomo; Naryoso, Agus
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radio Streaming adalah bentuk digital dari radio konvensional. Radio Streaming saat ini dinilai lebih efisien dan mudah karena perkembangan teknologi yang semakin maju sehingga banyak orang beralih ke radio streaming. Bermula dari sebuah kontrakan di daerah Yogyakarta, para pendiri radio streamingPamityang2an qwerty radio ini memulai mengudara. Dengan menggunakan twitter sebagai alat komunikasi dengan para pendengarnya, radio ini adalah radio yang pertama kali mengudara dengan konsep tidak dengan suara penyiarnya, melainkan twitter sebagai penggantinya.Penulis meneliti strategi penggunaan identitas lokal dan kebudayaan oleh Pamityang2an qwerty radio dalam mempertahankan eksistensi. Yogyakarta kota yang sangat menjunjung tinggi budaya membuat radio ini sangat dikenal dikalangan anak muda, tidak hanya di Yogya saja melainkan di luar kota karena penggunaan teknologi streaming yang membuat jangkauan yang tidak terbatas selama para pendengar memiliki koneksi internet. Selain itu unsur kebudayaan yang melekat dari radio ini sangat kental, yang membuat radio ini sangat menarik untuk diteliti. Konsep streaming yang dipadukan dengan twitter sangat membantu dalam melebarkan pendengar mereka. Dan identitas lokal serta kebudayaan yang mereka usung pun membedakan mereka dengan radio streaming lainnya. Di perjalanannya yang memasuki tahun kelima, Pamityang2an qwerty radio juga menemukan hambatan-hambatan dalam menjalankan radio ini, seperti perpanjangan tangan dari radio konvensional yang merambah dunia streaming dengan dana yang besar, serta munculnya radio-radio streaming lainnya. Namun, hal tersebut dihadapai dengan strategi yang mereka punya untuk dapat mempertahankan eksistensi mereka hingga saat ini.
PEMAKNAAN PEMBACA TERHADAP KISAH-KISAH RUMAH TANGGA BERTEMA PERSELINGKUHAN DALAM RUBRIK OH MAMA, OH PAPA DI MAJALAH KARTINI Sari, Ayu Permata; Santosa, Hedi Pudjo; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemaknaan Pembaca Terhadap Kisah-kisah Rumah TanggaBertema Perselingkuhan dalam Rubrik Oh Mama, Oh Papa diMajalah KartiniSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Imu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusun :Ayu Permata SariD2C009109JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013Nama : Ayu Permata SariNIM : D2C009109Judul : Pemaknaan Pembaca Terhadap Kisah-kisah Rumah TanggaBertema Perselingkuhan dalam Rubrik Oh Mama, Oh Papa di MajalahKartiniABSTRAKKehadiran rubrik-rubrik confession di majalah-majalah sebagai tempat curahanhati penulis menjadi pilihan bagi pembaca yang ingin berbagi kisah pribadinya.Rubrik Oh Mama, Oh Papa di Majalah Kartini menjadi rubrik pengakuan yangcukup dikenal sejak awal kemunculannya. Dengan menyajikan berbagai kisahkisahrumah tangga termasuk yang bertema perselingkuhan, rubrik ini jugamenampilkan konstruksi wanita dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitianini untuk mengetahui bagaimana pemaknaan pembaca Majalah Kartini terhadapkisah-kisah rumah tangga bertema perselingkuhan di rubrik Oh Mama, Oh Papadan konstruksi wanita di dalamnya. Teori yang digunakan Encoding/DecodingModel Stuart Hall, Relevance Theory dan Konstruksionisme Sosial. Tipepenelitian ini deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukandengan menggunakan indepth interview kepada keempat informan yaitu pembacarubrik Oh Mama, Oh Papa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembaca rubrik Oh Mama, Oh Papa melihatrubrik tersebut sebagai rubrik berbagi wanita yang bermasalah dengan rumahtangga. Manfaat lain yang diperoleh dari rubrik ini sebagai sarana pembelajarandan hiburan. Kisah-kisah rumah tangga bertema perselingkuhan menarik dibacadan membuat pembaca penasaran dengan ending cerita. Konten lain sepertitanggapan psikolog dan kotak simpati serta penampilan visual rubrik Oh Mama,Oh Papa ini juga menarik. Tanggapan psikolog dirasa menolong dengan memberipenyelesaian masalah serta dukungan dan saran bagi penulis. Kotak simpatisebagai wujud rasa empati pembaca terhadap masalah penulis. Rubrik Oh Mama,Oh Papa yang menarik serta memberikan manfaat tersebut tidak membuatinforman ingin berpartisipasi dalam menulis kotak simpati danmerekomendasikan rubrik ini kepada teman atau kerabat yang memiliki masalahrumah tangga. Kisah-kisah rumah tangga yang dramatis dan terkadang tragismerupakan hasil karya editting redaksi yang bertujuan meraup keuntungan.Konstruksi wanita di rubrik Oh Mama, Oh Papa sebagai wanita lemah, tertindas,dan hidup dalam diskriminasi gender dan partiarkhi. Dibalik konstruksi, wanitadinilai kuat dan tegar menghadapi masalah rumah tangga sendiri. Dalam kisahperselingkuhan, wanita dan pria memiliki peluang sama menjadi pelaku. Posisipelaku tidak membuat wanita terlihat superior namun justru dinilai tidakterhormat. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembaca menerima rubrik OhMama, Oh Papa sebagai rubrik curahan hati yang berguna bagi yang bermasalahdengan rumah tangga.Kata kunci : Penerimaan pembaca, rubrik, konstruksi, rumah tanggaPendahuluan :Keluarga dan rumah tangga merupakan hal yang tak dapat dipisahkan darikehidupan seorang individu. Perselingkuhan oleh pasangan ini dinilai sebagaisalahsatu penyebab ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Ketidakharmonisandalam rumah tangga terkadang membuat pasangan ingin mengakhiripernikahannya dengan bercerai. Perselingkuhan juga bisa memicu konflikberkepanjangan yang perlu segera diatasi.Wanita yang menghadapi segala macam konflik rumah tangga inimembutuhkan tempat untuk berbagi cerita dan juga mendapatkan dukungan,saran, serta solusi untuk menyelesaikan konflik rumah tangga tersebut. Rubrik OhMama, Oh Papa di Majalah Kartini hadir sebagai tempat memenuhi kebutuhanwanita tersebut. Selain menampung berbagai macam kisah-kisah tentangpermasalahan rumah tangga yang dialami oleh wanita, rubrik ini jugamenyediakan bantuan psikologis yang mendukung wanita.Wanita yang pernah meluapkan kisah rumah tangganya dalam rubrik inidianggap lumrah oleh sebagian besar masyarakat, namun diluar dugaan ada pulakaum pria yang juga menceritakan kisahnya. Sosok pria dalam masyarakat kitadipandang lebih tangguh daripada wanita serta dapat menyelesaikan masalahnyasendiri. Psikolog dihadirkan dalam rubrik Oh Mama, Oh Papa sebagai problemsolver yang menanggapi, memberi saran, solusi untuk permasalahan yangdihadapi. Disediakan juga kotak simpati di akhir sebagai tempat khusus untukpara pembaca mencurahkan simpati bagi penulis yang sedang menghadapimasalah.Kisah-kisah yang ditulis dalam rubrik Oh Mama, Oh Papa terutama yangberkaitan dengan perselingkuhan seolah meyakinkan pembaca bahwa perempuanmemang perlu perlindungan dan dukungan. Kebebasan para wanita ini dalammencurahkan masalah mereka pada media massa mungkin merupakan salah satucara ampuh bagi mereka untuk menyelesaikan masalahnya. Hal-hal pribadi sepertimasalah rumah tangga bagi sebagian orang bukan suatu hal yang harusdisebarluaskan untuk dijadikan konsumsi khalayak umum. Namun di rubrik ini,wanita rela menceritakan masalah mereka untuk dibaca banyak orang.Pembaca diajak secara aktif menerima pesan dan memproduksi makna,tidak hanya menjadi individu pasif yang menerima makna yang diproduksi dalamrubrik Oh Mama, Oh Papa. Pemaknaan yang nantinya didapat oleh pembaca akandiolah dengan segala pengalaman dan latar belakang yang pernah pembaca alami.Majalah Kartini yang membidik kaum wanita sebagai pembacanya ternyatamenemukan sebagian kecil kaum pria pernah membaca dan ada pula yang tertarikmenuliskan kisahnya di rubrik Oh Mama, Oh Papa. Kesimpulan yang bisa ditarikadalah pembaca majalah ini tak hanya wanita namun pria juga memiliki peluangmenjadi pembacanya rubrik tersebut.Bagi wanita, rubrik ini bisa dirasa sangat bermanfaat sebagai tempatberbagi cerita dan mendapatkan solusi atas masalah rumah tangga yang dihadapi.Namun lain halnya dengan pria, bisa saja setuju atau menentang adanya rubrik OhMama, Oh Papa ini. Terbukti dengan adanya pria yang pernah menceritakanmasalah rumah tangga di rubrik Oh Mama, Oh Papa.Berdasarkan hal tersebut, peneliti mencoba mengidentifikasi bagaimanapembaca secara aktif dapat memaknai isi pesan dari kisah-kisah rumah tanggaberkaitan dengan perselingkuhan yang disajikan dalam rubrik Oh Mama, Oh Papapada majalah Kartini.Tujuan Penelitian :Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana khalayakmenginterpretasikan kisah-kisah rumah tangga berkaitan dengan temaperselingkuhan dalam teks media di rubrik Oh Mama, Oh Papa di MajalahKartini. Selain itu, penelitian ini juga ingin melihat bagaimana konstruksi sosokwanita di dalam rubrik Oh Mama, Oh Papa.Kerangka Pemikiran :Stuart Hall?s Decoding Encoding ModelModel ini fokus pada ide bahwa audiens memiliki respon yang bermacammacampada sebuah pesan media karena pengaruh posisi sosial, gender,usia, etnis, pekerjaan, pengalaman, keyakinan, dan kemampuan merekadalam menerima pesan. Teks media dilihat sebagai sebuah jalanmenghadirkan ?preferred reading? kepada audiens tetapi mereka tidakperlu menerima preferred reading tersebut. Preferred reading mengacupada cara untuk menyandikan kembali (decode) pesan yang menawarkanaudiens untuk menginterpretasikan pesan media pada segala kemungkinanyang dapat diperdebatkan.Teori Relevansi (Relevance Theory)Dan Sperber dan Deirdre Wilson dalam teori relevansi berusaha untukmenjelaskan bagaimana pendengar (listeners) memahami maksud atautujuan pembicara (speakers). Dua pendekatan yang digunakan untukmenjelaskan masalah ini yaitu model coding dan model inferential. Modelcoding sering kali dikaitkan dengan semiotika, atau berarti kata-kata dansimbol bersama-sama membentuk suatu makna. Model inferencemengusulkan bahwa makna tidak secara sederhana disampaikan tapi harusdisimpulkan oleh komunikator lewat bukti dalam pesan. Komunikasimanusia modern tidak bisa dijelaskan hanya dengan perspektif coding,membuat pendekatan inferential sangat penting. (Sperber dan Wilsondalam Littlejohn, 1999: 130)Khalayak Aktif Versus Khalayak PasifMedia mengenal dua kategori khalayak yaitu khalayak aktif dan pasif.Khalayak pasif dilihat sebagai orang-orang yang mudah dipengaruhi olehmedia. Sedangkan khalayak aktif dipandang sebagai kalangan orang-orangyang membuat keputusan aktif tentang bagaimana menggunakan media.Ide-ide mengenai konsep khalayak seringkali diasosiasikan denganberaneka ragam teori efek media sebagai kekuatan yang ?powerful? atauberkuasa terhadap khalayak pasif, sedangkan efek yang minim akandidapatkan media pada khalayak aktif.Media : Konstruksionisme SosialPaham konstruksionisme sosial (social constructionism) menurut hasilpenelitian Peter Berger dan Thomas lebih dipahami dan dikenal denganistilah the social construction of reality. Sudut pandang ini telahmelakukan penyelidikan tentang bagaimana pengetahuan manusiadibentuk melalui interaksi sosial. Identitas benda dihasilkan daribagaimana kita berbicara tentang objek, bahasa yang digunakan untukmenangkap konsep kita, dan cara-cara kelompok sosial menyesuaikan diripada pengalaman umum mereka. Oleh karena itu, alam dirasa kurangpenting dibanding bahasa yang digunakan untuk memberi nama,membahas, dan mendekati dunia. (Littlejohn, 2009:67)Rubrik dalam MajalahMajalah seperti sebuah club, yang mana fungsi utamanya adalahmemberikan wadah bagi pembaca untuk mendapatkan informasi denganmemberikan rasa nyaman dan menjadikannya kebanggaan bagiidentitasnya. (Winship dalam Jenny McKay, 2000:3). Ide yang dituangkandi dalam sebuah majalah memberikan wadah bagi pembaca agar dapatmenciptakan rasa saling memiliki dengan kelompok yang lebih luasmeskipun tujuan majalah utamanya adalah meningkatkan pendapatandengan menarik perhatian pembaca dengan segala konten yang ada didalamnya sehingga dapat mempertahankan konsumen yang tak lain adalahpembacanya.Kesimpulan Penelitian :1. Rubrik Oh Mama, Oh Papa diterima sebagai rubrik yang memberikan wanitatempat bercerita tentang kisah-kisah rumah tangganya. Rubrik ini mampumemberikan manfaat pembelajaran dan hiburan bagi pembaca.2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan kepada keempat informan, kisah-kisahrumah tangga yang ditampilkan dalam rubrik Oh Mama, Oh Papamenunjukkan preferred reading yang ditawarkan dalam rubrik Oh Mama, OhPapa dapat dimaknai sebagai makna dominan dalam teks tersebut meliputikisah-kisah rumah tangga yang disajikan, tema perselingkuhan, tanggapanpsikolog, serta penampilan visual di rubrik Oh Mama, Oh Papa. Maknanegosiasi terjadi di dalam konstruksi wanita yang dihadirkan dalam rubrik OhMama, Oh Papa. Keempat informan menegosiasikan tentang bagaimanagambaran wanita yang sengaja ditampilkan sebagai sosok yang lemah,tertindas, selalu menerima ketidakadilan. Pemaknaan alternatif yang merekabentuk adalah menolak konstruksi sosok wanita dalam rubrik Oh Mama, OhPapa akan tetapi menganggap dengan adanya konstruksi tersebut,ditampilkan kekuatan, ketegaran dan kesabaran wanita dalam menghadapimasalah rumah tangga sendirian. Sedangkan posisi oposisi terdapat padaketidaktertarikan mereka untuk merekomendasikan teman atau kerabatmereka yang mengalami masalah rumah tangga bercerita ke rubrik Oh Mama,Oh Papa. Selain itu, kotak simpati untuk menunjukkan empati kepada penuliskisah dirasa tidak perlu ditampilkan.3. Konstruksi sosok wanita dalam rubrik Oh Mama, Oh Papa kurang berpihakpada wanita. Wanita digambarkan lemah, tertindas, terpaksa menerimaketidakadilan dalam diskriminasi gender dan budaya partiarkhi. Dalam kisahkisahbertema perselingkuhan, para informan memaknai berbeda tentangposisi pria dan wanita dalam perselingkuhan. Menurut para informan,perselingkuhan yang dilakukan wanita biasanya dilatarbelakangi alasanemosional sedangkan pada pria dilatarbelakangi faktor kejenuhan danbiologis. Citra wanita yang berselingkuh akan lebih buruk di mata masyarakatdaripada pria yang berselingkuh. Pria yang berselingkuh akan dipandangbiasa saja, namun pada wanita akan diberikan label rendahan, tidak terhormat,dan tidak bisa menjaga diri dan kelurga. Wanita menilai perselingkuhanmerugikan pihak wanita karena selain melukai hati wanita dan keluarganya,perhatian pria akan tercurah pada wanita lain. Pria menilai perselingkuhanbisa jadi wajar dilakukan apabila dalam rumah tangga tidak ditemuikeharmonisan dan kenyamanan.DAFTAR PUSTAKABuku :A. Bell, M. Joyce and D. Rivers. 1999. Advanced Media Studies. Hodder &StoughtonAllen, Pamela. 2004. Membaca, dan Membaca Lagi; [Re]interpretasi FiksiIndonesia 1980-1995 (terj. Bakdi Soemanto). Magelang: Indonesiatera.Downing, John, Ali, Mohammadi, dan Sreberny, Annabelle. 1990. QuestioningThe Media : A Critical Introduction. London : Sage Publication, Ltd.Assegaf, Djafar. 1983. Jurnalistik Masa Kini. Ghalia Indonesia. Jakarta.Baran, Stanley. 2003. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Salemba HumanikaBaran, Stanley. 2012. Introduction to Mass Communication : Media Literacy andCulture (updated edition). McGraw-Hill EducationBerger, Peter L. & Thomas Luckmann. 1990. Langit Suci: Agama sebagaiRealitas Sosial (diterjemahkan dari buku asli Sacred Canopy olehHartono). Jakarta: Pustaka LP3ES.Burton, Graeme. 2002. More Than Meets The Eye: An intoduction to MediaStudies. London: Arnold PublisherByerly, Carolyn M dan Ross, Karen. 2006. Women and Media. United Kingdom :Blackwell PublishingChambers, Deborah, Steiner and Carole Fleming. (2004). Women And Journalism.London And New York.Djunaedi, Fajar. 2007. Komunikasi Massa Pengantar Teoritis. Yogyakarta:SantustaJane, Ritchie dan Luwis, Jane. 2003. Qualitative Research Practice. New Delhi :SAGE PublicationsJensen, Klaus Bruhn & Nicholas W. Jankowski. 1991. A Handbook of QualitativeMethodologies For Mass Communication Research. London : Routledge.Jensen, Klaus Bruhn & Nicholas W. Jankowski. 2002. A Handbook of Media andCommunication. Taylor&FrancisKasali, Rhenald. (1992). Manajemen Periklanan Konsep dan aplikasinya DiIndonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Littlejohn, Stephen W dan Foss, Karen A. 2009. Teori Komunikasi: Theories ofHuman Communication. Jakarta : Salemba HumanikaMcKay, Jenny. 2000. The Magazines Handbook. New York.McKay, Jenny. 2003. The Handbook of Magazines. London : RoutledgeMcQuail, Dennis. 2003. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: ErlanggaMcQuail, Dennis. 2011. McQuail?s Mass Communication Theory. London : SagePublication, LtdMoleong, Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif (edisi revisi). Bandung :PT. Remaja Rosdakarya.Mosco, Vincent. 2009. The Political Economy of Communication (2nd edition).London : SAGE Publications, LtdNeuman, W. Lawrence. 2007. Social Research Methods: Qualitative andQuantitative Approaches ? 6th Edition. Boston: Pearson EducationRayner, Philip, Wall, Peter dan Kruger, Stephen. 2004. Media Studies theEssential Resources. London dan New York: RoutledgeShoemaker, Pamela dan Resse, Stephen D. 1991. Mediating The Message :Theories of Influence on Mass Media Content- 2nd Edition. New York:Longmann PublisherTong, Rosemarie Putnam. 2004. Feminist Thought. Yogyakarta: JalasutraVivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : KencanaJurnal :Dwi Utami, Heni. 2004. KEKERASAN TERHADAP PREMPUAN DI MEDIAMASSA (Analisis Wacana Rubrik ?Oh Mama, Oh Papa? di MajalahKartini). Universitas Muhammadiyah MalangIdi Subandi Ibrahim dan Hanif Suranto (Ed). 1998. Wanita dan Media, KonstruksiIdeologi Gender dalam Ruang Publik Orde Baru. Bandung: Remaja RosdaKaryaWiratmo, Liliek Budiastuti dan Mohammad Ghiffari. 2008. RepresentasiPerempuan dalam Majalah Wanita, Jurnal Studi Gender dan Anak, PSGSTAIN Purwokerto, Vol. 3, No.1.Internet :Tanesia, Ade. 2011. Representasi Perempuan dalam Media. Pusat Sumber DayaMedia Komunitas (http://www.antaranews.com/berita/1269598504/sumurkasur-dapur-citra-perempuandimedia-Massa).Kamus Bahasa Indonesia Online dalam http://kamusbahasaindonesia.org/rubrikdiakses pada tanggal 9 September 2013 pukul 17.30 WIBMajalah Kartini, Bacaan Kaum Wanita. Dalamhttp://www.anneahira.com/majalah-kartini.htm Diunduh pada tanggal 25Maret 2013 pukul 05.21 WIBRubrik Oh Mama, Oh Papa diangkat ke Layar Televisi. Dalamhttp://arsip.gatra.com/2005-06-29/versi_cetak.php?id=85404 Diakses padatanggal 25 Maret 2013 : 05.40 WIB
Co-Authors Abdul Malik, Aminullah Adi Nugroho Agus Naryoso Aisyah Monicaningsih Alifati Hanifah Anindhita Puspasari, Anindhita Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annie Renata Siagian, Annie Renata Aprilla Agung Yunarto, Aprilla Agung Arlinda Nurul Nugraharini, Arlinda Nurul Asri Rachmah Mentari Asteria Agustin Astra Parahita, Tiara Athira Yahya, Nurul Avianto Aryo Wicaksono Ayu Lestari, Mega Ayu Permata Sari Bayu Hastinoto Prawirodigdo Brillian Barro Vither Camillia Ariej, Marshya Dalil, Firas Dea Chantika, Puspita Dea Dwidinda Lutfi Destika Fajarsylva Anggraini Devi Pranasningtias Indriani Devi Valentina Simamora, Sri Devi Valentina Simamora DEWI IRAWATI Dhyah Shanti Nur Kartika Dini Tiara I Dipa Wirayatama, Dipa Djoko Setyabudi DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dr. Sunarto Dyah Woro Anggraeni Erva Maulita Eva Ratna Hari Putri FAHMI NURWAHID, ADITYA Febrian Aditya Putra Fitria Purnama Sari Gendari Sayang, Ajeng Geta Ariesta Herdini Ghozali, Elvina Gilang Maher Pradana, Gilang Maher Handono Priambodo, Handono Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani, Hapsari Dwiningtyas Hedi Pudjo Santosa Ika Adelia Iswari, Ika Adelia Ilham Prasetyo Indria Widiasari, Fransiska Irfan Zuldi Isti Murfia Jenny Putri Avianti Jonathan Dio Sadewo, Jonathan Dio Joyo NS Gono Karina Puspadiati Khurrosidah, Sela Kristi Ayuningtyas, Yobelta Laksmita Adi, Nastiti Lintang Ratri Rahmiaji Lucia Eka Pravitasari M Bayu Widagdo Maharani Easter Maharani, Fatia Marlia Rahma Diani Maulana Ocky Adhicondro, Maulana Ocky Meidiza Firda Mapikawanti Miftakhul Noor Alfiana Mirtsa Zahara Hadi Much Yulianto Much. Yulianto MUCHAMAD MACHBUB LUTFI Muhammad Reza Mardiansyah Muhammad Syamsul Hidayat Mujahidah Amirotun Nisa Nikolas Prima Ginting, Nikolas Prima NIKOLAUS AGENG PRATHAMA NOVI ADI PUSPITANINGRUM Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurul Hasfi Nurul Hikmah Opi Prathita Sari, Nadila Osa Patra Rikastana, Osa Patra Pandu Hidayat, Pandu Paskah M Pakpahan, Paskah M Primada Qurrota Ayun, Primada Qurrota Purbo Darpitojati, Gusti Qury Aini Restu Ayu Mumpuni, Restu Ayu Ricki Apriliono Rifki Nur Pratiwi Rizki Kurnia Yuniasti ROBBIANTO ROBBIANTO Rossa Oktaviyani Salshabila Putri Persada Sasaningtawang, Bening Sefti Diona Sari Shafira Inas Nurina Sony Kusuma Anugerah Sri Budi Lestari Sri Nofidiyahwati Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tandiyo Pradekso Taufik Suprihartini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Tri Yoga Adibtya Tama, Tri Yoga Adibtya Trinata Anggarwati, Bunga Triyono Lukmantoro Wahyu Satria Utama, Wahyu Satria Widya Nur Hidayati Wiwid Noor Rakhmad Yenny Puspasari Yenny Puspitasari Yuanita Putri Melati, Yuanita Putri