Articles

BIODEGRADASI SENYAWA HIDROKARBON OLEH STRAIN BACILLUS CEREUS(VIC) PADA KONDISI SALINITAS YANG BERBEDA Bhaktinagara, Reza Auliarahman; Suprihadi, Agung; Raharjo, Budi
Jurnal Akademika Biologi Vol. 4 No. 3 Juli 2015
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bacillus cereus has been noted as hydrocarbonoclastic microbe that has ability to degrade hydrocarbons in non-saline conditions and some often to be found on high salinity environtment conditions. The purpose of this research is to determine the ability of strains Bacillus cereus (VIC) were isolated from non-saline environment to degrade hydrocarbons in crude oil on the different salinity condition. Bacillus cereus (VIC) was inoculated on the medium that has contaminated by crude oil with salinity level of 0,3 , 9,4 , dan 19,6 and incubated for 15 days. Determination of microbial growth is by using Total Plate Count (TPC) method along with determination of Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) percentage using gravimetry method for every 5 day. The determination of microbial growth showed that Bacillus cereus (VIC) has the tolerancefor salinity level up to 19,6 because it is able to grow to a density of 6.9 x 106 CFU/ml on the 15th day. Bacillus cereus (VIC) is also able to degrades hydrocarbons on crude oil pollutants that indicated from degradation of TPH percentage in the medium up to 21% during 15 days incubation period on the medium with salinity level of 19,6 . Biodegradation using Bacillus cereus (VIC) can increase TPH degradation on the medium up to 19,8% than TPH degradation because of weathering. Keywords: Biodegradation, Bacillus cereus(VIC), Total Petroleum Hydrocarbon (TPH), Salinity.
IDENTIFIKASI POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PASIEN RAWAT INAP PENYAKIT DALAM DI RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO DENGAN METODE OBSERVASIONAL RETROSPEKTIF PERIODE NOVEMBER 2009 - JANUARI 2010 Sari, Andriana; Wahyono, Djoko; Raharjo, Budi
PHARMACIANA Vol 2, No 2: November 2012
Publisher : PHARMACIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.03 KB)

Abstract

Potensi interaksi obat adalah potensi aksi suatu obat diubah atau dipengaruhi oleh obat lain yang diberikan bersamaan. Interaksi obat didefinisikan sebagai fenomena yang terjadi ketika efek farmakodinamik dan farmakokinetik dari suatu obat berubah karena adanya pemberian obat yang lain. Interaksi obat dapat menyebabkan advers drug reaction apabila potensi terjadinya interaksi tersebut tidak diketahui sebelumnya upaya optimalisasi tidak dapat dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi potensi interaksi obat pada pasien rawat inap penyakit dalam RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode penelitian adalah observasional retrospektif (November 2009 - Januari 2010) dengan menggunakan metoda deskriptif untuk analisa data. Hasil penelitian menunjukkan potensi interaksi obat pada pasien rawat inap penyakit dalam RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto sebesar 56,76% (n = 259). Berdasarkan kategori signifikansi yang dikemukakan Tatro (2006), terdapat potensi interaksi obat kategori signifikansi 1 pada pasien rawat inap penyakit dalam RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto sebesar 16,60%. Penggunaan obat berpotensi interaksi yang masuk kategori signifikansi 1 sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan pasien akan obat, risk and benefit serta dilakukan upaya optimalisasi.
PENGEMBANGAN MODEL MATEMATIKA PERPINDAHAN PANAS PADA KENTANG SELAMA PROSES PEMASAKAN Winarto, Winarto; Raharjo, Budi; Suhargo, Suhargo
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 4, No 1: OKTOBER 2002
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jusami.2002.4.1.4892

Abstract

PENGEMBANGAN MODEL MATEMATIKA PERPINDAHAN PANAS PADA KENTANG SELAMA PROSES PEMASAKAN. Produk/bahan pertanian tidak semuanya dapat langsung dikonsumsi, oleh karena itu agar produk tersebut dapat dikonsumsi, maka perlu perlakuan pemasakan. Teknologi pemasakan melibatkan pengetahuan perpindahan panas dan perubahan fisikawi dan kimiawi produk/bahan akibat pemanasan. Pada pemanasan produk/bahan pangan sering dijumpai masalah yang berkaitan dengan pengontrolan suhu dalam menghasilkan keluaran yang optimal. Faktor yang paling penting dalam pengolahan bahan makanan adalah kenaikan suhu yang dikenakan pada bahan dan lamanya proses pemanasan. Lama pemanasan dan suhu pemanas akan merubah sifat bahan dari mentah menjadi matang, dimana untuk perubahan tersebut diperlukan sejumlah panas yang besarnya berbeda-beda tergantung dari produknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model matematika perpindahan panas pada produk pertanian berbentuk bola pejal selama proses pemasakan tanpa mempertimbangkan panas/energi yang diperlukan untuk merubah sifat fisik dan kimiawi bahan, serta menguji validitas dan kepekaan model. Bahan yang digunakan kentang, diasumsikan berbentuk bola, perambatan panas hanya terjadi pada arah radial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh perpindahan panas konveksi pada permukaan lebih besar daripada pengaruh perpindahan panas konduksi dalam bahan. Laju perubahan suhu bahan dipengaruhi oleh suhu media. Dari uji validitas model diperoleh hasil bahwa model perambatan panas konduksi satu dimensi dengan kondisi batas konveksi dan salah satu sisinya diisolasi, serta suhu awal konstan, dapat memprediksi dengan baik distribusi suhu pada berbagai posisi dalam kentang. Sedangkan dari uji kepekaan model, variabel masukan yang peka terhadap perubahan suhu bahan secara berurutan adalah suhu media pemasak, diameter bahan, dan suhu awal bahan.
APLIKASI WEB GRABBER UNTUK MENGAMBIL HALAMAN WEB SESUAI DENGAN KEYWORD YANG DIINPUTKAN Budhi, Gregorius Satia; Setiabudi, Djoni Haryadi; Raharjo, Budi
Jurnal Informatika Vol 7, No 1 (2006): MAY 2006
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.919 KB) | DOI: 10.9744/informatika.7.1.pp. 24-29

Abstract

At this time the use of search engine on the Internet still does not reach maximum result. Users need to browse every web page list as the result of the search that fit with the topic one by one. We need an application that has a capability to look and to save web pages with their links fit with the topic without browsing, so that the result can be accessed offline. This application is called Web Grabber. Web Grabber application uses inputs such as keyword and searching depth. The input will be processed to obtain the appropriate web pages with the keyword and the searching depth, which is automatically saved. Firstly a keyword is needed to be search in the available search engine to get the search lists, which can be picked by the user. Every pick list will be used as the first search page. This application results are web pages that contain the keyword. This application also has a facility to browse the results. This application was succeed to automatically save web pages that appropriate with the input keyword and the depth, that previously search in AltaVista or Google. Web pages that contain with the keyword saved in the computer so that it can be browsed offline. Abstract in Bahasa Indonesia : Saat ini penggunaan search engine pada internet masih belum memperoleh hasil yang maksimal. Pengguna masih harus browsing halaman-halaman web hasil pencarian untuk mencari topik yang diinginkan satu-persatu. Untuk itu perlu dibuatkan aplikasi yang dapat mencari dan menyimpan halaman-halaman web dengan link-link-nya sesuai topik tanpa harus melalui proses browsing, sehingga hasilnya dapat dilihat secara offline. Aplikasi ini biasa disebut Web Grabber. Program aplikasi Web Grabber ini mendapatkan inputan berupa keyword dan kedalaman pencarian. Inputan ini akan diproses untuk memperoleh hasil berupa halaman - halaman web yang disimpan secara otomatis sesuai dengan keyword yang diberikan dan tingkat kedalaman pencariannya. Proses didahului dengan pencarian keyword pada search engine yang tersedia menjadi sebuah list yang dapat dipilih oleh pengguna. Hasil aplikasi ini berupa halaman - halaman web yang mengandung keyword. Aplikasi juga menyediakan fasilitas untuk browsing hasil yang didapat. Program yang dibuat berhasil melakukan penyimpanan halaman-halaman web sesuai dengan keyword yang diberikan dengan tingkat kedalaman tertentu, yang sebelumnya dicari melalui search engine Altavista atau Google. Halaman-halaman web yang mengandung keyword dapat diambil dan disimpan pada komputer sehingga dapat di-browse secara offline. Kata kunci: web grabber, keyword, kedalaman, search engine, internet.
ISOLASI DAN UJI AKTIVITAS KITINASE ISOLAT BAKTERI DARI KAWASAN GEOTERMAL DIENG Nafisah, Hidayatun; Pujiyanto, Sri; Raharjo, Budi
Bioma : Berkala Ilmiah Biologi Vol. 19, No. 1, Tahun 2017
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.301 KB) | DOI: 10.14710/bioma.19.1.22-29

Abstract

Chitinase (EC.3.2.2.14) is an enzyme which can degradatechitin became N-acetilglucosamin. Chitinase has many benefits made the demand of it increases. High demands spur its availability in large quantities, cheap, fast production, resistant to any physical factor and chemical environment. Rapid and resistant enzyme production to environment factor can be obtained using chitinolitic bacteria of Geothermal Dieng. The utilization of chitin as bacterial growth substrate from waste of shell crab can be done considering high prices of commercial chitin on the market. The purpose of the research is to get the isolate of termoleranchitinolitic of watery mud in Geothermal Dieng and to know the character of the chosen isolate producing highest chinitase activity type of chitin source treatment and pH of media production. The research is done by growing the chitinolitic in the room temperature for 14 days. The experimental design used in this study is a complete randomized design of factorial pattern (two factors). The first factor is the type of chitin source that includes commercial chitin and chitin crab kits. The second factor is the pH of liquid chitin media for the production of enzymes, ie pH 6, 7 and 8.Chitinase activity is tested by measuring the result of sugar reduction. Obtained data is analyzed with Analysis of Variance (ANOVA). Result of isolation and selection is obtained one potential isolate, KSR 121. The isolate produce 1,4 cm of chitinolitic index after 96 hour incubation. Result of statistical test show both citin source type, pH of media production treatment and interaction were not significantly different (P?0,05). KSR 121 isolate experience the highest growth of crab chitin treatment pH 8 (K2P3) with 6 hour incubation, whereas highest kinitase activity happen on crab chitin treatment pH 7 (K2P2) with 24 incubation, in amount of 0,125 (U/mL). Key words: N-acetil glucosamin, chtinase activity, chitinase, chitin, chitinolitic bacteria, isolation
MIX CULTURE INOCULANT PRODUCTION OF PHOSPHATE SOLUBILYZING AND INDOLE ACETIC ACID (IAA) PRODUCER RHIZOBACTERIA WITH AMBARAWA PEAT SOIL RAWAPENING AS CARRIER Raharjo, Budi; Suprihadi, Agung
JURNAL SAINS DAN MATEMATIKA Volume 18 Issue 2 Year 2010
Publisher : JURNAL SAINS DAN MATEMATIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6092.991 KB)

Abstract

ABSTRACT---Plant production development  is the main goals  that do for increase the farming quality to fulfill the man needed  in  food. One of the ways is intensive farming, by using organic or inorganic  fertilizer. Phosphate is the essential  for plants. IAA is the necessary plant regulator for the root. Both phosphate  and IAA need in  plant  growing  and production.  Biological  fertilizer  is  fertilizer  with  microbial  as the main material. Bacillus sp.DUCC-BR-K1.7, Bacillus sp. DUCC-BR-KI3, Bacillus sp.DUCC-BR-KI.2b  and Pseudomonas fluorescens, Azotobacter chroococcum, Azotobqcter vinelandii, Azospirillum sp. and Azotobacter brazilensis are bacteria that can solubilization  the phosphate  and IAA  synthesize.  Those bacteria can be used as  inoculants or biological  fertilizer  that put on carrier. One way to support  the aim is giving  the altemative carrier with  suitable composition. The carrier should be support bacterial life  during the storage.  The aim ofthis  research  is find  ths right  consortia so can be used to optimized  viabilities  of  culture Bacillus  sp. DUCC-BR-KIJ,  Bacillus sp. DUCC-BR-K1.3, Bacillus sp. DUCC-BR-KI.2b, P. flourescens, A. chroococcum, A. vinelandii, Azospirillum  sp., and  A. brazilensis in mix  culture  on peat soil  as carrier. This research done in Microbiology Laboratory of Biology Department Diponegoro University. Subculture and activated culture in Nutrient  Broth medium, make the growth curve to the biomass production, make the inoculums, prepare the peat soil, biomass production and mixed biomass with  the carrier, enumeration bacterial culture viability  test in carrier during the storage  by TPC method.  The  results  show  that  all  consortia  culture  bacteria viabiliry Bacillus  sp. DUCC-BR-KI.3  with Azospirillum (A) and Bacillus  sp. DUCC-BR-K1.7, with P.  flourescens (B)  still viable and increasing number of population during seven weeks storage with  l0 t-n CFU/g at To and up to  l0 r3-ro CFU/g at  the end storage. The  consortium  C  between Bacillus  sp.  DUCC-BR-KI.2  b  and A-  brssilensis  increasing  the  number  of population  and  still viable during eight weeks  storage  (1013  - 1014  CFU/g).Key words: biofertilizer, peat soil, viability,  mix cultare, consortiumPermalink : http://ejournal.undip.ac.id/index.php/sm/article/view/3138
PELARUTAN FOSFAT ANORGANIK OLEH KULTUR CAMPUR JAMUR PELARUT FOSFAT SECARA IN VITRO Raharjo, Budi
JURNAL SAINS DAN MATEMATIKA Volume 15 Issue 2 Year 2007
Publisher : JURNAL SAINS DAN MATEMATIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.983 KB)

Abstract

ABSTRAK---Fosfat merupakan nutrient essensial yang diperlukan oleh tanaman dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Fosfat sebenarnya terdapat dalam jumlah yang melimpah dalam tanah, namun sekitar 95-99% terdapat dalam bentuk fosfat tidak terlarut sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman Upaya untuk mengatasi masalah ini, salah satunya adalah dengan pembuatan pupuk biologi dengan mikroba pelarut fosfat sebagai agen biofertilizer. Penelitian terdahulu, diperoleh isolat jamur pelarut fosfat dari sampel tanah gambut yang sudah teruji kemampuannya dalam melarutkan fosfat. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh perbandingan isolat jamur pelarut fosfat yang tepat untuk digunakan sebagai formula kultur campur agar dapat melarutkan fosfat secara optimal, meningkatkan kemampuan jamur dalam melarutkan fosfat dengan adanya kerja yang sinergis dari jamur-jamur tersebut, menghasilkan pupuk biologi dengan mikroba sebagai agen biofertilizer. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan perbandingan isolat jamur pelarut fosfat yaitu kultur jamur tunggal NSJ 1, NSJ 5, NSJ 6, kultur jamur campur NSJ 1-NSJ 5, NSJ 1-NSJ 6, NSJ 5-NSJ 6, NSJ 1-NSJ 5-NSJ 6 dan kontrol. Kontrol perlakuan digunakan medium uji Pikovskaya tanpa inokulasi jamur. Variabel yang diamati meliputi pH medium kultur, total konsentrasi fosfat yang terlarut. Setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali. Analisis data yang digunakan analisis sidik ragam (Ansira) dengan taraf kepercayaan 95 % untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Jika Fhitung> Ftabel dilakukan uji lanjut dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas pelarutan fosfat pada setiap perlakuan perbandingan isolat jamur F1-F7 secara umum terlihat pada perubahan medium Pikovskaya cair yang semula keruh menjadi bening. Aktivitas pelarutan fosfat mulai terlihat pada awal inkubasi (jam ke 0), dengan konsentrasi fosfat terlarut tertinggi 7,87 ppm yang dihasilkan oleh F5 dan terendah 5,33 ppm oleh F3. Konsentrasi fosfat terlarut menunjukkan penurunan setelah inkubasi 24 jam dengan memperlihatkan penurunan pH dari pH kultur awal inkubasi (jam ke 0) yang tidak begitu drastis. Pada inkubasi 48 jam, semua perlakuan mulai menunjukkan kenaikan konsentrasi fosfat terlarut. Penurunan pH pada inkubasi 48 jam ini dikarenakan adanya aktivitas metabolisme yang mensekresi asam organik. Hasil analisis sidik ragam konsentrasi fosfat terlarut pada inkubasi 48 jam, menunjukkan adanya perbedaan nyata (p<0,05) antar perlakuan perbandingan isolat jamur dalam pelarutan fosfat anorganik. Hal ini berarti bahwa formulasi perbandingan isolat jamur F1-F7 mempengaruhi pelarutan fosfat anorganik. Hasil analisis pada inkubasi 48 jam ini memperlihatkan bahwa perlakuan formulasi F7 paling tinggi dalam melarutkan fosfat dan adanya kerja sinergis dalam meningkatkan pelarutan fosfat. Kata Kunci: Agen biofertilizer, kultur campur, pelarutan fosfat
ANALISIS KANDUNGAN KADMIUM (CD) DALAM TANAMAN BAWANG MERAH DARI TEGAL Kusumaningrum, Hermin Pancasakti; Herusugondo, Herusugondo; Zainuri, Muhammad; Raharjo, Budi
JURNAL SAINS DAN MATEMATIKA Volume 20 Issue 4 Year 2012
Publisher : JURNAL SAINS DAN MATEMATIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4174.288 KB)

Abstract

Ketergantungan pestisida pada sentra produksi bawang merah Kabupaten Tegal telah menimbulkan pencemaran logam berat kadmium (Cd) di dalam tanah dan tanaman bawang merah. Kadar logam tersebut telah melebihi ambang batas yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis kandungan kadmium pada akar, daun dan umbi tanaman bawang merah dari Tegal. Metode penelitian dilakukan melalui analisis kandungan logam berat kadmium dalam tanaman bawang merah  dibandingkan dengan kontrol menggunakan metode spektrofotometri atom absorbansi (AAS). Hasil penelitian memperlihatkan kandungan kadmium pada umbi, daun dan akar bawang merah di Tegal pada umur 20 hari berturut-turut adalah sebagai berikut 3,4805 mg/g; 4,1374 mg/g dan 7,9175 mg/g. Kandungan kadmium pada umbi, daun dan akar bawang merah umur 50 hari atau usia panen berturut-turut adalah sebagai berikut 1,8331 mg/g; 1, 8331 mg/g dan 3,5323 mg/g. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan konsentrasi kadmium yang melampaui batas ambang aman bagi makanan, kesehatan dan lingkungan.    Pesticide dependence on onion production centers Tegal has caused heavy metal pollution of cadmium (Cd) in the soil and plant onions. This metal content exceeds the threshold that can impair human health. The purpose of this study was to analyze lead content in root, leaves and bulb of red onion from Tegal. Research methods to analyze the content of heavy metals in the soil compared to the control using atomic absorbance spectrophotometry (AAS). The research results showed lead content in roots, leaves and roots of onion at the age of 20 days in a row is as follows 3,4805 mg/g; 4,1374 mg/g and 7,9175 mg/g. The results obtained shows that cadmium concentrations exceed safe thresholds for food, health and the environment.
SEKILAS MENGENAI FORENSIK DIGITAL Raharjo, Budi
Jurnal Sosioteknologi Vol 12, No 29 (2013)
Publisher : Kelompok Keahlian Ilmu Kemanusiaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.885 KB) | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2013.12.29.3

Abstract

Forensik digital merupakan bagian dari ilmu forensik yang melingkupi penemuan dan investigasi materi (data) yang ditemukan pada perangkat digital. Sebagai ilmu yang masih baru, masih dibutuhkan pemahaman dan kemampuan untuk menguasai ilmu ini. Penguasaan ilmu ini tidak hanya ditujukan pada kemampuan teknis semata tetapi juga terkait dengan bidang lain, seperti bidang hukum. Makalah ini menguraikan secara singkat mengenai forensik digital. Kata kunci: forensik, keamanan, teknologi informasi Digital forensic is considered a new field of study. It is a branch of forensic science encompassing the recovery and investigation of data found in digital devices. Digital forensic is needed to solve cyber crimes and related security problems. As a new field, awareness and skills are needed to master this field. Digital forensic is not only related to technical but also legal aspects. This paper describes digital forensic in a nut shell. Keywords: forensic, information technology, security
PENAPISAN DAN PEMANFAATAN RHIZOBAKTERI TANAMAN SORGUM (SORGHUM BICOLOR L. MOENCH) SEBAGAI INOKULAN PEMACU TUMBUH TANAMAN Widyasari, Annisaa; Wijanarka, W; Raharjo, Budi; Setyowati, Mamik
Jurnal Akademika Biologi Vol. 5 No. 4 Oktober 2016
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sorghum was a cereal crop that has many benefit such as food, feed, industrial, and bioenergy. Sorghum had a potency to be cultivated, but productivity of sorghum was still low both in quatity and quality. One way to increase production of sorghum  is using rhizobacteria as biofertilizer. The aim of this study is to get rhizobacteria that has the ability to produce IAA, solubility of phospat (P), Nitrogen (N) fixing, and analyze the effect of rhizobacteria inoculants for enhance sorgum plant growth. Isolation of rhizobacteria was done by diluting  rhizobacteria sorghum suspension from 10-1 to 10-5 and it were be platted on SEA medium. Isolates were screened by ability to produce IAA, solubility of P, and N fixing. Producing of IAA test was done by adding Salkowsky reagent on bacterial supernatant and measured absorbance at 530 nm wavelength. Solubility of P test was done by inoculating isolates in Pikovskaya media, while N fixing test was done on N fixing media (NFB). Isolates of rhizobacteria which had a potency to increase growth of plants were made inoculants to be applied in sorghum plants. The result of this study obtain 3 isolates i.e Sr 194.3; Sr 172.1; and Sr 209.1 which were considered effective for increase growth of sorghum. The conclusion  of this study isolates which showed the highest average plant height, root length, and dry weight Sr 194.3 isolate. The statistical analysis among the treatments showed that did not any significant differences on plant height, root length, and dry weight of sorghum age 28 days after farming. Keyword : Increase growth plants, Screening, Shorgum, Rhizophere.
Co-Authors Achmadi Priyatmojo Agung Suprihadi Ahmad Hanafi Aldila Riana Prabawati, Aldila Riana Alimuddin Alimuddin Amin Rejo Anak Agung Gde Kartika Andriana Sari Anggraeni, Via Ansar Ansar Anto Budiharjo Arina Tri Lunggani Bhaktinagara, Reza Auliarahman Cahya Buana Cahyani, Prawatya Catur Arif, Catur Dedeh Hadiyanti Djoko Wahyono Djoni Haryadi Setiabudi Dwiatmi, Kristiani Endang Darmawan Endang Kusdiyantini Fathmah, Ema Nuzula Fatin, Nuhaul fe, Rejeki Siti Febriani Tri Pamungkas Fitria Fitria Gregorius Satia Budhi Hadi Ali Halwiyah, Nurul Hasyyati, Nur Sabrina Helga Lusiana, Helga Hera Widyastuti Hermin Pancasakti Kusumaningrum Herusugondo Herusugondo Herwenita, Herwenita Imelda S. Marpaung Iskandar Sudirman Istiar Istiar, Istiar Isworo Rukmi Jebria Kwartaning Tyas Kgs. A. Kodir Khoirul Huda Koriasih, Peni Kurniawati, Marina Larosa, Sofyan Fauzi Lukman Hakim Mamik Setyowati, Mamik Melani, Reina MG Isworo Rukmi Moeslich Hasanmihardja Mufadhol Mufadhol Muhammad Amal Nurhakim, Muhammad Amal Muhammad Zainuri Nafisah, Hidayatun NANIK RAHMANI Naufal, Adhitya Ningsih, Devi Ayu Nurmila D., Riris Parmiyatmi, Sih Pratiwi, Anindita Ayu Prayogo, Fitra Adi Priyo Pratomo, Priyo Priyo Wahyudi Rukmi, MG. Isworo Santoso, Joseph Teguh Sarjiya, Antonius Setiawan Wicaksono, Setiawan Siti Nur Jannah Sri Damranti Sri Pujiyanto Suhargo, Suhargo Suhargo, Suhargo Suhendar Suhendar, Suhendar Susiana Purwantisari Sutjipto, Hady Tranggono Tranggono Ugung Dwi Ario Wibowo Ummatus Solikhah, Ummatus Wahju Herijanto Wahyu Utaminingrum Wibowo, Mars Caroline Widyasari, Annisaa Wijanarka, W Winarto Winarto Wulandari, Rutty Yanter Hutapea Yogyaswari, Sekar Ayu YOPI YOPI Zullies Ikawati