Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH FORMULASI MALTODEKSTRIN DAN TWEEN 80 PADA KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA BUMBU HERBAL INSTAN Mayasari, Eva; Rahayuni, Tri; Manalu, Jessi
Pro Food Vol 5 No 2 (2019): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v5i2.102

Abstract

ABSTRACT Herbal spices used in making instant spices are sansakng leaf (Albertisia papuana Becc.), onion, and garlic. The drying method in making instant spices uses the foam mat drying method. The purpose of this study was aimed to determine the effect of maltodextrin and tween 80 formulations on instant herbal spices and determine the best formulation of maltodextrin and tween 80 formulations added on instant herbal spices based on physical and chemical properties. This study used a randomized block design (RBD) factorial pattern which is consisted of two factors of maltodextrin (5%,10%,15%) and tween 80 (0.5% and 1%), each treatment was replicated four times. The ANOVA (?=5%) results showed that the addition of maltodextrin on intant herbal spices significantly affected on moisture content, water absorption, water activity, and yield. While the addition of  tween 80 on intant herbal spices significantly affected on moisture content and water activity. The best treatment on physicochemical properties showed in the combination of maltodextrin 5% and tween 80 1%.   Keywords:  Albertisia papuana Becc., foam mat drying, maltodextrin, sansakng, tween 80   ABSTRAK  Bumbu herbal yang digunakan pada pembuatan bumbu instan adalah daun sansakng (Albertisia papuana Becc.), bawang merah, dan bawang putih. Metode pengeringan dalam pembuatan bumbu instan menggunakan metode foam mat drying. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formulasi maltodekstrin dan tween 80 pada bumbu herbal instan dan menentukan formulasi yang tepat dari formulasi maltodekstrin dan tween 80 pada pembuatan bumbu herbal instan berdasarkan sifat fisik dan kimia. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial dengan dua faktor, yaitu konsentrasi maltodekstrin (5%, 10% 15%) dan  konsentrasi tween 80 (0,5% dan 1%), masing-masing perlakuan diulang sebanyak empat kali. Parameter pengamatan yang diukur adalah karakteristik fisik dan kimia bumbu herbal instan. Hasil  ANOVA (?=5%) menunjukkan bahwa penambahan maltodekstrin pada bumbu herbal instan berpengaruh nyata terhadap terhadap kadar air, daya serap air, aktivitas air dan rendemen bumbu herbal instan. Sedangkan penambahan tween 80 berpengaruh nyata terhadap kadar air dan aktivitas air. Kombinasi maltodekstrin sebanyak 5% dan tween 80 sebanyak 1% merupakan perlakuan terbaik berdasarkan karakteristik fisikokimia. Kata Kunci: Albertisia papuana Becc, foam mat drying, maltodekstrin, sansakng, tween 80
PENGARUH FORMULASI KARAGENAN DAN PATI SAGU TERHADAP SIFAT FISIK, KIMIA, DAN ORGANOLEPTIK ES KRIM UBI JALAR UNGU Karami, Asrul; Rahayuni, Tri; Priyono, Suko
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan Vol 1, No 1 (2018): Oktober 2018
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.675 KB) | DOI: 10.26418/jft.v1i1.31396

Abstract

Purple sweet potato ice cream is an ice cream made from purple sweet potato paste as main ingredient. In general, ice cream production use of stabilizer for effecting the characteristic. One of the ingredients as the stabilizers are carrageenan and sago starch. This research aimed to find out the effect of carrageenan and sago starch formulation on physical, chemical and sensory properties of purple sweet potato ice cream. The research design was using a randomized block design of 1 factor which is comparison different ratios of carrageenan and sago starch  that consist of 6 level of treatment (0.5%:0.0% , 0.4%:0.1% , 0.3%:0.2%, 0.2%:0.3%, 0.1%:0.4  and 0.0%:0.5%) with 4 replication. The research showed that the most preferred of ice cream at carrageenan 0% and sago starch 0.5% formulation with the physical (melting time is 2.01 minute/g, the viscosity is 4.25 d.PaS and overrun 38.79%),  the chemical (11.11% of fat and 34.60°Brix of TDS), and sensory such as aroma 3.77(like), taste 4.03 (like), and texture 3.80 (like)
Pencarian Resep Makanan Berdasarkan Citra Makanan Menggunakan Ekstraksi Fitur Simple Morphological Shape Descriptors dan Color Moment Rahayuni, Tri; Sari, Yuita Arum; Adinugroho, Sigit
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1250.174 KB)

Abstract

Aplikasi pencarian resep makanan yang ada hanya menggunakan query teks. Penggunaan query teks seringkali tidak mewakili semua yang diinginkan oleh pengguna dan tidak bisa dilakukan jika pegguna hanya mengetahui gambar makanan saja tanpa mengetahui nama makanan tersebut. Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi hal tersebut adalah dibuat pencarian resep makanan dengan menggunakan citra makanan. Pencarian citra dilakukan dengan mengukur kemiripan antara fitur citra query dengan fitur citra corpus. Fitur-fitur pada citra didapatkan dengan ekstraksi fitur Simple Morphological Shape Descriptors dan Color Moment. Setelah ekstraksi fitur selanjutnya dilakukan pengukuran kemiripan menggunakan Euclidean Distance. Sistem kemudian akan menampilkan hasil pencarian yaitu sebanyak n citra yang memiliki tingkat kemiripan terbesar. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai MAP tertinggi pada k-rank 10 yaitu 95,713% dan nilai MAP terendah pada k-rank 100 yaitu 76,108%. Penggunaan fitur Color Moment lebih baik dari pada Simple Morphological Shape Descriptors karena nilai MAP Color Moment lebih tinggi yaitu 93,32% dari pada Simple Morphological Shape Descriptors yaitu 89,8%. Penggabungan kedua fitur terbukti mampu meningkatkan nilai MAP menjadi 95,71%. Dapat disimpulkan bahwa pada k-rank 10 sistem mengembalikan hasil yang baik sesuai kebutuhan pengguna dan penggunaan gabung kedua fitur  dapat mengatasi kelemahan dari penggunaan masing-masing fitur.