Sri Endah Rahayuningsih
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran/RSHS

Published : 35 Documents
Articles

Found 35 Documents
Search

LUARAN PENUTUPAN DUKTUS ARTERIOSUS PERSISTEN TRANSKATETER DI RUMAH SAKIT DR. HASAN SADIKIN BANDUNG Kuswiyanto, Rahmat Budi; Firman, Armijn; Rayani, Putria; Rahayuningsih, Sri Endah
Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v48n4.915

Abstract

Saat ini penutupan duktus arteriosus persisten (DAP) transkateter merupakan terapi pilihan karena memiliki efikasi yang baik, masa rawat yang singkat, risiko yang lebih rendah, dan bebas dari parut dada. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi luaran jangka pendek dan menengah penutupan DAP transkateter. Penelitian merupakan laporan deskriptif analitik pasien yang menjalani penutupan DAP transkateter secara konsekutif di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung selama periode Mei 2011 sampai dengan Juni 2014 dengan melakukan evaluasi pemeriksaan klinis dan ekokardiografi saat 24 jam, 1, 3, 6, dan 12 bulan setelah prosedur. Selama periode penelitian terdapat 132 pasien DAP yang menjalani penutupan transkateter, terdiri atas 42 laki-laki dan 90 perempuan, dengan median usia 3,9 tahun, berat badan 11,25 kg, tekanan sistol arteri pulmonalis 56 mmHg, ukuran defek 3,4 mm, flow ratio 2,8, fluoroscopy time 16 menit, dan procedure time 67 menit. Segera setelah prosedur 54% memperlihatkan penutupan lengkap, smoky residual 41%, dan residual ringan 6%. Sebagian besar pasien dipulangkan sehari setelah prosedur, tidak ada yang meninggal dan komplikasi hanya 3,8%. Semua pasien memperlihatkan penutupan lengkap pada follow-up. Penutupan DAP transkateter merupakan terapi yang aman dan efektif dengan masa rawat yang singkat dan komplikasi yang minimal. [MKB. 2016;48(4):234?40]Kata kunci: Duktus arteriosus persisten, penutupan transkateter Outcome of Transcatheter Occlusion of Patent Ductus Arteriosus in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung: a Preliminary ReportAbstractTranscatheter closure of patent ductus arteriosus (PDA) is a treatment of choice with good efficacy, shorter hospitalization, less risks, and chest scar free. The objective of this study was to evaluate the immediate and mid-term outcomes of transcatheter closure of PDA. An analytic descriptive study was peformed on patients underwent transcatheter PDA occlusion in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung between May 2011 and June 2014. Evaluation was conducted through clinical examination and echocardiography 24 hours, 1, 3, 6 and 12 months after the procedure. The procedure was successful in 132 PDA patients (42 males and 90 females). The median age, body weight, systolic pulmonary artery pressure, PDA size, flow ratio, fluoroscopy time, and procedure time were 3.9 years, 11.25 kg, 56 mmHg, 3.4 mm, 2.8, 16 minutes, and 67 minutes, respectively. Immediately after the procedure, 54% patients had complete closure, 41% experienced smoky residual shunt and only 5% experienced small residual shunt. The mortality and complication rate was 3.8%. Most of the patients were discharged the next day after the procedure. All patients showed complete closure during followed-up. Transcatheter closure of PDA is safe and effective with shorter hospitalization and minimum complications. [MKB. 2016;48(4):234?40]Key words: Patent ductus arteriosus transcatheter closure
RELATIONSHIP BETWEEN SERUM ZINC AND HOMOCYSTEINE IN CHILDREN WITH NEPHROTIC SYNDROME Hamik, Welli; Hilmanto, Dany; Rahayuningsih, Sri Endah
Paediatrica Indonesiana Vol 59 No 2 (2019): March 2019
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi59.2.2019.98-103

Abstract

Background In children, most idiopathic nephrotic syndrome (NS) is a minimal lesion, which responds well to steroids. Hyperhomocysteinemia is pathologic and worsens NS by causing chronic inflammation, leading to glomerular sclerosis. Zinc metalloenzymes are involved in homocysteine metabolism. Objective To assess for a possible relationship between serum zinc and homocysteine in children with NS. Methods A cross-sectional study was conducted in children with NS aged 1-18 years, who were admitted to Hasan Sadikin Hospital from November 2017 - January 2018. Subjects were selected consecutively. Serum zinc and homocysteine were measured in all subjects. Statistical analysis was done with Pearson?s correlation test. If the distribution was not linear, the analysis was continued with non-linear regression. Results There were 23 children who met the inclusion criteria. Mean serum homocysteine and zinc levels were 10.37 (SD 4.11) µmol/L and 51.13 (SD 29.69) µg/dL, respectively. Pearson?s correlation analysis showed no linear correlation between them (r coefficient -0.173; P=0.430). However, after adjusting for age and serum albumin level, multiple regression analysis suggested a cubical relationship between serum homocysteine and zinc, using the equation: homocysteine = -4.572 + 0.735 x zinc - 0.0012 x zinc2 + 0.00005 x zinc3 x age (months) (R2 multiple=53.2%; P=0.012). This equation indicates that 53.2% of homocysteine variation was influenced by serum zinc concentration. Conclusion In childhood NS, homocysteine is not correlated linearly with zinc, but related with cubical model.
Factors Related to Malnutrition in Children Under Five Years with Congenital Heart Disease Augiani, Amani Sakinah; Rahayuningsih, Sri Endah; Herawati, Dewi Marhaeni Diah
Althea Medical Journal Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.947 KB)

Abstract

Background: Congenital heart disease (CHD) is the most frequent type of heart disease that occurs in children. Children with CHD are more vulnerable to suffer impaired nutritional status related to morbidity and mortality. The nutritional status, however, may not be influenced only by CHD, but also by other factors.. The study was conducted to identify factors related to malnutrition in children with CHDMethods: This cross-sectional study involved 86 children with CHD recruited from Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from October to November 2015. Data collected in this study were obtained by conducting anthropometric measurements, interviewed the parents (obstetric history, patient’s medical history and socioeonomic status) and from medical records (the type and time of CHD diagnosis, other diseases that accompanied the CHD). The collected data were presented by frequency distribution. Results: There were 46.5%  patients who had nutritional disturbance. Malnutrition in males and patients with Tetralogy of Fallot were higher than other groups. Almost half patients with maternal history of passive smoking during pregnancy had nutritional disturbance. The most common disease found was diarrhea followed by lower respiratory infection. Percentage of normal children in low-income parents group was lower than the high-income group. Conclusions: Nearly half of patients have nutritional disturbance. Percentage of nutritional disturbance in male was higher compared to female. Active and passive smokers, Tetralogi Fallot, diarrhea, lower respiratory infection and lower income  were factors contributed to malnutrition. [AMJ.2017;4(1):111–7]DOI: 10.15850/amj.v4n1.1031
Transposisi Arteri Besar dan mutasi gen TBX1 Rahayuningsih, Sri Endah
Sari Pediatri Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1470.464 KB) | DOI: 10.14238/sp11.1.2009.21-5

Abstract

Latar belakang. Transposisi arteri besar (TAB) adalah suatu penyakit jantung bawaan (PJB) yang termasuk dalam malformasi konotrunkal. Kelainan terasebut ditemukan sekitar 5% dari seluruh PJB. Seperti pada PJB yang lain penyebab TAB multifaktor yaitu faktor genetik, nongenetik, dan interaksi antara genetik dan nongenetik. Gen TBX1 adalah suatu gen yang termasuk gen faktor transkripsi dan berperan pada pembentukan konotrunkal saat embriogensis jantung. Mutasi pada gen TBX1 akan menyebabkan malformasi konotrunkal.Tujuan. Mengetahui peran mutasi gen TBX1 pada PJB dengan malformasi konotrunkal.Metode. Subjek penelitian adalah 42 anak PJB dengan malformasi konotrunkal dan 42 anak tanpa PJB sebagai kontrol, yang memenuhi kriteria inklusi. Deteksi mutasi gen TBX1 dilakukan dengan pemeriksaan sekuensing terhadap isolasi DNA.Hasil. Ditemukan satu anak dengan mutasi TBX1, mutasi yang terjadi adalah missense mutations dan tempat mutasi terletak pada. Ekson 04 c.614 A>T (p.Gln205Leu). Mutasi ini tidak ditemukan pada kontrol.Kesimpulan. Ditemukan missense mutation pada TAB, mutasi tidak ditemukan pada kontrol, sehingga TAB pada pasien tersebut diduga akibat mutasi gen TBX1, karena seperti pada PJB yang lain penyebab dari TAB adalah multifaktor. Dengan ditemukannya mutasi gen TBX1 pada TAB, maka hal ini dapat digunakan sebagai bahan konseling genetika.
Kadar Cystatin-C Serum Sebagai Penanda Fungsi Ginjal Bayi Prematur Meinardaniawati, Dinna; Effendi, Sjarif Hidajat; Rahayuningsih, Sri Endah
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.17-22

Abstract

Latar belakang. Cystatin-C dipertimbangkan menjadi pemeriksaan potensial pengganti kreatinin serum sebagai penanda fungsi ginjal. Kadar cystatin-C serum lebih mendekati nilai laju filtrasi glomerulus dibandingkan dengan kreatinin serum. Beberapa penelitian menyatakan bahwa cystatin-C dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, dan ras meskipun tidak sebesar pengaruhnya terhadap kreatinin.Tujuan. Menganalisis korelasi kadar cystatin-C serum dengan kreatinin serum dan apakah kadar cystatin-C serum dapat digunakan sebagai penanda fungsi ginjal bayi prematur.Metode. Penelitian observasional analitik, cross-sectional, dilaksanakan Februari−Mei 2012. Subjek adalah bayi prematur usia kehamilan 32–<37 minggu, lahir di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, RSUD Cibabat Cimahi, dan RSUD Bandung. Dilakukan pemeriksaan kadar cystatin-C serum dengan metode particle-enhanced immunonephelometry dan kreatinin serum dengan metode Jaffe. Uji statistik menggunakan korelasi Pearson, kemaknaan berdasarkan nilai p<0,05.Hasil. Terdapat 37 subjek bayi prematur, 23/37 subjek dilahirkan spontan dengan perbandingan jenis kelamin hampir sama. Kadar cystatin-C dan kreatinin serum rerata adalah 1,68 mg/L (IK 95%; 1,32–2,09) dan 0,99 mg/dL (IK 95%; 0,62–1,48). Hasil analisis mendapatkan korelasi bermakna kadar cystatin-C dengan kreatinin serum (r=0,621; p<0,001).Kesimpulan. Semakin tinggi kadar kreatinin serum, maka semakin tinggi kadar cystatin-C serum. Cystatin-C dipertimbangkan sebagai penanda untuk menilai fungsi ginjal bayi prematur.
Hubungan Antara Kadar Feritin dan Kadar 25-Hidroksikolekalsiferol {25(OH)D} Serum Pasien Thalassemia Mayor Anak Fadilah, Tubagus Ferdi; Rahayuningsih, Sri Endah; Setiabudi, Djatnika
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.246-50

Abstract

Latar belakang. Pasien thalassemia mayor secara progresif akan mengalami keadaan kelebihan besi akibattransfusi darah berulang dan menyebabkan hidroksilasi vitamin D 25-hidroksikolekalsiferol {25(OH)D}terganggu akibat deposisi besi di parenkim hati.Tujuan. Mengetahui korelasi antara kadar feritin dan kadar 25(OH)D pada pasien thalassemia mayor anak.Metode. Desain penelitian rancangan potong lintang dilakukan pada bulan Desember 2010–Januari 2011di poli Thalassemia anak RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung. Sejumlah 64 subjek diambil secara consecutivesampling. Data diperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan penunjang, dan catatan medis.Pemeriksaan kadar feritin serum menggunakan metode enhanced chemiluminescence immunoassay (ECLIA).Pemeriksaan kadar 25(OH)D serum menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dandilakukan di Laboratory Research and Esoteric Testing Laboratorium Klinik Prodia Jakarta. Analisis statistikdigunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk distribusi data dan transformasi log terhadap distribusi datatidak normal. Untuk mengetahui hubungan antara kadar feritin dan kadar 25(OH)D serum digunakan ujikorelasi Spearman. Hubungan dinyatakan bermakna bila p<0,05.Hasil. Dari 64 subjek berusia 2–14 tahun, didapatkan kadar feritin serum rerata (SB) 3.525 (2.356,784) ng/mL,serta kadar vitamin D 25(OH)D serum rerata (SB) 37 (10,067)nmol/L Enam puluh/enam puluh empat(94%) subjek memiliki kadar feritin serum >1.000 ng/dL, 55/64 (86%) subjek memiliki kadar 25(OH)D serum <50 nmol/L dan dianggap defisiensi vitamin D. Kadar feritin berkorelasi negatif dengan kadar25(OH)D serum (􀁕=-0,368; p<0,01).Kesimpulan. Peningkatan kadar feritin serum diikuti penurunan kadar 25(OH)D serum pada pasienthalassemia mayor anak yang berusia 2–14 tahun.
Perbedaan Myocardial Performance Index-Tissue Doplpler Imaging Ventrikel Kanan pada Bayi Kurang Bulan dan Bayi Cukup Bulan Nopita, Ineu; Rachmadi, Dedi; Rahayuningsih, Sri Endah
Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.061 KB) | DOI: 10.14238/sp13.2.2011.105-10

Abstract

Latar belakang.Bayi kurang bulan merupakan masalah di negara maju maupun negara berkembang. Pada bayi kurang bulan tahanan vaskular paru masih tinggi, sehingga tekanan di ventrikel kanan tinggi. Pengukuran fungsi ventrikel kanan sulit dilakukan dengan ekokardiografi standar karena bentuk geometri ventrikel kanan yang berbentuk “bulan sabit” dan trabekuler yang kasar.Myocardial performance index tissue doppler imaging (MPI-TDI) adalah cara pengukuran fungsi ventrikel kanan yang baru dikembangkan, merupakan penilaian fungsi ventrikel kanan pada fetus, anak, dan dewasa dengan berbagai penyakit jantung. Tujuan.Menilai apakah MPI-TDI pada bayi cukup bulan lebih tinggi dibandingkan dengan kurang bulan dan bagaimana korelasi antara MPI-TDI dan usia kehamilan.Metode.Penelitian dilakukan terhadap 36 bayi (17 bayi kurang bulan dan 19 bayi cukup bulan), berusia kehamilan 33–42 minggu, yang menjalani pemeriksaan MPI-TDI dengan menggunakan ekokardiografi, di Instalasi Pelayanan Jantung RS Dr. Hasan Sadikin periode Juli–Oktober 2010 dengan rancangan potong lintang. Analisis statistik yang digunakan adalah one wayANOVA untuk menilai perbedaan MPI-TDI bayi cukup bulan dan kurang bulan serta uji korelasi rankSpearman untuk menilai korelasi antara MPI-TDI dan usia kehamilan dengan kemaknaan hasil uji bila didapatkan p<0,05.Hasil.Didapatkan rerata MPI-TDI untuk bayi usia kehamilan <34 minggu adalah 0,31 (0,03), bayi usia kehamilan 34–36 minggu 0,32 (0,03) dan bayi usia kehamilan >37 minggu adalah 0,30 (0,03) (p=0,03). Nilai korelasi antara MPI-TDI dan usia kehamilan adalah (0,24) dengan nilai p=0,378. Kesimpulan.Didapatkan perbedaan MPI-TDI ventrikel kanan antara bayi kurang bulan dan cukup bulan. Tidak ada korelasi antara MPI TDI dan usia kehamilan.
Perbedaan Kadar Leptin pada Anak yang Menderita Infeksi Dengue Rizqiamuti, Anggia Farrah; Rahayuningsih, Sri Endah; Rachmadi, Dedi; Budi, Rachmat
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.244 KB) | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.1-4

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue merupakan infeksi akut yang dapat mempengaruhi kadar leptin. Perbedaan spectrum klinis infeksi dengue menyebabkan perbedaan kadar interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-α(TNF-α). Tujuan. Mengetahui perbedaan kadar leptin pada anak yang menderita infeksi dengue.Metode.Penelitian analitik dengan rancangan potong lintang. Subjek penelitian adalah pasien DB, DBD, dan SSD (pascasyok) yang memenuhi kriteria klinis dan telah dibuktikan melalui pemeriksaan serologis. Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dan Mann-Whitney untuk menentukan perbedaan kadar leptin pada DB dengan DBD dan SSD.Hasil. Pasien infeksi dengue 48 anak terdiri dari 27 DB, 11 DBD, dan 10 SSD. Terdapat perbedaan bermakna kadar leptin antara DB dengan DBD, dan SSD p=0,002. Rerata kadar leptin pada DD 703,4 (374,1–3616,7), DBD 2.172 (554,3–16631,1), dan SSD 1.321 (250,5–4.714,6). ng/mL Kadar leptin DBD lebih tinggi dibandingkan dengan DD (p<0,001), namun kadar leptin antara DBD dan SSD tidak berbeda bermakna (p=0,132) dan kadar leptin antara SSD (postsyok) dan DD tidak berbeda bermakna (p=0,158).Kesimpulan. Kadar leptin pada DBD lebih tinggi dibandingkan dengan DD, sedangkan kadar leptin antara DBD dan SSD (postsyok) tidak berbeda.
Hubungan antara Defek Septum Ventrikel dan Status Gizi Rahayuningsih, Sri Endah
Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.2.2011.137-41

Abstract

Latar belakang. Defek septum ventrikel (DSV) adalah terdapatnya defek pada sekat yang memisahkan ventrikel kiri dan kanan, serta merupakan salah satu penyakit jantung bawaan (PJB). Salah satu komplikasi DSV adalah gangguan status gizi. Tujuan. Mengetahui apakah terdapat hubungan DSV dengan status gizi serta aspek klinisnya yaitu tipe DSV, ukuran defek, aneurisma septum membranous, prolaps katup aorta, dan. hipertensi pulmonalMetode.Subjek penelitian ini adalah pasien DSV yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian merupakan penelitian deskriptif analitik dengan rancangan potong lintang yang dilakukan di RS dr Hasan Sadikin Bandung, pada Juli 2007 sampai 30 Juli 2009 dengan analisis statistik menggunakan perhitungan Rasio Odds Hasil.Terdapat 72,3% dari 101 anak DSV mengalami malnutrisi. Tidak terdapatnya aneurisma septum membranous (p= 0,005)¸ hipertensi pulmonal (p=0.001) berhubungan dengan status gizi. Tipe DSV, ukuran DSV dan prolaps katup aorta tidak berhubungan dengan status gizi.Kesimpulan.Anak yang menderita DSV sering mengalami gangguan gizi.Terdapat hubungan antara tidak terdapatnya aneurisma septum membranous dan hipertensi pulmonal dengan status gizi.
Transposisi Arteri Besar: Anatomi, Klinik, Kelainan Penyerta, dan Tipe Rahayuningsih, Sri Endah
Sari Pediatri Vol 14, No 6 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.6.2013.357-62

Abstract

Latar belakang. Transposisi arteri besar (TAB) merupakan salah satu penyakit jantung bawaan (PJB) tipe sianotik yang bermanifestasi pada periode bayi baru lahir. Kelainan penyerta yang sering ditemukan adalah defek septum ventrikel (DSV), defek septum atrium (DSA), paten duktus arteriousus (DAP), dan left ventricular outflow tract obstruction.Tujuan. Mengetahui hubungan tipe transposisi dengan kelainan penyerta pada transposisi arteri besar.Metode.Penelitian merupakan penelitian deskriptif analitik. Populasi penelitian semua pasien yang datang ke Instalasi Pelayanan Jantung RS Dr. Hasan Sadikin, Bandung untuk dilakukan ekokardiografi mulai Januari 2006 sampai Januari 2011. Subjek penelitian semua pasien TAB yang memenuhi kriteria inklusi. Diagnosis TAB ditegakkan berdasarkan ekokardiografi, dibagi 2 kelompok berdasarkan tipe tranposisi, yaitu transposisi komplet dan parsial. Kelainan penyerta TAB dibagi 2 kelompok, yaitu kelompok kelainan penyerta kompleks dan tidak kompleks.Hasil. Selama periode penelitian didapatkan 3910 anak yang dilakukan ekokardiografi. Ditemukan 54 anak TAB yang memenuhi kriteria inklusi. Usia termuda saat dilakukan ekokardiografi 4 hari, sedangkan tertua 13 tahun. Ditemukan 47 TAB disertai dengan DSV, tersering tipe perimembran sedangkan tipe doubly commitedpaling jarang ditemukan. Ditemukan 16 anak dengan stenosis pulmonal dan tipe stenosis yang terbanyak tipe infundibular. Transposisi arteri besar dengan kelainan penyerta kompleks ditemukan bersama-sama dengan kelainan lain, yaitu AVSD komplet, atresia mitral, atresia trikuspid, single ventricle,dan dekstrokardia situs inversus. Terdapat hubungan bermakna tipe transposisi dengan kelainan penyerta (p=0,01).Kesimpulan.Transposisi arteri besar dengan tipe transposisi komplet lebih sering disertai dengan kelainan penyerta kompleks.