Sukri Rahman
Bagian THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/ RSUP. Dr. M. Djamil Padang

Published : 22 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Majalah Kedokteran Andalas

PENATALAKSANAAN PLEOMORFIK ADENOMA PALATUM Rahman, Sukri; Budiman, Bestari Jaka; Yolazenia, Yolazenia
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 1 (2015): Published in May 2015
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v38.i1.p66-72.2015

Abstract

AbstrakPleomorfik adenoma merupakan tumor jinak campuran yang terdiri dari komponen sel epitel, mioepitel dan mesenkim yang tersusun dalam beberapa variasi. Tumor ini paling sering ditemukan pada kelenjar liur. Kelenjar liur mayor yang paling umum dikenai adalah kelenjar parotis, sedangkan kelenjar liur minor paling sering terjadi pada palatum. Terapi pilihan untuk pleomorfik adenoma kelenjar liur adalah reseksi tumor. Kasus ini diajukan agar dokter umum dan dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok dapat mengetahui diagnosis dan penatalaksanaan pasien dengan pleomorfik adenoma pada palatum. Dilaporkan satu kasus pada seorang pasien laki-laki umur 49 tahun dengan benjolan yang tidak nyeri di palatum sejak 3 bulan sebelum masuk rumah sakit, histopatologi mengkonfirmasi pleomorfik adenoma sebagai diagnosisnya. Pada pasien ini dilakukan reseksi tumor sebagai penatalaksanaannya. Tumor jinak pada palatum sering berupa pleomorfik adenoma yang bila dilakukan reseksi tumor secara komplit memberikan prognosis yang baik.AbstractPleomorphic adenoma is a benign mixed tumour composed of epithelial, myoepithelial, and mesenchymal components arranged with various morphological patterns. This is the most common tumour of the salivary glands. The parotid gland was the most commonly affected major gland, and the palate the most common site of minor salivary gland involvement. Treatment of choice for pleomorphic adenoma of salivary gland is tumour resection. This case is presented to enlighten general practitioners and also otorhino-laryngologists about diagnosis and treatment of pleomorphic adenoma of the palate. Reported case of a 49 years old male with painless mass on the palate since 3 months before admission. Pathologic examination confirmed the diagnosis was pleomorphic adenoma. Tumour resection was performed to manage the patient. Pleomorphic adenoma is the most common benign tumour of the palate, which has good prognosis with complete resection of the tumour.
ASFIKSIA PERINATAL SEBAGAI FAKTOR RESIKO GANGGUAN PENDENGARAN PADA ANAK Rahman, Sukri; Hanifatryevi, Hanifatryevi
Majalah Kedokteran Andalas Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v36.i1.p1-10.2012

Abstract

AbstrakAsfiksia adalah keadaan di mana tubuh atau bagian tubuh kekurangan oksigen. Jika kondisi ini terjadi pada bayi baru lahir disebut dengan asfiksia perinatal, yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan secara permanen maupun bersifat sementara, salah satunya adalah gangguan pendengaran sensorineural.Makalah ini akan membahas tentang mekanisme gangguan pendengaran akibat asfiksia, deteksi dini gangguan pendengaran dengan pemeriksaan Brain Evoked Response Auditory (BERA) dan Otoacoustic Emissions (OAE).Gangguan pendengaran akibat asfiksia dapat terjadi akibat beberapa mekanisme. Kelainan ini terlihat pada gambaran BERA dan OAE, dimana terjadinya peningkatan masalaten dan interval gelombang yang bersifat sementara atau menetap, serta ditemukan gangguan pada fungsi koklea bayi dengan asfiksia perinatal terutama pada frekuensi 1-5 kHz yang terdeteksi pada hari ke tiga sampai hari kelima kelahiran, dan terdapat perbaikan pada usia 1 bulan.Kata Kunci : Asfiksia perinatal, gangguan pendengaran, BERA, OAEAbstractAsphyxia is a condition in which the body or body part to lack of oxygen. If this condition occurs in newborns with perinatal asphyxia is also called, which can cause tissue damage is permanent or temporary. One of that is a sensorineural hearing loss.This paper will discuss the mechanisms of hearing loss due to asphyxia, early detection of hearing loss with an examination Brain Auditory Evoked Response (BERA) and Otoacoustic Emissions (OAE).Hearing loss due to asphyxia can occur due to several mechanisms. These abnormalities are seen on the results of BERA and OAE, where an increase in latent period and the interval waves that are temporary or permanent, and found interference with the function of the cochlea infants with perinatal asphyxia, especially at frequency of 1-5 kHz were detected on the third day until the fifth day of birth, and there are improvements to the age of 1 month.Key word : Perinatal asphyxia, hearing loss, Brain Auditory Evoked Response, Otoacoustic Emissions
GAMBARAN AUDIOGRAM NADA MURNI PENDERITA KARSINOMA KEPALA DAN LEHER YANG MENDAPAT SATU SIKLUS KEMOTERAPI CISPLATIN Rahman, Sukri; Alviandi, Widayat; Edward, Yan; Firdaus, M. Abduh; Machmud, Rizanda
Majalah Kedokteran Andalas Vol 34, No 1 (2010): Published in April 2010
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v34.i1.p51-59.2010

Abstract

Sebagian besar keganasan kepala dan leher terdiagnosis sudah dalam stadium lanjut dan sering sudah inoperable. Kemoradiasi merupakan pengobatan pada keadaan seperti ini. Kemoterapi neoadjuvan (induksi) dengan cisplatin pada karsinoma kepala leher telah terbukti dapat mempreservasi organ dan menurunkan angka metastasis jauh, namun di sisi lain cisplatin menyebabkan berbagai efek samping berupa toksik terhadap berbagai organ, salah satunya ototoksikPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran audiogram nada murni penderita karsinoma kepala dan leher yang mendapat kemoterapi cisplatin.Penelitian ini merupakan uji potong lintang untuk mengetahui gambaran audiogram nada murni terhadap 25 orang penderita karsinoma kepala dan leher yang mendapat kemoterapi cisplatin 100 mg/m2 di bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (THT-KL) rumah sakit (RS) Dr. M. Djamil Padang, mulai bulan April sampai bulan Desember 2009.Dari 50 audiogram yang diperiksa didapatkan nilai rerata perubahan nilai ambang dengar hantaran tulang pada masing-masing frekuensi yaitu 3,4±5,84 dB pada frekuensi 250 Hz, 2,0±3,91dB (500 Hz), 2,6±4,87 dB (1000 Hz), 3,4±5,10 dB (2000 Hz), 4,9±9,23 dB (4000 Hz), 4,7±5,84 dB (6000 Hz) dan 6,5±9,85 dB pada 8000 Hz.Setelah pemberian satu siklus kemoterapi cisplatin 100 mg/m2 sebagian besar sampel tidak mengalami perubahan ambang dengar pada frekuensi 250, 500, 1000, 2000, 4000 dan 6000 Hz, sedangkan pada frekuensi 8000 Hz, sebagian besar mengalami kenaikan nilai ambang dengar. Namun demikian nilai rerata hantaran tulang sebelum dengan setelah kemoterapi terdapat perbedaan yang bermakna pada semua frekuensi.