Wiwid Noor Rakhmad
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro

Published : 43 Documents
Articles

HUBUNGAN TINGKAT KETIDAKPASTIAN DAN KONSEP DIRI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN KOMUNIKASI PRIA PADA TAHAP PERKENALAN DENGAN WANITA Azwar, Rwanda Zwazdianza; Sunarto, Dr; Rakhmad, Wiwid Noor; Widowati, Sri
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang penelitian ini didasarkan pada tingginya prosentase pria yang mengalami kecemasan komunikasi ketika berkomunikasi dengan wanita yang belum dikenal. Setiap hubungan personal baik teman, sahabat, kekasih, dan sebagainya terbentuk melalui tahap-tahap, salah satunya adalah tahap kontak atau perkenalan. Tahap kontak atau perkenalan menjadi krusial karena pada tahap ini masing-masing individu akan memutuskan apakah hubungan dapat dilanjutkan ke tahap selajutnya atau tidak. Dengan demikian, kecemasan komunikasi secara tidak langsung akan menghambat pria untuk mengembangkan hubungan dengan wanita. Kecemasan komunikasi yang dialami pria ditentukan oleh dua faktor, yaitu ketidakpastian dan konsep diri yang dimiliki pria.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat ketidakpastian dan konsep diri yang dimiliki pria dengan tingkat kecemasan komunikasi yang dialami pria pada tahap perkenalan. Beberapa teori yang digunakan pada penelitian ini antara lain teori pengurangan ketidakpastian, teori selanjutnya yang digunakan dalam penelitian ini berkaitan dengan konsep diri yang dimiliki pria, dan teori terakhir yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kecemasan komunikasi.Penelitian ini merupakan tipe penelitian eksplanatif dengan pendekatan kuantitatif, dan menggunakan paradigma positivistik. Populasi dalam penelitian ini adalah pria berusia 20-40 tahun yang mengikuti produk atau pelatihan Hitman System dan mengalami kecemasan komunikasi. Sampel yang digunakan adalah non random dengan teknik accidental sampling dikarenakan jumlah populasi yang tidak diketahui dengan jumlah sampel sebanyak 80 responden. Berdasarkan perhitungan statistik dengan menggunakan rumus uji korelasi Rank Kendall, diketahui terdapat hubungan positif yang signifikan antara tingkat ketidakpastian (X1) dengan tingkat kecemasan komunikasi (Y), atau semakin tinggi tingkat ketidakpastian pria maka semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dialami pria. Diketahui pula terdapat hubungan negatif yang sangat signifikan antara konsep diri (X2) dengan tingkat kecemasan komunikasi (Y), dapat dikatakan semakin positif konsep diri pria maka semakin rendah tingkat kecemasan komunikasi yang dialami pria. Terakhir, didapati bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara tingkat ketidakpastian (X1) dan konsep diri (X2) dengan tingkat kecemasan komunikasi (Y), atau pria mengalami ketidakpastian yang tinggi ketika berkenalan dengan wanita maka tingkat kecemasan komunikasi yang dialaminya juga akan meningkat, namun jika pria memiliki konsep diri yang positif maka tingkat kecemasan yang dialaminya akan menurun.Kata kunci: Tingkat Ketidakpastian, Konsep Diri, dan Tingkat Kecemasan Komunikasi
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI INSTRUKSIONAL GURU DALAM MENGEMBANGKAN MINAT DAN BAKAT SISWA TUNAGRAHITA Melati, Yuanita Putri; Rahardjo, Turnomo; Suprihartini, Taufik; Rakhmad, Wiwid Noor
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Siswa tunagrahita merupakan siswa dengan keterbatasan intelegensi. Keterbatasanintelegensi menyebabkan lemahnya kemampuan komunikasi siswa tunagrahita.Siswa tungarhita kerap dianggap ?tidak berguna? dan memliki masa depan yangkelam. Namun, dengan pendidikan dan penanganan dari sekolah dan guru yangsesuai dengan kemampuan dapat melatih ketrampilan siswa tunagrahita sehinggamenjadi pribadi yang mandiri di tengah masyarakat. Keterbatasan komunikasiyang dimiliki siswa tunagrahita menjadi salah satu kendala guru dalam usahanyauntuk memberikan pengajaran kepada siswa tunagrahita.Penelitian yang bertujuan menjelaskan pengalaman komunikasiinstruksional guru dengan siswa tunagrahita ini menggunakan pendekatankualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Coordinated Management OfMeaning dariW. Barnett Pearce dan Vernon Cronen (1980), konsep mengenaikomunikasi instruksional, dan Teori Belajar Aperpesi menurut Johan F. Herbartdari abad 20. Teknik analisis yang digunakan adalah mengacu pada metodefenomenologi dari Von Eckartsberg, dan subjek penelitian adalah guru kelasketrampilan SLB Negeri Semarang yang mengampu siswa tunagrahita.Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam memberikanpembelajaran kepada siswa tunagrahita, guru berusaha menjalin ?ikatan? agardapat memahami karakter dan latar belakang siswa. Hal ini berguna untukmenentukan pola pembelajaran yang sesuai bagi masing-masing siswa. ?Ikatan?tersebut dihasilkan melalui interaksi dan sharing yang dilakukan sehari-hari olehguru di sekolah kepada siswa tunagrahita. Melalui interaksi dan sharing, gurumendapat pemahaman tentang latar belakang dan karakteristik masing-masingsiswa. Pemahaman karakter siswa berpengaruh pada pola pembelajaran yangdigunakan guru untuk mengembangakan potensi siswa. Pola pembelajaran yangdigunakan oleh guru dengan memberikan demontrasi dan mengikuti imajinasisiswa. Hal ini juga untuk melatih kemampuan komunikasinya. Guru dituntut lebihaktif dalam berinteraksi dengan siswa di kelas. Hal ini bertujuan agar siswamerasa nyaman dan semangat belajar di kelas. Kendala yang dihadapi guru dalammengembangkan minat dan bakat siswa tunagrahita adalah keadaan siswa tersebutyang memiliki disabilitas intelektual serta orang tua siswa yang kurang memberidukungan. Guru aktif berdiskusi dengan keluarga dan orang tua siswa berkaitankelas ketrampilan yang sesuai dengan minat dan bakat siswa tunagrahita.
STUDI DESKRIPTIF DISEMINASI INFORMASI PESAN KEBENCANAAN DI KELOMPOK MASYARAKAT KAWASAN RAWAN BENCANA DESA UMBULHARJO KECAMATAN CANGKRINGAN KABUPATEN SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Retnowati, Endang; Yulianto, Much.; Naryoso, Agus; Rakhmad, Wiwid Noor
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi merupakan suatu elemen penting dalam pelaksanaan mitigasi bencana. Penanganan bencana yang menghendaki kecepatan & ketepatan dalam membantu korban, mendorong berbagai kelompok masyarakat ikut andil dalam memberikan bantuan. Namun disayangkan, pola pemberian bantuan kurangdipahami, akibat minimnya informasi penanganan bencana yang terintegratif dari Pemerintah, dinas terkait, & masyarakat agar pesan dapat sampai & dipahami dengan baik sehingga pada akhirnya dapat menekan tingkat jumlah korban bencana. Penelitian ini merupakan penelitia n deskriptif kuantitatif dengan mengambil lokasi penelitian di Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Sampling di lakukan di Dusun Pentingsari, Gambretan, Gondang, Pangukrejo & Pelemsari. Teknik sampling yang digunakan adalah Stratified Random Sampling. Penelititan kuantitatif dengan format deskriptif bertujuan untuk menjelaskan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai variabel yang timbul di masyarakat ya ng menjadi objek penelitian berdasarkan apa yang terjadi.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan diseminasi/penyebaran informasi pesan kebencanaan di kelompok masyarakatkawasan rawan bencana (KRB) Desa Umbulharjo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 1) Informasi pesan kebencanaan yang tersebar di Desa Umbulharjo sudah dapat dipahami&diikuti responden dengan baik. 2) Kemampuan tenaga penyuluh menyampaikan informasi pesan kebencanaan ke masyarakat Desa Umbulharjo sudah kredibel&kompeten. 3) Media saluran pesan kebencanaan yang dominan dimanfaatkan di Desa Umbulharjo yaitu televisi&media luar ruang. 4) Ketertarikan masyarakat Desa Umbulharjo terhadap informasi pesan kebencanaan sudah tergolong tinggi. 5) Informasi pesan kebencanaan yang tersebar di Desa Umbulharjo sudah sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat setempat. Pemerintah&dinas terkait diharapkan dapat memaksimalkan potensi yang ada pada kelompok masyarakat agar penyebaran informasi pesan kebencanaan menjadi lebih efektif & efisien.Kata Kunci : Diseminasi Informasi, Pesan Kebencanaan, Kawasan Rawan Bencana, Kelompok Masyarakat
PENGARUH INTENSITAS MENGAKSES MEDIA SOSIAL ADIDAS DAN CITRA MEREK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN SPORT SHOES ADIDAS DI KALANGAN REMAJA WANITA Purnama, Ayu Sri; Herieningsih, Sri Widowati; Pradekso, Tandiyo; Rakhmad, Wiwid Noor
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sport shoes merupakan salah satu jenis sepatu yang di minati oleh masyarakat saat ini, Selain itu akhir-akhir ini salah satu jenis sport shoes yakni running shoes menjadi fashion baru dikalangan remaja di Indonesia. Namun salah satu produsen sports shoes yaitu adidas saat ini kurang diminati bila dibandingkan dengan kompetitornya hasil survey mengenai sport shoes yang digunakan dan diminati oleh remaja wanita di Indonesia menunjukkan bahwa Adidas menempati urutan ke- tiga setelah nike dan converse kemudian data top brand index kategori remaja menunjukkan bahwa sport shoes Adidas sangat fluktuatif dari tahun 2012 ? 2015.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh intensitas mengakses media sosial adidas dan citra merek terhadap keputusan pembelian sport shoes adidas di kalangan remaja wanita. teori yang digunakan adalah teori ketergantungan dan teori respon kognitif. populasi dalam penelitian ini adalah remaja wanita yang berusia 18 ? 22 tahun dan berdomisili di semarang dan sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 50 responden dengan teknik purposive sampling.Dalam uji hipotesis, penulis menggunakan analisis regresi berganda, hasilnya menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi antara intensitas mengakses media sosial Adidas dan citra merek terhadap keputusan pembelian. uji hipotesis yang pertama menunjukkan tidak terdapat pengaruh antara intensitas mengakses media sosial terhadap keputusan pembelian sport shoes adidas di kalangan remaja wanita. kemudian Uji hipotesis yang kedua menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara citra merek terhadap keputusan pembelian sport shoes adidas di kalangan remaja wanitaKesimpulan dari penelitian ini adalah hipotesis pertama dan kedua tidak terbukti karena tidak terdapat pengaruh antara intensitas mengakses media sosial terhadap keputusan pembelian sport shoes adidas di kalangan remaja wanita kemudian tidak terdapat pengaruh antara citra merek terhdap keputusan pembelian sport shoes adidas di kalangan remaja wanita.
PENERIMAAN KHALAYAK TERHADAP EKSPLOITASI WILAYAH DOMESTIK PESOHOR DALAM TALKSHOW HITAM PUTIH Anggraini, Destika Fajarsylva; Rahardjo, Turnomo; Rakhmad, Wiwid Noor; Nugroho, Adi
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Televisi merupakan teknologi audio visual yang dapat menyajikan informasi dan hiburan secara cepat, terjangkau, dan umum dimiliki oleh masyarakat. Setiap stasiun televisi berusaha memberikan program-program terbaru sesuai dengan tren program yang berlangsung. Begitu beraneka ragam produk yang disajikan televisi, salah satu produk unggulan yang disajikan televisi adalah talkshow.Hitam Putih adalah salah satu program dari talkshow. Tayangan tersebut sangat menarik untuk di teliti, karena Hitam Putih mengandung format mind reading. Mind reading merupakan format membaca pikiran sehingga bintang tamu akan dibuat tidak berdaya ketika ?dicecar? pertanyaan oleh pembawa acara Deddy Corbuzier yang memaksa mereka memaparkan kehidupan pribadinya tanpa disadari. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemaknaan audiens tentang tayangan Hitam Putih. Penelitian ini menggunakan model encoding-decoding Stuart Hall untuk menjelaskan jalannya proses encoding-decoding tayangan Hitam Putih.Penelitian ini adalah penelitian dengan tipe deskriptif yang bersifat kualitatif dan menggunakan pendekatan analisis resepsi. Dalam analisis resepsi khalayak dipandang sebagai produser makna yang tidak hanya menjadi konsumen isi media. Hasil penelitian akan membagi khalayak ke dalam tiga posisi pemaknaan. Yaitu kelompok dominat reading, khalayak yang memaknai tayangan Hitam Putih sesuai dengan preffered reading (makna dominan). Kelompok negotiated reading, memaknai tayangan ini dari dua sisi, yaitu menganggap bahwa tayangan ini tidak etis dan menganggap tayangan ini adalah tayangan yang memotivasi serta memberikan
BRANDING HIPMI PEDULI JAWA TENGAH THROUGH STRATEGIC COMMUNICATION ACTIVITY Imawan, Selo Pangestu; Setyabudi, Djoko; Naryoso, Agus; Rakhmad, Wiwid Noor
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This Final Assignment in the form of field work is based on a new organization underHIPMI Jawa Tengah, HIPMI Peduli Jawa Tengah. HIPMI Peduli Jawa Tengah is a neworganization that is not popular yet in HIPMI Jawa Tengah members, let alone in public.Through its branding activity, HIPMI Peduli Jawa Tengah can strengthen its HIPMI PeduliJawa Tengah brand.Because there?s a lot of HIPMI Jawa Tengah member who don't know about HIPMI PeduliJawa Tengah makes many HIPMI Peduli Jawa Tengah activities unknown to them and topublic. Based on persuasion theory, this work aims to entice members of HIPMI JawaTengah to know HIPMI Peduli Jawa Tengah activities better. Aside of that, this work alsoaims to increase the affection, cognition and behavior of the members and to persuadepeople to donate in HIPMI Peduli Jawa Tengah.On one month of execution in August, the event managed to increase awareness by 84%and donation by 34% of the members of HIPMI Peduli Jawa Tengah. This work also showsthat the branding activity done by HIPMI Peduli Jawa Tengah was successfully doneaccording to the goals that had been set beforehand.
PENGARUH TERPAAN PUBLISITAS HIJABERS COMMUNITY DI MEDIA MASSA DAN INTENSITAS INTERAKSI DENGAN PEER GROUP TERHADAP SIKAP DAN PERILAKU DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENGGUNAKAN HIJAB DI KALANGAN REMAJA Mashitasari, Intan; Pradekso, Tandiyo; Rakhmad, Wiwid Noor
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nama : Intan MashitasariNIM : D2C009137Judul : Pengaruh Terpaan Publisitas Hijabers Community Di MediaMassa dan Intensitas Interaksi Dengan Peer GroupTerhadap Sikap Dan Perilaku Dalam PengambilanKeputusan Menggunakan Hijab Di Kalangan RemajaABSTRAKDewasa ini banyak bermunculan komunitas muslim di Indonesia, salah satunya adalah HijabersCommunity yang bertujuan mengajak muslimah untuk berhijab. Namun, meskipun HijabersCommuniy telah memberikan terpaan publisitas di media massa, masih banyak muslimah diIndonesia yang enggan memutuskan untuk berhijab. Memang tidak dapat dipungkiri bahwabanyak faktor yang melatarbelakangi seseorang dalam memutuskan untuk menggunakan hijab,salah satunya adalah faktor intensitas interaksi dengan peer group. Tujuan penelitian ini untukmengkaji seberapa besar pengaruh antara terpaan publisitas Hijabers Community di media massadan intensitas interaksi dengan peer group terhadap sikap dan perilaku dalam pengambilankeputusan menggunakan hijab di kalangan remaja. Teori yang digunakan adalah Teori NilaiEkspektasi (Expectancy-Value Theory) dari Martin Fishbein dan Teori Pemrosesan-Informasi(Information Processing Theory) dari McGuire. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitianini adalah tipe penelitian explanatory (penjelasan). Sedangkan Teknik pengambilan sampelnyaadalah Non Random dengan total sampel sebanyak 45 responden. Alat yang digunakan untukanalisis data adalah uji statistik Kendall?s tau_b, Konkordasi Kendall (W), dan Multinominallogistic regression.Hasil penelitian pada pengujian hipotesis pertama menunjukkan terdapat pengaruh yangsignifikan antara terpaan publisitas Hijabers Community di media massa dan intensitas interaksidengan peer group terhadap sikap remaja pada penggunaan hijab. Ditunjukkan pada angkasignifikan sebesar 0,000 dengan koefisien korelasi 0.927 dan 0,842. Lain halnya dengan hasilpengujian hipotesis kedua yang menunjukkan tidak terdapat pengaruh yang signifikan antarasikap remaja pada penggunaan hijab terhadap perilaku dalam pengambilan keputusanmenggunakan hijab di kalangan remaja. Hipotesis kedua dalam penelitian ini ditolak denganangka signifikan pada variabel sikap sebesar 0,171 atau p > 0,05. Variasi variabel dependen yangdapat dijelaskan oleh variabel independen hanya sebesar 7,5% dan sisanya sebesar 92,5%dijelaskan oleh sebab-sebab lain. Artinya adalah sikap hanya mampu memberikan kontribusipada perubahan perilaku hanya sebesar 7,5%, sehingga tidak cukup kuat pengaruhnya karenaperubahan perilaku 92,5% nya justru dipengaruhi oleh faktor lain di luar sikap.Kata Kunci : Hijabers Community, Peer Group, HijabABSTRACTNowadays many of the emerging muslim community in Indonesia, one of which is the HijaberCommunity which aims to spurring muslim women to thhe use of hijab. However, despiteHijabers Communiy has given exposure to publicity in the mass media, many muslim women inIndonesia who reluctantly decide to the use of hijab. It cannot be denied that a lot of factors thataffect a person's aspect in deciding to use a hijab, one of which is the factor intensity ofinteraction with peer group. The purpose of this research was to examine the extent of theinfluence of exposure publicity to Hijabers Community in the mass media and the intensity ofthe interaction with the peer group against attitudes and behaviors in decision-making using hijabamong adolescents. Theory used is Expectancy-Value Theory from Martin Fishbein andInformation Processing Theory of Mcguire. Research type used in this research is type researchexplanatory. While the technique of making sampelnya was a Non Random sample totaling asmany as 45 of the respondents. While the tools used for data analysis is statistical tests Kendall?sTau_b, Konkordasi Kendall (W), and Multinominal logistic regression.The results of research on the testing of hypotheses first shows that there are significantinfluence between of exposure publicity to Hijabers Community in the mass media and intensityof interaction with peer group with the teenager on the use of hijab. A significant number areshown on the registration of the correlation coefficient 0.000 and 0.927 and 0.842. Another is thecase with the results of the testing of hypotheses second which indicates there is no significantinfluence between attitude teenagers on the use of hijab against behavior in decision making useof hijab among teenagers. The second hypothesis in this research rejected with the number ofsignificant on the variables of attitude of 0,171 or p > 0,05. Variation the dependent variable thatcan be described by the independent variable is only 7.5 % and the rest by 92,5 % described byother causes. That means attitude could only contributed to change behavior only 7.5 %, so notstrong enough its influence because of 92,5 % behavioral change influenced by these factorsbeyond attitude.Keywords : Hijabers Community, Peer Group, Hijab.1. Latar BelakangDewasa ini, perkembangan media komunikasi yang semakin maju berdampak padaperubahan bentuk sarana komunikasi massa yang semakin beragam. Jika adanya perkembanganmedia komunikasi biasanya berkaitan dengan media massa sebagai sarana untuk berkomunikasi,kini tidak hanya media massa saja yang dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan.Namun, penyampaian pesan dapat pula dilakukan dengan membentuk suatu komunitas.Komunitas menjadi salah satu media komunikasi yang dapat menciptakan kedekatantersendiri dengan khalayak. Karena komunitas dianggap sebagai wadah yang tepat untukberkumpul dan mengekspresikan diri di antara orang-orang yang memiliki kesamaan hobi,interest, serta visi dan misi. Hal ini dapat terlihat dengan banyaknya komunitas-komunitas yangmuncul di tengah masyarakat. Salah satunya adalah munculnya Hijabers Community yang akhirakhirini ?happening? di kalangan remaja muslim Indonesia.Hijabers Community merupakan komunitas wanita berhijab yang didirikan pada 27November 2010 di Jakarta. Sekitar 30 perempuan dari berbagai latar belakang dan profesiberkumpul untuk berbagi visi mereka untuk membentuk sebuah komunitas yang mengakomodasikegiatan yang terkait dengan hijab dan muslimah. Dari fashion untuk studi Islam dan dari gayahijab untuk belajar Islam.Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai visi dan misi tersebut adalah melaluikegitan publisitas. Jika dibandingkan dengan sosialisasi, iklan, maupun berita, aktivitas publisitasakan lebih mudah masuk ke benak target sasaran. Sebab, kerja publisitas sering mempromosikanapa saja, siapa saja, di mana saja, dan dengan cara apa saja. Selain itu, publisitas sendirimempunyai fungsi untuk menarik perhatian dan menciptakan kesadaran dengan cara apapunyang kredibel dan relevan. Oleh karenanya, publisitas terkait dua pihak yakni pihak yangmendapatkan publisitas dan pihak yang membuat publisitas (Liliweri, 2011: 457).Sejak berdiri November 2010 lalu, dengan memanfaatkan media massa, baik itu mediatradisional, media elektroik, media luar ruangan, hingga new media, berbagai bentuk upayamewujudkan visi dan misi Hijabers Community pun telah banyak dilakukan. Sebagai bentukkegiatan terpaan publisitas di media massa tersebut, setiap Selasa berita mengenai HijabersCommunity menjadi rubik khusus di surat kabar Republika bagian Suplemen Republika yaituLeisure, dengan nama Hijabers Community Corner. Hijabers Community juga membuat bukumengenai fashion muslimah yang di dalamnya berisi ulasan cara bergaya dan berhijab stylistyang terinspirasi dari street style wanita modern di Eropa. Bahkan untuk menunjukkaneksistensinya, Hijabers Community juga membuat fans page di new media berupa blogkomunitas, Facebook, Twitter, Instagram, dan Account Youtube yang selalu mengupdateinformasi-informasi seputar hijab dan muslimah.Langkah Hijabers Community untuk mengajak muslimah di Indonesia agar tidak ragu dalamberhijab juga banyak diikuti oleh komunitas muslim di kota-kota besar di Indonesia, salahsatunya Kota Semarang yang menyebut dirinya sebagai Hijabi Community Semarang. Secaragaris besar, komunitas yang didirikan pada Juni 2011 ini memiliki fokus orientasi yang samadengan Hijabers Community. Dengan anggota kurang lebih 300 wanita muslimah di Semarangdan jumlah followers twitter yang mencapai 985 serta 3.674 orang teman di facebook, HijabiCommunity Semarang ini muncul sebagai wadah untuk menyampaikan syiar Islam dalammendorong muslimah di Semarang untuk menggunakan hijab. (http//14fo%20hs/berdirinyaforum-hijabers-fhb.html diunduh pada 13 Januari 2013 pukul 21:25 WIB).Lahirnya komunitas muslim di Semarang bukan tanpa alasan. Menurut Badan Pusat StatistikJawa Tengah, jumlah penduduk di Wilayah Semarang pada 2010 sebanyak 978.253 jiwa, dimana 873.421 jiwa (93,54 %) dari jumlah tersebut adalah pemeluk agama Islam. Hal inimenunjukkan bahwa Semarang adalah daerah yang sesuai untuk dijadikan sebagai sasaranpublisitas dari komunitas hijabers, sebab sebagian besar penduduknya adalah muslim.Publisitas yang dilakukan Hijabers Community merupakan upaya yang bisa berhasil bilamasing-masing individu dalam merespon pesan akan berperilaku seperti yang diharapkan.Keberhasilan bisa terjadi bila pesan yang disampaikan telah dapat menyentuh aspek behaviordari masing-masing individu.Secara global di awal 2010, berdasarkan Data Sensus Penduduk 2010: Badan Pusat StatistikRepublik Indonesia, tercatat jumlah penduduk Indonesia saat itu adalah 237.556.363 jiwa. Darijumlah penduduk tersebut, 207.176.162 jiwa atau sekitar 87,18% memeluk agama Islam.Sedangkan berdasarkan data dari Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM) KementerianPerindustrian terkait dengan acara Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF) 2012, menurut EuisSaidah, kurang lebih hingga 2012 hanya 20 juta penduduk Indonesia yang telah menggunakanhijab. (http://ikm.kemenperin.go.id/ diunduh pada 14 Januari 2013 pukul 10:15 WIB).Melihat minimnya pengguna hijab di Indonesia tersebut menunjukkan meskipun telahbanyak upaya strategi komunikasi yang telah dilakukan melalui kegiatan publisitas sejak 2010lalu, tidak berdampak pada perubahan perilaku muslimah dalam memutuskan untuk berhijab.Hal tersebut berarti kegiatan publisitas yang dilakukan Hijabers Community tidak efektif, sebabvisi dan misi telah dikomunikasikan, namun tetap tidak berdampak pada perubahan perilaku darimuslimah Indonesia.Memang tidak dapat dipungkiri jika banyak faktor yang melatarbelakangi seseorang dalammemutuskan untuk menggunakan hijab. Tidak hanya peran media massa saja yang dapatmemberikan rangsangan seseorang untuk memutuskan menggunakan hijab, namun faktorintensitas interaksi dengan peer group pun diduga mampu memberikan dorongan tersendiri.Intensitas interaksi dengan peer group dapat menimbulkan pengaruh perubahan perilaku/kepercayaan menuju norma yang dianut dalam kedekatan hubungan mereka. Bila sejumlah orangdalam peer groupnya mengatakan atau melakukan tindakan tertentu, ada kecenderungan orangorangyang terjalin kedekatan hubungan dengan peer group ikut berinteraksi untuk mengatakandan melakukan tindakan yang sama.2. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji seberapa besar pengaruh antara terpaan publisitasHijabers Community di media massa dan intensitas interaksi dengan peer group terhadap sikapdan perilaku dalam pengambilan keputusan menggunakan hijab di kalangan remaja.3. Kerangka TeoriPenelitian ini menggunakan Teori Nilai Ekspektasi (Expectancy-Value Theory) dariMartin Fishbein yang secara garis besarnya menjelaskan bahwa perubahan perilaku seseorangtidak hanya dipengaruhi oleh terpaan informasi saja, namun faktor lain di luar informasi punmemiliki pengaruh yang signifikan. Faktor lain di luar informasi tersebut adalah faktor intensitasinteraksi dengan teman. Perlu disadari bahwa setiap rangsangan yang melalui media massabukanlah satu-satunya rangsangan yang menerpa individu dalam suatu saat tertentu, melainkanmerupakan salah satu dari sekian banyak rangsangan yang ada. Dalam menerima pesan-pesankomunikasi dari media massa, orang tidak hanya memperoleh dari interaksinya dengan mediasaja, akan tetapi terkadang diperoleh melalui hubungan atau kontak sosial dengan orang lain(lingkungan). Hubungan sosial seperti itulah yang merupakan salah satu variabel yang turutmenentukan besarnya pengaruh media massa. Meskipun sesungguhnya individu yang menerimapesan, akan tetapi tidak dapat dipungkiri jika pengaruh kelompok sosial dan masyarakat melekatdan memberikan pengaruh.Meskipun asumsi dasar dalam Expectancy-Value Theory menjelaskan bahwa informasi danteman hanya mampu menyentuh aspek sikap (afektif) saja. Namun, dalam penjelasannyaFishbein mengemukakan bahwa fungsi sikap seseorang mampu mempengaruhi tujuan seseorangdalam melakukan sebuah perilaku (behavior) tertentu, karenanya perilaku seseorang seringditentukan oleh sikap mereka.Dan diperkuat dengan menggunakan Teori Pemrosesan-Informasi (InformationProcessing Theory) dari McGuire yang menjelaskan tentang adanya hubungan bahwa perubahanperilaku seseorang dapat terlihat dari sikapnya. Ketika seseorang mengalami perubahan sikapbisa jadi diikuti pula dengan perubahan perilaku. Sebab, perilaku seseorang seringkali ditentukanoleh sikap mereka. Pernyataan yang mengemukakan bahwa terdapat hubungan antara sikap danperilaku sesuai dengan penjelasan di atas diperkuat oleh Teori Pemrosesan-Informasi(Information Processing Theory) dari McGuire. Teori ini menyebutkan bahwa perubahan sikapterdiri dari beberapa tahapan yang masing-masing tahapannya merupakan kejadian penting yangdijadikan patokan untuk tahap selanjutnya, yaitu tahap perubahan perilaku. Tahapan-tahapantersebut adalah sebagai berikut :1. Pesan dikomunikasikan2. Penerima pesan memperhatikan3. Muncul rasa suka atau tertarik4. Penerima memahami pesan (mempelajari sesuatu)5. Penerima terpengaruh dan yakin dengan argumen dari pesan (perubahan sikap)6. Penyimpanan informasi pesan dalam memori7. Kesepakatan dan pemunculan kembali informasi8. Pengambilan keputusan berdasarkan pemunculan kembali informasi9. Berperilaku sesuai dengan keputusan(Severin & Tankard, 2005: 204).Selain itu, mengutip dari Werner J. Severin dan James W. Tankard, yang menyebutkanbahwa sikap memiliki tiga komponen yaitu : komponen afektif (mengacu pada kesukaan atauperasaan terhadap sebuah objek), komponen kognitif (mengacu pada keyakinan terhadap sebuahobjek), dan komponen perilaku (yang mengacu pada tindakan terhadap objek) menunjukkanbahwa ketika seseorang mengalami perubahan sikap diikuti pula dengan perubahan perilakuyang nyata. Misalnya, ketika remaja memiliki sikap tertarik dengan informasi tentang hijab yangdisampaikan oleh Hijabers Community, maka :? Afektif, tertarik dan menyukai informasi-informasi yang berkaitan dengan trend berhijab? Kognitif, yakin bahwa informasi tentang trend hijab tersebut baik dan sesuai untuk remajadan dapat membuatnya lebih gaya dan tampak lebih alim/ muslimah? Perilaku, mencari informasi tentang trend hijab yang lebih rinci di media massa misalnya,mengumpulkan tutorial hijab, dan memutuskan untuk berhijab.4. Hasil PenelitianHubungan variabel terpaan publisitas Hijabers Community (X1) dan intensitas interaksidengan peer group (X2) dengan sikap remaja (Z) diketahui dari angka taraf signifikan dankoefisien korelasi hasil pengujian uji statistik Kendall's Tau_b. Taraf signifikan pada penelitianini menunjukkan angka signifikansi sebesar 0.000. Sedangkan koefisien korelasi ditunjukkandengan angka 0.927 dan 0,842 yang artinya Ha1 (Hipotesis Alternative) dalam penelitian iniditerima yaitu terdapat hubungan antara terpaan publisitas Hijabers Community di media massadan intensitas interaksi peer group dengan sikap remaja pada penggunaan hijab.Ketentuan pengujian hipotesis diterima atau ditolak adalah dengan melihat signifikansi dankoefisien korelasi. Nilai signifikansi yang digunakan adalah <1% dengan koefisien korelasi >0,3.Apabila signifikansi kurang dari sama dengan 1% dan koefisien korelasi lebih dari sama dengan0,3 maka Ha1 diterima dan Ho1 ditolak. Signifikansi untuk variabel terpaan publisitas danintensitas interaksi (X) adalah 0,000 berarti di bawah 0,01 dengan koefisien korelasi 0.927 dan0,842 (lebih dari 0,3) maka Ho1 ditolak dan Ha1 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwavariabel terpaan publisitas Hijabers Community di media massa (X1) dan intensitas interaksidengan peer group (X2) benar-benar berhubungan dengan sikap remaja pada penggunaan hijab(Z).Hubungan variabel independen terhadap dependen ini signifikan pada taraf kepercayaanpada level 0,01 sehingga dapat dikatakan hubungan variabel terpaan publisitas HijabersCommunity di media massa (X1) dan intensitas interaksi dengan peer group (X2) dengan sikapremaja pada penggunaan hijab (Z) sangat signifikan pada taraf kepercayaan 99%.Sedangkan pada Konkordasi Kendall (W) menghasilkan nilai koefisien korelasi sebesar0,925 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Dengan hasil tersebut dapat diinterpretasikanbahwa hipotesis pada Ha1 yang menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara terpaanpublisitas Hijabers Community dan intensitas interaksi dengan peer group terhadap sikap remajapada penggunaan hijab diterima. Artinya bahwa tingginya terpaan publisitas yang disampaikanoleh Hijabers Community di media dan tingginya intensitas berinteraksi dengan peer group dapatmemberikan pengaruh yang signifikan terhadap sikap remaja pada penggunaan hijab.Pengaruh variabel sikap remaja pada penggunaan hijab (Z) terhadap perilaku dalampengambilan keputusan menggunakan hijab di kalangan remaja (Y) diketahui dari angka PseudoR-Square (nilai R2), Likelihood Ratio Test (angka taraf signifikan), dan Parameter Estimates(angka persentase variabel prediktor).Perhitungan Pseudo R-Square pada penelitian ini menunjukkan anka R2 sebesar 7,5%, yangberarti variasi variabel dependen (perilaku dalam pengambilan keputusan menggunakan hijab dikalangan remaja) yang dapat dijelaskan oleh variabel prediktor adalah hanya sebesar 7,5% dansisanya sebesar 92,5% dijelaskan oleh variasi lain di luar model. Intinya adalah semakin kecilnilai R2 berarti semakin terbatas kemampuan prediktor atau variabel independen (X) dalammenjelaskan variasi variabel dependen (Y).Sedangkan perhitungan Likelihood ratio test menunjukkan kontribusi setiap variabelprediktor terhadap model sebesar 0,171. Yang berarti bahwa variabel prediktor tersebut tidakmemberikan kontribusi pada model atau bisa dikatakan tidak memberikan pengaruh padavariabel dependen yaitu perilaku dalam pengambilan keputusan menggunakan hijab di kalanganremaja karena angka pada taraf signifikan Likelihood ratio test adalah p > 0,05 yaitu 0,171. Padaperhitungan Parameter Estimates, diperoleh hasil bahwa sikap remaja pada penggunaan hijabtidak mempengaruhi probabilitas remaja dalam memutuskan menggunakan hijab dengan nilaikoefisien -0,061 dan signifikan pada 0,691 atau p > 0,05 dengan nilai Odd Ratio 0,941.Berdasarkan semua perhitungan dalam Multinominal Logistic Regression di atas dapatdisimpulkan bahwa penelitian dalam Ha2 ini tidak signifikan sehingga Ha2 ditolak yang artinyatidak terdapat pengaruh yang signifikan antara sikap remaja pada penggunaan hijab (Z) terhadapperilaku dalam pengambilan keputusan menggunakan hijab di kalangan remaja (Y).5. KesimpulanDari hasil penelitian pengaruh antara terpaan publisitas Hijabers Community di media massadan intensitas interaksi dengan peer group terhadap sikap dan perilaku dalam pengambilankeputusan menggunakan hijab di kalangan remaja dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :a. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan uji statistik Kendall?s Tau_b danKonkordasi Kendall (W) didapatkan hasil bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antaraterpaan publisitas Hijabers Community (X1) dan intensitas interaksi dengan peer group (X2)terhadap sikap remaja pada penggunaan hijab (Z). Yang artinya semakin tinggi terpaanpublisitas yang disampaikan oleh Hijabers Community di media massa dan semakin tinggiintensitas interaksi dengan peer group maka sikap remaja terhadap penggunaan hijab positif.b. Lain halnya dengan hasil pengujian hipotesis kedua. Berdasarkan pengujian hipotesis keduayang menguji adanya pengaruh antara variabel sikap (Z) terhadap variabel perilaku dalampengambilan keputusan (Y) didapati hasil bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikanantara sikap remaja pada penggunaan hijab terhadap perilaku dalam pengambilan keputusanmenggunakan hijab di kalangan remaja. Yang artinya meskipun sikap remaja terhadappenggunaan hijab menunjukkan sikap positif namun tidak berpengaruh pada perilaku remajadalam memutuskan untuk menggunakan hijab.6. Daftar PustakaBungin, Burhan. (2006). Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan DiskurusTeknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Prenada Media Group.Fajar, Marhaeni. (2009). Ilmu Komunikasi: Tori dan Praktik. Jakarta: Graha Ilmu.Ghozali, Imam. (2009). Analisis Multivariate Lanjutan Dengan Program SPSS.Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.Hurlock, Elizabeth B. (1980). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan SepanjangRentang Kehidupan. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama.Kriyantono, Rachmat. (2010). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KencanaPrenada Media Group.Liliweri, Alo. (2011). Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta: Kencana.Nina Winangsih Syam & Dadang Sugiana (2001). Perencanaan Pesan dan Media.Jakarta: Pusat Penerbit Universitas Terbuka.Rakhmat, Jalaluddin. (2006). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Santrock, John W. (2003). Adolescence: Perkembangan Remaja (Edisi Keenam). Jakarta:Erlangga.Slamet, Santosa. (2006). Dinamika Kelompok (Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara.Sutisna. (2003). Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. Bandung: PT. RemajaRosdakarya Offset.Sugiyono, (2008). Statistik Non Parametris Untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta.Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D. Bandung:Alfabeta.Venus, Antar. (2007). Manajemen Kampanye. Bandung: Simiosan Rekatama Mada.Vivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Prenada Media Group.Werner J. Severin & James W. Tankard. (2005). Teori Komunikasi : Sejarah, Metode,dan Terapan di Dalam Media Massa (edisi kelima). Jakarta: Kencana.W. Littlejohn, Stephen, & A. Foss, Karen. (2009). Teori Komunikai: Theories of HumanCommunication (Edisi 9). Jakarta: Salemba Humanika.W. Littlejohn, Stephen. (1996). Theories of Human Communication (5th edition).California: Sage Publication, Inc.Jurnal :Alfiana, Miftakhul N. (2013). Hubungan Terpaan Iklan Provider di Televisi dan InteraksiTeman Sebaya Dengan Perilaku Imitasi Bahasa Iklan Oleh Remaja. Skripsi.Universitas Diponegoro.Suhaemi, Susi. (2010). Pengaruh Intensitas Membaca Rubrik Mode Majalah Gadis danDukungan Orang Tua terhadap Perilaku Imitasi pada Penampilan Diri RemajaPutri. Skripsi. Universitas Diponegoro.Sunaryo, Ahmad. (2012). Hubungan Terpaan Iklan Produk Fashion di Majalah Remajadan Interaksi Peer Group terhadap Perilaku Konsumtif Remaja dalam Berpakaian.Skripsi. Universitas Diponegoro.Internet :http//%20hs/9747-cantik-dan-gaya-bersama-hijabers-community.html diunduh pada 13Januari 2013 pukul 21:15 WIBhttp//20hs/Hijabers%20Community%20Indonesia%20_%20Blog%20Telur.htm diunduhpada 21 Mei 2013 pukul 21:45 WIBhttp//14fo%20hs/berdirinya-forum-hijabers-fhb.html diunduh pada 13 Januari 2013 pukul21:25 WIBhttp://ikm.kemenperin.go.id/ diunduh pada 14 Januari 2013 pukul 10:15 WIBhttp://id.wikipedia.org/wiki/Jilbab diunduh pada 10 November 2013 pukul 20:37 WIB
ANALISIS ISI SIKAP MAJALAH HIJABELLA MENGENAI FENOMENA PERKEMBANGAN HIJAB S.D., Intan Maylani; Sunarto, Dr; Rakhmad, Wiwid Noor; Ayun, Primada Qurrota
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skripsi ini melihat bagaimana sikap media dalam majalah Hijabella yang ada pada setiap informasi mengenai fenomena perkembangan hijab. Skripsi ini menggunakan tipe penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode analisis isi. Tujuan skripsi ini adalah mendeskripsikan bagaimana sikap majalah Hijabella dan Republika mengenai fenomena perkembangan hijab. Teori yang digunakan adalah teori Agenda Setting sebagai dasar kategorisasi sikap media. Populasi penelitian ini adalah seluruh informasi dalam majalah Hijabella edisi Juli hingga Oktober 2014 dipilih informasi yang memuat tentang hijab menggunakan teknik sampel sembarang. Teknik analisis data menggunakan uji reliabilitas antarkoder.Hasil uji reliabilitas antar koder diperoleh temuan penelitian menunjukan sikap majalah Hijabella, dari 10 informasi menunjukkan adanya sikap media pada majalah Hijabella. Berdasarkan kategorisasi yang meliputi ukuran informasi, halaman penempatan informasi, pengulasan isi, bentuk informasi, data pendukung, cover both side, penulisan judul, pengungkapan isi, penulisan narasumber, penyebutan aribut penggunaan hijab, dan sudut pandang. Jadi, dalam penelitian tentang analisis isi sikap majalah Hijabella mengenai fenomena perkembangan hijab dapat disimpulkan bahwa Hijabella memiliki sikap media yang memihak. Memihak memiliki pengertian bahwa media dalam menampilkan isi informasi atau penyebutan narasumber dengan satu pihak.
REPRESENTASI FIGUR USTAZ/USTAZAH PADA IKLAN TELEVISI Fatimah, Niki Hapsari; Rakhmad, Wiwid Noor; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Representasi Figur Ustaz/Ustazah pada Iklan TelevisiABSTRAKFenomena ustaz/ustazah masuk dalam ranah dunia entertaiment di Indonesiatidaklah menjadi hal yang tabu bahkan sudah menjadi trend. Termasuk keikutsertaanustaz/ustazh sebagai endorser untuk produk-produk komersial. Menunjukanbagaimana representasi figur ustaz/ustazah dalam iklan Larutan Penyegar Cap KakiTiga dan provider Telkomsel, peneliti menggunakan konsep yang dikemukakan olehJohn Fiske dalam buku Television Culture, yaitu tentang The Codes of Television.Setelah melakukan analisis sintagmatik pada level reality dan level representation,peneliti kemudian melakukan analisis secara paradigmatik untuk level ideology.Analisis paradigmatik dilakukan untuk mengetahui makna terdalam dari teks iklanLarutan Penyegar Cap Kaki Tiga dan Telkomsel dengan melihat hubungan eksternalpada suatu tanda dengan tanda lain. Selain itu, analisis paradigmatik juga berfungsiuntuk menunjukkan adanya arti ?kedua? dan realitas lain yang mungkin bersifatabstrak yang ada di balik gagasan-gagasan yang teridentifikasi dalam analisissintagmatik.Setelah melakukan analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik, makadidapat beberapa temuan penelitian, yaitu adanya eksploitasi simbol-simbolkeislaman, di mana figur ustaz/ustazah di jadikan sebagai komoditas, representasiustaz/ustazah sebagai icon dunia konsumsi, serta mitos di balik representasi figurustaz/ustazah pada iklan televisi. Temuan-temuan penelitian yang didapat olehpeneliti menjelaskan bahwa ustaz/ustazah yang ditampilkan di iklan televisi oleh sipembuat iklan bukan lagi sebagai ustaz seperti yang masyarakat kenal sebagaiseorang suri tauladan, seorang yang berilmu dan nasehatnya dituruti banyak orangatau pun penyambung wahyu Tuhan yang diterima nabi, melainkan sebagai iconkonsumsi dan tidak berbeda dengan endorser-endorser lain dari kalangan bintangfilm, penyanyi, dsb.Kata Kunci: Iklan, Representasi, Simbol-simbol keislaman, Ustaz/ustazah, Semiotika.ABSTRACTThe phenomenon ustaz/ustazah entered in the realm of entertainment world inIndonesia is not a taboo even has become a trend. Including participationustaz/ustazah as endorser of commercial products. Researcher use John Fiske?s ideain Television Culture, about The Codes of Television to show how ustaz/ustazahfigure representation on Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga and Telkomsel commercialads. After conducted syntagmatic analysis at the level of reality and level ofrepresentation, researcher then conduct a paradigmatic analysis to the level ofideology. Paradigmatic analysis conducted to know meaning of text in LarutanPenyegar Cap Kaki Tiga and Telkomsel commercial ads within looking at eksternalrelation on a symbol with another. Besides, paradigmatic analysis usefull to show thesecond meaning and another reality that may be abstract behind some ideas whichindentified with sintagmatic analysis.After conducting sintagmatic analysis and paradigmatic analysis, then thereare some research finding, that is Islamic symbol exploitation where ustaz/ustazahfigure used as commodity, ustaz/ustazah representation as communication icon, andthe myth behind ustaz/ustazah figure representation on television ads. Researchfindings which obtained explain that exposed ustaz/ustazah on commercial tv ads byadvertiser is not the ustaz whom people know as role models/knowledgeable personwhose their advice obeyed/connector of God?s revelation which accepeted by theprophet anymore, but as the commercial icon and hasn?t difference from anotherendorsers fo movie stars, singers, ect.Keywords: Ads (advertising), Representation, Islamic symbols, Ustaz/ustazah,SemioticI. PendaguluanSekarang ini banyak sekali iklan di layar televisi yang menawarkan berbagaimacam produk dengan variasi dan kreativitas bermacam-macam. Pada umumnyaiklan televisi menampilkan model iklan wanita yang cantik, atau jika pria yangditampilkan berparas tampan. Seringkali iklan-iklan televisi menggunakan modeliklan yang dikenal oleh masyarakat seperti bintang film, bintang sinetron, penyanyi,peragawati atau peragawan, musisi, pelawak hingga tokoh ustaz/ustazah yangmerupakan simbol keislaman bagi masyarakat Indonesia. Pengiklan dalam hal iniprodusen memang menganggarkan dana untuk promosi dalam bentuk iklan televisidan sesuai kebutuhan dari produknya masing-masing.Popularitas televisi kemudian membuat televisi tidak lagi dipandang sebagaiseperangkat kotak elektronik yang berkemampuan audio visual, tapi lebih dari itu,televisi merupakan seperangkat media transfer nilai, ideologi serta budaya yang saratakan kepentingan dan perebutan pengaruh/kekuasaan. Popularitas juga dirasakan olehustaz/ustazah di ranah pertelevisian dengan memiliki banyak jamaah pada gilirannyamenyeret tokoh masyarakat tersebut untuk ikut terlibat dalam iklan-iklan produkkomersial. Sayangnya, ustaz/ustazah yang ditampilkan di iklan televisi oleh sipembuat iklan bukan lagi sebagai ustaz seperti yang masyarakat kenal sebagaiseorang suri tauladan, seorang yang berilmu dan nasehatnya dituruti banyak orang,penyambung wahyu Tuhan yang diterima nabi, melainkan sebagai icon konsumsi dantidak berbeda dengan endorser-endorser lain dari kalangan bintang film, penyanyi,dsb.Masyarakat di Indonesia sejatinya mengenal ustaz adalah pemuka masyarakat,karena dianggap sebagai orang yang berilmu dan nasehatnya diturut oleh banyakorang. Masyarakat menetapkan siapa yang bakal menjadi 'ustaz' mereka.Ustaz/ustazah yang merupakan simbol keislaman muncul di layar televesi tidak lagihanya berada di balik mimbar untuk berdakwah, melainkan menjadi endorser iklanproduk-produk yang bersifat komersial, seperti iklan untuk produk helm GM, AXIS,Ekstra Joss, Fresh Care yang dibintangi oleh ustaz Jefri Al Buchori (Uje), iklanLarutan Penyegar Cap Kaki Tiga, ?Bintang Toedjoe Masuk Angin? oleh MamahDedeh, serta iklan Telkomsel, oleh ustaz Maulana, dan beberapa iklan produkkomersial lainnya. Kemuculan ustaz/ustazah pada iklan-iklan tersebut bukanlahsebuah kebetulan, melainkan tanda pada media iklan televisi yang bisa dikaji denganperspektif semiotika.Secara teoretis semua teks media termasuk iklan merupakan representasi darirealitas. Namun realitas tersebut bukan realitas yang sesungguhnya, akan tetapirealitas dalam versi si pembuat teks, yakni realitas yang dibentuk oleh pihak-pihakyang terlibat dalam proses mediasi teks. Demikian pun representasi figur paraustaz/ustazah merupakan realitas yang dikemas sesuai kebutuhan si pembuat iklan.Akan banyak arti ?kedua? yang muncul dari tanda berupa representasi ustaz/ustazahyang ada pada iklan Telkomsel versi Ustaz Maulana, serta Larutan Penyegar CapKaki Tiga oleh Mamah Dedeh. Pada penelitian ini, peneliti akan membahas masalahseperti yang telah dirumuskan yaitu, bagaimana figur ustaz/ustazah sebagai simbolkeislaman direpresentasikan pada iklan televisi?Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap makna ?kedua? atau maknakonotatif dari representasi ustaz/ustazah sebagai simbol keislaman di dalam iklantelevisi.II. Kerangka Teori dan Metode Penelitian.Mengungkap makna di balik repesentasi ustaz/ustazah dalam iklan televisiartinya mengkaji tentang tanda. Ilmu tentang tanda yang mampu menemukan maknatersembunyi di balik sebuah teks seperti pada iklan yang melibatkan ustaz/ustazahadalah bidang semiotika. Semiotika adalah cabang ilmu yang berhubungan denganpengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistemtanda dan proses yang berlaku bagi pengguna tanda (Zoest, 1993: 1). Semiotika yangmengulas masalah-masalah, katakanlah, tanda tanpa disengaja dan konotasi dikenaldengan semiotika konotatif. Seperti munculnya figur ustaz/ustazah pada iklan televisitentu saja tidak kemudian diartikan sebagai siar agama seperti halnya ketikaustaz/ustazah tersebut berdiri di balik mimbar. Ada arti ?kedua? di balik representasiustaz/ustazah sebagai simbol keislamaan.Memaknai representasi melibatkan faktor-faktor yang kompleks. Representasididefinisikan sebagai penggunaan ?tanda-tanda? (gambar, suara, dan sebagainya)untuk menampilkan ulang sesuatu yang diserap, diindrakan, dibayangkan, ataudirasakan dalam bentuk fisik. Representasi bergantung pada tanda dan citra yangsudah ada dan dipahami secara kultural, dalam pemahaman bahasa dan penandaanyang bermacam-macam atau sistem tekstual secara timbal balik (Hartley, 2004: 265).Kemunculan Ustaz Maulana dan Mamah Dedeh pada iklan televisi misalnya,merupakan bentuk representasi, yakni mewakili suatu fakta figur ustaz/ustazah yangdikenal masyarakat sebagai pemuka agama. Melalui fungsi tanda ?mewakili? kitamempelajari realitas.Agama memainkan peranan yang sangat penting di dalam mempertahankanikatan anatara individu dan kelompok yang lebih luas, baik sebagai dasar persekutuanmaupun sebagai sarana untuk mengungkapkan nilai-nilai yang di hayati bersama(Raho, 2013: 77). Ilmu sosiologipun memiliki pendekatan teoritis untuk mempelajariAgama di tengah masyarakat. Sosiolog Prancis Emile Durkheim mengidentifikasisalah satu fungsi utama agama untuk operasi masyarakat, adalah membangun kohesisosial. Agama menyatukan orang melalui simbolisme bersama, nilai-nilai, dan norma.Pemikiran keagamaan dan ritual mendirikan aturan fair play, mengatur kehidupansosial kita.Simbol merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam kehidupanberagama. Hubungan yang suci tidak dapat dilakukan tanpa simbol-simbol. Simbolsimbolkeagamaan tersebut membangkitkan perasaan keterikatan dan kesatuan padaanggota-anggota pemeluk agama yang sama. Memiliki simbol yang sama merupakancara efektif untuk semakin memperkuat rsa persatuan di dalam kelompok pemeluk.Dalam budaya dominan yang telah mapan di masyarakat. Indonesia yangmayoritas beragama islam, ustaz/ustazah sebagai simbol agama merupakan figuryang memiliki pengaruh terhadap pengikutnya. Tokoh agama seperti misalnyaustaz/ustazah adalah figur yang dijadikan panutan dan memiliki pengaruh pada parajamaah, ummat, atau pengikutnya dan dianggap memiliki kharisma. Kharismamerupakan suatu kualitas tertentu dalam kepribadian seseorang dengan mana diadibedakan dari orang biasa dan diperlakukan sebagai seseorang yang memilikanugrah kekuasaan adikodrati, adimunusiawi, atau setidaknya kekuatan/ kualitas yangsangat luar biasa.Ustaz/ustazah di mana istilah tersebut merupakan salah satu status yang ada ditengah masyarakat dan memiliki peranan. Sosiologi menggunakan duaistilah, status dan peran, untuk menggambarkan bentuk dasar interaksi dalammasyarakat (Kimmel & Aronson, 2010: 76). Status Ustaz/ustazah merupakanpencapaian status yang dianggap begitu penting sehingga membayangi, mendominasidan mengendalikan posisi di masyarakat serta menjadi status master.Peran sosial adalah set perilaku yang diharapkan dari seseorang yang menempatistatus tertentu. Peran sebagai tokoh masyarakat dalam hal ini ustaz/ustazah, tentunyamerupakan representasi dari adanya sifat-sifat tanggung jawab, mampumenyampaikan pesan-pesan agama.Iklan adalah sebuah message, artinya bahwa iklan mengandung suatu sumberyang mengeluarkannya, yaitu perusahaan yang menghasilkan produk yangdiluncurkan dengan semua keunggulannya, suatu titik resepsi-penerimaan, yaitupublik, dan suatu saluran transmisi, yang disebut media (Barthes, 2007: 281).Untuk mengkaji iklan dalam perspektif semiotika, bisa dikaji lewat sistemtanda dalam iklan. Iklan menggunakan sistem tanda yang terdiri atas lambang, baikyang berupa verbal maupun yang berupa ikon. Iklan juga menggunakan tiruan indeks,terutama dalam iklan radio, televisi, dan film.Menunjukkan bagaimana representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi,peneliti menggunakan konsep yang dikemukakan oleh John Fiske dalam bukuTelevision Culture, yaitu tentang The Codes of Television. John Fiske menyatakanbahwa untuk menganalisis iklan di media televisi dibagi menjadi tiga level, yaitulevel reality, level representation dan level ideology. Pada level reality kode-kodeyang diamati dapat berupa penampilan, pakaian, riasan, lingkungan, gaya bicara, danekspresi. Sedangkan pada level kedua, yaitu representation meliputi kamera,pencahayaan, musik dan suara, penarasian, dialog, karakter, dan pemeranan. Danpada level terakhir, level ideology yaitu berusaha menampilkan kode-kode yangtersembunyi dalam sebuah gambar seperti patriarki, kelas, individu, feminisme danjuga kode-kode di balik representasi figur ustaz/ustazah pada iklan produk komersialdi televisi (Fiske, 2001: 4-5).Tiga level tersebut diurai dalam dua bagian, yakni analisis sitagmatik danparadigmatik. Pada analisis sintagmatik menjelaskan tanda-tanda atau makna-maknayang muncul dalam shot atau adegan dari berbagai aspek teknis yang merujuk padarepresentasi figur ustaz/ustaz pada iklan televisi pada level reality dan levelrepresentation. Level ideology akan diuraikan dengan analisis paradigmatik, dimanaanalisis paradigmatik berusaha mengetahui makna terdalam dari sebuah teks denganmelihat hubungan eksternal pada suatu tanda dengan tanda lain. Analisisparadigmatic berguna dalam penelitian representasi, dan khususnya untukmemastikan tanda apa yang telah dipilih pada pengeluaran yang lain (Hartley, 2004:221).III. PembahasanAnalisis sintagmatik menguraikan tanda-tanda atau makna-makna yangmuncul dalam shot-shot dan adegan-adegan yang terjalin dari berbagai kombinasiaspek teknis yang merujuk pada representasi figur ustaz/ustazah pada iklan LarutanPenyegar Cap Kaki Tiga yang dibintangi oleh Mamah Dedeh dan juga iklanTelkomsel yang dibintangi oleh Ustaz Maulana. Secara sintagmatik, iklan-iklantersebut akan dianalisis sebatas tanda-tanda yang muncul dari hal-hal teknis produksiiklan.Kode sosial dalam sebuah iklan televisi terlihat jelas dan nyata pada level ini,sehingga pemirsa bisa lebih dekat dengan unsur-unsur yang ada dalam iklan. Sepertisaat pemirsa melihat penampilan yang ditunjukkan oleh para endorser iklan.Penampilan yang ditambah dengan kostum dan riasan yang digunakan dan dipakaioleh para pemain akan memperjelas karakter seseorang dalam sebuah iklan.Lingkungan yang menjadi latar dalam iklan juga memberikan pengaruh yang sangatpenting dalam iklan. Bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh para pemain melalui mimikmuka dan ekspresi dapat membuat para pemirsa lebih memahami perasaan sangtokoh.Hal-hal dalam level reality telah diencode secara elektronik oleh kode-kodeteknis (technical code), sedangkan dalam level ke-2, yaitu level representation.Seperti halnya dalam produksi film, yang penting dalam sebuah iklan adalah gambardan suara, tanpa gambar dan suara yang mendukung maka tidak akan tercipta sebuahiklan yang bagus. Oleh sebab itu, untuk mendukung terciptanya gambar dan musikyang bagus terdapat beberapa aspek penting yang dibutuhkan. Aspek-aspek yangterdapat dalam level representation sebuah iklan bisa merepresentasikan pesan atauide yang ingin diutarakan oleh sutradaranya.Misalnya dalam level ini terdapat aspek kamera. Pengambilan gambar olehkamera akan membawa pemirsa kepada gambar-gambar yang dapatmerepresentasikan pesan dari sebuah iklan. Sebuah gambar dengan menggunakanteknik-tekniknya dapat membawa pemirsa mengenal tokoh-tokoh, tempat dansuasana dalam sebuah iklan. Dengan didukung pencahayaan yang baik, maka akanmenghasilkan gambar yang baik. Pencahayaan bertujuan untuk lebih memperjelasmaksud dari sebuah gambar. Demikian juga pada musik yang dapat mendukungterciptanya suasana dalam iklan. Dialog dan konflik juga menjadi aspek pentingdalam sebuah iklan. Dengan adanya konflik dan dialog yang menarik, maka akantercipta jalan cerita yang juga menarik.Secara garis besar pada level reality Mamah Dedeh dan Ustaz Maulana ditampilkan sesuai dengan statusnya di masyarakat, yakni dengan busanamuslim/muslimah sesuai dengan identitas agama islam, gaya bicara yang santun danpenuh ajakan, setting dan suasana yang akrab dengan statusnya sebagai ustaz/ustazahseperti tanah suci Mekah, dsb. Tetapi, masuk pada level representation aspek-aspekdi dalamnya mengerucut pada kepentingan si pembuat iklan. Seperti, pengambilangambar yang didominasi gambar produk komersial, dialog yang mengarah pada pesanpromosi produk, dsb.Berikutnya, pada analisis paradigmatik, berusaha mengetahui makna terdalamdari teks iklan Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga dan Telkomsel dengan melihathubungan eksternal pada suatu tanda dengan tanda lain. Selain itu, analisisparadigmatik juga berfungsi untuk menunjukkan adanya arti ?kedua? dan realitas lainyang mungkin bersifat abstrak yang ada di balik gagasan-gagasan yang teridentifikasidalam analisis sintagmatik.Setelah melakukan analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik darirepresentasi figur ustaz/ustazah pada kedua iklan, maka didapat beberapa temuanpenelitian, yaitu adanya eksploitasi simbol-simbol keIslaman, di mana figurustaz/ustazah, tempat peribadatan, busana yang merupakan identitasmuslim/muslimah di jadikan sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan untukmendapat keuntungan. Kemudian, ustaz/ustazah yang muncul dalam iklan televisitidak lain adalah penanda dan memiliki kesamaan dari dunia konsumsi itu sendiri.Ustaz Maulana dan Mamah Dedeh hadir dalam iklan-iklan tersebut hanyalahmewakili dunia pemakaian atau penggunaan produk-produk yang mereka iklankan,dengan kata lain representasi ustaz/ustazah pada iklan televisi hanya sebagai icondunia konsumsi. Temuan berikuntya adalah adanya mitos yang menganggap bahwasemua pesan yang disampaikan ustaz/ustazah adalah benar dan pantas dijadikanpanutan di balik representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi.IV. KesimpulanTeori semiotika konotatif milik Barthes membawa peneliti menemukan arti?kedua? di dalam iklan Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga dan Telkomsel, dimanaMamah Dedeh dan ustaz Maulana yang merupakan figur ustaz/ustazah hadir dalamiklan televisi justru bukan sebagai penyampai pesan agama yang melainkanmenyampaikan pesan-pesan untuk mempromosikan produk komersial.Representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi untuk produk komersialpada akhirnya menggeser peran ustaz/ustazah di masyarakat. Jika peran merupakanset perilaku yang diharapkan pada seseorang yang memiliki status, dalam hal iniustaz/ustazah dengan perannya menyampaikan pesan Tuhan, maka representasiustaz/ustazah pada iklan televisi untuk produk komersial pesan ustaz/ustazah adalahmenyampaikan pesan promosi produk komersial yang diiklankan.Agama menurut Email Durkheim diidentifikasikan sebagai pembangun kohesimasyarakat salah satunya melalui simbol. Ustaz/ustazah merupakan salah satu bentuksimbol agama Islam dimana figur tersebut juga menjadi alat untuk membangunkohesi di masyarakat. Teori tersebut kemudian digunakan pembuat iklan untukmenggiring jamaah dari ustaz/ustazah yang memiliki kohesi tersebut untukmenggunakan produk yang sama atau yang digunakan oleh panutannya seperti yangdirepresentasikan dalam iklan.Representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi yang diperlihatkan peneliti,serta temuan-temuan penelitian yang didapat, diharapkan mampu membuat pembacasebagai penikmat televisi untuk lebih berfikir kritis ketika akan memaknai pesanpesaniklan televisi yang kenyataannya sarat akan kepentingan.Daftar PustakaBarthes, Roland. 2007. Petualang Semiologi. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.Fiske, J. 2001. Television Culture. London: Methuen & Co. Ltd.Hartley, John. 2004. Communication, Cultural, & Media Studies.Yogjakarta:Jalasutra.Kimmel, Michael. Amy Aronson. 2010. Sociology now: the essentials (2nd ed.).Boston: Allyn & Bacon.Stout, Daniel A. 2006. Encyclopedia of Religion, Communication, and Media.London and New York: Routledge.Zoest, Art Van. 1993. Semiotika. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.
PEMAKNAAN JILBAB KREATIF BAGI PEREMPUAN MUSLIM SEBAGAI IDENTITAS DIRI Hanifah, Mar'atul; Rakhmad, Wiwid Noor; Suprihartini, Taufik; Lestari, Sri Budi
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peminat menggunakan jilbab meningkat setelah model-model jilbab kreatif mulai hadirmenghiasi ranah fashion. Tidak dapat dipungkiri, perkembangan jilbab sebagai trend fashiontelah membuat sebagian perempuan muslim lainnya menjadi dapat berkreasi mengenai modeljilbab seperti apa yang ingin dikenakannya. Karena jilbab yang dahulu dikenal denganmodelnya yang polosan dan ukuran yang besar atau lebar, telah berubah menjadi jilbab yangserba modern dan dinamis. Hal ini bergantung pada pengetahuan dan pengalaman perempuanmuslim dalam memaknai jilbab. Penampilan masih terus berperan penting dalammencerminkan identitas pemakainya, serta berdampak pada orang lain dalam menentukansikap terhadap orang tersebut. Meskipun sebagian orang tidak memperdulikannya, dan hanyamengubah penampilan sesuai tren yang sedang berkembang.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemaknaan mengenai jilbab yangdipahami oleh perempuan muslim sebagai sarana mempresentasikan diri. Penelitian inimerupakan penelitian kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Sedangkan teknik analisis datadilakukan berdasarkan model analisis data fenomenologi dari Von Eckartsberg. Penelitimenggunakan teori dari Erving Goffman tentang presentasi diri yang menjelaskan beberapahal seperti busana yang dipakai, tempat tinggal, cara berjalan, berbicara, dan lain-laindigunakan untuk presentasi diri. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakanindepth interview kepada lima informan yang telah dipilih oleh peneliti, yakni perempuanmuslim yang menggunakan jilbab syar?i, menggunakan jilbab kreatif, dan belummenggunakan jilbab.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan muslim memaknai jilbab kreatifsebagai pakaian yang modis, elegan, dan menjadikan penggunanya terlihat lebih cantik.Meski alasan mereka menggunakan jilbab adalah karena jilbab merupakan pakaian wajibbagi perempuan muslim, terkadang secara sadar ataupun tidak, jilbab kreatif tersebutmengabaikan beberapa aturan berjilbab dalam Islam dan lebih terpusat pada perkembangantren. Meski demikian, adanya variasi model, bahan, dan aksesoris jilbab membuat perempuanmuslim tertarik untuk mengenakannya.Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa kehadiran trend fashionjilbab kreatif menimbulkan bermacam makna mengenai jilbab. Namun, jilbab kreatif lebihmemperhatikan aspek kecantikan dan tren yang sedang berkembang. Jilbab kreatif membuatbeberapa perempuan muslim merasa lebih nyaman melaksanakan kewajiban berjilbab dengantetap terlihat cantik dan modern.
Co-Authors Adi Nugroho Agus Naryoso Alifati Hanifah Annisya Winarni Putri, Annisya Winarni Anugrah Beta Familio, Anugrah Beta Aprilla Agung Yunarto, Aprilla Agung Ayu Saraswati Ayu Sri Purnama, Ayu Sri Bhaswarani Oktadianisty Chykla Azalika Destika Fajarsylva Anggraini Devi Yuhanita Qorina, Devi Yuhanita Diyan Krissetyoningrum Djoko Setyabudi Dody Pradana Eryanto, Dody Pradana DR Sunarto Dr. Sunarto Dwi Purba ningrum, Dwi Purba Dwi Ratna Setyorini Endang Retnowati Eva Wijiyanti Hidayat, Eva Wijiyanti Fitri Nur Hidayat, Fitri Nur Fitriana Nur Indah S Hanifah, Mar'atul Hapsari Dwiningtyas Ilham Futaki Imam Dwi Nugroho Indra Prayoga Intan Mashitasari Intan Maylani S.D., Intan Maylani Joyo NS Gono M Bayu Widagdo M Yulianto MERCYANA MAJESTY YULION Much. Yulianto Muhammad Rofiuddin Neazar Astina Prabawani Niki Hapsari Fatimah Nurriyatul Lailiyah M.I.Kom, Nurriyatul Lailiyah Paskah M Pakpahan, Paskah M Primada Qurrota Ayun, Primada Qurrota Putri Ramadhini R. Sigit Pandhu Kusumawardana Rizki Kurnia Yuniasti Rwanda Zwazdianza Azwar Selo Pangestu Imawan, Selo Pangestu Shintaloka Pradita Sicca, Shintaloka Pradita Silvia Kartika C Dewi Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tandiyo Pradekso Taufik Suprihartini Taufik Suprihatini Teresia Kinta Wuryandini, Teresia Kinta Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Ulya Saida Velina Prismayanti Susanto Vicho Whisnurangga, Vicho Vinna Dewi Haryanti Wening Jiwandaru Pradanari Yuanita Putri Melati, Yuanita Putri Zefa Alinda Fitria