Tri Ramadhani
Peneliti Balai Litbang P2B2 Banjarnegara

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

UJI LAPANGAN LO (LETHAL OVITRAP) SKALA PERUMAHAN TERHADAP DAYA TETAS TELUR AEDES AEGEPTY Ramadhani, Tri; Trisnawati, Ulfa Farida
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 10, No 2: JUNI 2014
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.568 KB) | DOI: 10.30597/mkmi.v10i2.493

Abstract

Uji lapangan skala perumahan dalam penggunaan Lethal ovitrap (LO) sebagai salah satu upaya pengendalian populasi nyamuk Aedes aegyti telah dilakukan di Kabupaten Banyumas. LO dirancang untuk membunuh nyamuk betina Aedes aegypti yang siap untuk bertelur, setelah bersentuhan dengan ovistrip berinsektisida cypermetrin dosis 12,5?g ai/strip. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hasil penerapan LO skala perumahan terhadap daya tetas telur Aedes aegypti. Penelitian ini adalah eksperimen semu dengan rancangan post test only control group. Ovitrap terbuat dari pralon yang dicat hitam dengan ukuran tinggi 10 cm dimeter 7,5 cm, diisi air bersih sebanyak 1/3 isinya. Ovitrap diberi atraktan air rendaman jerami 10% dan ovistrip berupa kertas saring berukuran ± 4 cm x 25 cm dipasang di bagian dalam sebagai tempat perangkap telur. Lokasi penelitian adalah Perumahan Ledug sebagai daerah intervensi dan Perumahan Bojongsari sebagai kontrol, masing-masing sebanyak 100 rumah (setiap rumah 6 ovitrap, 3 dipasang di luar rumah dan 3 dipasang di dalam rumah). Survei telur dilakukan setiap seminggu sekali selama 3 bulan (12 kali pengamatan). Uji normalitas data dilakukan dengan one sample Kolmogorrov-Smirnov sedangkan uji beda dengan Mann-Whitney pada taraf signifikansi 0,05. Daerah dengan penggunaan LO diperoleh Indeks ovitrap sebesar 9,6%, jumlah telur Aedes aegypti sebanyak 3.974, sedangkan di daerah kontrol OI=3,4% dan jumlah telur 28.799. Daya tetas telur sebesar 3,3% pada daerah dengan LO sedangkan daerah kontrol 20,6%. Penggunaan LO dengan insektisida cypermethrin dosis 12,5?g ai/strip dapat menurunkan daya tetas telur nyamuk Aedes aegypti sebesar 16,7.
Filariasis Limfatik di Kelurahan Pabean Kota Pekalongan Ramadhani, Tri
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 3 No. 2 Oktober 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.966 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v3i2.229

Abstract

Filariasis limfatik masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya di Kota Pekalongan. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya angka mikrofilaria dan perluasan daerah dengan kasus filariasis limfatik.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui situasi filariasis limfatik diKelurahan Pabean Kota Pekalongan. Penelitian ini meliputi penduduk dan agent, dalam periode sekitar enam bulan (Juli-Desember 2007) dengan disain studi cross sectional. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan klinis, survei darah jari dan identifikasi parasit penyebab filariasis limfatik. Hasil penelitian menunjukkan angka mikrofilaria (3,4) angka kesakitan akut filaria (0,4 %) yang tinggi, tetapi angka kesakitan kronis filaria rendah (0,00 %). Parasit penyebabfilariasis di Kelurahan Pabean adalah jenis Wuchereria bancrofti dengan kepadatan rerata mikrofilaria yang tinggi. Pengendalian filariasis limfatik di Kelurahan Pabean perlu dilakukan dengan pengobatan massal dan perubahan perilaku masyarakat.Kata kunci : Filariasis limfatik, kelurahan pabean, mikrofilaria.AbstractLymphatic filariasis is still being a public health problem in Indonesia, especially in Pekalongan district. This problem marked by the increasing rate of microfilaria and areas with lymphatic filariasis. The aim of this study is to know the epidemiologic situation of lymphatic filariasis in Pabean village Pekalongan district. The research was a cross-sectional design and covered host and agent within the period of July-Desember 2007. Data were collected through clinical survey of acute and chronic filariasis symptoms, blood survey and identification of lymphatic filariasis parasite. The result showed that microfilaremia rate was 3,4%, acute disease rate (ADR) 0,4 % and the chronic disease rate (CDR) 0,00 %. The average of microfilaria density in 1 ml blood was 465,63. Based onmicrofilaremia identification in the blood, the lymphatic filariasis agent in Pabean village is Wuchereria bancrofti type. Lymphatic filariasis control in Pabean village need to focused on Mass Drug Administration (MDA) and community behavior for healthy life.Key words : Lymphatic filariasis, pabean village, microfilaria.
Reservoir dan Kasus Leptospirosis di Wilayah Kejadian Luar Biasa Ramadhani, Tri; Yunianto, Bambang
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 4 November 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.426 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v6i4.50

Abstract

Kabupaten Kulonprogo adalah salah satu daerah dengan masalah leptospirosis penyakit zoonosis yang dapat menginfeksi spesies hewan dan manusia. Studi ini bertujuan untuk mengetahui reservoir dan distribusi kasus leptospirosis pascakejadian luar biasa di Kabupaten Kulonprogo. Metode yang digunakan adalah inkriminasi bakteri Leptospira sp. pada tikus dan penegakan diagnosis pada manusia dengan rapid test dan MAT. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer dengan melakukan screening di Rumah Sakit dan Puskesmas. Penelitian observasional ini menggunakan rancangan studi cross sectional dengan metode analisis data secara distribusi frekuensi dalam bentuk gambar, grafik, dan tabel. Penelitian menemukan jumlah penderita leptospirosis di Kabupaten Kulonprogo tahun 2011 adalah 273 kasus dengan angka fatalitas 6,59%. Kasus leptospirosis paling banyak terjadi di Kecamatan Nanggulan (20,5%), pada laki-laki (76,6%) dan kelompok umur 40 – 60 tahun (43,2%). Uji serologi (MAT) penderita suspek leptospirosis menemukan 41(22,5%) penderita positif mengandung bakteri Leptospira sp. Serovar yang paling banyak ditemukan adalah Harjo, Semaranga, Icterohaemorhagie, Bataviae, Patoc dengan titer 1 : 40 ~ 1 : 1.600. Spesies tikus yang menjadi reservoir Leptospira sp. yang ditemukan meliputi Rattus tanezumi, Rattus tiomanicus, Mus musculus, N fluvescens, juga ditemukan insektivora jenis Suncus murinus. Trap success ditemukan sekitar 6,9% di luar rumah dan sekitar 5,5% di dalam rumah.Kata kunci: Kejadian luar biasa, leptospirosis, reservoirAbstract Kulonprogo regency is one region with leptopsirosis problem. This study aims to determine the reservoir and the case distribution of leptospirosis outbreaks in the Kulonprogo regency post. The method used is inkriminasi Leptospira sp. bacteria in mice and human with rapid test and MAT diagnosis. Leptospirosis case data taken from secondary data and primary data by conducting screening at the hospital and puskesmas. Observational research using cross-sectional study design. Data analyzing was performed using frequency distribution with pictures, graphics and tables. The results showed leptospirosis cases in the Kulonprogo regency in 2011 as much 273 cases with CFR 6.59%. The biggest number of distribution of leptospirosis cases were in District Nanggulan (20.5%), in men (76.6%), and 40 – 60 years age group (43.2%). Serological test (MAT) patients with suspected leptospirosis from 182 serum showed that 41 (22.5%) patients leptospires bacteria positive. Serovar most commonly found in patients with leptospirosis is Harjo, Semaranga, Icterohaemorhagie, Bataviae, Patoc with a titer of 1: 40 ~ 1: 1600. Species of mice that become Leptospira sp. reservoir found were Rattus tanezumi, Tiomanicus rattus, Mus musculus, N fluvescens, insectivores Suncus murinus type was also found. Trap success by 6.9% outside home and 5.5% in house.Keywords: Outbreak, leptospirosis, reservoir
Karakteristik Individu dan Kondisi Lingkungan Pemukiman di Daerah Endemis Leptospirosis di Kota Semarang Ramadhani, Tri; Astuti, Novia Tri
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 3 Sep (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.22 KB)

Abstract

Leptospirosis adalah penyakit demam akut yang dapat menginfeksi manusia dan hewan (zoonosis) dandisebabkan oleh bakteri leptospira. Kota Semarang merupakan salah satu daerah endemis leptospirosisdengan insiden pada tahun 2009 sebanyak 13,27/100.000 penduduk dan kematian 3,5%. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui karakteristik individu penderita leptospirosis dan hubungannya denganlingkungan pemukiman. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan cross sectional.Populasi adalah semua pengunjung Puskesmas, sedangkan sampel adalah pengunjung Puskesmasdengan gejala klinis leptospirosis (terutama: demam dengan suhu tubuh > 37oC) atau demam disertaisakit kepala, nyeri otot, konjungtivitis dan ruam). Data lingkungan pemukiman diperoleh denganmelakukan pengamatan sedangkan karakteristik individu kasus leptospirosis dengan wawancara, datadianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan karakteristikresponden sebagian besar kelompok usia 10-19 tahun (38,1%), jenis kelamin laki-laki (56,2%), dantingkat pendidikan tidak tamat SD (30,5%). Kasus leptospirosis lebih banyak terjadi pada laki-laki,kelompok usia 0-19 tahun dengan (CFR=3,6). Kondisi lingkungan yang berhubungan dengan kejadianleptospirosis meliputi dinding dapur tidak permanen, tidak ada langit-langit, tempat sampah terbukadan kondisi rumah yang kotor. Upaya pencegahan penularan leptospirosis dapat dilakukan melaluikebersihan lingkungan, penanganan sampah yang baik sehingga tidak menjadi tempat bersarang tikus.
Filariasis Limfatik di Kelurahan Pabean Kota Pekalongan Ramadhani, Tri
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 3 No. 2 Oktober 2008
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.966 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v3i2.229

Abstract

Filariasis limfatik masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya di Kota Pekalongan. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya angka mikrofilaria dan perluasan daerah dengan kasus filariasis limfatik.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui situasi filariasis limfatik diKelurahan Pabean Kota Pekalongan. Penelitian ini meliputi penduduk dan agent, dalam periode sekitar enam bulan (Juli-Desember 2007) dengan disain studi cross sectional. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan klinis, survei darah jari dan identifikasi parasit penyebab filariasis limfatik. Hasil penelitian menunjukkan angka mikrofilaria (3,4) angka kesakitan akut filaria (0,4 %) yang tinggi, tetapi angka kesakitan kronis filaria rendah (0,00 %). Parasit penyebabfilariasis di Kelurahan Pabean adalah jenis Wuchereria bancrofti dengan kepadatan rerata mikrofilaria yang tinggi. Pengendalian filariasis limfatik di Kelurahan Pabean perlu dilakukan dengan pengobatan massal dan perubahan perilaku masyarakat.Kata kunci : Filariasis limfatik, kelurahan pabean, mikrofilaria.AbstractLymphatic filariasis is still being a public health problem in Indonesia, especially in Pekalongan district. This problem marked by the increasing rate of microfilaria and areas with lymphatic filariasis. The aim of this study is to know the epidemiologic situation of lymphatic filariasis in Pabean village Pekalongan district. The research was a cross-sectional design and covered host and agent within the period of July-Desember 2007. Data were collected through clinical survey of acute and chronic filariasis symptoms, blood survey and identification of lymphatic filariasis parasite. The result showed that microfilaremia rate was 3,4%, acute disease rate (ADR) 0,4 % and the chronic disease rate (CDR) 0,00 %. The average of microfilaria density in 1 ml blood was 465,63. Based onmicrofilaremia identification in the blood, the lymphatic filariasis agent in Pabean village is Wuchereria bancrofti type. Lymphatic filariasis control in Pabean village need to focused on Mass Drug Administration (MDA) and community behavior for healthy life.Key words : Lymphatic filariasis, pabean village, microfilaria.
TRANSMISI STRAIN WUCHERERIA BANCROFTI PERIODIK NOKTURNAL OLEH CULEX QUINQUEFASCIATUS DI KOTA PEKALONGAN Ramadhani, Tri; Hadi, Upik Kesumawati; Soviana, Susi; Irawati, Zubaidah
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 7 No. 2 (2019): Juli 2019
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.455 KB) | DOI: 10.29244/avi.7.2.1-8

Abstract

Wuchereria bancrofti dikenal sebagai penyebab filariasis limfatik di Kota Pekalongan. Kegiatan ini dilakukan untuk mencari upaya dalam pengendalian penularan filariasis limfatik yang lebih efektif dan efisien. Tujuan penelitian untuk mendiskripsikan perilaku mikrofilaria Wuchereria bancrofti yang ditularkan oleh Culex quinquefasciatus. Uji periodisitas dilakukan pada enam orang relawan yang positif mengandung mikrofilaria hasil survei darah. Pengambilan darah dilakukan setiap dua jam sekali selama 24 jam (12 kali pengamatan). Uji periodisitas cacing filaria menggunakan formula Aikat dan Das . Hasil survei darah menunjukkan dari 500 sampel darah sebanyak 17 orang positif mikrofilaria (mf rate = 3,4%). Sebagian besar mikrofilaria muncul antara pukul 22.6'36" sampai 03.56'24" yang menggambarkan periodisitas mikrofilaria Wuchereria bancrofti yang nokturnal. Kasus filariasis limfatik memiliki gelombang yang harmonik atau sirkardian dengan indeks periodisitas lebih dari 100%. Hasil penelitian ini akan sangat membantu dalam mengevaluasi dan memantau program pengobatan massal yang sedang berjalan untuk eliminasi filarisis limfatik di Kota Pekalongan.
TABEL HIDUP NYAMUK VEKTOR FILARIASIS LIMFATIK CULEX QUINQUEFASCIATUS (DIPTERA: CULICIDAE) DI LABORATORIUM Ramadhani, Tri; Yuliani, Vina; Hadi, Upik Kesumawati; Soviana, Susi; Irawati, Zubaidah
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 18, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Master of Environmental Health Study Program, Faculry of Public Health, Faculty of Public

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.172 KB) | DOI: 10.14710/jkli.18.2.73-80

Abstract

Latar belakang: Kelangsungan hidup nyamuk merupakan aspek yang penting dalam penularan penyakit tular vektor. Culex quinquefasciatus merupakan vektor filariasis limfatik yang disebabkan oleh wuchereria bancrofti. Pengetahuan kehidupan nyamuk berperan penting dalam keberhasilan program pengendalian vektor. Tujuan penelitian ini mendiskripsikan tabel hidup nyamuk Cx. quinquefasciatus di laboratorium.Metode: Penelitian diawali dengan koleksi larva Cx. quinquefasciatus di  Kota Pekalongan, kemudian diidentifikasi dan kolonisasi dalam kondisi laboratorium. Parameter yang diukur meliputi masa inkubasi, ekslosi, eksdisis, ketahanan hidup, laju reproduksi, waktu generasi dan laju pertumbuhan intrinsik.  Hasil: Cx. quinquefasciatus mempunyai siklus hidup 12.5 hari. Umur telur, larva, dan pupa masing-masing adalah 2.07; 10.2; dan  2.25 hari. Nyamuk jantan mempunyai ketahanan hidup yang lebih pendek dibandingkan betina. Laju reproduksi  bersih (Ro) sebesar 196.75, laju pertumbuhan intrinsik 0.35  dan waktu generasi (T) 14.91 hari.Simpulan: Pertumbuhan populasi Cx. quinquefasciatus  dapat diatur dan dikendalikan oleh kelulusan hidup dan mortalitas. ABSTRACTTitle: The Live Table of Vector Lymphatic Filariasis Culex quinquefasciatus (Diptera: Culicidae) in the LaboratoryBackground: The survival of a mosquito is an important aspect in the transmission of vector borne disease. Culex quinquefasciatus, which is a vector of lymphatic filariasis caused by wuchereria bancrofti. The knowledge of mosquito life is important in providing the foundation for the success of the vector control program. The research  aim to describe the life table Cx. quinquefasciatus in the laboratoryMethods:. This study was originated from the collecting larve  of Cx. quinquefasciatus from Pekalongan City, which were then identified and colonized under laboratory conditions. Parameters measured include the incubation period, ekslosi, eksdisis, survival rate, reproduction rate, and generation time.Results:The results showed that Cx. quinquefasciatus has a 12.5 day life cycle. Egg, larva, and pupa respectively were 2.07; 10.2; and 2.25 days. The males have a shorter survival period compared to  the  females. The net  reproductive  rate  (Ro)  was  196.75;  the  intrinsic  growth  rate  (rm)  was  0.35  and  the average generation time (T) was 14.91 days.Conclusion : The population growth of Culex quinquefasciatus can be regulated and controlled by life graduation and mortality 
Reservoir dan Kasus Leptospirosis di Wilayah Kejadian Luar Biasa Ramadhani, Tri; Yunianto, Bambang
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 4 November 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.426 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v6i4.50

Abstract

Kabupaten Kulonprogo adalah salah satu daerah dengan masalah leptospirosis penyakit zoonosis yang dapat menginfeksi spesies hewan dan manusia. Studi ini bertujuan untuk mengetahui reservoir dan distribusi kasus leptospirosis pascakejadian luar biasa di Kabupaten Kulonprogo. Metode yang digunakan adalah inkriminasi bakteri Leptospira sp. pada tikus dan penegakan diagnosis pada manusia dengan rapid test dan MAT. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer dengan melakukan screening di Rumah Sakit dan Puskesmas. Penelitian observasional ini menggunakan rancangan studi cross sectional dengan metode analisis data secara distribusi frekuensi dalam bentuk gambar, grafik, dan tabel. Penelitian menemukan jumlah penderita leptospirosis di Kabupaten Kulonprogo tahun 2011 adalah 273 kasus dengan angka fatalitas 6,59%. Kasus leptospirosis paling banyak terjadi di Kecamatan Nanggulan (20,5%), pada laki-laki (76,6%) dan kelompok umur 40 ? 60 tahun (43,2%). Uji serologi (MAT) penderita suspek leptospirosis menemukan 41(22,5%) penderita positif mengandung bakteri Leptospira sp. Serovar yang paling banyak ditemukan adalah Harjo, Semaranga, Icterohaemorhagie, Bataviae, Patoc dengan titer 1 : 40 ~ 1 : 1.600. Spesies tikus yang menjadi reservoir Leptospira sp. yang ditemukan meliputi Rattus tanezumi, Rattus tiomanicus, Mus musculus, N fluvescens, juga ditemukan insektivora jenis Suncus murinus. Trap success ditemukan sekitar 6,9% di luar rumah dan sekitar 5,5% di dalam rumah.Kata kunci: Kejadian luar biasa, leptospirosis, reservoirAbstract Kulonprogo regency is one region with leptopsirosis problem. This study aims to determine the reservoir and the case distribution of leptospirosis outbreaks in the Kulonprogo regency post. The method used is inkriminasi Leptospira sp. bacteria in mice and human with rapid test and MAT diagnosis. Leptospirosis case data taken from secondary data and primary data by conducting screening at the hospital and puskesmas. Observational research using cross-sectional study design. Data analyzing was performed using frequency distribution with pictures, graphics and tables. The results showed leptospirosis cases in the Kulonprogo regency in 2011 as much 273 cases with CFR 6.59%. The biggest number of distribution of leptospirosis cases were in District Nanggulan (20.5%), in men (76.6%), and 40 ? 60 years age group (43.2%). Serological test (MAT) patients with suspected leptospirosis from 182 serum showed that 41 (22.5%) patients leptospires bacteria positive. Serovar most commonly found in patients with leptospirosis is Harjo, Semaranga, Icterohaemorhagie, Bataviae, Patoc with a titer of 1: 40 ~ 1: 1600. Species of mice that become Leptospira sp. reservoir found were Rattus tanezumi, Tiomanicus rattus, Mus musculus, N fluvescens, insectivores Suncus murinus type was also found. Trap success by 6.9% outside home and 5.5% in house.Keywords: Outbreak, leptospirosis, reservoir