Starry H. Rampengan
Departement of Cardiology and Vascular Medicine, Faculty of Medicine, University Sam Ratulangi, Manado, Indonesia

Published : 17 Documents
Articles

Found 17 Documents
Search

KEHAMILAN PADA HIPERTENSI PULMONAR BERAT Rampengan, Starry H.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 6, No 3 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.6.3.2014.6326

Abstract

Abstract: Pregnancy is a very heavy burden on the cardiovascular system. Arterial-venous relaxation and blood volume increase in the early phases of conception. In embryonic phase, 5-8 weeks of pregnancy, the systemic vascular resistance decreases and the cardiac output increases until 20-30% compared to a non-pregnant state. A pregnant patient with pulmonary hypertension has a poor prognosis and it has been strongly recommended to undergo early abortion. We report a case of pregnancy with pulmonary hypertension with unknown cause. There is a hypercoagulable state that leads to pulmonary embolism in this case. The administration of anticoagulants (heparin or warfarin) and pulmonary vasculature vasodilator drugs are early indicated. Albeit, the patients did not control regularly, therefore, she has never received these drugs until her childbirth. Prevention of pregnancy and heart problems are the main things that influnce maternal mortality. Patients who desire to continue their pregnancy must be admitted to the hospital at the second trimester of gestation and handled by multi-disciplinary specialists. Concerning the increase of maternal mortality rate termination of pregnancy is still strongly recommended to pregnant women with primary pulmonary hypertension.Keywords: pregnancy, pulmonary hypertension, terminationAbstrak: Kehamilan merupakan kondisi yang sangat membebani sistem kardiovaskular. Relaksasi arterial dan vena serta peningkatan volume darah dimulai pada fase-fase awal konsepsi. Pada fase embrionik 5-8 minggu pertama kehamilan resistensi sistemik vaskular menurun dan curah jantung meningkat sampai 20-30% dibanding sebelum hamil. Prognosis buruk ditemukan pada pasien hamil dengan hipertensi pulmonal sehingga sangat direkomendasikan untuk terminasi sedini mungkin. Kami melaporkan kasus kehamilan dengan hipertensi pulmonal tanpa penyebab yang jelas. Pada kasus ini ditemukan hypercoagulable state yang dapat mengakibatkan terjadinya emboli paru. Pemberian antikoagulan (heparin atau warfarin) dan obat-obat vasodilator pembuluh darah paru diindikasikan sedini mungkin. Namun, oleh karena tidak kontrol teratur ke dokter maka sampai saat persalinanpun pasien belum pernah mendapat obat-obat jenis tersebut. Pencegahan kehamilan dan masalah jantung yang ditimbulkan merupakan dua hal utama yang memengaruhi angka kematian ibu. Pasien yang menginginkan kehamilannya diteruskan harus dirawat di rumah sakit saat usia kehamilan trimester kedua dan ditangani oleh spesialis dari multidisiplin. Terminasi kehamilan tetap merupakan pilihan utama pada pasien dengan hipertensi pulmonal primer mengingat tingginya angka kematian ibu.Kata kunci: kehamilan, hipertensi pulmonal, terminasi
HUBUNGAN KADAR ASAM URAT DENGAN KEJADIAN GAGAL JANTUNG AKUT PADA PASIEN HIPERTENSI Pualillin, Rezuanto; Rampengan, Starry H.; Wantania, Frans
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.7389

Abstract

Abstract: Long period of hypertension causes enlargement of the heart muscle, which leads to heart failure. Increased uric acid will causes endothelial dysfunction nas a result of the over production of reactive oxygen species (ROS), decrease the amount of nitric oxide (NO), increased rennin production, and the occurrence of inflammatory reactions. This speeds up the deterioration of the heart muscle, causing acute phase of heart failure. This study aimed to determine the relationship between uric acid levels and the incidence of acute heart failure in hypertensive patients in the emergency department and hypertension clinic of Prof. Dr R.D Kandou Hospital in Manado. This was an analytical observation by using the cross-sectional design. By using a non-probability sampling method we found 40 people as samples who had been diagnosed with heart failure due to hypertension. There were 15 samples that had experienced acute heart failure and 25 samples did not. Logistic Regression Test results stated that there was no significant effect of uric acid level with the incidence of acute heart failure (p = 0.188), with the value of the odds ratio of 1.198. Conclusion: There was no correlation between the levels of uric acid with the incidence of acute heart failure in patients with hypertension.Keywords: uricacid, hypertension, acute heart failureAbstrak: Hipertensi yang lama menyebabkan terjadinya pembesaran otot jantung sehingga berdampak pada terjadinya gagal jantung. Peningkatan asam urat juga menyebabkan disfungsi endotel akibat produksi reactive oxygen species (ROS) yang berlebihan, penurunan jumlah nitric oxide(NO), produksi renin meningkat, dan terjadinya reaksi inflamasi. Hal ini mempercepat perburukan otot jantung sehingga terjadi fase akut gagal jantung. Untuk mengetahui hubunganantara kadar asam urat dengan kejadian gagal jantung akut pada pasien hipertensidi instalasi rawat daruratdan poliklinik hipertensi RSUP Prof. Dr. R.D Kandou Manado. Jenis Penelitian ini adalah observasi analitik dengan menggunakan rancangan penelitian potong lintang. Dengan menggunakan metode non-probability sampling didapatkan 40 orang sebagai sampel yang telah didiagnosis menderita gagal jantung akibat hipertensi dimana 15 sampel yang mengalami episode akut dan 25 sampel yang tidak mengalami gagal jantung akut. Hasil Uji Regresi Logistik menyatakan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara kadar asam urat dengan kejadian gagal jantung akut (p=0,188), dengan nilai odds ratio sebesar 1,198. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara kadar asam urat dengan kejadian gagal jantung akut pada pasien hipertensi.Abstract: Long period of hypertension causes enlargement of the heart muscle, which leads to heart failure. Increased uric acid will causes endothelial dysfunction nas a result of the over production of reactive oxygen species (ROS), decrease the amount of nitric oxide (NO), increased rennin production, and the occurrence of inflammatory reactions. This speeds up the deterioration of the heart muscle, causing acute phase of heart failure. This study aimed to determine the relationship between uric acid levels and the incidence of acute heart failure in hypertensive patients in the emergency department and hypertension clinic of Prof. Dr R.D Kandou Hospital in Manado. This was an analytical observation by using the cross-sectional design. By using a non-probability sampling method we found 40 people as samples who had been diagnosed with heart failure due to hypertension. There were 15 samples that had experienced acute heart failure and 25 samples did not. Logistic Regression Test results stated that there was no significant effect of uric acid level with the incidence of acute heart failure (p = 0.188), with the value of the odds ratio of 1.198. Conclusion: There was no correlation between the levels of uric acid with the incidence of acute heart failure in patients with hypertension.Keywords: uricacid, hypertension, acute heart failureAbstrak: Hipertensi yang lama menyebabkan terjadinya pembesaran otot jantung sehingga berdampak pada terjadinya gagal jantung. Peningkatan asam urat juga menyebabkan disfungsi endotel akibat produksi reactive oxygen species (ROS) yang berlebihan, penurunan jumlah nitric oxide(NO), produksi renin meningkat, dan terjadinya reaksi inflamasi. Hal ini mempercepat perburukan otot jantung sehingga terjadi fase akut gagal jantung. Untuk mengetahui hubunganantara kadar asam urat dengan kejadian gagal jantung akut pada pasien hipertensidi instalasi rawat daruratdan poliklinik hipertensi RSUP Prof. Dr. R.D Kandou Manado. Jenis Penelitian ini adalah observasi analitik dengan menggunakan rancangan penelitian potong lintang. Dengan menggunakan metode non-probability sampling didapatkan 40 orang sebagai sampel yang telah didiagnosis menderita gagal jantung akibat hipertensi dimana 15 sampel yang mengalami episode akut dan 25 sampel yang tidak mengalami gagal jantung akut. Hasil Uji Regresi Logistik menyatakan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara kadar asam urat dengan kejadian gagal jantung akut (p=0,188), dengan nilai odds ratio sebesar 1,198. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara kadar asam urat dengan kejadian gagal jantung akut pada pasien hipertensi.Kata kunci: asam urat, hipertensi, gagal jantung akut: asam urat, hipertensi, gagal jantung akut
AMIODARON SEBAGAI OBAT ANTI ARITMIA DAN PENGARUHNYA TERHADAP FUNGSI TIROID Rampengan, Starry H.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 3, No 2 (2011): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.3.2.2011.863

Abstract

Abstract: Amiodarone is a highly effective anti-arrhythmic agent used in certain arrhythmias from supraventricular tachycardia to life-threatening ventricular tachycardia. Its use is associated with numerous side-effects that could deteriorate a patient?s condition. Consequently, a clinician should consider the risks and benefits of amiodarone before initiating the treatment.The thyroid gland is one of the organs affected by amiodarone. Amiodarone and its metabolite desethyl amiodaron induce alterations in thyroid hormone metabolism in the thyroid gland, peripheral tissues, and probably also in the pituitary gland. These actions result in elevations of serum T4 and rT3 concentrations, transient increases in TSH concentrations, and decreases in T3 concentrations. Both hypothyroidism and hyperthyroidism are prone to occur in patients receiving amiodarone. Amiodarone-induced hypothyroidism (AIH) results from the inability of the thyroid to escape from the Wolff-Chaikoff effect and is readily managed by either discontinuation of amiodarone or thyroid hormone replacement. Amiodarone-induced thyrotoxicosis (AIT) may arise from either iodine-induced excessive thyroid hormone synthesis (type I, usually with underlying thyroid abnormality), or destructive thyroiditis with release of preformed hormones (type II, commonly with apparently normal thyroid glands). Therefore, monitoring of thyroid function should be performed in all amiodarone-treated patients to facilitate early diagnosis and treatment of amiodarone-induced thyroid dysfunction. Key words: Amiodarone, thyroid function, side effect, management, monitoring.     Abstrak: Amiodaron adalah obat antiaritmia yang cukup efektif dalam menangani beberapa keadaaan aritmia mulai dari supraventrikuler takikardia sampai takikardia ventrikuler yang mengancam kehidupan. Namun penggunaan obat ini ternyata menimbulkan efek samping pada organ lain yang dapat menimbulkan perburukan keadaan pasien. Sehingga, dalam penggunaan amiodaron, klinisi juga harus menimbang keuntungan dan kerugian yang ditimbulkan oleh obat ini. Salah satu organ yang dipengaruhi oleh amiodaron adalah kelenjar tiroid. Amiodaron dan metabolitnya desetil amiodaron memengaruhi hormon tiroid pada kelenjar tiroid, jaringan perifer, dan mungkin pada pituitari. Aksi amiodaron ini menyebabkan peningkatan T4, rT3 dan TSH, namun menurunkan kadar T3. Hipotiroidisme dan tirotoksikosis dapat terjadi pada pasien yang diberi amiodaron. Amiodarone-induced hypothyroidism (AIH) terjadi karena ketidakmampuan tiroid melepaskan diri dari efek Wolff Chaikof, dan dapat ditangani dengan pemberian  hormon substitusi T4 atau penghentian amiodaron. Amiodarone-induced thyrotoxicosis (AIT) terjadi karena sintesis hormon tiroid yang berlebihan yang diinduksi oleh iodium (tipe I, biasanya sudah mempunyai kelainan tiroid sebelumnya) atau karena tiroiditis destruktif yang disertai pelepasan hormon tiroid yang telah terbentuk (tipe II, biasanya dengan kelenjar yang normal). Pemantauan fungsi tiroid seharusnya dilakukan pada semua pasien yang diberi amiodaron untuk memfasilitasi diagnosis dan terapi yang dini terjadinya  disfungsi tiroid yang diinduksi amiodaron. Kata Kunci: Amiodaron, fungsi tiroid, efek samping, penanganan, pemantauan.
Effect of enhanced external counterpulsation therapy on myeloperoxidase in lowering cardiovascular events of patients with chronic heart failure Rampengan, Starry H.; Setianto, Budhi; Posangi, Jimmy; Immanuel, Suzanna; Prihartono, Judo; Siagian, Minarma; Kalim, Harmani; Inneke, Sirowanto; Abdullah, Murdani; Waspadji, Sarwono
Medical Journal of Indonesia Vol 22, No 3 (2013): August
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (911.558 KB) | DOI: 10.13181/mji.v22i3.584

Abstract

Background: Chronic heart failure (CHF) is a slowly progressive disease with high morbidity and mortality; therefore, the management using pharmacological treatments frequently fails to improve outcome. Enhanced external counterpulsation (EECP), a non-invasive treatment, may serve as alternative treatment for heart failure. This study was aimed to evaluate the influence of EECP on myeloperoxidase (MPO) as inflammatory marker as well as cardiac events outcome.Methods: This was an open randomized controlled clinical trial on 66 CHF patients visiting several cardiovascular clinics in Manado between January-December 2012. The subjects were randomly divided into two groups, i.e. the group who receive EECP therapy and those who did not receive EECP therapy with 33 patients in each group. Myeloperoxidase (MPO) as inflammatory marker was examined at baseline and after 6 months of observation. Cardiovascular events were observed as well after 6 months of observation. Unpaired t-test was use to analyze the difference of MPO between the two groups, and chi-square followed by calculation of relative risk were used for estimation of cardiovascular event outcomes.Results: MPO measurement at baseline and after 6 months in EECP group were 643.16 ± 239.40 pM and 422.31 ± 156.26 pM, respectively (p < 0.001). Whereas in non EECP group, the MPO values were 584.69 ± 281.40 pM and 517.64 ± 189.68 pM, repectively (p = 0.792). MPO reduction was observed in all patients of EECP group and in 13 patients (48%) of non-EECP group (p < 0.001). Cardiovascular events were observed in 7 (21.21%) and 15 (45.45%) of patients in EECP and non-EECP groups, respectively (p = 0.037).Conclusion: EECP therapy significantly decreased the level of MPO as inflammatory marker and this decrease was correlated with the reduction of cardiovascular events in CHF patients. (Med J Indones. 2013;22:152-60. doi: 10.13181/mji.v22i3.584)Keywords: CHF, cardiovascular events, EECP, myeloperoxidase
DISFUNGSI EREKSI PADA PENYAKIT KARDIOVASKULAR Sasube, Nancy; Rampengan, Starry H.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 8, No 1 (2016): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.8.1.2016.12330

Abstract

Abstract: Erectile dysfunction (ED) is common among cardiovascular disease (CVD) patients. It is an important component of the quality of life. Moreover, it also confers an independent risk for future CV events. There is usual a 3-year time frame between the onset of ED symptoms and a CV event which offers an opportunity for risk mitigation. Thus, sexual function should be incorporated into CVD risk assessment for all males. Algorithms for the management of patient with ED have been proposed according to the risk for sexual activity and future (comprising of both lifestyle changes and pharmacological treatment) improve overall vascular health, including sexual function. Proper sexual counselling improves the quality of life and increase adherence to medication. Testosterone assessment may be useful for both diagnosis of ED, risk stratification, and further management. There are issues to be addressed, such as whether PDE5 inhibitors reduce CV risk. Management of ED requires a collaborative approach and the role of the cardiologist is pivotal.Keywords: cardiovascular disease, erectile dysfunction, sexual functionAbstrak: Disfungsi ereksi (DE) umumnya ditemukan pada pasien dengan penyakit kardiovaskular. DE merupakan komponen penting terhadap penurunan kualitas hidup pada laki-laki dan merupakan indikator terhadap risiko kejadian penyakit kardiovaskular di masa depan. Terdapat jangka waktu sekitar 3 tahun antara munculnya DE dan kejadian penyakit kardiovaskular, sehingga masih ada kesempatan untuk mencegah risiko yang akan terjadi. Dengan demikian fungsi seksual harus dimasukkan dalam penilaian risiko penyakit kardiovaskular pada semua laki-laki. Algoritma untuk penanganan pasien DE telah dirumuskan sesuai dengan risiko aktivitas seksual dan kejadian penyakit kardiovaskular di masa depan. Beberapa pendekatan untuk mengurangi resiko penyakit kardiovaskular terdiri dari perubahan gaya hidup dan pengobatan farmakologi dapat meningkatkan kesehatan termasuk fungsi seksual. Konseling seksual yang tepat dapat meningkatkan kualitas hidup dan meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. Penggunaan testosteron dan inhibitor PDE5 dapat bermanfaat dalam pengobatan DE. Penanganan DE memerlukan kerjasama dari berbagai bidang spesialistik termasuk peran dari kardiologis.Kata kunci: disfungsi ereksi, fungsi seksual, penyakit kardiovaskular
HUBUNGAN ANTARA JARAK TEMPUH TES JALAN 6 MENIT DAN FRAKSI EJEKSI PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK TERHADAP KEJADIAN KARDIOVASKULAR Harikatang, Agung D.; Rampengan, Starry H.; Jim, Edmond L.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.10963

Abstract

Abstract: Obesity is a condition that exceeds the relative weight of a person as a result of the accumulation of nutrients, especially carbohydrates, fats, and proteins. Hypertension is defined as systolic and diastolic blood pressures above than 95th percentile according to sex, age, and height. This study aimed to determine the relationship between body weight and blood pressure among junior high school students in Kecamatan Pineleng. This was an analytical study using a cross sectional approach. Population was junior high school students grades 7 and 8 aged 12-14 years of 3 Junior High Schools located in Kecamatan Pineleng. There were 75 samples obtained by using simple random sampling technique. The Chi-Square test showed a p value of 0.001 (<0.005). Conclusion: There was a significant relationship between weight and blood pressure among junior high school students in Kecamatan Pineleng.Keywords: weight, blood pressure. Abstrak: Obesitas adalah suatu keadaan yang melebihi dari berat badan relatif seseorang, sebagai akibat penumpukan zat gizi terutama karbohidrat, lemak dan protein. Hipertensi adalah tekanan darah sistolik dan diastolik yang melebihi persentil 95 menurut jenis kelamin, usia, dan tinggi badan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara berat badan dengan tekanan darah pada siswa SMP di Kecamatan Pineleng. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan desain potong lintang. Populasi yang diambil ialah siswa SMP kelas 7 dan 8 yang berusia 12 ? 14 tahun di 3 SMP yang berada di Kecamatan Pineleng. Jumlah sampel 75 siswa diperoleh dengan teknik simple random sampling. Hasil analisis dengan uji Chi-Square menyatakan nilai signifikansi 0,001 (< 0,005). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara berat badan dengan tekanan darah pada siswa SMP di Kecamatan Pineleng.Kata kunci: berat badan, tekanan darah.
KARDIOMIOPATI PADA INFEKSI HIV Rampengan, Starry H.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 3, No 2 (2011): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.3.2.2011.861

Abstract

Abstract: Heart muscle involvement associated with human immunodeficiency virus (HIV) infection may be seen as myocarditis, dilated cardiomyopathy, or as an isolated left or right ventricular dysfunction. Histopathological and ultra structural findings with different degrees of cardiac-chamber dilation have been described, and important roles of cytokines (tumor necrosis factor-alpha, interleukin-1, and interleukin-6) have been suggested. HIV infection is an important cause of dilated cardiomyopathy, with a prevalence of 3.6% among cardiomyopathy patients that live longer. HIV patients with dilated cardiomyopathy have a much worse prognosis than those with idiopathic dilated cardiomyopathy (hazard ratio of death 4.0). HIV related myocardial dysfunction may easily be overlooked due to attributing symptoms such as breathlessness, fatigue, respiratory diseases, or anaemia. The diagnosis is readily made by echocardiography which can show dilatation or impaired contractility, or both of either or both ventricles. Isolated right ventricular dysfunction can be caused by cardiomyopathy, pulmonary hypertension secondary to repeated respiratory infections, thromboembolic diseases, or recurrent pulmonary emboli from intravenous debris acquired through drug abuse. Endomyocardial biopsy in patients with heart failures associated with HIV infection has been performed in several centers, and has identified myocarditis caused by potentially treatable infections due to organisms such as toxoplasma gondii. Keywords: Cardiomyopathy, HIV infection, myocarditis, management.   Abstrak: Keterlibatan kerusakan jantung pada pasien human immunodeficiency virus (HIV) biasanya dalam bentuk miokarditis, kardiomiopati dilatasi, ataupun disfungsi ventrikel kiri atau kanan terisolasi. Penemuan histopatologik dan ultrastruktur menunjukkan perbedaan derajat dilatasi ruang-ruang jantung dipengaruhi oleh peranan beberapa jenis sitokin (tumor necrosis factor-alpha, interleukin-1 dan interleukin-6). Infeksi HIV merupakan penyebab utama terjadinya kardiomiopati dilatasi dengan prevalensi 3,6% dari antara penderita kardiomiopati yang hidup lama. Infeksi HIV dan kardiomiopati dilatasi memiliki prognosis yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan penderita kardiomiopati dilatasi yang idiopatik. Disfungsi miokard dalam kaitannya dengan HIV lebih mudah diidentifikasi karena adanya gejala yang jelas seperti sesak napas, mudah capek, penyakit saluran napas ataupun anemia. Hal tersebut diatas menyingkirkan kemungkinan akibat terapi paliatif dari pasien HIV. Diagnosis pasti dilakukan dengan pemeriksaan ekokardiografi, dimana terlihat dilatasi ataupun perburukan kontraktilitas jantung maupun akibat dari keduanya, atau terjadi pada kedua ventrikel. Disfungsi ventrikel kanan terisolasi dapat diakibatkan karena kardiomiopati, juga hipertensi pulmonal sekunder oleh karena infeksi saluran napas berulang, penyakit tromboemboli maupun emboli paru berulang dari debris intravena pada pecandu narkoba. Di beberapa pusat jantung telah dilakukan biopsi endomiokard pada pasien gagal jantung dengan infeksi HIV, dan diidentifikasi penyebab tersering yang dapat diobati adalah miokarditis dengan organisme seperti toxoplasma gondii. Kata Kunci: Kardiomiopati, infeksi HIV, miokarditis, tatalaksana.
DISFUNGSI MIOKARD PADA SEPSIS DAN SYOK SEPTIK Rampengan, Starry H.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 7, No 1 (2015): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.7.1.2015.7287

Abstract

Abstract: Sepsis and septic shock are serious clinical problems causing increased morbidity and mortality, which are highly associated with the event of myocardium dysfunction. Compared to previous data of four decades ago, there is an increase of mortality rate due to sepsis which is recorded based on the age from 0.5 to 7 per 100,000 sepsis episodes. The most common cause of sepsis is bacteria, which currently has shifted from negative to positive Gram bacteria. The most common organs affected by infection are lung (40%), followed by abdomen (30%) and urinary tract (10%). Sepsis begins with an infection (nidus), which has to be present although finding the clinical evidence may be difficult or the evidence may not be found. Shock is a condition of inadequate blood flow to the tissues to maintain high-energy phosphates at the necessary level to keep normal cellular function. Patients with septic shock who did not survive were found to have progressive hypotension or being unresponsive and had multi-organ dysfunction. The most common effect of septic shock on cardiovascular system is defined by the characteristics of hemodynamic profiles including increased cardiac index and reduced systemic vascular resistance. Myocardium dysfunction is an important variable for sepsis and septic shock. Keywords: myocardium dysfunction, sepsis, shock.   Abstrak: Sepsis dan syok septik merupakan masalah klinik serius yang banyak menyebabkan peningkatan morbiditas maupun mortalitas, yang erat kaitannya dengan kejadian disfungsi miokard. Dibandingkan dengan empat dekade yang lalu, tercatat angka mortalitas berdasarkan usia akibat sepsis meningkat dari 0,5 menjadi 7 per 100.000 episode sepsis.  Sepsis paling sering disebabkan oleh bakteri yang saat ini penyebabnya telah bergeser dari bakteri Gram negatif ke bakteri Gram positif. Organ yang paling sering terjadi infeksi ialah paru (40%) diikuti abdomen (30%) dan traktus urinarius (10%). Sepsis dimulai dengan infeksi (nidus) yang harus ada walau sulit dibuktikan secara klinis bahkan mungkin tidak dapat ditemukan. Syok adalah tidak cukupnya aliran darah jaringan dalam mempertahankan fosfat energi tinggi pada tingkat yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi sel. Pasien syok septik yang tidak selamat didapati mengalami hipotensi progresif atau tidak responsif serta disfungsi multi organ. Efek syok septik yang tersering pada sistem kardiovaskular ialah karakteristik pada profil hemodinamik berupa peningkatan indeks jantung dan penurunan resistensi vaskular sistemik. Disfungsi  miokard merupakan variabel penting pada sepsis dan syok septik. Kata kunci: disfungsi miokard, sepsis, syok.
PERSEPSI PASIEN ATAU KELUARGANYA TERHADAP MUTU PELAYANAN UNIT GAWAT DARURAT Rampengan, Starry H.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 7, No 3 (2015): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.7.3.2015.9485

Abstract

Abstract: Prof. Dr. R.D. Kandou General Hospital in Manado is an A-class public hospital with a capacity of 745 beds. About 80% of hospitalization comes from the Emergency Unit. Until now, complaints are still found in the suggestion box as well as from mass media about the unsatisfied patients. To date, there is no study that can be justified regarding the complaints of those patients. This study aimed to analyze the level of patient satisfaction in order to maintain the quality of services at the Emergency Unit. The study was conducted between September to December 2013 as a cross-sectional prospective study in eligible 98 patients who visited the Emergency Unit Department of Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital. By using SERVQUAL dimension associated with the level of patients? satisfaction, a data collection of visitors at the Emergency Unit was obtained. The results showed that the overall perception of patients or their families on the quality of service at the Emergency Unit was 82.33%. However, one of components in SERVQUAL dimension (quality of service) had the lowest score, i.e. on the dimension of response capacity including prompt or immediate service provided for customers. Patients who came from poor families got the highest score (112.74) on all kinds of SERVQUAL dimension.Keywords: patient satisfaction, quality of service, patient perceptionAbstrak: RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado merupakan salah satu rumah sakit milik pemerintah, tergolong kelas A dengan kapasitas 745 tempat tidur. Sebanyak 80% pasien rawat inap berasal dari Unit Gawat Darurat RSUP. Walaupun melayani seluruh strata sosial ekonomi dan juga sebagai rujukan pasien miskin dan terlantar, hingga saat ini masih dijumpai keluhan melalui kotak saran dan media massa yang menyangkut ketidakpuasan pasien tersebut. Belum ada penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan menyangkut berbagai keluhan pasien tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membuat analisis yang menyangkut tingkat kepuasan pasien agar dapat menjadi masukan dalam merumuskan kebijakan upaya menjaga mutu pelayanan di UGD. Penelitian ini dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou pada periode waktu September-Desember 2013 dengan desain potong lintang terhadap 98 pasien UGD yang memenuhi syarat penelitian. Dengan menggunakan dimensi SERVQUAL yang dikaitkan dengan tingkat kepuasan pasien, dilakukan pengumpulan data pengunjung UGD selama periode tertentu. Persepsi pasien terhadap pelayanan akan baik bila tingkat kepuasan pasien tinggi. Persepsi pasien atau keluarganya terhadap mutu pelayanan UGD secara keseluruhan sebesar 82,33%. Pada salah satu unsur dimensi SERVQUAL (mutu pelayanan) dengan nilai paling rendah yaitu dimensi daya tanggap meliputi antara lain pelayanan yang segera atau cepat bagi pelanggan. Pasien dengan status gakin mendapatkan skor yang tinggi (112,74) terhadap semua dimensi SERVQUAL.Kata kunci: kepuasan pasien, mutu pelayanan, persepsi pasien
HUBUNGAN TINGKAT DEPRESI DAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK DI POLIKLINIK JANTUNG RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Tatukude, Christin; Rampengan, Starry H.; Panda, Agnes L.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.10943

Abstract

Abstract: Heart failure is the major cause of morbidity and mortality worldwide. Heart failure is defined as heart?s inability to pump the blood to supply oxygen and nutrients to the body?s tissues. Functional limitation and psychological distress such as depression caused by this chronic condition will affect the quality of life of patients. This study aimed to determine the relationship of the level of depression and quality of life of patients with chronic heart failure. This was an observational analytical study with a cross sectional approach. Samples were 38 patients with chronic heart failure obtained by using consecutive sampling method. The level of depression was measured by using the Beck Depression Inventory-II meanwhile the quality of life was measured by using the Short Form-36. The results showed that of the 15 respondents with minimal depression, 4 respondents had poor quality of life and 11 respondents had better quality of life; of the 16 respondents with mild depression, 13 respondents had poor quality of life and 3 respondents had better quality of life, meanwhile 5 respondents with moderate depression and two respondents with severe depression had poor quality of life. Conclusion: There was a significant relationship between the level of depression and the quality of life. The higher the level of depression the poorer the quality of life of patients with chronic heart failure.Keywords: chronic heart failure, levels of depression, quality of life  Abstrak: Gagal jantung merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Gagal jantung didefinisikan sebagai ketidakmampuan jantung memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi jaringan tubuh. Keterbatasan fungsional dan distres psikologis seperti kejadian depresi yang disebabkan kondisi kronis ini akan mempengaruhi kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan tingkat depresi dan kualitas hidup pada pasien gagal jantung kronik. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel penelitian adalah 38 pasien gagal jantung kronik yang diambil menggunakan teknik consecutive sampling. Tingkat depresi diukur menggunakan kuesioner Beck Depression Inventory-II dan kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner Short Form-36. Hasil penelitian menunjukkan dari 15 responden dengan depresi minimal terdapat empat responden memiliki kualitas hidup kurang baik dan 11 responden memiliki kualitas hidup baik, kemudian dari 16 responden dengan depresi ringan terdapat 13 responden memiliki kualitas hidup kurang baik dan tiga responden memiliki kualitas hidup baik, sementara lima responden dengan depresi sedang dan dua responden dengan depresi berat memiliki kualitas hidup kurang baik. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara tingkat depresi dan kualitas hidup, dimana semakin tinggi tingkat depresi maka semakin rendah kualitas hidup pasien gagal jantung kronik.  Kata kunci: gagal jantung kronik, tingkat depresi, kualitas hidup