Articles

Found 30 Documents
Search

Knowledge about Byssinosis and the Use of Face-Masks Respati, Titik; Ibnusantosa, Ganang; Rachmawati, Meike
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The development of textile industry in Indonesia can potentially increase some occupational diseases that caused by waste products. One of those waste products from textile industry is cotton dust, which can cause byssinosis. There are several ways to reduce cotton dust exposure, such as using face mask. This research aim to describe the relationship between employees knowledge  about byssinosis with face mask utilization in spinning department of a textile factory.This research is a descriptive study with cross sectional approach. The subjects of this research are employees working on Spinning Department. Data gathered using questionnaire about byssinosis and the habit of using face mask.The result of this research shows that 52 (78.79%) of 66 respondents have excellent knowledge about byssinosis, meanwhile the other 14 (21.21%) show just enough knowledge. Almost all wear a face mask during working hour (92.42%). The result of chi square method shows that the relation between employees knowledge about byssinosis and face mask utilization is really weak (p=0,001, contingency coefficient = 0,381). The result of this research indicates that besides knowledge of byssinosis, there are other factors that can affect face mask utilization. Key word: Byssinosis, knowledge, face-masks
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Mengenai Kesehatan Reproduksi Siswa SMA Swasta dan Madrasyah Alliyah Mayzufli, Agam; Respati, Titik; , Budiman
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kesehatan reproduksi (kespro) menjadi perhatian pemerintah Indonesia sebagai salah satu masalah kesehatan yang perlu ditangani dengan baik. Tingkat pengetahuan tentang reproduksi merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi perilaku seksual remaja. Di beberapa sekolah kesehatan reproduksi telah dijadikan salah satu pengetahuan tambahan untuk siswa, akan tetapi belum semua melakukan hal tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan  tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku tentang kesehatan reproduksi pada remaja siswa-siswi SMA swasta  (SMA BPI 1) dengan siswa-siswi Madrasah Alliyah Sukamiskin Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2010 dan subjek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMA BPI1 dan Madrasah Alliyah Bandung berjumlah 137 responden. Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner yang telah divalidasi. Statistical for social science (SPSS) versi 17 dipergunakan untuk mengolah data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen pengetahuan, sikap, dan perilaku antara siswa-siswi SMA dan Madrasah Alliyah mengenai kesehatan reproduksi  berbeda pada sikap. Sikap siswa-siswi Madrasah Alliyah mayoritas kurang mendukung  kesehatan reproduksi tetapi perbedaan ini tidak  signifikan. Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi sebaiknya diberikan secara lebih terarah untuk semua remaja agar mendukung tercapainya kesehatan reproduksi yang baik.  Kata kunci: Kesehatan reproduksi, pengetahuan, perilaku, remaja, sikap  Knowledge,  Attitudes  and  Behavior  Regarding  Reproductive  Health  of High School and Madrasah Aliyah s Students  Abstract Reproductive health is one of the program that governments focus on.  The level of knowledge about reproductive health is one factor that can influence adolescent sexual behavior. The purpose of this study was to determine the comparative level of knowledge, attitudes and behavior regarding reproductive health of adolescent in high school and Madrasah Alliyah. This research used descriptive analytical method with cross sectional approach. The study was conducted in May 2010 and the total subjects of this study were 137 high school students represented by High School (SMA BPI 1) and Madrasyah Alliyah Bandung. Statistical for social science (SPSS) versi 17 was used for analysis of data. The results showed that reproductive health knowledge and behaviors between High School SMA BPI 1 and Madrasah Alliyah Bandung were similar. The difference was only in the attitude. The majority of students from Madrasah  Alliyah had little suport for reproductive health, however the diferences was not significant. It is recomended that reproductive health knowledge be given comprehensively to support a better reproductive health in general.   Key words: Attitude, behavior, knowledge, reproductive health 
Karakteristik dan Gaya Hidup Pasien Hipertensi di Rumah Sakit Al-Islam Bandung Ramdhani, Rizky; Respati, Titik; Irasanti, Siska Nia
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang semakin penting, karena prevalensi yang meningkat setiap tahun. Pada tahun 2000 World Health Organization memperkirakan prevalensi hipertensi sebesar 26,4% di dunia, Menurut Riskesdas tahun 2007 memperkirakan prevalensi hipertensi sebesar 31,7%. Faktor risiko hipertensi dapat dibedakan menjadi non modifiable (seperti keturunan, jenis kelamin, dan usia) dan modifiable (seperti kurang olahraga, obesitas, dan garam). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan gaya hidup pasien hipertensi di RS Al-Islam Bandung. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah pasien yang datang ke poli rawat jalan Instalasi Penyakit Dalam RS Al-Islam periode 1 April–31 Juli 2012. Sebanyak 230 subjek mengikuti penelitian terdiri atas 114 pasien hipertensi dan 116 pasien normotensi. Hasil penelitian menunjukkan pasien hipertensi berusia rata-rata 61–70 tahun (38,6%), berjenis kelamin perempuan (68,4%), berpendidikan S-1 (42,1%), ibu rumah tangga 48,2%, memiliki faktor genetik (66,7%), serta tidak rutin melakukan olahraga (47,4%). Hasil penelitian memperlihatkan faktor risiko yang mempunyai   hubungan dengan hipertensi adalah usia (p=0,0001), jenis kelamin (p=0,007), riwayat hipertensi (p=0,048), tidak rutin olahraga (p=0,004), dan tidak melakukan pencegahan (p=0,0001). Simpulan penelitian ini adalah kejadian hipertensi dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, faktor risiko, dan kebiasaan olahraga rutin. Hasil ini diharapkan dapat dipergunakan untuk meningkatkan pengetahuan tentang faktor risiko hipertensi sehingga dapat menurunkan kejadian hipertensi di masyarakat.  Kata kunci: Gaya hidup, hipertensi, karakteristik Characteristic and Lifestyle of Hypertension Patients at Al-Islam Hospital Bandung  Abstract Hypertension is an increasingly important health problem, showed by an increasing prevalence every year. In 2000 the World Health Organization estimates that the prevalence of hypertension in the world were 26.4%. According to Riskesdas in 2007 it was estimated that the prevalence of hypertension in Indonesia was 31.7%. Risk factors for hypertension can be divided into nonmodifiable (such as heredity, gender, and age) and modifiable (such as lack of exercise, obesity and salt). This study aimed to investigate the patients characteristics and lifestyle. This is a descriptive study using cross sectional analytic approach. Subjects were patients attending the outpatient clinic at Al-Islam Hospital, Internal Medicine Department during 1st  April to 31st  July 2012. A total of 230 subjects completed the study with 114 subjects diagnosed as hypertensive and 116 normotensive. The results showed that majority of    hypertensive patients were 61–70 years old (38.6%), female (68.4%), university graduate  (42.1%), housewives 48.2%, has genetic factor (66.7%), and doing exercise irregularly (47.4%). The results showed that risk factors associated with hypertension were age (p=0.0001), gender (p =0.007), genetic factors (p=0.048), irregular exercise (p=0.004), and no prevention of hypertension (p=0.001). The conclusion of this study is the incidence of hypertension is influenced by age, sex, genetic factors and regular exercise habits. These results are expected to be used to increase knowledge about risk factors for hypertension that may be used to help decreasing the incidence of this disease in the community.   Key words: Characteristics, hypertension, lifestyle 
Soursop Effect in Cervical Cancer Apoptosys Mechanism Yuniarti, Lelly; Sastramihardja, Herri; Purbaningsih, Wida; Tejasari, Maya; Respati, Titik; Hestu, Enggar; Adithya, Agly
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Cervical cancer is the fifth leading cancer cause of women death  in Indonesia.  Acetogenin, flavonoids, and tannins in sour sop leaves have anti-cancer effects through regulated genes which involved in apoptotic process such as in Caspase-3. This study aimed to determine the effect of ethanol extract of sour sop leaves to apoptosis and Caspase-3 gene expression in HeLa cell cultures. This was an in vitro study using HeLa cell culture samples  divided into 4 groups. The first group was HeLa cell cultures without  sour sop leaves ethanol extract. The 2nd ,3rd, and 4th group were HeLa cells cultures which were given sour sop leaves ethanol extract with concentration of 60 μg/mL, 120 mg / mL, and 240 mg / mL respectivelly. Apoptosis in each group was examined using TUNEL method and the expression of the caspase 3 gene by RT-PCR. One Way ANOVA with confidence level of 95% were used as statistical analysis.The result showed the effect of the sour sop leaves ethanol extract increased the apoptosis percentage in HeLa cells culture but did not affect the gene expression of Caspase-3.Key words: apoptosis, caspase-3, sour sop leaves Efek Daun sirsak dalam Mekanisme Apoptosis Kanker Serviks Abstrak Kanker serviks adalah penyebab kematian kelima untuk wanita di Indonesia. Asetogenin, flavonoid, dan tannin dalam daun sirsak terbukti mempunyai pengaruh anti kanker melalui regulasi gen melalui proses apoptosis seperti pada caspase-3. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efek ekstrak etanol daun sirsak untuk apoptosis dan ekspresi gen caspase-3 dalam kultur sel HeLa. Penelitian ini adalah penelitian in vitro menggunakan sel kultur HeLa yang dibagi menjadi 4 kelompok. Grup pertama adalah sel kultur HeLa tanpa ekstrak etanol daun sirsak sedangkan grup dua, tiga dan empat adalah sel kultur HeLa yang mendapat ekstraks etanol daun sirsak dengan konsentrasi  60μg/mL, 120 mg / mL, dan 240 mg / mL secara bertururt turut. Apoptosis dalam setiap kelompok diperiksa dengan menggunakan metode  terminal deoxynucleotidyl transferase-mediated (TUNEL) dan ekspresi gen caspase-3 dengan menggunakan reverse transciptase-polimerase chain reaction (RT-PCR). One Way analysis of varians (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95% digunakan untuk analisis statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun sirsak meningkatkan persentase apoptosis dari kultur sel HeLa tetepi tidak berpengaruh pada ekspresi gen Caspase- 3. Kata kunci: Apoptosis, Caspase-3, ekstrak daun sirsak 
Karakteristik Penderita Drop Out Pengobatan Tuberkulosis Paru di Garut Respati, Titik; Nurkomarasari, Nevi; , Budiman
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tuberkulosis masih menjadi masalah penyakit infeksi di dunia termasuk di Indonesia. Walaupun penggunaan Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy (DOTS) sebagai terapi yang direkomendasikan World Helath Organization (WHO) dipergunakan, kasus drop out masih cukup tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan faktor yang mempengaruhi kejadian drop out di Puskesmas Sukamerang, Garut selama tahun 2011. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan instrument penelitian berupa kuesioner yang didasarkan pada petunjuk perawatan TB yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan. Subjek adalah semua penderita TB yang drop out selama pengobatan di Puskesmas Sukamerang, Garut sejumlah 30 orang. Analisis data dilakukan menggunakan statistical programme for social sciense (SPSS) versi 17. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien TB drop out adalah laki-laki dengan usia < 35 tahun, pendidikan tamat SMP, pendapatan di bawah upah minimum regional dan bekerja sebagai buruh. Tingkat pengetahuan tentang TB paru penderita drop out pengobatan TB paru dan sikap mereka termasuk kurang baik walaupun peran pengawas menelan obat (PMO) telah cukup baik. Masalah tersebut ditambah dengan sulitnya akses menuju pelayanan kesehatan. Upaya penting dalam penanganan kasus TB adalah bagaimana memotivasi penderita agar mereka mau menyelesaikan pengobatan sesuai dengan program  yang ditetapkan. Untuk mewujudkan upaya tersebut, diharapkan program penanggulangan TB paru  dapat meningkatkan upaya penjaringan penderita TB paru dan meningkatkan strategi pelaksanaan pengobatan TB paru melalui penyebaran informasi tentang pengobatan TB paru dan peningkatan peranan PMO.  Kata kunci: Drop out, pengetahuan dan sikap,  tuberkulosis (TB) Characteristics of Drop Out Patients During Treatment of Pulmonary Tuberculosis in Garut Abstract Tuberculosis is still one of the major infectious disease in the world including Indonesia. Although the therapy using Directly Observed Treatment Short course Chemotherapy (DOTS) recomended by World Health Organization has been used, the drop out cases is still high. This study aim was to describe factors contributing to drop out cases in Sukamerang Health Center, Garut during year 2011. This was a cross sectional study using standard questionairres based on Ministry of Health Tuberculosis handbook. Subjects were all , 30  drop out patients during medication at Sukamerang Health Center. Statistical Programee for social science (SPSS) version 17 was used to analize the result. The study results showed  that majority of drop out cases were male less than 35 years old with junior high school education and monthly earning of less than IDR 800.000. Knowledge of TB and attitude towards medication were not satisfactory although the role of pengawas minum obat (PMO ) was quite good. The results showed that the problem was heightened by their difficulty to access the health services. The important aspect in the treatment of tuberculosis is determining how to motivate people to complete the treatment in accordance with the established regiment. To achieve that, various pulmonary TB control programs needs to be enhanced to assist pulmonary TB patients.   Key words: Drop out, knowledge and attitude,  tuberculosis (TB) 
Socio Cultural Factors in the Treatment of Pulmonary Tuberculosis: a Case of Pare-Pare Municipality South Sulawesi Respati, Titik; Sufrie, Aisyah
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Traditional healers still play an important part in the daily life of people in Pare-pare municipality. This study was to examine the cultural model for the implementation of tuberculosis control program.This study used qualitative research methods. Semi structured in-depth interview were used to collect the data. Respondents of this study were traditional healer, community leader and TB patients. The findings of the study suggest that traditional healers can play an important part in the tuberculosis program, because people tend to visit them the first instance for health care. The understanding and knowledge about tuberculosis of traditional healers is very limited, they believe God caused it, and only God can cure the disease. Based on the findings of the study, recommendations were made for enhancing the problem by including socio cultural factors that influence tuberculosis control program in Parepare municipality. They are strengthening the understand and knowledge about tuberculosis, providing health education with a view to balancing traditional beliefs and eradicating harmful beliefs, improving referrals to health clinics, providing health education and better communication in the community.  Key words: Health education, spiritual beliefs, tuberculosis program, traditional healer Faktor Sosio Kultural pada Terapi Tuberkulosis Paru: Kasus di Kotamadya Pare-pare Sulawesi Selatan Abstrak Dukun tradisional masih memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Pare-pare. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan model budaya dalam implementasi program pencegahan tuberkulosis (TB). Penelititan ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan wawancara terstruktur. Responden pada penelitian ini adalah dukun, tokoh masyarakat, dan penderita TB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukun dapat memegang peran sangat penting dalam program pencegahan TB karena masyarakat biasanya datang ke dukun sebagai penolong pertama untuk orang sakit. Pengertian dan pengetahuan dukun mengenai TB sangat terbatas. Mereka beranggapan bahwa Tuhan yang menjadi penyebab penyakit dan hanya Tuhan yang dapat menyembuhkan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, beberapa rekomendasi perlu diperhatikan untuk meningkatkan program pencegahan dan pemberantasan TB dengan mengikutsertakan faktor sosial budaya dalam aktivitasnya. Beberapa di antaranya adalah dengan memperkuat pengetahuan dan pengertian dukun tenang TB, memberikan edukasi dengan memperhatikan pandangan kepercayaan lokal, dan menghilangkan kepercayaan yang membahayakan. Selain itu, akses terhadap pelayanan kesehatan serta komunikasi dengan petugas kesehatan perlu ditingkatkan.   Kata kunci: Dukun, kepercayaan, pendidikan kesehatan, program TB 
Gambaran Partisipasi Masyarakat terhadap Pengendalian Vektor Melalui Kajian Tempat Perkembangbiakan Aedes aegypti di Kota Bandung Faridah, Lia; Respati, Titik; Sudigdoadi, Sunarjati; Sukandar, Hadyana
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.081 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v49n1.986

Abstract

Pada tahun 2014, Bandung memiliki angka kasus demam dengue (DD) tertinggi dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat. Upaya pengendalian DD telah dilaksanakan sejak beberapa dekade yang lalu. Salah satu upaya adalah dengan mengeliminasi tempat perkembangbiakan nyamuk melalui peran serta masyarakat. Penelitian ini bertujuan menilai partisipasi masyarakat Kota Bandung dengan mengetahui tempat-tempat perkembangbiakan Aedes aegypti baik di dalam maupun di luar rumah. Sampling dilakukan di 16 kelurahan di Kota Bandung yang telah dipilih berdasar atas angka kejadian DD, kepadatan penduduk, ketinggian permukaan, dan status sosial-ekonomi periode 2015. Populasi penelitian adalah rumah-rumah yang terdapat di 16 kelurahan tersebut. Jumlah sampel penelitian ini adalah 1.983 rumah yang merupakan perwakilan dari tiap kelurahan. Sampling jentik dilakukan pada berbagai tempat penampungan air, baik penampungan alami maupun buatan di sekitar pemukiman penduduk. Jentik yang ditemukan dimasukkan ke dalam wadah dan dibawa ke laboratorium untuk diidentifikasi dan dihitung jumlahnya. Hasil menunjukkan tempat perkembangbiakan nyamuk yang paling dominan adalah bak mandi (50%), talang air (24%), dan dispenser (15%). Data entomologi diperoleh hasil House index (HI) 24%, Container index (CI) 12%, dan Breteau index (BI) 36%. Hasil tersebut menunjukkan masih kurangnya peran serta masyarakat untuk mencegah DD dengan membasmi tempat perkembangbiakannya dan Kota Bandung masih berpotensi untuk terjadi penyebaran penyakit DD. [MKB. 2016;49(1):42–7]Kata kunci: Aedes aegypti, Bandung, demam dengue, tempat perkembangbiakan, partisipasi masyarakat Community Participation on Vector Control Based on Aedes aegypti’s Breeding Sites in BandungIn 2014, Bandung has the highest number of Dengue Fever cases of 27 districts and cities in West Java. Dengue Fever control efforts have been implemented for several decades. One of the efforts is the eradication of the vector breeding site with community participation. The aim of this study was to assess community participation by identifying Aedes aegypti’s breeding sites, both indoor and outdoor, in Bandung area. Sampling was conducted on houses in 16 villages throughout Bandung area. The sampling points were selected according to the Dengue Fever event number, population density, height, and socio-economic status. The total sample points were 1983 houses. Larvae from sample points were collected from various water containments, both natural and manmade, around the settlement. The larvae samples were then brought to the laboratory to be identified and counted. Results indicated the dominant breeding sites were bathtub (50%), gutter (24%), and dispenser (15%). Entomological survey resulted in 24% HI, 12% CI, and 36% BI. This indicates the lack of community participation in preventing DF by eradicating vector’s breeding sites and Bandung is still potential for DF outbreak. [MKB. 2016;49(1):42–7]Key words: Aedes aegypti, Bandung, breeding site, dengue fever, community pasticipation
Mendukung Bangkitnya Kesehatan dan Sains Bangsa Indonesia Menuju Era Global Respati, Titik
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v5i2.2884

Abstract

Sebuah perjalanan yang cukup panjang telah ditempuh oleh jurnal Global Medical and Health Communication (GMHC) yang berawal di tahun 2012 untuk memberikan ruang bagi para peneliti, dosen, dan pemerhati masalah kesehatan dalam menyampaikan hasil penelitian maupun ide dan metode terbarunya. Diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung, jurnal GMHC telah terakreditasi Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 2/E/KPT/2015 tertanggal 1 Desember 2015. Selain itu, jurnal ini telah terdaftar pula dalam Directory of Open Access Journals (DOAJ) tanggal 9 Mei 2017. Pencapaian ini telah mendapatkan respons positif dari para peneliti dan pemerhati masalah kesehatan terutama di Indonesia terbukti dengan semakin banyak artikel yang dikirimkan. Dibanding dengan awal pendiriannya pada tahun 2012 sampai tahun 2017 ini jumlah artikel yang dikirimkan menjadi tiga kali lipat banyaknya. Sebagai dukungan penyebaran informasi terutama hasil penelitian maka penerbitan GMHC yang sejak tahun 2013 cukup 6 bulan dalam setahun pada tahun 2017 menjadi setiap 4 bulan dalam setahun. Setelah menjadi jurnal terakreditasi nasional, jurnal GMHC mempersiapkan diri untuk berperan lebih di arena global. Jurnal GMHC bertekad dengan dukungan para penulis, pembaca, dan pemerhati untuk mulai menjadi sarana bagi bangsa Indonesia agar dapat berkiprah di tingkat dunia terutama dalam bidang kesehatan.
Model Program Demam Berdarah Dengue. Peran Serta Masyarakat, serta Sanitasi Dasar di Kota Bandung Respati, Titik; Raksanagara, Ardini; Djuhaeni, Henni
Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.6 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v50n3.1239

Abstract

Munculnya kembali demam berdarah sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama menunjukkan sulitnya mempertahankan kelangsungan program pencegahan dan pemberantasan penyakit ini. Pengetahuan yang memadai mengenai demam berdarah dengue (DBD) dan metode untuk mencegahnya harus dapat dimengerti oleh masyarakat sebelum mereka mau berpartisipasi aktif. Penelitian ini bertujuan menggambarkan faktor-faktor yang memengaruhi DBD berdasar atas peran serta masyarakat, sanitasi dasar, dan program pencegahan dan pemberantasan demam berdarah dengue  Penelitian ini adalah survei pada 2.035 rumah tangga di 12 kecamatan dan 16 kelurahan di Kota Bandung pada bulan Mei – Juni 2015 yang dilakukan dengan metode stratified random sampling. Kuesioner digunakan untuk mengetahui karakteristik, pengetahuan mengenai DBD, pengalaman, persepsi risiko dan sikap dalam kejadian DBD, program DBD yang tersedia, serta fasilitas sanitasi dasar. Analisis data menggunakan partial least square (PLS). Hasil menunjukkan bahwa DBD dipengaruhi oleh keberadaan tempat perindukan nyamuk, fasilitas sanitasi dasar terutama sistem pembuangan air limbah (SPAL), Program DBD serta peran serta masyarakat terutama mengenai pengetahuan. Upaya paling efektif untuk mengurangi tempat perindukan ini adalah dengan menyediakan sarana sanitasi dasar yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat serta upaya pemberantasan sarang nyamuk PSN yang sebaiknya dilakukan secara serentak.  Dengue Hemorrhagic Fever Program Model, Community Participation, and Basic Sanitation in Bandung CityThe reemergence of dengue fever as a major public health problem presents difficulties in the sustainability of prevention and eradication programs for this disease. Community must have adequate knowledge on dengue hemorrhagic fever (DHF) and methods to prevent it before they have the willingness to participate actively. This study aimed to describe factors that influence DHF program  ased on community participation, basic sanitation, and prevention and eradication. This was a survey on 2,035 households in 12 sub-districts and 16 villages in Bandung City in May - June 2015. Sampling was perfomed using stratified random sampling method. The questionnaire was used to determine the characteristics, knowledge on DHF, experience, risk perception, and attitudes towards the incidence of DHF; available DHF programs; and basic sanitation facilities. Data analysis was performed using Partial Least Square (PLS). The results showed that DHF was affected by the presence of mosquito breeding sites, basic sanitation facilities, especially sewage disposal systems (SPAL), DHF programs, and community participation especially knowledge. The most effective effort to reduce the breeding place is by providing basic sanitation facilities accessible to the entire community along with simultaneous efforts to eradicate mosquito breeding places.   
The Effectiveness of Ultraviolet, Ozonization and Reverse Osmosis as Disinfection Method in Drinking Water Refill Stations Sari, Sri Yusnita Irda; Iqbal, Muhamad; Cahyadi, Adi Imam; Respati, Titik; Raksanagara, Ardini Saptaningsih; Agoes, Ridad
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v6i3.3427

Abstract

The number of drinking water refill stations (DWRS) was increased rapidly because high of mid-low urban community need to get affordable drinking water. Water treatment methods in DWRS are varying even many DWRS uses more than one disinfection method to increase the effectiveness. The quality of many DWRS productions was reported unstandardized, however not yet the study to evaluate the effects of the water treatment method used. This study aimed to compare the effectiveness of various water treatment methods in DWRS to identify which method is the most effective. The study used a cross-sectional approach conducted in 3 groups of water treatment methods, namely ultraviolet, ultraviolet + ozonization, and a combination of ultraviolet + ozonization + reverse osmosis with each group consisted of 40 DWRS. The survey was conducted in July–September 2017 in Bandung municipality by structured interview. Examination of microbiological parameters of raw and processed drinking water samples using membrane filter method. Water samples from raw water and drinking water from treatment process were taken from each DWRS to be tested for the microbiological parameter by using the membrane filter method. Comparison of the effectiveness was analyzed using the Wilcoxon rank sum test and assessment of log removal reduction. The result showed that there was significantly different in the effectiveness of coliform removal between the three groups. The improvement for controlling and training particularly for the procedure and maintenance of water treatment equipment to the owners/workers in DWRS is urgently needed as the concern of related authority. In conclusion, the water treatment method using reverse osmosis and ultraviolet is the most effective disinfection method compared to the ozonization method. The usage of more that one method of water treatment at the same time relate to the lower percentage of the effectiveness compares to the usage of only one method. EFEKTIVITAS ULTRAVIOLET, OZONISASI, DAN REVERSE OSMOSIS SEBAGAI METODE DESINFEKSI DEPOT AIR MINUM ISI ULANGPerkembangan depot air minum isi ulang (DAM) melaju dengan pesat karena masyarakat menengah ke bawah perkotaan membutuhkan air minum dengan harga yang terjangkau. Metode pengolahan air baku menjadi air minum di DAM bervariasi bahkan tidak jarang digunakan lebih dari satu metode desinfeksi untuk meningkatkan efektivitasnya. Kualitas produksi DAM banyak yang dilaporkan tidak sesuai dengan standar, namun belum terdapat penelitian yang mengevaluasi pengaruh metode pengolahan air yang digunakan. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas berbagai metode pengolahan air di DAM sehingga dapat diketahui metode apa yang paling efektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada 3 kelompok metode pengolahan air, yaitu ultraviolet, ultraviolet + ozonisasi, dan kombinasi ultraviolet + ozonisasi + reverse osmosis dengan tiap-tiap kelompok terdiri atas 40 DAM. Survei dilakukan pada Juli–September 2017 di Kota Bandung dengan melakukan wawancara terstruktur. Sampel air baku dan air minum hasil olahan diambil dari setiap DAM untuk diperiksa parameter mikrobiologinya menggunakan metode filter membran. Perbandingan efektivitas dianalisis menggunakan Wilcoxon rank sum test dan penilaian log removal reduction. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan efektivitas yang signifikan pada ketiga kelompok terutama efektivitas terhadap coliform. Perlu upaya pengawasan dan pelatihan khususnya mengenai teknis pemakaian dan pemeliharaan alat pada pemilik/pekerja DAM yang harus menjadi perhatian pemerintah dan pihak terkait. Simpulan, metode pengolahan air menggunakan reverse osmosis dan ultraviolet merupakan metode desinfeksi yang paling efektif dibanding dengan metode ozonisasi. Pemakaian lebih dari satu metode desinfeksi pada saat yang bersamaan menyebabkan persentase efektivitas menjadi lebih rendah dibanding dengan yang menggunakan hanya satu jenis metode desinfeksi.