Articles

Found 14 Documents
Search

Globalisasi Media dan Transformasi Politik Internasional Rianto, Puji
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 1 (2008)
Publisher : Jurnal Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.279 KB)

Abstract

Abstract: Globalization affects almost everything, moreover international politics. In this respect, media that have transnational orientation, as serious patrons of globalization, keep transforming international politics in three dimensions which are from power politics to image politics, international politics mediation and the widespread utilization of media as propaganda.
Globalisasi, Liberalisasi Ekonomi dan Krisis Demokrasi Rianto, Puji
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol 8, No 2 (2004): Tinjauan Kritis Globalisasi
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.795 KB)

Abstract

Different from the advocates of neoliberalism, this article argues that economic globalization not only fails to create prosperity but also fails to build democratic political system. Globalisation has brought profound change on the role of multinational corporations. Rather than brought equality, globalization has widen the gap between the poor and the rich which prohibites democratization. Globalisation has brought the power of MNCs to direct many public policies in underdeveloped countries which brings advantage to MNCs.
Jurnalisme dalam Tatanan Neoliberal dan Krisis Demokrasi Rianto, Puji
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol 9, No 1 (2005): Demokrasi: Problema dan Manfaatnya
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.795 KB)

Abstract

Applied in most countries, neo-liberalism has shifted the orientation of mass media from the public to the market. Journalism, as a result, tends to be driven by the market in which this leads to the failure of mass media in advancing democracy. This article demonstrates how the market-driven journalism creates the crisis of democracy.
PERBANDINGAN PARADIGMA OTORITARIANISME DAN DEMOKRASI DALAM REGULASI MEDIA MASSA DI INDONESIA (COMPARING AUTHORITARIANISM AND DEMOCRACY PARADIGM IN MASS MEDIA REGULATIONS IN INDONESIA) Rianto, Puji
IPTEK-KOM : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Komunikasi Vol 21, No 2 (2019): JURNAL IPTEK-KOM ( JURNAL ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI)
Publisher : BPSDMP KOMNFO Yogyakarta, Kementerian Komunikasi dan Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33164/iptekkom.21.2.2019.123-138

Abstract

Penelitian ini bertujuan melakukan perbandingan terhadap paradigma regulasi media di Indonesia, yakni media cetak (pers), penyiaran, dan film. Dengan menggunakan studi komparasi, penelitian ini menemukan bahwa paradigma dominan yang mendasari regulasi media di Indonesia berbeda-beda. Regulasi pers menganut paradigma demokratis, penyiaran semi demokratis, sedangkan film cenderung otoritarian. Ada banyak faktor yang menyebabkan regulasi media di Indonesia menganut paradigma yang berbeda-beda, di antaranya semakin lemahnya tekanan masyarakat sipil, kuatnya oligarki dalam politik kebijakan media di Indonesia, serta menguatnya kelompok status quo (terutama peme­rintah) yang menghendaki pemerintah sebagai regulator media seperti era otorita­rianis­me Orde Baru. Faktor-faktor ini memberikan pengaruh terhadap pilihan paradigma yang dianut dalam mengembangkan regulasi media di Indonesia.
LITERASI DIGITAL DAN ETIKA MEDIA SOSIAL DI ERA POST-TRUTH Rianto, Puji
Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 8, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Master of Communication Science Program, Faculty of Social and Political Science, Diponego

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.841 KB) | DOI: 10.14710/interaksi.8.2.24-35

Abstract

This research is an attempt to explain the post-truth phenomenon in the WhatsApp group. This research, therefore uses online etnography or netnography, it found that the widespread post-truth in the WhatsApp group marked by the spread of hoax is not mere caused by a lack of digital literacy, but rather an ethics. The fact that conversation groups are able to analyze, and evaluate political messages, but uncritical when dealing with political messages that support their political choices (candidates). As a result, they tend to believe on what they might think as thruth, even with no clarifying wheather it?s true or false. In such case, they even deliberately and consistently to share any information even though other group providing correction for many times. This research, therefore suggests that digital literacy must be integrated with communication ethics. In regard with digital literacy, indeed it?s very necessary to enhance the critical capabilities of digital media users, while ethics lead people to always think and consider the good or bad of the communication activities.
Pemanfaatan Waktu Luang untuk Menonton Televisi di Indonesia: Kelas Menengah Atas dan Kelas Menengah Bawah Rianto, Puji
IPTEK-KOM : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Komunikasi Vol 18, No 2 (2016): Jurnal IPTEK-KOM (Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Komunikasi)
Publisher : BPSDMP KOMNFO Yogyakarta, Kementerian Komunikasi dan Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini dilakukan untuk mengkaji perbedaan kelas sosial menengah atas dan bawah dalam menggunakan waktu luang dan perilakunya dalam menonton televisi dengan metode fenomenologi. Penelitian ini menemukan bahwa kelompok kelas menengah atas lebih leluasa dalam menggunakan waktu luang mereka, berbeda dengan kelas bawah. Kelompok sosial menengah atas relatif tidak mempunyai keterbatasan sehingga lebih bebas dalam menggunakan waktu luang. Sebaliknya, kelas sosial menengah bawah cenderung terbatas sehingga hanya aktivitas tertentu yang dilakukan untuk menghabiskan waktu luang. Setiap kategori kelas sosial juga berbeda dalam menonton televisi. Sinetron hampir sama sekali tidak ditonton oleh kelas menengah atas, sedangkan kelas menengah bawah masih ada yang menonton sinetron. Kelas menengah atas cenderung menonton TV dalam ruang pribadi, sedangkan kelas sosial menengah bawah menjadikan menonton televisi sebagai aktivitas ritual bersama keluarga. Studi ini juga menemukan kecenderungan kelas menengah bawah belum kritis dalam menonton program televisi sehingga perlu pendidikan literasi media.
Globalisasi, Liberalisasi Ekonomi dan Krisis Demokrasi Rianto, Puji
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol 8, No 2 (2004): NOVEMBER (Tinjauan Kritis Globalisasi)
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.907 KB) | DOI: 10.22146/jsp.11051

Abstract

Different from the advocates of neoliberalism, this article argues that economic globalization not only fails to create prosperity but also fails to build democratic political system. Globalisation has brought profound change on the role of multinational corporations. Rather than brought equality, globalization has widen the gap between the poor and the rich which prohibites democratization. Globalisation has brought the power of MNCs to direct many public policies in underdeveloped countries which brings advantage to MNCs.
Jurnalisme dalam Tatanan Neoliberal dan Krisis Demokrasi Rianto, Puji
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol 9, No 1 (2005): JULI (Demokrasi: Problema dan Manfaatnya)
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.423 KB) | DOI: 10.22146/jsp.11042

Abstract

Applied in most countries, neo-liberalism has shifted the orientation of mass media from the public to the market. Journalism, as a result, tends to be driven by the market in which this leads to the failure of mass media in advancing democracy. This article demonstrates how the market-driven journalism creates the crisis of democracy.
MEN-SUBJEK-KAN MASYARAKAT PERBATASAN: TELAAH ATAS PERAN MEDIA BARU DI WILAYAH PERBATASAN INDONESIA RIANTO, PUJI
Prosiding Magister Ilmu Komunikasi Buku A- Komunikasi Publik Dan Dinamika Masyarakat Lokal
Publisher : Prosiding Magister Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media baru yang mengaburkan batas antara penerima dan pemroduksi pesan menawarkan peluang bagi representasi yang lebih luas masyarakat perbatasan. Ini karena-melalui media baru-masyarakat perbatasan dapat menampilkan diri secara terbuka tanpa terkendala oleh para gate keeper media massa. Dengan begitu, mereka bisa menjadi subjek bagi dirinya sendiri dengan tampil melalui blog, facebook, twitter, dan sebagainya. Namun, persoalannya bahwa masyarakat perbatasan menghadapi kelangkaan infrastruktur dan kurangnya literasi media. Akibatnya, mereka lebih sering menjadi objek dibandingkan sebagai subjek. Tulisan ini didasarkan atas observasi dan penelitian yang penulis lakukan pada 2012 dan 2016 yang dibiayai oleh LPP RRI di wilayah perbatasan (Batam, Entikong, Nunukan, Jayapura, dan Atambua). Selama penelitian tersebut, temuan-temuan di lapangan menemukan bahwa masyarakat perbatasan termajinalkan dari sisi komunikasi. Mereka tidak terepresentasikan dengan baik sebagai subjek warga negara. Langkanya infrastruktur membuat akses mereka terhadap media terbatas. Sebaliknya, mereka lebih banyak mendapatkan informasi dari negara tetangga, terutama Malaysia dan Timor Leste. Keberadaan media baru jelas memberikan peluang yang sangat besar untuk menjadikan masyarakat perbatasan sebagai subjek. Di beberapa perbatasan, teknologi internet telah diakses dengan baik. Namun, infastruktur lainnya dan pendidikan kurang pendukung. Oleh karena itu, perlu pembangunan infrastruktur, sarana pendidikan, dan literasi digital. Tanpa itu, masyarakat perbatasan akan tetap menjadi objek dalam dunia komunikasi yang semakin global. Kata Kunci: subjek, media baru, masyarakat perbatasan
MEDIA JEJARING SOSIAL DAN PERSOALAN ETIKA DALAM MEDIA BARU Oleh: Rianto, Puji
PROSIDING KOMUNIKASI PROSIDING : AKSELERSI PEMBANGUNAN MASYARAKAT LOKAL MELALUI KOMUNIKASI DAN TEKNOLOGI INFORMASI (BUKU
Publisher : PROSIDING KOMUNIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehadiran media jejaring sosial seperti facebook, twitter, dan juga aplikasi percakapan seperti WhatsApp telah mengubah secara signifikan pola-pola interaksi dan komunikasi individu. Sifatnya yang interaktif dan partisipatif telah memungkinkan komunikasi berlangsung secara lebih mendalam dan luas. Melalui media jejaring sosial media, seorang individu bisa menjadi penerima dan pemroduksi pesan dalam waktu yang hampir bersamaan. Sifat jangkauan media baru sangat luas, bahkan jauh lebih luas dibandingkan dengan media massa. Dampak yang ditimbulkannya juga demikian. Dalam situasi semacam ini, persoalan etis menjadi sangat penting, terutama karena pengguna media sosial semacam facebook mempunyai kebebasan yang hampir tanpa batas. Tulisan ini akan mengelaborasi lebih jauh persoalan-persoalan etis dalam komunikasi media baru. Bagaimanakan persoalan etis dalam komunikasi media baru atau secara lebih spesifik komunikasi dengan menggunakan media jejaring sosial semacam facebook ataupun twitter? Kemudian, sejauh mana, individu harus senantiasa menggunakan pertimbangan etis ketika berkomunikasi dengan menggunakan media baru tersebut? Kajian ini menemukan bahwa pertimbangan etis harus dilakukan dalam setiap tindakan komunikasi karena sifat otonomi dan kebebasan media baru serta jejaring sosial media tersebut. Dalam hal ini, tuntutan etika muncul bukan hanya prasyarat otonomi dan kebebasan, tapi juga sifat „sosial‟ media baru. Tulisan ini menawarkan model Alvin Day dalam proses pengambilan keputusan, yang mencakup tiga tahap, yakni definisi situasi, analisis, dan pengambilan keputusan. Kata Kunci: Etika, Komunikasi, Media Baru, Media Jejaring Sosial