Articles

Found 24 Documents
Search

STIGMAST-5(6)-EN-3(6)-OL DARI HERBA TUMBUHAN KROKOT (LYGODIUM MICROPHYLLUM) Kuncoro, Hadi; Farabi, Kindi; Julaeha, Euis; Rijai, Laode; Supratman, Unang
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Kimia VALENSI Volume 1, No. 1, Mei 2015
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Syarif Hidayatullah State Islamic Uni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.678 KB) | DOI: 10.15408/jkv.v0i0.3152

Abstract

A steroid, stigma-5(6)-en-3?-ol or ?-sitosterol (1) had been isolated from a n-hexane extract of the Krokot plant herb (Lygodium microphyllum). The chemical structure of 1 was identified on the basis of spectroscopic evidences and by comparison with those of spectra data previously reported. The investigation of steroid, stigma-5(6)-en-3?-ol was from L. microphyllum plant was reported inthis research for first time.DOI :http://dx.doi.org/10.15408/jkv.v0i0.3152
BEBERAPA TUMBUHAN OBAT ASAL KALIMANTAN TIMUR SEBAGAI SUMBER SAPONIN POTENSIAL Rijai, Laode
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol 1 No 4 (2012): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.503 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v1i4.40

Abstract

Saponin is a class of natural compounds that have activity that is strongly associated with utilization in pharmacy. Exploration has been carried out against a number of secondary metabolite content of medicinal plants in East Kalimantan and some of them found to contain saponins. Plants were found to contain saponins and are considered potential Kokang leaf (Lepisanthes amoena), Kesumbakeling leaf (Bixa orellana, L), Belimbing Wuluh leaf (Averrhoa bilimbi L.), Sugi Gadjah leaf (Hyptis capitata), Karamunting leaf (Melastoma malabathricum L), Cempedak bark (Artocarpus champeden), Wijaya Kusuma leaf (Epiphyllum oxipetalum), Langsat seeds (Lansium domesticum), ekor kucing leaf (Acalypha hispida), Kelor bark (Moringa oleifera), Jarong leaf (Stachytarpheta mutabilis), Miana leaf (Coleus atropureus), Jengger Ayam leaf (Celosia cristata), and fruit of Libo (Ficus vargelata). Key words : East borneo medicinal plants, saponins   Abstrak Saponin adalah golongan senyawa alami yang memiliki aktivitas yang sangat terkait dengan pemanfaatan dalam bidang farmasi. Telah dilakukan eksplorasi kandungan metabolit sekunder  terhadap sejumlah tumbuhan obat yang ada di Kalimantan Timur dan beberapa diantaranya terbukti mengandung saponin. Tumbuhan-tumbuhan yang terbukti mengandung sponin dan dianggap potensial adalah daun Kokang (Lepisanthes amoena), daun Kesumbakeling (Bixa orellana, L), daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.), daun Sugi Gadjah (Hyptis capitata), daun Karamunting (Melastoma malabathricum L), kulit batang Cempedak (Artocarpus champeden), daun Wijaya Kusuma (Epiphyllum oxipetalum), biji Langsat (Lansium domesticum), daun ekor kucing (Acalypha hispida), Kulit Batang Kelor (Moringa oleifera), daun Jarong (Stachytarpheta mutabilis), daun Miana (Coleus atropureus), daun Jengger Ayam (Celosia cristata), buah Libo (Ficus vargelata). Kata Kunci: Tumbuhan Obat Kaltim; Saponin
Potensi Biji Kolowe (Chydenanthus excelsus) Sebagai Pisisidal Rijai, Laode
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol 1 No 3 (2011): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.062 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v1i3.29

Abstract

ABSTRACT   Kolowe seeds (C. excelsus) has strong potential as piscicidal. Research conducted on the potential piscicidal bioindikator swamp eel fish (Synbranchus bengalensis Mc.Cllel), which is one of the pests in shrimp ponds. The piscicidal test results of kolowe seeds to S.bengalensis fish are fresh seed powder (LC50 = 305, 50 ppm); dry powder (LC50 = 315.35 ppm); crude methanol extract (LC50 = 345.20 ppm); frakasi n-Butanol extract (LC50 = 265.85) and the fraction of ethylacetate extract (LC50 = 650.90). The results are quite robust and selective as the most dominant secondary metabolites are saponins.   Key words: C. excelsus, Piscicidal   ABSTRAK   Biji kolowe (C. excelsus) memiliki potensi yang kuat sebagai pisisidal. Penelitian potensi pisisidal dilakukan terhadap bioindikator ikan belut rawa (Synbranchus bengalensis Mc.Cllel) yang merupakan salah satu hama pada tambak udang. Hasil uji pisisidal biji kolowe terhadap ikan S.bengalensis tersebut adalah serbuk biji segar (LC50 = 305, 50 ppm); serbuk kering (LC50 = 315,35 ppm); ekstrak kasar metanol (LC50 = 345,20 ppm); ekstrak frakasi n-Butanol (LC50 = 265,85); dan esktrak fraksi etilasetat (LC50 = 650,90). Hasil penelitian tersebut cukup kuat dan selektif karena metabolit sekunder paling dominan adalah saponin.   Kata Kunci: Biji C. excelsus, pisisidal
Inovasi Pendidikan Tinggi Kimia Indonesia: Suatu Konsep Pemikiran Paradigma Baru Rijai, Laode
PROSIDING SEMINAR KIMIA SEMINAR NASIONAL KIMIA 2013
Publisher : PROSIDING SEMINAR KIMIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelompokan bidang ilmu/rumpun ilmu di Indonesia untuk kebutuhan pengelolaan kelembagaan didasarkan pada peran atau fungsi keilmuan tersebut pada aplikasi dan bukan pada kesamaan atau kemiripian materi kajian keilmuan.Hal ini telah mengakibatkan pemborosan sumberdaya terutama fasilitas laboratorium dan sumberdaya manusia khususnya staf pengajar. Laboratorium merupakan sumber belajar suatu Program Studi akan memiliki fasilitas dan desain yang sama dengan laboratorium Program Studi lainnya yang memiliki kesamaan atau kemiripan materi kajian.Hal ini terjadi pada keilmuan Kimia yaitu tergabung dalam Fakultas Matametika dan Ilmu Pengetahuan Alam untuk Program Studi Kimia, dan Program Pendidikan Kimia tergabung dalam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, serta Kimia Teknik tergabung dalam fakultas teknik atau lembaga tersendiri. Pengelolaan kelembagaan yang demikian itu telah berakibat pada pemborosan sumberdaya yaitu suatu Perguruan Tinggi akan memiliki sarana dan parasarana laboratorium yang sama pada beberapa fakultas, demikian pula untuk tenaga pengajar.Selanjutnya, keilmuan kimia pada Pendidikan Tinggi Kimia Indonesia terus menurun peminatnya dari tahun ke tahun karena keilmuan kimia tetap konsisten sebagai ilmu dasar dan enggan melanjutkan kajian pada terapan langsung terkait kebutuhan mahluk hidup.Dalam filsafat ilmu, ilmu kimia menempati seluruh strata ilmu pengetahuan yaitu mulai dari perihal mendasar hingg aplikatif, namun pada kenyataannya hanya peran sebagai dasar keilmuan untuk aplikatif. Jika kita menelaah lebih detail definisi ilmu kimia yaitu mengkaji materi dan perubahannya, seharusnya tidak terbatas pada materi yang namanya atom, unsur, dan senyawa, akan tetapi seluruh materi di jagat ini melibatkan proses perubahan kimia dan fisika. Karena itu sangatlah mudah merumuskan Program Studi Kajian Kimia yang berorientasi pada terapan langsung yang terkait dengan kebutuhan mahluk hidup.Terapan-terapan kimia secaralangsungsaat ini justru muncul bukan dari para ahli kimia tetapi dari para pemanfaat ilmu kimia.Oleh karena itu diperlukan pemikiran baru tentang pengembangan Pendidikan Tinggi Kimia di Indonesia, antara lain membentuk Fakultas Kimia yang mengelola Program Studi-Program Studi berbasis keilmuankimia dan terus mengembangkan Program Studi Baru tentang Kimia yang terkait secara langsung dengan kebutuhan masyarakat.Pengkajian perihal tersebut dapat dimulai dari pembentukan wadah asosiasi untuk keperluan diskusi para ahli kimia di Indonesia dalam mengembangkan kelembagaan Pendidikan Tinggi Kimia di Indonesia.
FLAVONOLS FROM THE LEAVES LYGODIUM MICROPHYLLUM (LYGODIACEAE) Kuncoro, Hadi; Farabi, Kindi; Julaeha, Euis; Rijai, Laode; Shiono, Yoshihito; Supratman, Unang
Jurnal Kimia (Journal of Chemistry) Vol. 11. No. 1 Januari 2017
Publisher : Program Studi Kimia, FMIPA, Universitas Udayana (Program of Study in Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Udayana University), Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JCHEM.2017.v11.i01.p02

Abstract

Flavonol compounds, quercetin (1) and quercetin-3-O-?-D-glucopyranoside (2) have been isolated from the ethyl acetate extract of Lygodium microphyllum leaves. The chemical structures of flavonol compounds were identified based on spectroscopic data and by comparison of spectral data obtained previously. The discovery of flavonol compounds in Lygodium microphyllum was shown in this study for the first time.
PENENTUAN KRITERIA ILMIAH POTENSI TUMBUHAN OBAT UNGGULAN Rijai, Laode
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol 1 No 2 (2011): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.383 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v1i2.20

Abstract

ABSTRACT   There is no new name for prime Medisinal plants which can be used to asses medicinal plants. Used of the term is done  intuitively by decision makers of the management section or utilization of medicinal plants, which eventually became a name. The study is scientifically to determine the scientific criteria of prime medicinal plants has been done. The method used for the assessment is discussion with expert respondents using multiple methods of decision making. Respondents who used the expert academics and practitioners. Academics consists of expertise Natural Product chemistry, Natural Product Pharmaceuticals (Phamacognosy), Environmental Science, Forestry sciences, and Natural medicine industry. The result of the determination of criteria for assessment of scientific research prime plants found in five criteria (a) The diversity of usefulness / efficacy of a medicinal plant possessed (b) types of diseases can be cured by a medicinal plants (c) easy cultivation of medicinal plants (d) diversity of secondary metabolites content in a medicinal plant (e) type of organ or plant part used as medicine. The five criteria have been validated by using 9 kinds of herbs that have been deemed superior by the Indonesian Food and Drug Administration.   Key words: Scientific criteria, prime medicinal plants, study   ABSTRAK   Istilah tumbuhan obat unggulan belum ada kriteria ilmiah yang dapat digunakan untuk menilai suatu tumbuhan obat. Penggunaan istilah tersebut dilakukan secara intuisi oleh pengambil keputusan dalam bidang pengelolaan atau pemanfaatan tumbuhan obat, yang akhirnya menjadi suatu istilah. Telah dilakukan pengkajian secara ilmiah untuk menentukan kriteria ilmiah tumbuhan obat unggulan. Metode yang digunakan untuk pengkajian tersebut adalah diskusi dengan responden ahli dengan memanfaatkan beberapa metode pengambilan keputusan. Responden ahli yang digunakan adalah akademisi dan praktisi. Akademisi terdiri dari keahlian Kimia Bahan Alam Hayati, Farmasi Bahan Alam (Farmakognosi), Ilmu Lingkungan, ilmu Kehutanan, dan pelaku industri obat alami. Hasil penelitian pengkajian penentuan kriteria ilmiah tumbuhan unggulan ditemukan lima kriteria yaitu (a) Keragaman kegunaan/khasiat yang dimiliki suatu tumbuhan obat (b) jenis penyakit yang dapat disembuhkan oleh suatu tumbuhan obat (c) kemudahan budidaya suatu tumbuhan obat (d) keragaman kandungan metabolit sekunder dalam suatu tumbuhan obat (e) jenis organ atau bagian tumbuhan yang digunakan sebagai bahan obat. Kelima kriteria tersebut telah divalidasi dengan menggunakan 9 jenis tumbuhan obat yang telah dianggap unggul oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan.   Kata Kunci : Kriteria ilmiah, Tumbuhan obat unggulan, pengkajian.
POTENSI TUMBUHAN LIBO (Ficus variegata, Blume) SEBAGAI SUMBER BAHAN FARMASI POTENSIAL Rijai, Laode
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol 2 No 3 (2013): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.053 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v2i3.63

Abstract

Libo (Ficus varieagata) merupakan tumbuhan liar yang belum termanfaatkan dalam bentuk apapun, termasuk secara tradisional karena tumbuhan ini memiliki latex pada buah dan kulit batangnya dan jika latex tersebut mengenai kulit menimbulkan gatal-gatal bahkan terjadi iritasi. Sifat ini yang menyebabkan tidak disukai hewan pemakan buah sehingga buahnya terpelihara dengan baik. Buah Libo yang telah matang di pohon akan jatuh ke tanah lalu tumbuh menjadi pohon Libo dewasa.Potensi tumbuhan Libo berbuah terus menerus dan buahnya tidak disukai hewan pemakan buah sehingga populasi tumbuhan Libo terpelihara dan terus berkembang. Telah dilakukan berbagai penelitian terhadap buah Libo kaitannya dengan potensi kefarmasian dan terbukti berpotensi sebagai sumber bahan antioksidan, sitotoksik atau antikanker, pembasmi larva A. aegypti, dan sebagai antibakteri. Potensi-potensi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pengawet, obat antikanker, dan sumber antibiotik jika penelitiannya dilakukan secara detail. Buah Libo juga mengandung golongan metabolit sekunder yang sangat bervariasi sehingga masih memungkinkan untuk kegunaan-kegunaan lainnya dalam bidang farmasi. Kata Kunci: Tumbuhan Libo (Ficus variegata), bahan farmasi potensial    ABSTRACT Libo ( Ficus varieagata ) is a wild plant that has not been utilized in any form , including traditional because it has latex plant fruit and bark , and if the latex on the skin cause itching occurs even irritation . The nature of that cause undesirable fruit so that the fruit -eating animals are well maintained . Libo ripe fruit on the tree will fall to the ground and grow into a tree Libo Libo dewasa.Potensi plant fruiting and fruit continuously disliked fruit -eating animals that populations of plants Libo maintained and continues to grow . Has conducted numerous studies on fruit Libo relation with potential pharmaceutical and proven potential as a source of antioxidant , cytotoxic or anticancer , exterminator larval A. aegypti , and as an antibacterial . These potentials can be used as a preservative , an anticancer drug , and a source of antibiotics if the research is done in detail . Libo fruit also contains a group of secondary metabolites are highly variable so it still allows for other uses - uses in the pharmaceutical field . Key Words: Tumbuhan Libo (Ficus variegata), bahan farmasi potensial
BIOAKTIVITAS BIJI KOLOWE (CHYDENANTHUS EXCELSUS) TERHADAP LARVA NYAMUK AEDES AEGYPTY Rijai, Laode
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol 1 No 1 (2010): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.087 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v1i1.8

Abstract

ABCTRACT   Kolowe seed (Chydenanthus excelsus) bioactivity against Aedes aegypti masquito larvae was investegated. Assay of Kolowe seed preparation used fresh seed powder, dry powder, rough extract (methanol extract), n- butanol extract fraction, and aethyl acetate extract fraction. Plant material taken from Kamaru, Buton, Indonesia on March 2007. Fresh powder bioactivity (LC50 = 230.60 ppm); dry powder (LC50 = 225.55 ppm); rough extract/ methanol (LC50 = 245.70 ppm); n- butanol extract fraction (LC50 = 235.75 ppm); aethyl acetate extract fraction (LC50 = 250.55 ppm). The research results illustrated that the bioactivity seed from kolowe strong enough against mosquito larvae A. aegypti and dry powder has a stronger bioactivity than the other.   Keywords : Kolowe Seed (Chydenanthus excelsus), Aedes aegypti mosquito larvae     ABSTRAK   Penelitian bioaktivitas biji kolowe (Chydenanthus excelsus) terhadap larva nyamuk Aedes aegypti telah dilakukan. Sediaan biji kolowe yang diuji adalah serbuk biji segar, serbuk kering, ekstrak kasar (ekstrak metanol), ekstrak fraksi n-butanol, dan ekstrak fraksi etilasestat. Bahan tumbuhan diambil dari Kamaru, Buton, Indonesia pada bulan Maret 2007. Bioaktivitas serbuk segar (LC50 = 230,60 ppm); serbuk kering (LC50 = 225,55 ppm); ekstrak kasar/metanol (LC50 = 245,70ppm); ekstrak fraksi n-butanol (LC50 = 235,75 ppm); ekstrak fraksi etilasetat (LC50 = 250,55 ppm). Hasil penelitian tersebut menggambarkan bahwa bioaktivitas biji kolowe cukup kuat terhadap larva nyamuk A. aegypti dan serbuk kering memiliki bioaktivitas lebih kuat dari lainnya.   Kata Kunci: Biji Kolowe (Chydenanthus excelsus), larva nyamuk Aedes aegypti
ANTIOXIDANT ACTIVITY OF SOME SELECTED EAST BORNEO PLANTS Ahmad, Islamudin; Sulistiarini, Risky; Rijai, Laode
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 4, No 1: March 2015
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijphs.v4i1.4712

Abstract

The native plants of East Borneo the Costus specious (Koening) J.E. Smith stem, Lagerstroema spesiosa Pers leaf, Cerbera mangans L leaf, Vitis trifolia L fruit., Scurrula atropurpurea (Blume) Danser root, Brucea javanica (L.) Merr. leaf, Lygodium microphyllum, Bidens Chinensis Willd., Sonneratia caseolaris L. peel, Sonneratia caseolaris L. stem is almost under-explored for their potensial benefits. They were extracted by the solvents of increasing polarity (n-hexane, ethyl acetate, and n-butanol) were tested for their free radical activity against DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). The ethyl acetate extract of Costus spesiosus (Koening) J. E. Smith antioxidant were screnned concentration of 68 ppm, similarly athyl acetate extract of Vitis trivolia L., showed antioxidant activity at 64,30 ppm. As the ethyl acetate extract of Scurrulla atropurpurea (Blume), Brucea javanica (L.) Merr, Lygodium microphyllum and Sonneratia caseolaris L. stem, showed antioxidant activity at 273,52 ppm, 91,12 ppm, 17,39 ppm and 7,03 ppm. N-butanol extract of Lagerstroema spesiosa Pers, Cerbera mangans L, Bidens chinensis Willd, and Sonneratia caseolaris L. peel showed 8,37 ppm, 128,59 ppm, 18,17 ppm and 54,29 ppm antioxidant activity using DPPH model systems. Owing to the property, the studies can be further extended to exploit them for their possible application for preservation of food products as well as their use as health supplements.
A TRITERPENOID SAPONIN FROM SEEDS OF KOLOWE (Chydenanthus excelsus) Rijai, Laode; Sutardjo, Supriyatna; Bahti, Husein Hernandi; Supratman, Unang; Rumampuk, Rymond J.; Taylor, W.C.
Indonesian Journal of Chemistry Vol 4, No 3 (2004)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.279 KB) | DOI: 10.22146/ijc.21854

Abstract

A triterpenoid saponin have been isolated from n-butanol fraction of the seeds of kolowe (Chydenanthus excelsus). The structure was determined as 3-O-[β-D-glucopyranosyl(1→3)-β-D-xylopyranosyl(1→3)- β - D-glucuronopyranosyloxy]- 22α -O-(2-methylbutiroyloxyolean-12-en-15α,16α,28-tri-hydroxy. Structure elucidation was accomplished by NMR (HMBC, HMQC/HSQC, ROE, ROESY, TOCSY) methods, ESIMS, and IR spectroscopic.   Keywords: Chydenanthus excelsus, Lecythidaceae, Triterpenoid saponin