Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Media Kesehatan Masyarakat Indonesia

STATUS GIZI, STATUS KESEHATAN DAN GAYA HIDUP PADA WANITA LAKTO VEGETARIAN DAN NON VEGETARIAN Astuti, Widya; Riyadi, Hadi; Anwar, Faisal; Sutiari, Ni Ketut
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 15, No 2: JUNI 2019
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.386 KB) | DOI: 10.30597/mkmi.v15i2.6223

Abstract

Vegetarian diet merupakan salah satu gaya hidup. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan status gizi, status kesehatan, dan gaya hidup serta menganalisis hubungan status gizi, status kesehatan dengan gaya hidup pada kelompok lakto vegetarian dan nonvegetarian. Desain studi yang digunakan yaitu cross sectional study dengan melibatkan 80 wanita usia 40-65 tahun sebagai subjek yang terbagi menjadi 2 kelompok dan pengambilan data dilakukan di Provinsi Bali. Data analisis menggunakan Man Whitney U Test dan uji hubungan menggunakan Rank Spearman. Penelitian ini didanai oleh Neys-van Hoogstraten Foundation, the Netherlands. Pengumpulan data karaktersit subjek menggunakan kuesioner terstruktur, dan untuk atropometri dilakukan penguran secara langsung. Subjek non vegetarian yang termasuk kedalam kategori obesitas (50%) dan hipertensi (37,5%)  lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok lakto vegetarian. Sebanyak 70% subjek lakto vegetarian termasuk kedalam kategori anemia. Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan status gizi, status anemia, dan konsumsi kopi pada kedua kelompok subjek (p<0,05). Hasil uji hubungan menunjukan tidak ada hubungan antara status gizi dengan gaya hidup dan status kesehatan dengan gaya hidup pada kelompok lakto vegetarian dan non vegetarian (p>0,05). Penelitian ini menunjukan status gizi, status kesehatan, dan gaya hidup pada kelompok lakto vegetarian lebih baik dibandingkan dengan kelompok non vegetarian. Kelompok lakto vegetarian berisko lebih tinggi terkena anemia.
FAKTOR RISIKO ANEMIA PADA WANITA PEMETIK TEH Setyorini, Eryasih; Anwar, Faisal; Riyadi, Hadi; Khomsan, Ali
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 15, No 3: SEPTEMBER 2019
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.946 KB) | DOI: 10.30597/mkmi.v15i3.7008

Abstract

Anemia dikenal sebagai masalah kesehatan masyarakat selama bertahun-tahun, berdasarkan hasil Riskesdas 2018 diketahui prevalensi anemia sebesar 48,9%. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko yang memengaruhi terjadinya anemia pada wanita pemetik teh di daerah Pengalengan Bandung, Jawa Barat. Desain penelitian adalah cross-sectional dengan 148 subjek Wanita Usia Subur (WUS) berusia antara 18-45 tahun yang sudah menikah dan tidak sedang hamil yang dipilih secara purposive di Kebun Purbasari, Talun Santosa dan Sedep. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian yang didanai oleh Neys-van Hoogstraten Foundation (NHF). Data yang diperoleh adalah karakteristik subjek (usia, besar keluarga, lama dan tingkat pendidikan), pengeluaran pangan dan non pangan keluarga/bulan, status gizi dan komposisi tubuh, dan status anemia. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pekerja wanita pemetik teh berusia 40-44 tahun, dengan jumlah keluarga ?4 orang dan 72,3% dengan tingkat pendidikan rendah (89,9% berpendidikan maksimal SD). Rata-rata pengeluaran non pangan lebih besar daripada pengeluaran pangan. Berdasarkan berbagai indikator komposisi tubuh, secara umum pekerja wanita pemetik teh dalam kondisi berat badan berlebih (56,8%), lingkar lengan atas normal (98,6%). Rata-rata total lemak tubuh >32,1%, visceral fat normal (?9%), lingkar pinggang berisiko ?80 cm, dan RPP ?0,8 cm sebesar 81,1%. Prevalensi anemia pada wanita pemetik teh sebesar 42,6%. Overweight merupakan faktor yang paling berisiko terhadap anemia karena penimbunan lemak dapat menurunkan penyerapan zat besi sehingga jumlah hemoglobin menurun dan eritrosit mengecil. Umur sebagai faktor protektif. Anemia dapat dicegah melalui edukasi gizi, pola hidup sehat, dan pengendalian faktor penyebab serta predisposisinya.
KONSUMSI SAYUR DAN BUAH PADA SISWA SMP SEBAGAI IMPLEMENTASI PEDOMAN GIZI SEIMBANG Muthmainah, Fitriyah Nafsiyah; Khomsan, Ali; Riyadi, Hadi; Prasetya, Guntari
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 15, No 2: JUNI 2019
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.537 KB) | DOI: 10.30597/mkmi.v15i2.6222

Abstract

Indonesia dihadapkan pada dua masalah gizi yaitu gizi kurang dan gizi lebih sedangkan permasalahan gizi pada remaja cenderung lebih dominan untuk mengalami kelebihan berat badan, ini dapat dilihat dari prevalensi sangat gemuk (obesitas) remaja di Kabupaten Cianjur sebesar 10.6%. Oleh karena itu, konsumsi sayur dan buahbuahan sangat dianjurkan untuk menurunkan prevalensi kelebihan berat badan khususnya pada remaja. Pemerintah melalui Pedoman Gizi Seimbang menganjurkan konsumsi sayuran dan buah-buahan sejumlah 400 g per orang per hari yang terdiri dari 250 g sayur dan 150 g buah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi ketersediaan sayur dan buah di rumah, kontribusi sayur dan buah terhadap asupan vitamin, mineral dan serat dan hubungan antara praktik gizi siswa maupun ibu sebagai orang tua siswa terkait pedoman gizi seimbang dengan konsumsi sayur dan buah siswa. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional yang didanai oleh Neys-van Hoogstraten Foundation, the Netherlands dan dilakukan di SMPN 1 Cianjur dengan total subjek penelitian berjumlah 72 siswa. Data dianalisis menggunakan uji beda Mann Whitney dan uji hubungan Rank Spearman. Jumlah konsumsi sayur dan buah siswa belum sesuai dengan anjuran Pedoman Gizi Seimbang. Konsumsi sayur siswa dengan rata-rata 36.9±34.8 g per hari, sedangkan konsumsi buah siswa dengan rata-rata 203.2±112.9 g per hari. Terdapat hubungan yang signifikan (p<0.05) antara praktik gizi ibu serta praktik gizi siswa terkait PGS dengan konsumsi sayur dan buah siswa. Penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi sayur dan buah pada siswa belum terimplementasikan sesuai dengan anjuran Pedoman Gizi Seimbang sehingga perlu adanya dorongan kepada orangtua dalam rangka meningkatkan konsumsi sayur dan buah yang dapat memotivasi serta membiasakan siswa untuk mengonsumsi sayur dan buah di rumah.
AKSES SANITASI, MEROKOK DAN ANNUAL PARASITE INCIDENCE MALARIA SEBAGAI PREDIKTOR STUNTING BADUTA DI INDONESIA Wardani, Zenderi; Sukandar, Dadang; Baliwati, Yayuk Farida; Riyadi, Hadi
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 16, No 1: MARET 2020
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/mkmi.v16i1.9070

Abstract

Proporsi stunting baduta berada diatas 20%, mengindikasikan bahwa masih terjadinya masalah gizi kronis dan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Dampak stunting bukan saja berpengaruh terhadap perawakan dengan segala konsekuensi gangguan tumbuh kembang, akan tetapi berpengaruh terhadap produktifitas ekonomi suatu negara. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model prediksi responsif stunting pada baduta di Indonesia. Desain pengembangan model menggunakan formulasi matematis menggunakan data aggregate dari metadata indikator TPB/SDGs dan indikator harga pangan (beras dan telur). Data deret waktu dipilih sebanyak 16 variabel dari 34 provinsi di Indonesia dalam rentang waktu 4 tahun (2015?2018). Analisis data menggunakan metode regresi backward dengan perangkat lunak IBM SPSS Statistics version 22. Hasil penelitian menunjukkan rumah tangga yang memiliki akses terhadap layanan sanitasi layak (X9), kebiasaan merokok penduduk umur ?15 tahun (X14) dan Annual Parasite Incidence (API) malaria per 1000 penduduk (X12) merupakan prediktor yang responsif terhadap stunting baduta di Indonesia. Model prediksi dinyatakan dengan persamaan dengan nilai R2 sebesar 49,9% dan nilai Radj sebesar 44,9%, yang berarti akses sanitasi, merokok dan API malaria cukup baik digunakan untuk menduga prevalensi stunting baduta di Indonesia. Penelitian ini merekomendasikan pemenuhan akses fasilitas sanitasi rumah tangga, terutama pada wilayah endemis malaria dan rumah tangga memiliki anggota keluarga perokok.