Baskoro Rochaddi
Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Dr. Soedarto, Tembalang, Semarang, Indonesia. 50275

Published : 62 Documents
Articles

PENENTUAN BATAS DARATAN PESISIR KOTA SEMARANG DENGAN KONSEP BIOGEOFISIK Rochaddi, Baskoro
Buletin Oseanografi Marina Vol 2, No 3 (2013): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.982 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v2i3.6949

Abstract

Perencanaan untuk pengelolaan kawasan pesisir memerlukan batasan dan deskripsi mengenai kawasan daratan pesisir yang jelas. Permasalahan yang ada di Indonesia pada umumnya dan Kota Semarang pada khususnya adalah  belum ditetapkannya batas wilayah pesisir baik untuk perencanaan maupun operasionalnya, sehingga sampai sekarang wilayah daratan pesisir masih diperlakukan sama seperti wilayah daratan lainnya. Maka dari itu penelitian untuk mencari batas daratan pesisir,  sangat penting dilakukan di Kota Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan batas wilayah daratan pesisir di Kota Semarang dengan pendekatan biofisik. Penelitian lapangan dilakukan pada tanggal 21 Agustus ? 30 September 2004. Penelitian dilakukan di wilayah Kota Semarang, meliputi tiga sungai yaitu Sungai Plumbon, Sungai Banjir Kanal Barat, dan Sungai Banjir Kanal Timur. Adapun data intrusi air asin pada akuifer air tanah dangkal berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2000. Materi penelitian meliputi parameter biologi (makrozoobenthos, fitoplankton, dan mangrove) dan parameter fisik (jangkauan masuknya air laut di sungai, intrusi air laut pada akuifer dangkal, kajian teoritis geologi). Dari hasil analisis kedua parameter tadi, maka selanjutnya dapat ditarik batas wilayah daratan pesisir di daerah Kota Semarang. Hasil dari tumpang tindih peta berdasarkan parameter jangkauan masuknya air laut di sungai, intrusi air laut pada air tanah dangkal, makrozoobenthos, fitoplankton dan mangrove menunjukkan bahwa batas daratan pesisir Kota Semarang secara biofisik untuk Semarang bagian barat adalah 1,7 - 2,2 Km dari garis pantai, Semarang bagian tengah 1,9 ? 3,5 Km dari garis pantai dan untuk Semarang bagian timur 2,4 ? 4,8 Km dari garis pantai. Kata Kunci: batas biofisik, daratan pesisir, Semarang
PEMETAAN TINGKAT KERAWANAN ROB UNTUK EVALUASI TATA RUANG PEMUKIMAN DAERAH PESISIR KABUPATEN PEKALONGAN JAWA TENGAH Ilhami, Fadhly; Sugianto, Denny Nugroho; Rochaddi, Baskoro
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v3i4.11409

Abstract

Kabupaten Pekalongan merupakan salah satu Kabupaten di pesisir utara Jawa yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Seperti kebanyakan daerah di pesisir utara, Kabupaten Pekalongan tidak luput dari permasalahan banjir rob. Penyebabnya adalah kenaikan muka air laut (Sea Level Rise), penurunan tanah (land subsidence), dan tentu saja pemanasan global (global warming). Adanya banjir rob ini tentu sangat merugikan aktifitas manusia dan merusak berbagai infrastruktur pemukiman, industri, dan fasilitas-fasilitas lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan tingkat kerawanan banjir rob terhadap pemukiman penduduk di Kabupaten Pekalongan, untuk kemudian dilakukan evaluasi terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pekalongan Tahun 2010-2030. Parameter yang digunakan untuk menentukan tingkat kerawanan adalah ketinggian tanah, penurunan tanah, jarak dari bibir pantai, dan jarak dari sungai. Masing-masing parameter tersebut diberi bobot yang berbeda untuk kemudian dilakukan metode overlay atau tumpang susun dengan bantuan software ArcGIS 10. Hasil pengolahan data diketahui bahwa daerah rawan genangan rob di pesisir Kabupaten Pekalongan mencapai luas 586,294 Ha, yang meliputi 3 kecamatan. Sebagian dari wilayah rawan tersebut mengenai kawasan pemukiman, sehingga tata ruang pemukiman Kabupaten Pekalongan perlu dilakukan evaluasi untuk mengurangi dampak negatif banjir rob bagi masyarakat.
APLIKASI CITRA SENTINEL-2 UNTUK PEMETAAN SEBARAN MATERIAL PADATAN TERSUSPENSI DI MUARA SUNGAI WULAN DEMAK Prasetiyo, Bayu Adi; Rochaddi, Baskoro; Satriadi, Alfi
977-2407769
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v8i4.25193

Abstract

ABSTRAK : Sungai Wulan yang terletak di Kabupaten Demak digunakan masyarakat sebagai jalur keluar dan masuknya kapal nelayan serta saluran pembuangan utama. Hal tersebut berdampak pada besarnya kandungan material padatan tersuspensi yang terdapat pada sungai. Pengamatan sebaran material padatan tersuspensi dibutuhkan untuk mengetahui pola sedimentasi dan penilaian kualitas air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran material padatan tersuspensi di muara Sungai Wulan menggunakan metode pengindraan jauh. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra satelit Sentinel-2 dan konsentrasi material padatan tersuspensi hasil uji gravimetri. Pengolahan data menggunakan algoritma Lemigas (1997), Budhiman (2004), Parwati (2006), Laili (2015) dan Metode Regresi (Linear, Eksponensial dan Logaritmik). Hasil analisis data menunjukkan bahwa konsentrasi material padatan tersuspensi di sekitar muara relatif rendah, sedangkan konsentrasi yang tinggi terdapat di arah timur muara sungai atau di daerah yang berupa teluk. Algoritma yang memiliki nilai error terkecil adalah algoritma Metode Regresi dengan MRE sebesar 10,12% dengan nilai RMSE sebesar 4,3493. Berdasarkan hasil yang didapat, dapat disimpulkan jika algoritma Metode Regresi merupakan algoritma yang paling sesuai untuk pemetaan sebaran material padatan tersuspensi di muara Sungai Wulan, Demak. ABSTRACT : The Wulan River which located in Demak Regency is used by people as an entrance point for fishing boats and the main sewers. These have an impact on the amount of total suspended solid contained in the river. Observation about the distribution of total suspended solid is needed to determine sedimentation patterns and water quality assessments. The purpose of this study is to determine the distribution of total suspended solid at the Wulan River estuary using remote sensing method. The data used in this study is Sentinel-2 satellite imagery and the concentration of total suspended solid from gravimetric test. Processing data using Lemigas algorithm (1997), Budhiman (2004), Parwati (2006), Laili (2015) and Regression Method (Linear, Exponential and Logarithm). The results of data analysis show that the total suspended solids distribution at the estuary is relatively low, while the high consentration of total suspended solid is found at the east of the river estuary or in the area that form a bay. Algorithm that has the smallest error value is the regression algorithm with MRE value is 10.12% and RMSE value is 4.3493. Based on the results obtained, it can be concluded that the algorithm with regression method is the most suitable algorithm for mapping the distribution of total suspended solid at the mouth of the Wulan River, Demak.  
KAJIAN SPASIAL SUHU PERMUKAAN LAUT AKIBAT AIR BAHANG PLTU PAITON MENGGUNAKAN SALURAN TERMAL SATELIT LANDSAT 7/ETM+ DI PANTAI BHINOR KABUPATEN PROBOLINGGO JAWA TIMUR Ismayati, Qorihah; Helmi, Muhammad; Rochaddi, Baskoro
Journal of Oceanography Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian bertujuan untuk memetakan secara horisontal suhu permukaan laut di perairan PLTU Paiton Probolinggo dan mengkaji sebaran spasial termal perairan akibat air bahang PLTU Paiton Probolinggo. Pengolahan data citra dilakukan menggunakan perangkat lunak ER Mapper 7.0 dan ArcGIS 9.3. Data yang digunakan dalam penelitian adalah citra Satelit Landsat 7ETM+ tahun 2009 hingga tahun 2012, data arus permukaan dan angin yang diperoleh dari BMKG Maritim Perak Surabaya dan data hasil pengukuran lapangan bulan Februari 2012. Kenaikan suhu permukaan perairan kompleks PLTU Paiton Probolinggo akibat air bahang berkisar  dari  yang  terendah  28 °C  hingga suhu  tertinggi 36 °C yang berada pada mulut saluran buangan PLTU. Luasan area perairan yang mengalami kenaikan suhu permukaan akibat air bahang bervariasi mulai dari 2,07  hingga mencapai 35,65 . Arah pergerakan air bahang dipengaruhi oleh arus yang dibangkitkan oleh sistem angin monsun.
STUDI POLA ARUS DAN SEBARAN MUATAN PADATAN TERSUSPENSI DI MUARA SUNGAI LASEM, KABUPATEN REMBANG Pasaribu, Fridholin Hatoguan; Rochaddi, Baskoro; Sugianto, Denny Nugroho
Journal of Oceanography Vol 3, No 4 (2014)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Muara sungai Lasem mengalami pendangkalan akibat pengendapan sedimen tersuspensi. Pendangkalan ini akan berdampak negatif terhadap kondisi perairan antara lain; terhambatnya aliran sungai ke laut dan alur pelayaran kapal nelayan terganggu.  Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pola sebaran konsentrasi sedimen tersuspensi dan pengaruh arus terhadap sebaran konsentrasi sedimen tersuspensi di perairan Lasem, Kabupaten Rembang.Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan memanfaatkan dan mengelola lingkungan muara sungai antara lain normalisasi muara sungai dan dasar perencanaan untuk mengatasi pendangkalan.Materi yang digunakan dalam penelitian ini data primer  terdiri dari sampel sedimen tersuspensi dan arus tanggal 12 sampai dengan 15 April 2014, sedangkan data sekunder diantara lainnya, Peta LPI, Peta RBI dan data pengamatan  pasang surut selama 15 hari dari tanggal 12 sampai dengan 27 April 2014 . Pemodelan arus menggunakan model 2Ddepth average pada ADCIRC dan analisis spasial pada ArcGIS10.1 untuk sebaran sedimen tersuspensi dengan metode interpolasi spline. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai konsentrasi sedimen tersuspensi saat kondisi pasang dan saat surut di perairan Lasem berkisar antara 0,1-0,4 g/l. Hasil analisis bahwa pola arus di perairan Lasem dipengaruhi oleh arus pasut. Arus pasang membawa sedimen tersuspensi dari laut mengendap di muara sungai serta saat arus surut sedimen tersuspensi yang berada di muara sungai terbawa arus menuju laut dan menyebar. Kecepatan arus di kedalaman 0,2d berkisar antara 0,003 ? 0,369 m/dt, 0,6d kecepatan arus antara 0,004 ? 0,278 m/dt dan Kedalaman 0,8d kecepatan arus antara 0,001 ? 0,253 m/dt dengan arah dominasi arus ke arah barat laut, timur dan tenggara. 
KAJIAN KONDISI ARUS DAN SEBARAN SEDIMEN DASAR PADA SAAT MUSIM TIMUR DI PERAIRAN SEMARANG - DEMAK Permana, Hendra; Hariadi, Hariadi; Rochaddi, Baskoro
Journal of Oceanography Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSpasi : 1 -------------------------------------------------------------------------------------------------Pemilihan lokasi untuk wilayah pengembangan pelabuhan tergantung pada beberapa faktor seperti geologi, sedimen dasar, kedalaman, gelombang, arus dan sedimentasi. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi tentang kondisi oseanografi agar dapat menunjang dalam kegiatan pengembangan wilayah pesisir maupun pengembangan suatu pelabuhan. Penelitian ini hanya sebatas memberikan informasi tentang sebaran jenis sedimen dasar yang berupa pasir, lanau dan lempung dan kondisi arus yang berada diperairan Semarang ? Demak. Data yang diambil merupakan data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data arus yang didapat dari pemasangan alat ADCP (Acoustic Doppler Current Profiler) di dasar perairan dan sedimen perairan yang diambil dengan alat sedimen grab, sedangkan data skunder berupa data peta kontur kedalaman lokasi penelitian dan peramalan pasang surut pada bulan penelitian. Untuk analisa butir sedimen diketahui bahwa jenis sedimen, di dominasi oleh jenis pasir, dengan persentase dari 50 % sampai dengan 95,55 %, %, kandungan lanau dengan kisaran  4,45 % sampai dengan 41,55 %, sedangkan lempung kisaran antara 0 % sampai dengan 12,42 %. Jenis arus yang mendominasi di perairan Semarang adalah arus pasang surut dengan persentase dominasi arus pasang surut sebesar 84,079 % dan persentase dominasi arus residu (non pasang surut) sebesar 15,921 %. Kecepatan arus maksimum dalam pengukuran adalah 0,184 m/detik pada arah 212,8 NE, dan kecepatan arus minimum adalah 0,002 m/detik pada arah 333,4 NE. Dapat di artikan  arus perairan relatif tenang.
ANALISA LAJU SEDIMENTASI DI MUARA SUNGAI KARANGSONG, KABUPATEN INDRAMAYU Adrianto, Bayu; Hariyadi, Hariyadi; Rochaddi, Baskoro
Journal of Oceanography Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sungai Karangsong terletak di Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Sungai Karangsong pada mulanya merupakan anak sungai Cimanuk. Tetapi sejak pembangunan bendungan Waledan pada tahun 2011, sungai Karangsong merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terpisah dari sungai Cimanuk. Dalam 1 minggu bisa terjadi 1-2 kali pengerukan sedimen di alur sungai dan muara sungai Karangsong karena terjadinya pendangkalan. Sehubungan dengan kondisi yang terjadi di sungai dan perairan sekitar muara sungai Karangsong, maka perlu dilakukan analisa untuk mengetahui nilai laju sedimentasi dan faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan data utama dan data pendukung. Data utama, meliputi contoh sedimen dan data arus. Sedangkan untuk data pendukung, meliputi data pasang surut dan peta Rupa Bumi Indonesia Kota Indramayu. Pengambilan contoh sedimen dilakukan selama 15 hari menggunakan alat sediment trap dengan interval waktu pengambilan contoh sedimen selama 3 hari 1 kali pengambilan. Penempatan sediment trap dilakukan di 7 lokasi, yaitu  1 sediment trap di alur sungai, 1 sediment trap di muara sungai dan 5 sediment trap di perairan sekitar muara sungai Karangsong. Pengukuran data arus dilakukan selama 25 jam dengan interval waktu pengambilan data adalah 1 jam. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, dapat diketahui nilai laju sedimentasi yang terdapat di setiap lokasi penelitian. Lokasi 1 di alur sungai nilai laju sedimentasinya yaitu 108,8 g/m²/hari. Lokasi 2 di muara sungai nilai laju sedimentasinya yaitu 101,3 g/m²/hari. Lokasi 3-7 di perairan sekitar muara sungai nilai laju sedimentasinya bervariasi tetapi tidak lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi 1 dan 2. Nilai kecepatan arus maksimum di perairan Karangsong adalah 0,08849 m/s, nilai kecepatan arus minimum adalah 0,03731 m/s, sehingga diperoleh nilai rata-rata kecepetan arusnya adalah 0,0629 m/s.
SEBARAN SEDIMEN DASAR DI MUARA SUNGAI SAMBAS KALIMANTAN BARAT Harjono, Rani Dewi Fortuna; Rochaddi, Baskoro; Atmodjo, Warsito
Journal of Oceanography Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Muara Sungai Sambas merupakan pintu masuk bagi kapal nelayan yang akan melakukan aktivitas bongkar muat hasil tangkapan di TPI Pemangkat. Tingginya sedimentasi di muara Sungai Sambas berpotensi menyebabkan pendangkalan di area muara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari sebaran sedimen dasar di muara Sungai Sambas Provinsi Kalimantan Barat. Metode yang dgunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Pengolahan data menggunakan analisa granulometri. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data sedimen dasar, arus, pasang surut serta data penunjang berupa peta batimetri, peta RBI, data gelombang, data debit sungai. Berdasarkan pengolahan data, bahwa jenis sedimen yang berada pada muara Sungai Sambas adalah lanau pada daerah badan sungai dan lanau pasiran pada daerah muara sungai hingga laut lepas. Jenisarus yang mendominasi di muara Sungai Sambas adalah arus pasang surut. Tipe pasang surut yaitu campuran condong keharian ganda. Potensi sedimentasi terjadi di sekitar muara Sungai Sambas yang merupakan alur pelayaran Pelabuhan Perikanan Nusantara. Berkaitan dengan hal tersebut, maka dilakukan penelitian tentang arus dan sedimen dasar di perairantersebut.
ANALISIS LAJU SEDIMENTASI DI PERAIRAN MUARA SUNGAI WARIDIN KABUPATEN KENDAL Srijati, Satrio; Rochaddi, Baskoro; Widada, Sugeng
Journal of Oceanography Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Muara Sungai Waridin berada di Desa Wonorejo, Kabupaten Kendal. Sungai Waridin yang bermuara di Laut Jawa pada awalnya dibangun untuk menanggulangi banjir. Namun, kapasitas aliran berkurang karena sungai tersebut dipenuhi sedimen khususnya di daerah muara. Proses sedimentasi yang terjadi akan menimbulkan pendangkalan yang dapat menghambat aliran sungai ke laut dan menyebabkan banjir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya nilai laju sedimentasi di muara Sungai Waridin. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu penelitian lapangan pada tanggal 12 ? 24 Mei 2016 dan analisa laboratorium pada bulan Juni hingga Juli 2016. Data primer pada penelitian ini meliputi sampel sedimen di sediment trap, arus, debit sungai, dan sedimen suspensi. Data sekunder pada penelitian ini berupa pasang surut BMKG Semarang, peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), Peta Bathimetri, dan google earth image 2016. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan penentuan pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan nilai rata-rata laju sedimentasi di setiap stasiun berkisar antara 0,446 kg//hari ? 0,655 kg//hari. Total nilai laju sedimentasi dari setiap stasiun pada pengambilan pertama 4,529 kg//hari, pengambilan kedua 4,452 kg//hari, pengambilan ketiga 4,423 kg//hari, dan pengambilan keempat 4,420 kg//hari. Jenis sedimen di perairan muara Sungai Waridin yaitu pasir (sand), pasir lanauan (silty sand), dan lanau pasiran (sandy silt). Tipe pasang surut di perairan muara Sungai Waridin pada bulan Mei 2016 adalah tipe pasang surut campuran (dominan tunggal). 
PENGARUH ARUS TERHADAP SEBARAN MATERIAL PADATAN TERSUSPENSI DI PERAIRAN BENTENG PORTUGIS, KABUPATEN JEPARA Perwira, Thomas Agung; Rochaddi, Baskoro; Hariyadi, Hariyadi
Journal of Oceanography Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Belum adanya penelitian tentang sebaran sedimen tersuspensi membuat kurangnya informasi bagi pengelola serta wisatawan dalam aspek keselamatan pengunjung yang hendak berwisata. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh arus laut terhadap sebaran MPT di perairan Benteng Portugis, Kabupaten Jepara. Penelitian ini dibagi dalam dua tahap yaitu survey lapangan dan tahap pemodelan numerik dengan software Seasurface Modeling System (SMS) sub model ADCIRC untuk pola arus.  Tahap pemodelan numerik dengan modul ADCIRC dengan inputan bathimetri yang didapat dari Peta LPI Gedong, data pasang surut.. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan penentuan lokasi dengan purposive sample. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa nilai konsentrasi sedimen tersuspensi di perairan Benteng Portugis saat pasang pada kedalaman 0,2d   berkisar antara antara 0,1 mg/l -0,3 mg/l, pada kedalaman 0,6d berkisar antara 0,1 mg/l -0,3 mg/l, dan pada kedalaman 0,8d berkisar antara 0,1 mg/l -0,4 mg/l. Pada saat surut  pada kedalaman 0,2d berkisar antara 0,1 mg/l -0,3 mg/l, pada kedalaman 0,6d berkisar antara 0,1 mg/l -0,5 mg/l, dan pada kedalaman 0,8d berkisar antara 0,1 mg/l -0,4 mg/l. ont-fa?_:T85??Roman";mso-bidi-theme-font:minor-bidi'> memiliki tipe pasang surut condong harian tunggal (F=2,45), dimana nilai MSL 71,4 cm, HHWL 129,1 cm, LLWL 13,8 cm, MLWL 38,8 cm, dan MHWL 67 cm. Nilai kedalaman untuk alur dihitung dengan menggunakan LLWL sebagai titik acuan,dengan kedalaman perairan aman di depan dermaga yang dibutuhkan adalah 1,5 m untuk melayani draftkapal perikanan terbesar, dan harus memutar melewati Pulau Sambangan dan Pulau Seruni dan melalui daerah timur Pulau Genting untuk memasuki dermaga Pulau Genting.Kedalaman dangkal pada daerah sekitar pantai disebabkan adanya gugusan/benting karang di sekitar pulau tersebut.