p-Index From 2015 - 2020
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal MEDIA MATRASAIN
Octavianus Hendrik Alexander Rogi
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

ARSITEKTUR TANPA TEKUKAN (UNFOLDING ARCHITECTURE) Sinuraya, Elda Siska; Rogi, Octavianus Hendrik Alexander
MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPada tahun 1988, Gilles Deleuze seorang filsuf Prancis, mengeluarkan sebuah karya yang pada awal perkembangannya kurang popular di dunia arsitrektur, yaitu konsep The Fold atau dikenal dengan Deleuzian. Dalam bukunya, The Fold: Leibniz and the Baroque (Le Pli: Leibniz et le Baroque), Deleuze menggambarkan fold dan unfold sebagai sebuah ?object-even.? Ia berpendapat dalam studinya bahwa objek tidak hanya dapat dijelaskan dengan bentuk, tetapi dapat dikaitkan dengan waktu. Konsep Deleuzian yang pada saat itu mengalami kegagalan dalam menarik minat publik, diangkat kembali oleh Peter Eisenman ke dalam dunia arsitektural dengan pendekatan yang berbeda dalam versinya sendiri pada tahun 1991. Dalam perkembangannya proses desain Eisenman dalam fold dan unfold lebih mengarah ke digitalisasi. Pasca Eisenman mengkaji konsep Deluzian, semakin banyak arsitek yang mencoba untuk mengkaji konsepDeluzian dalam suatu strategi perancangan arsitektural.Kata kunci : Object-even, fold dan unfold, digitalisasi.
PEDOMAN PENULISAN NASKAH 2014 Rogi, Octavianus Hendrik Alexander
MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pedoman Penulisan Naskah v Kategori naskah ilmiah hasil riset/penelitian, kritik, ulasan/apresiasi, essay. v Naskah dituliskan dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris diketik pada kertas ukuran A4. Spasi 1,5 dengan batasan margin atas, kanan dan bawah 3cm, batas kiri 4 cm dari tepi kertas. Panjang naskah/artikel maksimum 15 halaman termasuk Daftar Pustaka. Huruf Times New Roman, ukuran font 10, huruf tegak. v Judul singkat, jelas, ditulis format font 11, huruf tegak, cetak tebal, huruf capital, mode centre line. v Nama Penulis naskah ditulis lengkap tanpa mencantumkan gelar, dibawah nama penulis dicantumkan institusi asal penulis. v Isi naskah berperspektif atau bertema Arsitektur, Sains Bangunan, Perkotaan, Permukiman atau Lingkungan. Naskah asli bukan duplikasi ataupun pernah dipublikasikan di media cetak manapun. v Sistematika naskah Ø JudulØ Nama dan asal institut penulisØ Abstrak, setara 300 kata, 1 spasi, ditulis 1 kolom, meliputi latar belakang, pendekatan, metode riset, hasil, temuan, manfaat secara umum dan keywords (kata kunci).Ø Isi naskah, 1,5 spasi, ditulis 2 kolom, sesuai dengan kategori tulisan (hasil riset / penelitia atau essay bebas). Setidak-tidaknya mengandung bagian Pendahuluan, Pembahasan serta Kesimpulan / Saran.Ø Daftar Pustaka v Gambar, grafik, tabel, foto harus disajikandengan jelas. Format Foto Digital minimum VGA dalam File JPG. Keterangan gambar dll ditulis dalam format font lebih kecil dari format font tulisan isi. v Catatan (Footnote dan Endnote) berisi catatan penjelas bukan daftar asal kutipan. v Daftar pustaka diketik 1 spasi. Jarak antar judul 2 spasi dan dituliskan berurutan menurut abjad (alphabetical). Judul pustaka di tulis miring (italic) v Ketentuan lain yang kurang jelas dapat menghubungi redaksi. v Naskah diserahkan dalam bentuk soft copy dan 1 (satu) eksemplar hard copy (cetakan/print out) v Redaksi berhak untuk menyunting, mengetik ataupun menolak naskah yang diterima. Redaksi akan mengembalikan naskah yang tidak memenuhi kriteria untuk dapat diperbaiki dan dapat diajukan kembali ke redaksi untuk penerbitan berikutnya.
TINJAUAN OTORITAS ARSITEK DALAM TEORI PROSES DESAIN (BAGIAN KEDUA DARI ESSAY : ARSITEKTUR FUTUROVERNAKULARIS – SUATU KONSEKUENSI PROBABILISTIK DEGRADASI OTORITAS ARSITEK) Rogi, Octavianus Hendrik Alexander
MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 3 (2014)
Publisher : Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Otoritas, bagi kalangan arsitek adalah suatu prakondisi yang mendasari eksistensi profesionalnya. Pemahaman yang jernih tentang situasi otoritatif profesi arsitek akan memampukan kita untuk mengantisipasi probabilitas memudarnya otoritas arsitek di masa depan yang titik nadirnya adalah situasi profesi tanpa peran yang sama-sama tidak kita inginkan.Tulisan ini merupakan bagian yang kedua dari essay penulis yang berjudul ?Arsitektur Futurovernakularis ? Sebuah Konsekuensi Probabilistik Degradasi Otoritas Arsitek?. Pemikiran utama dalam essay ini adalah tentang probabilitas tergerusnya otoritas profesional arsitek seiring waktu yang ditandai dengan kehadiran karya arsitektur yang dilabel penulis dengan istilah futurovernakularis. Sebutan ini berasosiasi dengan karya arsitektural masa nanti (futuro) yang tercirikan sebagai karya yang hadir tanpa campur tangan arsitek profesional (vernakularis), sebagaimana salah satu premis dasar definisi politetis arsitektur vernakular. Dalam essay yang lengkap, argumentasi hipotesis di atas dielaborasi melalui sejumlah pendekatan. Dalam tulisan ini secara khusus, akan dipaparkan argumentasi yang dielaborasi berdasarkan pemahaman terhadap kondisi otoritas arsitek berdasarkan teori proses desain. Secara garis besar akan dikemukakan pemahaman umum tentang teori proses desain dari masa ke masa yang berasosiasi dengan perubahan karakteristik otoritas arsitek yang terefleksi lewat perbedaan peran sang arsitek dalam berbagai model proses desain secara teoritis.Melalui pemaparan dalam tulisan ini dapat disimpulkan bahwa tendensi degradasi otoritas arsitek dalam aktivitas rancang bangun juga terkonfirmasi melalui perubahan peran seorang arsitek dalam pelaksanaan suatu proses perancangan yang terindikasikan dalam teori model proses desain. Dalam model proses desain yang terkini, yang dilabel dengan istilah model proses desain yang argumentatif, peran arsitek, khususnya terkait dengan otoritas pengambilan keputusan, cenderung melemah jika dibandingkan dengan perannya pada model-model proses desain terdahulu yang berciri intuitif dan rasionalistik. Dalam model argumentatif, seorang arsitek tidak lagi berposisi sebagai pengambil keputusan, tapi lebih berperan sebagai penyedia informasi. Bersama-sama dengan kesimpulan pada tulisan bagian pertama, kesimpulan dalam tulisan ini makin mendukung hipotesis tentang probabilitas degradasi otoritas arsitek di masa yang akan datang. Pada tulisan berikut akan dielaborasi juga tentang dampak aplikasi teknologi komputer dalam kegiatan rancang bangun yang berpotensi ?menggantikan? posisi arsitek dalam simbiosis klasik arsitek-klien, yang dapat dilihat sebagai premis pendukung yang lain dari hipotesis di atas.Kata kunci : otoritas arsitek, arsitektur futurovernakularis, teori model proses desain
ANALISIS TIPOLOGI STRUKTUR SPASIAL KOTA KOTAMOBAGU BERDASARKAN POLA PERGERAKAN HARIAN Lasabuda, Muh. Herbian S.P.; Rogi, Octavianus Hendrik Alexander; Lahamendu, Verry
MEDIA MATRASAIN Vol 15, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut penelitian sebelumnya (Toding, 2017), distribusi densitas Kota Kotamobagu berpusat pada satu zona dan saling menghimpit satu sama lain. Di sisi lain dalam hal profil densitas, jarak ke pusat kota tidak berkorelasi signifikan karena tingkat kepadatan penduduk per unit spasial. Dari indikator densitas ?statis? inilah, Kota Kotamobagu disimpulkan sebagai kota yang cenderung monosentris. Dari pernyataan inilah peneliti tertarik meneliti lebih lanjut tentang densitas ?dinamis? yang ada di Kota Kotamobagu melalui indikator ?pola pergerakan  harian? agar dapat menjustifikasi lebih jauh apakah struktur spasial Kota Kotamobagu lebih cenderung monosentris atau polisentris. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi Tipologi Struktur Spasial Kota Kotamobagu berdasarkan parameter ?pola asal dam tujuan perjalanan? serta ?intensitas lalu lintas kendaraan?. Metode yang digunakan adalah metode Origin Destination Survey dan Traffic Count, dengan pembagian kuisioner asal-tujuan perjalanan serta menghitung secara langsung intensitas pergerakan kendaraan di sejumlah ruas jalan. Hasil penelitian menunjukan bahwa, (1) melalui metode Origin-Destination Survey diperoleh indikasi bahwa dari total jumlah perjalanan yang terjadi di Kota Kotamobagu tujuan perjalanan yang paling dominan adalah Kecamatan Kotamobagu Barat yang mencapai 50% dari total 148 perjalanan yang teridentifikasi pada sampel. (2) dari metode Traffic Count diperoleh indikasi bahwa intensitas pergerakan lalu-lintas yang tertinggi terjadi di Kecamatan Kotamobagu Barat yang mencapai 730 kendaraan/jam. Hasil ini sekali lagi menjustifikasi bahwa tipe struktur spasial Kota Kotamobagu berdasarkan indikator pola pergerakan harian adalah kota yang cenderung monosentris dan berpusat di kecamatan Kotamobagu Barat.
PETA KEBENCANAAN : URGENSI DAN MANFAATNYA Rogi, Octavianus Hendrik Alexander
MEDIA MATRASAIN Vol 14, No 3 (2017)
Publisher : Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bencana alam merupakan suatu hal yang sering menjadi momok bagi suatu kota atau kawasan. Bencana banjir bandang di Kota Manado pada tahun 2014 adalah contoh kasus dengan jumlah kerugian yang terbilang besar. Mitigasi resiko kerugian akibat kejadian bencana adalah suatu kebijakan yang tidak dapat diabaikan dan harus dikedepankan dalam setiap strategi pengembangan wilayah suatu kota. Upaya mitigasi bencana secara komprehensif seyogyanya berangkat dari suatu kajian resiko kebencanaan yang secara substansial akan bertumpu pada langkah awal dalam wujud penyiapan basis data kebencanaan berbentuk peta-peta kebencanaan. Dalam garis besar, peta kebencanaan yang harusnya menjadi dasar pengembangan strategi mitigasi bencana untuk tipe bencana tertentu adalah peta resiko bencana yang merupakan produk sintesis dari peta-peta kebencanaan lainnya yang mencakup peta ancaman (hazard map), peta kerentanan (vulnerability map) dan peta kapasitas (capacity map). Untuk menjamin terselenggaranya upaya penanggulangan bencana, khususnya mitigasi resiko bencana, eksistensi keberadaan atau pengadaan peta-peta kebencanaan seharusnya menjadi hal yang prioritas terutama bagi otoritas pemerintahan suatu kota.
SEKAPUR SIRIH VOL 11, NO 1, 2014 Rogi, Octavianus Hendrik Alexander
MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sekapur SirihPuji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kemampuan untuk mewujudkan edisi yang terbaru dari Jurnal Media Matrasain ini, yang telah memasuki tahun ke-11 dalam kontinuitas penerbitannya. Sejalan dengan perjalanan waktu kami dari Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga keberlanjutan penerbitan jurnal ini sebagai medium publikasi karya tulis ilmiah, baik dari para staf pengajar maupun mahasiswa di lingkungan Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, maupun kontributor tulisan dari lingkungan eksternal lainnya.Edisi kali ini (Volume 11, No.1) menampilkan enam artikel dengan beragam bahasan. Tiga diantaranya merupakan essay yang mengungkap sejumlah isyu di bidang arsitektur. sementara tiga artikel lainnya merupakan hasil penelitian yang dilakukan para penulisnya. Dalam essay yang pertama, ?Kreatifitas berarsitektur melalui saluran paradoks dan metafisika?, diulas tentang paradoks dan metafisika yang merupakan saluran kreatifitas yang potensial dalam perancangan arsitektur. Dalam essay yang kedua, ?Situasi Otoritatif Arsitek?, penulis mengungkap indikasi probabilitas terdegradasinya aspek otoritas arsitek dalam dimensi futuristik. Dalam essay ketiga, ?Aplikasi arsitektur biomorfik dalam rancangan arsitektur?, oleh penulis dikemukakan tentang potensi aplikasi pendekatan tematik arsitektur biomorfik dalam rancangan arsitektur. Untuk selanjutnya, dalam artikel berupa hasil penelitian yang pertama, ?Pengaruh Permukaan Jalur Pedestrian terhadap kepuasan dan kenyaman pejalan kaki di pusat kota Manado?, penulis mengungkap temuan tentang pola pengaruh kondisi permukaan jalur pejalan kaki terhadap aspek kenyamanan penggunanya, dengan studi kasus pada kawasan pusat kota Manado. Dalam artikel penelitian yang kedua, ?Kenyamanan Termal Pada Sebuah Rumah Adat Tradisional Gorontalo?, para penulis memaparkan suatu hasil evaluasi terhadap kondisi kenyamanan termis pada objek kasus rumah tradisional di Gorontalo. Dalam artikel yang terakhir, ?Pengaruh topografi pada kinerja pencegahan dan pengamanan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan dan lingkungan di kota Manado?, penulis menyajikan temuan penelitiannya tentang bagaimana kondisi topografi suatu kawasan atau wilayah mempengaruhi kinerja penanggulangan ancaman bahaya kebakaran di kota Manado.Dengan segenap kerendahan hati kami berharap kiranya artikel-artikel dalam edisi kali ini dapat memberikan tambahan wawasan yang bermanfaat bagi para segenap pembaca yang mulia. Kami juga senantiasa mengharapkan adanya kontribusi karya tulis ilmiah, baik dari para staf pengajar di lingkungan Jurusan Arsitektur secara internal maupun dari pihak-pihak lain yang berkerinduan untuk berbagai wawasan ilmiah bersama kami, tentunya yang terkait dengan bidang Arsitektur, Sains Bangunan, Perkotaan, Permukiman dan Lingkungan yang merupakan domain dari jurnal ilmiah ini. Semoga perjalanan ke depan Jurnal Media Matrasain ini akan semakin baik dan bermutu dan dapat menjadi sebuah medium ilmiah yang dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia, sesuai dengan spesialisasinya. Pada kesempatan ini, sebagai pengakhir pengantar redaksional ini, ijinkan kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu penerbitan edisi ini, terutama kepada para penulis yang telah menjadi kontributor naskah artikel untuk edisi ini. Mei 2014Dewan Redaksi
SITUASI OTORITATIF ARSITEK (BAGIAN PERTAMA DARI ESSAY : ARSITEKTUR FUTUROVERNAKULARIS - SUATU KONSEKUENSI PROBABILISTIK DEGRADASI OTORITAS ARSITEK) Rogi, Octavianus Hendrik Alexander
MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTulisan ini merupakan penggalan pertama dari essay penulis yang berjudul ?Arsitektur Futurovernakularis ? Sebuah Konsekuensi Probabilistik Degradasi Otoritas Arsitek?. Pemikiran utama dalam essay ini adalah tentang probabilitas tergerusnya otoritas profesional arsitek seiring waktu yang ditandai dengan kehadiran karya arsitektur yang dilabel penulis dengan istilah futurovernakularis. Sebutan ini berasosiasi dengan karya arsitektural masa nanti (futuro) yang tercirikan sebagai karya yang hadir tanpa campur tangan arsitek profesional (vernakularis), sebagaimana salah satu premis dasar definisi politetis arsitektur vernakular. Dalam essay yang lengkap, argumentasi hipotesis di atas dielaborasi melalui sejumlah pendekatan. Dalam tulisan ini secara khusus akan dipaparkan argumentasi yang dielaborasi berdasarkan pendekatan melalui pemahaman terhadap ragam otoritas peran arsitek serta fakta kembang susutnya seiring waktu. Secara garis besar akan dikemukakan pemahaman umum tentang situasi otoritatif arsitek yang sifatnya delegatif dalam konteks koneksitas antara arsitek dengan pihak klien. Dikemukakan pula tentang tendensi degradasi peran arsitek sejak masa lalu hingga saat ini serta posibilitasnya di masa depan.Melalui pemaparan dalam tulisan ini untuk sementara dapat disimpulkan bahwa tendensi degradasi peran dan otoritas arsitek dalam aktivitas rancang bangun merupakan suatu hal yang realistis. Argumentasi utama yang mengemuka adalah fakta bahwa otoritas arsitek secara mendasar merupakan otoritas yang delegatif sifatnya dalam konteks simbiosis arsitek-klien. Argumentasi ini juga diperkuat dengan indikasi posibilitas perkembangan kapasitas dan perilaku klien yang merupakan sumber otoritas delegatif sang arsitek. Seiring berkembangnya kapasitas kalangan klien terkait aspek rancang bangun, maka perilakunya akan semakin terdorong untuk menafikan eksistensi kalangan arsitek. Argumentasi ini perlu dikembangkan lagi dengan melihat faktor pendorong yang lain bagi perubahan kapasitas dan perilaku kalangan klien ini. Dukungan terhadap argumentasi ini akan dielaborasi pada dua tulisan lain yang berbeda, yang masing-masing akan mengungkap tentang deduksi dukungan teori proses desain tentang potensi degradasi otoritas arsitek serta dampak aplikasi teknologi komputer dalam kegiatan rancang bangun yang berpotensi ?menggantikan? posisi arsitek dalam simbiosis klasik arsitek-klien.Kata kunci : otoritas arsitek, arsitektur futurovernakularis, simbiosis arsitek-klien