Articles

Found 21 Documents
Search

STUDI LOKASI UNTUK PENANAMAN KAPOLAGA SABRANG (ELLETARIA CARDAMOMUM MATON) DARI SEGI TANAH DAN IKLIM Rosman, Rosihan; Daswir, NFN
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 1, No 1 (1986): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v1n1.1986.19-29

Abstract

Kapolaga sabrang (Elettaria cardamomum Maton) merupakan terna tahunan yang termasuk family Zingiberaceae. Berguna untuk penyedap/pengharum makanan minuman dan bahan baku industry parfum. Upaya pengembangannya, telah dilakukan penelitian kemungkinan penanaman Kapolaga di desa Gombong, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang ditinjau dari segi tanah dan iklim. Hasil penelitian, menunjukkan bahwa Desa Gombong, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, mempunyai jenis tanah dan keadaan iklim yang cukup potensial untuk pengembangan tanaman Kapolaga Sabrang, antara lain : (1) tanah berdrainase baik, tekstur lempung berdebu, pH 5,7 , kandungan N tinggi, meskipun C/organic rendah sampai agak tinggi, fosfat rendah, dan Kalium rendah; (2) iklim dengan temperature 26,3oC, hari hujan 232 hari, kelembaban 80% meskipun curah hujan cukup tinggi yaitu 5439mm/tahun.
POTENSI JARAK PAGAR (JATROPHA CURCAS) SEBAGAI LARVASIDA HAYATI PENCEGAH PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE Iswantini, Dyah; Riyadhi, Adi; Kesumawati, Upik; Rosman, Rosihan; Mangunwidjaja, Djumali; Rahminiwati, Min
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 16 No. 1 (2011): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.563 KB)

Abstract

Recently, Indonesia has big problem caused by dengue haemorraghic fever with A. aegypti as vector. Potential medicine and vaccine for curing this disease have not been found. The effective method to prevent this disease is the use of A. aegypti larvicidal. The chemical larvicidal has disadvantage for evironmental aspect. To solve this problem, the biological larvicidal has a good chance to develop. Indonesia has megadiversity which can be developed as biological larvicidal. Crude aqueous extracts and ethanol extracts of Jatropha curcas (Jarak pagar) seed and oil of Jatropha curcas were evaluated for larvicidal potential against the Aedes aegypti mosquito. Among all extracts, Jatropha curcas oil possessed a highest activity against the 3th instar larvae of Aedes. LC50 values of Jatropha curcas oil was 1507 ppm for 24 h and 866 ppm for 48 h. It was suggested that the Croton tiglium oil and Jatropha curcas oil possess larvicidal properties that could be developed and used as biological larvicidal. 
PEMUPUKAN NITROGEN, FOSFOR, DAN KALIUM PADA TANAMAN AKAR WANGI ROSMAN, ROSIHAN; TRISILAWATI, OCTIVIA; SETIAWAN, SETIAWAN
853-8212
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKDosis pupuk N, P, dan K optimal untuk akar wangi belum diketahuidan penggunaannya  masih beragam. Penelitian bertujuan untukmendapatkan komposisi dosis pupuk N, P, dan K optimal yang dapatmeningkatkan produktivitas akar wangi. Penelitian dilakukan di DesaSukakarya, Garut dari bulan Januari 2009 sampai dengan Desember 2010menggunakan rancangan Acak Kelompok, dengan 3 ulangan. Perlakuanmeliputi 9 kombinasi pupuk N, P, dan K: (1). Kontrol; (2) 100 kg SP-36 +75 kg KCl; (3) 100 kg ZA + 75 kg KCl; (4) 100 kg ZA + 50 kg SP-36 + 75kg KCl; (5) 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl; (6) 100 kg ZA + 100kg SP-36 + 150 kg KCl; (7) 100 kg ZA + 100 kg SP-36; (8) 200 kg ZA +100 kg SP-36 + 75 kg KCl; (9) 200 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl.Panen dilakukan pada 12, 14, dan 16 bulan setelah tanam (BST). Hasilmenunjukkan bahwa pemupukan dosis 100 kg ZA + 75 kg KClmenghasilkan minyak 52,59 dan 67,78 kg/ha (12 dan 14 BST) dan 200 kgZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl menghasilkan 67,76 kg /ha (16 BST),dengan kadar vetiverol lebih dari 50%.Kata kunci: Vetiveria zizanioides, pemupukan, vetiverol, produksi, mutuminyakABSTRACTThe optimum dosage of N, P, and K fertilizer has not been knownyet and it usage was still varied. The research aim is to obtain an optimalcomposition of N, P, and K fertilizer that could increase productivity ofvetiver crop. The researsch has been conducted in Sukakarya Village,Garut, from January 2009 to December 2010. The research was arrangedin randomized block design, with 3 replications and N, P, and K fertilizercombination treatments i.e.: (1) Control; (2) 100 kg SP-36 + 75 kg KCl;(3) 100 kg ZA + 75 kg KCl; (4) 100 kg ZA + 50 kg SP-36 + 75 kg KCl;(5) 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl; (6) 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl; (7) 100 kg ZA + 100 kg SP-36; (8) 200 kg ZA + 100 kgSP-36 + 75 kg KCl; (9) 200 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl.Harvesting was done at 12, 14 and 16 months after planting (MAP). Theresult showed that the dose of 100 kg ZA + 75 kg KCl produced vetiver oil52,59 and 67,78 kg/ha (12 and 14 MAP). Meanwhile the dose of 200 kgZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl produced 67,76 kg/ha (16 MAP),respectively. vetiverol content were more than 50%.Key words: Vetiveria zizanioides, fertilizing, vetiverol, production, oilquality
Studi Kesesuaian Lahan dan Iklim Untuk Tanaman Kapulaga Sabrang Rosman, Rosihan
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 2, No 1 (1987): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v2n1.1987.50-59

Abstract

Study of cardamom (Elettaria cardamomum Maton) is one belonging to the Zingiberaceae family. The fruits of the plant can be use as a spices on food or drink and volatile oil. The effort can be support to develop of plant cardamom, to decide of soil end climate suitable for using to decide the next altitude for development program of cardamom can be fluently. To base of product to study of land and climate that evident kind of soil, teksture of soil, drainage, soil pH, rain fall rain day, temperature, and humidity are very decide.
PERAN DAN PENGELOLAAN KALIUM DALAM BUDIDAYA AKARWANGI ROSMAN, ROSIHAN; SETIAWAN, SETIAWAN
Perspektif Vol 13, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v13n2.2014.%p

Abstract

ABSTRAKTanaman   akarwangi (Vetiveria   zizanioides   Stapf.) memerlukan kalium (K) dalam jumlah yang memadai. Pemberian K ke tanah dalam jumlah banyak akan tidak efektif. Oleh karena itu, ketersediaan hara K baik di tanah maupun sumber lainnya harus di kelola secara baik. Selain K, tanaman akarwangi juga memerlukan ketepatan umur panen. Umur panen yang tidak tepat akan  mempengaruhi  produksi  dan  mutu  minyak. Waktu  panen  yang  tepat  memenuhi  produksi  dan mutu   vetiverol   yang   tinggi.   Pada   tanah   yang mengandung   K   sedang (>0,35   me/100   g   tanah), penambahan   pupuk   K   ke   tanah   tidak   mampu meningkatkan   kandungan   senyawa   alkohol   pada akarwangi. Panen produksi akar dan minyak terbaik adalah umur 14 bulan setelah tanam (BST) dengan kandungan   vetiverol     >50%.   Perbedaan   senyawa alkohol yang terbentuk terjadi pada umur 12 BST dan 14  BST.  Adapun  senyawa  alkohol  yang  terbentuk adalah    Cis-.alpha.-copaene-8-ol,    valerenol,    beta-eudesmol, globulol, (+) -gamma-castol, zizanol, dan 1-cloro-2,4-dimethroxy-3-methylphenol.  Pada  umur 12 BST, senyawa yang mengandung alkohol yaitu cis-.alpha.-copaene-8-ol,                             (+)   -gamma-castol,    beta-eudesmol,  globulol  dan  valerenol  sedangkan  pada umur 14 BST yaitu beta.-Eudesmol, (+) -gamma-castol, zizanol,   dan 1-cloro-2,4-dimethroxy-3-methylphenol. Perbedaan ini perlu diteliti lebih lanjut.Kata kunci : Minyak akarwangi, Kalium, umur panen The Role And Management of Potassium in Cultivation of Vetiver CropsABSTRACTVetiver crop need potassium (K) nutrient. Using of K on vetiver over dosage, so inefficient. Besides that, the vetiver crops need time of harvest. Time of harvest can be affecting to product and quality of oil. Therefore, K nutrient in soil, from fertilizer or the other source must be managed with good and harvest time also. The medium  K  (>0,35  me/100 g  soil)  of  soil  could  not increase of the alcohol compound. Time of harvest (14 month after planting (MAP)) was high production (dry weight of root and oil) and vetiverol (>50%). The result of research showed that component of alcohol oil was different between harvesting at 12 (MAP) and 14 MAP. The component of alcohol were cis-alpha-copaene-8-ol, beta-eudesmol, valerenol, globulol, (+)-gamma-castol, zizanol,   dan 1-cloro-2,4-dimethroxy-3-methylphenol There were four essential components of oil (alcohol groups ) at 12 MAP were cis-alpha-copaene-8-ol, beta-eudesmol, (+)-gamma-castol, valerenol and globulol. At  14  MAP  were  beta-eudesmol,  (+)-gamma-castol, zizanol,   dan 1-cloro-2,4-dimethroxy-3-methylphenol. Different of this component must be research on the future.Key words : Vetiver oil, potassium, time of harvest.
Respon Setek Panili Terhadap Pemberian Pupuk NPK Ruhyanat, Agus; Rosman, Rosihan
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 8, No 2 (1993): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v8n2.1993.70-74

Abstract

Penelitian dilakukan di rumah kaca BalaiPenelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor, dari bulan Juni sampai dengan Oktober 1989. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui respon setek panili terhadap pemupukan N, P, dan K. penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan pola factorial, diulang tiga kali. Factor yang diuji adalah dosis pupuk N, P dan K, masing-masing 0, 1, dan 2 g/pot. Dosis pupuk dipecah dalam dua kali pemberian, yaitu pada minggu ke-3 dan minggu ke-9 setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk N, P, dan K secara tunggal dan interaksi antara NK, NP, dan NPK dapat meningkatkan panjang tunas. Perlakuan pemupukan yang menghasilkan panjang tunas tertinggi adalah 2 g N/pot + 2 g P2O2/pot + 1 g K2O/pot. Terhadap jumlah daun interaksi antara NK dan NP nyata pengaruhnya. Pengaruh pemupukan yang menghasilkan jumlah daun tertinggi adalah 2 g N/pot + 1 g K2O/pot.
Pengaruh Pupuk N, P dan K Terhadap Perumbuhan dan Hasil Tanama Serai Dapur di Tanah Latosol Citayam Rosman, Rosihan; Muhammad, Herry; Suryadi, Rudi; Emmyzar, NFN; Permana, Rachman
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 9, No 2 (1994): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v9n2.1994.76-79

Abstract

Effect of N, P, K fertilizer on growth and production of Cymbopogon citrates at Citayam latosal soil.A study on the Effect of N, P, K fertilizer on growth and production of Cymbopogon citrates at Citayam latosal soil. Was conducted from Juni 1992 till August 1993. The experiment was performed with a randomized block design arranged factorially. The factors tested were dosages of N (0, 0.90 and 1.8 g N per plant), P (0 and 0.46 g P2O5 per plant), and K (0 and 1.2 g K2O per plant). The result showed that N and K fertilizers significantly increased the yield. N fertilizers significantly increased the numbers of tillers, and K fertilizers significantly increased the plant height. Dosages of 1.8 g N per plant and 1.2 g K2O per plant showed the highest yield. There was no significant interaction between N, P, and K on all the parameter (number of tiller, plant height and yield).
PENGARUH NAUNGAN DAN PUPUK FOSFOR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI NILAM (Pogostemon cablin Benth.) Rosman, Rosihan; Setyono, Setyono; Suhaeni, H
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 15, No 1 (2004): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v15n1.2004.%p

Abstract

The effect of shade and phosphor on the growth and production of PogostemonA pot experiment aiming at the optimal effect of shade and phosphor fertilizer on the growth and yield of Pogostemon plant of the Sidikalang type was carried out at Cimanggu experimental garden of Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institute, Bogor, from September 1998 to January 1999. The research was carried out factorially with a randomized block design with four replications. The treatments consisted of two factors, which are shade (without shade and 50% shade), and phosphor fertilizer (without phosphor, 0,69 g P/polybag, 1,38 g P/polybag). The result of the research showed that 50% shade treatment significantly increased the plant height, number of leaf, number of branch, wide of crown, stem diameter, fresh and dry leaf weight, fresh and dry stem weight. The P treatment (0,69 g P/polybag) significantly increased the number of branch, number of leaf and stem diameter. Significant on Interaction between shade and P Occuronly on stem diameter. The interaction of 50% shade with 0 g P/polybag showed the biggest dramecer treatment, followed by 50% shade with 1,38 g P/polybag and 50% shade with 0,69 g P/polybag 
PENGARUH KONSENTRASI DAN FREKWENSI PEMBERIAN PUPUK DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN PANILI DI PEMBIBITAN Rosman, Rosihan; Soemono, S; Suhendra, Suhendra
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 15, No 2 (2004): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v15n2.2004.%p

Abstract

Research on the effect of concentration and frequency of foliar fertilizer application on growth of vanilla (Vanilla planifolia Andrews) was carried out at the experimental garden of The Indonesian spice and medicinal crops Research Institute, West Java, from May until October, 1996. The experiment was conducted with a randomized block design, with 3 replicates and 10 treatments. The treatments were control, 1,5 g foliar fertilizer/4 liter/twice a week, 1,5 g foliar fertilizer/4 liter/once a week, 1,5 g foliar fertilizer/4 liter/once in two weeks, 3 g foliar fertilizer/4 liter/twice a week 3 g foliar fertilizer/4 liter/once a week, 3 g foliar fertilizer/4 liter/ once in two weeks 4,5 g foliar fertilizer/4 liter/twice a week 4,5 g foliar fertilizer/4 liter/once a week, and 4,5 g foliar fertilizer/4 liter/once in two weeks. The foliar fertilizer used was NPK (30-10-10) plus trace elements, such as Fe, Co, B, Mo, Mg and vitamine B1. The result showed that application of 1,5 g foliar fertilizer/4 liter/twice a week and 4,5 g foliar fertilizer/4 liter/once in two weeks were the best for the growth of vanilla at nursery. However, application of 4,5 g foliar fertilizer/4 liter/once in two weeks is efisien. 
PENGARUH KEKERINGAN PADA TANAH BERGARAM NaCl TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN NILAM Kurniasari, Anna Median; Adisyahputra, Adisyahputra; Rosman, Rosihan
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 21, No 1 (2010): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v21n1.2010.%p

Abstract

Untuk mengetahui pengaruh keke-ringan pada tanah bergaram NaCl terhadap pertumbuhan tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) telah dila-kukan penelitian di rumah kaca Balai Pene-litian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) Bogor pada Juni sampai November 2007. Faktor yang diuji adalah : 1) keadaan tanah, terdiri atas 2 taraf (keadaan lembap dan kering); dan 2) kadar garam NaCl tanah terdiri atas 3 taraf (0, 1.000, dan 2.000 ppm). Faktor-faktor yang diuji tersebut disusun dalam ran-cangan acak lengkap dengan 10 ulangan. Sedangkan parameter yang diamati meli-puti komponen tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah buku, jumlah cabang, dia-meter batang, serta bobot basah dan kering biomas. Hasil penelitian menun-jukkan bahwa faktor keadaan dan kadar garam NaCl tanah mempengaruhi pertum-buhan tanaman nilam. Pengaruh interaksi antara kedua faktor tersebut hanya dijum-pai pada komponen diameter batang. Pada kondisi tanah kering, kadar garam NaCl 1.000 ppm atau lebih sangat nyata meng-hambat pertumbuhan diameter batang, tetapi tidak berpengaruh ketika tanah cukup lembap (basah). Kedua faktor secara individu berpengaruh nyata ter-hadap komponen pertumbuhan lainnya pada tanaman nilam. Keadaan tanah basah nyata lebih baik pengaruhnya ter-hadap perkembangan tanaman dibanding tanah  dengan  keadaan  kering.  Demikian   pula kadar garam NaCl tanah yang semakin meningkat ternyata semakin memperburuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman nilam.