Reno Rudiman
Consultant Digestive Division of Surgery Department, Faculty of Medicine, University of Padjadjaran Dr. Hasan Sadikin Hospital - Bandung Indonesia.

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

LACTATE CLEARANCE: PREDICTOR FOR MORTALITY AND THERAPEUTIC RESPONSE ON SEVERE SEPSIS PATIENT Siregar, Edwin Saleh; Purnama, Andriana; Rudiman, Reno
BALI MEDICAL JOURNAL Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : BALI MEDICAL JOURNAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Severe sepsis and septic shock are at high mortality rate. This high mortality persists as important aspect in the term of patient treatment which take account in determining aggressiveness of relevant therapy. Lactate level consideration was considered important among patient under shock, septicemia, post-operative, acute lung injury, and critical condition. Lactate concentration in static blood was widely studied and suggested as prognostic value among severe sepsis and septic shock patient due to the nature of lactate as the result of anaerobic metabolism. Several study documented the use of lactate as prognostic indicator for shock condition. The increase of lactate concentration could be useful as the indicator of inadequate oxygen delivery and the existence of anaerobic metabolism. Lactate clearance investigation is more superior therapeutic target compared with others oxygen derivate variables. Methods: This research is a cohort observational study involving secondary data which was collected from laboratory examination results of study subjects. The research held from August 2015 to December 2015 in Digestive Division, Surgery Department, Hasan Sadikin Hospital. 42 patient involved in this study. Results: Comparative test results revealed significant lactate clearance based on mortality in LCH (6) (p = 0.000) and H (24) (p =0.000) as well. The level of LC H (6) and H (24) seemed lower in died patient compared with life patient. Conclusion: This study concluded that lactate clearance in died patient was lower in comparison with life patient.
EKSPRESI PROTEIN DELETED IN COLORECTAL CANCER (DCC) DAN P53 PADA KEGANASAN KOLOREKTAL Suraya Adnyana, Ida Bagus Budhi; Rudiman, Reno
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v49n3.1125

Abstract

Angka kejadian keganasan kolorektal pada usia muda semakin meningkat, tetapi belum ada data yang cukup menjelaskan mengenai hal tersebut, termasuk mutasi gen yang berperan. Tujuan penelitian mengetahui apakah ekspresi protein DCC dan p53 berperan pada keganasan kolorektal usia kurang dari 40 tahun. Dilakukan pemeriksaan imunohistokimia di Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari sampai Mei 2011 untuk melihat ekspresi protein DCC dan p53 pada sediaan blok parafin penderita keganasan kolorektal kelompok usia <40 tahun dan usia >40 tahun.  Bahan pemeriksaan dikumpulkan mulai bulan Januari sampai Mei 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada keganasan kolorektal usia <40 tahun lebih banyak yang tidak didapatkan ekspresi kedua protein tersebut, 9 kasus pada kelompok usia >40 tahun, sedangkan pada usia lebih dari 40 tahun hanya ditemukan pada 2 kasus.  Simpulan, pada sebagian besar kasus keganasan kolorektal usia <40 tahun, protein DCC dan p53 sudah tidak terekspresi. [MKB. 2017;49(3):186?91]Kata kunci: Ekspresi DCC, ekspresi p53, keganasan kolorektal, usia  Deleted in Colorectal Cancer (DCC) and p53 Protein Expressions in Colorectal Cancer The incidence of colorectal cancer in young patients is currently increasing; however, no adequate data available to explain the increase, including the gene mutation involved in these cancer. This study aimed to discover the DCC and p53 protein expressions that play a role in colorectal cancer in people under 40 years old. Immunohistochemical examination was performed at the Department of Anatomy Pathology Faculty of Medicine of Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in the period of January to May 2011 to look into DCC and p53 expressions in paraffin blocks of colorectal malignancy patients in the age group of <40 and >40 years old. The examination specimens were collected in the period of January to May 2011. The results of the study showed that in colorectal malignancy in <40 years old patients, the expression of the two proteins was rarely found while in the age group of 40 years old, the expressions were only found in 2 cases. It is concluded in most cases of colorectal cancer in the <40 years old group, the DCC and p53 are already not expressed. [MKB. 2017;49(3):186?91]Key words: Age, colorectal cancer, DCC expression, p53 expression
The Analgesic Effect of Ethanol Extract Soursop (Annona muricata L.) Leaves in Wistar Rats Kuswinarti, Kuswinarti; Savira, Kendry; Rudiman, Reno
Althea Medical Journal Vol 5, No 4 (2018)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.735 KB) | DOI: 10.15850/amj.v5n4.486

Abstract

Background: Pain is an emotional and sensory experience that is unpleasant and related to tissues damage. In the past, Soursop (Annona muricata L.) leaves have been believed to be able to relieve pain. This study aimed to explore the analgesic effect of soursop leaves and its effective dose in an animal model. Methods: Wistar rats (n=25) had been used in this experimental study, divided into 5 groups; consisting of a negative control group, experiment groups using extract soursop leaves with doses of 200mg/kgbw, 400 mg/kgbw and 600 mg/kgbw, and natrium diclofenac as a positive control. One hour after treatment, all groups of rats were induced by carrageenan-lambda in the feet. The basal retraction of rats’ legs was measured in 47oC water and repeated at two, four, and six hours. The data were analyzed using analysis of variance and Tukey’s test. Result: The dose of 200 mg/kgbw had no analgesic effect (p>0.05), while the dose of 600 mg/kgbw had the highest analgesic effect at 7.72 seconds on the 4th hour of induction. On the 6th hour, the dose of 400 mg/kgbw had the highest analgesic effect at 3.58 seconds.Conclusions: Extract soursop (Annona muricata L.) leaves in this study have been proven to have an analgesic effect.
PERAN RED CELL DISTRIBUTION WIDTH SEBAGAI PREDIKTOR MORTALITAS PADA PASIEN SEPSIS DAN SYOK SEPTIK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HASAN SADIKIN Silalahi, Fonda R.P; Rudiman, Reno; Rizky, Kiki A
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2 No 2 (2019): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Red cell Distribution Width (RDW) adalah parameter hematologis yang sederhana dan rutin diperiksa sebagai bagian pemeriksaan darah lengkap. Berbagai penelitian dan teori menghubungkan nilai RDW sebagai faktor prediktor mortalitas pada penyakit kritis dan juga sepsis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran RDW sebagai prediktor kejadian mortalitas pada pasien sepsis dan syok septik. Penelitian dilakukan dengan metode prospektif terhadap 51 pasien dewasa dengan sepsis dan syok septik di Instalasi Gawat Darurat dan Instalasi Perawatan Intensif Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Hasan Sadikin periode September 2017 sampai dengan Agustus 2018. Pemeriksaan RDW pada pasien diambil setelah diagnosis sepsis dan syok septik ditegakkan dan dilakukan observasi selama 30 hari. Terdapat 51 subyek penelitian dengan rerata usia 54,39 tahun. Rasio perbandingan pria : wanita adalah 1,55 : 1. Nilai median&nbsp; RDW adalah 19,1%. Nilai RDW tertinggi adalah 27,68% sedangkan nilai RDW terendah adalah 14,18%. Hasil analisis kurva Receiver Operating Characteristic (ROC) didapatkan cut off point pada nilai RDW 18,55% ( RDW&gt;18,55% dan RDW&lt;18,55%) mempunyai hubungan bermakna untuk memprediksi terjadinya mortalitas. RDW dapat dijadikan prediktor untuk kejadian mortalitas pada pasien sepsis dan syok septik.
PERBANDINGAN NILAI PREDIKTIF MANNHEIM PERITONITIS INDEX (MPI) DENGAN ACUTE PHYSIOLOGY AND CHRONIC HEATH EVALUATION (APACHE) II DALAM MEMPREDIKSI MORTALITAS PERITONITIS SEKUNDER AKIBAT PERFORASI ORGAN BERONGGA Aditya, Yan; Rudiman, Reno; Ruchimat, Tommy
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3 No 1 (2019): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peritonitis merupakan kasus kegawatdaruratan yang sering ditemui dengan angka mortalitas yang tinggi. Sistem skoring diperlukan untuk menilai derajat kesakitan serta prediksi mortalitas pada kasus peritonitis. Instrumen ini juga digunakan untuk menilai efektivitas berbagai modalitas terapi yang diberikan dan perawatan yang dilakukan. Skor APACHE II merupakan instrumen objektif yang didasari penilaian status fisiologis pasien. Skor MPI merupakan sistem skoring yang mudah dan sederhana yang didasari oleh faktor-faktor resiko yang berkorelasi dengan mortalitas peritonitis. Penelitian ini bersifat studi analitik dengan rancangan penelitian prospektif observasional dengan pendekatan kohort untuk membandingkan&nbsp; skor MPI dengan&nbsp; skor APACHE II dalam memprediksi mortalitas peritonitis sekunder akibat perforasi organ berongga. Dari 87&nbsp; pasien yang memenuhi dari kriteria inklusi adalah memiliki rata rata usia 40,26+ 18,95. Didapatkan angka kematian sebesar 13,79%, Nilai AUC (area under the curve) skor APACHE&nbsp; II yang diperoleh dari kurva ROC adalah sebesar 92,9%, dengan nilai cut off 11,5, sensitivitas 91,7%, spesifitas 86.7%, nilai duga positif (NDP) 52,4% Nilai Duga Negatif (NDN)&nbsp; 98,5%, dan akurasi sebesar 87,4%. Skor MPI memiliki nilai AUC 93,7 % dengan nilai cut off sebesar 30,5 sensitivitas 83,3 % spesifitas 85,3 % , NDP 47,6%, NDN 96,9% dan akurasi sebesar 85,1%. Hasil uji Chi Square didapatkan perbedaan yang bermakna pada cut-off APACHE II dan MPI dalam menilai mortalitas pada peritonitis sekunder akibat perforasi organ berongga dengan P=0,0001.Skor APACHE II memiliki nilai prediktif lebih tinggi dibandingkan dengan skor MPI&nbsp; dalam memprediksi mortalitas peritonitis sekunder akibat perforasi organ berongga DOI :&nbsp;10.35990/mk.v3n1.p1-12