Sri Rulliaty
Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan, Jl. Gunung Batu No. 5, Bogor 16610. Telp (0251) 8633378, Fax (0251) 8633413

Published : 62 Documents
Articles

PERBANDINGAN ANATOMI KAYU RENGAS TEMBAGA (GLUTA RENGHAS L.) DENGAN RENGAS BURUNG (MELANORRHOEA WALLICHII HOOK. f) Rulliaty, Sri
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 8, No 2 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1990.8.2.77-80

Abstract

Wood of renga1tembaga (Gluta renghas  L.) and ren,as IJurung(Melanorrhoea  wallicbii Hook.(.) ltaue many common limilaritia   in the anatonJicalfeatures.Some of the differencel are in the grou feature of wood. Anatomical 1tudy 1hows that the frequency of Pora  and raya  dimenaion (width and height) of  Melanorrhoea   wallichii  Hook.f.  are significantly different  compared with those of  Gluta  renghas  L.
STRUKTUR ANATOMI, SIFAT FISIS DAN MEKANIS KAYU KAMBELU (Buxus rolfie Vidal.) DAN KANDURUAN (Phoebe cuneata Blume) ASAL HUTAN ALAM DI SULAWESI BARAT Lempang, Mody; Asdar, Muhammad; Rulliaty, Sri
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2013.31.1.27-35

Abstract

Penelitian ini bertujuan mempelajari struktur anatomi dan sifat fisis dan mekanis dua jenis kayu dari hutan alam di Sulaweis Barat yaitu kambelu (Buxus rolfie Vidal.) dan kanduruan (Phoebe cuneata Blume). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kambelu memiliki kayu teras berwarna kemerahan, gubal berwarna merah muda keabuan dan tebal 2-3 cm, lingkar tumbuh jelas, kayunya keras; serat berpadu; tekstur agak halus dan permukaan agak mengkilap. Kanduruan memiliki kayu teras berwarna coklat keabuan dan gubal berwarna coklat muda dengan lebar sekitar 5-7 cm, tekstur agak halus dan tidak merata, arah serat berpadu, agak mengkilap, kesan raba agak licin, keras, corak polos, dan tidak berbau khusus. Kambelu dan kanduruan mempunyai serat kayu panjang dan tebal dinding sel sedang dan berdasarkan nilai turunan dimensi seratnya termasuk kelas kualitas I untuk kertas. Kambelu dan kanduruan memiliki berat jenis 0,62 dan 0,63, tergolong kelas kuat III-I. Kambelu memiliki sifat penyusutan dari basah ke kering udara lebih rendah dari kayu kanduruan. Kata kunci : Kembelu, kanduruan, Sulawesi Barat, anatomi, fisis
SIFAT ANATOMI DAN KUALITAS SERAT JENIS KAYU SANGAT KURANG DIKENAL: SUKU CAPPARIDACEAE, CAPRIFOLIACEAE, CHLORANTHACEAE DAN COMPOSITAE Rulliaty, Sri
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 4 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2014.32.4.297-312

Abstract

Dari 34.410 contoh koleksi Xylarium Bogoriense 1915, masih tersisa sekitar 800 jenis kayu (tercakup dalam 251 marga dari 77 suku), yang hingga saat ini belum pernah diteliti sifat-sifat anatominya secara memadai.  Jenis-jenis kayu tersebut kemudian diistilahkan sebagai ?Jenis Kayu Sangat Kurang Dikenal? atau ?the Least Known Wood Species?. Tulisan ini mempelajari sifat anatomi dan kualitas serat lima jenis kayu sangat kurang dikenal yaitu jenis  Crataeva sp., Crataeva membranifolia Miq. (Capparidaceae), Viburnum sambucinum Bl. (Caprifoliaceae), Ascarina sp. (Chloranthaceae), dan Olearia sp. (Compositae). Contoh kayu yang digunakan diambil dari contoh kayu Xylarium Bogoriense 1915 Pusat Litbang Hasil Hutan, Bogor.  Sifat anatomi diteliti berdasarkan preparat sayatan yang dibuat menurut metoda Sass diamati berdasarkan IAWA List, dimensi serat berdasarkan preparat maserasi. Hasil nya menunjukan jenis kayu Ascarina sp. dan Olearia sp. mudah dikenali karena mempunyai jari-jari lebar. Jari-jari agregat ditemui pada jenis kayu Crataeva membranifolia and Ascarina sp. Kayu teras Crataeva membranifolia yang berwarna kuning jerami dan memiliki arah serat lurus menyebabkan kayu ini dapat digunakan sebagai pengganti kayu ramin. Seluruh jenis kayu yang diteliti termasuk kualitas I untuk pulp dan kertas, kecuali  jenis Olearia sp. yang termasuk kualitas serat kelas II.
STRUKTUR ANATOMI, SIFAT FISIS DAN MEKANIS KAYU KAMBELU (Buxus rolfie Vidal.) DAN KANDURUAN (Phoebe cuneata Blume) ASAL HUTAN ALAM DI SULAWESI BARAT Lempang, Mody; Asdar, Muhammad; Rulliaty, Sri
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 1 (2013):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mempelajari struktur anatomi dan sifat fisis dan mekanis dua jenis kayu dari hutan alam di Sulaweis Barat yaitu kambelu (Buxus rolfie Vidal.) dan kanduruan (Phoebe cuneata Blume). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kambelu memiliki kayu teras berwarna kemerahan, gubal berwarna merah muda keabuan dan tebal 2-3 cm, lingkar tumbuh jelas, kayunya keras; serat berpadu; tekstur agak halus dan permukaan agak mengkilap. Kanduruan memiliki kayu teras berwarna coklat keabuan dan gubal berwarna coklat muda dengan lebar sekitar 5-7 cm, tekstur agak halus dan tidak merata, arah serat berpadu, agak mengkilap, kesan raba agak licin, keras, corak polos, dan tidak berbau khusus. Kambelu dan kanduruan mempunyai serat kayu panjang dan tebal dinding sel sedang dan berdasarkan nilai turunan dimensi seratnya termasuk kelas kualitas I untuk kertas. Kambelu dan kanduruan memiliki berat jenis 0,62 dan 0,63, tergolong kelas kuat III-I. Kambelu memiliki sifat penyusutan dari basah ke kering udara lebih rendah dari kayu kanduruan. Kata kunci : Kembelu, kanduruan, Sulawesi Barat, anatomi, fisis
DURABILTY OF 25 LOCAL SPECIFIC WOOD SPECIES FROM JAVA PRESERVED WITH CCB AGAINST MARINE BORERS ATTACK Muslich, Mohammad; Rulliaty, Sri
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 7, No 2 (2010): Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study was conducted to provide basis information of the 25 local specific wood species indigenous from Java treated by copper bichromated boron (CCB). The full-cell process for 2 hours and 150 psi during the pressure-keeping period was employed. The IUFRO method was applied for the determination of wood treatability class. The treated and untreated wood specimens were tied together using plastic cord, arranged into a raft like assembly, and then exposed for 3, 6, and 12 months to the brackish water situated at Rambut Island’s coastal area. The Nordic Wood Preservation Council (NWPC) standard No.1.4.2.2/75 was used to determine the intensity of marine borer infestation. The results revealed that 19 out of those 25 species were classified as easy to be preser ved, four species as moderate, and the remaining two were difficult to be preser ved. Those 19 species, i.e. Tamarindus indica L., Diplodiscus sp., Ficus variegate R .Br., Ehretia acuminata R .Br., Meliocope lunu-ankenda (Gaertn) T.G. Hartley, Colona javanica B.L., Pouteria duclitanBachni., Stercularia oblongata R .Br., Ficus vasculosa Wall ex Miq., Callophyllum grandiflorum JJS., Turpinia sphaerocarpa Hassk., Neolitsea triplinervia Merr., Acer niveum Bl., Sloanea sigun Szysz., Castanopsis acuminatissima A.DC., Cinnamomum iners Reinw. Ex Blume., Litsea angulata Bl., Ficus nervosa Heyne., and Horsfieldia glabra Warb. were more permeable implying that the CCB retention and penetration were greater and deeper. Hymeneaecarboril.L., LitseaodoriferaVal., Gironniera subasqualisPlanch., and LinderapolyanthaBoerl. were moderately permeable. Castanopsis tunggurut A.DC. and Azadirachta indica Juss. were the least permeable judging that the CCB retention and penetration were lowest and shallowest. The treated wood specimens in this regard were able to prevent marine borers attack. Meanwhile, the untreated specimens were susceptible to marine borers attack, except Azadirachta indica. The attacking borers consecutively are MartesiastriataLinne that belongs to the Pholadidae family ; and Teredo bartschi Clapp., Dicyathifer manni Wright., and Bankia cieba Clench. to the Terdinidae family.
ANATOMICAL PROPERTIES AND FIBER QUALITY OF FIVE POTENTIAL COMMERCIAL WOOD SPECIES FROM CIANJUR, WEST JAVA Damayanti, Ratih; Rulliaty, Sri
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 7, No 1 (2010): Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A detailed description of wood anatomy is essential for assessing the use of a wood species for processing , and also beneficial for the identification of wood samples. Computerized keys are available that allow the identification of wood samples until the genus level; however, it is not easy to use these keys to identif y unknown species. Therefore, a database of anatomical characteristics and the computerized keys need to be completed up to species level. As the relevance, this study has examined the wood anatomical properties of the five corresponding tree species originated from Cianjur, West Java, which are commercially potential for their exploitation, i.e Castanopsis acuminatissima ADC. (Fagaceae); Castanopsistungurrut ADC. (Fagaceae); Cinnamomum inners Reinw. ex Blume (Lauraceae); Ficus nervosa Heyne (Moraceae) and Horsfieldia glabra Warb. (Myristicaceae). Expectedly the results would be beneficial for wood identification purposes and evaluation for other possible uses. Obser vations on anatomical structures covered macroscopic and microscopic characteristics were carried out through the sectioned and macerated wood samples. The obser ved characteristics of the anatomical features were defined conforming to the IAWA List of Microscopic Features for Hardwood  Identification.  Based on the scrutiny on those obser ved characteristics and linked to the fiber quality, it was judged that the fiber in all the five wood species could be classified as class I for pulp and paper processing.
KEAWETAN LIMA PULUH JENIS KAYU TERHADAP UJI KUBURAN DAN UJI DI LAUT Muslich, Mohammad; Rulliaty, Sri
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 4 (2013):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lima puluh jenis kayu yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia untuk diuji sifat ketahanannya terhadap uji kuburan dan di laut. Contoh uji kayu berukuran 60x5x5 cm dipasang di digunakan dalam uji kuburan. Contoh uji lain berukuran 30x5x2,5 cm dipasang di perairan Pulau Rambut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan alami kayu pada uji kuburan berbeda dengan ketahanan kayu yang diuji di laut. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dari 50 jenis kayu tersebut tidak ada satupun yang tahan terhadap serangan rayap. Empat puluh tujuh jenis kayu (94%) mendapat serangan rayap. Sementara, satu jenis yaitu Blumeodendron tundifoliu diserang oleh jamur dan lima jenis lainnya yaitu Erythrina fusca, Litsea roxburghii, Myristica subaculata, Stercularia oblongatadan Trichodenia philippinensis diserang oleh kombinasi rayap dan jamur. Keenam jenis kayu tersebut termasuk dalam kategori kelas awet V. Hasil pengujian kuburan menunjukkan bahwa 28 jenis (56%) termasuk kelas awet V, 15 jenis (30%) kelas awet IV, dan 7 jenis (14%) kelas III. Sedangkan hasil pengujian di laut menunjukkan bahwa sebagian besar contoh uji diserang oleh penggerek kayu di laut. Tiga puluh dua jenis kayu (64%) termasuk kelas awet V, 12 jenis (24%) kelas awet IV, 4 jenis (8%) kelas awet III. Sisanya dua jenis (4%) termasuk kelas awet II, yaitu Azadirachta indica dan Parinari corymbosa. Penggerek yang menyerang contoh uji yaitu Martesia striata dari famili Pholadidae; Teredo bartschi, Dicyathifer manni, dan Bankia ceba dari famili Teredinidae.
KETAHANAN BAMBU PETUNG (Dendrocalamus asper Backer) YANG DIAWETKAN DENGAN CCB TERHADAP SERANGAN PENGGEREK DI LAUT Muslich, Mohammad; Rulliaty, Sri
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bambu adalah bahan lignoselulosa yang rentan terhadap serangan serangga termasuk penggerek di laut. Penelitian ini dilakukan sebagai informasi dasar pengawetan bambu menggunakan bahan pengawet CCB (Copper-bichromated boron) terhadap penggerek di laut. Lima belas batang bambu petung,masing-masing panjangnya 4 m, dibedakan bagian pangkal, tengah dan ujung. Semua batang bambu tersebut diawetkan dengan CCB 3% dengan proses modifikasi Boucherie selama 7 hari. Bambu yang sudah diawet, dibuat contoh uji berukuran panjang 30 cm dan lebar 5 cm dengan ulangan sebanyak 15 kali. Sebelum contoh uji dipasang di laut selama 6 bulan, retensi dan penetrasi bahan pengawet dicatat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua contoh uji diserang oleh penggerek di laut dengan berbagai tingkat serangan. Contoh uji yang diawetkan dengan CCB mendapat serangan ringan, sedangkan yang tidak diawetkan mendapat serangan berat oleh penggerek di laut. Siafat anatomi bambu petung mempunyai jaringan ikatan pembuluh yang terdiri dari metaksilem dan phloem dengan diameter yang besar, sehingga mudah diawetkan. Rata-rata retensi bahan pengawet CCB pada contoh uji bagian pangkal adalah 13,62 kg/m3, sedangkan bagian tengah dan atas 11,47 kg/m3 dan 9,12 kg/m3. Semua contoh uji yang diawetkan dengan proses modifikasi Boucherie mencapai penetrasi 100%. Hasil identifikasi penggerek yang menyerang contoh uji adalah Teredo sp. dan Martesia striata.
STRUKTUR ANATOMI DAN KUALITAS SERAT LIMA JENIS KAYU ANDALAN SETEMPAT ASAL CARITA BANTEN Rulliaty, Sri
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 4 (2013):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasokan jenis kayu komersial saat ini semakin berkurang. Penggunaan jenis kayu kurang dikenal, terutama  kayu-kayu yang menjadi andalan secara lokal (kayu andalan setempat) merupakan salah satu kemungkinan untuk meningkatkan pasokan kayu perdagangan. Tulisan ini mempelajari sifat anatomi dan kualitas serat lima jenis kayu andalan setempat dari Carita, Banten. Struktur anatomi diamati berdasarkan daftar ciri mikroskopik kayu daun lebar, IAWA, sedangkan kualitas serat di analisa berdasarkan kualitasnya untuk pulp dan kertas. Ciri utama struktur anatominya adalah sebagai berikut: kayu pangsor  (Ficus fistulosa  Reinw.) memiliki kayu teras warna putih jerami sampai kuning pucat, parenkim pita, dan kristal primatik dijumpai dalam sel tegak dan dalam parenkim aksial tak berbilik: kayu jengkol (Pithecellobium rosulatum Kosterm) berwarna putih krem, parenkim vaskisentrik; kayu petai (Parkia speciosa Hassk.) berwarna putih kekuningan, dan parenkimnya aksial paratrakea vaskisentrik, aliform, konfluen; kayu manii (Maesopsis emini Engl.) berwarna berwarna kuning kecoklatan hingga kuning agak coklat tua, parenkimnya paratrakea sepihak hingga konfluen; kayu balsa (Ochroma  pyramidale (Cav.ex. Lamk) Urban) berwarna putih krem,  parenkimnya aksial apotrakea tersebar. Kualitas serat kelima jenis kayu yang diteliti diklasifikasikan ke dalam kualitas I. Berdasarkan kualitas serat dan kemungkinan penggunaannya kelima  jenis kayu tersebut direkomendasikan untuk dibudidayakan secara intensif.
SIFAT ANATOMI DAN KUALITAS SERAT JENIS KAYU SANGAT KURANG DIKENAL: SUKU CAPPARIDACEAE, CAPRIFOLIACEAE, CHLORANTHACEAE DAN COMPOSITAE Rulliaty, Sri
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 4 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari 34.410 contoh koleksi Xylarium Bogoriense 1915, masih tersisa sekitar 800 jenis kayu (tercakup dalam 251 marga dari 77 suku), yang hingga saat ini belum pernah diteliti sifat-sifat anatominya secara memadai.  Jenis-jenis kayu tersebut kemudian diistilahkan sebagai ‘Jenis Kayu Sangat Kurang Dikenal” atau “the Least Known Wood Species’. Tulisan ini mempelajari sifat anatomi dan kualitas serat lima jenis kayu sangat kurang dikenal yaitu jenis  Crataeva sp., Crataeva membranifolia Miq. (Capparidaceae), Viburnum sambucinum Bl. (Caprifoliaceae), Ascarina sp. (Chloranthaceae), dan Olearia sp. (Compositae). Contoh kayu yang digunakan diambil dari contoh kayu Xylarium Bogoriense 1915 Pusat Litbang Hasil Hutan, Bogor.  Sifat anatomi diteliti berdasarkan preparat sayatan yang dibuat menurut metoda Sass diamati berdasarkan IAWA List, dimensi serat berdasarkan preparat maserasi. Hasil nya menunjukan jenis kayu Ascarina sp. dan Olearia sp. mudah dikenali karena mempunyai jari-jari lebar. Jari-jari agregat ditemui pada jenis kayu Crataeva membranifolia and Ascarina sp. Kayu teras Crataeva membranifolia yang berwarna kuning jerami dan memiliki arah serat lurus menyebabkan kayu ini dapat digunakan sebagai pengganti kayu ramin. Seluruh jenis kayu yang diteliti termasuk kualitas I untuk pulp dan kertas, kecuali  jenis Olearia sp. yang termasuk kualitas serat kelas II.