Articles

Found 26 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN BEBERAPA ALGA MAKRO (ULVA SP., GRACILARIA SP., HALYMENIA SP.) TERHADAP PERTUMBUHAN ABALON HALIOTIS SQUAMATA Damayanti, Desi; Yusup, Deny Suhernawan; Rusdi, Ibnu
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol 5 No 2 (2018)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2018.v05.i02.p08

Abstract

Teknologi produksi benih dan pakan abalon Haliotis squamata telah berhasil dikembangankan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut, Gondol, sedangkan pakan untuk pendederan juvenil abalon masih memerlukan pengembangan lebih lanjut untuk memperoleh bahan pakan yang optimum untuk pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan beberapa jenis alga makro segar (Ulva sp., Gracilaria sp., Halymenia sp.) yang diberikan dalam komposisi tunggal ataupun kombinasi (7 komposisi) terhadap pertumbuhan juvenil abalon H. squamata. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 3 kali ulangan. Percobaan dilakukan dalam keranjang plastik ukuran 287 x 140 x 52 mm dengan kepadatan 25 ekor (berat badan 1,75 ± 0,08 g, panjang cangkang 21,96 ± 0,34 mm, lebar cangkang 13,37 ± 0,24 mm). Pengukuran abalon dilakukan setiap 2 minggu sekali, dan pemeliharaan abalon dilakukan selama 87 hari dengan pemberian pakan setiap 2 hari sekali. Hasil penelitian ini diketahui bahwa perlakuan dengan pemberian pakan kombinasi Ulva sp., Gracilaria sp., dan Halymenia sp. memberikan pertumbuhan yang paling baik pada berat badan (BB), panjang cangkang (PC), serta lebar cangkang (LC), berturut-turut yaitu 4.70±0.20 g, 30.61±0.44 mm, serta 18.94±0.26 mm, sedangkan perlakuan pakan Halymenia sp. yang terendah.  Nilai rasio konversi pakan (FCR) terendah yaitu pada perlakuan Ulva sp. dan Halymenia sp. 13,55±1,06, dan tertinggi yaitu pada perlakuan Gracilaria sp. 23,89±2,63.
PENGARUH PROPORSI MINYAK CUMI DAN MINYAK KEDELAI SEBAGAI SUMBER LEMAK DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN JUVENIL KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) Marzuqi, Muhammad; Rusdi, Ibnu; Giri, Nyoman Adiasmara; Suwirya, Ketut
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.170

Abstract

The purpose of this experiment was to know lipid sources requirement for growth of mud crab (Scylla paramamosain) juvenile. The experiment used ninety of juveniles reared in 30 l of seawater with flow-throught water system and aeration. Initial average body weight and carapace width of juveniles were 0.21 g and 1.05-1.07 cm, respectively. Juveniles were stocked individually using a supernet material in each tank. Five isoprotein and isoenergy formulated diet with dry pellet form containing different proportion of squid oil and soybean oil as lipid sources i.e. 12%:0%, 9%:3%, 6%:6%, 3%:9% and 0%:12%. Feed were given twice a day in the morning and afternoon. The results showed that proportion of dietary squid oil and soybean oil as lipid sources had significant effects on final body weight, weight gain, carapace width, feed efficiency and essential fatty acid of mud crab (P
GROW-OUT OF ABALONE Haliotis squamata IN FLOATING CAGES FED DIFFERENT PROPORTIONS OF SEAWEED AND WITH REDUCTION OF STOCKING DENSITY Giri, I Nyoman Adiasmara; Sutarmat, Tatam; Yudha, Hirmawan Tirta; Rusdi, Ibnu; Susanto, Bambang
Indonesian Aquaculture Journal Vol 9, No 1 (2014): (June 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.904 KB) | DOI: 10.15578/iaj.9.1.2014.15-21

Abstract

Abalone is a herbivore marine animal which feeds on seaweed. Abalone culture has a good prospect in terms of price, market share and simple culture technique. Thus, a study was conducted with the aim of finding out an effective and efficient abalone culture technique in terms of feed use and density. In this study, a 42 cm diameter plastic container with a 22 cm height was used. Three vertically arranged containers were used as the experimental group which were put into a net box and hung onto a raft so that the containers were placed in a 4 m depth below the sea surface. The juvenile of abalones being used came from a hatchery production that has been adapted to cages environment with Gracilaria sp. and Ulva sp. feed. The initial density of abalones was 450 for each container, with the initial weight of 2.6-3.2 g and the 2.5-2.7 cm shell lengths. The abalones were fed with Gracilaria sp. and Ulva sp. seaweeds with different Gracilaria sp./Ulva sp. proportions, i.e. 100/0% (A); 80/20% (B); and 60/40% (C) as the treatments. Each treatment consisted of two replications. After three months of rearing period, densities of abalones were reduced to be 190 for each experimental unit. Weight and shell length of abalones were measured every month by measuring 25 abalone samples from each experimental unit. The result of the experiment showed that the increase in the Ulva sp. proportion in the feed increased the growth of abalones and decreased the feed conversion. Feeding with Gracilaria sp./Ulva sp. proportion of 60%/40% allowed the best growth of abalones. The decrease of abalone density in the experimental unit after three months of rearing also produced an increase in their growth.
PEMATANGAN GONAD INDUK ABALON Haliotis squamata MELALUI PENGELOLAAN PAKAN Rusdi, Ibnu; Rahmawati, Riani; Susanto, Bambang; Adiasmara, I Nyoman
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.547 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.383-391

Abstract

Abalon merupakan hewan yang bersifat herbivora di alam memakan berbagai jenis makroalga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai makroalga sebagai pakan terhadap perkembangan gonad abalon Haliotis squamata. Dalam penelitian ini diterapkan 4 perlakuan pemberian pakan yaitu: (A) Gracilaria sp., (B) Ulva sp., (C) Sargassum sp., (D) Kombinasi Gracilaria sp. + Ulva sp. + Sargassum sp. (rasio 1:1:1). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap masing-masing dengan 3 ulangan. Induk-induk abalon dipelihara dalam 12 buah kontainer plastik berlubang ukuran 0,58 m x 0,39 m x 0,31 m dan ditempatkan dalam sebuah bak semen ukuran 3 m x 2 m x 1 m. Setiap kontainer berisi abalon sebanyak 10 ekor dengan ukuran awal rata-rata panjang cangkang dan bobot masing-masing 58,9±1,37 mm dan 36,1±4,06 g. Pakan diberikan dengan dosis 15%-20% dari bobot biomassa setiap 2 hari sekali. Pergantian air menggunakan sistem sirkulasi dengan debit 5-6 L/menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan bobot mutlak dan laju pertumbuhan bobot harian berbeda nyata (P<0,05) antar perlakuan. Tingkat kematangan gonad (TKG) induk abalon pada hari ke-70 diperoleh TKG-III tertinggi dihasilkan pada perlakuan kombinasi Gracilaria + Ulva sp. + Sargassum sp. (P<0,05). Perlakuan pakan kombinasi Gracilaria sp. + Ulva sp. dan Sargassum sp. terlihat lebih sesuai dalam memacu pematangan gonad induk abalon H. squamata. Abalone is a herbivorous animal which consumes various kinds of macroalgae in the wild. The aim of the study was to study the effects of various kinds of macroalgae on gonadal maturation of abalone, Haliotis squamata. The experiment applied four kinds of macroalgae i.e.: (A) Gracilaria sp.; (B) Ulva sp.; (C) Sargassum sp.; and (D) Combination of Gracilaria sp. + Ulva sp. + Sargassum sp. (ratio 1:1:1) as food for abalone broodstock. The experiment was arranged in complete random design with three replications. One cemented tank of 3 m x 2 m x 1 m in size was used for the observation. Twelve plastic containers of 0,58 m x 0,39 m x 0,31 m in size were placed in the tank and stocked with 10 abalones per container with the average size of shell length and body weight were 58.9±1.37 mm and 36.1±4.06 g, respectively. For each treatment, macroalgae was given daily with the dosage between 15% and 20% from the total of body weight. Water exchange was done using flow-through system with rate of exchange of 5-6 L/minute. The result of the study showed that the average of absolute growth and daily growth rate of abalones were significantly different (P<0.05) among treatments. The observation of gonadal development of abalone broodstocks on day-70 revealed that the latest stage III of gonadal maturation was achieved by the broodstock fed with combination treatment of Gracilaria sp. + Ulva sp. + Sargassum sp. (P<0.05). Combination of macroalgae from this treatment was clearly  able to stimulate gonadal maturation of H. squamata broodstock.
STIMULASI PERTUMBUHAN JUVENIL ABALON, Haliotis squamata DENGAN PEMBERIAN HORMON REKOMBINAN IKAN rElGH Khotimah, Fitriyah Husnul; Permana, Gusti Ngurah; Rusdi, Ibnu; Susanto, Bambang; Alimuddin, Alimuddin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.158 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.4.2016.331-338

Abstract

Masalah yang paling utama dalam budidaya abalon tropis adalah pertumbuhan yang lambat. Penggunaan rElGH (recombinant giant grouper, Epinephelus lanceolatus growth hormone) untuk menstimulasi pertumbuhan beberapa spesies ikan sudah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji akselerasi pertumbuhan juvenil abalon tropis, Haliotis squamata setelah diberi perlakuan perendaman hormon rekombinan ikan kerapu kertang, Epinephelus lanceolatus pada frekuensi yang berbeda. Ada empat perlakuan frekuensi perendaman rElGH yaitu 4, 9, 16 kali, dan tanpa perendaman (kontrol). Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Perendaman dilakukan selama tiga jam, dengan interval waktu empat hari. Kepadatan abalon tropis 100 ekor/L air laut yang mengandung 30 mg rElGH. Wadah untuk perendaman berupa beaker glass yang dilengkapi dengan aerasi. Penelitian dilakukan selama tujuh bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa abalon tropis yang direndam rElGH dengan frekuensi empat kali menghasilkan pertumbuhan bobot tubuh dan panjang cangkang tertinggi dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (P<0,05). Sintasan abalon tropis yang diberi perlakuan perendaman hormon rElGH lebih tinggi dibandingkan perlakuan kontrol.The most crucial problem in tropical abalone aquaculture is the slow growth of the species. Studies investigating the use of rElGH (recombinant giant grouper, Epinephelus lanceolatus growth hormone) for promoting growth have been performed in various species. This research aimed to examine the growth acceleration of tropical abalone, Haliotis squamata juvenile after being treated in different immersion frequencies of recombinant giant grouper, Epinephelus lanceolatus growth hormone (rElGH). There were four treatments of rElGH immersion frequency: 4, 9, 16 times and without rElGH immersion (control). Each treatment was performed in triplicates. Immersion was performed for 3 hours, at 4-day intervals and a density of 100 tropical abalones in 1 L seawater containing 30 mg rElGH. Immersion was conducted in a beaker glass supplied with oxygen. The results indicated that rElGH immersion for total of 4 times showed significantly higher (P<0.05) body weight and shell length of tropical abalone compared to other treatments. The Survival of tropical abalone treated with rElGH was also significantly higher than control.
PEMELIHARAAN LARVA ABALON Haliotis squamata DENGAN PEMBERIAN JENIS PAKAN BERBEDA DALAM BENTUK TEPUNG Khotimah, Fitriyah Husnul; Permana, Gusti Ngurah; Rusdi, Ibnu; Susanto, Bambang
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.108 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.1.2018.39-46

Abstract

Masalah utama yang umum terjadi pada produksi benih abalon adalah kematian yang tinggi (> 90%) setelah abalon menempel pada plate pemeliharaan. Penggunaan pakan dalam bentuk tepung untuk mengganti diatom sebagai pakan postlarva beberapa spesies ikan, udang, dan abalon sudah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis pakan dalam bentuk tepung yang sesuai dan efektif untuk mendukung sintasan dan pertumbuhan larva abalon Haliotis squamata. Percobaan terdiri atas lima perlakuan pakan pada pemeliharaan larva abalon yaitu tepung Spirulina sp., Ulva sp., Chaetoceros sp., Gracilaria sp., dan diatom (kontrol). Masing-masing perlakuan terdiri atas empat ulangan. Pakan berupa tepung yang digunakan pada masing-masing perlakuan, terlebih dahulu dicampur merata dengan larutan tepung agar (7,5 mg/mL dalam air laut; suhu 40°C) dengan konsentrasi tepung 40 mg/mL larutan agar. Pemberian pakan dilakukan setiap tiga hari dengan cara menyemprotkan larutan pakan pada permukaan plate pemeliharaan larva. Penelitian dilakukan selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintasan larva abalon yang diberi pakan tepung Spirulina sp. paling tinggi dan berbeda nyata (P<0,05) dengan yang diberi diatom, tepung Chaetoceros sp., dan Ulva sp., yaitu masing-masing 81,49%; 79,25%; 76,57%; dan 76,46%; tetapi tidak berbeda nyata dengan yang diberi pakan tepung Gracilaria sp. 81,37% (P>0,05). Laju pertumbuhan harian panjang cangkang larva abalon tertinggi diperoleh pada larva yang diberi pakan tepung Gracilaria sp. (203,81 ± 1,23 µm/hari) dan Spirulina sp. (205,59 ± 1,71 µm/hari). Nilai laju pertumbuhan harian panjang cangkang larva abalon yang paling rendah dijumpai pada larva yang diberi pakan tepung Ulva sp. (146,07 ± 1,73 µm/hari).The most common problem in abalone seed production is the high mortality occurrence (> 90%) after postlarvae settlement to the rearing plates. The use of microparticle diets to replace the natural feed of postlarval has been performed on various species of fish, shrimp, and abalone. This research aims to determine the most effective and suitable powder-based feed to support the survival and growth of abalone Haliotis squamata larvae. The experiments consisted of five feed treatments, i.e., Spirulina sp., Ulva sp., Chaetoceros sp., and Gracilaria sp. Flour, and diatoms (as control). Each treatment had four replicates. The powder-based feed used in each treatment was firstly mixed with a solution of agar powder (7.5 mg/mL sea water, 40°C) with a concentration of 40 mg of flour/mL of agar solution. Feeding was done every three days by spraying the feed solution onto the surface of the larval rearing plate. The study was conducted for 30 days. The results showed that survival rate of abalone larvae fed with Spirulina sp. flour was the highest and significantly different (P<0.05) compared with those given diatoms, Chaetoceros sp. and Ulva sp. flours, which were 81.49%, 79.25%, 76.57%, and 76.46%, respectively, and not significantly different from those fed with Gracilaria sp. 81.37% (P>0.05). The highest daily growth rate of the shell length of abalone larvae was achieved by larvae fed with Gracilaria sp. (203.81 ± 1.23 ¼m/day) and Spirulina sp. flours (205.47 ± 1.71 µm/day). The lowest daily growth rate of shell length was found on abalone larvae fed with Ulva sp. flour (146.07 ± 1.73 µm/day).
KERAGAAN PERTUMBUHAN DAN VARIASI GENETIK ABALON Haliotis squamata Reeve (1846) HASIL SELEKSI F-1 Permana, Gusti Ngurah; Rusdi, Ibnu; Khotimah, Fitri Husnul; Sembiring, Sari Budi Moria; Haryanti, Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.657 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.4.2015.493-500

Abstract

Produksi benih abalon Haliotis squamata skala massal di hatcheri telah berhasil dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut Gondol, Bali. Permasalahan utama dalam budidaya abalon adalah pertumbuhan yang lambat. Keadaan tersebut diduga karena pengaruh faktor genetik dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengetahui keragaan pertumbuhan dan variasi genetik abalon tumbuh cepat hasil seleksi individu. Hasil penelitian ini diketahui bahwa pembentukan populasi F-1 mempunyai pertumbuhan yang lebih baik dengan F-1 kontrol. Peningkatan bobot yang dicapai 22,15 g atau 17,93% lebih baik dibandingkan F-1 kontrol. Keragaman genetik F-1 terseleksi yang ditunjukkan dari nilai heterozigositas adalah (Ho. 0,023) terjadi penurunan 21,7% jika dibandingkan F-0. Hal ini dapat terjadi karena hilangnya beberapa allele dalam proses seleksi. Terdapat hubungan antara jumlah heterozigot pada lokus tertentu dengan pertumbuhan abalon. Hasil ini diharapkan dapat mendukung upaya meningkatkan produksi benih yang mempunyai performa fenotipe dan genotipe unggul sehingga dapat mendukung kegiatan budidaya abalon yang berkelanjutan.
KARAKTERISASI DAN EVALUASI POPULASI ABALON Haliotis squamata SECARA MOLEKULER, MORFOMETRIK, DAN BIOLOGI Permana, Gusti Ngurah; Gustiano, Rudhy; Rusdi, Ibnu; Khotimah, Fitriyah Husnul; Susanto, Bambang; Solihin, Dedi Duryadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (852.148 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.2.2017.111-119

Abstract

Abalon merupakan salah satu komoditas penting gastropoda laut. Tingginya permintaan abalon ini mengakibatkan menipisnya stok di alam. Oleh karena itu, upaya keberhasilan budidaya abalon perlu didukung oleh jenis unggul. Indikasi awal suatu jenis unggul dapat dilakukan dengan menganalisis potensi genetik yang dimiliki. Penelitian ini dilakukan dengan analisis gen 16S rRNA, karakter morfolologi, dan biologi dianalisis secara deskriptif dengan metode kajian pustaka. Hasil yang diperoleh menunjukkan keragaman inter populasi Haliotis squamata mendeteksi adanya tujuh haplotipe yang terbagi dalam dua kelompok. Penyertaan H. diversicolor sebagai outgroup dalam pengujian memperlihatkan bahwa populasi H. squamata dari Pulau Bali dan beberapa lokasi di Pulau Jawa berada dalam satu kelompok yang terpisah dengan outgroup. Hasil ini kongruen dengan analisis morfometrik terdapat perkembangan pertumbuhan cangkang yang asimetri pada populasi Banten. Pertumbuhan asimetri merupakan indikasi spesifik untuk populasi Banten atau merupakan gejala abnormalitas yang dapat diakibatkan oleh faktor penurunan kualitas genetik atau lingkungan. Karakter biologi terlihat proporsi daging dan gonad berbeda pada populasi Banten dengan indikasi adanya pertumbuhan asimetri. Rasio gonad dan daging populasi Banyuwangi berbeda nyata (P<0,05) dengan populasi lainnya.Abalone is arguably one of the highly valued and sought-after marine gastropods. However, the over-exploitation of this species has exhausted its wild stock. To overcome this challenge, the culture technique and management of this species must be established and continually improved. One of the ways is through producing superior broodstocks. An initial assessment of a genetically superior broodstock can be done using the potential genetic analysis. This recent research employed the analysis to study the species’ 16S rRNA gene. To complement the study, the morphometric and biological characteristics of the species were analyzed descriptively with the aid of scientific literature. The results showed that the interpopulation diversity of Haliotis squamata was detected by the presence of seven haplotypes divided into two groups. The inclusion of H. diversicolor as an outgroup within the test showed that the populations of abalone in Bali and several other sites in Java were genetically separated from the outgroup. This finding can be backed up with the result of the morphometric analysis where there was asymmetric shell growth in Banten abalone population. This asymmetric growth is considered as a symptom of abnormality caused by genetic or environmental degradation factors. The biological characteristics showed the different ratios of meat and gonad in the Banten population due to the asymmetric growth. Banyuwangi population was significantly different (P<0.05) from other populations in terms of meat and gonad ratios.
KERAGAAN PERTUMBUHAN DAN REPRODUKSI ABALON Haliotis squamata Reeve (1846) TURUNAN KETIGA Permana, Gusti Ngurah; Khotimah, Fitriyah Khusnul; Susanto, Bambang; Rusdi, Ibnu; Haryanti, Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 3 (2017): (September 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.433 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.3.2017.197-202

Abstract

Pengamatan pertumbuhan dan reproduksi abalon Haliotis squamata dilakukan di hatcheri Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP) Gondol, Bali. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh informasi tentang keragaan pertumbuhan dan performansi reproduksi abalon turunan ketiga. Induk H. squamata turunan kedua hasil seleksi yang digunakan untuk menghasilkan benih turunan ketiga mempunyai ukuran panjang cangkang 6,5-7,0 cm. Benih dipelihara dalam bak beton berukuran 2,5 m x 1,2 m x 1,0 m yang diberikan feeding plate sebagai substrat penempelan dan dilengkapi dengan sistem aerasi dan sistem air mengalir. Pakan yang diberikan pada awal pemeliharaan adalah diatom jenis Nitzschia sp. dan Melosira sp. yang telah ditumbuhkan terlebih dahulu pada feeding plate sebelum penebaran benih. Benih F-3 dipelihara sampai menjadi calon induk untuk diamati perkembangan reproduksinya. Pengambilan sampel pertumbuhan dilakukan setiap 10 hari. Pengamatan reproduksi dilakukan pada saat abalon mulai tumbuh gonad sampai matang gonad stadia-III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan abalon sangat dipengaruhi ketersediaan pakan pada plate terutama pada hari ke-50. Proporsi jantan-betina abalon F-3 (3,3:1) meningkat dibandingkan dengan F-0 dari alam (2,5:1) menunjukkan ketidakseimbangan jumlah individu yang dapat disebabkan oleh tekanan seleksi. Abalon turunan ketiga pada umur 16 bulan mulai matang gonad dan dapat digunakan sebagai induk untuk pemijahan.Observation on the growth and reproduction development of Haliotis squamata had been undertaken in the hatchery of the Institute for Mariculture Research and Development (IMRAD) Gondol, Bali. The research was aimed to study of the growth and reproduction performance of filial-3 abalone in supporting seed production in hatchery. Larvae were obtained from natural spawning of filial-2 abalone broodstock with the length shell of 6.5-7.0 cm in the hatchery. Larvae were reared in 2.5 m x 1.2 m x 1.0 m concrete tank with aeration and water circulation system. Larval samples were taken every 10 days. Larvae were fed with diatom Nitzschia sp. and Melosira sp. Diatom were grown in the feeding plate before the stocking of abalone larvae. Gonadal development of F-3 abalone was observed from the beginning of the study until the mature gonad of stage-III. The result showed that the abalone growth was greatly influenced by the availability of feed in the plate especially at day 50. Abalone F-3 of sixteen months old reached maturity stage earlier compared to the control. The proportion of male-female of F-3 generation (3.3:1) was higher compared to F-0 (2.5:1), indicated the imbalance in the number of individuals that could be caused by selection pressures. These results suggest that sixteen months old abalones could be used as broodstocks for seed production in hatchery.
pemeliharaan yuwana abalon (Haliotis squamata) TURUNAN F-1 SECARA TERKONTROL DENGAN JENIS pakan BERBEDA Susanto, Bambang; Rusdi, Ibnu; Ismi, Suko; Rahmawati, Riani
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.585 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.2.2010.199-209

Abstract

Abalon (Haliotis squamata) merupakan jenis kekerangan yang mulai dikembangkan untuk dapat memenuhi permintaan pasar. Tingkat pertumbuhan abalon sangat lambat sehingga perlu dilakukan penelitian untuk memacu pertumbuhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis pakan yang cocok dan dapat memacu pertumbuhan yuwana abalon. Biota uji yang digunakan adalah yuwana abalon dengan ukuran panjang cangkang awal 12,51 ± 1,27 mm, yang ditempatkan dalam wadah plastik berukuran 35 cm x 25 cm x13 cm, diisi dengan kepadatan 25 ekor/wadah. Perlakuan jenis pakan berbeda adalah (A) pelet, (B) pakan rumput laut (Gracilaria spp.), dan (C) kombinasi rumput laut dan pelet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jenis pakan berbeda memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap tingkat pertumbuhan panjang, lebar cangkang, dan bobot badan yuwana abalon turunan F-1.Abalone (Haliotis squamata) is one of shellfish to develop for market demand. The growth of abalone is slow and this experiment was purposed to increase to find out the suitable kinds of feed to promote the growth of abalone juvenile in hatchery. The rearing of abalone juvenile was conducted in plastic boxes size of 35 cm x 25 cm x 13 cm, filled with density of 25 ind./box with initial shell length of 12.51 ± 1.27 mm. The experiment applied different kinds of feed, (A) pellet, (B) seaweed/Gracilaria spp., and (C) combination of seaweed and pellet with three replicates in each treatment. The result of the experiment indicated that different feeding resulted in significant difference (P<0.05) on growth of width and length of shell and body weight abalone juvenile F-1 generation.