Articles

Found 37 Documents
Search

APPLICATION OF SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING METHOD FOR DETERMINATION OF TODDLER NUTRITION STATUS Badrul, Mohammad; Rusdiansyah, Rusdiansyah; Budihartanti, Cahyani
SinkrOn Vol 4 No 1 (2019): SinkrOn Volume 4 Number 1, October 2019
Publisher : Politeknik Ganesha Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33395/sinkron.v4i1.10145

Abstract

The nutritional status of children under five is measured by age, weight and height. The weight and height variables are presented in the form of three anthropometric indicators namely weight by age, height by age, and weight by height. By using these indicators the Cipadu-Kreo health center sometimes determines the nutritional status of children under five years of age. Therefore the simple additive weighting (SAW) method is able to decide the nutritional status of toddlers by adding a toddler's body mass index variable, so as to produce the right and valid decision. Then from 20 samples of toddlers categorizing by age group. Obtained the nutritional status results there are 1 toddler get a SAW value of 0.44 with poor nutritional status, 3 toddlers with undernourished status, 8 toddlers with excess nutrition status and 8 toddlers with a balanced nutrition status with the highest SAW value with a value
CLONAL PROPAGATION OF TWO CLONES EUCALYPTUS PELLITA F. MUELL BY MINI-CUTTING Dwi Sulichantini, Ellok; Sutisna, Maman; Sukartiningsih, Sukartiningsih; Rusdiansyah, Rusdiansyah
International Journal of Science and Engineering Vol 6, No 2 (2014)
Publisher : Chemical Engineering Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1406.06 KB) | DOI: 10.12777/ijse.6.2.117-121

Abstract

Eucalypt is known as the fastest growing tree species in the world. Some advantages such as fast growing, hight yielding, short rotation, less desease, lots of purposes and good economic benefit have made Eucalypt as the most important forest tree product for industrial raw material in Indonesia. However, those advantages of Eucalypt including fast growing, high yielding, short rotation and less desease can only be achieved through selecting a good clone. Cutting propagation is considered as one of the main methode to produce good seedling. Sprouts of two clones of Eucalyptus pellita F. Muell (E. 13 and E. 77) were collected from mini hedge. Total of 1080 of each clone was planted in greenhouse. The result showned that Clone E. 77 was better than E. 13 in term of growth of rooting, the increment of height, stem diameter and number of leaves at 60 and 75 days after planting
PENGARUH ADANYA MATERIAL BERPORI TERHADAP KARAKTERISTIK KONSOLIDASI TANAH LEMPUNG LUNAK LAHAN BASAH rusdiansyah, rusdiansyah
Jurnal Kacapuri : Jurnal Keilmuan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2018): DESEMBER JURNAL KACAPURI : JURNAL KEILMUAN TEKNIK SIPIL
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.199 KB) | DOI: 10.31602/jk.v1i2.1788

Abstract

Salah satu cara untuk mempercepat aliran air maupun laju konsolidasi tanah lempung lunak lahan basah yaitu dengan menambahkan material porous didalam tanah maupun menggunakan drainasi vertical. Selama ini telah berkembang teknologi percepatan konsolidasi dengan vertical drain berbahan geosintetis. Selain berbahan geosintetis, bahan lainnya untuk material vertical drain masih terus dikembangkan untuk mencari keandalan yang ekonomis.Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana derajat konsolidasi yang dihasilkan dari hasil pengujian konsolidasi tanah lempung lunak lahan basah yang ditambahkan adanya material berpori (berbahan pasir, sekam padi, dan arang kayu). Selain itu juga bagaimana pengaruh drainase (material berpori) radial, n (perbandingan diameter benda uji dan diameter drainase (material berpori)dari masing-masing material berpori.Dalam penelitian ini dilakukan uji konsolidasi dengan benda uji menggunakan tanah lempung lunak lahan basah. Pada bagian tengah benda uji diberi lubang berdiameter 0,75cm, 1cm, dan 1,5cm, kemudian  ditambahkan material berpori berbahan pengisi berupa pasir, sekam padi, dan arang. Dari ketiga material berpori tersebut, selanjutnya akan dibandingkan sesamanya terkait kinerja material berpori sebagai sistem drainase (material berpori) didalam tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa material sekam padi, pasir, dan arang dapat digunakan sebagai bahan drainase (material berpori) untuk tanah yang berkonsolidasi karena mampu meningkatkan nilai derajat konsolidasi (U%).Apabila ditinjau pada satu satuan waktu maka untuk jenis material drainase (material berpori)) berbahan sekam dapat menghasilkan derajat konsolidasi yang lebih besar dibandingkan material drainase (material berpori) berbahan pasir maupun arang.Material drainase (material berpori) berbahan sekam dapat menghasilkan nilai koefisien konsolidasi (Cv), nilai koefisien permeabilitas (k), dan nilai koefisien perubahan volume (mv) yang lebih besar dibandingkan dengan material drainase (material berpori) berbahan pasir dan arang.Nilai koefisien konsolidasi (Cv) semakin meningkat seiring dengan peningkatan nilai rasio diameter (n) hingga mencapai rasio diameter yang optimum (nopt), selanjutnya sesudah nilai rasio diameter optimum tercapai maka koefisien konsolidasi akan  mengalami penurunan. Rasio diameter optimum pada tanah lempung lunak yang berkonsolidasi didapat pada nilai 6(enam).Kata kunci : Konsolidasi tanah, drainase (material berpori) vertical,derajat konsolidasi,koefisien permeabilitas, koefisien konsolidasi dan tanah lempung lunak lahan basah.One way to accelerate water flow and the rate of consolidation of wetland soft clay soil is by adding porous material in the soil and using vertical drainage. So far there has been a development of consolidation acceleration technology with a vertical drain made from geosynthetics. Apart from geosynthetics, other materials for vertical drain material are still being developed to find economical reliability. The problem in this research is how the degree of consolidation resulting from the consolidation test of wetland soft clay soil is added by the presence of porous material (made from sand, rice husk, and wood charcoal). In addition, also the effect of radial drainage (porous material), n (comparison of the diameter of the specimen and drainage diameter (porous material) of each porous material. In this study a consolidation test was carried out with specimens using soft soil wetlands. the center of the specimen was given a hole with a diameter of 0.75cm, 1cm, and 1.5cm, then added porous material made from fillers in the form of sand, rice husk, and charcoal. porous material) in the soil The results showed that rice husk, sand and charcoal material can be used as drainage material (porous material) for the soil that consolidates because it can increase the value of the consolidation degree (U%). for the type of drainage material (porous material) made from chaff can produce console degrees idasi which is bigger than drainage material (porous material) made from sand or charcoal. Drainage material (porous material) made from chaff can produce consolidated coefficient values (Cv), permeability coefficient value (k), and volume change coefficient value (mv) which is greater than the drainage material (porous material) made from sand and charcoal. The value of the consolidation coefficient (Cv) increases along with the increase in the diameter ratio (n) until it reaches the optimum diameter ratio (nopt), then after the optimum diameter ratio value is reached, the coefficient of consolidation will decrease. The optimum diameter ratio in soft clay that consolidates is obtained at a value of 6 (six). Keywords: Soil consolidation, vertical drainage (porous material), degree of consolidation, permeability coefficient, consolidation coefficient, and wetland soft clay soil. 
Asumsi Sistem Cerucuk Sebagai Alternatif Solusi Dalam Penanganan Kelongsoran Lereng Jalan Diatas Tanah Lunak Rusdiansyah, Rusdiansyah
INFO-TEKNIK 2016: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2016
Publisher : Engineering Department, Lambung Mangkurat University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daya dukung tanah yang rendah merupakan  akibat yang ditimbulkan  oleh tanah yang memiliki tahanan geser yang rendah. Hal ini karena tahanan geser merupakan unsur utama daya dukung tanah. Tahanan geser  yang  rendah  selalu  dimiliki  oleh  kondisi  tanah  dengan  konsistensi  sangat  lunak  sampai  lunak.  Upaya untuk  meningkatkan  tahanan  geser  tanah  lunak  yang  rendah  dapat  dilakukan  antara  lain  melalui  metode perkuatan  tanah.  Metode  perkuatan  tanah  bertujuan  untuk  menambah  kekuatan  tanah  agar  lebih  mampu mendukung  beban yang bekerja padanya. Saat ini tersedia beragam metode perkuatan tanah dengan teknologi yang memadai  dan metode  tersebut  telah berkembang  dengan  baik. Namun  perlu dijadikan  perhatian  bahwa suatu  metode  perkuatan  tanah  tertentu  belum  tentu  cocok  untuk  jenis  tanah  yang  lain,  apalagi  bila  ada permasalahan  spesifik  yang  ditimbulkan  oleh tanah  tersebut.Salah  satu metode  perkuatan  tanah  yang  efektif untuk  mengatasi  kelongsoran  jalan  dan  stabilitas  lereng  adalah  dengan  menggunakan  perkuatan  tiang-tiang vertikal yang berperilaku seperti sistem cerucuk. Cerucuk memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan turap dalam mengatasi  overall stability. Alasannya  berdasarkan  pada kemampuan  cerucuk yang dapat menghambat pergeseran tanah pada bidang longsornya. Cerucuk dapat dipancang sampai melewati asumsi bidang keruntuhan sirkuler yang terdalam. Pada perencanaan turap, bidang keruntuhan sirkuler yang terdalam tersebut tidak diperlukan.Untuk  menunjang  perhitungan  konstruksi  cerucuk  yang  mendekati  kondisi  yang  ada  di lapangan sangat dibutuhkan teori yang relevan mengenai cerucuk. Berdasarkan hasil kajian menunjukkan  bahwa apabila overall  stability   lebih  menentukan   dalam  perhitungan   stabilitas   turap  dan  penjangkarnya,   maka  asumsi perhitungan  yang lebih mendekati  kondisi sebenarnya  di lapangan  adalah asumsi konstruksi  cerucuk. Asumsi cerucuk  didasarkan  pada  kemampuan  turap  atau  tiang  berfungsi  serupa  cerucuk,  yang  dapat  memberikan perlawanan   tambahan   terhadap   geser  pada  saat  akan  terjadinya   pergeseran   keruntuhan   menurut   asumsi kelongsoran berbentuk lingkaran (circular sliding plane). Hal ini apabila panjang turap melebihi asumsi bidang kelongsorannya.Hasil  kajian juga menunjukkan bahwa tahanan geser tanah pada stabilitas lereng yang diperkuat dengan  cerucuk  selain  dipengaruhi  oleh parameter  momen  maksimum  yang  bekerja  pada cerucuk  (Mmaks), koefisien momen (Fm), dan faktor kekakuan cerucuk (T), juga dipengaruhi oleh : a) panjang tancap cerucuk, b) jarak atau spasi antar cerucuk,  c) jumlah  cerucuk  dan faktor  efisiensi,  d) diameter  cerucuk,  e) posisi  tancap cerucuk,  f)  pola  pemasangan  cerucuk,  dan  g)  jenis  tanah.Selain  itu  hasil  kajian  juga  menunjukkan  bahwa panjang tancap cerucuk mempengaruhi  peningkatan kuat geser tanah, dimana semakin panjang batang cerucuk yang ditancap  dibawah  bidang kelongsoran  maka semakin  meningkat  pula kuat geser tanah yang dihasilkan. Pada spasi cerucuk sebesar 3D dan 5D yang digunakan,  kuat geser tanah menjadi meningkat.  Tahanan  geser tanah mengalami  penurunan  disaat spasi cerucuk yang digunakan  semakin besar, dalam hal ini spasi cerucuk yang digunakan lebih dari 5D (spasi 8D). Pada spasi cerucuk yang digunakan sebesar 5D dapat menghasilkan kuat geser tanah yang lebih besar. Faktor efisiensi juga dapat mempengaruhi tahanan geser tanah yang diperkuat kelompok  cerucuk yang menerima  gaya geser horisontal  (longsoran).  Dimana kemampuan  kelompok  cerucuk dalam menahan geseran tidak akan sama dengan kemampuan masing-masing  cerucuk dikalikan dengan jumlah cerucuk  dalam  kelompok   yang  bersangkutan.   Faktor  efisiensi  mempengaruhi   tahanan  geser  tanah  yang diperkuat  kelompok  cerucuk  yang  menerima  gaya  geser  horisontal  (longsoran).  Posisi  tancap  tiang  cerucuk terhadap tahanan geser tanah mempunyai pengaruh yang signifikan. Posisi tiang cerucuk yang tepat memotong garis  lengkung  bidang  longsor  tanah  yang  membentuk  sudut  30o  dan  450  terhadap  horisontal  menghasilkan tahanan geser yang lebih besar daripada yang dihasilkan pada sudut 0o.
Pengaruh Overconsolidation Ratio (OCR) dan Kadar Organik (Oc) Terhadap Koefisien Tekanan Tanah Kesamping “at Rest” (Ko), Tanah Gambut Berserat Halus Rusdiansyah, Rusdiansyah; Mochtar, Noor Endah
Jurnal Teknik Sipil Vol 10, No 2 (2003)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.701 KB)

Abstract

Abstrak. Koefisien tekanan tanah kesamping “at rest” (Ko) untuk setiap jenis tanah tidak sama; tanah inorganic mempunyai harga Ko lebih besar dari pada tanah organik. Harga Ko tersebut juga masih dipengaruhi oleh overconsolidation ratio (OCR). Untuk tanah anorganik, harga Ko dapat ditentukan dengan formula yang telah tersedia; tetapi untuk tanah gambut harga Ko masih harus ditentukan dengan melakukan test di laboratorium.Dalam tulisan ini disajikan hasil penelitian yang menunjukkan hubungan antara Ko, OCR, dan Oc (kadar organik) tanah gambut berserat halus. Sampel yang diteliti dibuat dengan kandungan organik bervariasi (55%, 65%, 71%, 85%, dan 99%); tipe seratnya hanya serta halus saja. Ukuran sampel yang di test adalah : tinggi 15cm dan diameter 7 cm. Besar beban yang diberikan adalah 50, 100, 200, dan 400 kPa; harga OCR yang dipilih adalah 1, 2, 4, dan 8. Harga Ko ternyata makin membesar dengan meningkatnya harga OCR dan kandungan organik. Hubungan antara Ko dan OCR merupakan dua garis lurus patah yang mempunyai kemiringan berbeda. Pada OCR ≤ 2 peningkatan harga Ko terhadap harga OCR adalah sedikit lebih besar jika dibandingkan pada OCR > 2.Abstract. Coefficient of lateral earth pressure at rest (Ko) is different for each soil type; anorganic soil has higher value of Ko than organic soil. The ko value is also affected by the overconsolidation ratio (OCR) of the soil. For anorganic soil, the Ko value can be determined using the available formula; for peat soil, however, a laboratory testing has to be carried out in order to get the Ko value of the peat. In this paper is presented the research result that show correlation between Ko, OCR, and Oc (organic content) of fine fibrous peat. The soil sample was prepared with different organic content (55%, 65%, 71%, 85%, and 99%); the fibers chosen were only the fine ones. The sample size was 15 cm height and 7 cm in diameter. The loads applied were 50, 100, 200, and 400 kPa; the OCR values chosen were 1, 2, 4, and 8. The study results show that the Ko value is getting higher with the increase of the OCR value and the organic content. The correlation between Ko and OCR shows as two broken straight lines with different slope. At OCR ≤ 2 the increase of Ko is slightly higher compared to the one at OCR > 2.
Respon Dua Kultivar Padi (Oryza sativa L.) Mayas Akibat Perlakuan Jarak Tanam Rohaeni, Nani; Rusdiansyah, Rusdiansyah
Jurnal Pertanian Terpadu Jurnal Pertanian Terpadu Jilid I nomor 1 Mei 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Respon Dua Kultivar Padi (Oryza sativa L.) Mayas Akibat Perlakuan Jarak Tanam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon kultivar padi Mayas akibat perlakuan jarak tanam dan mendapatkan jarak tanam yang sesuai untuk pertumbuhan dan hasil kultivar padi Mayas. Penelitian dilaksanakan bulan Mei sampai November 2006 di Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara. Percobaan ini merupakan percobaan faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah kultivar yaitu Mayas Pancing dan Mayas Putih. Sedangkan faktor kedua adalah jarak tanam yaitu  20 x 20, 20 x 25, 25 x 25, 25 x 30, dan 30 x 30 cm. Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukan adanya interaksi yang nyata antara perlakuan kultivar dan jarak tanam. Perlakuan kultivar berpengaruh nyata terhadap berat 1000 butir, sedangkan pada perlakuan jarak tanam berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan total per rumpun, jumlah anakan produktif per rumpun dan berat 1000 butir. Kultivar Mayas Pancing memberikan hasil terbaik pada perlakuan jarak tanam 25 x 30 cm, sedangkan kultivar Mayas Putih pada jarak tanam 25 x 25 cm.
SISTEM PAKAR MENDETEKSI KERUSAKAN MESIN VVT-I BERBASIS WEB PADA KENDARAAN TOYOTA VIOS Rusdiansyah, Rusdiansyah
Jurnal Pilar Nusa Mandiri Vol 13 No 2 (2017): PILAR Periode September 2017
Publisher : PPPM Nusa Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1079.178 KB)

Abstract

Tingginya tingkat permintaan para pengguna kendaraan agar memiliki mobil dengan mesin yang bertenaga namun tetap irit bahan bakar dan ramah lingkungan telah menjadi pemicu timbulnya teknologi baru yang ideal dengan nama Variabel Valve Timing-Intelligent atau lebih dikenal dengan sebutan VVT-i. Teknologi VVT-i merupakan teknologi yang mengatur sistem kerja katup pemasukan bahan bakar (intake) secara elektronik baik dalam hal waktu maupun ukuran buka tutup katup sesuai dengan besar putaran mesin sehingga menghasilkan tenaga yang optimal, hemat bahan bakar dan ramah mesin   adalah metoda rangkaian maju (Forward Chaining).Penelusuran dimulai lingkungan. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui gejala kerusakan pada mobil Toyota Vios berteknologi VVT-i dengan Sistem pakar.  Teknik yang  digunakan dalama sistem pakar dengan mencari informasi-informasi, terutama dari Para pakar di bidang mesin VVT-i, kemudian barulah untuk menyimpulkan atau mencari hipotesa berdasarkan informasi yang ada. Sistem pakar ini dapat  memberikan informasi kepada pengguna kendaraan atau seseorang yang akan memperbaiki kendaraannya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat  membantu para pengguna yang masih awam terhadap kerusakan pada mesin Toyota Vios dan memberikan solusi bagi seseorang untuk mengetahui informasi tentang kerusakan pada mesin Toyota  Vios dengan singkat, jelas dan mudah dimengerti.
Penggunaan PVD dan Preloading untuk Mempercepat Waktu Konsolidasi Di Lahan Penumpukan Peti Kemas Pelabuhan Trisakti Banjarmasin Rusdiansyah, Rusdiansyah
INFO-TEKNIK Vol 9, No 2 (2008): INFOTEKNIK VOL. 9 NO. 2 2008
Publisher : Engineering Department, Lambung Mangkurat University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Development of extension of heaping container area of The Port Of Trisakti Banjarmasin ( Phase I) for the width of 50 x m 200 m started at year-end 2006, this meant as supporter medium for the increase of service to port user specially container. Of theoretical calculation and aktual in field happened difference of result because usage of data in taken away from theoretical calculation of data investigation of land; ground in the year 2000 while execution of work in the year 2007. During range of time (± 7 year) conducive by elementary land; ground experience of resulted from degradation land weight itself effect and land; ground of existence of influence of work of development of dock in container farm location (heavy equipment traffic and dock material heap). Result of analysis and perception of field as a whole express that natural land; ground of degradation of primary which isnt it however admiting of to experience of small degradation (sekunder degradation). 
TINJAUAN TINGKAT KERUSAKAN BANGUNAN AKIBAT PENGARUH GETARAN PEMANCANGAN PONDASI TIANG PADA HOTEL MENTARI BANJARMASIN Rusdiansyah, Rusdiansyah
INFO-TEKNIK Vol 10, No 1 (2009): INFOTEKNIK VOL. 10 NO. 1 2009
Publisher : Engineering Department, Lambung Mangkurat University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam kajian ini membahas tentang tinjauan tingkat kerusakan bangunan akibat pengaruh getaran pemancangan pondasi tiang pada proyek pengembangan Hotel Mentari Banjarmasin. Metode yang menggunakan data kalendering pemancangan pondasi tiang untuk mendapatkan nilai frekuensi dan amplitudo yang dihasilkan dari proses  pemancangan tersebut.Setelah diketahui tingkat kerusakan secara teoritis, kemudian dibandingkan dengan kerusakan bangunan hasil pengamatan langsung di lapangan. Tingkat kerusakan pada bangunan SD Kartika VI bagian I dan II ditinjau dari analisa perhitungan dan pengamatan langsung di lapangan menunjukkan kesesuaian, namun lain halnya untuk bangunan Hotel Mentari lama yang menunjukkan ketidaksesuaian. Setelah dilakukan pengamatan lebih lanjut ditemui beberapa variabel penyebab ketidaksesuaian tersebut. Variabel-variabel tersebut adalah jarak sumber getaran terhadap bangunan dan karakteristik bangunan itu sendiri yang meliputi umur bangunan, dimensi bangunan, dan jenis pondasi yang digunakan.Untuk mengantisipasi kerusakan yang parah atau terjadinya keruntuhan, maka diberikan suatu solusi alternatif berupa isolasi getaran pasif, yaitu galian terbuka dan pipa berongga. Setelah melalui proses perhitungan dan pertimbangan kemungkinan pelaksanaan pekerjaan di lapangan untuk pemberian isolasi getaran, ternyata pipa berongga dengan selimut beton merupakan jenis isolasi getaran yang paling memungkinkan untuk diberikan dalam upaya melindungi bangunan sekitar dari pengaruh getaran pemancangan pondasi tiang.
Pengaruh Kedalaman Tancap, Spasi, dan Jumlah Cerucuk dalam Peningkatan Tahanan Geser Tanah Lunak Berdasarkan Permodelan di Laboratorium Rusdiansyah, Rusdiansyah; Mochtar, Indrasurya B.; Mochtar, Noor Endah
INFO-TEKNIK 2015: Prosiding Semnas Teknik Sipil 2015
Publisher : Engineering Department, Lambung Mangkurat University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Belakangan ini pemakaian cerucuk cukup efektif sebagai metode alternatif perkuatan stabilitas lereng maupun perkuatan embankment jalan. Pada embankment jalan, cerucuk  digunakan sebagai bahan yang kaku berfungsi untuk menaikkan stabilitas tanah. Sebagai perkuatan lereng, cerucuk sangat efektif berfungsi sebagai pasak/tulangan yang dapat memotong bidang kelongsoran lereng. Sehingga cerucuk dapat memberikan tambahan gaya geser pada lereng yang mampu melawan gaya geser longsoran yang terjadi. Tambahan gaya geser yang dihasilkan oleh cerucuk tersebut dapat meningkatkan angka keamanan (safety factor) stabilitas lereng.Akhir-akhir ini pengembangan teori tentang konstruksi perkuatancerucuk padastabilitas lereng tanah lunak guna menambah kekuatan gesernya(yang mendekati kondisi di lapangan) masih sedikit dan belum memadai.Hanya saja untuk pengembangannya tersebut sangat diperlukan informasi yang rinci dan jelas tentang interaksi antara tanah lunak dengancerucuk. Informasi tersebut dapat diperoleh salah satunya dari penelitian skala laboratorium yang dibuat mendekati kondisi lapangan.                Tujuan penelitian ini untuk menjawab bagaimana pengaruh panjang tancapan (rasio tancap) dan pengaruh jarak (spasi) antar cerucuk terhadap penambahan tahanan geser dari stabilitas lereng tanah lunak. Penelitian ini dilaksanakan melalui salah satu cara pendekatan model skala laboratorium, namun perilakunya dibuat mendekati perilaku sebenarnya di lapangan. Bidang kelongsoran lereng yang terjadi di lapangan didekati dengan bidang geser yang sengaja dibuat di laboratorium dengan menggeser contoh tanah (Plab) yang terdapat dalam kotak geser hasil modifikasi yang berukuran relatif besar pada alat geser langsung. Cerucuk yang akan digunakan berupa cerucuk kayu mini dan ditanamkan pada contoh tanah tadi.Variasi rasio tancap (L/D) yang diterapkan sebesar 5, 10, 15, dan 20.Sedangkaan variasi spasi cerucuk yang digunakan sebesar 3D, 5D, dan 8D.Sedangkan untuk variasi jumlah cerucuk yang dipasang yaitu 1 batang, 2 batang, 4 batang, dan 6 batang.Diharapkan dari perilaku skala kecil tersebut dihasilkan tambahan teori mengenai perkuatan lereng dengan cerucuk yang mendekati kondisi sebenarnya di lapangan.Hasil penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa semakin besar rasio tancap yang digunakan cerucuk maka semakin meningkatkan tahanan geser tanah lunak.Selain itu tahanan geser tanah lunak juga meningkat apabila spasi antar cerucuk yang digunakan sebesar 3D sampai 5D.Akan tetapi penurunan tahanan geser tanah lunak terjadi apabila spasi antar cerucuk yang digunakan adalah lebih besar dari 5D.Selain itu bahwa tahanan geser tanah menjadi meningkat seiring dengan adanya penambahan jumlah cerucuk. Kelompok cerucuk yang menerima gaya geser horisontal pada arah sejajar terhadap baris kelompoknya (PolaPemasangan  1) menghasilkan tahanan geser tanah yang relatif lebih besar daripada arah tegak lurus terhadap baris kelompoknya (Pola Pemasangan 2). Selain itu bahwa kemampuan kelompok cerucuk dalam menahan geseran horisontal juga dipengaruhi oleh faktor efisiensi. Dimana kemampuan kelompok cerucuk dalam menahan geseran horisontal tidak akan sama dengan kemampuan masing-masing cerucuk dikalikan dengan jumlah cerucuk dalam kelompok yang bersangkutan.