Articles

Found 15 Documents
Search

KARAKTERISTIK FISIS AIR LAUT DAN DINAMIKA PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU Mustikasari, Eva; Rustam, Agustin
Jurnal Riset Jakarta Vol. 12 No. 2 (2019): Jurnal Riset Jakarta
Publisher : Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1400.082 KB) | DOI: 10.37439/jurnaldrd.v12i2.5

Abstract

Secara georgrafis perairan Kepulauan Seribu memiliki peran penting dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonimi daerah melalui pengembangan industri kelautan seperti jasa perhubungan laut, transhipment, penambangan minyak dan pariwisata. Salah satu unsur penunjang pengembangan Kepulauan Seribu yaitu dengan mengkaji dan menganalisis karakteristik fisis air laut dan dinamika perairannya. Karakteristik fisis dan dinamis air laut seperti temperatur, intensitas cahaya, pasang surut dan arus dikaji dalam penelitian ini bertujuan agar setiap pengembangan memiliki rencana yang baik dan benar karena kondisi perairannya terukur. Metoda utama yang digunakan dalam kajian ini adalah metoda pengukuran in situ serta pemodelan hidrodinamika yang diselesaikan secara numerik. Hasil kajian menunjukkan bahwa Temperatur rata-rata perairan di Kepulauan seribu mencapai 28.582oC sampai 30.252oC, sementara nilai intensitas cahaya rata-rata mencapai 0.801 Cd sampai 120.869 Cd. Tipe pasang surut di Kepulauan Seribu merupakan tipe pasang surut Campuran condong harian tunggal. Rms error hasil pengukuran elevasi pasut in situ dan simulasi numerik menunjukkan nilai 0.01564. Kecepatan arus maksimum 0.164 m/det. sedangkan kecepatan arus minimum berkisar 0.002 m/det. Kepulauan seribu merupakan wilayah perairan yang subur dan potensial untuk tumbuh kembang aneka ragam hayati laut.
Ekosistem Lamun sebagai Bioindikator Lingkungan di P. Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara Rustam, Agustin; Kepel, Terry L.; Kusumaningtyas, Mariska A.; Ati, Restu Nur Afi; Daulat, August; Suryono, Devi D.; Sudirman, Nasir; Rahayu, Yusmiana P.; Mangindaan, Peter; Heriati, Aida; Hutahaean, Andreas A.
JURNAL BIOLOGI INDONESIA Vol 11, No 2 (2015): JURNAL BIOLOGI INDONESIA
Publisher : Perhimpunan Biologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jbi.v11i2.2197

Abstract

ABSTRACTSeagrass ecosystem has a function of spawning, nursery, and feeding ground. Besides, it could be used as a bio-indicator of environmental health. This study of seagrass ecosystem was done in 17- 22 May 2014 in Lembeh Island and Tanjung Merah, Bitung. The purpose of the study is to obtain existing condition of seagrass ecosystem and its role as environment bio-indicator. Purposive sampling method was used representing all study sites. Structure analysis of seagrass communities describes the existing condition, while scoring / weighting method estimate current condition of the seagrass. Results that show there are seven species of seagrass. In the stations opposite to Bitung mainland, 75% of the seagrass are Enhalus acoroides (10-50% covers). Importance value index of the seagrass species were Enhalus acoroides (231–300 %), Thalassia hemprichii ( 102–198 %) and Halophila ovalis (110 %) respectively. Based on the weighting method and environmental standard quality, seagrass ecosystem in Lembeh island opposite to Bitung mainland was in damage and unhealthy condition, while seagrass ecosystem opposite to the open sea was in a good and healthy condition. This was due to the domestic waste that is trapped in seagrass ecosystem in the study site. It is necessary to improve awareness to maintain quality of environmental.  Keywords: seagrass, existing, bioindicator, Lembeh Island 
PEMANTAUAN EKOSISTEM LAMUN PULAU PARI DAN PULAU TIKUS Rustam, Agustin
Jurnal Riset Jakarta Vol. 12 No. 1 (2019): Jurnal Riset Jakarta
Publisher : Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.657 KB) | DOI: 10.37439/jurnaldrd.v12i1.3

Abstract

Monitoring atau pemantauan yang dilakukan terhadap ekosistem lamun pada lokasi permanen diperlukan mendapatkan sumber masalah dan solusi untuk  pengelolaan ekosistem yang berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan tahun 2012 di perairan Gugusan Pulau Pari, Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta dengan pemasangan lokasi permanen di dua pulau, Pulau Pari dan Pulau Tikus. Tujuan penelitian ini mendapatkan dinamika kondisi eksisting ekosistem lamun melalui pendekatan persentase tutupan lamun. Metode penelitian dilakukan dengan survei lapangan yang berkelanjutan (monitoring), penentuan lokasi permanen berdasarkan hipotesa Pulau Pari terpengaruh aktivitas daratan, Pulau Tikus tidak terpengaruh. Hasil penelitian jenis lamun yang ditemukan di gugusan Pulau Pari ada tujuh jenis. Hasil  monitoring terlihat adanya kecenderungan penurunan persentase penutupan lamun dan berkurangnya spesies lamun di Pulau Pari, sedangkan di Pulau Tikus terlihat stabil. Aktivitas pembangunan yang berlangsung di Pulau Tengah berperan cukup besar atas penurunan persentase tutupan lamun di Pulau Pari selama penelitian, juga potensi pencemaran limbah domestik dari masyarakat lokal maupun dari wisatawan. Pemantauan pada lokasi permanen perlu dilanjutkan sehingga permasalahan yang terjadi dengan ekosistem di Gugusan Pulau Pari dapat dicari solusinya. Misalnya terkait dengan tingginya aktivitas wisatawan, perlu pembelajaran tentang ekowisata yang baik bagi wisatawan dan masyarakat lokal, misalnya dalam penanganan limbah. Sehingga diharapkan pemanfatan ekosistem yang berkelanjutan dalam tujuan pembangunan berkelanjutan dapat dilakukan.
Kajian Kualitas Air Untuk Wisata Bahari Di Pesisir Kecamatan Moyo Hilir Dan Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa Saraswati, Ni Luh Gede Rai Ayu; -, Yulius; Rustam, Agustin; Salim, Hadiwijaya L.; Heriati, Aida; Mustikasari, Eva
Jurnal Segara Vol 13, No 1 (2017): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1663.752 KB) | DOI: 10.15578/segara.v13i1.6421

Abstract

Perairan teluk Saleh memiliki keanekaragaman hayati laut yang berpotensi sebagai obyek wisata bahari. Keberadaan keanekaragaman hayati laut tersebut tidak terlepas dari kondisi kualitas perairan sebagai penunjang kehidupan organisme akuatik sebagai obyek dari wisata bahari. Oleh karena itu, penelitian terhadap analisis kualitas air untuk wisata bahari di teluk Saleh diperlukan. Penelitian ini dilakukan pada 8-10 Mei 2015 di teluk Saleh, Kabupaten Sumbawa dengan mengambil sebanyak 29 lokasi stasiun pengamatan. Pengambilan data kualitas perairan dilakukan secara purposive sampling dengan menggunakan alat multiparameter WQC-24. Parameter yang diukur diantaranya adalah kecepatan arus, kecerahan, kekeruhan, suhu, pH, salinitas dan DO. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan menggunakan analisa PCA (Principal Component Analysis). Hasil pengukuran menunjukan bahwa nilai kekeruhan (pada stasiun 25 dan 50), fosfat dan nitrat melebihi baku mutu Kepmenneg LH no 51 tahun 2004 Lampiran II dengan nilai rata-rata berturut-turut 20,5 NTU; 0,074 mg/L; dan 8,4 mg/L. Secara keseluruhan perairan teluk Saleh tergolong baik dan cocok sebagai kawasan wisata bahari. Berdasarkan analisis PCA diperoleh parameter yang berperan kuat di lokasi adalah konduktivitas, salinitas, suhu, kecepatan arus dan kekeruhan.
STUDI AWAL RAJA AMPAT SEBAGAI MARINE ECO ARCHEO PARK: ANALISIS KUALITAS PERAIRAN DI KAWASAN SELAT DAMPIR Rustam, Agustin; Dillenia, Ira; A Troa, Rainer; G Bengen, Dietriech
Jurnal Segara Vol 14, No 1 (2018): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1308.575 KB) | DOI: 10.15578/segara.v14i1.6786

Abstract

Selat Dampir yang berada di daerah Raja Ampat merupakan salah satu gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung kepala burung pulau Papua bagian dari kawasan Coral Triangle Initiative (CTI) yang memiliki biodiversitas tinggi. Selain itu di lokasi ini terdapat situs arkeologi maritim, sehingga kawasan ini merupakan kawasan yang cocok sebagai kawasan marine eco archeo park. Perlu dilakukan penelitian awal keberadaan lokasi ini seperti kualitas perairan yang dilakukan pada tanggal 7 – 13  Mei 2014. Pengambilan data kualitas perairan dilakukan secara purposive sampling dengan menggunakan alat multiparameter secara in situ dan analisis sampel air di laboratorium. Parameter yang diukur yaitu salinitas, pH, turbiditas, padatan tersuspensi (TSS), Biological Oxygen Demand (BOD5), nitrat, tembaga dan nikel. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan menggunakan analisis PCA (Principal Component Analysis). Hasil yang didapat untuk semua parameter masih sesuai dengan KMNLH no 51 tahun 2004, hanya nilai tembaga pada saat pengukuran tidak sesuai, walaupun secara keseluruhan perairan Selat  Dampir pada saat pengukuran masih dalam kondisi baik sebagai daerah taman nasional dan wisata bahari. Berdasarkan analisis PCA didapatkan parameter yang berperan kuat di lokasi adalah BOD5, pH, TSS dan kecerahan. Diperlukan penelitian lebih lanjut terkait lokasi penelitian sebagi situs maritim dan daerah wisata bahari di daerah konservasi dalam mewujudkan marine eco archeo park berbasis ekosistem lestari.
Ekologi dan Struktur Komunitas Lamun di Teluk Ratatotok, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara Kusumaningtyas, Mariska A.; Rustam, Agustin; Kepel, Terry L.; Afi Ati, Restu Nur; Daulat, August; Mangindaan, Peter; Hutahaean, Andreas A.
Jurnal Segara Vol 12, No 1 (2016): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1683.985 KB) | DOI: 10.15578/segara.v12i1.6451

Abstract

Penelitian mengenai ekologi dan struktur komunitas lamun ini dilakukan tanggal 10 – 15 Juni 2013 di perairan pesisir Teluk Ratatotok, Minahasa Tenggara. Metode penelitian dilakukan secara purposive sampling terkait dengan keberadaan lamun. Penelitian yang dilakukan meliputi pengukuran prosentase tutupan lamun, kerapatan, struktur komunitas, dan kondisi lingkungan di lokasi penelitian. Terdapat tujuh jenis lamun yang terdiri dari dua famili. Famili Hydrocharitaceae ditemukan tiga jenis lamun yaitu Enhalus acoroides (Ea), Thalassia hemprichii (Th) dan Halophila ovalis (Ho). Empat jenis lamun dari famili Cymodoceaceae yaitu Cymodocea serrulata (Cs), Cymodocea rotundata (Cr), Halodule pinifolia (Hp), dan Syringodium isoetifolium (Si). Kisaran prosentase penutupan rata-rata antara 22,5% - 89,5%. Kerapatan lamun perstasiun berkisar antara 17 – 473 ind/m2, dengan kerapatan tertinggi lamun jenis Ho sebesar 473 ind/m2 di stasiun 6. Nilai INP tertinggi pada lamun jenis Ea sebesar 128% diikuti berturut-turut oleh Si (41%), Th (36%), Ho (27%), Cs (26%), Cr (24%) dan Hp (17%). Berdasarkan kriteria status kondisi padang lamun (Kepmen LH no 200 tahun 2004), kondisi padang lamun di Teluk Ratatotok antara rusak/miskin sampai dengan baik/sehat. Stasiun 5 kondisi rusak/miskin, stasiun 3 dan 4 kondisi rusak/kurang sehat dan tiga stasiun kondisi baik/sehat yaitu stasiun 1, 2 dan 6. Secara keseluruhan kondisi lingkungaan Teluk Ratatotok masih mendukung pertumbuhan lamun.
KARAKTERISTIK SEBARAN SEDIMEN DAN LAJU SEDIMENTASI PERAIRAN TELUK BANTEN Rustam, Agustin; Adi, Novi Susetyo; Mustikasari, Eva; Kepel, Terry Louise; Kusumaningtyas, Mariska A.
Jurnal Segara Vol 14, No 3 (2018): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (989.354 KB) | DOI: 10.15578/segara.v14i3.7351

Abstract

Teluk Banten di Utara Kota Serang, Banten, menampung berbagai muatan sedimen dari 7 (tujuh) sungai yang bermuara di teluk ini. Penelitian yang dilakukan pada Oktober 2008 di perairan teluk ini bertujuan untuk memahami karakteristik sebaran sedimen permukaan dan komposisi bahan organik serta laju sedimentasi sebagai bagian dari penelitian karbon laut di Indonesia. Metode yang dilakukan adalah metode deskriptif, dengan memeriksa sedimen yang diambil menggunakan grab sampler. Analisis sedimen meliputi pengukuran tekstur sedimen, bahan organik total atau Total Organic Matter (TOM) dan laju sedimentasi; analisis perairan meliputi bahan organik terlarut dan total padatan tersuspensi atau Total Suspended Solids (TSS). Dalam klasifikasi pasir, debu dan liat, sampel yang dikumpulkan dari Teluk Banten menunjukkan tekstur sedimen pasir rata-rata sebesar 54,86 %, sedangkan nilai TOM dan karbon organik berkisar 5,33 - 20,57 % dan 0,47 - 3,44 %. Laju sedimentasi tercatat berkisar antara 0,011 - 0,035 kg/m2/hari dengan komposisi tertinggi pada tekstur pasir.
Seagrass Ecosystem Carbon Stock In The Small Islands: Case Study In Spermonde Island, South Sulawesi, Indonesia Rustam, Agustin; Sudirman, Nasir; Afi Ati, Restu Nur; Salim, Hadiwijaya Lesmana; Rahayu, Yusmiana Puspitaningsih
Jurnal Segara Vol 13, No 2 (2017): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1198.664 KB) | DOI: 10.15578/segara.v13i2.6445

Abstract

Small islands are particularly rich with coral reefs and seagrass ecosystems and coastal plants. Seagrass is one of the coastal ecosystems of blue carbon, which is capable of storing utilize and store CO2 in the form of organic carbon in biomass and sediment. The purpose of this study to get the carbon stock of seagrass and its role in climate change. The survey method with sampling purposive sampling representing all research sites and analyzed the amount of carbon contained in biomass and sediment. The result showed that there were eight species of seagrass found, and the highest carbon stock  on the type Enhalus acoroides at  Kapoposang island was 1.64 MgC / ha. The average value of the total biomass of carbon stock in the islands largest seagrass Bauluang island  was 1.89 ± 0.92 Mg C / ha with the largest at the ground below 77% of total carbon biomass. Carbon stock in sediments of seagrass ecosystems average of 531.87 ± 74.08 Mg C / ha up to a depth of 50 cm. The role of seagrass in Spermonde archipelago waters in climate change in both the biomass and sediment for MgC 533.25 MgC/ ha is equivalent to the use of CO2 for 1955.26 MgCO2e / ha.
GROWTH RATE AND PRODUCTIVITY DYNAMICS OF ENHALUS ACOROIDES LEAVES AT THE SEAGRASS ECOSYSTEM IN PARI ISLANDS BASED ON IN SITU AND ALOS SATELLITE DATA Rustam, Agustin; Bengen, Dietriech Geoffrey; Arifin, Zainal; Gaol, Jonson Lumban; Arhatin, Risti Endriani
International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences (IJReSES) Vol 10, No 1 (2013)
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space of Indonesia (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.871 KB) | DOI: 10.30536/j.ijreses.2013.v10.a1847

Abstract

Enhalus acoroides is the largest population of seagrasses in Indonesia. However, growth rate  and  productivity  analyses  of Enhalus  acoroides and  the use  of  satellite data to estimate its the productivity are still rare. The goal of the research was to analyze the growth rate, productivity rate,seasonal productivity of Enhalus acoroides in Pari island and its surroundings. The study was divided into two phases i.e., in situ measurments and satellite image processing. The field study was conducted to obtain the coverage percentage, density, growth rate, and productivity rate, while the satellite image processing was used to estimate the extent of seagrass. The study was conducted in August 2011 toJuly  2012  to  accommodate  all  four  seasons. Results  showed  that  the highest  growth  rate  andproductivity occurred during the transitional season from west Monsoon to the east Monsoon of 5.6cm/day  and  15.75  mgC/day, respectively.   While, the  lowest growth rate  and productivity occurred during  the  transition  from east  Monsoon  to  the  west  Monsoon of 3.93  cm/day  and  11.4  mgC/day, respectively. Enhalus  acoroides productivity reached its maximum during  the  west  Monsoon  at 1081.71 mgC/day/m2 and minimum during east Monsoon with 774.85 mgC/day/m2 . Based on ALOS data in 2008 and 2009, total production of Enhalus acoroides in the proximity of Pari islands reached its maximum occur during the west Monsoon (48.73 – 49.59 Ton C) and minimum during transitional season (16.4-16.69 Ton C). Potential atmospheric CO2 absorption by Enhalus acoroides in Pari island was estimated at the number 60.14 – 181.82 Ton C.
Kualitas Perairan Teluk Kayeli, Kabupaten Buru, Propinsi Maluku, untuk Budi daya Laut dan Wisata Bahari Rustam, Agustin; Prabawa, Fajar Yudi; Tussadiah, Armyanda
Jurnal Segara Vol 15, No 1 (2019): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1082.594 KB) | DOI: 10.15578/segara.v15i1.7769

Abstract

Kualitas perairan merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung usaha budi daya laut dan wisata bahari yang umumnya dilakukan di sebuah perairan teluk, seperti Teluk Kayeli yang terletak di Pulau Buru.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis  kondisi perairan Teluk Kayeli yang dimanfaatkan sebagai lokasi kegiatan budi daya laut dan wisata bahari. Pengambilan sampel air dilakukan dengan menggunakan metode survei, dengan penentuan titik sampling secara sistematis di seluruh bagian dalam teluk pada Oktober 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas perairan di Teluk Kayeli masih sesuai baku mutu. Sebanyak 18 jenis fitoplankton dan 8 jenis zooplankton yang ditemukan. Kelimpahan rata-rata fitoplankton 51 sel/L dengan kelimpahan tertinggi jenis Chaetoceros decipiens. Berdasarkan analisis kualitas perairan Teluk Kayeli dinilai sesuai untuk budi daya keramba jaring apung dan wisata bahari, dengan nilai nitrat 0,006 mg/L, DO (Dissolved Oxygen) 5,89 mg/L, salinitas 33,26 PSU dan turbiditas 0,23 NTU. Hasil penelitian ini tidak mengukur kandungan logam berat dalam perairan sehingga disarankan agar dilakukan pengukuran logam berat terkait dengan masih adanya usaha penambangan yang membuang limbah ke sungai. Berdasarkan analisis kualitas perairan penelitian ini, Teluk kayeli sesuai untuk budi daya jaring apung maupun wisata bahari sehingga diperlukan infrastruktur ramah lingkungan yang mendukung, serta kajian daya dukung Teluk Kayeli untuk dua kegiatan tersebut.