- Ruswahyuni
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 34 Documents
Articles

Found 34 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA KELIMPAHAN HEWAN MAKROBENTHOS DENGAN KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PULAU PANJANG DAN TELUK AWUR JEPARA Prasetya, Derry Kurnia; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan Pulau Panjang dan Teluk Awur terletak di Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragaman ekosistem perairan, antara lain ekosistem lamun. Kondisi dari ekosistem lamun dikedua lokasi tersebut akan mempengaruhi tingkat kerapatan dan selanjutnya akan mempengaruhi hewan makrobenthos yang hidup di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerapatan lamun yang berbeda dan kelimpahan hewan makrobenthos serta hubungan antara tingkat kerapatan lamun yang berbeda dengan kelimpahan hewan makrobenthos yang ada di perairan Pulau Panjang dan Teluk Awur Jepara. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada bulan April 2015 di perairan pantai Pulau Panjang dan Teluk Awur Jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus yang bersifat deskriptif. Langkah penelitian yang dilakukan yaitu sampling, identifikasi, analisis data dan evaluasi data. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 jenis lamun yang ditemukan di Pulau Panjang yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halodulle sp dan Sryngodium sp dan terdapat 4 jenis lamun yang ditemukan di Teluk Awur yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp dan Halophila sp. Kelimpahan hewan makrobenthos di kerapatan lamun jarang, sedang dan padat di Pulau Panjang adalah 68 ind/m3, 77 ind/m3 dan 103 ind/m3, sedangkan kelimpahan hewan makrobenthos di kerapatan lamun jarang, sedang dan padat di Teluk Awur adalah 43 ind/m3, 62 ind/m3 dan 84 ind/m3. Berdasarkan hasil regresi menunjukkan antara kelimpahan hewan makrobenthos dengan kerapatan lamun terdapat korelasi yang erat, sehingga semakin tinggi kerapatan lamun akan diikuti oleh tingginya kelimpahan hewan makrobenthos. Awur Bay and Panjang Island which are located in Jepara, have a diversity of ecosystems such as seagrass. Conditions of seagrass ecosystems in both location will affect the level of density macrobenthic animal who live there. The purpose of the research was to know the relationship between density level of different seagrass and abundance of macrobenthic animal both in Panjang Island and Awur Bay, Jepara. The research has been done in April 2015. The method used was case study and analyzed descriptive. Research carried out measures that take sample, identification, data analysis and data evaluation. The result showed that there were 5 type of seagrass found in Panjang Island Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halodulle sp and Sryngodium sp and there were 4 type of seagrass found in Awur Bay Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp dan Halophila sp. The abundance of macrobenthic animal from sparse, medium and dense density of seagrass in Panjang Island was 68 ind/m3, 77 ind/m3 and 103 ind/m3. While the abundance of macrobenthic animal from sparse, medium and dense density of seagrass in Awur Bay was 43 ind/m3, 62 ind/m3 and 84 ind/m3. Based on regression result showed that between abundance of macrobenthic animal with seagrass density there were a close correlation so that the higher seagrass density will be followed by higher abundance of macrobenthic animal.
KELIMPAHAN EPIFAUNA DI SUBSTRAT DASAR DAN DAUN LAMUN DENGAN KERAPATAN YANG BERBEDA DI PULAU PAHAWANG PROVINSI LAMPUNG Prakoso, Kukuh; Supriharyono, -; Ruswahyuni, -
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Pahawang merupakan salah satu pulau kecil yang terdapat di kawasan Teluk Lampung yang memiliki ekosistem lamun. Lamun di Pulau Pahawang merupakan salah satu habitat yang mendukung kehidupan biota akuatik salah satunya epifauna. Epifauna yang hidup di lamun tersebut memanfaatkan lamun sebagai habitat dan juga memanfaatkan nutrisi dari serasah lamun sebagai makanannya, dimana parameter lingkungan dan predasi mempengaruhi distribusi lamun dan kehidupan epifauna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis lamun dengan kerapatan yang berbeda, mengetahui kelimpahan epifauna di substrat dasar daun lamun, dan mengetahui hubungan kelimpahan epifauna di substrat dasar dan daun lamun dengan kerapatan lamun yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-April 2015 dengan menggunakan metode deskriptif. Langkah penelitian yang dilakukan yaitu sampling, identifikasi, analisis data dan evaluasi data. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu dua jenis lamun, tujuh jenis epifauna di daun lamun dan enambelas jenis epifauna di substrat dasar. Lamun jenis Enhalus sp mendominasi nilai terbesar didapatkan di kerapatan padat 8615 ind/25m2, epifauna di daun lamun yang paling banyak ditemukan yaitu jenis Cerithium sp 22 ind/15m2 dan Rhinoclavis sp 20 ind/15m2 pada kerapatan padat, sedangkan epifauna di substrat dasar yang paling banyak ditemukan yaitu jenis Cerithium sp sebesar 91 ind/15m2 dan Cronia sp sebesar 26 ind/15m2 pada kerapatan padat. Berdasarkan hasil regresi terdapat hubungan antara kelimpahan epifauna di substrat dasar dan daun lamun dengan kerapatan yang berbeda dimana kenaikan kerapatan lamun akan menyebabkan kenaikan kelimpahan epifauna di substrat dasar dan daun lamun. Pahawang Island is a small island located in the Gulf region which grows seagrass Lampung. Seagrass Pahawang Island is one of the habitats that support aquatic biota one epifauna. Epifauna uses seagrass as habitat and also uses the nutrition from the litter seagrass as food, where the environmental parameters and predation affect seagrass distribution and epifauna life. The purpose of this study was to find the species of seagrass with different densities, knowing the abundance of epifauna in seagrass leaves the base substrate, and to analyze the relationship in the base substrate epifauna abundance and seagrass leaves with different seagrass density. This study was conducted in March-April 2015 by using descriptive method. Measurment includes of sampling, identification, data analysis and evaluation of data. The study resulted that there are two species of seagrass, seven types of epifauna in seagrass leaf and sixteen types of epifauna in the base substrate. Seagrass tspecies Enhalus sp dominates in the solid density 8615 ind / 25m2, epifauna on seagrass leaves most commonly found are the species Cerithium sp 22 ind / 15m2 and Rhinoclavis sp 20 ind / 15m2 at solid density, while the base substrate epifauna at most found that many species of Cerithium sp was 91 ind / 15m2 and Cronia sp by 26 ind / 15m2 on a solid density. Based on the results of regression there is a relationship between the abundance of epifauna in the base substrate and seagrass leaves with different densities of sea grass where the increase in density will lead to a rise in the base substrate epifauna abundance and seagrass leaves.
HUBUNGAN KELIMPAHAN EPIFAUNA YANG BERASOSIASI DENGAN LAMUN PADA TINGKAT KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PANTAI PULAU PANJANG, JEPARA Herfina, -; Ruswahyuni, -; Sulardiono, Bambang
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau panjang merupakan salah satu wilayah di perairan Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragamanan ekosistem perairan, antara lain adalah ekosistem lamun yang merupakan tempat hidup bagi biota-biota perairan yang salah satunya adalah epifauna. Secara ekologi, padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting di daerah pesisir yang salah satunya yaitu berfungsi menstabilkan dasar-dasar lunak di mana kebanyakan spesies tumbuh, terutama dengan sistem akar yang padat dan saling menyilang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan epifauna yang berasosiasi pada kerapatan lamun yang berbeda dan mengetahui hubungan kelimpahan epifauna yang berasosiasi pada kerapatan lamun yang berbeda diperairan pantai pulau panjang jepara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2012, di perairan pantai Pulau Panjang, Kabupaten Jepara.  Metoda sampling yang digunakan adalah metoda pemetaan sebaran lamun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yang bersifat deskriptif. Tingkat kerapatan lamun dibagi menjadi 3 stasiun dengan kerapatan yang berbeda yaitu kerapatan jarang, kerapatan sedang dan kerapatan padat, dengan luasan yang sama (5 m x 5 m). Pengambilan sampel epifauna dilakukan pada 9 titik sampling dengan cara pengambilan permukaan substrat yang berbeda didalam kuadran transek dengan menggunakan cetok dan disaring dengan menggunakan saringan ukuran 1 mm dan diberi formalin 4 %. Sampel disortir di laboratorium dan diidentifikasi. Dari hasil pengamatan diketahui terdapat 5 spesies lamun pada ketiga stasiun dengan jumlah yang berbeda. Jenis lamun yang ditemukan adalah jenis Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halodule sp dan Syringodium sp. Kerapatan lamun yang jarang dengan jumlah individu 15.923 individu, kerapatan lamun sedang berjumlah 36.546 individu dan kerapatan lamun padat dengan berjumlah 53.182 individu. Kelimpahan epifauna yang ditemukan di daerah kerapatan lamun jarang yaitu 118 individu/m2 dari 17 spesies, sedangkan pada daerah kerapatan lamun sedang didapatkan 149 individu/m2 dari 15 spesies dan untuk kerapatan padat didapatkan 170 individu/m2 dari 19 spesies. uji korelasi  pearson didapatkan (nilai Sig (2-tailed pada output SPSS) sebesar 0, 698 ( ? 0,05), dengan kesimpulan H0 diterima dan H1 ditolak  yaitu tidak ada perbedaan yang signifikan antara struktur hewan epifauna pada kerapatan lamun yang berbeda di pulau Panjang Jepara. Selain itu, didapatkan nilai korelasi antara hewan epifauna dengan kerapatan lamun sebesar -0, 457. menunjukkan tidak adanya hubungan yang erat antara hewan epifauna dengan kerapatan lamun di Pulau Panjang.
PERBEDAAN KELIMPAHAN TERIPANG (HOLOTHUROIDEA) PADA EKOSISTEM LAMUN DAN TERUMBU KARANG DI PULAU KARIMUNJAWA JEPARA Permadi, Martantya Bagus; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepulauan Karimunjawa Jepara Jawa Tengah sangat terkenal akan kekayaan sumberdaya alam yang ada di dalam laut seperti pada daerah ekosistem terumbu karang dan lamun. Banyak biota-biota yang berasosiasi di daerah tersebut salah satunya teripang untuk keperluan mencari makan, melakukan pemijahan dan juga sebagai tempat perlindungan. Kepulauan Karimunjawa mempunyai potensi perikanan khususnya teripang. Kondisi substrat,mikro habitat,serta aktifitas pengelolaan wilayah di suatu perairan mempengaruhi keseimbangan ekosistem terumbu karang dan ekosistem lamun yang berdampak pada penyebaran dan kelimpahan teripang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan jenis teripang di ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang serta untuk mengetahui perbedaan kelimpahan teripang di ekosistem lamun dan terumbu karang di Pulau Karimunjawa Jepara pada bulan Mei 2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi. Metode penelitian ini dilakukan  pada masing-masing stasiun, yaitu stasiun A (padang lamun) B (terumbu karang). Nilai persentase penutupan karang  sebesar 66,09 % nilai tersebut termasuk dalam kondisi baik. Pada ekosistem lamun didapatkan kelimpahan teripang sebanyak 91 ind/150 m2 sedangkan pada ekosistem terumbu karang 16 ind/150 m2. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa daerah ekosistem lamun memiliki kelimpahan teripang lebih tinggi dibandingkan daerah ekosistem terumbu karang. Berdasarkan hasil Uji Tes ?T? dapat disimpulkan bahwa kelimpahan jenis teripang yang paling banyak adalah pada ekosistem lamun.  Karimunjawa Island central java jepara is very well known for the wealth of natural resource that exist in the area of marine ecosystems such as coral reefs and seagrass. Many biota in the area of one sea cucumber for the purpose of feeding, spawning and perform wellas a place refuge. Karimunjawa island has the potential sea cucumber fisheries especially micro habitat, substrate conditions and management activities in a region affects the water balance of reef ecosystem and seagrass that have an impact on the spread and abudance of sea cucumbers. The purpose of this study was to determine the abudance of sea cucumber species in seagrass and coral reef on the island karimunjawa jepara in may 2014. The method used in this research is the method observation conducted at eachstasion A (seagrass) B (reef). Value percentage of coral cover amounting to 66,09% of the value include in the conditions good. In seagrass abudance of sea cucumber as much 91 ind/150 m2 while on the coral reef ecosystem 16 ind/150 m2. From these data it can be concluded that the area of seagrass ecosytem possess an abudance of sea cucumber are higher than the area of coral reef ecosystem. Based on the results of Test ?T? can be conclude that the abudance of sea cucumber is the most seagrass in the area. 
PENGARUH LAJU SEDIMENTASI DENGAN KERAPATAN RUMPUT LAUT DI PERAIRAN BANDENGAN JEPARA Albert, Maruli; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan Pantai Bandengan Jepara terletak di daerah utara Pulau Jawa. Jenis biota yang ada beragam dengan populasi masing-masing jenis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan rumput laut, nilai laju sedimentasi pada daerah rumput laut serta mengetahui hubungan perbedaan kerapatan rumput laut dengan laju sedimentasi di perairan bandengan Jepara. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah komunitas rumput laut yang dibagi menjadi 3 pengambilan,  pengambilan dilakukan secara tegak lurus ke arah laut dan penghitungan laju sedimentasi dengan menggunakan sedimen trap yang di pasang pada lokasi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survey. Metode penentuan kerapatan rumput laut dilakukan dengan frame kuadran ukuran 1x1 m dengan cara menghitung jumlah tegakan rumput laut dalam setiap meter persegi sepanjang 100 m. Kerapatan rumput laut di perairan Bandengan Jepara di dapat 431 individu/300m2 yang terdapat 9 jenis dari 2 filum yaitu  Filum Chlorophyta : Halimeda opuntia sebanyak 157 individu/300m2 , Halimeda descoides sebanyak 58 individu/300m2, Halimeda makroloba sebanyak 74 individu/300m2,filum Phaeophyta : Chordoria flagelliformis sebanyak 31 individu/300m2, Padina crassa sebanyak 83 individu/300m2, Sargassum yendoi sebanyak 15 individu/300m2, Sargassum piluliferum sebanyak 3 individu/300m2, Sargassum confusum sebanyak 5 individu/300m2, dan Sargassum duplicatum sebanyak 5 individu/300m2. Hasil penghitungan laju sedimentasi diketahui rata-rata laju sedimentasi pada lokasi penelitian adalah 0,85 mg/cm3/hari. Nilai korelasi antara laju sedimentasi dengan kerapatan rumput laut sebesar 0,85, hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang erat antara laju sedimentasi dengan kerapatan rumput laut di perairan Bandengan, Jepara.
KELIMPAHAN JENIS BULU BABI (ECHINOIDEA, LESKE 1778) DI RATAAN DAN TUBIR TERUMBU KARANG DI PERAIRAN SI JAGO – JAGO, TAPANULI TENGAH Mustaqim, Muhammad Mirza; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tentang kelimpahan ikan, moluska dan bentos pada daerah terumbu karang sudah banyak dilakukan, tetapi dalam kenyataannya belum banyak yang meneliti tentang kelimpahan bulu babi di daerah terumbu karang. Adapun daerah rataan terumbu karang dan tubir terumbu karang adalah sebagai habitat atau tempat hidup dari bulu babi, maka dimungkikan kelimpahan bulu babi pada kedua lokasi tersebut. Aktivitas di perairan Si Jago ? Jago baik berupa penangkapan ikan maupun pariwisata diduga telah mempengaruhi keseimbangan ekosistem terumbu karang dan organisme yang berasosiasi di dalamnya khususnya bulu babi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan jenis bulu babi (Echinoidea) pada daerah rataan terumbu karang dan tubir terumbu karang di Perairan Si Jago ? Jago, Tapanuli Tengah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2012. Metode pengambilan data persentase penutupan terumbu karang menggunakan metode line transek berukuran 30 meter, sedangkan pengambilan data kelimpahan bulu babi (Echinoidea) menggunakan metode kuadran transek berukuran 5 x 5 meter. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu bahwa nilai persentase penutupan karang hidup pada daerah rataan terumbu karang sebesar 45,51 %. Sedangkan nilai persentase penutupan karang hidup pada daerah tubir terumbu karang sebesar 46,2 %. Nilai tersebut termasuk dalam kategori sedang. Pada daerah rataan terumbu karang didapatkan kelimpahan individu bulu babi sebanyak 298 individu/ 450 meter2, sedangkan kelimpahan individu bulu babi pada daerah tubir terumbu karang sebanyak 122 individu/ 450 meter2. Jenis bulu babi yang ditemukan pada lokasi penelitian yaitu Diadema antilarum, Diadema setosum, dan Echinotrix calamaris. Kelimpahan jenis bulu babi yang paling banyak ditemukan pada daerah rataaan dan tubir adalah jenis Diadema antilarum.  Berdasarkan hasil Uji ?T? test dapat disimpulkan bahwa kelimpahan jenis bulu babi yang paling tinggi adalah pada daerah rataan terumbu karang. Hal tersebut didapatkan dari nilai signifikasi yaitu 0,043, yang kurang dari < 0,05 sehingga terima H1 tolak H0, bahwa ada perbedaan kelimpahan bulu babi pada daearah rataan dan tubir terumbu karang.
KERAPATAN RUMPUT LAUT PADA KEDALAMAN YANG BERBEDA DI PERAIRAN PANTAI BANDENGAN, JEPARA Yuanto, Tito Firmansyah; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumput laut merupakan tanaman air yang umumnya tumbuh melekat pada substrat pasir, karang, pecahan karang dan karang mati, tidak mempunyai akar, batang dan daun yang sejati, keseluruhan tanaman ini adalah batang, akar dan daun yang semu disebut thallus. Kedalaman merupakan salah satu parameter lingkungan yang berpengaruh tehadap kecerahan atau tingkat batas kemampuan cahaya matahari yang mampu masuk ke dalam suatu perairan. Cahaya matahari merupakan salah satu unsur yang penting dalam terjadinya proses fotosintesis di perairan. Rumput laut merupakan salah satu tumbuhan air yang hidupnya tergantung antara lain pada intensitas cahaya matahari. Oleh sebab itu semakin dalam suatu perairan maka semakin kecil pula intensitas cahaya matahari yang masuk, sehingga rumput laut yang tumbuh juga sedikit akibat kurangnya cahaya matahari yang digunakan untuk fotosintesis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kerapatan rumput laut pada kedalaman 1, 2 dan 3 meter serta untuk mengetahui hubungan antar kedalaman dengan kerapatan rumput laut. Penelitian ini dilakukan di Pantai Bandengan pada bulan April 2013. Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Metode deskiptif adalah metode penelitian yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok ataupun suatu daerah kemudian melakukan analisa lebih lanjut mengenai kebenaran tersebut. Sampling dilakukan menggunakan line transek dengan panjang 100 m dan kuadran transek ukuran 1x1 m yang dibagi menjadi 16 kotak kecil, kemudian menghitung kerapatan serta penutupan rumput laut serta melakukan identifikasi rumput laut yang ditemukan. Hasil penelitian didapatkan kerapatan tertinggi pada kedalaman 1 meter dengan jumlah total 412 individu/300m². Pada kedalaman 2 dan 3 meter jumlah kerapatannya lebih kecil yaitu masing-masing 326 dan 162 individu/300m² . Hal ini karena pada kedalaman 2 dan 3 meter tingkat kecerahannya cukup rendah, sehingga mempengaruhi pertumbuhan rumput laut. Substrat dasar pasir pada kedalaman 1 meter juga mempengaruhi kerapatan rumput laut. Dari pengujian korelasi antara kedalaman dengan kerapatan didapatkan nilai sebesar -0,984. Hal ini berarti terdapat hubungan antara kedalaman dengan kerapatan rumput laut. Seaweed is an aquatic plant that generally grows attached to a substrate of sand , coral , coral rubble and dead , didn?t have roots , stems and leaves are true, this is a whole plant stems, roots and leaves are called Thallus. Depth is one of the environmental parameters that influence tehadap brightness or level limits sunlight is able to get in to the water. Sunlight is one important element in the process of photosynthesis in water . Seaweed is one of the water plants that need the intensity of sunlight for thei life . Therefore, more deeper the water, also few of sunlight that can to the deep, so that the sea grass that grows too little due to lack of sunlight used for photosynthesis . This study aimed to determine differences in kelp density at a depth of 1 , 2 and 3 meters as well as to determine the relationship between the depth of the sea grass density . This research was conducted in Bandengan Beach in April 2013. In this study, the method was used descriptive method. Deskiptif method is a method of research that was conducted to obtain the facts of the existing symptoms and seek factual information from a group or a region and then perform further analysis on the truth . Sampling was conducted using line transect with a length of 100 m and the size of 1x1 m transect quadrant is divided into 16 small squares , then calculate the density as well as the closure of seaweed and seaweed identification were found . The study showed the highest density at a depth of 1 meter with a total of 412 individu/300m ². At a depth of 2 and 3 feet smaller number density, respectively 326 and 162 individu/300m ². This is because at a depth of 2 and 3 -meter brightness level was quite low, thus affecting the growth of seaweed. Substrate of sand at a depth of 1 meter also affects the density of sea grass.From the corelations test of the depth and the density values obtained at -0.984 . This means that there is a relationship between the depth of the sea grass density.
HUBUNGAN KELIMPAHAN EPIFAUNA PADA KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PANTAI PANCURAN BELAKANG PULAU KARIMUNJAWA, JEPARA Ristianti, Nisa; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Karimunjawa merupakan salah satu wilayah di perairan Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragaman ekosistem perairan, salah satunya adalah ekosistem lamun yang merupakan ekosistem pendukung di wilayah pesisir. Salah satu fungsi padang lamun sebagai habitat bagi organisme bentik khususnya epifauna sangat rawan apabila padang lamun terus menerus mendapat tekanan ekologis. Terjadinya perubahan lingkungan akibat eksploitasi dan pencemaran akan berpengaruh terhadap ekosistem padang lamun  dan kelimpahan epifauna. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kelimpahan epifauna pada kerapatan lamun yang berbeda dan hubungan kelimpahan epifauna pada kerapatan lamun yang berbeda di perairan Pantai Pancuran Belakang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode observasi, sedangkan pengambilan sampel dilakukan dengan pemetaan sebaran lamun. Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya hubungan yang sangat kuat antara kerapatan lamun dengan kelimpahan epifauna dilihat dari hasil analisis korelasi sederhana dengan nilai (r) sebesar 0,967 dan signifikasi (0,138 > 0,05). Karimunjawa island is one of the areas in the waters of Jepara Regency that has a diversity of aquatic ecosystems, one of which is a seagrass ecosystem is one of the coastal areas of supporting ecosystems. One of the functions of the seagrass habitat for benthic organisms as particularly highly prone when the epifauna seagrass continuously gets the ecological pressures. The occurrence of environmental change as a result of exploitation and pollution will affect the ecosystem of the seagrass and abundance of epifauna. The purpose of this research is to know the abundance of epifauna on different seagrass density and abundance of epifauna on relationship of density in different seagrass coastal waters Pancuran Belakang. The research method used is the method of observation, whereas sampling is done by mapping the distribution of seagrass. Research showed that the a very strong between density seagrass beds with abundance of epifauna seen from the result analysis correlation simple with value (r)  0,967 and signification ( 0,138 > 0,05). 
KELIMPAHAN PERIFITON PADA KARANG MASIF DAN BERCABANG DI PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA Yuniarno, Hendrawan Agung; Ruswahyuni, -; Suryanto, Agung
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Panjang merupakan salah satu pulau-pulau kecil di Indonesia yang memiliki berbagai ekosistem salah satunya adalah ekosistem terumbu karang. Terumbu karang merupakan habitat dan tempat aktivitas berbagai organisme laut contohnya perifiton. Perifiton berperan sebagai produsen primer dalam suatu perairan untuk menghasilkan oksigen dan menjadi konsumsi bagi organisme lain (misalnya karang). Keberadaan perifiton pada substratnya tidaklah sama, perbedaan morfologi karang diduga menentukan kelimpahan perifiton pada karang tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kelimpahan perifiton pada karang masif dan karang bercabang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai April 2015 di Pulau Panjang Jepara. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling dengan deskriptif analitis sebagai desain penelitiannya. Desain ini bertujuan untuk mendeskripsikan kelimpahan perifiton pada jenis pertumbuhan karang yang berbeda. Analisis perbedaan kelimpahan perifiton menggunakan Uji T (Mann-Whitney). Dari  hasil penelitian didapatkan bahwa kelimpahan perifiton pada karang masif dan bercabang menunjukkan adanya perbedaan. Dimana kelimpahan perifiton pada setiap pengamatan tidak memiliki perbedaan yang signifikan baik pada karang masif dan karang bercabang. pada pengamatan pertama kelimpahan perifiton pada karang bercabang terdapat 20.970 ind/cm2, sedangkan pada karang masif terdapat 19.764 ind/cm2. Pada pengamatan kedua kelimpahan perifiton pada karang bercabang terdapat 28.427 ind/cm2, sedangkan pada karang masif terdapat 30.623 ind/cm2. Faktor yang menentukan keberadaan dan kelimpahan perifiton pada karang yang paling terlihat yaitu dikarenakan perbedaan morfologi dari karang tersebut dan perbedaan dan perubahan kecepatan arus. Panjang Island is one of the small islands in Indonesia, which has a variety of ecosystems one of which is the coral reef ecosystem. Coral reefs are the habitat and the activities of various marine organisms example periphyton. Periphyton role as primary producers in a body of water to produce oxygen and become food for other organisms (eg, corals). Periphyton existence on the substrates are not the same, the difference of coral morphology is suspected determine the abundance of perifiton on the reef. This study aims to determine differences in the abundance of periphyton on massive corals and branching. This research was conducted in March and April 2015 in Panjang Island Jepara. The method used in this research is purposive sampling with a descriptive analytical research design. This design aims to describe the abundance of periphyton on different types of coral growth. Analysis of differences in the abundance of periphyton using T test (Mann-Whitney). The results showed that the abundance of periphyton on massive and branching corals showed a difference. Where the abundance of periphyton on every observation has different amounts both on massive and branching corals. the first observations of the abundance of periphyton on branching corals there are 20.970 ind / cm2, while the massive corals there are 19.764  ind / cm2. In the second observation abundance of periphyton on branching corals there are 28.427 ind / cm2, while the massive corals there are 30.623 ind / cm2. The difference is due to differences in the morphology of the reef and the differences and changes in flow velocity.
HUBUNGAN KELIMPAHAN IKAN DAN TUTUPAN KARANG LUNAK DENGAN KEDALAMAN YANG BERBEDA DI PULAU MENJANGAN KECIL TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA, JAWA TENGAH Putra, Aryo Ganesha; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Journal of Management of Aquatic Resources Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kedalaman memberikan pengaruh terhadap biodiversitas secara vertikal dan berasosiasi dengan faktor abiotik yang membuat keanekaragaman biota laut memiliki spesialisasi masing-masing. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tutupan dan jenis karang lunak, mengetahui jenis serta kelimpahan ikan dan mengetahui hubungan kelimpahan ikan dan tutupan karang lunak dengan kedalaman yang berbeda. Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2014, lokasi penelitian terbagi menjadi 2 lokasi, yaitu pengamatan lapangan di Pulau Menjangan Kecil dan pengamatan checklist karang lunak dan ikan di Pulau Karimunjawa. Metode penelitian menggunakan metode line intercept transect (LIT) dan sensus visual ikan. LIT dilakukan dengan menarik rol meter sepanjang 100 m sebagai lintasan pengamatan karang lunak dengan interval 1 m dan metode sensus visual ikan dengan batas luas pengamatan ke sisi kanan dan kiri line transect sepanjang 2,5 m hingga terbentuk kuadran seluas 5 x 5 meter, pengamatan dilakukan sepanjang 100 m dengan total luas pengamatan 500 m2. Analisis data yang digunakan yaitu perhitungan indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, Komposisi jenis dan analisis statistik korelasi berganda. Hasil pengamatan kelimpahan ikan terbesar pada kedalaman 3 dan 10 m berasal dari famili Pomacentridae sebesar 60,66 % dan 53,32 %. Indeks keanekaragaman dan keseragaman kelimpahan ikan di kedalaman 3 m sebesar 1,100 dan 0,793 terdiri dari 4 famili ikan, pada kedalaman 10 m yaitu 1,443 dan 0,694 terdiri dari 8 famili ikan. Hasil tutupan karang lunak terbesar di kedalaman 3 dan 10 m yaitu genus Lobophtyum sebesar 5,29 % dan 3,39 %. Indeks keanekaragaman dan keseragaman karang lunak sebesar 1,238 dan 0,893 pada kedalaman 3 m terdiri dari 4 genera dan di kedalaman 10 m tidak dapat dilakukan perhitungan, karena hanya terdapat 1 jenis. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kelimpahan ikan dan tutupan karang lunak memiliki hubungan dengan kedalaman yang berbeda. Influence of depth on biodiversity vertically associated with abiotic factors that make the diversity of marine life have their respective specialties. This study aims to determine the types and soft corals cover, know the type and abundance of fish and to determine correllations of different depths on the abundance of fish and soft coral cover. The study was conducted in June 2014, the location of study is divided into two locations, namely in the field observation Menjangan Kecil island and observation checklist soft corals and fish on the Karimunjawa island. The research method using line intercept transect (LIT) and visual census technique. LIT is done by pulling roll meters along 100 m as soft coral observation path with intervals of 1 m and visual census methods by a wide margin to the observation on the right and left side of the line transect along 2.5 m to form a quadrant area of 5 x 5 meters, observations were made along 100 m with a total area of 500 m2. Data analysis calculation used diversity index (H '), uniformity index (e), species composition (KJ) and statistical analysis multiple correlation. The observation of abundance of the biggest fish at a depth of 3 and 10 m comes from the family Pomacentridae with percentage of 60,66% and 53,32%. Diversity and uniformity index of fish abundance at a depth of 3 m is 1,100 and 0,793 consists of four families of fish, at a depth of 10 m is 1,443 and 0,694 consists of 8 fish families. The results of the largest soft coral cover in depth of 3 and 10 m from genus Lobophtyum with percentage 5,29% and 3,39%. Diversity and uniformity index of 1,238 and soft corals at a depth 3 m is 0,893 consists of 4 genera and at a depth of 10 m cannot be calculated, cause there is only one kind of soft coral. Based on these results, in conclusion, that the abundance of fish and soft coral cover correlated with difference of depth.