p-Index From 2015 - 2020
8.728
P-Index
Articles

PENGARUH ABU KULIT DURIAN DAN PUPUK KANDANG SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG MANIS PADA TANAH GAMBUT saifuddin, Saifuddin; Sulistyowati, Henny; Gusmayanti, Evi
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research is aimed to determine the effect of ash and cow manure on growth and yield of sweet corn cultivated  on peat soil. Ash applied in this study was prepared from durian shell. The research was held at Sungai Kakap, one of durian producer area in Kubu Raya District, West Kalimantan. The experiment is arranged  according to factorial randomize block design with two factors, i.e., dosage of ash (Factor A) and dosage of cow manure (Factor B). Factor A consists of three levels is, a1 (30 ton/ha equivalent to 8,07 kg/plot), a2 (41 ton/ha equivalent to 11,21 kg/plot), a3 (47 ton/ha equivalent to 14,35 kg/plot) and factor B also consists of b1 (10 kg/ha equivalent to 5kg/plot), b2 (20 kg/ha equivalent to 10 kg/plot), b3 (30 kg/ha equivalent to 15 kg/plot). Every treatments is replicated 4 times, and each of this experimental unit has three sample crops. The results showed that interaction of factor A and factor B has not significantly affected growth and yield of sweet corn. The main effect of Factor B has been identified statistically significant. Among the levels of Factor B, application of 10 kg cow manure per plot (equivalent to 20 ton/ha) is considered as the best dosage in this study.
TRANSMISI HADIS DAN KONTRIBUSINYA DALAM PEMBENTUKAN JARINGAN KEILMUAN DALAM ISLAM Saifuddin, Saifuddin
Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin Vol 8, No 2 (2009): Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jiu.v8i2.1395

Abstract

Transmisi dan difusi ilmu-ilmu keislaman sepanjangsejarahnya hampir selalu melibatkan semacam ?jaringan ulama?. Prosesterbentuknya jaringan ulama ini tidak dapat dipisahkan dariperkembangan tradisi Islam sendiri. Tidak diragukan hadis merupakancabang ilmu yang secara khusus memiliki peran signifikan. Dalam studidan transmisi hadis terdapat sebuah tradisi keilmuan yang dikenal dengan?al-rihlat fî thalab al-hadîts?. Selain itu, sistem jaringan sanad (isnâd)yang sangat dipentingkan dalam transmisi hadis juga mempunyaipengaruh nyata dalam pembentukan jaringan ulama.
RADIKALISME ISLAM DI KALANGAN MAHASISWA (Sebuah Metamorfosa Baru) Saifuddin, Saifuddin
Jurnal Analisis Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : IAIN RADEN INTAN LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anggapan bahwa kelompok Islam militan diikuti oleh kalangan awam mulai disadari kalangan fundamentalis. Perubahan gerakan dilakukan kelompok ini, pilihan kelompok mahasiswa sebagai agen baru dianggap mampu merubah pola gerakan. Merebaknya kelompok radikal Islam di kalangan mahasiswa tidak terlepas dari upaya kaderisasi kelompok intelektual kalangan fundamentalis Islam. Strategi yang dilakukan adalah indokrinasi ideologis yang membuat mahasiswa sulit berpisah dari kelompok ini. Fenomena ini akhirnya membentuk metamorfosa baru gerakan Islam radikal di kampus.
TADWIN HADIS DAN KONTRIBUSINYA DALAM PERKEMBANGAN HISTORIOGRAFI ISLAM Saifuddin, Saifuddin
Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin Vol 12, No 1 (2013): Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jiu.v12i1.125

Abstract

Historically, the process of tadwn was through by the phases of a long and complex historical and colored many controversies. The controversy intensified when considering stream factor in it. Three traditional currents in Islam, Ahl al - Sunnah wa al - Jama'ah, Shi'ites, and Kharijites, proved to have a history of their own tadwn traditions were different from each other. Concurrently with the tadwn process of hadith, the scholars also put its methodological tools. Methodological tools that in turn give effect to other disciplines, including Islamic historiography. This study tried to discover more about the dynamics that occured in the tadwn tradition process and to what extent it impacted to the Islamic historiography. Through the method of historical - comparative historical or combined with Usul al - hadts, this study revealead that the hadith tadwn basically been going on since the period of the Prophet and continued in subsequent periods until finally composed " Six Major Hadith Compilation " among the Ahl al - Sunnah wa al - Jama'ah and the " Four Major Hadith Compilation " ( al -Kutub al - Arba'ah ) among Shi'ites. The study also showed that tadwn of hadith clearly had a contribution which was not only limited to providing abundant material for writing the history of Islam in the form of biography (sirah) and military raids or attacks (maghziy), but more importantly also about resource gathering methods, method of source criticism, and methods of preparation work of Islamic history
Hadis-Hadis “Misoginis” Dalam Persepsi Ulama Perempuan Kota Banjarmasin Saifuddin, Saifuddin
Jurnal Muadalah Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Muadalah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan terakhir, di Kalimantan Selatan misalnya, sosok ulama dari kalangan perempuan mulai muncul dalam berbagai majelis taklim. Peran mereka sebagai pendakwah agama untuk umat tidak dapat dinafikan. Hal ini kemudian direpresentasikan dalam bentuk pemahaman mereka terhadap sumber agama, yaitu al-Qur‟an dan hadis. Dalam konteks hadis inilah, maka pemahaman mereka terhadap riwayat yang terkesan merendahkan perempuan menjadi penting untuk dikaji, dengan menggunakan metode deskriptif dan pendekatan fiqh al-hadits, melalui teknik wawancara dan dokumentasi, diperoleh temuan bahwa persepsi para ulama perempuan terhadap sejumlah hadis misoginis ini memiliki kesamaan, yaitu tidak memandang hadis-hadis tersebut berkonotasi misoginis. Dari tujuh sampel ulama perempuan yang diteliti, hanya ditemukan satu ulama yang menangkap kesan “keras” dan “diktator” dari hadis tersebut. Meski demikian, ulama tersebut hanya berani mengatakan “kesan”, bukan kenyataan hadis yang sebenarnya. Karena hanya kesan, maka ulama tersebut berusaha mencari makna lain agar kesan tersebut hilang. Penerimaan seluruh responden terhadap hadis-hadis ini dipengaruhi oleh perspektif mereka yang masih kuat memegang nilai-nilai “tradisi”. Nilai-nilai tradisional biasanya memandang hubungan antara laki-laki dan perempuan secara hirarkis, yaitu menempatkan yang satu lebih tinggi atas yang lain.Kata kunci: misoginis, persepsi, Ulama perempuan.The current trends in South Kalimantan has indicated that women moeslem scholars start to emerge from many religious gathering. Their roles as preacher cannot be neglected. This fact, furthermore, is representated in the form of their comprehension to their religion main guidance—Qur‟an and Hadith. From the context of Hadith, the comprehension of women moeslem scholars on the notion that tends to degrade women becomes significant to be investigated through interview and documentation technique, the writer utilizes descriptive method and fiqh al-hadist approach. It is found that the perceptions of women moeslem scholars to the misogynistic Hadith have a similarity that is, not looking these Hadiths as having misogynistic connotations. Among 7 sampels of the scholars being investigated, only one scholar has the impression of “hars” and dictator” from the Hadith. However, the scholar only dares to say “impression”, not the actual fact from the Hadith. Since it is only an impression, the scholar tries to seek for another meaning to delete the impression. The assumption of the respondents from the hadith is much influenced by their perspectives that strongly hold “traditional” values. The traditional values usually look the relationships between men and women hierarchically, that is placing one higher that the other.Keywords: misogynistic, perceptions, women Islamic scholars.
Peta Kajian Hadis Ulama Banjar Saifuddin, Saifuddin; Nirwana, Dzikri; Bashori, Bashori
Jurnal Tashwir Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Tashwir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study on the development map of hadiths study of Banjar Islamic scholar becomes important to see the extent to which typology of hadiths study that have been developed, either the pattern or its tendency. Using descriptive method and historical approach, it is identified that the hadiths study of Banjar Islamic scholars is plotted in two forms—al-riwayah and al-dirayah. Such typology of hadith study seems to refer to the major classification of the science of hadiths which has been pioneered by the classical scholars—‘ilm al-hadiths riwayah and ‘ilm al-hadiths dirayah. The hadiths study of Banjar scholars in the form of al-riwayah dominates almost all their works of hadiths and is classified into some tendency, such as: syarh study, ta’liq and takhrij study, arba’in hadiths study, thematic study of hadiths with fiqh fragments, the primacy of the noble, and faith, and hadiths study of encyclopedic-referents. Moreover, in the form of al-dirayah, the works of Banjar scholars is tracked relatively fewer, and which can be classified  into two tendency, ie: mushthalah study of general hadiths formatted in the form of dialogue and special mushthalah study (thematic) which specifically highlights the musalsal hadiths theoretically and practically.  Key words: Study map, Hadiths works, Banjar Islamic scholars.  Penelitian terhadap peta perkembangan kajian hadis ulama Banjar, menjadi penting dilakukan, untuk melihat sejauh mana tipologi kajian hadis yang telah dikembangkan, baik bentuk [pola] ataupun kecenderungannya. Dengan menggunakan metode deskriptif dan pendekatan sejarah, diperoleh temuan bahwa kajian hadis ulama Banjar terpola dalam dua bentuk; al-riwāyah dan al-dirāyah. Tipologi studi hadis ini nampaknya memang mengacu klasifikasi mayor ilmu hadis yang dicetuskan oleh para ulama klasik; ‘ilm al-hadīts riwāyah dan ‘ilm al-hadīts dirāyah. Untuk kajian hadis ulama Banjar dalam bentuk al-riwāyah, yang mendominasi hampir seluruh karya-karya hadis mereka, diklasifikasikan dalam beberapa kecenderungan yaitu; kajian syarh, kajian ta’līq dan takhrīj, kajian hadis arba’īn, kajian hadis tematis dengan fragmen fikih, keutamaan orang-orang yang mulia, dan keimanan, dan kajian hadis ensiklopedis-referen . Kemudian untuk bentuk al-dirāyah ini, karya-karya ulama Banjar yang terlacak relatif sangat minim, yang dapat diklasifikasikan dalam dua kecenderungan, yaitu; kajian mushthalah hadis umum, yang diformat dalam bentuk dialogis [tanya-jawab]dan kajian mushthalah khusus [tematis], yang secara khusus menyoroti tentang hadis-hadis musalsal secara teoritis dan praktis. Kata kunci; Peta Kajian, Karya Hadis, Ulama Banjar
TADWIN HADIS DAN KONTRIBUSINYA DALAM PERKEMBANGAN HISTORIOGRAFI ISLAM Saifuddin, Saifuddin
Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol 12, No 1 (2013): Jurnal Ilmu Ushuluddin
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora IAIN Antasari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jiu.v12i1.125

Abstract

Historically, the process of tadwîn was through by the phases of a long and complex historical and colored many controversies. The controversy intensified when considering stream factor in it. Three traditional currents in Islam, Ahl al - Sunnah wa al - Jamaah, Shiites, and Kharijites, proved to have a history of their own tadwîn traditions were different from each other. Concurrently with the tadwîn process of hadith, the scholars also put its methodological tools. Methodological tools that in turn give effect to other disciplines, including Islamic historiography. This study tried to discover more about the dynamics that occured in the tadwîn tradition process and to what extent it impacted to the Islamic historiography. Through the method of historical - comparative historical or combined with Usul al - hadîts, this study revealead that the hadith tadwîn basically been going on since the period of the Prophet and continued in subsequent periods until finally composed " Six Major Hadith Compilation " among the Ahl al - Sunnah wa al - Jamaah and the " Four Major Hadith Compilation " ( al -Kutub al - Arbaah ) among Shiites. The study also showed that tadwîn of hadith clearly had a contribution which was not only limited to providing abundant material for writing the history of Islam in the form of biography (sirah) and military raids or attacks (maghâziy), but more importantly also about resource gathering methods, method of source criticism, and methods of preparation work of Islamic history
KANDUNGAN ZAT GIZI PRODUK SERBUK MINUMAN INSTAN RUMPUT GANDUM SEBAGAI MINUMAN KESEHATAN Irmayanti, Irmayanti; Saifuddin, Saifuddin; Zakaria, Zakaria
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 11, No 1: MARET 2015
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.696 KB) | DOI: 10.30597/mkmi.v11i1.508

Abstract

Rumput gandum dikenal sebagai bahan baku untuk minuman kesehatan karena mengandung vitamin, zat gizi lainnya dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kandungan zat gizi pada produk serbuk minuman instan rumput gandum sehingga dapat menyediakan informasi tentang komposisi zat gizi pada produk. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan analisis laboratorium. Produk serbuk minuman instan ini dihasilkan dari kristalisasi filtrat rumput gandum dengan penambahan gula. Penelitian ini menggunakan 3 formula produk, yaitu formula 1 dengan penambahan gula 15%, formula 2 dengan penambahan gula 20% dan formula 3 dengan penambahan gula 25%. Hasil penelitian menujukkan kandungan gizi makro ketiga formula yang terdiri dari 9,13±11,02 gram karbohidrat; 0,50±0,72 gram protein; 0,05±0,09 gram lemak, dan energi sebesar 40,21±46,53 kkal, sedangkan zat gizi mikro terdiri dari 5,9±6,2 mg vitamin C; 0,30±0,53 mg besi, 2,84±6,65 mg magnesium; 105±135 mg kalium dan 6,1±7,8 mg natrium. Berdasarkan kandungan zat gizinya maka dapat disimpulkan bahwa formula 1 merupakan formula terbaik.
PEMBUATAN SOSIS DARI IKAN BULAN (Megalops Cyprinoides) DENGAN MENGGUNAKAN BUAH NAGA (Hylocereus Undatus) SEBAGAI ZAT PEWARNA Pramana, Rio Sigit; Salmyah, Salmyah; Saifuddin, Saifuddin
Jurnal Sains dan Teknologi Reaksi Vol 17, No 1 (2019): JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI REAKSI
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jstr.v17i1.1242

Abstract

Sosis merupakan makanan beku olahan yang biasa bahan bakunya terbuat dari daging sapi dan ayam yang memiliki resiko yang cukup berbahaya jika di konsumsi terus menerus karena kandungan lemak yang tinggi dapat memicu timbulnya berbagai penyakit. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mendapatkan hasil terbaik dari variasi jenis daging ikan terhadap karateristik sosis yang dihasilkan (tekstur, warna, dan rasa) dan mendapatkan suhu pengasapan terbaik terhadap karakteristik sosis yang dihasilkan (tekstur, warna, dan rasa). Penelitian ini dilakukan mengunakan variasi bahan baku ikan bulan-bulan (200, 300, 400, 500 dan 600 gram) dan buahnaga (30, 35, 40,45, dan 50 gram), serta dengan variasi waktu pemasakan (5, 10, 15, 20, dan 25 menit).
Jalan Berliku Menuju Perdamaian Aceh Saifuddin, Saifuddin
PASAI Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses  perdamaian di Aceh  adalah  satu  proses  yang  penuh  dengan  liku-liku dan tantangan.  Proses  perdamaian di Aceh  telah menghabiskan  waktu  yang  cukup lama   untuk mencapai hasilnya.   Proses   panjang   menuju  perdamaian  di Aceh  bukan  lagi  sekedar   menjadi   catatan  sejarah,  tetapi sekaligus  menjadi  prestasi  bagi bangsa  Indonesia.  Mengakhiri   perang yang  disebabkan  oleh  adanya   kelompok  yang  sudah   begitu  lama  mengangkat  senjata  bukanlah  sesuatu yang  mudah. Perdamaian  Aceh  pernah mengalami  beberapa  kali kegagalan di lapangan. Perundingan pertama dan lahirnya jeda  kemanusiaan. Ketika jeda kemanusian tidak lagi  dipatuhi oleh kedua  belah pihak  yang  berkonflik  maka dirintislah  perundingan kedua  dan lahirnya COHA. Apabila COHA gagal dalam implimentasinya  maka diggas perundingan ketiga  dan  lahirnya  perjanjian damai Helsinki. Oleh karena itu  wajar  jika  disebutkan perdamaian Aceh   melalui  jalan  berliku. Namun  Aceh kini   bukan  lagi   tempat  latihan  perang  bagi tentera  Indonesia dan  juga   bukan  arena   konflik bersenjata di Nusantara  melainkan  sudah   menjadi  laboratorium  yang  mengajarkan  arti  demokrasi  sebenarnya bagi  Indonesia.