p-Index From 2015 - 2020
8.728
P-Index
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Jurnal POLIMESIN

PENGUATAN KAYU DAN PLYWOOD MELALUI PROSES SANDWICH DENGAN KOMPOSIT POLYESTER SERAT GELAS UNTUK BAHAN PEMBUATAN PERAHU Azwar, Azwar; Ismy, Ady Saputra; Saifuddin, Saifuddin
Jurnal POLIMESIN Vol 14, No 1 (2016): Polimesin
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v14i1.296

Abstract

Keterbatasan kayu berkualitas untuk pembuatan perahu nelayan menyebabkan harga perahu meningkat dan kualitasnya menurun sehingga berimbas pada nalayan tradisional. Penurunan kualitas perahu salah satunya disebabkan oleh proses pelapukan kayu akibat terendam air dan terpampang terhadap sinar matahari pada jangka waktu yang lama. Maka proses pelapukan tersebut dapat diminimalisir melalui proteksi kayu dari kontak langsung dengan air atau matahari yang dengan lapisan komposit polyester serat gelas, yang menjadi tujuan penelitian ini. Penyiapan specimen uji mengacu pada standart ASTM C 1341 – 06 (Standart Test Method for Flexural Properties of Continuos Fiber-Reinforced Advance Ceramic Composites) dengan ukuran spesimen mengacu pada L/d = 16/1. Proses pengujian dilakukan menggunakan uji bending 3 titik (3 poin bending test). Hasilnya menunjukkan bahwa Lapisan komposit polyester baik dengan serat gelas atau tanpa serat gelas dapat menghalangi penyerapan air pada kayu yang dilapisinya serta meningkatkan kekuatan dari kayu yang akan dijadikan bahan baku pada pembuatan perahu nelayan sekitar ± 20 %. Dari 2 jenis kayu yang di teliti didapati bahwa kayu damasui yang diperkuat komposit serat gelas memberi efek penguatan yang lebih baik dibandingkan dengan kayu bayu. Untuk komposit sandwich plywood dan serat gelas Penggunaan 2 lapis serat sebagai kulit (skin) dapat meningkatkan kekuatan bahan komposit sandwich, namun peningkatannya tidak signifikan. Sedangkan ketebalan plywood (core) mempengaruhi kekuatan bahan komposit sandwich, dimana semakin tebal,kekuatannya semakin menurun. Analisa fractography juga menunjukkan bahwa bagian interface antara kayu dan komposit merupakan titik awal kegagalan specimen secara laminasi, sehingga kekuatan mekaniknya sangat tergantung dari kualitas ikatan pada interface, dimana ikatan yang baik akan membentuk cross linking antara kayu dengan komposit.Kata kunci : Kayu komposit, sifat mekanik, absorbsi air, komposit polyester, uji bending Plywood, core, komposit sandwich,
PERAWATAN PADA LABYRINTPERAWATAN PADA LABYRINTH KOMPRESOR SENTRIFUGAL KAWASAKI K-2501 A DENGAN METODE FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA) DI PT. ARUN NGL BLANG LANCANG Saifuddin, Saifuddin; Jalil, A.; Arlena, Fitri
Jurnal POLIMESIN Vol 14, No 1 (2016): Polimesin
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v14i1.299

Abstract

Sesuai dengan perkembangan industri pada saat sekarang ini, banyak diciptakan peralatan dan alat bantu yang dapat mempercepat proses kerja suatu industri, diantaranya adalah kompresor.Kompresor sentrifugal kawasaki beroperasi pada unit 88 yang terdiri dari motor listrik sebagai penggerak. Kompresor sentrifugal kawasaki K-2501 A adalah jenis kompresor sentrifugal yaitu kompresor dengan kedudukan poros horizontal yang berfungsi untuk untuk menaikkan tekanan gas untuk keperluan tertentu atau dengan kata lain kompresor meningkatkan energi (head) fluida gas yang mengalir dari level energi tertentu ke level energi yang lebih tinggi. Dalam dunia industri kompresor mempunyai kegunaan yang sangat luas seperti dalam bidang perminyakan, petrokimia workshop, dan lain-lain.hasil analisadata lapangan, terdapat beberapa item yang mengalami kerusakan seperti Labyrinth, o ring , dan impellerpada Kompresor sentrifugal K-2501 A yang mengakibatkan kompresor harus dilakukan breakdown maintenance. Adapun tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk memaksimalkan umur pakai komponen dari sebuah kompresor dengan menganalisa kompresor tersebut menggunakan metode FailureMode Effecy And Analysis (FMEA).Kata kunci : kompresor sentrifugal, failure Mode and Effect Analisys (FMEA)
APLIKASI DAPUR PEMANAS BAGI PENGRAJIN PANDAI BESI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PRODUK ALAT-ALAT PERKAKAS PERTANIAN Saifuddin, Saifuddin; Arskadius A, Mohd.; Lukman, Lukman
Jurnal POLIMESIN Vol 14, No 2 (2016): Polimesin
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v14i2.338

Abstract

Penggunaan alat perkakas pertanian dan rumah tangga, terus meningkat dari tahun ke tahun, hal ini di karena berkembangnya lahan pertanian dan perkebunan baru di daerah Aceh. Fenomena ini berpengaruh signifikan terhadap permintaan dan pertumbuhan para pengrajin pandai besi di daerah Aceh, khususnya Aceh Utara. Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Sejahtera yang selama ini menaungi beberapa pengrajin pandai besi di desa Pande, kecamatan Tanah Pasir, yang merupakan pemasok bahan baku dan juga sebagai pemasar hasil pengrajin baik di daerah Aceh Utara maupun luar Aceh mengalami permasalahan dimana selama ini yang dikeluhkan oleh konsumen adalah ketidakseragaman produk dan kualitas produk, terutama untuk peralatan pertanian, sehingga kalah bersaing dengan produk dari luar. Kondisi pengrajin pandai besi yang tidak memiliki pengetahuan teknologi dalam memilih material dasar dan proses sepuhan (heat treatment) yang hanya mengandalkan pada kebiasaan secara turun menurun sangat mempengaruhi pada produk akhir. Metode penyelesaian permasalahan ini di mulai dari pengenalan kualifikasi material baja, workshop, pembuatan dapur pemanas (furnace heater) dan implementasinya serta pelatihan managemen usaha. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk aplikasi dapur pemanas ini adalah untuk meningkatkan produktifitas, kualitas dan nilai jual (pemasaran) produk pengrajin ke penampung serta mudah digunakan dan perawatannya oleh masyarakat. Dapur pemanas yang telah dibuat dengan spesifikasi sebagai berikut: Dimensi: P x L x T = 600 x 4000 x400 mm, Media Pemanas yang digunakan gas Elpiji, penggerak: Blower Type Extrusi Fire. Kapasitas dapur dapat memuat 20 jenis peralatan sekali proses penyepuhan dalam jangka waktu 20 s/d 30 menit, dibandingkan dengan proses dapur tiup terbuka yang membutuhkan waktu 50 menit untuk satu produk, sehingga terjadi efisiensi dari segi waktu dan biaya produksi.Kata Kunci: Alat perkakas Pertanian, penyepuhan, managemen usaha, kualifikasi material.
Pembuatan Gelas Dengan Bahan Polypropylene Dengan Menggunakan Cetakan Plastik Saifuddin, Saifuddin; Usman, Ramli; Zuhaimi, Zuhaimi
Jurnal POLIMESIN Vol 16, No 2 (2018): Polimesin
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v16i2.558

Abstract

Mould adalah alat yang digunakan untuk menghasilkan produk, yang salah satunya adalah pembentukan produk dari bahan plastik dan dilakukan pada jenis mesin injeksi. Untuk menghasilkan sebuah mould secara tepat, tentunya banyak faktor yang harus dipertimbangkan sehingga produk yang dihasilkan dapat memenuhi standar kualitas yang diinginkan secara optimal baik itu dari kepresisian dimensi, kompleksitas geometri, maupun efisiensi proses. Oleh karena itu sangat diperlukan pengetahuan dan pemahaman tentang dasar teknik desain cetakan, proses manufaktur, proses injeksi dan parameter lain yang berpengaruh terhadap perancangan mould dan produk hasil cetakannya. Tujuan penelitian ini adalah merencanakan satu unit cetakan injection moulding untuk membuat cetakan gelas. Metode yang digunakan adalah dengan merencanakan pembuatan mould yang meliputi proses desain/perancangan, pemilihan bahan produk, pemilihan bahan cetakan dan proses manufakturnya. Berdasarkan perhitungan bagian utama cetakan  maka didapat total keseluruhan volume produk adalah 523,124 mm3, berat produk 47,081 gram  dan gaya injeksi yang di dibutuhkan dalam proses pencetakan ialah: 154,6 N. Kata kunci: Cetakan Plastik, Sistem Injeksi, Cetakan standart, Polypropylene  Abstract Mold is a tool used to produce products, one of which is the formation of products from plastic materials and is carried out on the type of injection machine. To produce a mold appropriately, of course there are many factors that must be considered, so that the product produced can meet the desired quality standards optimally, whether from dimensional precision, geometry complexity, or process efficiency. Therefore, there is a great need for knowledge and understanding of the basis of mold design techniques, manufacturing processes, injection processes and other parameters that influence the design of molds and printed products. The purpose of this study was to plan a single injection molding mold to make glass molds. The method used is to plan the manufacture of mold which includes the design / design process, product material selection, selection of printed materials and the manufacturing process. Based on the calculation of the main part of the mold, the total volume of the product is 523.124 mm3, the product weight is 47.081 grams and the injection force required in the printing process is: 154.6 N. Keywords: Plastic Mold, Injection System, Standard Mold, Polypropylene
Perancangan produk berbasis lingkungan Saifuddin, Saifuddin
Jurnal POLIMESIN Vol 7, No 2 (2009): Agustus
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jop.v7i2.1384

Abstract

Perancangan   produk  berbasis   lingkungan    (Design for the Environment  _DFE)  merupakan  suatu konsep  perancangan   produk  yang mempertimbangkan    aspek  lingkungan  pada  semua  langkah pengembangan    produk   yaitu   langkah   produksi,    proses   manufaktur,   proses   perakitan,   dan setelah  produk  habis masa pakainya  (production rump-up}. Tahapan  dan proses  pengembangan produk,  dengan  kelestarian   lingkungan   merupakan  aspek  penting  yang  dipertimbangkan   pada tiap tahapannya.  DFE dapat mengurangi potensi efek negatif terhadap lingkungan dengan memperhatikan,    rnengevaluasi    serta  menentukan    siklus  hidup   produk   (life  cycle  product) secara   sistematis   pada  semua  tahap  perancangan   dan  pengembangan   produk.   Siklus hidup produk     merupakan      bagian     penting     dalam     perancangan      produk     terutama      dengan menghubungkan antara keuntungan  secara  ekonomi   dan  kelestarian    alam.   Siklus  hidup   produk didasarkan   pada prinsip   untuk  mencegah   polusi   oleh  aktivitas   proses  produksi   yang  dapat mengganggu  kelestarian  alam, menggunakan  sumber daya alam seminimal mungkin serta memperbaiki    kualitas    produk.    Efek   negatif   terhadap    lingkungan    dapat   disebabkan     oleh eksploitasi   sumber   daya  alam  secara   berlebihan   serta  penggunaan   material   berbahaya   dan material  yang  mengandung  racun dalam pembuatan  produk.   Efek  negatif   terhadap  lingkungan (udara,  air dan   tanah)  di antaranya   adalah:    penipisan    ozon,   efek  hujan  asam  dan  emisi   gas buangan  pabrik,  penipisan   oksigen  di udara,   pencemaran   oleh   substansi   beracun,  pencemaran oleh material  padat. Kata  Kunci: Design for   the  Environmental,  Life  Cycle Product,  Pengembangan Berkelanjutan, End    of Live,  Recycling
KEKUATAN LENTUR KOMPOSIT SANDWICH KAYU BAKAL LAMBUNG PERAHU SEBAGAI CORE DAN POLYESTER SERAT GELAS SEBAGAI SKIN yunus, azwar muhammad; Saifuddin, Saifuddin; Marzuki, Marzuki; Arifin, Dahlul
Jurnal POLIMESIN Vol 18, No 1 (2020): Februari
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/jpl.v18i1.1579

Abstract

Penggunaan kayu sebagai bahan baku perahu nelayan memiliki beberapa kelemahan yaitu kekuatan dan ketahanan air yang kurang baik. Akibatnya, umur pakai perahu tidak ekonomis sehingga membutuhkan teknologi material komposit sandwich. Kayu dilapisi dengan komposit polyester serat gelas pada kedua permukaannya. Tujuannya untuk meningkatkan kekuatan kayu, memproteksi penyerapan air, serta melindungi paparan matahari. Hal ini menguntungkan, karena badan perahu tidak perlu dicat dan dilapisi dengan lapisan seng pada bagian lambungnya yang selama ini sering dilakukan para nelayan. Artikel ini mengkaji kekuatan lentur bahan komposit sandwich menggunakan beberapa jenis kayu (Damar Laut dan Merbau serta Sengon dan Damasui) sebagai core, komposit polyester dan gelas sebagai skin. Specimen uji dibuat dengan metode hand lay up dengan ketebalan core  8  mm dan skin 1 lapisan pada masing - masing permukaan (1 mm) kemudian dibentuk mengikuti standart ASTM C 1341. Pengujian lentur menggunakan Universal Testing Mechine Galdabini. Hasilnya menunjukkan bahwa bahan core kayu Sengon (lunak) menghasilkan peningkatan kekuatan lentur yang sangat signifikan hingga 92 %  dibandingkan core kayu Damasui dengan peningkatan hanya 5.1.%. hasil pengujian juga menunjukkan bahwa kekuatan dipengaruhi oleh ikatan pada bagian sambungan interface permukaan core dan skin yang berhubungan dengan kemampuan resin berpenetrasi ke dalam permukaan kayu untuk mengasilkan sambungan yang baik dan padu. sedangkan core kayu Merbau dan Damar Laut proses sandwich  menghasilkan peningkatan kekuatan lentur  sekitar 14 %. Maka, kayu Sengon yang telah dilapisi dengan komposit polyester serat gelas memenuhi syarat mekanik dan fisik sebagai bahan perahu. Demikian juga dengan ke 3 jenis kayu lainnya, kekuatan lenturnya juga mengalami peningkatan. Kata kunci: kayu perahu, sifat mekanik, kekuatan lentur, komposit sandwich,  polyester  serat gelas. The flexural strength of the combination of wood sandwich composite boat hull as a core and glass fiber polyester as a skin AbstractWood as raw material for boat making has some limitation for mechanical and physical properties. The sandwich composite material technology will apply to solve the case, where the wood will be coated with glass fiber polyester composites on both surfaces to increase the strength, protect water absorption and sun exposure. So, the body of boat does not need to be painted and coated with a layer of zinc on the hull, which has often been done by fishermen. This article examines the flexural strength of sandwich composite materials, using several types of wood (Damar Laut and Merbau and Sengon and Damasui) as cores and glass fiber polyester composites as skins. Specimens were produced by  hand lay-up method (core thickness of 8 mm and skin 1 layer on each surface) and preparing specimen according to ASTM C 1341. The results showed that the Sengon (soft) wood core material produced a very significant increase in flexural strength of up to 92% compared to Damasui wood cores that increase 5.1%. The strength is affected by bonding at the interface surfaces of the core and skin, which is related to the ability of the resin to penetrate into the wood surface to produce a good and coherent joint. Whereas Merbau and Damar Laut wood cores produces an increase in flexural strength around 14%. So the Sengon wood that has been coated with glass fiber polyester composites meets the mechanical and physical requirements as boat materials, as well as the other 3 types of wood, its flexural strength also increases. Keywords: The wood of the boat, mechanical properties, sandwich composite, polyester of fiber glass, interface bonding, flexural strength.