Irsan Saleh
Faculty of Medicine University of Sriwijaya/ Dr. Mohammad Hoesin General Hospital Palembang

Published : 40 Documents
Articles

Found 40 Documents
Search

Polymorphisms in the pfcrt and pfmdr1 genes in Plasmodium falciparum isolates from South Sumatera, Indonesia Saleh, Irsan; Handayani, Dwi; Anwar, Chairil
Medical Journal of Indonesia Vol 23, No 1 (2014): February
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.529 KB) | DOI: 10.13181/mji.v23i1.679

Abstract

Background: Over the past decade, antimalarial drug resistance has rapidly become a major public health problem in South East Asia region including South Sumatra. This study aimed to determine the extent of gene polymorphisms associated with chloroquine resistance (CQR) in P. falciparum isolates from Lahat, Sekayu, Baturaja and Palembang district.Methods: A molecular study was conducted to identify the mutant alleles of the genes associated with the resistance to chloroquine among the isolates of Plasmodium falciparum from South Sumatera. Blood from 25 patients was collected, DNA was isolated, and the sequences of two different genes (Plasmodium falciparum chloroquine resistance transporter/pfcrt and Plasmodium falciparum multidrug resistance/pfmdr1) were analyzed using polymerase chain reaction (PCR) and restriction fragment length polymorphism (RFLP).Results: This study identified polymorphism in the pfcrt 76-Thr in all isolates and pfmdr1 86-Tyr. These findings may reflect the failure of treatment with the standard dose of chloroquine within the last few years in South Sumatera. Conclusion: PCR-RFLP technique provide a simple and rapid method of detecting polymorphisms in genes that may predict chloroquine resistance (CQR). Although the identification of the polymorphism in the pfcrt and pfmdr1 genes provides a significant indicator of CQR, further studies are needed to determine the role of these polymorphisms in the in vivo and in vitro responses to drug treatment.Keywords: chloroquine, Plasmodium falciparum, pfmdr1, pfcrt
Korelasi Antara Overekspresi p53 Dengan Derajat Histopatologi Dan Stadium Klinis Karsinoma Ovarium Lahmuddin, Tati; Maulani, Heni; Musa, Zulkarnain; Saleh, Irsan
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 2, No 3 (2015): OKTOBER 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karsinoma ovarium adalah keganasan yang berasal dari sel-sel epitelial di ovarium, terbanyak keenam pada wanita di dunia. Di RS Umum Dr. Mohammad Hoesin Palembang, insiden karsinoma ovarium menempati urutan ketiga keganasan terbanyak pada wanita setelah karsinoma payudara dan leher rahim. Gen TP53 mensintesis protein p53 yang bila inaktif dapat mempengaruhi derajat histopatologi dan stadium klinik. Penelitian ini bertujuan mengetahui korelasi antara overekspresi p53 dengan derajat histopatologi dan stadium klinik karsinoma ovarium.  Penelitian dilakukan secara analitik observasional, pendekatan potong lintang di sentra diagnostik laboratorium Patologi Anatomi RS Umum Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Sampel berjumlah 32 kasus, diambil dari arsip rekam medik periode 1 Januari 2012 sampai 30 Juni 2015, dipulas dengan antibodi monoklonal p53. Hasil penelitian menemukan frekuensi karsinoma ovarium derajat rendah sebanyak 65,6% dan derajat tinggi sebanyak 34,4%. Tipe histopatologi terbanyak adalah karsinoma serosa derajat tinggi (25%) dan karsinoma musinus (25%). Frekuensi karsinoma ovarium stadium lanjut (53,1%) lebih banyak dari stadium awal (46,9%).  Frekuensi overekspresi p53 pada karsinoma ovarium 43,8%. Tidak ada korelasi bermakna antara overekspresi p53 dengan derajat histopatologi (p=0,1) dan stadium klinis karsinoma ovarium (p=0,6). Terdapat korelasi bermakna antara derajat histopatologi dan stadium klinik (p=0,00, r=0,46)
Pelayanan Antenatal Berkualitas dalam Meningkatkan Deteksi Risiko Tinggi pada Ibu Hamil oleh Tenaga Kesehatan di Puskesmas Sako, Sosial, Sei Baung dan Sei Selincah di Kota Palembang Marniyati, Lisa; Saleh, Irsan; Soebyakto, Bambang B
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 3, No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang profesional untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu hamil beserta janin yang dikandungnya. Pelayanan antenatal yang dilakukan secara teratur dan komprehensif dapat mendeteksi secara dini kelainan dan risiko yang mungkin timbul selama kehamilan, sehingga kelainan dan risiko tersebut dapat diatasi dengan cepat dan tepat (Hardianti et al., 2013). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas pelayanan antenatal di Puskesmas Sako, Sosial, Sei Baung dan Sei Selincah di Kota Palembang. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode purposive sampling. Penelitian dilakukan sejak 30 Maret sampai dengan 30 Mei 2015 dengan teknik wawancara mendalam dan observasi. Informan penelitian adalah 8 (delapan) orang bidan (koordinator dan KIA) di Puskesmas Sako, Sosial, Sei Baung dan Sei Selincah di Kota Palembang, 4 (empat) orang Kepala Puskesmas di tempat bidan tersebut bertugas, 8 (delapan) orang ibu hamil dan 2 (dua) orang dokter spesialis Kebidanan RSMH. Data dianalisis dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil Penelitian : Hasil analisis menunjukkan bahwa belum semua bidan mendapatkan pelatihan atau sosialisasi pelayanan antenatal, bidan mengetahui tujuan dan manfaat dilakukan pelayanan antenatal sesuai standar, belum semua bidan mematuhi standar pelayanan antenatal yang sudah ditetapkan, masih terdapat sarana dan prasarana yang belum memadai untuk melakukan pelayanan antenatal sesuai standar, bidan telah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai deteksi risiko dan mampu melakukan deteksi risiko pada ibu hamil. Kesimpulan : Dinas kesehatan propinsi dan kota melakukan pembinaan dan pengawasan pelaksanaan pelayanan antenatal sesuai standar.
Akurasi Pemeriksaan HbA1c dalam Mendeteksi Gangguan Toleransi Glukosa pada Anak dan Remaja Obes dengan Riwayat Orang Tua DM Tipe 2 Wijaya, Abdi; Aditiawati, Aditiawati; Saleh, Irsan
Sari Pediatri Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.1.2015.17-20

Abstract

Latar belakang. Obesitas dengan riwayat orang tua diabetes mellitus (DM) tipe 2 berhubungan dengan gangguan toleransi glukosa,dislipidemia, dan DM. Toleransi glukosa terganggu (TGT) merupakan pertanda awal terjadinya DM tipe 2. Hemoglobin A1c(HbA1c) telah muncul menjadi alat diagnostik untuk mengidentifikasi DM dan subjek yang berisiko menderita DM. Rekomendasiini didasarkan pada data dari orang dewasa yang menunjukkan hubungan antara HbA1c dengan terjadinya DM di kemudian hari.Penelitian yang khusus ditujukan pada populasi anak dan remaja masih sedikit.Tujuan. Mengetahui penggunaan dan titik potong optimal pemeriksaan HbA1c dalam mendiagnosis gangguan toleransi glukosapada anak dan remaja obesitas dengan faktor risiko dibandingkan dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO).Metode. Dilakukan uji diagnostik terhadap 40 anak obesitas (Indeks Massa Tubuh menurut umur dan jenis kelamin berdasarkan Zscore WHO 2008 􀁴 +2 SD) usia 10-15 tahun dengan riwayat orang tua DM tipe 2 tahun di Palembang dari Desember 2013 - Februari2014. Pada semua subjek dilakukan pemeriksaan HbA1c dan TTGO.Hasil.Ditemukan dua anak dengan TGT. Dari analisis kurva Receiver Operating Characteristic (ROC) didapatkan titik potong optimalpemeriksaan HbA1c adalah 5,55% dengan nilai sensitivitas 67% dan spesifisitas 20%, area Under the Curve (AUC) diperoleh sebesar79,3% (95% IK 45,7%-100%).Kesimpulan. Nilai pemeriksaan HbA1c >5,55% dianjurkan sebagai alat skrining untuk mengindentifikasi TGT pada anak danremaja obesitas dengan faktor risiko.
Single Nucleotide Polymorphism Promoter -765g/C Gen Cox-2 Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Karsinoma Kolorektal Triwani, Triwani; Saleh, Irsan
Biomedical Journal of Indonesia: Jurnal Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karsinoma kolorektal (KKR) merupakan keganasan yang berasal dari transformasi neoplastik sel-sel epitel kolon dan rektum, menempati urutan ketiga terbanyak dari seluruh kanker di seluruh dunia.Berbagai perubahan DNA dapat terjadi akibat paparan dengan lingkungan dan karsinogen. DNA yang gagal berpasangan menimbulkan instabilitas genetik, mutagenesis, dan kematian sel, disebut sebagai single nucleotide polymorphisms (SNPs).  Polimorfisme adalah perubahan atau mutasi pada gen yang tidak menimbulkan perubahan struktur protein   hanya mengakibatkan variasi fungsi protein, tidak bermanifestasi klinis, hanya  bisa menentukan kerentanan terhadap penyakit. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional pada gen COX-2 dengan metode PCRRFLP. Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah case series, dilakukan di Laboratorium Klinik RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang selama 4 bulan, dari bulan Mei sampai dengan November 2012. Terdapat empat puluh (40) orang subjek penelitian yang merupakan penderita KKR, semuanya berasal dari seluruh etnis yang berdomisili di Sumatera Selatan dan bersedia ikut serta dalam penelitian. Penderita karsinoma kolorektal yang berjenis kelamin laki-laki (52,5%) lebih banyak daripada wanita (47,5%), lokasi karsinoma pada daerah kolon (25%) lebih banyak daripada daerah rektum (75%), dan penderita  dengan adenokarsinoma (77,5%) merupakan jenis terbanyak diikuti musinus adenokarsinoma (17.5%) dan adenoskuamous karsinoma (5%). Distribusi genotip CC (mutan) sebanyak 10%, genotip GC (heterozygot) sebanyak 10%, dan, genotif GG (normal) sebanyak 80%. Sedangkan Distribusi alel C (mutan) sebanyak 16% dan alel G (normal) sebanyak 84%. Penelitian ini terbatas pada identifikasi polimorfisme gen COX2 pada kasus KKR, tidak melihat hubungan atau pengaruh polimorfisme gen COX-2 terhadap kejadian KKR.  Perlu dilakukan wawancara lebih lanjut terhadap pasien mengenai suku, etnis, riwayat keluarga. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hubungan polimorfisme promoter -765G/C Gen COX-2 dengan kejadian karsinoma kolorektal.
Pengaruh Low Level Laser Therapy (LLLT) terhadap Kadar Creatine Kinase (CK) dan Lactate Dehydrogenase (LDH) pada Proses Pemulihan Setelah Latihan Interval Intensitas Tinggi Amani, Patwa; Liana, Phey; Irfanuddin, Irfanuddin; Saleh, Irsan
Biomedical Journal of Indonesia: Jurnal Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mengenai Low Level Laser Therapy (LLLT) pada subjek manusia maupun hewan coba telah diketahui memberikan hasil positif terhadap penanganan penyakit inflamasi, perbaikan jaringan, dan penanganan nyeri. Meskipun demikian penggunaan LLLT pada bidang kedokteran olahraga masih sangat terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh LLLT terhadap kadar creatine kinase (CK) dan lactate dehydrogenase (LDH) sebagai biomarker kerusakan otot setelah latihan interval intensitas tinggi. Penelitian eksperimental kuasi dengan rancangan single-blind, randomized, placebo controlled dilakukan dengan 20 orang subjek laki-laki sehat yang tidak terlatih. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yakni kelompok dengan LLLT aktif dan kelompok kontrol plasebo. Setiap kelompok akan melakukan latihan interval intensitas tinggi mneggunakan sepeda statis dengan intensitas kayuh 50%-80% HR maksimal selama 30 menit. Segera setelah latihan fisik kelompok perlakuan akan diberikan LLLT (810nm, 5mW, 40 Joule) menggunakan probe multi diode pada 4 titik untuk masing-masing tungkai bawah, sedangkan kelompok kontrol menerima plasebo. Kadar CK dan LDH diukur dua kali, yakni sebelum latihan interval intensitas tinggi dan 24 jam setelahnya. Terdapat perbedaan kadar CK yang signifikan antara kelompok LLLT (105,50 ± 47,12) dan kelompok kontrol (182,91 ± 49,77) (p<0,05). Hasil pengukuran kadar LDH juga menunjukan hasil yang signifikan dengan rerata kelompok LLLT 144,37 ± 15,96 dan kelompok kontrol 183,88 ± 30,19 (p<0,05).
Efek Antiinflamasi Fraksi Daun Andong (Cordyline Fruticosa L) Pada Tikus Putih Jantan (Rattus Norvegicus) Galur Spraque Dawley Wijaya, Leni; Saleh, Irsan; Theodorus, Theodorus; Salni, Salni
Biomedical Journal of Indonesia: Jurnal Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inflamasi merupakan suatu respon protektif normal terhadap luka jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, zat kimia yang merusak, atau zat-zat mikrobiologik. Pengurangan peradangan atau respon inflamasi menggunakan obat golongan steroid dan antiinflamasi non steroid (AINS). Tujuan penelitiaan adalah untuk mengetahui efek antiinflamasi fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi metanol air dari ekstrak metanol daun andong (Cordyline fruticosa L) pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Spraque Dawley yang diinduksi dengan karagenin 1%. Subyek penelitian adalah 30 ekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Spraque Dawley yang dibagi dalam 5 kelompok. Kelompok I adalah plasebo yang diberi CMC 1%, kelompok 2 diberi fraksi nheksan, kelompok 3 diberi fraksi etil asetat, kelompok 4 diberi fraksi metanol air masing-masing dengan dosis 200 mg/kgBB, dan kelompok 5 diberi Meloxicam sebagai kontrol positif. Parameter efek antiinflamasi berupa volume edema kaki tikus dan penghitungan jumlah neutrofil pada sediaan hapus darah tepi. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan program SPSS versi 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi n-heksan daun andong  mempunyai efek antiinflamasi lebih aktif atau kuat dibandingkan dengan fraksi etil asetat dan metanol air daun andong (Cordyline fruticosa L), tidak berbeda nyata dibandingkan Meloxicam pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Spraque Dawley, fraksi n-heksan daun andong (Cordyline fruticosa L) mengandung golongan senyawa fenol dan steroid terpenoid yang diduga berperan dalam aktivitas antiinflamasi, dan potensi antiinflamasi fraksi etil asetat dan metanol air daun andong (Cordyline fruticosa L) lebih kecil dibandingkan dengan Meloxicam pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) galur Spraque Dawley.
Transforming Growth Factor β1 and Tropoelastin Expression in Uterine Prolapse Alvilusia, Alvilusia; Fauzi, Amir; Azhari, Azhari; Wresnindyatsih, Wresnindyatsih; Saleh, Irsan
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 4, No. 2, April 2016
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.898 KB) | DOI: 10.32771/inajog.v4i2.78

Abstract

Objective: To know the correlation of the expression of transforming growth factor beta (TGF-β1) and tropoelastin in uterine prolapse. Method: A cross-sectional study of 30 subjects suffered from uterine prolapse in the Department of Obstetrics and Gynecology Dr. Mohammad Hoesin hospital Palembang. The study was conducted since December 1st, 2014 until July 31st, 2015. The sample was from the sacrouterine ligament and immunohistochemical examination was conducted to see the expression of TGF-β1 and tropoelastin. Result: Of the 30 subjects obtained, the expression of TGF-β1 was on 30 subjects consisting of 18 (60%) for weak expression and 12 (40%) for strong expression. Meanwhile, the strong tropoelastin expression was on 18 subjects (60%) and weak tropoelastin expression on 12 subjects (40%). There was a positive correlation between TGF-β1 and tropoelastin expression with moderate correlation (p=0.014; r=0.44). Conclusion: There is a positive correlation between the TGF-β1 and tropoelastin expression of sacrouterine ligament in uterine prolapse with moderate correlation. [Indones J Obstet Gynecol 2016; 4-2: 70-74] Keywords: transforming Growth Factor Beta 1, tropoelastin, uterine prolapse
Serum Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) in DMPA Acceptors: Influence on Bleeding Occurrence Pratiwi, Ratih; Amran, Rizani; Said, Usman; Saleh, Irsan
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 3, No. 1, January 2015
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.512 KB) | DOI: 10.32771/inajog.v3i1.22

Abstract

Objective: To analyze the relationship between levels of serum vascular endothelial growth factor (VEGF) and bleeding occurrence in depo medroxyprogesterone acetate (DMPA) acceptors. Method: We employed a cross‐sectional study on 70 DMPA acceptors with DMPA use of 3 to 6 months who presented for midwifery service in Palembang. Blood samples were obtained in order to assess levels of serum VEGF using ELISA (enzyme‐linked immunoabsorbent assay) method. Laboratory assessments were carried out in PRODIA laboratory in Jakarta. Result: We recruited 70 subjects into our study. After 3 to 6 months of using DMPA, as much as 26 subjects (37.1%) reported complaints of bleeding and 44 subjects (62.9%) reported no bleeding. The mean level of serum VEGF in DMPA acceptors with bleeding was 355 K 170 pg/ml, and 323 K 202 pg/ml in acceptors with no bleeding. We identified a significant association between duration of use and bleeding occurrence (p0.05). Conclusion: In our sample, we found an association between duration of DMPA use and presence of bleeding but VEGF levels was not found to be different in women experiencing abnormal uterine bleeding and those who did not. Keywords: bleeding, DMPA acceptor, serum VEGF
Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi di Bagian Rawat Jalan RS Muhammadiyah Palembang Periode Juli 2011–Juni 2012 Pahlawan, M Kaisar; Astri, Yesi; Saleh, Irsan
SyifaMEDIKA:Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 1 (2013): Syifa Medika
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.315 KB)

Abstract

Penggunaan obat yang tidak tepat akan memberikan dampak negatif yang besar yang merugikan bagi unit atau instansi pelayanan kesehatan maupun pada pasien serta masyarakat. Oleh karena itu diperlukan pemilihan dan penggunaan obat secara tepat, sehingga intervensi obat dapat mencapai sasaran yaitu penyembuhan penderita dengan efek samping obat seminimal mungkin dan instruksi penggunaan obat dapat dipatuhi oleh pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan obat antihipertensi di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Studi penggunaan obat ini dimulai dari bulan November 2012 sampai Desember 2012 di bagian rawat jalan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.Sampel diambil dari data rekam medik penderita hipertensi dari bulan Juli 2011 sampai Juni 2012. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 170 pasien. Variabel-variabel penelitian ini, antara lain, jenis obat antihipertensi yang dipakai, dosis, frekuensi, lama pemakaian, efek samping, dan interaksi dengan obat antihipertensi lain. Data yang diperoleh ditabulasi dan disajikan dalam bentuk deskriptif. Jenis obat antihipertensi yang digunakan di bagian rawat jalan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang adalah ACE inhibitor, antagonis kalsium, adrenolitik sentral, alpha blocker, beta blocker dan Diuretik. Penggunaan obat antihipertensi dapat berupa dosis tunggal maupun dosis kombinasi Dosis tunggal yang paling banyak digunakan adalah golongan obat ACE Inhibitor berupa captopril dengan 40 pasien (23,5%). Sedangkan obat antihipertensi dosis kombinasi yang paling banyak digunakan adalah golongan obat ACE Inhibitor dengan Antagonis kalsium berupa Captopril dengan Nifedipin yaitu 29 pasien (17,1%). Semua dosis dan frekuensi pemberian obat antihipertensi yang digunakan adalah optimal. Efek samping ditemukan pada 13 pasien (6,5%) yang menggunakan golongan obat antihipertensi ACE Inhibitor yaitu captopril berupa batuk, dermatitis, pruritus dan golongan obat Antagonis kalsium yaitu amlodipin berupa nausea. Interaksi penggunaan obat antihipertensi yang bersifat sinergistik lebih besar yaitu 95 pasien (56,1%) dari pada penggunaan obat antihipertensi yang bersifat antagonistik yaitu 2 pasien (1,2%).