Articles

PENGARUH PENAMBAHAN VITAMIN C DENGAN DOSIS YANG BERBEDA PADA PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING BAKAU (SCYLLA SP) Ambarwati, Ananti Trisno; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.396 KB)

Abstract

Peningkatan nilai nutrisi pakan buatan dapat dilakukan dengan penambahan vitamin C sehingga diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau (Scylla sp). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan vitamin C dengan dosis yang berbeda pada pakan buatan serta mengetahui dosis terbaik vitamin C terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau (Scylla sp). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan tersebut adalah penambahan vitamin C dengan dosis yang berbeda pada pakan buatan, A (0 mg/100 g), B (12 mg/100 g), C (18 mg/100 g), D (24 mg/100 g), dan E (30 mg/100 g). Hewan uji yang digunakan adalah kepiting bakau (Scylla sp) dengan bobot rata-rata 114,7±1,6 g/ekor. Kepiting bakau (Scylla sp) dipelihara dengan metode single room dalam basket plastik berukuran 21 cm x 21 cm x 16 cm selama 56 hari dan pemberian pakan 5%/bobot biomassa/hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan vitamin C dengan dosis yang berbeda pada pakan buatan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan mutlak dan efisiensi pemanfaatan pakan namun tidak berbeda nyata terhadap kelulushidupan kepiting bakau (Scylla sp). Pertumbuhan bobot mutlak yang tertinggi dicapai oleh perlakuan D (18,90±5,60 g), efisiensi pemanfaatan pakan tertinggi pada perlakuan D (5,56±1,62%). Nilai kelulushidupan kepiting bakau (Scylla sp) berkisar antara 66,67?100,00%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan vitamin C dengan dosis yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan bobot mutlak dan efisiensi pemanfaatan pakan namun tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kelulushidupan. Dosis vitamin C yang dapat ditambahkan pada pakan buatan untuk kepiting bakau (Scylla sp) adalah 12 mg/100 g hingga 24 mg/100 g pakan. Improvement of nutrition value of artificial feed can be done with the addition of vitamin C that are expected to enhance the growth and survival rate of mud crab (Scylla sp). This study aims to determine the effect of vitamin C with different doses on artificial feed, and know the best dose of vitamin C on the growth and survival of mud crab (Scylla sp). This study used a completely randomized design  with 5 treatments and 3 replications. The treatment is the addition of vitamin C with different doses on artificial feed, A (0 mg/100 g), B (12 mg/100 g), C (18 mg/100 g), D (24 mg/100 g) , and E (30 mg/100 g). The animal trials that used was mud crab (Scylla sp) with an average weight of 114.7±1.6 g/individual. Mud crab (Scylla sp) maintained by the method of single room in a plastic basket measuring 21 cm x 21 cm x 16 cm during 56 days of feeding 5% / biomass  weight/day. The results showed that the addition of vitamin C with different doses on artificial diets significantly (P <0.05) on absolute weight growth and efficiency of feed utilization but not significantly different to the survival of mud crab (Scylla sp). The highest absolute weight growth achieved by treatment D (18.90 ± 5.60 g), the highest efficiency of feed utilization by treatment D (5,56±1,62%). The survival rate of mud crab (Scylla sp) ranged from 66.67 to 100.00%. The conclusion of this study is the addition of vitamin C with different doses significant effect on absolute weight growth and efficiency of feed utilization but no significant effect on survival rate. The dose of vitamin C can be added to artificial feed for mud crab (Scylla sp) is 12 mg/100 g to 24 mg/100 g of feed. 
PENGARUH PENAMBAHAN ENZIM FITASE DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN LAJU PERTUMBUHAN SPESIFIK IKAN KERAPU CANTANG (EPINEPHELUS SP.) Chrisdiana, Gradhika; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.476 KB)

Abstract

Budidaya ikan kerapu perlu memperhatikan beberapa aspek, salah satu aspek eksternal yang terpenting adalah pakan. Pakan dengan nutrisi seimbang merupakan faktor yang terpenting. Pakan buatan mengandung bahan nabati, bahan tersebut memiliki kekurangan yaitu mengandung zat anti nutrisi berupa asam fitat. Enzim fitase merupakan enzim eksogenus yang dapat mengurangi kandungan asam fitat dalam pakan buatan sehingga meningkatkan penyerapan nutrien oleh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan enzim fitase dalam pakan buatan dan mengetahui dosis enzim fitase yang optimal dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan ikan kerapu cantang (Epinephelus sp.). Ikan uji yang digunakan adalah ikan kerapu cantang dengan bobot rata-rata 19,4±0,36 g.ekor-1 dan padat tebar 1 ekor.l-1. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (enzim fitase dosis 0 mg/kg pakan), B (enzim fitase dosis 500 mg/kg pakan), C (enzim fitase dosis 1000 mg/kg pakan), dan D (enzim fitase dosis 1500 mg/kg pakan). Data yang diamati meliputi laju pertumbuhan spesifik (SGR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan rasio efisiensi protein (PER), dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim fitase dalam pakan buatan memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap EPP dan PER, berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap SGR. Dosis optimal enzim fitase sebesar 1.080 ? 1.090 mg/kg pakan buatan mampu menghasilkan SGR optimal sebesar 0,519%/hari, 0,386% PER, dan EPP sebesar 25,3%. Kualitas air pada media pemeliharaan masih berada pada kisaran yang layak untuk budidaya ikan kerapu cantang. The grouper culture need to pay attention to some aspects, one of the external aspects of the most important is the feed. Feed with balanced nutrition is the most important factor. Containing artificial feed vegetable matter , having a deficiency is the material containing the substance anti-nutrient such as phytic acid. Phytase is exogenous enzymes that can reduce phytic acid content in artificial feed so increase the absorption of nutrient by the body. This research aims to determine the effect of phytase in diet on the growth cantang grouper (Ephinephelus sp.) and determine optimal dose phytase in artificial feed cantang grouper (Ephinephelus sp.). The fish samples which are used are the seed of the grouper which have average of weight 19.4±0.36 g.fish-1 and stocking density 1 fish.l-1. This research was carried out experimentally by using a completely randomized design (CRD) of 4 treatments and 3 replications. The treatments in this research were treatment A (phytase dose of 0 mg/kg of feed), B (phytase dose of 500 mg/kg of feed), C (phytase dose of 100 mg/kg of feed), and D (phytase dose of 1500 mg/kg of feed). The data observed were spesific growth rate (SGR), protein efficiency ratio (PER), efficiency of feed utilization (EPP), and water quality. The results showed that addition of phytase in artificial feed highly significantly effect (P <0.01) on the EPP, and PER, significant (P<0.05) on the SGR. Optimal dose phytase is 1,080 ? 1,090 mg/kg of feed able to produce SGR to 0.519%, 0.386% in PER, and EPP to 25.3%. Water quality in the media is still in decent condition for cantang grouper. 
PENGARUH PENAMBAHAN VITAMIN E PADA PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING BAKAU (SCYLLA PARAMAMOSAIN) Winestri, Jati; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.128 KB)

Abstract

Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan pertumbuhan kepiting bakau yang lambat yaitu penambahan vitamin E pada pakan buatan guna meningkatkan nutrisi pakan. Vitamin E yang berfungsi sebagai antioksidan yang menjaga kerusakan protein dan enzim dari radikal bebas yang dapat menghambat pertumbuhan dan proses metabolisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan vitamin E pada pakan buatan terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau (S. paramamosain). Penelitian ini dilaksanakan pada Januari hingga Maret 2014 di tambak Desa Tapak, Kecamatan Tugurejo, Mangkang, Semarang. Hewan uji yang digunakan adalah kepiting bakau (S. paramamosain) dengan bobot rata-rata 109,1±1,7 g/ekor yang dipelihara selama 56 hari dengan kepadatan 1 ekor/keranjang plastik dengan ukuran (25 x 16 x 15) cm3. Pemberian pakan sebanyak 5% bobot biomass/hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental lapangan dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan penambahan vitamin E, yaitu perlakuan A (0 g/100 g), B (0,4 g/100 g), C (0,6 g/100 g), dan D (0,8 g/100 g).  Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan vitamin E memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap efisiensi pemanfaatan pakan protein efisiensi rasio dan laju pertumbuhan relatif. Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan D dengan nilai (17,88±3,51%), (2,86±0,55%), dan (4,03±0,93%). Penambahan vitamin E tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap kelulushidupan kepiting bakau (S. paramamosain). Hasil kualitas air masih dalam kisaran kelayakan bagi budidaya kepiting bakau (S. paramamosain) terkecuali salinitas sedikit dibawah nilai kelayakan namun masih dapat ditolerir oleh kepiting bakau (S. paramamosain). Kesimpulan dari penelitian ini penambahan vitamin E 0,8 g/100 g pada pakan buatan memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan kepiting bakau (S. paramamosain). One of alternative to overcome the problems in mud crab growthrates was dietary of vitamin E. Vitamin E have function as antioxidant to maintaince the proteins and enzymes by preventing free radicals which can disturb the growth and metabolism processes. This research aimed to assess effect of dietary of vitamin E on the growth and survival rate of mud crabs (S. paramamosain). The research was conducted in January until March 2014 in the brackish water pond Tapak Village, District Tugurejo, Mangkang, Semarang. The animals tested used were mud crab (S. paramamosain) with an average body weight of 109.1±1.7 g/individual, during 56 days at a density of 1 individual/basket with size (25 x 16 x 15) cm3. The feeding rate were 5% for weight biomass/day. The method used in this study is an experimental field with the pattern completely randomized design with 4 treatments and 3 replications of dietarary vitamin E, they were treatment A (0 g/100 g), B (0,4 g/100 g), C (0,6 g/100 g), and D (0,8 g/100 g). The results of this research indicate that dietary of vitamin E effect (P<0.05) on the efficiency of feed utilization, protein efficiency ratio and relative growth rate. The best results were obtained on treatment D with the value (17.88±3.51%), (2.86±0.55%), and (4.03±0.93%). Effects of dietary vitamin E didn?t give significant effect (P>0.05) on the survival rate of mud crab (S. paramamosain). Results of water quality was still within the range of feasibility for mud crab culture (S. paramamosain) except salinity slightly below the value of eligibility but can be tolerated by the mud crab (S. paramamosain). The conclusion of this research dietary 0.8 g/100 g vitamin E gives the best results on the growth of mud crab (S. paramamosain).
PENGARUH PENAMBAHAN ENZIM FITASE PADA PAKAN BUATAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN NILA MERAH SALIN (OREOCHROMIS NILOTICUS) Pratama, Alyosha Putra; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.786 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh penambahan enzim fitase dan menentukan dosis terbaik enzim fitase dalam pakan buatan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan  ikan nila merah salin (Oreochromis niloticus). Ikan uji yang digunakan adalah ikan nila merah salin (O. niloticus) sebanyak 120 ekor dengan bobot rata-rata 3,49±0,28 g/ekor. Ikan uji dipelihara selama 42 hari dengan padat penebaran 1ekor/L. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah penambahan enzim fitase pada pakan uji dengan dosis yang berbeda, yaitu A (0 mg/kg pakan), B (400 mg/kg pakan), C (50 mg/kg pakan) dan D (600 mg/kg pakan). Pakan uji yang digunakan berupa pelet dengan diameter berukuran 1-2 mm, mengandung kandungan protein 25% dan dilakukan penambahan enzim fitase pada setiap perlakuan. Pengumpulan data berupa laju pertumbuhan spesifik (SGR), rasio efisiensi protein (PER) efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan parameter kualitas air. Data yang terkumpul setelah itu dilakukan analisa ragam (ANOVA). Apabila dalam analisa ragam menunjukkan pengaruh nyata (p<0,05) maka dilanjutkan dengan uji wilayah Duncan untuk mengetahui perbedaan nilai tengah antar perlakuan. Data kualitas air dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim fitase dalam pakan buatan berpengaruh nyata (p<0,05) dan berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap laju pertumbuhan dan efisiensi pemanfaatan pakan terhadap nila merah (O. niloticus) dalam media bersalinitas. Dosis terbaik enzim fitase terhadap SGR, PER dan EPP terdapat pada perlakuan C (500 mg/kg pakan) masing-masing sebesar 1,96% /hari, 1,76% dan 43,01%. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk budidaya ikan nila merah (O. niltocus) dalam media bersalinitas. This research was aimed to know the effect of phytase enzyme addition and determine the best dosage of phytase enzym in artificial feed for feed utilization efficiency, growth and survival rate of saline red tilapia (Oreochromis niloticus.The fish used was red tilapia (O. niloticus) amount 120 fishes with average weight 3,49±0,28 g/fish. The fish were cultured in 42 days with stock density 1 fish/L. This reasearch were using experimental method with complete randomized design with 4 treatments and 3 replication. The treatment is adding phytase enzyme in the test feed with different dosage, are: A (0 mg/ kg feed), B (400 mg/kg feed), C (500 mg/kg feed) and D (600 mg/kg feed).. The form of feed test is pellet with diameter size 1-2 mm, containing protein 25% and adding phytase enzyme to each treatments. The data obtained are spesific growth rate (SGR), protein efficiency ratio (PER) feed utilizatione efficiency (EPP) and water quality. The collected data anylized by variance analysis (ANOVA). If the variance analysis shown the significant effect (p<0,05 and very significant effect (p<0,01). If the data is significantly effect, then continue with Duncan test to know the difference of mid-value for each treatments. Water quality is anlyzed descriptically. The result shown that the addition of phytase enzyme in artificial feed gives a significantly effect for spesific growth rate, protein efficiency ratio and feed utilization efficiency of red tilapia (O. niloticus) in salinity media. The best dosage of phytase enzyme for SGR, PER and EPP is treatment C (500 mg/kg feed) which 1,96%/day, 1,76% and 43,01% for each. The water quality in culture media was feasible for saline  red tilapia (O.niloticus) culture.
PENGARUH SUBSTITUSI SILASE TEPUNG BULU DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN BENIH IKAN LELE ( CLARIAS GARIEPINUS ) Kurniawan, Andi; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.462 KB)

Abstract

Pakan merupakan faktor penting dalam proses pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Faktor pakan menentukan 60 - 70% biaya produksi dalam usaha budidaya ikan. Besarnya biaya yang dikeluarkan untuk pakan menjadi kendala bagi pembudidaya. Tingginya harga pakan disebabkan oleh mahalnya bahan baku yang digunakan, terutama tepung ikan. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif bahan pakan dengan harga relatif murah dan mengandung nutrisi yang baik untuk mengurangi penggunaan tepung ikan. Salah satu alternatif bahan sumber protein adalah bulu ayam. Bulu ayam mengandung keratin sehingga perlu dilakukan fermenfasi untuk memecah keratin agar lebih mudah dicerna. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung ikan dengan silase tepung bulu ayam terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan benih ikan lele serta mengetahui komposis yang terbaik dalam pakan buatan terhadap laju pertumbuhan dan efisiensi pemanfaatan pakan. Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan lele (Clarias gariepinus) dengan bobot rata-rata 2,27 ± 0,34 g/ekor dan padat tebar 25 ekor/m3. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: presentase tepung ikan ; silase tepung bulu ayam 0%;100%, 25%;75%, 50%;50%, 75%;25%, dan 100%;0%. Data yang diamati meliputi pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan  relatif (RGR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan B 25% silase tepung bulu ayam dalam pakan buatan memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap RGR, pertumbuhan mutlak, dan EPP benih ikan lele yaitu 72,26±2,53(W), 2,96±0,11 (RGR), 66,06±2,37 (EPP).The feed is a very important factor in supporting the growth and survival of fish. Feed factor determining the cost of production reaches 60-70% in the cultivation of fish. The high feed prices caused by the high cost of raw materials used, mainly fish meal which is also an obstacle. Therefore, it is necessary to find alternative feed ingredients with a relatively cheap price and deliver good nutrition to reduce the use of fish meal. One alternative protein source material is chicken feathers. Feather meal protein content is high enough, but the feather meal also contains keratin that is hard to digest, so it is necessary to advance the process of fermentation. The purpose of this study to determine the effect of different substitution artificial feed on fish meal with a chicken feather meal silage on growth and survival rate of catfish and know the best composition in artificial feed the growing rate of catfish in the effect of adding silage chicken feather meal. The fish samples used are the seeds of catfish (Clarias gariepinus) with an average weight of 2,27 ± 0,34 g / fish and stocking density 25 fish / m3. This research used experimental method completely randomized design with 5 treatments and 3 repetitions. The treatment in this study: treatment 0%;100%, 25%;75%, 50%;50%, 75%;25% and 100%;0%. Data observed the growth of absolute weight, relative growth rate (RGR), efficiency of feed utilization (EPP),) and water quality. The results showed that treatment B 25% chicken feather meal in artificial diet provides highly significant effect (P <0,01) to RGR, absolute growth, and the EPP catfish ie 72,26±2,53(W), 2,96±0,11 (RGR), 66,06±2,37 (EPP). 
PERFORMA PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING BAKAU (SCYLLA PARAMAMOSAIN) MELALUI PEMBERIAN PAKAN BUATAN DENGAN PERSENTASE JUMLAH YANG BERBEDA Putri, Rizki Andika; Samidjan, Istiyanto; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.251 KB)

Abstract

Kepiting Bakau (Scylla paramamosain) merupakan salah satu komoditi perikanan bernilai ekonomis penting dengan harga pasaran Rp 40.000-200.000,-/kg sehingga berpotensi untuk dibudidayakan. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam usaha kegiatan budidaya adalah pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau (S. paramamosain) yang terbaik dan optimal melalui pemberian pakan buatan dengan persentase jumlah yang berbeda.Materi yang digunakan adalah kepiting bakau (S. paramamosain) dengan bobot rata-rata 100.5±1.03 g. Kepiting dipelihara dalam wadah keranjang buah. Pakan uji adalah pakan buatan berbentuk pelet dengan kandungan protein 35% yang ditambah vitamin C sebesar 24 mg/100g pakan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, kemudian dilanjutkan dengan Uji Jarak Ganda Ducan untuk mengetahui perbedaan nilai antar perlakuan dan Regresi Polinomial Ortogonal untuk menentukan persentase yang optimal. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu pemberian pakan dengan persentase  3%(A), 5% (B), 7% (C), dan 9% (D) dari bobot biomassa/hari. Peubah yang diukur yaitu laju pertumbuhan relatif (RGR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan kelulushidupan (SR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan persentase jumlah pakan berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap EPP, sangat nyata (P<0.01) terhadap RGR namun tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap SR. Persentase jumlah pakan optimal untuk RGR adalah 5.93% dan EPP 5.4% dari bobot biomassa/hari. Mudcrab (Scylla paramamosain) was one of important fisheries commodity with value 40.000-200.000,-/kg, so potencial was cultivation. One aspect for attention in cultivation were feeds. The aims of study were to determine the growth performance and survival rate of mud crab (S. paramamosain) that the best and optimal through artificial feed with different amount percentages. The materials used are mudcrabs (S. paramamosain) with the initial weigth ranging 100.5± 1.03 g. Crabs kept in containers fruit basket. Experimental diets (pellet formed) with 35% protein content plus vitamin C by 24mg/100g feed. The completely Randomize Design were adopted in this study with 4 treatments and replicated 3 times, then followed by Duncan?s New Multiple Range Test in order to determine the difference among the treatments and Orthogonal Polinomial Regression to determine the optimal treatments. Treatments in this study were percentage of artificial feed 3% (A), 5% (B), 7% (C) and 9% (D) bodyweight/day.The measured variabel were relative growth rate (RGR), food efficiency (EPP), and survival rate(SR).The results derived from this study indicated that different amount percentages was significantly (P<0.05) to EPP, highly significant (P<0.01) to RGR but it?s not significant (P>0.05) to SR. The optimal pecentages?s feed for RGR 5.93% and EPP 5.4% from bodyweight/day.
PENGARUH PENAMBAHAN PROBIOTIK PADA PAKAN YANG MEMANFAATKAN SUMBER PROTEIN DARI TEPUNG TELUR AYAM AFKIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS) Zakaria, Hapiz Maulana; Suminto, - -; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.194 KB)

Abstract

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan budidaya terpenting ketiga dunia setelah karper dan salmon serta memiliki nilai ekonomis tinggi. Tingginya harga pakan merupakan salah satu kendala utama dalam membudidayakan ikan nila, serta efisiensi pemanfaatan pakan masih rendah yang mengakibatkan biaya produksi tinggi, untuk pakan saja mencapai 60-70% dari total biaya produksi. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan probiotik pada pakan dan memanfaatkan sumber protein dari tepung telur ayam afkir. Probiotik yang digunakan adalah probiotik buatan Laboratorium Departemen Akuakultur Undip. Metode eksperimen dan rancangan acak lengkap (RAL) telah digunakan pada penelitian ini dengan 4 perlakuan dan masing-masing 3 kali ulangan. Ikan uji yang digunakan berupa benih ikan nila merah (O. niloticus) (bobot rerata 2,77±0,11 g) dengan kepadatan 1 ekor/L dipelihara selama 42 hari. Perlakuan yang digunakan yaitu Perlakuan A (pakan tanpa pemberian probiotik), Perlakuan B (disemprotkan probiotik 2,5 x 107 CFU/g pakan), perlakuan C (disemprotkan probiotik 5 x 107 CFU/g pakan), perlakuan D (disemprotkan probiotik 7,5 x107 CFU/g pakan). Data yang diukur meliputi Total Konsumsi Pakan (TKP), Efisiensi Pemanfaatan Pakan (EPP), Rasio Konversi Pakan (FCR), Rasio Efisiensi Protein (PER), Laju Pertumbuhan Relatif (RGR) dan Kelulushidupan (SR). Hasil penelitian menunjukan bahwa pakan yang diberi probiotik menghasilkan pertumbuhan dan efisiensi pakan lebih baik dari pakan yang tidak diberi probiotik, secara kuantitatif perlakuan D cenderung memberikan nilai tertinggi pada EPP sebesar 84,30±12,07%, FCR sebesar 1,20±0,16, PER sebesar 2,46±0.35% dan RGR sebesar 4,34±0.70%/hari dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap TKP dan SR. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk pemeliharaan ikan nila merah (O. niloticus) yaitu suhu 26-310C; pH 6,7-7,3; dan DO 3,33-6,58 mg/l. Tilapia (Oreochromis niloticus) is the third most important cultured fish in the world after carp and salmon and has the high economic value. The high price of feed is one of the obstacles in tilapia fish farming development. Low feed efficiency causes high production cost, for feed only which reach about 60-70% of total production cost. This can be overcome by the use of probiotics in fishfeed and utilizes its protein content from rejected chicken eggs flour. The probiotics used are artificial probiotics made by Departemen of Aquaculture Undip Laboratory. Completely randomized experimental and design methods (RAL) were used in this study with 4 treatments and 3 replications respectively. The sample fish used was red tilapia seed (O. niloticus) (average weight 2.77±0.11 g) with initial density 1 ind/L which maintained for 42 days. The treatments were Treatment A (without probiotics), Treatment B (probiotics 2.5 x 107 CFU/g of feed), Treatment of C (probiotics 5 x 107 CFU/g of feed), and Treatment D (probiotic 7,5 x 107 CFU/g of feed). The parameters of this research were Feed Consumtion rate (TKP), Feed Utilization Efficiency (EPP), Food Convertion Rate (FCR), Protein Efficiency Ratio (PER), Relative Growth Rate (RGR) and Survival Rate (SR). The results showed that Treatment D gave the highest score on EPP of 84.30 ± 12.07%, FCR of 1.20 ± 0.16, PER of 2.46 ± 0.35% and RGR of 4.34 ± 0.70%/day and no significant effect (P> 0,05) on TKP and SR. Water quality on maintenance media is within a reasonable range for the maintenance of tilapia (O. niloticus) that were temperature 26-31oC; pH 6.7-7.3; and DO 3.33-6.58 mg/l.
ANALISIS LAJU PERTUMBUHAN RELATIF, EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN GURAMI (OSPHRONEMUS GOURAMY) MELALUI SUBTITUSI SILASE TEPUNG BULU AYAM DALAM PAKAN BUATAN Wibowo, Wahyu Prasetyo; Samidjan, Istiyanto; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.106 KB)

Abstract

Bahan pakan utama seperti tepung ikan yang digunakan sebagian besar berasal dari impor, kondisi ini mengakibatkan harga pakan ikan menjadi mahal. Salah satu cara untuk menanggulangi masalah ketergantungan bahan baku protein hewani yang mahal yaitu dengan memanfaatan limbah bulu ayam. Limbah bulu ayam dapat dijadikan silase tepung bulu ayam sebagai pengganti tepung ikan yang dapat menekan biaya produksi. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung ikan dengan silase tepung bulu ayam pada pakan terhadap pertumbuhan relatif dan kelulushidupan ikan gurami (O. gouramy) dan mengetahui komposisi terbaik subtitusi tepung ikan dengan silase tepung bulu ayam pada pakan yang memberikan pertumbuhan relatif dan kelulushidupan terbaik ikan gurami (O. gouramy). Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih ikan gurami (O. gouramy) dengan bobot rata-rata 4,51±0,06 g/ekor dan padat tebar 25 ekor/m3. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan A (Substitusi 0% silase tepung bulu ayam), perlakuan B (Substitusi 25% silase tepung bulu ayam), perlakuan C (Substitusi 50% silase tepung bulu ayam), perlakuan D (Substitusi 75% silase tepung bulu ayam), perlakuan E (Substitusi 100% silase tepung bulu ayam). Variabel yang diamati meliputi bobot mutlak, laju pertumbuhan  relatif (RGR) dan efisiensi pemanfaatan pakan (EPP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa silase tepung bulu ayam dalam pakan buatan memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pertumbuhan bobot mutlak, RGR, dan EPP. Dosis terbaik perlakuan B 25% silase tepung bulu ayam silase dan 75% tepung ikan dalam pakan mampu menghasilkan bobot mutlak, RGR dan EPP masing-masing sebesar 74,31 g, 1,56%/hari dan 43,44%. The main feed ingredients such as fish meal used mostly from imports, conditions have resulted in the price of fish feed to be expensive. One way to address the problem of dependence on raw materials of animal protein is expensive is by memanfaatan waste chicken feathers. Waste chicken feathers can be used as silage chicken feather meal as a substitute for fish meal which can reduce the cost of production. The purpose of this study was to determine the effect of substitution of fish meal with a chicken feather meal silage on feed relative to the growth and survival rate of carp (O. gouramy) and determine the best composition substitution of fish meal with a chicken feather meal silage on the feed that provides the best relative growth and survival rate gourami (O. gouramy). The fish samples used in this study is the seed of carp (O. gouramy) with an average weight of 4,51±0,06 g/ individual and stocking density 25 fish / m3. This research used experimental method completely randomized design with 5 treatments and 3 repetitions. Treatment A (Substitution 0% silage flour chicken feathers), treatment B (Substitution 25% silage flour chicken feathers), treatment of C (Substitution 50% silage flour chicken feathers), treatment D (Substituted 75% silage flour chicken feathers), treatment E (Substitution 100 % silage chicken feather meal). Variables observed absolute weight, relative growth rate (RGR) and the efficiency of feed utilization (EPP). The results showed that chicken feather meal silage in artificial diet provides highly significant effect (P <0.01) on the growth of absolute weight, RGR, and EPP. Best dose treatment and 25% silage silage chicken feather meal and 75% fish meal in feed capable of producing absolute weight, RGR and EPP respectively by 74,31 g, 1,56% / day and 43,44%. 
PENGARUH SUBSTITUSI SILASE TEPUNG BULU AYAM DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PEMANFAATAN PAKAN IKAN NILA GIFT (OREOCHROMIS NILOTICUS) Nurhayati, Wahyu; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.029 KB)

Abstract

Tepung ikan merupakan bahan baku utama yang umum digunakan dalam pakan ikan.Tepung bulu ayam adalah salah satu solusi untuk pengganti tepung ikan karena memiliki protein yang tinggi, namun dalam pengaplikasiannya tepung bulu ayam harus difermentasi menggunakan mikroorganisme Saccharomyces sp. agar menghasilkan enzim protease sehingga tepung bulu ayam dapat lebih mudah dicerna oleh ikan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh subtitusi tepung ikan dengan silase tepung bulu ayam pada pakan buatan terhadap pertumbuhan relatif dan kelulushidupan ikan nila gift (O. niloticus), seta mengetahui komposisi terbaik yang memberikan pertumbuhan relatif dan kelulushidupan terbaik pada ikan nila gift (O. niloticus). Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan nila gift (O. niloticus) dengan bobot rata-rata 2,83±0,13g/ekor dan padat tebar 25ekor/m3. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (0% silase tepung bulu ayam), B (25% silase tepung bulu ayam), C (50% silase tepung bulu ayam) dan D (75% silase tepung bulu ayam), dan perlakuan E (100% silase tepung bulu ayam). Data yang diamati meliputi laju pertumbuhan relatif (RGR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan rasio konversi pakan (FCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa silase tepung bulu ayam dalam pakan buatan memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap RGR, EPP dan FCR. Dosis terbaik perlakuan B 25% silase tepung bulu ayam mampu menghasilkan RGR, EPP dan FCR masing-masing sebesar 3,42%/hari, 78,32% dan 1,18. Feathers meal is one of the solutions to replace fish meal because higher protein, but to apply feathers meal must trhough fermentation using Saccharomyces sp. microorganism in order to produce proteases so feathers meal can more digested by fish.This study?s purpose was to know the effect of fish meal substitution with a feather meal silage on artificial feed to the growth and survival rate gift tilapia (O. niloticus), also know the best composition substitution that provides the relative growth and best survival rate on larasati tilapia (O. niloticus). The fish samples used are gift tilapia (O. niloticus) with an average weight of 2,83±0,13g/fish and stocking density of 25 fish/m3 of water. This research used experimental method completely randomized design with 5 treatments and 3 repetitions. The treatment in this study: treatment A (0% flour feathers meal silage), B (25% flour feathers meal silage), C (50% flour feathers meal silage) and D (75% flour feathers meal silage), and treatment E (100% flour feather meal silage). Data observed relative growth rate (RGR), efficiency of feed utilization (EPP) and feed convertion ratio (FCR). Results showed that the feather meal silage in artificial feed provides highly significant effect (P <0.01) against the RGR, EPP and FCR. Best dose treatment 25% feather meal silage are capable of generating RGR, EPP and FCR by 3,42%/day,78,32% and 1,18. Feathers meal is one of the solutions to replace fish meal because higher protein, but to apply feathers meal must trhough fermentation using Saccharomyces sp. microorganism in order to produce proteases so feathers meal can more digested by fish.This study?s purpose was to know the effect of fish meal substitution with a feather meal silage on artificial feed to the growth and survival rate gift tilapia (O. niloticus), also know the best composition substitution that provides the relative growth and best survival rate on larasati tilapia (O. niloticus). The fish samples used are gift tilapia (O. niloticus) with an average weight of 2,83±0,13g/fish and stocking density of 25 fish/m3 of water. This research used experimental method completely randomized design with 5 treatments and 3 repetitions. The treatment in this study: treatment A (0% flour feathers meal silage), B (25% flour feathers meal silage), C (50% flour feathers meal silage) and D (75% flour feathers meal silage), and treatment E (100% flour feather meal silage). Data observed relative growth rate (RGR), efficiency of feed utilization (EPP) and feed convertion ratio (FCR). Results showed that the feather meal silage in artificial feed provides highly significant effect (P <0.01) against the RGR, EPP and FCR. Best dose treatment 25% feather meal silage are capable of generating RGR, EPP and FCR by 3,42%/day,78,32% and 1,18.
AGENSIA PENYEBAB PENYAKIT BAKTERI PADA KEPITING BAKAU (SCYLLA PARAMAMOSAIN) YANG BERASAL DARI DEMAK Burhan, Muhammad; Sarjito, -; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.891 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala klinis yang disebabkan penyakit bakterial, jenis bakteri yang menginfeksi kepiting bakau dan mengetahui agensia penyebab penyakit bakterial yang bersifat pathogen pada kepiting bakau (S. paramamosain) yang berasal dari Demak. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling pada 20 ekor kepiting bakau dengan panjang karapas 10,53±1,2 cm. Berdasarkan gejala klinis terdapat 5 kepiting yang terinfeksi oleh penyakit bakterial. Isolasi bakteri menggunakan metode pour plate dengan pengenceran 10-1 sampai 10-5 pada luka, insang, hepatopankreas kemudian ditanam sebanyak 1 ml ke cawan petri. Isolasi dari haemolymph diambil sebanyak 0,1 ml kemudian ditanam pada media Zobell, GSP, dan TCBS. Uji postulat Koch dilakukan terhadap keenam isolat terpilih pada 9 ekor kepiting dengan dosis 108 CFU/ml sebanyak 0,2 ml pada kaki renang. Pengamatan gejala klinis dan kematian dilakukan selama 168 jam setelah peyuntikkan. Karakterisasi agensia penyebab penyakit dilakukan secara morfologi dan biokimia. Hasil penelitian menunjukkan gejala klinis yang terdeteksi antara lain adanya luka dan warna coklat kemerahan (melanosis) pada karapas, karapas berwarna gelap, bagian abdomen menghitam, terdapat bintik putih. Berdasarkan uji postulat Koch keenam isolat tersebut dapat menyebabkan kematian 100% terhadap kepiting uji. Hasil karakterisasi secara morfologi dan biokimia keenam isolat agensia penyebab penyakit adalah Vibrio parahaemolyticus (SJ.D 2), V. alginolyticus (SJ.D 4), V. ordalii (SJ.D 9), V. harveyi (SJ.D 12), Aeromonas hydrophila (SJ.D 16) dan Pseudomonas aeruginosa (SJ.D 17). Keenam isolat bakteri bersifat pathogen karena mampu menyebabkan kematian dikondisi kepiting yang dipelihara pada kualitas air yang baik. The aims of this research for to know clinical sign was caused by bacterial disease, type of bacteria that are infected mud crabs and discovering causative agent of bacterial disease in the mud crab (S. paramamosain) from Demak. The sampling method used purposive sampling in 20 mud crabs with length of carapace approximately 10,53±1,2 cm. Based from clinical sign there are 5 mud crabs was suspected with infected by bacterial disease. The methode of bacterial isolated  used pour plate methode with dilution 101 up to 105 from ulcher, gill, hepatopancreas then planted as much as 1 ml in petridish. Isolation of haemolymph was taken as much as 1 ml then planted in Zobell, GSP and TCBS medium. Postulate Koch test conducted on the six selected isolate at 9 crabs with a dose of 108 CFU/ml as much as 0,2 ml in the swimming legs. Observation of clinical sign and mortality conducted for 168 hours after have been injected. Characterization of causative agent bacterial disease conducted by morfology and biochemical test. The result of this research showed that the clinical sign were detected lesion and red color (melanisation) in the carapace, dark color in the carapace, darkside in abdominal, there are white spot in some part. Based postulate Koch test from 6 isolate concluded that caused 100% mortality in mud crab testing. The resulted of characterization morfology and biochemical test from 6 isolate causative agent is  Vibrio parahaemolyticus (SJ.D 2), V. alginolyticus (SJ.D 4), V. ordalii (SJ.D 9),  V. harveyi (SJ.D 12), Aeromonas hydrophila (SJ.D 16) and Pseudomonas aeruginosa (SJ.D 17). The six bacterial isolate is a pathogen caused mortality in the mud crab with good water quality.