Articles

Found 14 Documents
Search

Struktur Kecepatan Gelombang S antara Episenter Gempa Bumi C022801L dan Stasiun Observasi KDAK dan INK melalui Analisis Seismogram Santosa, Bagus Jaya
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 3, No 1 (2007)
Publisher : Jurnal Fisika dan Aplikasinya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.571 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v3i1.964

Abstract

Analisa kuantitatif atas seismogram berupa pengukuran waktu tiba gelombang S pada jarak episentral dekat adalah tidak mudah, karena gelombang S tiba dekat dan tenggelam dalam gelombang Love, sehingga penentuan waktu tiba S menjadi tidak jelas. Dalam penelitian ini struktur kecepatan S diinvestigasi melalui analisa seismogram gempa C022801L dengan seismogram sintetiknya di stasiun KDAK, Alaska dan INK, Kanada. Seismogram terukur dibandingkan terhadap sintetiknya dalam domain waktu dan ketiga komponen ruang secara simultan. Seismogram sintetik dihitung dengan program GEMINI. Input awal untuk menghitung seismogram sintetik adalah model bumi PREMAN dan solusi CMT dari gempa tersebut. Filter low-pass Butterworth dengan frekuensi sudut pada 20 mHz dikenakan pada seismogram observasi dan sintetik. Pengamatan menunjukkan penyimpangan nyata pada waktu tempuh dan waveform beberapa fase gelombang, yaitu gelombang S, gelombang permukaan Love dan Rayleigh dan gelombang ScS. Penelitian ini menunjukkan, bagaimana pekanya waveform terhadap struktur bumi. Penelitian ditujukan untuk menyelesaikan diskrepansi yang dijumpai pada gelombang-gelombang S, Love dan Rayleigh dan ScS, di stasiun observasi KDAK. Untuk mendapatkan pengepasanseismogram diperlukan koreksi atas struktur kecepatan S dalam model bumi, yaitu perubahan ketebalan kulit bumi. model kecepatan h di upper mantle meliputi gradient kecepatan h dan besar koesien-koesien order nol untuk h dan v atas diskrepansi pada gelombang permukaan Love dan Rayleigh. Koreksi atas penyimpangan pada gelombang S dilakukan pada sistim perlapisan bumi dari upper mantle hingga kedalaman 630 km, sedangkan untuk fase gelombang ScS koreksi dilaksanakan hingga kedalaman CMB (2890 km). Fittingseismogram diperoleh pada waveform berbagai fase gelombang, yaitu gelombang S, ScS dan gelombang permukaan Love dan Rayleigh, baik pada waktu tempuh osilasi utama dan jumlah osilasi, khususnya pada gelombangLove. Hasil ini menunjukkan bahwa anisotropi terjadi tidak hanya di upper mantle tetapi hingga lapisan bumiyang lebih dalam, hingga CMB.
Model Struktur 1-D Kecepatan Gelombang P di daerah Minahasa Rochman, Juan Pandu Gya Nur; Santosa, Bagus Jaya; Firdaus, Febry Rokhman
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Jurnal Fisika dan Aplikasinya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.184 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v8i2.866

Abstract

Daerah Minahasa merupakan salah satu zona tektonik aktif di Indonesia karena memiliki zona sesar kompleks sebagai akibat pertemuan batas lempeng di barat laut pulau Sulawesi, sehingga sering terjadi gempa tektonik dangkal hingga sedang. Telah dilakukan studi spesifik mengenai struktur kecepatan gelombang gempa 1-D dan letak hypocenters yang lebih akurat di daerah Minahasa. Data yang digunakan sebanyak 8 event gempa di area sekitar Minahasa (0,300-4,300 LU dan 121,0 -121,7 BT) yang terjadi pada bulan Maret - Desember 2011yang terekam di 8 stasiun seismograf setempat (KMSI, MRSI, MPSI, APSI, GLMI, LBMI, LUWI, dan SANI). Model struktur 1-D didapatkan dengan menganalisis waktu tempuh gelombang P dari data gempa lokal, yaitu dilakukan dengan picking menggunakan WinQuake. Data waktu tempuh gelombang P dilakukan inversi menggunakan software VELEST 33 sehingga didapatkan model struktur 1-D, kecepatan gelombang P dan relokasi gempa. Hasil pengelohan data didapatkan model struktur 1-D kecepatan gelombang P di daerah Minahasa berkisar antara (2,95 - 9,07) km/s pada kedalaman 36 km dengan RMS residual = 3,7 dan didapatkan hypocentersbaru yang lebih akurat.
Ketebalan kulit bumi dan struktur kecepatan antara hiposenter gempa M012601A dan stasiun AAK Santosa, Bagus Jaya
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 1, No 2 (2005)
Publisher : Jurnal Fisika dan Aplikasinya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.206 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v1i2.1007

Abstract

Gempa M012601A terletak di India Utara dan stasiun AAK di Kirgistan, topografi antara kedua titik berbentuk pegunungan, yaitu Himalaya. Penelitian ini menginvestigasi struktur kecepatan di daerah kompleks pegunungan tersebut melalui fitting seismogram. Seismogram observasi dibandingkan dengan seismogram sintetikdalam domain waktu dan ke tiga komponen Kartesian secara simultan. Seismogram sintetik dihitung dengan program GEMINI, dimana input awalnya adalah model bumi global IASPEI91 dan PREMAN. Selain itu pada kedua seismogram dikenakan low-pass filter dengan frekuensi corner pada 20 mHz. Analisa seismogram menunjukkan penyimpangan yang sangat kuat pada pengamatan atas waktu tiba, jumlah osilasi dan tinggi amplitudo, pada gelombang permukaan Love dan Rayleigh dan gelombang ruang S dan P. Untuk menyelesaikan simpangan yang dijumpai diperlukan koreksi atas struktur bumi. Fitting seismogram diperoleh dengan baik pada waveform fase gelombang, baik waktu tempuh osilasi utama dan jumlah osilasi. Hasil riset ini menunjukkan, bahwa daerah pegunungan Himalaya mempunyai ketebalan kulit bumi sebesar 42 km, hasil ini diperoleh melalui fitting pada Love waveform.
Pengaruh Model Kulit Bumi terhadap Gelombang ScS dan ScS-ScS Santosa, Bagus Jaya
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Jurnal Fisika dan Aplikasinya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.478 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v5i1.928

Abstract

Dalam penelitian ini telah diperbandingkan seismogram observasi dengan seismogram sintetik dari sebuah gempa dalam komponen ruang 3 dimensi. Data seismogram berasal dari Teluk Kamschatka di Kep. Kuril yang terjadi pada tanggal 5 Desember 1997, dan direkam oleh stasiun pengamat yang terletak di BILL, Rusia dan MAJO, Jepang. Seismogram sintetik dihitung dengan Program GEMINI, yang mana inputnya berupa sebuah model bumi elastik, yang simetri radial dan isotrop tranversal, dan solusi CMT dari gempa tersebut, yang merupakan penggambaran atas proses dinamika pada hiposenter gempa serta kedudukan-kedudukan stasiun observasi. Model bumi diambil dari dua model yang paling sering diacu oleh para peneliti, yaitu IASPEI91 dan PREM. Data seismogram riil dan sintetik akan diperbandingkan dalam kawasan waktu pada ketiga komponen pergerakan tanah, setelah sebelumnya dikenakan filter lolos rendah pada 20 mHz. Pada perbandingan seismogram dijumpai diskrepansi yang jelas pada amplitudo dan waktu tiba milik fase gelombang ScS dan ScS-ScS. Ini menunjukkan, bahwa struktur inti bumi dan lapisan mantel bawah belum diketahui secara detil, karena pengaruh dari ketebalan kulit bumi yang sangat jelas.
Pengujian Model Bumi Referensi dan Solusi CMT gempa C081097A dan B122500C melalui Perbandingan Seismogram 3-Komponen di Stasiun-stasiun Observasi di Australia Santosa, Bagus Jaya
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 6, No 2 (2010)
Publisher : Jurnal Fisika dan Aplikasinya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.574 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v6i2.921

Abstract

Dalam penelitian ini seismogram observasi dengan sintetiknya dari dua gempa yaitu C081097A, Australia Barat dan gempa B122500C, Australia Selatan dibandingkan dalam domain waktu dan komponen ruang 3 dimensi. Stasiun pengamat terletak di WRAB, NWAO, CTAO dan TAU, Australia. Seismogram sintetik dihitung dari sebuah model bumi standard PREMAN dan IASPEI91 dan solusi CMT dari gempa-gempa tersebut. Seismogram dikenakan filter lolos rendah 30 mHz. Perbandingan seismogram dijumpai diskrepansi yang sangat kuat dan tidak sistimatis pada waktu tempuh dan waveform milik fase-fase gelombang utama. Terlihat gelombang Love ternyata sangat peka terhadap perubahan ketebalan kulit bumi, namun gelombang Rayleigh terpengaruh sedikit. Ini menjadi petunjuk, bagaimana menginterpretasikan ketebalan kulit bumi. Diskrepansi yang kuat juga diamati pada perbandingan seismogram untuk gelombang-gelombang body. Ini menunjukkan adanya kesalahan / kekuranglengkapan pada model struktur bumi elastik yang sering diacu oleh seismolog lainnya.
Struktur Bumi di bawah Australis melalui Analisis dan Pencocokan Seismogram Gempa Intra Plate C081097A pada Stasiun Observasi TAU, CTAO and NWAO Santosa, Bagus Jaya
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 4, No 1 (2008)
Publisher : Jurnal Fisika dan Aplikasinya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.725 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v4i1.949

Abstract

Dalam penelitian ini struktur bumi di bawah Australia diinvestigasi melalui analisis seismogram observasiakibat gempa C081097A, Western Australia, dan seismogram sintetik milik stasiun observasi TAU, CTAO dan NWAO, dalam domain waktu dan ketiga komponen Kartesian secara simultan. Seismogram sintetik dihitung dengan program GEMINI, dimana input awalnya adalah model bumi IASPEI91 dan PREMAN. Selain itu pada kedua seismogram dikenakan low-pass filter dengan frekuensi corner pada 20 mHz. Hasil analisis menunjukkan penyimpangan yang sangat kuat tentang tidak sistimastisnya waktu tiba, jumlah osilasi dan tinggi amplitudo, pada gelombang P, S dan gelombang permukaan Rayleigh dan Love. Dengan metoda ini terlihat bagaimana pekanya waveform terhadap struktur perlapisan bumi.Untuk menyelesaikan diskrepansi yang dijumpai diperlukan koreksi atas struktur bumi meliputi ketebalan kulit bumi, gradient kecepatan h dan besar koefisien-koefisien untuk h dan v di Upper Mantle, dan sedikit perubahan pada kecepatan P dan S struktur pada lapisan-lapisan bumi hingga CMB. Pencocokan (fitting) seismogram diperoleh dengan baik pada waveformfase gelombang, baik waktu tempuh osilasi utama dan jumlah osilasi. Walaupun panjang gelombang adalah sekitar 150 km, tomografi waveform pada gelombang body dan gelombang permukaan dalam domain waktu menunjukkan kepekaan terhadap perubahan ketebalan kulit bumi dan struktur kecepatan.
Petunjuk Sistem Perlapisan Bumi Dangkal melalui Analisis Seismogram Santosa, Bagus Jaya
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 7, No 2 (2011)
Publisher : Jurnal Fisika dan Aplikasinya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.779 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v7i2.908

Abstract

Dalam penelitian ini telah diperbandingkan seismogram observasi dengan kurva waktu tempuh dari sebuah gempa dalam komponen ruang 3 dimensi. Data seismogram berasal dari Hokaido, Jepang yang terjadi pada tanggal 8 Oktober 1997, direkam oleh stasiun pengamat yang terletak di HIA, Propinsi Neimenggu, China. Untuk mengidentifikasikan fase gelombang dalam seismogram digunakan kurva travel time, yang dihitung dengan program TTIMES, yang didasarkan pada sebuah sebuah model bumi elastik, simetri radial dan isotrop, yaitu model bumi IASPEI91. Pada model bumi ini, hingga kedalaman 100 km, bumi diperkirakan mempunyai dua antarmuka, yaitu antarmuka pada kedalaman 20 km antara kulit bumi atas dan bawah, dan pada kedalaman 35 km, dikenal sebagai antarmuka Mohorivicic, sebagai batas antara mantel bumi dengan kulit bumi. Antarmuka kedua bertindak sebagai reflektor gelombang yang sangat kuat. Penelitian ini memberikan petunjuk, bagaimana sebenarnya sistem perlapisan tanah dangkal pada model bumi elastik. Dijumpai diskrepansi yang nyata pada berbagai fase gelombang, yang tidak tertera, baik dalam segmen waktu gelombang ruang langsung dan terpantul, dan segmen waktu gelombang dalam, dimana gelombang diskrepansi tersebut datang pada jendela waktu diantaranya. Ini menunjukkan, bahwa model bumi harus dilengkapi dengan antarmuka pemantul-pemantul dangkal.sistem perlapisan yang lebih halus/tipis juga dinyatakan oleh adanya gejala difraksi pada segmen waktu gelombang langsung. Meskipun jenis gelombang yang digunakan dalam penelitian ini adalah Long Period, namun terbukti dapat menunjukkan resolusi yang sangat peka.
PENERAPAN METODE VERY LOW FREQUENCY ELECTROMAGNET (VLF-EM) UNTUK MENAFSIRKAN BIDANG LONGSORAN, STUDI KASUS DESA JOMBOK, KECAMATAN NGANTANG, KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR Wijayanto, Totok; Santosa, Bagus Jaya; Warnana, Dwa Desa; Candra, Arya Dwi
Jurnal Spektra Vol 16, No 3 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKelongsoran sering terjadi pada tanah yang memiliki topografi curam. Salah satunya adalah yang terjadi di Desa Jombok, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pada areal seluas satu hektar dijumpai penurunan permukaan tanah (longsor). Daerah longsoran ini diteliti dengan menggunakan salah satu metoda Geofisika, yaitu Very Low Frequency-Electromagnetic (VLF-EM). Data lapangan yang didapatkan dari hasil pengukuran metode VLF-EM biasanya tercampur dengan noise dan outlier. Pada penelitian ini digunakan filter NA-MEMD untuk menghilangkan noise dan outlier. Digunakan Filter Karous-Hjelt untuk menganalisa data secara kualitatif. Sedangkan analisa secara kuantitatif diperoleh dengan melakukan pemodelan inversi menggunakan INV2DVLF. Hasil analisis VLF-EM dengan menggunakan filter NA-MEMD mampu mereduksi noise dan outlier dari data pengukuran. Sedangkan hasil inversi 2D menunjukkan bahwa terdapat zona anomali yang menunjukkan zona lemah atau rawan longsor di area penelitian.√ā¬†AbstractLandslide often occurs in a steep topography ground. One of them is happened in the Jombok village, Ngantang, Malang, East Java. Land subsidence (landslides) often occur in this area. The landslide area investigated using one of the Geophysics methods, the Very Low Frequency-Electromagnetic (VLF-EM). The field datas obtained from measurement results of VLF-EM method are usually mixed with noise and outliers. In this research, NA-MEMD filter.is used to eliminate the noise and outliers. Karous-Hjelt (K-Hjelt) filter is udes to qualitative analyze of the data. While quantitative analysis is obtained by performing inversion modeling using INV2DVLF. VLF-EM analysis results using the NA-MEMD filter is able to reduce the noise and outliers of measurement data. While the 2D inversion results indicate that there is an anomalous zone which indicates weak or landslide-prone zones in the study area.Keywords: VLF-EM, NA-MEMD, K-Hjelt filter, INV2DVLF, Landslide.
PENERAPAN METODE VERY LOW FREQUENCY ELECTROMAGNET (VLF-EM) UNTUK MENAFSIRKAN BIDANG LONGSORAN, STUDI KASUS DESA JOMBOK, KECAMATAN NGANTANG, KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR Wijayanto, Totok; Santosa, Bagus Jaya; Warnana, Dwa Desa; Candra, Arya Dwi
Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 16 No 3 (2015): SPEKTRA, Volume 16 Nomor 3, Desember 2015
Publisher : Program Studi Fisika Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1006.029 KB)

Abstract

Abstrak Kelongsoran sering terjadi pada tanah yang memiliki topografi curam. Salah satunya adalah yang terjadi di Desa Jombok, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pada areal seluas satu hektar dijumpai penurunan permukaan tanah (longsor). Daerah longsoran ini diteliti dengan menggunakan salah satu metoda Geofisika, yaitu Very Low Frequency-Electromagnetic (VLF-EM). Data lapangan yang didapatkan dari hasil pengukuran metode VLF-EM biasanya tercampur dengan noise dan outlier. Pada penelitian ini digunakan filter NA-MEMD untuk menghilangkan noise dan outlier. Digunakan Filter Karous-Hjelt untuk menganalisa data secara kualitatif. Sedangkan analisa secara kuantitatif diperoleh dengan melakukan pemodelan inversi menggunakan INV2DVLF. Hasil analisis VLF-EM dengan menggunakan filter NA-MEMD mampu mereduksi noise dan outlier dari data pengukuran. Sedangkan hasil inversi 2D menunjukkan bahwa terdapat zona anomali yang menunjukkan zona lemah atau rawan longsor di area penelitian. Abstract Landslide often occurs in a steep topography ground. One of them is happened in the Jombok village, Ngantang, Malang, East Java. Land subsidence (landslides) often occur in this area. The landslide area investigated using one of the Geophysics methods, the Very Low Frequency-Electromagnetic (VLF-EM). The field datas obtained from measurement results of VLF-EM method are usually mixed with noise and outliers. In this research, NA-MEMD filter.is used to eliminate the noise and outliers. Karous-Hjelt (K-Hjelt) filter is udes to qualitative analyze of the data. While quantitative analysis is obtained by performing inversion modeling using INV2DVLF. VLF-EM analysis results using the NA-MEMD filter is able to reduce the noise and outliers of measurement data. While the 2D inversion results indicate that there is an anomalous zone which indicates weak or landslide-prone zones in the study area. Keywords: VLF-EM, NA-MEMD, K-Hjelt filter, INV2DVLF, Landslide.
HYPOCENTER DISTRIBUTION OF LOW FREQUENCY EVENT AT PAPANDAYAN VOLCANO Hasan, Muhammad Mifta; Triastuty, Hetty; Santosa, Bagus Jaya; Widodo, Amien
Jurnal Neutrino Vol 9, No 1 (2016): October
Publisher : Department of Physics, Maulana Malik Ibrahim State Islamic University of Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.219 KB) | DOI: 10.18860/neu.v9i1.3655

Abstract

Papandayan volcano is a stratovolcano with irregular cone-shaped has eight craters around the peak. The most active crater in Papandayan is a Mas crater. Distribution of relocated event calculated using Geiger Adaptive Damping Algorithm (GAD) shows that the epicenter of the event centered below Mas crater with maximum rms 0.114. While depth of the hypocenter range between 0-2 km and 5-6 km due to activity of steam and gas.